Title: Gomen ne, Hinata
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : ^jewon^
Genre : Romance, Drama.
Rate : T
Cast : Naruhina, Sakura.
Warning: Typo(s), EYD, dll
Summary : Naruto nembak Sakura. Bagaimana perasaan Hinata? Dan apakah benar cinta laki-laki pirang itu untuk si gadis musim semi atau malah untuk gadis indigo. Mengambil setting setelah PDS 4, tidak ada hubungannya dengan the last. Murni hasil karangan author :D
Chapter 3 END
Naruto melompati rumah-rumah dengan senang. Dia segera menuju klan Hyuuga untuk mencari Hinata. Laki-laki berharap perkataan Sakura benar kalau gadis indigo itu masih mencintainya. Dia benar-benar tak bisa membaca ekspresi Hinata, apakah dia masih mencintainya atau tidak.
'Tunggu aku, hime'
Naruto menggunakan senjutsu. Tadi beberapa anggota Hyuuga mengatakan kalau Hinata pergi. Daripada keliling desa, lebih baik dia mencari chakra gadis itu. Dan gotcha! Dia mendapatkan nya..
"Ini bukan di desa. Jadi dia berlatih di luar ya" Naruto berbalik ke arah gerbang desa dan semakin mempercepat lompatan nya.
Hinata benar-benar berlatih dengan keras. Dia tak ingin memikirkan apapun tentang Naruto. Dia harus melupakan laki-laki itu dengan cara berlatih.
"Hup dapat"
"Kyaaa"
Hinata berteriak saat seseorang memeluknya dari belakang. Gadis itu sudah ingin memukul perut pelaku pemelukan sebelum menyadari chakra siapa ini.
"Na-naruto kun"
"Hm.."
Naruto mengeratkan pelukan nya. Dia benar-benar ingin memeluk gadis yang bisa membuat nya gila sampai menyakiti sahabatnya. Gadis yang bisa merubah dunia nya, membuatnya merasakan Cinta sejati.
"Naruto-kun"
Hinata tidak menyangkal, dia menikmati perlakuan laki-laki itu. Dia benar-benar senang dan membiarkan Naruto memeluknya lebih lama. Tapi pemikiran tentang Sakura langsung melintas yang membuat gadis itu melepaskan pelukan secara sepihak dan berbalik menatap Naruto.
"Ada apa Hinata?"
"Naruto-kun kenapa ada disini etoo.. Maksudku dimana Sakura-san?"
"Sakura? Ah itu.."
Naruto memalingkan wajahnya yang mebuat Hinata memiringkan wajah nya bingung. Naruto terlihat terpuruk sekali. Gadis itu menjadi tak tega. Dia mendekati Naruto dan berusaha keras untuk tidak menjadi gugup dengan menyentuh sepasang tangan tan itu.
"H-hinata" Naruto menatap sepasang tangan kecil mulus yang mengenggam tangan nya. Dia merona merah dan menatap mata Amethyst itu.
"A-ada apa? Ce-ce-ceritakan.."
Naruto terkekeh. Gadis ini benar-benar menahan untuk tidak pingsan. Kawaii.. Ah Naruto semakin jatuh cinta pada Hinata.
"Ayo" Naruto balas mengenggam tangan Hinata dan membawanya pergi.
"Em"
Mereka berdua melompati perpohonan. Naruto membawa gadis itu semakin jauh dari desa ke tempat tujuan yang sudah terpikir di otak nya.
"Kita sampai"
"I-indah"
Hinata menatap hamparan bunga di depan nya. Benar-benar banyak dan juga indah. Matahari? Ya itu bunga matahari.
"Ayo Hinata"
Naruto menggenggam tangan gadis itu erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Dia tak ingin lagi mengingat bagaimana terpuruknya dia selama ini, hidup dalam kebimbangan itu sangat buruk, dattebayo..
Naruto pov
Aku mengingatnya saat dimana aku mulai merasakan namanya Cinta sejati. Heh.. Terdengar aneh ya jika aku yang mengatakan nya. Tapi ini benar, ttebayo. Aku benar-benar mulai merasakan apa itu berdebar-debar, rasa rindu, dan semua hal yang di sangkut pautkan dengan Cinta.
Waktu itu adalah dimana hari yang benar-benar membahagiakan. Ya bagaimana tidak? Aliansi Shinobi menang. Walau aku harus kehilangan satu tangan setelah bertarung dengan Sasuke-Teme.
Aku mengingatnya, surai indigo indah itu, tangan halus dan lebih kecil yang ku genggam, tatapan penuh ketegasan, dan rasa menggetarkan saat tangan kecil nya menyadarkan ku dari keputus-asaan.
"Na-na-naruto-kun"
Dia itu aneh, benar-benar aneh. Selalu menunduk dengan memainkan kedua jarinya. Merona merah saat berhadapan dengan ku. Suara nya juga sangat kecil. Tapi semua itu berubah saat aku mengenal nya lebih jauh, mengetahui bagaimana sifatnya lebih dekat. Dia tangguh, benar-benar pekerja keras. Aku sempat kagum padanya.
Waktu terus berjalan, tiba waktu dimana Pain menyerang desa yang kucintai. Menebar teror saat aku pergi berlatih di luar desa. Benar-benar mengerikan, mereka meluluh lantahkan desa Konoha. Tak bisa di maafkan!
Ya seperti yang kalian duga, aku kembali ke desa. Berdiri gagah di atas katak yang juga telah menjadi teman dan hewan kuchiyose ku.
Aku melawan nya.. Huh benar-benar pertarungan yang melelahkan. Dia kuat.. Aku akui itu. Tapi jangan remehkan Uzumaki Naruto, Dattebayo..
Crashh..
Besi hitam itu menusuk ku dan tentu saja membuat pergerakan seorang uzumaki Naruto harus terhenti. Dia tetap menatap ku dengan tatapan datar nya, benar-benar tak berekspresi.
Dan dia itu datang. Gadis bersurai indigo, memiliki mata seindah permata Amethyst, berasal dari klan Hyuuga. Dia melompat datang. Memukul salah satu besi hitam dan membuat Pain menjauh dariku.
Gadis itu berdiri membelakangiku dengan posisi bertarung klan Hyuuga. Kenapa dia ada disini? Kenapa dia kesini? Apa dia telah gila? Pain itu kuat. Dia tak akan bisa mengalahkan nya?
Semua pertanyaan itu berputar di kepalaku. Walau telah ku perintahkan pergi tapi dia tetap dalam posisinya. Sejak kapan gadis itu bisa keras kepala sepertiku.
Dia mulai berbicara sesuatu yang membuatku hanya bisa terdiam mendengarnya dengan tatapan yang juga tak bisa ku artikan. Aku tertegun benar-benar terpaku diam. Hei, sejak kapan Uzumaki Naruto yang terkenal cerewet, bisa diam begini.
"..-Karena aku mencintaimu"
Deg!
"Hyaaaaat"
Aku melebarkan mata saat kaki itu memukul salah satu besi hitam di tubuhku.
'Hi-hinata. Oy Hinata'
Aku ingin berteriak. Memanggilnya, menyuruhnya berhenti memukul besi hitam ini. Sudah berapa kali, Hinata terlempar. Dia benar-benar terlihat menyedihkan. Berhenti Hinata! Sial! Hei berhenti! Itu percuma.
Aku menatap nya, gadis itu berjalan ke arahku dengan sepasang kaki yang bahkan tak bisa menopang lagi tubuhnya. Dia terjatuh dan kembali bangkit. Benar-benar miris dan membuatku hanya bisa menunduk tak berani lagi menatapnya. Hinata benar-benar babak belur, dan aku tak bisa membantunya. Kusooo!
"..-Karena jalan ninja mu adalah jalan ninja ku juga"
Senyuman yang manis, benar-benar manis sampai aku hanya bisa menatapnya. Belum sempat aku membalasnya, tubuh gadis itu terlempar ke atas.
Aku menahan napas. Tubuh itu melaju turun dan.. Crashhh!
"HINATAAAAAAA!"
Aku tak bisa berpikir, otak ku benar-benar kosong. Gadis itu tak bangkit lagi.. Kenapa? Bukankah biasanya dia akan berdiri lagi setelah di pukul berkali-kali oleh Neji ataupun musuhnya. Dia itu Hinata! Gadis tangguh dan hebat dari Konoha. Hei Hinata! Bangunlah! Bangunlah gadis bodoh! Hei! Jangan membuatku seperti orang gila! Bangun sialaaaan!
Pikiran ku kosong. Cairan kental itu masih mengalir dari tubuh Hinata. Gadis itu juga masih terbaring dengan besi hitam yang menancap di tubuhnya. Pain sialan! Beraninya dia!
Dan setelah itu.. Semuanya gelap.
Plak!
Aku tertegun dan melebarkan mata menatap seorang gadis yang berdiri di hadapanku dengan tangan nya yang menempel di pipi kanan ku. Gadis itu menatap ku dengan mata indahnya. Tapi tak ada rona merah di sana, hanya tatapan serius dan juga kecewa.
Dia berbicara dengan suara halusnya. Ucapan nya membuatku terdiam. Gadis itu benar-benar menohok hatiku. Semuanya benar! Apa yang di ucapkan nya benar. Sadarlah Naruto sialan! Bangkitlah!
Aku tersenyum. Tangan ku memegang tangan kecilnya, menurunkan nya dan tak melepasnya.
Tangan ku yang besar mengenggam tangan kecil Hinata. Benar-benar nyaman dan juga hangat. Kami berdiri berdampingan di depan semua orang yang masih hidup. Menatap tajam Obito, Madara dan Juubi yang berdiri di depan kami.
Semua berakhir. Perang melelahkan berakhir dengan di menangkan tentu saja oleh Aliansi shinobi. Te-He.. Kami hebatkan..
Tapi kemana dia? Kemana pemilik tangan yang telah menyadarkan ku? Kemana seseorang yang selalu datang dengan kata-kata penyadarnya. Dia bukan pemain utama dalam cerita ini. Dia hanya akan muncul saat aku benar-benar terpuruk, tak seperti teman ku yang lain.
Pasca perang? Tentu saja kami sibuk. Mungkin dia juga. Huh.. Sepertinya dia membantu yang lain menolong warga Konoha.
Tapi aku ingin bertemu dengan nya. Berbicara padanya, menatap mata indahnya, mengelus surai indigonya, merengkuh tubuh gadis itu ke dekapanku, mengecup bi..- Stop! Kenapa aku malah berpikiran sejauh ini! Oh ayolah! Apakah aku ketularan Ero-Sennin. Kusoo.. Kenapa wajahku jadi memanas.
Ini sudah hampir 1 bulan! Dan aku juga tak melihatnya. Hei, apa dia baik-baik saja. Apa luka yang di derita nya saat perang sudah membaik? A-apa mungkin dia sedang terbaring lemah di mansion. Oy oy.. Aku harus ke rumahnya sekarang!
"K-kau bisa saja, Kiba-kun"
Deg!
Hei, kenapa ini? Kakiku tak bisa melangkah lagi. Apa mungkin aku terkena stroke? T-tapi rasa sakit ini bukanlah di kaki tapi di dadaku. Perasaan nyeri yang tak kusukai. Sepasang Sapphire ku membulat dan menatap sendu gadis itu. Dia terlihat bercanda senang dengan anggota tim 8 terutama Kiba.
Kenapa begitu sakit? Bukankah biasanya aku tak peduli dengan siapa gadis itu dan juga Kiba adalah teman satu tim nya. Tapi sekarang, begitu sakit. Seperti tertusuk ribuan kunai.
"H-hei Hinata" aku menyapa nya seperti biasa. Tapi jika kalian bisa lihat, terdengar sekali aku menahan agar suaraku tidak bergetar. Oy ada apa ini?
"Na-naruto kun" Dia terkejut dan kembali memerah. Sebentar, perasaan ku kembali nyaman. saat melihat rona merah itu, aku merasa hanya aku yang bisa memunculkan nya. Ehehe..
"Hei Naruto, apa kami tidak di sapa?"
Aku berdecih kecil dan mengacuhkan laki-laki penyuka anjing itu. Tatapan ku terfokus pada Hinata yang berusaha mendongak menatapku.
Awalnya aku sempat heran, ada yang aneh dengan Hinata. Ya, dia tak pingsan ataupun lari seperti biasa. Dan malah menatapku dengan sepasang Amethyst itu. Apa mungkin perasaan nya saat invasi Pain telah memudar, apa mungkin...-
..-hanya aku yang menyukai nya sekarang?
"L-lama tak jumpa Hinata, Kiba, Shino. Etoo.. Aku pergi dulu ya.. Aa-aku rasa Sakura-chan memanggilku. Jaa"
Aku berlari.. Meninggalkan nya.. Spekulasi yang sempat merasuk ke otak ku mulai membuatku lebih menyakitkan. Hinata memang masih merona merah.. Tapi tak hanya padaku, kiba juga Shino juga.. Dia juga masih berbicara gagap. Tapi tetap tak hanya padaku. Dia pemalu, Hinata itu pemalu. Jadi wajar.
Hinata tidak menyukai ku lagi.. Dan aku tak bisa menyangkalnya. Ini sudah beberapa bulan setelah invasi pain. Gadis mana yang mau bertahan setelah dia menyatakan perasaan nya pada laki-laki yang malah melupakan pernyataan nya. Hinata tidak bodoh, dia tak mungkin mencintaiku lagi.
Sialan! ini sakit.
Normal pov
Naruto berubah. Ya memang, dia tetap tertawa dan tersenyum seperti biasa. Tapi untuk teman-teman terdekatnya apalagi para orang-orang peka. Mereka menyadarinya, senyum dan tawa Naruto semuanya palsu lebih palsu daripada milik Sai.
Semuanya penuh kebohongan dan keterpaksaan. Mereka semua mengira, Naruto masih memikirkan kematian Neji. Tapi itu salah. Tak ada yang menyadarinya kecuali seseorang. Gadis manis dari klan Hyuuga itu dapat membaca mimik wajah Naruto, dia tau bahwa itu bukanlah ekspresi wajah orang yang masih berkabung atas kematian seseorang. Tapi terlebih kepada patah hati.
Setelah pertemuan tak sengaja mereka, Naruto tak pernah berbicara padanya. Mereka juga tak pernah terlibat dalam misi bersama. Hinata merasa Naruto menjauhi secara sengaja dan dia tak menyukainya.
Hinata tak tahan, dia ingin bertemu Naruto dan memastikan semuanya. Gadis itu sudah berlari keluar berniat mencari Naruto dan mengajak nya berbicara er. B-berdua.
"Hinata"
Hinata berhenti berlari. Dia menoleh dan terpaku diam. Di sana ada Naruto berdiri tegap menatapnya dengan pandangan yang tak bisa gadis itu artikan.
"N-naruto kun"
"Hei Hinataa. Konichiwaa"
Laki-laki itu tak sendiri. Ada seorang gadis di belakangnya. Dan itu Haruno Sakura, teman satu tim laki-laki itu sekaligus orang yang di sukainya Naruto.
"Ada yang kami ingin bicarakan" Sakura tersenyum senang dan menarik tangan Naruto mendekat ke arah Hinata yang mulai merasakan firasat buruk.
"Hinata.. Aku dan Naruto pacaran"
Deg!
Sepasang Amethyst itu melebar. Dia beralih menatap sapphire blue itu meminta kepastian dan Naruto malah memalingkan wajahnya tak ingin menatap Hinata. Gadis bersurai indigo tersenyum sambil mengigit bibirnya.
"Sou ka.. Omodetou Sakura-san Naruto-kun" Hinata tersenyum manis -ralat- mencoba tersenyum ke arah dua orang yang berdiri di hadapannya.
Naruto segera menoleh. Dia tersenyum kecut. Bahkan gadis itu masih bisa tersenyum. Jadi benarkan? Hinata tak mencintainya lagi.
Padahal dia bisa saja memutuskan Sakura sekarang jika Hinata mengatakan keberatan pada hubungan palsu nya dengan gadis pink itu. Tapi tanpa gadis itu mengatakan nya, Naruto sudah tau perasaan gadis itu. Hinata tak mencintai nya lagi dan semuanya terlihat jelas sekarang.
"Arigatou Hinata" Sakura tersenyum senang.
Jadi begini ya akhirnya. Naruto harus bisa menerimanya dan melupakan Hinata. Laki-laki itu tak tau bagaimana caranya tapi dia harus tetap melakukan nya. Melupakan gadis yang merubahnya dan bahkan membuatnya gila benar-benar menyakitkan.
Naruto menghela napas. Dia ingin memeluk Hinata terakhir kalinya. Dia ingin sekali menyampaikan perasaan nya kepada gadis itu. Begitu pengecutnya kah dia sekarang.
"Gomen ne Hinata. Gomenasai"
Naruto tak peduli jika itu membuat Sakura cemburu. Dia ingin sekali waktu berhenti sekarang. Bau Hinata benar-benar menyejukkan, dia ingin terus memeluk gadis yang membuatnya menjadi gila selama ini. Mati-matian Naruto berusaha menjauhi Hinata dan itu tak berhasil. Dia malah menjadi gila sendiri.
Naruto melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Hinata yang terdiam dengan rona merah menjalar di seluruh wajahnya. Ugh.. Dia ingin sekali mencubit kedua pipi itu. Tapi laki-laki pirang ini harus menahan nya.
"Tunggu saja, Hinata. Kau pasti akan menemukan laki-laki yang tampan dan hebat persis seperti ku" laki-laki itu nyengir dan memamerkan jempolnya.
Ya seperti ku.. Yang sebenarnya aku harap itu AKU...
Heh.. Berusaha mengatakan sesuatu yang keren ya, Naruto. Atau ini hanya alibi agar Hinata tak melihat wajah terpuruk mu.
Melihat senyum Naruto, tak ayal membuat Hinata sedikit bisa mengendalikan dirinya. Dia tersenyum.
"Maaf Sakura-chan Naruto-kun. Aku harus segera pulang, otou-sama pasti marah."
Hinata berbalik dan berlari meninggalkan dua orang itu. Gadis itu merasa tak bisa lagi memasang topeng yang terus di pasangnya di depan dua orang itu. Hatinya begitu sakit, benar-benar sakit. Apa ini namanya patah hati? Kenapa bisa sesakit ini.
Naruto juga masih menatap Hinata dan mengabaikan teriakan Sakura di samping nya. Punggung kecil gadis itu ingin sekali dia peluk. Punggung itu terlihat rapuh sekali.
Naruto memejamkan matanya sebentar dan kembali membuka sambil menatap Hinata yang perlahan menghilang dari padangan nya.
'Aku tak akan menyerah. Akan ku gunakan kesempatan ini untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Dan sampai saat itu, aku akan mengumpulkan uang agar bisa melamarmu. Tunggu aku, hime. Kumohon'
Flashback end
Plak!
Naruto tak menghindar saat salah satu tangan itu menampar pipinya. Rasanya memang menyakitkan tapi lebih menyakitkan melihat gadis itu menangis di hadapan nya.
"H-hinata"
"Kau tega, Naruto-kun. Hikss.. Kau menyakiti, Sakura-san hiks"
Hinata menutup wajahnya dan jongkok ke tanah. Membiarkan Naruto yang mulai merasa bersalah. Laki-laki itu ikut jongkok dan memeluk Hinata.
"Aku memang bodoh. Aku benar-benar bodoh. Aku pengecut benar-benar pengecut. Maafkan aku Hinata"
"Kau menyakitinya Naruto-kun. Sakura-san pasti merasa sedih. Aku bisa melihatnya. Sakura-san mungkin benar-benar ingin menyukaimu" Hinata balas memeluk Naruto.
"Aku tau, Hinata. Tapi aku bisa melihat juga. Dia masih menyukai Sasuke. Aku tak hanya melihat. Aku juga merasakannya."
Hinata melepaskan pelukan nya dan mendongak menatap Naruto.
"Ayo berdiri" Naruto membantu gadis itu berdiri dan kembali memeluknya.
"Dia memaafkan ku tapi aku yakin Sakura masih merasa kesal padaku. Aku menerimanya jika dia mau membunuhku"Naruto mengelus surai indigo itu.
"Tapi mau bagaimana lagi.. Aku tak bisa berpikir saat itu. Aku benar-benar takut jika kau tak mencintaiku lagi, aku tak ingin kehilanganmu"
Naruto memeluk Hinata erat.
Mendengar pengakuan Naruto tentu membuat Hinata merasa bersalah. Seandainya waktu itu dia mau jujur pada Naruto. Semua ini tak akan terjadi. Dia terlalu malu jika harus mengulang pernyataan cinta itu. Hufft.. Semua salahnya..
"Gomen ne, Naruto-kun"
"Tidak tidak, semua ini salahku. Aku yang terlalu pengecut. Gomen ne, Hinata"
Naruto melepaskan pelukan nya dan menyeka lembut jejak air mata di pipi gadis itu.
"Mau memaafkan ku?"
Hinata tersenyum dan mengangguk.
"Tapi setelah ini minta maaf lagi pada Sakura-san."
"Baiklah-baiklah hime"
Naruto mengelus surai indigo itu lembut. Dia kembali membawa Hinata ke pelukan nya.
"Hinata.."
"Hm?"
"Ada yang ingin aku katakan lagi.."
"Apa?"
Naruto mendekati telinga Hinata dan membisikkan sesuatu di sana. Sepasang Amethyst itu membulat dengan rona merah yang telah memenuhi seluruh wajahnya.
Bruk!
"H-hei Hinata.. Aduh.. Kenapa kau pingsan.. Aku kan belum memasang cincinnya.."
Naruto mengangkat Hinata ala bridal style. Laki-laki itu terkekeh melihat Hinata yang pingsan dengan senyum di wajahnya.
'Hinata Hyuuga.. Menikahlah dengan ku'
Owari
.
Omake
Sakura memejamkan matanya menikmati cahaya bulan dan angin sejuk dari jendela kamar. Gadis itu sedikit bersenandung menghibur hatinya.
"Mau di temani"
Sepasang emerald itu segera membuka dan menoleh ke atas. Dia melebarkan matanya saat sepasang onyx menatapnya dari atas atap rumah.
"S-sasuke-kun"
"Hn"
Sakura melompat ke atap rumahnya dan ikut duduk di samping Sasuke.
"Kenapa kau disini..?"
"Disini dimana? Konoha atau atap rumahmu"
Sasuke menoleh ke arah Sakura yang menunduk.
"K-konoha?"
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Hokage."
"Atap rumahku?"
"Ada yang ingin ku bicarakan padamu"
Sakura segera mendongak saat Sasuke berdiri. Gadis musim semi itu ikut berdiri saat tangan nya di tarik begitu saja oleh Sasuke.
"Sasuke-kun"
Sakura menelan saliva nya gugup saat sepasang onyx itu menatapnya dalam.
"Haruno Sakura.. Menikahlah denganku.."
"E-eh?"
The Endddddd~
Fanfic pertama author akhirnya tamat, bagaimana kesan kalian? Biasa aja? aneh? huuuu :') Review ya dan tunggu Fanfic berikutnya^^
