Jauh sebelum Lightning tiba di Eden, dia sempat mengira kota itu adalah sebuah kota yang tak pernah tidur dan penuh dengan gemerlap kebahagiaan. Namun sekarang, saat dia berada di sini, Lightning tahu dia sudah terlalu banyak bermimpi. Kota ini tidak jauh berbeda dari sebuah kuburan yang diperluas dan ditambahkan dekorasi gedung serta kendaraan ringsek di sana-sini. Seluruh bekas kehidupan telah terhapus total. Mungkin jika masih ada orang yang bertahan hidup, mereka sudah mengungsi ke suatu tempat yang tak Lightning ketahui.

Gadis itu memandangi sebuah toko kelontong gelap yang etalasenya kehilangan kaca. Perutnya berkeretih saat matanya terpancang pada poster makanan ringan dan mi instan di dinding toko. Gambar-gambar yang dipamerkan tampak begitu menggiurkan. Rasa lapar menguasai seluruh kesadaran Lightning, membuatnya sedikit gila. Mungkin di toko itu ada makanan sisa.

Dia memanjat masuk, kedua tangan menenteng shotgun rampasan. Penerangan dari lampu jalanan di luar tidak mejangkau sampai ke sudut-sudut terdalam. Samar-samar, Lightning mampu melihat rak-rak alumunium berjejer di toko. Barang-barang acak berserakan di rak, lantai, dan meja kasir di pojok kanan. Dia menyapukan satu tangan ke setiap rak, berharap salah satu dari barang-barang acak yang ada di sana adalah makanan. Sayangnya, semuanya hanya sabun, sampo dalam botol, dan perlengkapan mandi lainnya. Sepertinya, setelah wabah menyerang, orang-orang lebih mementingkan makanan ketimbang sanitasi.

Kerosakan terdengar dari belakang. Lightning dengan sigap mengacung shotgun ke sumber datangnya suara—dari balik tumpukan spons pencuci piring yang terbungkus plastik. Jarinya di pelatuk berkedut, benaknya berkabut. Kalau ada zombie menyerangnya sekarang, Lightning tidak akan sungkan meledakkan kepalanya.

"Lightning! Jangan tembak! Ini aku!"

Lightning kenal suara itu, meski baru mendengarnya tak lama tadi. Suara itu tinggi dan sedikit pecah, agak serak dan sengau seolah si pembicara punya polip sebesar bola tenis di hidungnya. Ketika si pemilik suara menampakkan diri, Lightning merengut.

"Kau lagi," desisnya. "Kenapa kau di sini?"

Hope menatapnya takut-takut. "Aku..."

"Untung saja aku tidak menembakmu," kecam Lightning, menurunkan shotgun-nya. "Kalau kau mengagetkanku lagi, mungkin aku akan benar-benar menembakmu."

Anak itu menunduk. "Sori."

Lightning mendecak. Anak ini mungkin benar-benar sedang cari mati. Bisa-bisanya dia membuntuti Lightning sampai ke sini. Gadis itu melipir meninggalkan Hope, dan berniat memanjat lubang etalase saat dia mendengar suara Hope lagi.

"Kau lapar?"

Lightning memberinya tatapan 'apa katamu?'.

Hope merogoh dompet biru selebar telapak tangan di sisi kiri sabuknya, dan mengeluarkan dua bungkus healthy bar. Gambar camilan dari cokelat dengan taburan sereal dan kacang, yang tercetak pada plastik pembungkus bar, memenjara perhatian Lightning. Matanya seketika melebar, perutnya keroncongan, liurnya nyaris menetes.

"Untukmu. Cuma ini yang kupunya," kata Hope, menyodorkan camilan bernutrisi itu. "Memang sedikit, tapi setidaknya, lumayan bikin kenyang."

"Makan saja sendiri." Lightning melanjutkan aksinya yang tertunda tadi. Dia melompati kusen etalase, dan mendarat dengan mulus di sisi lain. Bayang-bayang cokelat lembut, manis dan bergizi, menari di pikirannya. Dia segera menggeleng kepala untuk mengenyahkan imajinasi tersebut. Saat ini yang terpenting adalah balas dendam pada SANCTUM, bukan makan camilan milik bocah itu.

"Tunggu!" Hope memanggil.

Lightning abai saja. Dia berlari menjauhi Hope, dan perutnya semakin keroncongan.

Hope mengejarnya. Langkahnya tidak cepat, tapi juga tidak selamban perkiraan awal Lightning. Kepala Lightning berkabut, pikirannya kacau. Kelaparan, ketakutan, marah, balas dendam. Semuanya tercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Lightning!"

"DIAM!" Lightning terus berlari. Berlari, berlari, dan berlari sampai kakinya kebas dan rasa laparnya terlupakan begitu saja.

Namun, anak itu bandel. Saat Lightning berkelok di sebuah persimpangan, dia akan membuntuti. Saat Lightning melompati mayat-mayat di satu ruas jalan, Hope juga ikut-ikutan melompat. Hanya saat menembak saja yang tidak dia kopi, sebab Hope tidak punya senjata. Lightning bahkan harus rela menghambur peluru demi mengenyahkan zombie yang mentarget Hope. Jika Lightning mampu berkelit dan melindungi diri dengan keahlian bela dirinya, Hope tidak. Anak itu lebih sering berdiri terpaku dan menjadi sasaran empuk zombie-zombie.

Pada akhirnya, semua itu berefek pada Lightning—pada kewarasannya.

"Kenapa kau terus mengikutiku, hah?" Lightning mengeluarkan seluruh emosi tertahannya pada anak itu. Dia berbalik, menyorot jengkel mata hijau Hope. Emosi yang menggelegak di kepala nyaris membuatnya gelap mata. Nyaris memerintahnya untuk menembakkan shotgun ke kepala anak itu sampai pecah.

Hope mengisut. Badannya terguncang, tangannya otomatis dibawa ke depan seperti berusaha melindungi diri. "Aku tidak mengikutimu! Aku juga mau ke Eden Hall!"

"Kau memperlambatku saja!" hardik Lightning. Kepalanya berdenyut-denyut tak keruan. Dadanya nyeri akibat jantung yang berdentam kelewat kencang. "Seharusnya aku sudah sampai jauh, tapi gara-gara kau, semuanya kacau!"

"Aku tidak—tidak bermaksud—HAH!" Hope tiba-tiba melolong. Matanya yang sudah lebar semakin melebar, terpusat pada sesuatu di belakang Lightning. "A-AWAS!"

Lightning menoleh ke belakang. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat dia melihat sesosok manusia—bukan! Itu bukan manusia! Tidak ada manusia yang bisa melompat dari puncak gedung tinggi dan mendarat dengan mulus di atas atap mobil biru di jalan. Bahkan atap mobil itu remuk ditempa berat badannya dan mengeluarkan suara berdebum maha keras. Makhluk itu telanjang dada, hanya mengenakan celana hitam selutut yang robek di sana-sini. Bagian tengah dadanya menggelembung dan berdenyut. Kulitnya abu-abu kebiruan, penuh kerutan seperti kulit baru yang melapisi borok setengah kering. Dia tinggi dan berotot—mungkin besarnya tiga kali lipat dari Lightning. Makhluk itu memiliki rambut pirang sedagu yang melambai-lambai ditiup angin malam. Mata putihnya tertuju pada Lightning.

"Apa-apaan itu?!" gadis itu menjerit, dan menodong shotgun-nya. "Mundur!"

"Lightning!" Hope menarik ujung jaket Lightning. "Kita kabur saja!"

Lightning mengerling anak itu. Untuk kali ini, dia benar. Lightning menyimpan senapannya, dan kabur ke arah datangnya tadi.

Makhluk itu meraung memekakan telinga. Lightning bergidik, dan mempercepat larinya. Dia harus tetap hidup jika ingin balas dendamnya berjalan lancar. Mati di tangan makhluk aneh tidak ada dalam rencana balas dendamnya.

"AH!"

Teriakan Hope seperti sebuah alarm tanda bahaya bagi Lightning. Dia berhenti mendadak, dan berbalik pada anak itu. Sekali lagi, jantung Lightning nyaris berhenti bekerja. Beberapa meter dari posisinya saat ini, Hope terjengkang di aspal. Anak itu merayap mundur seiring dengan langkah maju si monster. Si monster mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, lalu tangannya menjelma menjadi sejenis pedang kristal bercabang-cabang yang berkilau membutakan. Dan dia mengayunkan pedang ke arah Hope.

Untuk sejenak, seluruh dunia berhenti bergerak. Lightning melongo. Matanya serasa berkunang-kunang, pandangannya pada Hope terselubung totol-totol hitam. Ketika totol-totol lenyap, mendadak Hope berubah menjadi Serah. Serah-nya. Posisinya sama—sama-sama sedang di ujung kematian.

"Kakak!"

Dia mendengar suara Serah, suara yang lembut tapi ketakutan.

Serah pasti amat ketakutan saat jatuh sakit. Dia pasti terus memanggil Lightning, meminta tolong, atau setidaknya memintanya hadir lebih cepat dan menggenggam tangannya. Serah hanya seorang gadis tak berdosa, yang ternistakan, terabaikan, dan kini telah meregang nyawa.

Serah adalah hidup Lightning.

"SERAH!" Lightning spontan menarik shotgun-nya, dan menembak tangan si monster. Shell shotgun meledak dan berpencar. Radius pencar shell menjangkau wajah serta bahu monster itu. Darah hijau menghambur ke udara. Si monster meraung kesakitan, dan terhuyung mundur.

Hope merayap mundur lagi, lalu berdiri dan berlari ke arah Lightning.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Lightning, memompa shotgun untuk tembakan berikutnya. Dia bisa melihat kilatan rasa takut teramat hebat di mata hijau Hope.

"Y-ya." Hope mengangguk.

Monster itu berhasil mendapat keseimbangannya lagi. Wajah berkerutnya diarahkan pada Lightning.

"Monster apa sebenarnya itu?" Moncong shotgun Lightning tertuju ke kepala si monster.

"Tidak tahu," jawab Hope seraya bergeser ke belakang Lightning.

Apa pun monster itu, Lightning tidak akan membiarkannya menghabisi nyawa mereka di sini. Sebab, jika dia mati, balas dendamnya dan Serah tak akan pernah terealisasikan.

Serah, bantu aku.