Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Trapped in Homo-moment

by Raja Kadal


Warning(s): OOC dikit, pairingnya sementara ini tebak aja siapa sama siapa (ketahuan kok), ceritanya sebentar lagi bakalan masuk ke tahap 'kampret', jadi kalo ga kuat bisa segera keluar dari fiksi ini. Asyik loh kampretnya. Gue serius.


Itachi meloncat turun dari mobil Jeep hijau tua miliknya, hanya mengenakan kaos dan celana jeans biru yang sudah usang , tepat saat embusan angin menghempaskan dedaunan kering dan membuat debu berkilat-kilat beterbangan di sekitar pintu gerbang pemakaman. Dihalaunya debu-debu itu sambil melihat kejauhan.

Pintu besi gerbang pemakaman itu terbuka perlahan. Menimbulkan bunyi berderit yang pelan.

"Oh," keluh Tenten bagai kehilangan harapan dan sekarang merasa bodoh karena itu. Tenten masih di dalam Jeep—sebenarnya malas untuk keluar. Sulit untuk berpura-pura senang saat kau datang ke pemakaman. Segala hal yang ada di pemakaman membuat hatinya kelabu.

"Kenapa?" tanya Itachi tak acuh. Ia segera meraih buket bunga lewat jendela Jeep dan melesat cepat ke arah pemakaman. Pintu pemakaman itu segera tertutup dengan sendirinya di belakang Itachi.

Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di depan Jeep. Dua orang pemuda keluar dari dalam mobil. Satu berambut jabrik dan satu lagi berambut semerah darah. Mereka berdua berpakaian formal—lebih pantas di pemakaman—jas hitam.

"Kau tak ikut, Ten? Asyik, loh." bujuk Kiba dari samping jendela Jeep.

Tenten menggeleng cepat. Kiba hanya terkekeh senang dan segera memasuki pintu gerbang. Sementara Gaara masih mematung di tempatnya.

"Aku benci tempat ini." ujar Gaara kemudian.

"Aku juga." balas Tenten. Gadis ini melihat arlojinya yang menunjukkan sebentar lagi matahari akan terbenam.

"Ah—sumpah. Benci banget. Keningku juga masih sakit." umpat Gaara. Ia memegang keningnya yang dibebat kain kasa banyak sekali. Rembesan darah dari bebatan kain kasa itu berkilat merah—serasi dengan warna rambutnya. Dia mulai merasa menjadi setengah mumi di acara Halloween party.

Tenten menatap Gaara dengan ekspresi kengerian yang terpancar jelas.

xxoxx

Naruto sepertinya melewatkan banyak percakapan penting karena saat ia tiba di ruang makan, ia hanya melihat Sakura yang sepertinya menahan tangis. Sasuke dan Neji malah entah pergi kemana.

"Sakura-chan, kau bisa tidak temani aku ke rumah seseorang?" tanya Naruto sambil mengusap-usap kepalanya dengan handuk. Ia menatap bingung ekspresi wajah Sakura. "Ada apa? Masih marah tentang yang tadi?" lanjutnya.

Sakura memainkan sendok sup-nya dalam diam. Kemudian dia menggeleng cepat dan menengok ke arah Naruto.

"Rambutmu masih basah, tuh! Menetes-netes sampai ke sini. Dasar." protes Sakura.

"Ke mana mereka?" tanya Naruto tak mengacuhkan protes Sakura. Ia segera menuang cornflakes dan susu ke dalam mangkuk dan memakannya dengan lahap.

"Ini ada sup—"

"Aku benci asparagus. Benci sekali." potong Naruto. Ia memandang jijik ke mangkuk sup Sakura.

"Pfft—kemarin kukira kau membenci buncis."

"Pokoknya aku hari ini benci asparagus!" seru Naruto.

Begitulah Naruto. Selalu membenci segala hal yang berhubungan dengan Sasuke. Termasuk semua masakan yang dibuat Sasuke. Mereka hanya akrab dan tidak bertengkar kalau sedang latihan atau perform saja.

"Naruto."

"Apa?"

"Menurutmu apa yang akan terjadi kalau—"

Perkataan Sakura menggantung. Ia terlihat ragu dan berpikir apakah mengatakannya ke Naruto adalah hal yang bijaksana.

"Kalau?"

"Kalau Itachi kembali lagi dengan kita?"

Naruto tersedak cornflakes-nya. Matanya membulat tak percaya. Kemudian dia berhasil menguasai dirinya dan bersikap tenang.

"Bukankah itu bagus? Kita jadi tak perlu memakai Si Anggota Baru lagi."

Bahkan Naruto enggan mengucapkan nama Sasuke dan menggantinya dengan istilah ' Si Anggota Baru'. Sakura menatap Naruto dengan gemas.

Bugh.

Sakura menjitak kepala Naruto.

"Kau ini. Masih saja kekanakkan, Naruto." gerutu Sakura.

Naruto mengusap-usap kepalanya. Heran dengan reaksi Sakura. Setahu Naruto, Sakura juga tidak begitu menyukai Sasuke. Apa sekarang Sakura sudah memiliki rasa yang lebih terhadap Sasuke?

"Tumben kau bertanya seperti itu."

"Sebenarnya, tadi …"

Seketika, Naruto jadi susah untuk menelan serealnya.

xxoxx

Sasuke membuka pintu Punch Café dan mempersilakan Neji masuk terlebih dahulu. Neji tidak dapat memikirkan tempat yang lebih hangat untuk minum di bulan Oktober selain di Punch Café, simbol kedai makan bergaya Eropa yang terkenal di pinggiran kota Tokyo. Tanpa alkohol. Ia akan aman di sini.

Ia membiarkan Sasuke menerobos kerumunan menuju tempat duduk favoritnya di depan jendela, tempat ia biasa melihat seluruh kota. Matahari bersinar rendah, menyiramkan sapuan keemasan pada dinding-dinding gedung berbata merah dan menyinari pepohonan. Neji menarik napas. Apa yang sedang dipikirkannya? Ia harusnya berada di luar menikmati hari cerah bersama anak-anak kecil. Bukannya di sini. Apalagi, dengan Sasuke, demi Tuhan.

Seorang gadis pelayan bercelemek kuning menghampiri kursi mereka untuk mencatat pesanan. Dia terlihat gembira sekali.

"Kalian beruntung hari ini. Kami baru saja mendapat izin menjual minuman beralkohol. Kau mau vodka?"

"Luar biasa," kata Neji pelan. Neji benci alkohol.

"Terima kasih, tapi aku pesan dua hamburger, satu dipanggang matang sempurna, satunya lagi setengah matang, dua-duanya pakai acar asam, keju untuk yang dipanggang sempurna, kentang goreng, dua Coke, dan segelas air putih. Nanti setelah tiga puluh menit, tolong bawakan milkshake cokelat, ya. Yang sedang." jawab Sasuke fasih.

Gadis pelayan itu segera mencatat dengan cepat sambil mengangguk-angguk mengerti.

"Kau benar-benar lapar, ya? Padahal baru saja kau sarapan." Neji tersenyum pada pelayan itu, dan melanjutkan, "Aku pesan—"

"Aku baru saja memesankan buatmu," kata Sasuke, terlihat tidak sabar. "Menu itu yang selalu kita makan, kan. Sekarang, bisa lanjutkan pembicaraan kita lagi?"

"Tapi aku ingin kopi saja."

"Baiklah. Kopi satu." pesan Sasuke dengan wajah gusar.

Pelayan itu menatap keduanya dengan heran. Dilihat dari manapun, Sasuke dan Neji terlihat seperti sepasang kekasih—sejenis. Dan kebetulan salah satu dari mereka ini sedang merajuk dan pacarnya yang temperamental berusaha membuatnya luluh. Pelayan itu pun terkikik sambil lanjut menuliskan pesanan mereka.

"Nanti malam kita akan perform di Akihabara. Aku sudah di telepon manajer mengenai hal ini," Sasuke angkat bicara. Dia mengencangkan syal miliknya dan melanjutkan pelan, "Dingin sekali, tapi cewek arah jam satu malah membuka dua kancing atas kemejanya. Dasar aneh."

Neji segera menengok ke meja persis di belakangnya. Dan benar saja, ia melihat seorang perempuan berambut keriting panjang berwarna cokelat—yang sedang mengipas-ngipas dirinya seolah kepanasan sambil menatap nakal ke Sasuke.

"Kau yang aneh. Hal seperti itu kenapa diperhatikan?" Neji memutar bola matanya.

"Kenapa? Kau cemburu?" ejek Sasuke. Dia tersenyum jahil kepada Neji. Sepertinya dia siap untuk menggoda Neji—hal yang biasa ia lakukan karena dia jarang bercanda dengan Sakura maupun Naruto.

"Dasar bodoh," balas Neji. "Kita di sini untuk membahas Itachi."

"Tapi—kalau boleh jujur. Rambutmu lebih bagus jika dibandingkan dengan cewek arah jam satu itu." bisik Sasuke. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Neji, membuat Neji sedikit jengah.

"Apa?" Neji menaikkan salah satu alisnya tak percaya dengan kata-kata Sasuke. "—ah, ya. Tentu saja rambutku lebih bagus." lanjutnya angkuh. Tetap mempertahankan ekspresi datarnya.

"Jadi, setelah tahu kakakku kembali, apa ada niatan dirimu untuk mengeluarkanku?" tanya Sasuke. Wajahnya menyiratkan ekspresi tak acuh. Walaupun sebenarnya Neji tahu, Sasuke benar-benar ingin tetap nge-band dengannya.

"Tentu saja," jawab Neji. Sasuke langsung mengernyit. "—tapi kau tahu sendiri, kan. Kakakmu sudah mati. Aku saja masih sangsi dia yang meneleponmu tadi."

"Apa kau tak pernah curiga padaku, eh?"

"Curiga?"

"Apa kau tak pernah berpikir bahwa kejadian dua tahun lalu itu ulahku?"

"Maksudmu—kau yang membunuh Itachi, begitu?" tanya Neji skeptis. Ia mengingat-ingat kejadian mengenaskan di sebuah jurang, di mana mayat Itachi tergeletak tak bernyawa. Ia malas mengingat kejadian yang membuatnya ingat dengan kematian.

Sasuke hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Neji. Ia malah menatap mata Neji lekat-lekat. Pandangan yang sangat Neji benci karena seolah-olah menembus pikirannya.

"Aku suka matamu." ujar Sasuke tiba-tiba. "—suka sekali."

"Kau mengalihkan topik, tolol." maki Neji.

Ia mengambil rokok dari kantong jaketnya dan mulai menyalakannya. Entah kenapa saat ia bersama Sasuke, rasa ingin memberontak muncul dan umpatan ingin sekali Neji lontarkan. Berbeda sekali jika ia berhadapan dengan Naruto. Mungkin karena Sasuke memang orang yang sulit ditebak.

Tepat pada saat itu pesanan mereka datang.

xxoxx

Seharusnya Naruto tahu kalau anak seusianya tidak boleh—sangat tidak boleh—menentang kedua orangtuanya, namun sangat sulit membayangkan kalau dia harus menikah dengan gadis yang tidak sedikitpun dicintainya.

Apalah aku ini? Anak bau kencur yang belum mengerti cinta.

Ia menatap Sakura di sebelahnya yang sibuk memasang seatbelt. Sakura mengeluarkan ponselnya dan menelepon Neji. Menanyakan keberadaan Neji dan segera mengucapkan nada khawatirnya mengapa Neji malah pergi dengan Sasuke—alih-alih dirinya.

Naruto menyalakan mobilnya dan melajukannya pelan keluar dari basement apartment.

"Cinta itu apa sih?" tanyanya tiba-tiba. Ia menatap lurus ke depan, berkonsentrasi menyetir. Bagaimanapun, dia masih 14 tahun dan dia belum memiliki SIM. Ia harus berhati-hati mengemudi.

"Cinta? Mungkin itu yang kurasakan pada Neji-nii," balas Sakura mengangkat bahu. "—mungkin, sih." lanjutnya, agak ragu dengan ucapannya sendiri.

Naruto tertawa mengejek. "Kalau kau, kemungkinan besar itu brother-complex, Sakura-chan."

"Bukan begitu. Aku terkadang merasakan getaran-getaran aneh saat bersama Neji-nii, dan kemungkinan saja kan itu cinta?" balas Sakura tak mau kalah.

"Getaran aneh, ya?" gumam Naruto. Itu sih sering kurasakan kalau bersama Neji juga, pikirnya. Apa Neji memang mempunyai daya tarik khusus ya?

"Ah, aku juga sering khawatir dengan Sasuke." cicit Sakura. Ia menggeleng-gelengkan wajahnya cepat. Bergumam sendiri seperti mengucapkan sebuah doa penolak bala.

"Kenapa dengan Sasuke?" tanya Naruto, mulai sedikit terusik.

"Aku khawatir kalau Neji-nii terus bersamanya, nanti Neji-nii jadi merasakan getaran-getaran aneh …"

CKIIIITTT—!

Naruto menginjak rem mendadak. Membuat Sakura kaget. Mobil mereka berhenti tepat di pinggiran sebuah pertigaan.

"Kau kenapa sih?!" teriak Sakura. Ia memukul kepala Naruto dengan keras.

"Ah? Tidak. Ahaha," Naruto tertawa seperti tawa yang dipaksakan. Ia sebenernya terkejut mendengar perkataan Sakura barusan. Getaran? Sasuke ke Neji? Yang benar saja!

"—sepertinya kita salah arah, Sakura-chan. Rumah Hinata bukan di belokan sini." sambung Naruto pelan. Ia mulai mengendalikan dirinya.

"Oh, jadi namanya Hinata ya? Orangnya seperti apa?" tanya Sakura penasaran.

"Kau lihat saja sendiri nanti. Pokoknya sepuluh kali lipat lebih baik dirimu, deh." balas Naruto frustrasi. Ia segera memutar balik mobilnya menuju arah berlawanan.

Sakura hanya terkekeh geli sambil menatap layar ponselnya. Ia memperhatikan wallpaper ponselnya yang berisi foto personil "ONION!". Tapi rupanya ia hanya fokus ke salah satu foto pemuda yang berwajah datar; yang berpose dengan jari membentuk 'peace'. Yang Sakura perhatikan adalah foto Sasuke—alih-alih Neji. Sakura mulai larut dalam pikirannya sendiri.

Sebenarnya, bukan hanya Neji-nii yang kutakutkan merasakan getaran-getaran aneh jika bersama Sasuke. Aku juga … Sepertinya merasakan getaran itu. Sedikit.

To be continued.

xxoxx

A/N: Mana kampretnya? *kata reader sekalian* Maksud gue—kampret di sini bukan sejenis kelelawar atau codot—lebih ke arah, fiksi ini mau dibawa kemana? Sepertinya bakalan fantasy-romance. Gila, ya? Yak, silakan meninggalkan pertanyaan, kritik, saran, atau flame (kalau tega) buat gue.

.

.

Special Thanks To Reviewers (?):

rie megumi, eida-san, Chic White, Luca Marvell, sofi asat, , hanazono yuri, Zagy, Chi-chan Uchiharuno, marukocan, Moon Extract, kitsune Riku11, DontPink, , Claire Farron IS My savior, Sajiai Atsushi, NamikazeARES, aitara fuyuharu, 7D, hanazawa kay, azhuichan, Lhylia Kiryu, Kikyu RKY, kithara bluebell, aigiaNH4

.

and YOU!