Say I Love You

Disclaimer: Sorachi Hideaki-Sensei

Waring: Ooc,Typo

.

.

.

.

.

.

Chapter 3

"Ano, permisi! Ada kiriman barang!" kata seorang petugas pengantar barang sambil memencet bel.

"Oi, Shinpachi! Ada kiriman datang tolong diambil, sekarang aku sedang sibuk!" terdengar suara Gintoki dari dalam rumah.

"Aku sedang mencuci baju, Kagura-chan bisa kau yang menerima barang nya!"

TAP!

TAP!

TAP!

BRAK!

"Ano, apakah anda Kagura-san? Ini ada kiriman barang dar-"

"Auk~~~"

"Eh! Ke-kenapa tiba-tiba gelap?"

"Uaaaaaa! Gin-san! Sadaharu mengunyah kepala pengantar barang!"

"Huh? Kau benar! Kagura lihat apa yang dilakukan peliharaan mu!"

teriak Gintoki sambil membantu Shinpachi menolong petugas pengantar barang.

"Waaah! Sadaharu, kau benar-benar anjing yang baik aru! Kau berniat untuk mengambil barang kiriman untuk aku kan." kata Kagura yang baru saja muncul ketika dipanggil.

"Berniat mengambilkan barang gundulmu! Ia berniat melahap kepala orang ini!" teriak Shinpachi.

"Ano, apakah ini pintu kemana saja? Apakah ini mesin waktu?" tanya

Gintoki sambil memasukan kepalanya ke dalam bak sampah.

"Kendalikan dirimu Gin-san dan bantu aku!"

"Aaaaahhh! Kalian benar-benar berisik aru, dan Sadaharu jangan mengunyah kepala Oji-san itu! Nanti selangkanganmu akan gatal-gatal!"

Mendengar perintah majikannya Sadaharu pun melepaskan kepala pria tua tersebut.

"Wah, tadi itu apa? Kenapa baunya seperti didalam mulut anjing?"

"Kenapa kau jadi tau kalo itu bau mulut anjing?! Apakah kau pernah dikunyah anjing sebelumnya?!" kata Shinpachi mulai ber-Tsukomi.

"Gawat, sepertinya otaknya terganggu." komentar Gintoki membuat Shinpachi langsung menampilkan raut panik.

"Wah didalam 'sesuatu' tadi sangat panas, bahkan aku sampai berkeringat seperti ini." kata Pengantar barang itu dengan ceria. Ia pun mengelap jidatnya mengunakan punggung tangannya.

"Are? Kenapa keringatku berwarna merah?"

"Ah! Itu mungkin karena kau terlalu banyak minum kemarin!" kata Gintoki dengan gugup.

"Dan kenapa keringat ku jadi tambah banyak yah?"

"Kenapa anda jadi bingung? Kan ini musim panas! Tentu saja tubuh kita menghasilkan banyak keringat, Hahaha!" jawab Shinpachi dengan kaku.

"Kalian itu benar-benar bodoh aru, mana kiriman barang nya?" kata Kagura dengan raut wajah bosan.

"I-Ini."

"Kagura benar, untuk apa aku harus khawatir dengan keadaan orang yang tidak terlalu penting dalam fic ini." kata Gintoki sambil mengupil.

"Oi! Jangan berbicara seperti itu!" teriak Shinpachi.

"Pergilah kau Oji-san pengantar barang! Keberadaan mu tidak dibutuhkan lagi dalam fic ini." kata Gintoki sambil menendang pengantar barang dari tangga.

"Uaaaaaa! Apa yang kau lakukan Gin-san!"

.

.

.

.

.

Kagura pun duduk di ruang tamu sambil membuka barang kiriman untuk nya.

"Dari siapa?" tanya Gintoki yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi kebanggaannya.

"Papi dan Kamui aru, mereka mengirimku paket entah apa isinya, aru."

"Heee, cuma itu? Tidak ada kiriman uang? Apa mereka tidak memberiku uang? Padahal aku sudah membesarkan putri dan adik mereka yang rakus, tukang tidur, dan rakus. Harusnya mereka memberikan uang untuk membantu ku meringankan beban untuk membesarkan putri dan adik mereka yang rakus, tukang tidur dan rak-"

"Hentikan, Gin-san! Jangan mengatakannya dua kali! Itu menyebalkan tau! Dan ini kau menjatuhkan dua buah surat Kagura-chan."

"Berikan kepada ku Shinpachi! Mungkin saja isinya uang!"

"Gin-san, Hentikanlah sikap mu itu! Kagura-chan ini suratnya, bacalah." kata Shinpachi dan mendudukkan dirinya di samping Gintoki yang sedang membuka bungkusan barang punya Kagura.

"Eeeeh, isi nya cuma Chuongseam dan Stoking."

"Cheongsam, biasakanlah mengatakan segala sesuatu dengan benar Gin-san! Ngomong-ngomong apa isi suratnya Kagura-chan?"

"Surat dari Pipi adalah 'Bagaimana kabarmu, Kagura? Papi disini baik-baik saja dan tentang kepala ku yang sudah ditumbuhi rambut atau tidak, jawabannya tentulah tidak. Tapi aku masih menjadi bintang iklan sampo. Aku memberi sebuah Cheongsam baru. Mungkin yang lama sudah terlalu kecil untuk mu dan aku harap kau menyukainya.' itu yang di tulis Papi, aru."

"Wahhh, Umibozu-san memang ayah yang baik."

"Yosh! Berikutnya dari Kamui, 'Yo! Kagura-chan, apa kau masih hidup? Apakah kau masih perawan?' "

"Apa-apa pertanyaannya itu? Apakah itu benar-benar pertanyaan dari seorang kakak kepada adik nya!" teriak Shinpachi. Kagura pun mengacuhkan Shinpachi.

"Aku harap kau masih perawan imouto-chan, aku memberikanmu sebuah stoking hitam yang seksi. Semoga kaki model mu itu terlihat makin indah saat memakainya! Salam cinta dari Kakak kuat mu."

"Menjijikkan! Ia terlihat seperti orang yang tergoda oleh adiknya sendiri!"

"P.s: Untuk Samurai-san, sebaiknya kau berhati-hati! Bisa saja aku akan membunuh mu."

"Oiiiii! Apa-apa orang ini! Ia benar-benar gila! Kakak yang gila!" kali ini Gintoki lah yang berteriak-teriak sambil menghentak-hentak kaki.

"Kalian berisik, aru. Sudah jam dua, kah? Gin-chan jam empat nanti aku mau pergi sebentar. Sekarang aku mau siap-siap dulu, aru!" kata Kagura dengan riang sambil membawa Cheongsam dan stoking baru nya.

"Shinpachi, apakah Cheongsam milik Kagura mempunyai lobang di tengah untuk memamerkan lemak yang menumpuk di dadanya?"

"Hmmm, sepertinya iya."

"Apakah Cheongsam-nya memiliki belahan di kiri dan kanan kakinya?"

"Iya, dan berhenti menanyakan sesuatu yang sudah kau ketahui!"

"Wah! Tiba-tiba saja aku merindukan Kame-kun! Aku akan mengirim surat untuknya!"

"Huh?! Kame-kun dare?!"

"Kejam sekali kau melupakannya, dia itu kakaknya Kagura."

"Keme janai! Kamui da! Dan untuk apa kau mengirimnya surat, huh?!"

"Sudah jelaskan? Untuk memberitahukan tumbuh kembang adiknya dan memberitahu kalo dia mungkin akan memiliki adik ipar, hehehahaha!"

"Kau sudah gila Gin-san! Kau mau membuat pertempuran darah, huh!"

.

.

.

.

.

'Apa yang membuatnya begitu lama?' ujar Sougo sambil menyandarkan punggungnya dibangku taman. Ia sudah menunggu dua puluh menit lebih! Memang tidak terlalu lama, tapi menurut Sougo itu sudah sangat lama.

"Oi, Sadis! Apa kau sudah lama menunggu?"

Untuk sesaat mata Reddish brown milik Sougo terpaku pada sosok di depannya.

"Gadis babi tetaplah babi! Walau pun ia sudah berdandan dengan tebal dan memakai baju baru!" ujar Sougo yang sangat berlawanan dengan isi hatinya. Ia pun mengalihkan pandangan matanya kepada barang bawaan gadis Yato tersebut.

"Apa yang kau bawa?" ujarnya sambil mengambil barang bawaan yang Kagura pegang.

"Berat."

"Makanan, aru. Entah mengapa aku memiliki pirasat kita akan kesuatu tempat yang tidak ada penjual makanannya."

"Oh, jadi kau berfikiran kita akan piknik berdua dan menghabiskan waktu di tempat yang sepi lalu melakukan Foreplay."

Kagura pun langusung melototi Sougo.

"Pikiran mu mesum, Sadis! Kau mau aku bunuh dan ku kubur di tempat sepi!" Sougo pun hanya diam dengan wajah yang datar saat mendengar perkataan penuh cinta dari Kagura.

"Cepatlah, kita akan mengunjungi seseorang dulu."

"Hmm, dare?"

"Kau akan tau nanti."

Tampa terasa pun mereka sudah sampai di tujuan.

"Ini kan, tempat pemakaman?" gumam Kagura yang dihiraukan oleh Sougo yang terus berjalan didepannya.

'Okita Mitsuba? Mungkinkah?!' ujar Kagura dalam hati ketika melihat nisan yang sedang di elus Sougo dengan lembut.

"Aneue, aku datang berkunjung..." ia pun meletakan beberapa Manju yang kemudian dituangkan tabasco, "Hari ini aku tidak datang sendirian..." Kagura pun terenyuh mendengar suara lembut dari Sougo. "Hari ini aku bersama China Musume, bukan! Maksud ku Kagura..." Sougo pun memandang Kagura dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ia anak angkatnya Danna, Aneue ingat kan! Yang berambut keriting alami dan berwarna putih." Sougo pun menepuk punggung Kagura. Menyuruhnya untuk berbicara.

"Ano... Konbanwa, Mitsuba-san namaku Kagura, aru. Aku temannya Sad-, maksud ku Sougo." ujar Kagura dengan canggung. Ia pun ikut berjongkok di sebelah Sougo dan mengatupkan kedua tangannya. Ia pun berdoa untuk Kakaknya Sougo.

"Sadis," panggil Kagura pelan.

"Hmmm?"

"Boleh aku tau seperti apa Aneue mu?"

"Aneue bagaikan orangtua bagi ku. Ia sangat berharga bagiku." ucapnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kagura.

"Dan mungkin ada seseorang lagi yang berharga bagi ku." bisiknya lalu ia menutup matanya dan menempelkan hidung mereka. Melihat reaksi Kagura yang hanya diam dan memejamkan mata erat di anggap Sougo sebagai tanda memperbolehkan menciumnya segera saja ia menempelkan bibirnya ke bibir hangat gadis Yato di depannya.

Tidak seperti ciuman pertama mereka yang terkesan mendominasi, sekarang yang di lakukan Sougo hanyalah kecupan-kecupan lembut dan terasa manis di depan makam Aneue -nya, seperti memberitahukan inilah pilihannya dan sosok samar tak jauh dari mereka hanya bisa tersenyum bahagia sambil mengucapkan "Kau sudah besar, Sou-chan." sambil tertawa geli.

.

.

.

.

.

"Wah! Dari sini pemandangannya bagus, aru! Kau hebat memilih tempat." teriak Kagura saat melihat pemandangan dari atas bukit.

"Sudah ku katakan bukan! Kau saja yang tidak percaya kata-kata ku!"

"Siapa yang akan mempercayai mu! Jika sebelumnya kau mengatakan tempat sepi adalah tempat untuk melalukan Foreplay, aru!" ujar Kagura sambil menunjuk Sougo yang sedang duduk di bawah pohon dan membuka bekal makanan mereka.

"Onigiri buatan mu lumayan juga, China." komentar Sougo.

Kagura pun ikut mendudukan dirinya di samping Sougo dan langsung memakan tiga Onigiri sekaligus.

"Kalo begitu kau harus mencoba telor gulung itu! Kau akan terkejut dengan rasanya, aru!" ujar Kagura bangga.

"Hm, lumayan."

Mendengar perkataan Sougo membuat Kagura merenggut. Ia pun mengambil batang seledri dan memakannya.

"Oi, aku mau batang seledri itu, berbagi lah dengan ku."

"Itu masih banyak, Boge! Ambillah sendiri, Kuso gaki!"

"Aku mau yang dimulut mu, Teme!" ujar Sougo yang langsung menarik leher bagian belakang Kagura dan langsung melahap habis batang seledri di mulut Kagura.

"Hmm!" Kagura terkejut saat Sougo mengoper batang seledri yang sudah di kunyah nya kedalam mulutnya. Ia mencoba menolak dengan mendorong mengunakan lidahnya namun lidah pria sadis itu lebih kuat dari yang diperkirakan. Kagura pun hanya bisa pasrah dengan melilitkan kedua tangannya di leher Sougo.

.

.

.

.

.

"Ano... Permisi," kata seorang dengan baju khas china berwarna hitam.

"Bukan kah kau anak buah Kame-kun? Ada keperluan apa kau kemari?" tanya Gintoki kepada orang yang ternyata Abuto.

"Kamui, nama komandan kami yang benar adalah Kamui."

"Terserahlah, ku tanya sekali lagi! ada perlua apa ku disini?" tanya Gintoki dengan nada yang malas.

"Komandan gila kami menyuruh mengirimkan surat ini paling lambat jam enam sore dan sekarang baru enam kurang limabelas, berati gaji ku tidak akan di potong bulan ini."

"Huh? Aku bahkan baru saja mengirim surat ku jam empat tadi! Tidak mungkin kan langsung sampai ditempat kalian!"

"Surat dari bumi untuk kami harus sampai paling lambat tiga puluh menit, kalo tidak Komandan gila kami mengancam akan menghancurkan tempat mereka." ucap Abuto dengan malas dan melangkah menjauh. "Huft! Karena suratnya sudah sampai aku pergi dulu."

"Are? Kita dapat surat lagi, Gin-san?" tanya Shinpachi saat Gintoki baru masuk rumah. "Dari siapa?" tanyanya lagi dan langsung merebut surat itu dari tangan samurai pengguran itu.

"Oi! Jangan merebut surat orang!"

Gintoki pun merebut kembali surat nya dari tangan kacamata memakai manusia itu.

"Huh?! Ada apa Gin-san?! Kenapa muka mu begitu?!" tanya Shinpachi saat melihat raut wajah Gintoki yang konyol saat membaca surat.

"Sini aku juga mau membacanya!" Shinpachi pun merebut dan membaca surat itu.

"Huh?!" ujarnya terkerjut saat membaca surat yang ternyata tertulis.

'Akan kubunuh kau, pak polisi! Kubunuh kau, polisi bumi! Akan kubunuh kau, Okita Sougo!'

"Oi! Bukankah ini terlalu mengejutkan! Kenapa ia mau membunuh Okita-san! Gin-san surat apa yang kau kirim ke Kamui-san?!"

"Huh?! Setidaknya itu tidak telalu mengejutkan dibanding saat kau mendengar surat Gorila-Sensei yang dibacakan Kugimiya Rie saat JUMP Festa 2016." ujar Gintoki sambil mendudukan dirinya dan mulai membaca majalah Jump -nya.

"Oii! Bukan itu masalahnya! Kalo Kamui-san benar-benar mau membunuh Okita-san, berati fic ini akan berakhir Gin-san."

"Bukan kah itu bagus! Dengan berakhirnya fic ini maka tak akan ada lagi para reader yang menunggu fic jelek ini."

"Jangan berbicara seperti itu! Author-san, tolong jangan akhiri fic ini!"

"Apa yang kau katakan, Shinpachi! Bukan kah di fic ini kita muncul hanya sedikit! Jadi tak apa-apa kalo fic ini berakhir!"

"Jangan bicara seperti itu lagi, Gin-san! Lagi pula bukankah wajar kalo bagian kita sedikit! Ini kan fic Okikagu!"

"Kau berisik, Shinpachi! Kita lihat saja bagaimana fic ini di chapter berikutnya! Dan ku yakin kau akan tetap di bully di chapter berikutnya!"

"Oooooiiiiiiiiiiii!"

.

.

.

.

.

.

TO BE COTINUED

.

.

.

.

.

.

.

Author's Note:

Yohs! akhirnya selesai juga fic abal-abal ini!

Bukankah ini sudah lebih panjang dari chaper 2 kemarin :D.

Aku harap Chapter ini tidak mengecewakan, dan terimakasih yang udah review :D, walau pun tidak bisa membalas review-nya satu-satu dan aku mohon maaf tentang itu.

Dan mungkin mulai sekarang sampai tahun baru nanti fic ini bakal lama update -nya dikarenakan aku akan sibuk dengan keluarga saat natal nanti :D aku juga mohon maaf soal itu. Tapi aku tetap usahakan untuk membuat fic ini sediki demi sedikit.

Jadi mohon bersabar untuk chapter berikutnya!

Aku juga mau mengucapkan, 'Selamat natal dan tahun baru!'

Semoga kamu, keluarga kamu, dan kita semua mendapat berkat Natal dan kebahagiaan, terutama di tahun baru yang akan datang.

.

.

.

.

.

Mind to Review?