Chapter 2 : Last Bride's Wish

Aku akan menceritakannya saat kami akan menikah. Sebelum pernikahan, kami sudah mencari gaun pernikahan dan mempersiapkan gereja untuk pernikahan kami. Aku sangat bahagia saat itu. Pernikahan sebentar lagi. Aku dan kekasihku. Semuanya seperti mimpi.

Diapun bahagia. Dia memang agak gugup, akupun begitu. Tapi senyumannya sangat hangat. Membuatku melupakan keresahan yang selama ini kurasakan. Dan hari pernikahan tiba…

Aku sudah menunggu dengan tidak sabar di altar. Tapi selama sepuluh menit kutunggu, dia tak kunjung datang. Saat itu, ayahku mendatangiku. Wajahnya sedih dan sambil berbisik dia mengatakan padaku kalau calon istriku mengalami kecelakaan di tengah jalan.

Aku tak percaya, tentu saja. Dengan segera aku menyusulnya. Aku keluar dari gereja dan menyeberang dengan tergesa. Dan truk yang lewat tak sengaja menabrakku. Yang kuingat hanya percikan cahaya dan semuanya jadi gelap.

Saat aku bangun, aku masih berada di penyebrangan dekat gereja tadi. Aku kembali ke gereja tapi di sana hanya ada para jemaat. Aku bertanya pada orang-orang, mereka tidak menyadariku. Dan saat aku melihat kalender, aku tau kalau aku pingsan selama dua hari. Dan yang lebih mengagetkan adalah tak ada bayanganku di cermin atau kaca manapun.

Aku syok. Apakah aku mati? Dan aku memang mati. Namaku tertulis di batu nisan di pemakaman keluargaku. Begitu pula calon istriku.

Aku mencarinya di mana-mana tapi masih belum bertemu. Aku memang tidak tau dia masih ada atau tidak, tapi aku yakin dia masih ada di kota ini. Maka aku masih mencarinya. Dan harapan terakhirku adalah kembali menikah dengannya…

NNN

"Sungguh! Novel ini begitu mengharukan!" ujar Orihime. Dia memeluk Tatsuki sambil menangis. Tatsuki hanya mengelus-elus kepala Orihime.

"Salahku memperlihatkan novelku padamu. Kau memang mudah tersentuh," keluh Tatsuki. Tak lama bel tanda pulang sudah berbunyi. Ichigo mengambil tasnya sambil mencuri pandang pada novel yang dipegang Orihime.

"Novel tentang apa itu?" tanyanya penasaran.

"Tentang seorang pria yang mencari calon istrinya yang sudah lama menghilang. Meski dia sudah lama mati," jawab Tatsuki.

"Kisah seperti itu sudah pernah kudengar," kata Ichigo. Dia menoleh ke arah Rukia yang juga menatap dirinya. "Benar, kan?"

Rukia hanya mendesah. Dia menepuk pundak Orihime sambil mengucapkan 'sampai besok'. Ichigo sudah berada di luar kelas. Mereka lalu berjalan bersama menuju gudang sekolah.

"Oh, untunglah kalian datang! Kau tau, kalau menunggu di sini sendirian sangatlah membosankan," ucap pria konpaku itu lega.

"Yah, apa boleh buat. Aku tak bisa membawamu ke dalam sekolah juga agar Inoue dan lainnya tidak melihatmu dan menanyaiku macam-macam. Nah, sekarang siapa namamu? Dari kemarin kami tidak tau namamu dan hanya tau kisahmu," ujar Ichigo. Konpaku pria yang memakai tuxedo hitam itu menunduk lalu menatap Ichigo.

"Namaku Sato Hitoshi. Salam kenal―mm, tuan dan nona shinigami."

"Ah, aku Kurosaki Ichigo dan dia," Ichigo menunjuk Rukia yang ada di sebelahnya, "Kuchiki Rukia. Salam kenal juga."

"Ngomong-ngomong Sato-san," ujar Rukia. Hitoshi menoleh ke arah Rukia, "siapa calon istrimu itu? Kami butuh banyak informasi untuk mengetahui keberadaan calon istrimu. Kalau bisa, katakan pula ciri-ciri calon istrimu."

Hitoshi terdiam namun menjawab, "Mikami Ai. Dia wanita yang lebih pendek dariku. Rambutnya hitam panjang. Belum pernah aku melihat rambut seindah itu. Senyum semanis itu. Dan mata yang menakjubkan seperti itu."

"Ah, mata! Apa warna mata Mikami-san?"

"Violet. Sama seperti Kuchiki-san." Ichigo menatap mata Rukia. Mata Rukia yang berwarna violet terlihat bersinar karena pantulan sinar matahari. Sesaat Ichigo kehilangan kendali dirinya. Pipinya memerah saat menatap mata Rukia tadi.

"Kenapa?" tanya Rukia. Dia sadar kalau Ichigo melihat dirinya dari tadi.

"Ti, tidak apa-apa!" Ichigo memalingkan mukanya dari Rukia. Takut kalau Rukia menyadari pipi Ichigo yang memerah. Rukia hanya menggeleng pelan lalu menoleh ke arah Hitoshi.

"Kalau begitu, kita cari Mikami-san sampai jam tujuh. Jika masih belum ketemu, kita akan mencarinya besok," ucap Rukia. Dia berjalan meninggalkan Ichigo dan Hitoshi di belakang. Hitoshi menatap tanah yang dipijakinya dengan tatapan kosong. Ichigo menyadari hal itu.

"Tenang saja. Kami akan mempertemukanmu dengan calon istrimu. Percayalah pada kami!" ujar Ichigo sambil tersenyum. Senyum di wajah pria tampan itu mengembang lalu menunduk.

"Terima kasih, Kurosaki-san!"

NNN

"Tapi dibilang akan kami temukan juga, mencari konpaku itu sulit," keluh Ichigo sambil menggaruk kepalanya. Rukia dan Ichigo sudah pergi dari jam 6 untuk mencari Ai (A/N:udah hari minggu, ceritanya). Tapi mencari konpaku―yang pertama kali dilakukan Ichigo dan Rukia―sangatlah susah. Hitoshi sudah akan meminta maaf karena sudah merepotkan, segera dihentikan oleh Rukia.

"Tidak usah minta maaf. Lagipula kamu tidak meminta kami untuk mencarinya. Hanya saja, susah mencari roh yang sudah mati," jelas Rukia.

"Adakah cara untuk mempermudah mencari konpaku?"

"Ada sih." Mata Ichigo melebar. Dia menoleh ke arah Rukia. "Apa?"

"Bukan 'apa', tau! Tepatnya, itu kata-kataku. Kalau kamu tau caranya, kenapa nggak kasih tau dari tadi? Kalau tau begini, kita nggak akan menghabiskan waktu seperti ini!"

"Maaf, maaf. Aku juga baru ingat kalau ada cara seperti ini. Lagian, kenapa kamu jadi marah-marah begitu?" kata Rukia. "Sato-san, adakah tempat yang suka didatangi oleh Mikami-san?"

Hitoshi tampak berpikir keras. Lalu dia menjawab, "Ada, banyak."

"Cukup sebutkan satu tempat saja yang agak dekat dari sini."

"Oh, ya. Di dekat sini ada toko roti, kan? Pemilik toko itu adalah teman Ai," jelas Hitoshi.

"Mungkin kita bisa tau tempat mana saja yang sering didatangi Mikami-san dari pemilik toko roti itu." Rukia sudah mulai berjalan. Tiba-tiba pundaknya ditahan oleh Ichigo. Ichigo mendekatkan wajahnya ke telinga Rukia.

"Kenapa kamu nanya soal tempat yang sering didatangi Mikami-san? Apa itu cara untuk menemukan konpaku?" bisik Ichigo sambil tetap memegang pundak Rukia.

"Biasanya, roh yang sudah mati seperti Sato-san pasti masih belum mengetahui keadaannya saat bangun dari tempat di mana dia mati. Ada saat di mana dia akan mengetahui keadaannya. Saat itulah dia berusaha mencari-cari pertolongan dengan mengunjungi tempat-tempat yang sering dia kunjungi sewaktu masih hidup.

"Apalagi Sato-san sedang mencari Mikami-san yang juga sudah mati. Hanya saja, mungkin Mikami-san pergi ke tempat yang lebih banyak dibanding perkiraan Sato-san. Makanya, kita pasti bisa mencarinya dengan cara mendatangi tempat yang didatangi Mikami-san sewaktu masih hidup," jelas Rukia panjang lebar sambil memegang buku sketsa-nya yang penuh dengan gambar-gambarnya dan menunjukkannya pada Ichigo.

"Cih, tanpa gambar juga sudah lebih ba―IK!" Rukia melempar buku sketsa-nya tepat di dagu Ichigo sebelum Ichigo meneruskan kalimatnya. Ichigo mengusap dagunya yang memerah lalu mulai berjalan mengikuti Hitoshi yang memimpin jalan.

Saat melewati perempatan, Hitoshi berhenti. Di seberang ada toko roti dan kue yang cukup besar dengan tulisan toko 'Fujushi Cake and Bakery'. Ichigo dan Rukia menyeberang dan sesampainya di toko roti itu, mereka berhenti.

"Ini tempatnya. Pemiliknya bernama Fujushi Akira. Dia teman baik Ai," jelas Hitoshi sambil tersenyum. Tapi wajahnya langsung termenung.

"Ada apa, Sato-san?" tanya Ichigo.

"Ah, bagaimana mengatakannya, ya? Aku merasa bersalah pada Akira-kun. Akira-kun ternyata menyukai Ai. Aku baru mengetahui itu dua hari setelah melamar Ai. Aku… merasa jadi orang payah selama aku hidup," aku Hitoshi sambil memaksakan seulas senyum.

"Itu bukan salahmu. Lagipula kau juga harus semangat untuk mencari Mikami-san," hibur Ichigo sambil tersenyum. Hitoshi mengangguk senang. Tapi dia langsung menoleh ke arah Rukia. Rukia sedang melihat-lihat kue-kue yang dipajang di etalase toko. Matanya berbinar-binar melihat banyak kue yang baru dilihatnya. Ichigo mendekati Rukia sambil mendesah pelan. "Nah, nona shinigami yang suka shiratama ini mau apa sekarang?"

Rukia menoleh sambil tetap tersenyum pada Ichigo. "Lihat, lihat! Kue-kue itu kelihatannya enak!" ujarnya sambil menunjuk kue-kue yang dipajang di etalase. Ichigo memerhatikan kue-kue itu lalu menatap Rukia.

"Makanya aku tanya, mau apa sekarang?"

"Aku ingin kue yang itu!" Rukia menunjuk salah satu kue di etalase. Kue itu berbentuk kotak dan kecil, dibungkus oleh wadah alumunium foil. Warna kue itu kuning pucat dengan selai blueberry dan hiasan anggur di atasnya. Ichigo tampak berpikir keras. Dia mengetahui kue itu tapi dia lupa namanya.

"Kue itu… Apa namanya ya? Ka… Klav… Kra…"

"Klapertaart, kue dari Belanda," jawab Hitoshi sambil tersenyum. "Kalau dilihat-lihat, kue-kue yang dipajang di etalase ini semuanya kue dari Belanda. Mungkin Akira-kun memasang tema Belanda untuk hari ini."

Ichigo menatap Rukia yang mulutnya membentuk huruf O. "Apakah rasanya enak?"

"Ya, enak. Kue yang kusuka tapi Ai tidak suka."

Minat Rukia akan kue tadi langsung melonjak. "Ichigo! Ayo beli klapertaart!"

"Apa? Kenapa langsung hapal nama kuenya? Tapi aku nggak bawa uang." Sesaat Ichigo mengatakan hal itu, Rukia sudah berlari lebih dulu ke toko kue itu. Ichigo menyusulnya bersama Hitoshi. Rukia tetap masuk ke toko kue itu meski Ichigo sudah berteriak 'tunggu, bodoh!'. Hal yang dilihat Ichigo saat masuk ke toko roti itu adalah kue-kue enak yang dipajang di dinding samping. Mata Rukia makin bersinar dan matanya mulai menjelajah ke seluruh rak. Ichigo juga jadi melihat-lihat kue yang dipajang di toko.

"Oh, tiramitsu! Kue kesukaan Ai. Strawberry cake, black forest, tapi Ai hanya suka tiramitsu dan black forest…" Hitoshi terus berceloteh soal kue-kue tanpa memedulikan Ichigo maupun Rukia mendengarnya. Tapi hal ini diam-diam membuat Rukia dan Ichigo lega karena wajah Hitoshi tidak murung lagi.

"Lihat kan… Kue selalu membuat perasaan jadi lebih baik," bisik Rukia pada Ichigo dengan nada mengejek.

"Ya, kue yang enak selalu membuat perasaan jadi lebih baik." Mereka bertiga menoleh ke arah suara. Seorang pria berusia dua puluhan yang memakai kemeja biru muda dan celana panjang hitam tersenyum ke arah Rukia dan Ichigo. Pria itu terlihat rapi, senyumannya memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi. "Selamat datang di toko kami," ucap pria itu sambil memerhatikan gadis berkaus pink dengan rok peach dan laki-laki yang memakai kaus strip hitam-merah, jaket hijau tua dan bercelana hitam.

Hitoshi menatap pria di depan Ichigo dan Rukia. "Akira-kun…" gumamnya namun baik Rukia dan Ichigo tidak mendengarnya.

"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Akira ramah. Rukia menyikut pinggang Ichigo. Niatnya, seperti mencolek Ichigo tapi malah kebablasan tenaga dan membuat Ichigo mengaduh kesakitan.

"Ichigo, coba tanyakan klapertaart!" mohon Rukia.

"Nggak mau. Sudah kubilang aku tidak mau membelikanmu apa-apa hari ini."

"Apakah di sini ada klapertaart?" tanya Rukia dengan muka polos pada Akira. Ichigo sudah ingin menarik lengannya sebelum Akira menjawab pertanyaan Rukia.

"Wah, apakah anda suka klapertaart? Kebetulan tema kita hari ini adalah Dutch. Jadi, kue-kue dari Belanda kami beri diskon. Apalagi ada paket diskon khusus untuk yang datang bersama pasangannya. Anda bisa membeli paket itu―"

"―Dia bukan pacarku!" sela Ichigo sambil menunjuk Rukia. Tiba-tiba Rukia memeluk tangan Ichigo yang menjulur tadi. Rukia berdiri di samping Ichigo sambil memeluk lengan Ichigo.

"Ya, kami baru jadian. Jadi dia agak malu-malu," potong Rukia sambil tertawa kecil. Akira yang tadi sempat kaget, tersenyum kembali.

"Ah, iya. Pasangan baru, ya? Kalian pasangan baru yang cocok, ya?" kata Akira. Rukia tertawa kecil sambil mempererat pelukannya. Ichigo tidak bisa berpikir jernih karena tangannya saat ini sedang DIPELUK Rukia. Sebenarnya biasa saja tapi Ichigo kadang-kadang merasakan detak jantung Rukia dari lengannya. Apalagi Ichigo seperti merasakan lengannya mengenai 'sesuatu'. Pendek kata, Rukia memeluk lengan Ichigo dan lengannya berada di dada Rukia.

"Mari, saya perlihatkan kue-kue Belanda lainnya," ajak Akira sopan. Masih tetap memeluk lengan Ichigo, Rukia berjalan mengikuti Akira dan Ichigo semakin merasakan dada Rukia. Sebelum Ichigo kehilangan pikirannya, dia menarik lengannya dari pelukan Rukia. Rukia kaget karena gerakan tiba-tiba Ichigo tadi. Ichigo berusaha memasang tampang biasa saja tapi karena gugup dan pipinya memerah, tampangnya malah terlihat canggung.

"Kenapa? Aku ingin kuenya! Karena itu kita harus terlihat seperti pacaran agar dapat diskon," rengek Rukia. Dia mencoba memeluk lengan Ichigo lagi tapi Ichigo berhasil mencegahnya.

"Kita bisa terlihat seperti sedang pacaran tanpa harus memeluk lenganku! Sudahlah! Kamu jadi lupa tujuan utama kita ke sini," kata Ichigo. Rukia mendesah pelan sambil melihat Ichigo yang berjalan ke arah Akira.

"Maaf. Nama paman Fujushi Akira, kan?" tanya Ichigo sambil menatap pria di depannya. Pria itu menoleh ke arah Ichigo. Senyumnya masih ada di wajahnya.

"Ya. Tapi kalau bisa, jangan panggil paman. Aku tidak setua itu."

"Begini, Fujushi-san. Aku Kurosaki Ichigo dan dia Kuchiki Rukia. Kami teman Hitoshi-san. Anda… kenal Hitoshi-san, kan?" Mata Akira melebar. Ichigo menunggu reaksi Akira selanjutnya. Tapi karena tak ada reaksi apapun, Rukia meneruskan kata-kata Ichigo.

"Kami butuh bantuan anda. Apakah anda tau tempat yang sering didatangi Mikami-san?" Akira masih diam. Rukia pun melanjutkan pertanyaannya. "Mungkin ini terdengar konyol bagi anda, tapi kami harus menemukan Mikami-san. Ini adalah permintaan terakhir dari Hitoshi-san. Maka dari itu, kami…"

"Ya, memang sangat konyol," sela Akira. Ichigo mulai merasa was-was karena air muka Akira berubah. Dia menatap Ichigo dan Rukia bergantian lalu menggeleng. "Tidak, tidak bisa. Aku tidak bisa membantu kalian."

"Apa? Tapi ini sangat penting. Kami moh―"

"Silakan kalian berdua keluar dari sini!" bentak Akira. Ichigo mundur satu langkah setelah tindakan Akira barusan. Dia juga ingin menarik Rukia mundur tapi Rukia malah maju selangkah.

"Tapi, kami butuh bantuan anda. Hitoshi-san―"

"Aku tak mau mendengar apapun tentang Hitoshi!" Rukia kaget mendengar selaan Akira yang lebih tinggi suaranya dari sebelumnya. Akira menatap kakinya, tangannya mengepal. Sepertinya Akira mencoba menahan marah. "Apa maksudnya dia mencari Ai? Mereka… mereka sudah mati!" kata Akira.

"Jiwa Hitoshi-san tidak tenang saat ini. Karena itu kami ingin menemukan Mikami-san. Saat ini Hitoshi-san kebingungan untuk mencari Mikami-san. Karena itu dia memohon bantuanmu," jelas Rukia. Akira tersenyum sinis lalu mendesah.

"Hitoshi… Dia kekasih Ai, kan? Dia yang akan menjadi suaminya, kan? Lalu kenapa sekarang dia tidak berusaha sendiri mencarinya? Kekasih apa? Calon suami apa? Dia tidak tau apa-apa tentang Ai, tapi beraninya melamar Ai.

"Aku pun tidak mengerti. Kenapa Ai menyukainya? Kenapa Ai menerima lamarannya? Kenapa Ai tidak mencintaiku―yang jelas-jelas lebih mengenalnya dibanding Hitoshi?!" kata Akira dengan suara keras. Rukia dan Ichigo hanya diam. Hitoshi menatap Akira dengan tatapan bersalah. Baik mereka bertiga pun tidak menemukan jawaban atas pertanyaan Akira. Akira lalu memalingkan wajahnya.

"Aku dan Ai suka kue. Aku sering membuatkannya kue agar dia kembali tersenyum jika sedang bersedih. Dia menyukai kue-kue yang selalu kubuatkan untuknya. Melihatnya tersenyum setelah memakan kueku adalah satu hal yang selalu kuingat dalam benakku.

"Tapi, kami yang saat itu duduk di bangku SMA, didatangi pengganggu. Ya, dialah Hitoshi," aku Akira dengan mimik jijik. Hitoshi memegang dadanya yang serasa sakit. Dia merasa bersalah. "Hitoshi mendekati Ai yang memang duduk di sebelahnya. Ai yang ramah tentu selalu melayaninya dan akhirnya mereka jadi dekat. Tidak masalah jika mereka berteman, hanya saja… Sejak saat itu, Ai selalu bercerita tentang Hitoshi. Hitoshi yang begini, Hitoshi yang begitu. Dan itu membuatku iri karena sekarang ada hal lain yang bisa membuatnya tersenyum selain kueku.

"Yaitu HITOSHI! Hitoshi sudah merebut Ai dariku! Sudah merebut senyumnya dariku! Sudah mengalihkan matanya dariku! Kau pikir aku senang dengan perubahan Ai yang lebih ceria karena Hitoshi, bukan karena aku?!" Kata-kata Akira tadi seperti menghujam kepala Hitoshi. Ichigo melirik ke arah Hitoshi dan merasakan rasa bersalahnya. Hitoshi tidak tau apa-apa, pikir Ichigo. Apakah ini pantas untuk didengarnya?

"Hitoshi jugalah yang membuat Ai mati! Jika Ai tidak menerima cincin itu dan tidak pergi ke gereja itu, dia pasti masih hidup sampai sekarang! Sekarang aku tak bisa mendengar suaranya, tak bisa melihat senyumnya, dan tak bisa memberikannya kue!" ujar Akira.

"Tapi, kami mohon―"

"Kalian semua keluar dari tokoku! Aku tak ingin mendengar apapun tentang Hitoshi!" usir Akira. Dia sudah maju untuk mendorong Rukia dan Ichigo keluar. Tapi sebelum dia bisa mendorong Ichigo, Ichigo sudah mengatakan sesuatu.

"Mikami-san tidak suka klapertaart," kata Ichigo pelan namun bisa didengar Hitoshi, Rukia dan Akira. Mereka sempat bingung dengan apa yang dikatakan Ichigo. "Mikami-san juga tidak suka strawberry cake dan cake labu."

"Apa yang kaukatakan?" tanya Akira dengan mimik bingung tapi dia sepertinya mengerti. "Ai tidak suka strawberry cake? Tapi dia memakan kue itu waktu aku memberikannya. Dan dia bilang enak!"

"Kau salah, Fujushi-san. Kue yang disukai Mikami-san hanya tiramitsu dan black forest. Dia tidak terlalu menyukai kue lainnya. Apa kau tau itu, Fujushi-san?"

"Tapi, Ai memakan semua kueku―"

"Dan Mikami-san bilang itu enak. Ya, aku tau. Aku tau hal itu dari Hitoshi." Mata Hitoshi membulat. Darimana dia tau itu?

"Hitoshi-san sempat mengatakan padaku kalau Mikami-san tidak menyukai semua kue kecuali tiramitsu dan black forest. Tapi itu pengecualian untuk sahabatnya sejak kecil, yaitu kamu, Fujushi-san. Kau sangat antusias akan pembuatan kuemu sehingga Mikami-san tidak mengatakan kalau dia tidak menyukai beberapa kue. Dia merasa terlalu merepotkanmu sehingga dia tidak mau membuatmu repot karena ketidaksukaan Mikami-san terhadap kue, hal yang kausukai." Akira terbelalak. Rukia hanya menatap Ichigo kagum. Tidak disangkanya Ichigo mendengar semua celotehan Hitoshi waktu itu dan mengatakan hal itu di hadapan Akira.

"Bukan masalah kau yang pertama melihatnya tapi Mikami-san lebih memilih Hitoshi-san karena Hitoshi-san bisa mengetahui hal-hal yang ditutupi Mikami-san. Dalam hal ini, meskipun kau teman dekatnya, kamu masih kalah dengan Hitoshi-san, Fujushi-san," ujar Ichigo. Akira menatap kakinya. Dia kalah? Akira mendesah pelan. Dia teringat kata-kata Ai sewaktu SMA. Saat itu mereka istirahat bersama di atap sekolah. Seperti biasa, Ai bercerita banyak tentang sekolahnya. Dan topik baru, Hitoshi.

'Kamu tau anak baru di kelasku? Namanya Sato Hitoshi.' Akira saat itu sedang berpikir keras lalu mengangguk dan menoleh ke arah Ai di sebelahnya.

'Ya, ya. Cewek-cewek di kelasku membicarakan tentang anak baru bernama Sato tapi aku belum pernah melihat orangnya.'

'Oh, dia duduk di sebelahku, kau tau? Ternyata dia cowok yang ramah.'

'Hmm.' Akira memakan bekalnya. Memang sudah sebulan setelah kedatangan Sato Hitoshi di sekolahnya. Masalahnya para cewek membicarakan Hitoshi ini sepanjang waktu.

'Memang menurutmu, dia ganteng?' tanya Akira sambil menoleh ke arah Ai. Dan dia melihat sesuatu yang aneh dari Ai. Pipi Ai memerah.

'Lumayan kata yang bagus,' jawab Ai bijaksana. Akira tidak terlalu memusingkan pipi Ai tadi.

'Lebih ganteng siapa, Sato atau aku?'

'K-kamu ngomong apa, sih?' Ai lalu terdiam. Dia memain-mainkan tangannya yang terkepal. 'M-menurutku, Sato-kun adalah orang yang baik. Sampai sekarang dia bisa membuatku lega. Entahlah, d-dia membuatku senang dan semacamnya.

'Kau tau, kalau aku diganggu senior tadi pagi? Saat itu S-Sato-kun datang dan menolongku. Tidak, tidak hanya itu. T-tapi dia sering menolongku. Sato-kun… baik sekali,' kata Ai sambil tetap memandang tangannya yang ia mainkan. Akira kehilangan kata-katanya. Dia tidak tau harus mengatakan apa dan merasa shock akan apa yang dikatakan Ai.

Ai menatap Akira sambil tesenyum. Senyum yang menandakan kalau dia bingung.

'Apakah menurutmu d-dia bisa membaca perasaanku? Perasaanku padanya. K-karena saat ini, aku b-bingung dengan apa yang kurasakan. Apakah dia m-merasakan hal yang sama s-saat melihatku?

'Karena dia begitu sempurna di hatiku.'

"Ya, Hitoshi memang sempurna untuk Ai." Rukia dan Ichigo menoleh ke arah Akira. Hitoshi menengadah karena kaget dengan apa yang dikatakan Akira. Akira memaksakan seulas senyum lalu berkata lagi. "Aku tau itu sejak awal. Sejak Ai menyatakan perasaannya saat itu. Saat itu dia begitu gugup tapi saat mengatakan kalau Hitoshi sempurna di hatinya, dia mengatakannya dengan jelas dan lancar." Akira memandangi Ichigo dan Rukia yang memang saat itu berdiri tepat satu garis. Lalu mendesah pelan.

"Mungkin aku hanya menyanggah kata-kata Ai tadi, karena tidak terima kalau Hitoshi lebih sempurna dibanding aku. Entah apa yang akan dikatakan Ai kalau dia mendengar aku mengatakan hal ini. Dia pasti tertawa melihatku seperti ini…"

NNN

Ichigo, Rukia dan Hitoshi berlari di jalanan pusat Karakura. Menurut Akira, tempat yang pasti dikunjungi Ai adalah gereja atau butik gaun pengantin yang dikunjungi Hitoshi dan Ai sebelum menikah. Karena Akira tau, Ai mengalami kecelakaan saat berada dalam perjalanan ke butik itu. Kemungkinan besar Ai pergi ke butik itu untuk mengambil gaun pengantinnya.

Jalanan di sana lumayan sepi. Mereka bertiga terkadang menoleh untuk mencari Ai. Dan di dekat situ, salah satu kedai di jalan itu, Ai duduk sambil memeluk kakinya yang ditekuk ke perut. Kepalanya dia benamkan di kakinya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Ichigo dkk.

Ichigo, Rukia dan Hitoshi mendekati Ai. Tapi Ichigo dan Rukia sengaja menjaga jarak agar Hitoshi berbicara sendiri dengan Ai. Hitoshi berjongkok di sebelah Ai sambi menatap Ai iba.

"Ai," panggil Hitoshi lembut. Ai menengadah dengan cepat dan matanya membulat. Tak lama dia tersenyum dan matanya mulai berkaca-kaca. "Aku datang. Aku sudah datang."

"H-Hitoshi-kun…" kata Ai tergagap-gagap. Satu butir air matanya jatuh. "Apakah itu kau? M-maaf, aku t-terlambat ke p-pernikahan kita."

"Tidak apa-apa. Sekarang aku ada di sini." Hitoshi memeluk Ai erat-erat dan air mata Ai mengalir deras. "Maaf, aku terlambat."

"T-tidak apa-apa, Hitoshi-kun. Aku m-memang payah." Ichigo dan Rukia tersenyum melihat Hitoshi akhirnya menemukan Ai. Ichigo memerhatikan Ai. Tidak seperti Hitoshi yang memakai tuxedo, Ai hanya memakai baju casual biasa. Ai hanya memakai rok jingga panjang, kaus pink dan cardigan putih. Benar kata Akira, Ai mengalami kecelakaan saat akan mengambil gaun pengantinnya.

"Jadi, tidak ada yang bisa kami bantu di sini, kan?" tanya Ichigo.

"Ah, katanya kalian mau membantu satu hal lagi," ujar Hitoshi.

"Hah? Apa?"

"Kamu lupa, Ichigo? Hitoshi-san juga ingin menikah dengan Ai," sambung Rukia. Ichigo terbelalak kaget. Kapan Hitoshi bilang begitu?

"Kata Kuchiki-san, kalian ingin membantu yang itu juga." Ichigo menoleh ke arah Rukia dengan geram.

"Rukia… Jadi kamu?"

"Yah, aku mau lihat pernikahan di gereja."


A/N : oke, semuanya!! tinggal nunggu deh, chapter 4 (judulnya belum tau) yang bakal datang. fufufu, jangan penasaran dulu, wokeh?

oca!

OKE! di episode 4, aku bakal ngadain talkshow. dan bintang tamu dari talkshow pertama (yang laknat) ini adalah _eng ing eng_ Kuchiki Rukia!!

tunggu sampe episode 4, ya. jaa.. oca!

music : chara chan cha cha cha