Harus berterima kasih sekali (nggak, berkali – kali juga boleh deh!) lagi atas welas asihnya readers yang mau memberi review mereka pada karya hamba yang tidak seberapa ini! Thank you, Merci, Arigato Gozaimas, Kamsa Hamnida, Danke, etc etc!! Dengan ini hamba persembahkan, chapter ketiga!! Dan sekali lagi, maaf, rupanya otak hamba sudah mendidih duluan sebelum halaman keenam, jadinya terpaksa cuman sependek ini lagi deh!! Sungguh, hamba minta maaf!
Oh ya, pesan untuk Blueberry Cake: Disclaimer? Yah, semua orang juga tahu kalau semua fic di situs ini dibuat tanpa kepemilikan, jadi buat apa buang-buang waktu untuk memberi tahu apa yang sudah diketahui. Ya nggak?
Ngomong – ngomong, perasaan kok hamba banyak banget dapat anceman ya? Kemarin ada yang bawa-bawa kunai, sekarang gunting taneman ama selepetan (idih, jadi tatut eikeh). Waduh, berabe. Kalau gini caranya, hamba bisa ngacir duluan sebelum chapter terakhirnya jadi...
He he he, bercanda! Mungkin ancaman memang perlu untuk bikin hamba semangat nulis.
Sudahlah, jangan banyak cakap kau, Galerians (siapa itu yang bicara!?), Readers, please enjoy!
•
The Worry
"Naruto – kun…"
"...Ya?"
"Lihat aku..."
Walaupun enggan, dengan patuh Naruto mengangkat kepalanya, mengarahkan kedua matanya yang biru ke mata Hinata. Si gadis mengangkat tangannya, kemudian menyentuh kedua pipi sang pemuda, memenuhinya dengan kehangatan yang menenangkan.
"Kau takut aku akan dibunuh, kau takut aku tewas..." Hinata mengusapkan tangannya. "Tapi... bukankah kau akan melindungiku?"
"Eh, ya! Tentu saja!!" jawab Naruto segera, nada suaranya penuh kemantapan. "Aku berjanji!! Aku pasti akan selalu melindungimu!!"
"Kalau begitu, kenapa kau harus takut?"
"Hah?" Naruto dibuat melongo, entah kenapa dia tak bisa mengerti apa maksud ucapan Hinata, walaupun sebenarnya sudah cukup jelas. "Apa maksudmu, Hinata?"
"Kau, walaupun tidak diakui secara terang – terangan, adalah yang terkuat di seluruh desa. Kau bahkan mengalahkan Pain, yang jujur saja, berhasil meluluhlantakkan Konoha..." Hinata tersenyum, ketika melihat rona merah pertanda malu muncul di pipi Naruto. "Dilindungi oleh orang sekuat ini, dan sebaik ini, bahaya apa lagi yang harus ditakutkan?"
"Tapi Hinata...!! Itu bukan berarti—!"
"Tidak." jawaban Hinata sangat tegas dan tidak berbelit – belit. Dan kali ini, dialah yang melingkarkan lengannya di sekeliling tubuh Naruto, membenamkan wajahnya di dada bidang milik pemuda itu. "Di mataku, perlindunganmu adalah yang terbaik. Jika kau yang melindungiku, maka bahaya seperti apapun akan menjadi tidak berarti. Aku yakin itu."
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari bola biru langit milik Naruto, karena rasa haru yang begitu dalam. Ketika sekali lagi dia mengeratkan pelukannya, Hinata mendekatkan wajahnya ke telinga Naruto, kemudian berbisik pelan.
"Sebab aku percaya padamu, Naruto – kun."
•••
"Naruto – kun..."
"Hm?"
"Ayo pulang..."
"Bisakah kita seperti ini sebentar lagi?"
Wajah Hinata merona merah, pelukan ini sudah berlangsung dalam waktu yang sama sekali tidak diketahui di antara mereka. Yang pasti, malam sudah menggelapkan langit, membawa bintang – bintang dengan kerlap-kerlipnya. Walaupun sesungguhnya udara begitu dingin, bagi kedua orang ini, kehangatan pasangannya adalah semua yang mereka butuhkan untuk mengabaikan itu semua.
"Na-Naruto – kun, nanti kita bisa sakit lho. Kepalaku juga agak pusing nih..."
"Fuh..." Naruto mengangkat kepalanya, menghembuskan napasnya dengan sedikit rasa kecewa. Sebab dia begitu enggan untuk melepaskan Hinata, tapi toh dia turuti juga. "Baiklah, aku ambil bajuku dulu..."
Hinata menatap punggung Naruto dengan pandangan syahdu, kejadian hari ini pasti tak akan pernah terlupakan baginya, dan dia memang tak ingin melupakannya. Tapi entah kenapa, semakin jauh Naruto berjalan, pandangannya terasa makin kabur, dan rasa pusingnya juga kian bertambah.
"Eh...?"
Naruto merasa mendengar suara berdebuk pelan tidak jauh darinya, tapi terasa begitu samar sehingga dia tidak yakin dari mana. Dia memerhatikan sungai dan sekitarnya, dan yakin kalau tidak ada siapa-siapa di tempat itu. Merasa bahwa itu hanya khayalannya, dia berbalik untuk menghadap Hinata.
"Baiklah Hinata, ayo kita pul—"
Naruto tertegun, saat melihat kalau Hinata tidak lagi berdiri, tapi terbaring di antara bebatuan. Napasnya putus-putus, dan tubuhnya gemetar begitu hebat sampai dia terlihat seperti terkena gempa. Otak Naruto berhenti berputar sekejab, tapi segera bereaksi kembali seraya dia berlari secepat mungkin ke arah Hinata yang tergolek lemah.
"HINATA!!"
Tapi sang gadis sudah tak bisa mendengar panggilan lagi, kesadarannya sudah hilang. Naruto mengangkat tubuh yang kini begitu rapuh itu dengan satu tangan, kemudian menyusur dahinya dengan tangan yang lain. Betapa terperanjatnya dia, ketika menemukan kalau temperatur tubuh Hinata sudah sepanas air setengah mendidih.
"Hinata, bertahanlah!!"
Naruto segera mengangkat sang gadis berambut biru dalam buaian putri, kemudian mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berlari menuju Desa Konoha. Hatinya dipenuhi kekhawatiran, seluruh sudut pikirannya hanya diisi oleh kecemasan pada kondisi gadis dalam gendongannya. Dalam diam, berkali – kali Naruto berdoa dalam hati.
"Ya Tuhan, kumohon!! Jangan biarpun apapun terjadi padanya!"
•••
"Sakura – chan!!"
Teriakan Naruto bergaung di bangunan yang putih semua itu, membuat beberapa pasien mendelik padanya. Tapi semua itu bukanlah apa yang dikhawatirkannya sekarang. Tak lama berselang, sosok seseorang berambut pink pendek muncul di persimpangan.
"Apa sih, Naruto...!? Ini rumah sakit, jangan teriak—"
"Maaf, tapi Hinata...!"
"Eh...?"
Dahi Sakura segera berkerut ketika dia melihat gadis dalam gendongan Naruto, dan langsung melebar ketika mengerti apa yang terjadi.
"Kemari, ruangan itu sedang kosong!"
Bukan sekali Naruto berdiri, kemudian menatap pintu putih yang tertutup rapat itu. Bukan sekali Naruto berjalan mondar – mandir, mulut menggumamkan berbagai doa. Bukan sekali dia mengarahkan pandangannya ke pintu, yang tidak terisi oleh hal lain kecuali kecemasan.
"Sial! Sial!! Padahal lama sekali aku bersamanya, kenapa aku tidak sadar!?"
Naruto menghentakkan kepalanya ke dinding, dan terus merutuki dirinya.
"Naruto Uzumaki!! Jika sampai terjadi apa-apa pada Hinata, itu semua salahmu, dasar ninja bodoh tak berguna!"
Suara ceklik di pintu adalah isyarat bagi Naruto, untuk langsung berbalik menghadapi gadis berambut pink yang baru keluar. Gadis itu menghembuskan napas, tapi dilanjutkan dengan senyum.
"Tidak apa-apa, dia hanya demam. Sudah kuberi obat, sekarang dia hanya perlu istirahat."
"Benarkah!?"
"Oh ya, kurasa lebih baik kau membawanya pulang. Tempat itu jauh lebih baik untuk istirahat daripada di sini." Sakura melanjutkan ucapannya, kemudian mulai melangkah pergi. "Jaga dia baik-baik, Naruto."
"Ya."
Naruto memutar handel pintu dan melangkah masuk. Sosok seorang gadis cantik yang sedang tertidur nyenyak langsung muncul di penglihatannya, dan mengetahui kalau dia tidak apa-apa saja sudah cukup untuk memberinya kelegaan dan ketentraman. Dia mendekat, tersenyum lembut saat melihat wajah Hinata yang damai. Setelah merunduk, Naruto menyibakkan poni Hinata, dan mengecup dahinya.
Dengan hati-hati, Naruto mengangkat sang gadis ke dalam gendongannya. Langkahnya begitu pelan, seakan tidak mau membangunkan orang yang kini tidur nyenyak dalam pelukannya. Dalam hati, Naruto diam-diam berharap, semoga jarak dari rumah sakit dan rumah Hinata sangat jauh.
Sebab dia ingin terus menatap Hinata.
Tapi tak mungkin keinginan itu terjadi, sebab jarak tak akan berubah hanya karena seorang Naruto menginginkannya. Setelah belasan menit Naruto sudah menemukan dirinya berdiri di sebuah gerbang besar rumah keluarga utama Klan Hyuuga. Dia mengetuk pintu dengan pelan, dan menunggu seseorang keluar.
"Eh? Kak Naruto?" wajah yang mirip dengan Hinata, tapi dengan rambut yang lebih panjang dan tubuh yang lebih kecil. Matanya menatap Naruto heran sebentar, tapi segera melebar ketika melihat siapa yang sedang digendong olehnya. "E-eh!? Onee – sama kenapa!?"
"Ah, kau Hanabi ya? Hinata cuma demam kok, tapi sudah diberi obat. Katanya dia cuma perlu istirahat."
"Benar? Syukurlah..."
"Bisa kau tunjukkan di mana kamarnya? Biar kuantar dia sampai sana."
"Ah, baik. Lewat sini..."
Naruto mengikuti gadis itu, sedikit merasa kecewa karena kebersamaannya dengan Hinata akan segera berakhir. Tapi sekarang kesehatan Hinata adalah yang terpenting, dan dia juga tidak boleh egois. Walaupun kalau jujur, dia ingin bisa terus memeluknya seperti ini.
"Biar kugelar futonnya."
Naruto menunggu sampai Hanabi selesai menggelar futon, lengkap dengan bantal dan selimutnya, baru dia meletakkan Hinata dengan keseksamaan yang cukup mencengangkan bagi orang seperti dirinya. Setelah memastikan kalau dia sudah nyaman dan selimut sudah menutupi seluruh tubuhnya, barulah Naruto menghadap sang adik lagi.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi ya..."
Tapi sebelum Naruto sempat berdiri, sebuah tarikan halus di tangannya membuat si pemuda pirang mengurungkan niat. Dia terperanjat ketika melihat kalau ada sebuah tangan yang memegangi lengan bajunya, dan tangan itu tak lain dan tak bukan adalah milik Hinata.
"Naru... to... kun..."
"Um, mungkin Onee – sama ingin kau menemaninya..." kata Hanabi pelan, merasa agak risih ketika melihat apa yang terjadi di depannya. "Tapi terserah Kak Naruto saja sih, kalau kau ingin pulang—"
"Tidak." jawab Naruto tegas, tangannya meraih jari-jari Hinata yang memegang lengan bajunya, kemudian menggenggamnya erat. "Kalau boleh, aku mau menjaganya sampai dia sadar."
"Ah, baik," sahut Hanabi sambil beranjak pergi. "Kalau butuh sesuatu, panggil aku atau para pelayan ya..."
"Hum, terima kasih."
Setelah Hanabi pergi, Naruto mengalihkan pandangannya pada Hinata untuk kesekian kalinya, memperhatikan wajah cantik yang tidur dalam kedamaian itu. Senyum tipis merayap di bibirnya, yang kemudian dia gunakan untuk mengecup tangan gadis itu. Naruto memejamkan mata dan menyentuhkan wajahnya ke tangan Hinata yang halus dan selalu terasa hangat. Atau paling tidak, bagi Naruto tangan itu akan selalu terasa hangat.
Karena tangan itu milik Hinata.
"Hinata..."
Tanpa Naruto sadari, senyum lembut juga tersungging di bibir Hinata.
•
Oke, oke, bagi para readers yang napasnya sudah mendengus – dengus pingin tahu kelanjutan cerita, silahkan berikan reviews-nya. Ungkapkan keingintahuan, rasa penasaran (pertanyaan dll), dan berbagai kritik kalian pada hamba, dan yakinlah kalau semua itu akan hamba terima sebaik – baiknya (dan kalau bisa, pasti hamba jawab). Mungkin kalau reviews-nya semakin banyak, bakal semakin cepat juga hamba memposting chapter selanjutnya.
Sekali lagi hamba minta maaf karena kurang panjangnya chapter ini, tapi jujur, hamba terpaksa menghapus sampai kira-kira 300 kata karena sudah melantur dari tujuan utama. Maafkan.
Oh ya! Sedikit pesan bagi Ryu-kun: Bagi hamba, kalimat 'I love you' atau 'aku mencintaimu' hanya dimasukkan kalau adegannya sudah mencapai klimaks, atau malah di chapter terakhir! Sebab bagi hamba, orang yang mudah mengatakan cinta juga berarti orang yang mudah membuang cinta. Sori, tapi laki-laki seperti itulah hamba ini.
Ada yang bingung kenapa 'gua' berubah jadi 'hamba'? Yah, sebab kadang preman pun bisa transisi jadi budak. Cape deh.
Stay tuned, and see ya!
