Tittle: Flash

(3th Chapter)

Author: RoséBear

Pair : Kai x Kyungsoo (KaiSoo)

Warning! GS. Maaf untuk typo.

Kyungsoo adalah seorang novelis yang kehilangan kemampuan menulis. Dipaksa kembali ke tempat dimana dia menulis untuk pertama kalinya, rumah lama mereka untuk menemukan inspirasi kembali. Kyungsoo benci musim semi dan sesuatu yang menyilaukan. Tapi ada satu kilauan yang tiba-tiba ia sukai. Sosok Jongin yang tinggal di sebelah rumahnya.


Start Story!


Kyungsoo terbangun kembali pada malam ketiga setelah insiden itu. Mengabaikan kecerobohannya dengan menulis. Kyungsoo tidak yakin novelnya kali ini terlihat baik-baik saja. Menyentuh kakinya yang telah dalam keadaan membaik untuk berjalan. Setengah jam tak digunakan, layar laptop menampakkan slide photo Jongin secara bergantian, Kyungsoo tersenyum. Ini pertama kalinya dia merasa jatuh cinta begitu dalam pada seorang pria.

Membaca komentar pembaca di website penerbitnya, Ia mengulum senyum. Masih banyak pembaca yang mengirimkan pesan untuk Kyungsoo. Yeah! Dia harus menyelesaikan novel ini dalam empat bulan. Hanya empat bulan saja. Tapi jika dipikirkan itu lama sekali mengingat Kyungsoo merasa malu untuk bertemu Jongin.

Fajar menyingsing tanpa memberi Kyungsoo kesempatan untuk terlelap. Ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk. Jongin mengirim pesan untuk pertama kali dalam tiga hari ini.

'Kau masih terjaga kan? Bagaimana jika sarapan bersama? Aku punya banyak bahan makanan yang kubeli kemarin sore."

Ponselnya tergeletak begitu saja tanpa niat membalas pesan.

Ting tong

Seseorang menekan bel rumah Kyungsoo. Siapa yang datang sepagi ini? Tidak mungkin Kris ataupun Ayahnya. Mereka terlalu sibuk untuk menempuh perjalanan empat jam kemari.

Kyungsoo setengah berlari dan berteriak. Dia membuka pintu dengan tergesa-gesa untuk menghentikan pelaku pemencetan bel itu.

"Jongin?" Dia dikejutkan dengan kedatangan Jongin. Pria tan berbalut busana kasual itu menampakkan cengiran yang menggoda Kyungsoo.

"Kau tidak membalas pesanku. Jadi kutekan bel rumahmu. Kupikir kau belum bangun." Polos sekali pria ini. Kalau sekedar membangunkan kenapa dia tidak menghubungi. "Kakimu sudah baikkan?" Kyungsoo mengangguk pelan.

"Kalau begitu kau sudah bisa ikut sarapan bersama?"

"Pulanglah duluan. Aku akan ke rumahmu setelah bersiap-siap."

Jongin menggelengkan kepalanya pelan menolak tawaran Kyungsoo. "Terdapat lingkaran hitam dimatamu. Apa kau kurang tidur?"

"Aku baik-baik saja Jongin." Kyungsoo mendorong tubuh Jongin menjauh. Baginya Jongin tidak mengingat kejadian malam itu dan hanya menganggapnya sesuatu yang biasa saja sudah kabar baik untuk Kyungsoo.


Tiga puluh menit Kyungsoo habiskan untuk bersiap-siap. Kyungsoo harus tampak bahagia agar Jongin tak banyak bertanya, lagian dia lelah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Terlalu lelah untuk memikirkan jawaban yang tepat.

Tadinya Kyungsoo pikir dia harus bersuara seceria mungkin. Melewati pintu rahasia mereka yaitu bolongan pada tembok dan masuk lewat pintu samping yang terhubung langsung dengan ruang tengah. Kyungsoo tak perlu mengetuk pintu. Jongin pasti ingat dia akan datang.

Kriett

Hening.

Rumah itu terasa hening, tidak ada musik seperti biasanya. Kyungsoo melangkah masuk dengan pelan.

"Gadis yang tinggal di sebelah. Apa dia kembali sendirian?"

Kyungsoo mendengar suara seorang pria. Itu sosok Suho yang sedang duduk di meja makan.

"Namanya Do Kyungsoo hyung." itu suara berat Jongin. Kyungsoo sangat hapal suara itu. Dia mencari sosok pria tan yang ternyata berdiri seperti sedang memasak sesuatu menggunakan fryng pan.

"Yeah! Do Kyungsoo. Namanya tersebar hampir di semua sudut rumah itu. Apa kalian menjadi dekat?"

Jantung Kyungsoo berpacu. Dia menanti jawaban Jongin. Entahlah! Kyungsoo tak terlalu yakin, namun dia sangat berharap hal baik di katakan Jongin.

"Dia yang membersihkan rumah ini."

Entah kenapa Kyungsoo seperti mendengar Jongin sedikit tertawa.

"Apa dia masih kekanakkan? Hyung pikir dia menyukaimu Jongin."

"Haha." sekarang Kyungsoo benar-benar mendengar Jongin tertawa lepas. "Caranya memandangmu Jongin." Suho melanjutkan ucapan dan seperti sedang menirukan cara Kyungsoo menatap seseorang tanpa tahu Kyungsoo melihat.

"Kau tahu itu dan memanfaatkannya untuk mengurus dirimu. Bajingan." suara tawa Jongin tak berhenti. Kyungsoo tak mendengar Jongin melakukan pembelaan atas ucapan Suho.

"Yeah! Adikku memang tampan. Dia tidak tahu banyak tentangmu heoh? Umurnya sudah dewasa kenapa pikiran gadis itu polos sekali? Kau bilang dia akan kemari untuk bergabung sarapan? Kenapa dia belum... Oh Hai Kyungsoo."

Sepertinya saat berbalik badan Suho menyadari Kyungsoo berdiri di depan pintu masuk dapur. Jongin yang mendengar ucapan Suho ikut menoleh.

Gadis manis itu tersenyum canggung. Tangannya terangkat pelan karena reflek menjawab sapaan Suho. "Oh kau sudah datang? Kemarilah." Kyungsoo melihat Jongin mengangkat frying pan dan menumpahkan tumisan sayuran ke atas mangkuk. Lelaki itu tersenyum namun Kyungsoo pikir dia tak boleh terpancing lagi.

"A-aku..." tiba-tiba bicaranya menjadi gugup. "Kupikir aku harus pergi. Yeah! Aku harus pergi."

Jongin menaikkan alisnya tak percaya. "Ada hal penting yang harus kuurus." jemari Kyungsoo melayang kemana-mana untuk menunjuk pintu keluar. "Editorku. Dia bilang sedang berlibur kemari. Aku harus menemaninya."

Kaki-kaki mungil Kyungsoo bergegas melangkah sejauh mungkin yang bisa ia capai. Kyungsoo bahkan ragu dia harus keluar lewat pintu samping atau seperti tamu terhormat melalui pintu depan.

Tapi dia adalah seorang tamu yang undangannya terlambat. Kyungsoo keluar melalui pintu depan. Berjalan cepat tanpa tujuan.

Editor?

Dia bahkan ragu siapa editor terakhirnya. Kyungsoo sudah tak menulis hampir dua tahun lamanya. Seharusnya dia bilang saja Dokter. Dia memang sering berkonsultasi dengan psikiater belakangan ini karena merasa terlalu frustasi dengan kemampuannya.

"Soo!" suara Jongin terdengar memanggil. Langkah pendek Kyungsoo dengan cepat bisa disusul Jongin.

"Kau mendengar ucapan hyung? Jangan dipikirkan."

"Aku tidak mendengar apapun Jongin. Lagian apapun yang dia katakan itu urusan kalian."

"Kau mendengarnya Soo." ucapan Jongin seperti peluru yang mengenai sasarannya. Kyungsoo berdecih pelan menyadari ucapan bodohnya. "Yeah aku mendengarnya. Tapi..." Kyungsoo menarik nafasnya pelan. "Aku tidak menyukaimu Jongin! Aku harus menemui seseorang. Jadi lepaskan aku."

"Soo?" Jongin belum melepaskan Kyungsoo. "Editormu... Apa dia kekasihmu?"

"Yah. Jadi aku tak bisa membuatnya menunggu terlalu lama."

Sejak kapan Kyungsoo sangat pandai berbohong? Tentu saja sejak dia beralih menulis novel. Dia telah membuat banyak cerita karangan.


Kata banyak orang, Matahari musim semi adalah yang paling hangat. Banyak hal tumbuh di musim semi. Kyungsoo sudah melewati satu hari ini dengan begitu banyak makanan ringan dan minuman bersoda. Kakinya mulai letih berjalan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Di sakunya hanya meninggalkan selembar uang 5000 won saja. Miris sekali karena tadi dia tak berfikir untuk kembali ke rumah setidaknya untuk membawa credit card.

Sudah jam sembilan malam saat Kyungsoo memasuki kedai ramyun di persimpangan. Kedai kecil yang buka saat sore dan akan tutup menjelang tengah malam.

Dua mangkuk ramyun dan beberapa botol soju. Kyungsoo merasa menjadi tidak waras mengetahui betapa bodohnya dia terpesona hanya pada ketampanan Jongin. Dia harus membenci pria itu.

"Hey Jongin." Kyungsoo menghubungi Jongin. Dia bisa mendengar suara terkejut Jongin. Pria itu pasti kaget menerima panggilan Kyungsoo yang mendadak.

"Kau mabuk Soo? Masih bersama editormu ah maksudku kekasihmu?"

"Hah? Aku bahkan tak menulis apapun dua tahun ini. Bagaimana aku bisa memiliki editor apalagi kekasih Kim Jongin!"

Benturan kepala Kyungsoo tersamarkan oleh suara ramai pengunjung. Sepertinya mereka tak terlalu peduli dengan kondisi Kyungsoo yang duduk sendirian, meja yang penuh sisah-sisah makanan.

"Katakan kau dimana! Aku akan menjemputmu."

"Hey Jongin! Jangan terlalu peduli padaku. Aku tidak menyukaimu. Kau dengar itu. Katakan juga itu pada saudaramu."

Kyungsoo mematikan panggilannya. Layar ponselnya menampilkan wajah Jongin yang sedang tersenyum. "Pria bodoh!" maki Kyungsoo pelan.

Untuk pertama kali Kyungsoo merasa sangat bodoh. Apa dia harus menulis novel dengan akhir menyedihkan kali ini? Atau dia harus mencari editor terbaik nantinya? Kyungsoo merasa kepalanya sangat pusing. Dengan pandangan yang perlahan berubah menjadi berkunang-kunang. Dia ambruk di atas meja. Setengah tertidur karena terlalu lelah.

Pemilik kedai sudah bersiap-siap untuk membereskan tempat jualannya. Pelanggan terakhir yang masih mengakar disana adalah Kyungsoo. Sulit sekali membangunkan gadis manis itu sehingga pemilik kedai meraih ponsel Kyungsoo. Nomor terakhir yang dihubungi adalah Jongin. Pria itu tiba dengan segera. Kim Jongin. Dia telah mencari Kyungsoo begitu jauh namun ternyata lokasi gadis manis itu tak jauh dari rumah mereka.


Nafas Jongin tersenggal saat menyibak terpal kedai. Matanya tertuju pada Kyungsoo yang setengah tak sadarkan diri. Mendekat dan dia bisa mencium aroma alkohol. Beberapa menit Jongin hanya duduk disebelah Kyungsoo setelah meminta izin dan membayar pada pemilik kedai. Jemari lentik Jongin menyingkirkan helaian rambut dari wajah Kyungsoo. Dia merapikan poni Kyungsoo dan menekan pipi gembil itu. "Sebenarnya aku sangat marah padamu." suara berat Jongin terdengar sangat pelan. Perlahan Jongin membenarkan posisi Kyungsoo. Dia meraih kunci dari saku jaket dan meyakinkan dirinya bahwa itu adalah kunci rumah Kyungsoo.

"Hua.."gadis itu seakan mau muntah. Membuat Jongin merengkuhnya pelan. Menepuk pundak Kyungsoo bertahap. "Huek!"

Akh! Bahkan sampai muntahan itu mengotori pakaian Jongin, tak sekalipun dia berdesis apalagi mengumpat pada Kyungsoo. Pemilik kedai menghampiri. Mencoba memberikan tisu agar Jongin membersihkan wajah Kyungsoo dan juga pakaiannya sendiri. Setelah berterima kasih sereta meminta maaf dia menggendong Kyungsoo.


Dahulu ada sebuah pohon di tengah-tengah padang rumput. Pohon itu tampak bersinar pada malam hari. Sampai suatu siang seorang pemuda datang ke tengah-tengah padang rumput. Menyadari ternyata pohon itu sudah mati dan penuh dengan sarang rayap. Yang tampak seperti daun adalah kapas-kapas dari ladang sebelah...


"Apa kau tidak tahu aku sempat berharap kau benar-benar menyukaiku. Ah bukankah aku terdengar sangat bodoh Soo?"

Jongin bersusah payah memutar engsel pagar rumah Kyungsoo. Menendang pagar besi itu dengan kakinya yang panjang. Suara dengkuran halus Kyungsoo menggelitik leher Jongin. Gadis itu sangat damai ketika tertidur.

Jongin berjalan pelan memasuki rumah Kyungsoo karena pencahayaan yang minim. Dia membiarkan cahaya rembulan masuk untuk membantunya menemukan sakelar lampu. Jongin tahu dimana letak kamar Kyungsoo. Satu-satunya kamar di lantai dua yang memiliki beranda. Kamar itu sering menyala pada malam hari dan menampakkan siluet seorang gadis. Pintu kedua dari tangga. Sekali lagi Jongin hanya bisa menggunakan kakinya untuk membuka pintu. Jendela geser yang terdiri dari kaca di kamar itu masih terbuka. Membantu Jongin mendapat sedikit penerangan untuk membawa Kyungsoo ke tempat tidur.

Jongin mengangkat pelan kepala Kyungsoo menarik kuncir rambutnya. Membantu melepas jaket kyungsoo. Jemari mungil Kyungsoo menarik erat ujung-ujung selimut ketika Jongin menutup tubuhnya dengan selimut biru tebal. Kini gadis tidur dengan begitu damai. Sangat menggemaskan melihatnya seperti ini.

Beberapa menit Jongin baru sadar tubuhnya benar-benar bau. Niatnya ingin beranjak untuk pulang tapi gumaman Kyungsoo menarik tubuhnya untuk duduk di pinggir ranjang. Hanya dengan penerangan cahaya bulan Jongin masih bisa melihat betapa putihnya kulit gadis ini.

"Tiga bulan saja... Aku... Aku akan menyelesaikan novelnya. Eonnie... Jadilah editorku. Kau selalu yang pertama membaca karyaku. Eonnie..."

Jongin tersenyum mendengar gumaman Kyungsoo yang kini menarik-narik lengan kemeja Jongin. Dia harus melakukan sesuatu pada Kyungsoo agar gadis itu tenang. Hanya dengan elusan ringan pada wajah Kyungsoo, gadis itu kembali tenang.

Jongin memasuki kamar mandi di dalam kamar Kyungsoo. Dia sudah melepas jaketnya yang terkena muntahan. Ternyata hal menjijikkan itu masih menempel di kemeja orange yang dikenakan Jongin. Dia juga menanggalkan kemeja itu hingga meninggalkan kaos abu-abu saja. Jongin mencuci mukanya. Sudah jam dua malam. Dia keluar dari kamar mandi dan menatap penasaran pada kertas-kertas yang menggantung hampir disemua langit-langit kamar Kyungsoo. Jemarinya meraih sakelar lampu.

Tak

Untuk pertama kalinya Jongin pikir dia tidak berada di bumi. Melawan gravitasi dan melayang di angkasa. Nafas panjang meluncur dengan cepat. Semua kertas-kertas itu adalah photo. Jongin tak bisa puas begitu saja. Tapi dia patut berbangga diri karena yang mendominasi setiap photo adalah dirinya. Mulai dari pohon horse chesnut. Pedestrian. Kuncup bunga bahkan ujung ranting yang masih memiliki salju. Gadis itu memang sangat unik.


Namun pohon itu tetap bersinar pada malam hari. Hingga pemuda itu penasaran dan dia mendatangi pohon itu di malam hari. Ternyata ribuan kunang-kunang beristirahat dibalik kapas-kapas itu.


Jongin menutup jendela kamar Kyungsoo dan hanya menyalakan lampu tidur. Beberapa kali dia mengganti kompres di kepala Kyungsoo untuk membantu menghilangkan rasa pening jika gadis itu nanti terbangun.


Harapan itu pasti ada tidak peduli kau sudah berjalan sejauh mana. Kyungsoo mengedipkan matanya. Merasakan ada benda hangat menempel di kepala. Dia memaksa untuk terjaga dan terbangun dari posisi berbaring. Rasa pening itu berangsung menghilang. Matanya mengitari sekeliling ruangan. Menemukan dirinya berada di dalam kamar. Kyungsoo pikir satu hari yang terjadi sebelumnya adalah mimpi buruk karena ketakutannya untuk bertemu Jongin. Sayangnya Aroma alkohol yang tertinggal menyadarkan Kyungsoo.

Ah! Sekarang dia mulai berfikir bagaimana caranya bisa kembali ke rumah dengan selamat? Akan sangat lucu jika seseorang muncul dari balik pintu kamar dan mulai memaki kecerobohannya adalah Kris atau Ayahnya. Engsel pintu berputar membuat Kyungsoo menoleh.

"Kau sudah bangun?"

Itu Jongin! Kim Jongin yang telah membawanya kemari. Mata Kyungsoo berkedip beberapa kali. Menunggu Jongin melangkah untuk mendekat. "Aku tidak tahu kenapa kau bisa sangat mabuk. Dan jangan mencoba mengelak dengan mengatakan kau bertengkar dengan editor karanganmu itu."

Kyungsoo sangat fokus menatap Jongin. Matanya berkedip beberapa kali hanya karena tidak tahan pada terpaan angin. "Kau mabuk dengan sangat buruk. Hey Soo. Tentang panggilanmu semalam..."

Jongin berhenti beberapa langkah sebelum mencapai Kyungsoo. Dia memalingkan wajahnya membuat Kyungsoo mengikuti arah pandangan Jongin.

Brak!

Dalam detik itu Kyungsoo turun dari ranjang. Mendorong tubuh Jongin untuk ke beranda melewati jendela kaca. "Tunggulah disini sebentar."

"Yak! Yak Do Kyungsoo! Beginikah sikapmu pada orang yang mengurusmu?" Kyungsoo tak mendengarkan protes Jongin. Dia menutup jendela kamar serta gorden. Berbalik badan dengan tangan yang masih menahan kedua sisi jendela agar tak bisa di buka Jongin. Dadanya naik turun mengatur nafas, matanya mengelilingi pemandangan di dalam kamar.

'Bodoh.' maki Kyungsoo pada diri sendiri. Dia bergegas mencopot semua tali yang menggantung di kamarnya.

"Apa yang kau lakukan percuma. Aku sudah melihat semuanya semalaman."

Kyungsoo berhenti dari kegiatannya karena mendengar ucapan Jongin. Dia menggeser kembali jendela kamar dan menatap tajam pada Jongin.

"Yeah! Saudaramu benar. Aku menyukaimu. Sekarang kau bisa pergi dari rumah ini. Terserah padamu ingin melompat atau keluar baik-baik." jawaban ketus Kyungsoo membuat Jongin tertawa.

Gadis itu tidak peduli. Dia berbalik lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Melepaskan semua tali gantung sialan itu.

"Saranghae." suara berat itu terdengar sangat dalam. Tepat menyentuh lubang telinga kanan Kyungsoo saat Jongin merengkuh tubuh mungil Kyungsoo.

"Berhentilah bermain-main Jongin."

"Apa kau tidak menyukaiku lagi? I really love you and I want you. Seriously. Do you want me, too?"

Kyungsoo mencoba membalik tubuhnya. Sayang. Jongin segera memeluknya kembali. Menenggelamkan Kyungsoo dalam sebuah pelukan hangat. "Kau bisa mendengarnya bukan? Selalu seperti ini setiap kali berdekatan denganmu. Sejak pertama melihatmu."

Kyungsoo pikir telinganya mengalami banyak gangguan pagi ini. Tapi degup jantung yang tak beraturan itu bukan hanya miliknya. Itu milik Jongin. "Ka-kapan?" tanya Kyungsoo memastikan.

Masih memeluk Kyungsoo. Jongin membuat gadis itu mundur beberapa langkah hingga menyentuh pintu kamar. Jemari tangan Jongin meraih spidol di atas nakas dan mencoret pintu itu. Setelah selesai dia melepaskan pelukannya. Membalik tubuh Kyungsoo untuk menghadap ke pintu kamar. Disana beberapa garis dari cat minyak. Lucunya tidak hanya di tandai dengan nama namun ada coretan yang menyerupai bentuk manusia. Sebuah lingkaran kepala dan garis-garis tangan serta kaki.

Do Kyungsoo.

Kim Jongin.

Dahulu Kyungsoo selalu mengukur tinggi badannya sejak berumur empat tahun. Setiap tahun memiliki warnanya masing-masing.

"Pertama kali aku masuk kemari aku menemukan photo seorang anak perempuan dengan selempang kelulusan taman kanak-kanak di depan pintu kamar. Aku selalu masuk kemari tiap bibi pembersih rumah datang dan diam-diam ikut mengukur tinggi badanku. Serta berharap aku lebih tinggi darimu. Kau harus tahu aku selalu menanti kedatanganmu. Lalu hari itu benar-benar datang. Saat kau bertanya tentang Uncle Jo dan memperkenalkan diri sebagai Do Kyungsoo pada penjaga kasir. Aku melihatmu mengantre tepat di depanku. Aku mengikutimu dan kau benar-benar kembali ke rumah ini tapi kau tak pernah berkunjung ke tetanggamu."

Kyungsoo terdiam mendengarkan cerita Jongin. Tidak terfikir oleh Kyungsoo ada orang bodoh seperti Kim Jongin.

"Kemudian kau datang bagaikan seorang peri. Menabrak tubuhku pada hari itu."

Bajingan sialan. Kyungsoo Mengumpat dalam hati. "Apa kau sedang mengerjaiku?" cicitnya pelan.

"Kau pikir aku berbohong?" Jongin menjatuhkan dagunya pada pundak Kyungsoo. Jemarinya melukis wajah sembarang seorang gadis di pintu kamar Kyungsoo.

"Lalu bagaimana dengan ucapan saudara laki-lakimu?"

"Hm..." Jongin berdehem pelan tanpa mengangkat kepalanya dari pundak Kyungsoo. "Aku punya dua saudara laki-laki. Suho adalah hyung ku yang pertama dan yang kedua adalah Jongdae hyung. Aku dan Jongdae hyung punya selera humor yang sangat baik. Sayangnya Suho hyung yang terburuk dalam hal melucu."

"Kalau dia yang terburuk kenapa kau tertawa?"

"Karena aku ingin memberitahunya bahwa yang dikatakannya itu salah. Aku berencana mengatakan bahwa aku benar-benar mencintamu saat sarapan itu. Sayangnya kau mendengar terlebih dahulu. Kukatakan semuanya pada hyung dan dia ingin aku menyampaikan permintaan maaf padamu. Sungguh."

Kini Jongin memutar tubuh Kyungsoo menghadap ke dalam kamar. Masih tersisa begitu banyak photo yang tergantung di sana. "Terima kasih sudah mengabadikan begitu banyak moment seperti ini. Mulai sekarang mau melakukannya berdua denganku?"

Seakan di hempas angin kencang. Mata Kyungsoo merasa perih, dia mendongak menahan air mata yang semakin sulit terbendung.

"Sejak kapan kau menyukaiku? Maksudku... Kapan kau menyadarinya? Ahh!" Kyungsoo sedikit berteriak. "Setelah bertemu denganku." putusnya final.

"Saat di toko uncle Jo. Lalu setiap malam lampu kamarmu menyala. Aku bisa melihat siluet tubuhmu dari sana. Setiap malam aku meyiapkan secangkir kopi dan cemilan. Terdengar gila bukan?"

"Ya. Kau memang gila Jongin."

"Tapi kau menyukaiku?"

Kyungsoo tidak yakin dia bisa menemukan jawaban yang tepat. Hanya saja perasaannya menjadi begitu tenang.

"Ahh Soo... Tubuhmu masih berbau alkohol. Mau kumandikan?"

"Yak Kim Jongin!"

"Tadi malam kau juga muntah di pakaianku. Aku sudah melepas jaket dan kemeja tapi aromanya masih saja menempel. Kalau begitu kau saja yang memandikanku."

Ahh pria itu. Kyungsoo merasa terjebak dalam perasaannya. Tapi bagaimanapun Kyungsoo menyukai pria ini. Jongin yang punya kelembutan dan kejujuran yang luar biasa. Wajah tampan dan kemampuan itu hanyalah bagian kecil yang Kyungsoo kagumi.

Mulai sekarang. Kyungsoo merasa memiliki kemampuan untuk menulis cerita romantis. Jongin punya kemampuan meningkatkan moment realistis ke dalam sebuah lukisan. Tidak hanya sebatas itu, Jongin akan sering membawa Kyungsoo ke dunia luar untuk menemukan inspirasi bersama. Dua pekerja seni bersama-sama. Melukis dan menceritakan kehidupan di sekitarnya. Bukankah terdengar sangat menarik.


To Be Continue...


"Aku sudah di rumah. Kau terlambat sayang. Tidakkah kau harus meminta maaf padaku?"

.

"A-apa? Apa yang harus kurasakan sampai harus menjadi permintaanmu?"

.

"A-aku? Akan memperbaiki novel terbaruku."

"Kau yakin bisa memperbaiki nya?"

Oke! Itu bagian untuk chapter terakhir. Sampai jumpa minggu depan semuanya.

Ahh hampir lupa. Terima kasih banyak telah mengirimkan review dan juga lambang hati untuk fanfic ini. kupikir hari ini Jum'at tapi nyatanya sudah sabtu. maafkan aku terlambat...

Aku juga ingin minta maaf, terdapat beberapa typo di oneshoot yang kupublish. Yeah, kuberitahu. Itu karena pengeditan yang hanya sekali lewat. Tapi mulai sekarang aku akan meminimalisir typo untuk kalian dengan syarat tolong beri waktu pengeditan untukku.

Terima kasih banyak!

Sampai jumpa lagi.