A/N: trimakasih untuk semua apresiasinya. Seneng banget. Semoga tak mengecewakan.^_^
Disclaimer: JK Rowling. Genre: Hurt comfort. Rate: T. Warning: Miss typos, alur cepat, semi AU.
Apples by Diloxy
Chapter 3. Pulang
Suara alunan angin terdengar samar bertiup. Aku menoleh sekilas ke arah pepohonan kering di sudut taman, dan hamparan rumput yang mulai kering. Entah sudah yang ke berapa kali ia mengeratkan syal yang melingkari leherku. Memastikan bahwa aku tetap hangat. Aku hanya terdiam. Masih tak bicara terlalu banyak kepada siapa pun. Tapi, ia memang orang yang mendengar beberapa kalimatku akhir-akhir ini. Mendengar semua umpatan, teriakan, dan makian.
Sebulan berlalu semenjak kejadian gedor-gedor pintu kamar mandi, sembunyi dan mencari, dililit tumpukkan kain, pertunjukkan apel mengerikan. Dan seolah ia membiarkanku melakukannya lagi. Membenamkan diri dalam bathtub, sembunyi dalam tempat-tempat yang sudah pasti ia akan bisa menemukanku. tanpa ada gangguan. Kemudian keluar dan mencemoohnya lagi.
Terus mencemoohnya hingga mulutku terasa malas melakukannya. Mungkin bosan. Karena nyatanya aku tak dapat tanggapan. Karena nyatanya si asisten dokter ini masih setia mengusap keras punggungku saat kumat. Setia menungguku makan yang rasanya seperti setahunan. Setia mengawasiku minum obat.
Dan yang perlahan aku suka, setia mendengarkanku. Disaat semua orang pergi. Perlahan aku mulai menerima kebaikannya untuk terus berada di sebelahku.
Saat ini phobiaku tak terlalu besar dengan benda terkutuk itu. Setelah ia menstimulusku bahwa apel hanya sebuah benda. Tak berbahaya. Walaupun rasa takutku kerap menyerang seolah mengintimidasi bahwa merah mengkilap itu adalah darah segar yang telah ditumpahkan dari tubuh-tubuh tak berdosa.
Dan kini pemuda itu berjongkok di depanku. Dengan kelabu tajam miliknya seolah mengorek sesuatu ke dalam sepasang hazel milikku. Ia belum mendapatkan apa yang ia cari. Tentang menteri sihir. Tentang bagaimana orang tuaku mati.
Namun beberapa kali aku berpikir mungkin Draco –aku mulai berpikir menyebut nama depannya- tak terlalu menginginkan informasi itu. Mungkin itu bukan motif utamanya. Aku bahkan sempat berpikir ia disuruh Harry atas balas jasa untuk Narcissa. Tapi, semua hipotesis itu tak berguna. Toh aku pun malas bertanya.
"Kau rindu ini?" tanyanya datar seraya menarik tongkat dari saku jaketnya. Mataku menyipit memperhatikan.
"Sejujurnya iya. Tapi mereka tak mengizinkan aku memiliki punyaku," ucapku pelan.
"Kau mau mencoba?" tanya pemuda itu yang dengan enteng meletakkan tongkatnya di panngkuanku. Aku menatapnya heran.
"Aku masih hapal benar kutukan kematian," desisku agak jengkel.
"Memangnya siapa yang bilang kau lupa, eh? Otakmu yang super besar itu aku rasa tidak akan menyusut hanya karena gelang menyedihkan itu!" tunjuk pemuda itu pada gelangku. Aku tertawa pelan.
"Kau mau aku merapal apa?" tanyaku dengan sigap memegang tongkat sihir miliknya.
"Coba non verbal. Aku ingin kopi panas," perintahnya.
"Kau tinggal cari di dapur, Malfoy!" ucapku terkekeh kecil. Namun akhirnya, setelah tiga bulan lebih diam di rumah sakit ini, aku melakukannya. Mengayunkan tongkat itu perlahan. Dari bulir-bulir embun yang mulai berjatuhan di senja ini, aku menyihir secangkir kopi dari udara kosong.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis, namun lain halnya dengan aku yang seakan-akan murid tahun pertama yang baru bisa menggunakan tongkat. Ia meraih cangkir di pangkuanku dan meneguknya hingga habis. Kemudian menaruh cangkir kosong di pinggir lorong.
"Mereka akan mengurus yang itu," liriknya sekilas. "Kita kembali ke kamarmu. Udara sudah mulai tak bersahabat. Lagipula kau perlu mengganti perbanmu," lanjut pemuda itu seraya mendorong kursi rodaku. Sekilas kulihat raut wajahnya yang seiya sekata dengan udara penghujung musim gugur.
Kami berlalu melewati lorong yang mulai diterangi cahaya dari deretan neon. Aku tak bicara. Tak perlu. Senyuman mengembang di wajahku sepertinya bisa mewakili. Tubuhku menghangat di antara udara yang mulai membekukan ini. Pemuda itu. Ia sungguh pintar. Tanpa banyak bicara, namun berhasil mengembalikan beberapa kesenangan yang masih sembunyi dalam diriku. Karena sejujurnya aku rindu tongkat kayu anggur milikku.
Dan, seharusnya aku mengucapkan terima kasih atas pinjaman tongkatnya yang walau pun sesaat, karena ia buru-buru mengambilnya lagi saat seorang suster lewat dekat kami. Atau kalau tidak ia habis kena bentak.
Ia membawaku masuk ke kamar. Disana telah ada suster yang biasa merawatku telah siap dengan perban. Setelah membantuku duduk di atas ranjang, pemuda itu berbalik namun masih berdiri di dekatku. Selama suster membuka bajuku dan mengganti perban lama dengan perban baru. Sesekali aku meringis kesakitan karena luka mengerikan ini. Tapi mendengar pemuda itu bersenandung membuatku heran, agak lucu malah. Siapa yang bisa mengira dia bisa seperti ini sekarang. Aku memperhatikan punggung tegapnya. Rambut pirang platinanya mengkilap di bawah cahaya neon.
Setelah suster selesai dengan tugas, pemuda itu kembali berbalik menghadapku.
"Aku belum selesai," kataku yang agak terkejut. Aku segera menarik diri menyamping dan membenarkan kancing bajuku. Pemuda itu malah tertawa menjengkelkan.
"Aku tak tertarik dengan orang gila!"
Ya, kali ini pemuda itu yang malah lebih sering mengingatkannya. Membuatku melempar tatapan membunuh, tapi seperti biasa ia malah menarik selimutku dan membenarkannya. Aku tiduran di atas ranjang sementara ia asyik mengunyah buah-buahan yang dibawa Molly tadi siang untukku. Tentu tak ada apel. Aku masih trauma.
"Kau mungkin bisa menjadi dokter jiwa, Malfoy!" ucapku pelan. Sesungguhnya tanpa ada nada mengejek. Tapi pemuda itu tertawa.
"Mengurusi satu sepertimu pun belum tuntas."
"Jadi, apa motifmu sebenarnya?" tanyaku. Pertanyaan yang harusnya ia jawab sebulan lalu.
"Hanya ingin membantu," jawabnya cepat. Tanpa melihatku karena masih terfokus pada makananku.
"Ouwh, perang mengubah Malfoy menjadi dermawan," ejekku segera.
"Dan mengubah Hermione Granger menjadi setengah waras," tambahnya. Terima kasih untuk mengingatkan. "Apa orang tak waras menyadari dirinya tak waras?"
"Kau gila menanyakannya padaku," gerutuku mulai kesal.
"Kalau begitu jawabannya iya. Sebenarnya alasanku hanya untuk meminta makanan. Aku tahu banyak yang mengirimmu, tapi sepertinya kau terlalu malas untuk memunculkan kembali daging di tubuhmu!" ejeknya dengan tawa renyah yang memuakkan.
Aku mencibirnya kesal. Baiklah, aku percaya. Aku kan sudah gila. Lucu sekali Malfoy. Bahkan perang tak mengubah sifat menyebalkan milikmu.
Hujan mengguyur London. Aku bisa merasakannya dari udara dingin yang menyusup masuk ke kamar. Dan jendela yang telah sedemikian rupa berembun. Bunyi derasnya kuat berdebam dengan tanah. Suara hujan yang amat aku kenali. Suara yang menandakan aku tak tuli, aku tak sendiri. Dan dingin ini merasuk menenangkanku seperti morfin. Membuat kelopak mataku teramat berat, cahaya silau memaksa pupil mataku menyempit. Dan setelahnya aku terbawa buaian mimpi. Meninggalkan dunia nyata.
Menarikku ke sebuah padang salju dengan celotehan suara anak-anak kecil. Dan sebuah senyuman hangat dari wajah teduh ibuku. Apa kau bahagia disana? Sepertinya iya. Aku ingin menyusul, namun semua yang kulakukan hanya menambah penyiksaan di hidupku. Menjerat tubuhku, menarik nafasku, melemahkan jantungku.
Hingga kini aku terlempar pada lahan kosong dengan kegelapan yang menjamahinya. Tubuhku remuk setelah menghantam tanah tandus. Bau busuk menyengat memaksaku untuk menutup hidung. Namun entah dari mana datangnya tali berduri itu muncul dan menjerat tubuhku.
Menyeretku paksa pada gerombolan mayat hidup kelaparan yang mulai menggerayangi tubuhku. Aku menjerit sekuat tenaga, namun hanya udara kosong yang keluar. Sementara mereka semua kini melemparku ke dalam lubang kuburku sendiri. Aku meronta meminta belas kasih mereka, namun tanah-tanah itu makin banyak menutupiku. Membuatku sesak. Hingga akhirnya aku tenggelam di lautan. Menatap pada cahaya langit yang makin memudar. Menatap kosong pada arak-arakan awan nimbus tipis yang tak lama lagi akan berbah menjadi badai. Arus air menarikku makin dalam. Namun, sosok itu menarikku ke permukaan. Hingga detik berikutnya aku kembali.
Tersadar dari buaian mimpi buruk yang entah mengapa datang lagi. Jantungku berpacu amat cepat. Napasku terengah-engah. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Mataku terbelalak. Mencari-cari entah apa. Tubuhku menggigil diraksuki dingin yang mencekik. Aku menarik kuat-kuat selimut yang menutupi tubuhku. Sementara tanganku yang bebas mencari-cari selang.
Tak ada.
Sudah tak ada.
Sial. Morfin itu telah dicabut. Tak ada penenang.
Mataku awas segera menoleh ke arah pintu kamar. Dimana siluet seseorang mendekat. Membuka pintu itu dengan segera. Seingatku aku tak menekan tombol darurat. Tapi memang bukan suster yang datang.
Pemuda pirang itu mengibaskan rambutnya yang basah terkena air hujan. Mata kelabunya menampilkan gambaran kekhawatiran. Ia berjalan padaku setelah menggantungkan mantelnya di paku. Aku memperhatikannya yang terus mendekat. Membuat aliran darah yang deras berangsur melambat.
Tanpa kata pemuda itu segera mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia menyeka wajahku yang dipenuhi keringat. Kemudian menyeka leherku dan lenganku. Raut kekhawatiran belum hilang dari matanya. Raut kekhawatiran yang tak ia tutupi dari wajah dinginnya.
"Kau ingin morfin?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng cepat. Sebenarnya aku butuh, tapi melihatnya membuatku menampiknya. Karena nyatanya tubuhku mulai kembali tenang. Perlahan rasa hangat menguasaiku lagi. Aku menatapnya dengan pandangan bercampur baur. Mengapa, bagaimana, ada apa. Ia bisa tahu aku baru saja diculik mimpi buruk. Aku melirik sekilas pada jam dinding. Jam dua malam.
"Kau bisa tidur lagi sekarang," ucapnya menarik selimutku hingga ke bawah dagu. Aku hanya memperhatikannya. Pemuda itu merapikan kembali mangkuk air hangat dan handuk basah. Setelah kemudian ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
Hujan di luar sedemikian deras. Petir menggelegar sahut menyahut, membuatku harus menarik diri dari sekedar memperhatikan.
"Draco," ucapku pertama kali menyebut nama depannya. Pemuda itu terhenti dan menoleh.
"Kau takut mimpi burukmu menyerangmu lagi?" tanyanya segera. Aku mengangguk cepat. Ia terdiam sejenak, nampak berpikir. Setelah kemudian berjalan ke arahku. Duduk di ranjangku dan bersandar ke dinding.
"Tetap disini," ucapku tanpa berpikir. Ah, aku memang sudah gila. Tak apalah.
Ia melingkarkan lengannya di pundakku. Dan entah mengapa otakku memerintahkan tanganku menyambutnya. Aku memegang erat tangan pemuda itu. Entah mengapa lebih memilih kehadirannya dibanding morfin. Dan menit-menit selanjutnya ketika otakku mulai kelelahan memikirkan segala macam pertanyaan yang menggelayut indah, aku kembali jatuh dalam buaian malam. Namun kali ini tak meneruskan mimpi buruk itu. Hanya ada aku. Hogwarts. Pemuda itu yang tersenyum di depan bendera hijau Slytherin. Dan aku membalas senyumannya.
0o0o0
00
Aku memperhatikan citraanku di cermin. Sosok gadis dengan rambut ikal yang tengah disisir suster. Wajah kurus yang lama kehilangan cahaya. Dengan luka-luka yang belum hilang bekasnya. Hazel sayu menyorot kosong.
Aku melirik sekilas ke arah ranjang. Sejak bangun tidur pagi tadi, tak ada pemuda itu. Sejenak menyimpulkan bahwa kehadirannya semalam pun hanya mimpi. Bagaimana mungkin jam dua malam ia disini seolah mengetahui aku baru dihajar mimpi buruk, kemudian menjadi pengganti dari morfin yang harusnya menancap di tanganku.
Tapi handuk setengah kering yang menggantung di kamar mandi seakan jadi saksi bisu. Aku menghela napas panjang. Berusaha serasional mungkin walau pun menyadari keadaanku sekarang. Dan pagi ini tak seperti biasanya. Tak seperti pagi hari di satu bulan ini.
Pemuda itu tak ada. Sejujurnya aku kehilangan, tapi malas untuk bertanya. Aku putuskan untuk diam sejak tadi, namun akhirnya rasa penasaran itu meluap.
"Apa Draco Malfoy ke rumah sakit untukku?" tanyaku begitu saja. Suster yang merapikan rambutku nampak terkejut. Aku memang sangat jarang bicara padanya.
"Oh, sepertinya bukan," jawabnya segera. Aku mengernyit heran.
"Narcissa Malfoy juga dirawat disini. Di ruang karantina kejiwaan. Draco memang selalu menungguinya."
Aku terdiam setelahnya. Narcissa Malfoy mengalami gangguan mental sampai harus dikarantina. Aku ingat ruangan itu. Sebuah ruangan isolasi dengan cermin besar satu arah. Ruangan yang membuatku lebih gila dari sebelumnya.
"Sejak kapan?" tanyaku segera.
"Hampir berbarengan dengan kedatanganmu," jawab si suster. Aku mengangguk pelan. Jadi, pemuda itu memang selalu di rumah sakit ini. Dan saat ia pergi dari kamarku, ia menunggu ibunya yang sakit.
Setelah suster selesai mengurus tubuhku, aku meminta izin untuk berjalan-jalan. Tak sulit untuk saat ini mengingat sikapku yang sudah jauh lebih baik. Aku sudah bisa mengendalikan diriku walau ia belum melepas gelang menyedihkan ini.
Aku berjalan setengah berlari menuju ruang karantina. Berusaha mengingat tiap alur jalanannya hingga kini membawa langkahku menuju ruangan tersebut. Aku terhenti sejenak. Kemudian berjalan perlahan begitu melihat pemuda itu duduk seraya menenggelamkan wajah di dalam telapak tangannya. Aku menghampirinya, namun terhenti begitu menoleh pada sebuah jendela besar.
Ah, bukan. Aku yakin ini cermin satu arah itu. Benda yang membuatku makin gila jika berada di dalam ruangan. Karena di dalam, aku hanya bisa melihat pantulan diriku mengamuk. Namun disini, aku bisa melihat ke dalam ruangan.
Dimana Narcissa Malfoy, dengan keadaan kacau meraung-raung. Sejenak aku tutup mulutku hampir menjerit melihatnya. Terkejut mendapati keadaan ini. Narcissa Malfoy. Sang nyonya Malfoy yang terhormat. Dengan keadaan barunya saat ini.
Menyadari tatapan kelabu terkejut melihatku, aku menoleh. Pemuda itu hanya tersenyum getir.
"Ia tak seberuntung kau. Masuk kemari tiga bulan lalu sama sepertimu, namun keadaannya tak bisa lebih baik dari sebelumnya," ucap Draco nampak tertekan.
Jadi, ini salah satu alasan ia rajin setiap hari mengunjungi rumah sakit, bahkan kali ini aku yakin ia tak pulang ke manornya. Dan aku yakin bahwa kedatangannya semalam bukan sekedar mimpi. Karena ia memang disini. Menunggu Narcissa.
Dan Draco pun menceritakan Narcissa malang yang depresi dengan keadaan. Kehilangan suami dan kekayaannya. Hanya tersisa manor saja harta yang mereka miliki. Keadaan makin rumit dengan kementerian brengsek itu. Ia agak lega saat Harry membuat pengadilan mencabut perkara atas dirinya dan ibunya. Kemudian membawa Narcissa ketempat ini. Mengalami hari-hari buruk yang meracuninya.
"Bahkan ia tak mengenalku," lanjutnya miris. Aku menatap tak percaya. Keadaan Narcissa benar-benar buruk. Seperti keadaanku pada minggu-minggu awal dimana tenaga terkuras hanya untuk mengamuk. Tapi Draco tak bisa membuat Narcissa baikan seperti yang ia lakukan padaku. Hingga sampai dimana Harry menceritakan keadaanku padanya. Dan seperti yang ia katakan, ia penasaran. Seolah tak percaya aku bisa menderita gangguan mental hanya karena apel. Dan mendengar cerita sama tentang kementerian.
Jadi, malam itu, saat pertama kali ia menemuiku, memperlihatkan apel di saku celananya secara ilegal.
"Aku ingin membantumu," tutupnya. Aku menarik napas panjang. Jika usahanya tulus, ia telah bekerja amat bagus. Aku jauh lebih baik saat ini.
Keheningan merayapi kami. Ia masih setia dengan diam. Entah mengapa aku berpikir ada sesuatu yang mungkin bisa aku lakukan untuknya. Aku mencoba meraih pundaknya walau tanganku gemetar hebat seakan kehabisan tenaga. Sesuatu yang ia lakukan semalam.
"Kau mau aku bercerita apa?" tanyaku seraya mengusap bahunya. Gugup.
Ia menoleh memperhatikan mataku. Mencari jika sekiranya aku hanya main-main dengan tawaran ini, namun aku memang sungguh-sungguh saat ini.
"Tentang kematian orang tuamu," ucapnya pelan, seakan waspada. Benar saja. Siluet mengerikan itu mencambukku kembali. Namun kupaksakan diri untuk tidak meronta. Aku harus kuat, walau perintah itu membunuh setengah diriku.
"Hanya yang ingin kau bagi, kau tak perlu memaksa," ucap Draco yang kini mencengkram pundakku. Berusaha menarikku kembali ke kenyataan. Memaksaku tetap memegang kendali atas diriku.
"Apel itu," ucapku terengah. "Menteri tersenyum menatapnya…aku terlambat menyadari bahwa…itu beracun…membuat orang tuaku jatuh dan tewas seketika," aku berusaha memasukkan udara sebanyak-banyaknya, menghentikan napasku yang menyiksa seakan kekurangan oksigen.
"Untuk apa?" tanya Draco segera.
"Aku tak tahu. Saat itu…aku melempar kutukan kematian…tapi penjaga menerobos masuk dan…melempar cruciatus kepadaku."
Aku ingat benar. Kilatan hijau dari tongkatku sialnya meleset. Dan berganti dengan kilatan merah yang menghujani tubuhku tanpa ampun. Meskipun ambruk tak berdaya, cruciatus mengerikan itu masih setia mencumbu tiap buluh syaraf rasa sakit di sekujur tubuhku. Melipatgandakan rasa sakitnya. Bahkan aku seolah mendengar tulang-tulangku bergemeletak seperti akan hancur. Ya, karena setelahnya tubuhku memang hancur. Luka-luka sayatan membentang indah di tubuhku. Tulang-tulang patah menjadi pengingat. Hari itu. Aku akan membalasnya.
"Tenang Granger! Sudah cukup," ucapnya. Jemarinya mengusap dahiku yang dipenuhi keringat dingin. Kemudian beralih pada rambut ikalku yang tergerai. Ia mengelusnya perlahan. Membuat tubuhku berangsur reda dari gemetar hebat. Aku bisa mengatur napasku kembali. Kini pemuda itu memakaikan mantelnya di tubuhnya. Setelah kemudian lengannya mengitari punggungku. Mengusapnya lembut. Seperti saat ia menenangkanku pertama kali.
Aku meringkuk dalam pelukannya. Menerawang dengan pandangan kosong. Ia mempererat pelukannya. Menutupi tubuhku. Menghangatkanku. Entah mengapa senyuman ibu terbayang bergantung di kelopak mataku. Aku menarik napas dalam. Mencoba mengatur kembali memori yang terkoyak kegilaan. Berpikir tentang banyak hal, termasuk bagaimana kehidupanku saat ini. Maksudku, dengan seseorang yang datang dan pergi.
Seperti saat ini. Saat kepalaku selalu memerintahkanku untuk percaya padanya. Saat ia menenangkanku. Dan berdiam di dalam dekapan pemuda yang kini mengecup lembut puncak kepalaku.
0o0o0
00
"Itu kemajuan bagus. Aku yakin orde akan senang mendengarnya," ucap Harry girang.
"Benar, jadi kapan dia bisa keluar?" tanya Draco.
"Besok bisa," jawab dr. Corona secepatnya.
"Keluarga Weasley akan menerimanya dengan senang hati. Lagipula mereka sudah menganggap Hermione sebagai keluarga. Mungkin Molly akan mengurus pernikahan Ron dengannya setelah pernikahanku dengan Ginny minggu depan," ucap Harry dengan tawa girang. Dr. Corona pun tersenyum. Begitu pun dengan pemuda itu yang ikut tertawa seraya menepuk-nepuk bahu Harry.
Oh yeah. Aku harus apa? Senang karena mereka akan melepas gelang menyedihkan ini, atau sedih karena harus berhadapan dengan dunia liar yang sepertinya masih haus akan darahku?
Entah mengapa dr. Corona memperbolehkan aku keluar begitu saja. Apa ia tak tahu, atau ia benar-benar tak tahu bahwa aku masih sering kumat? Meringkuk di tengah malam karena mimpi brengsek yang datang mengganggu, kemudian berlindung dalam pelukan pemuda itu. Tanpa morfin atau penenang.
Atau pemuda itu tak memberitahunya?
Empat bulan di tempat ini, dan kewarasanku belum pulih seluruhnya. Setelah mengetahui Narcissa mengalami penderitaan yang sama denganku, aku makin sering memperhatikan Draco. Pemuda itu tak sehari pun absen mengunjungiku untuk menjadi pelampiasan saat aku kumat, dan menjadi penenang saat aku butuh morfin.
Tapi sekarang ia dengan enteng tertawa girang bersama Harry menyambut kebebasanku. Haruskah aku berteriak di depan wajahnya bahwa aku merasa lebih senang disini? Menghabiskan malam di pelukannya yang terasa nyaman dan menenangkan. Ia yang membantuku lepas dari jerat mimpi buruk. Membuatku tertidur lelap sampai pagi menyentuhku kembali.
"Ron bilang akan menjemputmu besok sepulang dari kementerian," ucap Harry dengan senyuman lebar. Aku tak mempedulikannya dan segera berbalik memunggunginya. Aku benci nama itu dan pemiliknya.
Tak lama dari itu, dr. Corona dan Harry pergi meninggalkan kamarku. Tapi tidak dengan pemuda pirang itu. Rasa kesal dalam diriku ingin aku luapkan, namun sepertinya salah jika pemuda itu yang mendapatkan luapannya. Aku putuskan untuk berbaring di ranjang. Menarik selimut hingga ke dagu. Tanpa bicara.
"Kau mau aku mengemasi bajumu?" tanya pemuda itu tiba-tiba. Mendengarnya emosiku seakan naik. Aku segera bangkit dan berbalik melihat ke arahnya.
"Memang kau lihat selama ini apa yang aku pakai?" desisku marah. Ia hanya terdiam dan kemudian berjalan ke arahku. Mendekatiku. Mengisyaratkanku untuk kembali tidur. Namun aku berontak tak mau.
"Lucu sekali melihatmu menyetujui kepulanganku besok. Kau sepertinya senang jika aku mencakar orang-orang setelah aku meninggalkan rumah sakit!"
"Kau sudah sembuh, Granger!" ucapnya pelan. Masih berusaha menarikku untuk tidur.
"Kau amnesia, eh? Setiap malam aku masih kumat dan kau harus menenangkanku. Apa kau tak berpikir aku tersiksa nanti? Siapa yang akan datang malam-malam sebagai pengganti morfin? Ron?" aku hampir berteriak ketikan luapan amarah telah memuncak. Menunjuk-nunjuk dirinya asal. Biar, toh aku masih tak waras. Masing memakai gelang sialan ini.
"Aku bisa memberimu morfin," ucapnya tanpa dosa.
"Kau senang aku kecanduan benda-benda brengsek itu, hah?" desisku.
"Kau harus tidur," ucapnya pelan seraya menarikku untuk tidur. Aku berontak masih berdiri di tepi ranjang.
"Bunuh aku sekarang Malfoy!" bentakku keras.
Suaraku pecah teredam suara hujan. Bibirku tergetar. Aku menarik napas panjang. Namun sia-sia, bulir bening ini tanpa izin mengalir begitu saja. Mengalir di antara bekas luka yang mengering di wajahku. Tubuhku tergetar hebat. Dan pemuda itu bangkit. Ia memelukku. Mengusap punggungku yang penuh bekas luka dengan perlahan. Aku biarkan diriku jatuh ke dalam rasa sakit yang tepat menghujam hati. Menangis dalam di pundak kokoh miliknya. Merasakan belaian lembut jemarinya di rambutku.
"Sudah, kau akan bahagia di The Burrow," ucapnya lembut. Aku menyeka air mataku segera.
"Aku tak mau," isakku.
"Terus? Kau mau aku membawamu ke manor?" Draco tertawa kecil mengejek.
"Seandainya boleh," gumamku pelan. Aku tak tahu dari mana asalnya jawaban gila ini.
"Agar kau tak perlu membawa morfin? Agar kau tak perlu membayar perawat? Kau mengeksploitasiku, Granger!" ejeknya masih memelukku. Aku menggeleng cepat, makin meringkuk dalam pelukannya.
"Agar memastikanku tetap waras," ucapku. Hanya itu yang aku tahu.
Ia hanya bersenandung kecil setelah berhasil membujukku untuk tidur. Mengelus rambutku seperti anak kecil yang dibuai malam. Membawaku terlelap dalam pelukannya. Membawaku dalam mimpi pada sebuah padang rumput dengan pepohonan yang meranggas. Pita-pita berwarna pastel pada dahannya. Sederhana. Dimana aku memakai mahkota bunga-bunga musim gugur. Dan dirinya datang dengan senyuman.
0o0o0
00
Pagi telah merengkuh dunia saat aku membiarkan suster menyiapkanku. Aku tak mau menatap pemuda yang ada di mimpiku semalam. Karena nyatanya kini ia tengah berbicara ringan dengan seseorang yang membuat darahku mendidih. Bukan menteri sihir. Hanya salah satu orang dengan wajah tak berdosa. Ron Weasley. Berusaha mengingatkanku tentang hubungan kami yang terikat saat perang. Tapi, hey. Perang telah mengubah banyak hal.
"Obatmu telah aku simpan di tas," ucap suster. Aku mengangguk.
"Seharusnya aku masih disini," ucapku pelan.
"Kau butuh duniamu," ucap suster itu. Benar. Aku butuh duniaku. Namun duniaku tak membutuhkanku. Aku memiliki dunia baru di tempat ini. Suster pun melepaskan gelang menyedihkan itu dan berniat memasukkannya ke dalam kantong, namun aku mencegahnya.
"Bisakah aku menyimpannya?" tanyaku menunjuk gelang karet mungil itu. Ia pun menyimpannya di dalam kantongku.
"Hati-hati dengan punggungmu. Aku heran lukanya sering terbuka," ucap suster mengingatkan. Untuk pertama kalinya aku tersenyum tulus pada wanita baik hati ini. Ia tak tahu saja bahwa si pirang itu yang bertanggung jawab. Bagaimana akan sembuh jika tangannya selalu mengusapnya keras-keras?
Aku berbalik ketika melihat tangan Ron menyambutku. Wajahnya dipenuhi senyuman. Namun sepasang hazelku beralih pada pemuda di sebelahnya. Pemuda yang kini masih sama dingin dengan udara di luar. Aku menatap ke dalam iris kelabunya, menyiratkan ucapan selamat tinggal. Mungkin setelahnya tak ada lagi pelukannya yang menenangkanku. Membuatku mencuri banyak butir morfin dari kotak obat.
Aku menepis tangan Ron dan memilih untuk berjalan sendiri seraya ia membawakan tasku. Dan kami pun meninggalkan rumah sakit ini menggunakan mobil muggle. Ayah Ron yang menyetir. Membelah jalan menuju rumah mereka yang akan menjadi tempat tinggalku.
Semakin jauh aku pergi, semakin menyesakkan rasanya. Haruskah aku katakan bagaimana rasanya aku memikirkan hari-hari setelah ini? Tak ada pemuda itu lagi.
…
…
TBC
Long chap uh? Alur kecepatan cahaya? Tapi ini yang terlintas dan Diloxy ga bisa mengeremnya. Maaf. Semoga tak mengecewakan. Sekali lagi, tinggalkan jejak manis kalian.
