I Really Didn't Know Chap. 3
Title : I Really Didn't Know
Author : Putri ChanBaek26
Casts :
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Luhan
- Sehun
- Chen
- Others
Pairing : ChanBaek
Genre : T, Sad.
Warning! : SHOUNEN-AI! YAOI! BOY X BOY, BOYS LOVE, & TYPO(s)
Note : FF ini murni dari otak gaje saya, kalau ada persamaan dengan FF lain mungkin hanya suatu kebetulan belaka. Tapi jangan pernah coba – coba untuk meniru/Plagiat FF saya! Sekian :D
Bacanya sambil dengerin lagu I Really Didn't Know versi Baekhyun & Chen ya? Biar berasa XD
Happy Reading!
Sehun pun melangkahkan kaki jenjangnnya keluar apartemen Chanyeol, sebelum ia menutup pintu ia mendengar teriakan dari Luhan.
"Kalau pelacur itu menggodamu tampar saja pipinya itu! Dia pasti menangis! Haha"
Sehun pun mengumpat kecil saat mendengar perkataan Luhan itu, entah kenapa kini ia merasa sangat membenci Luhan.
'Sialan kau!'
Chap. 3
Seorang namja mungil terlihat menggeliatkan tubuhnya tidak nyaman, sepertinya tidurnya terganggu karena cahaya pagi yang menampakkan diri dari sela - sela tirai yang terlihat bergoyang dihembus angin.
Namja mungil itu kemudian berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun semua terasa sakit, apalagi karena ternyata ia tidur dilantai. Ia pun menguap dengan lebar, tangan kanannya ia taruh kewajah untuk menutup mulutnya.
Namun gerakannya terhenti saat melihat keanehan pada dirinya. Tangannya sangat mungil, selama ini tangannya memang mungil. Tapi tidak semungil ini, apalagi sampai kemeja yang ia pakai tampak sangat kedodoran. Dan jeansnya? Oh my god! Jeans itu bahkan terlepas begitu saja dari tubuhnya.
Apa yang terjadi?
Namja mungil itu kini menjerit sejadi - jadinya. Apalagi saat melihat dirinya dikaca, ia bahkan harus berjinjit untuk melakukan itu.
"TIDAK! KENAPA JADI SEPERTI INI? KENAPA AKU TIDAK MATI SAJA?! TIDAK!"
Sehun melangkahkan kakinya dengan perlahan, jujur saja sebenarnya sangat cemas dengan keadaan Baekhyun. Namun ia berusaha bersikap santai, ia tidak mau ketahuan mengkhawatirkan namja mungil itu. Yah walaupun sebenarnya Luhan dan Chanyeol sudah tau.
Langkahnya terhenti ketika sampai tepat didepan apartemen Baekhyun, namun alisnya tampak bertautan saat melihat anak kecil dengan berpakaian kedodoran berdiri disana.
Ia pun berjalan semakin dekat, dengan hati - hati ia menyentuh pundak namja kecil itu hingga membuat namja yang tidak diketahui siapa itu terkejut.
"Hei, adik kecil. Kenapa kau disini?"
Namja kecil itu tampak sangat terkejut, wajahnya yang sembab kini memucat.
"A-aku."
"Namamu siapa?" Tanya Sehun sembari berjongkok dihadapan namja kecil itu.
Namja kecil itu sepertinya sudah bisa menguasai keterkejutannya, ia bahkan kini menatap Sehun dengan tajam.
"Kau tidak perlu tau!"
Berbalik Sehun yang terkejut, ia tidak menyangka namja kecil dan imut yang berada dihadapannya sangat kasar sekali.
"Adik kecil, tidak baik berbicara kasar seperti itu. Ayo katakan dimana rumahmu?
Hyung akan mengantarkanmu pulang."
Namja kecil itu mendelik tajam kearah Sehun, ia kemudian tertawa mengejek.
"Tidak perlu! Tidak usah sok baik!"
Sehun mengusap wajahnya kasar, sedikit frustasi karena mengajak anak kecil itu berbicara.
"Hyung serius. Ayolah! Siapa namamu? Kau tinggal dimana?" Tanya Sehun dengan wajah datarnya.
"Kalau kau tidak mau menjawab, terpaksa hyung akan membawamu kekantor polisi." Lanjutnya.
Namja kecil itu tampak ketakutan, walaupun ia memperlihatkan wajah marah yang sangat jelas.
"Namaku Baek-Baekkie! Aku tidak punya rumah!" Jawab namja kecil itu ketus.
Sehun tersenyum sambil mengacak surai namja kecil itu. Ia bersyukur namja kecil itu menjawab pertanyaannya.
"Jadi Baekkie, apa kau adik Baekhyun? Wajah kalian sangat mirip."
Namja kecil itu terbatuk kecil, ia tidak menyangka namja berkulit putih itu mengatakan hal demikian. Apa terlalu kelihatan?
"Baekhyun sudah mati!" Pekik Baekkie dengan suara mungilnya.
Sehun menatap bingung, bagaimana mungkin namja kecil ini mengatakan Baekhyun sudah mati? Apa benar Baekkie adik Baekhyun?
"Jadi Baekhyun hyungmu?" Tanya Sehun lagi.
"Tidak! Tapi ia mengatakan padaku bahwa ia sudah mati. Aku melihatnya disini." Baekkie menunjuk sudut pintu yang berada dibelakangnya, tentu saja hal itu membuat Sehun merinding. Jadi benar Baekhyun bunuh diri? Entah kenapa ia merasa hatinya hancur berkeping - keping.
Ia pun beranjak untuk memencet bel, namun tidak ada respon sama sekali. Sehun kembali mengusap wajahnya kasar, ia merasa bersalah karena datang terlambat. Seharusnya tadi malam saja ia datang kesini.
"Sudah terlambat, tubuhnya sudah hanyut dibawa ombak." Ucap Baekkie sambil tertawa mengejek. Sehun langsung memeluk tubuh kecil itu, Baekkie pun merasakan bahunya basah oleh air mata. Kenapa Sehun menangis?
"Ikut hyung ya?"
Sehun menggenggam tangan namja kecil itu erat, mereka sedang memasuki sebuah apartemen yang cukup membuat Baekkie mendadak semakin emosi. Kalau saja tangan mungilnya tidak ditahan oleh Sehun, sudah pasti sekarang ia berteriak memaki pemilik apartemen itu.
"Kau sudah kembali? Cepat sekali?" Tanya sebuah suara yang amat sangat Baekkie kenal, ia pun mendengus kesal mendengar suara lembut yang baginya terdengar seperti suara iblis itu.
"Seperti yang kau lihat" Jawab Sehun cuek, ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Baekkie.
"Itu siapa Sehun~ah?" Kini suara Bass yang bertanya, suara yang ingin sekali Baekkie lenyapkan dari dunia.
"Aku tidak tau. Aku menemukannya didepan apartemen Baekhyun."
Namja bersuara bass itu mengangguk, kemudian ia berjongkok didepan Baekkie.
"Ah, manisnya. Siapa namamu sayang?"
Baekkie terlihat menahan emosinya, membuat wajah mungilnya memerah. Melihat itu tentu saja membuat namja bersuara bass yang ternyata adalah Chanyeol terlihat gemas. Ia mengecup pipi Baekkie dengan lembut.
"Sialan kau! Akan ku bunuh kau kalau sekali lagi menciumku!" Pekik Baekkie keras, tapi itu terdengar imut sekali.
"Omo~ Kau kasar sekali sayang. Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu, hm?"
"Itu karena kau brengsek!"
Luhan tertawa dengan keras mendengar kekasihnya itu dimaki dengan sebegitu kejinya oleh anak seorang anak kecil. Ia tidak menyangka seorang Park Chanyeol terdiam karena perkataan anak kecil itu.
Chanyeol pun melemparkan death glare nya kearah Luhan, membuat kekasihnya itu ikut bungkam.
Sementara Sehun hanya memutar bola matanya malas, ia tidak tertarik sama sekali. Pikirannya masih tertuju pada Baekhyun.
"Berapa usiamu sayang? 6 tahun, atau 7 tahun? Apa kau sudah bersekolah?" Tanya Chanyeol dengan senyum tampannya, berharap namja kecil yang sangat kasar itu akan luluh.
"Akan ku jawab kalau kau mati!"
Sekali lagi Luhan tertawa terbahak - bahak. Ia bahkan sudah berguling - guling lantai.
"Tidak usah tertawa seperti itu, bitch! Kau juga akan menderita." Chanyeol dan Luhan ternganga mendengar perkataan anak kecil itu, oh ayolah perkataannya itu sangat terlalu dewasa untuk anak sekecil dirinya.
"Kau sangat unik, hyung menyukaimu." Kagum Chanyeol sambil menatap Baekkie berbinar. Ia tidak menyangka ada anak se-unik Baekkie.
Sementara Luhan menatap Baekkie dengan pandangan tidak suka, ia benci dengan perkataan yang ditujukan padanya tadi. Itu terdengar sangat kasar.
"Chanyeol, Baekkie tinggal disini saja ya?" Tanya Sehun tanpa gairah. Pandangannya hanya lurus menatap televisi.
"Baekkie? Siapa?" Chanyeol balik bertanya.
"Anak itu."
"Ah!"
Chanyeol menganggukkan kepalanya, kemudian ia berbisik ketelinga Baekkie.
"Baekkie sayang, kau sangat mirip dengan seseorang. Hyung jadi merindukannya. Apa kau mau menggantikannya?"
"Aku mau mengganti kepalamu dengan kepala katak."
Chanyeol terkekeh mendengar ucapan namja kecil itu, ia pun mengecup kilat bibir namja yang sepantasnya harus ia anggap adik.
"Panggil hyung sayang ya?"
"Tunggu kiamat!"
Baekkie tampak duduk disalah satu kursi dimeja makan apartemen Chanyeol, ia sibuk memperhatikan gambar stroberi yang berada didepan bajunya. Oh ayolah, ia bukan
anak kampungan yang tidak pernah melihat gambar stroberi. Ia hanya berlagak layaknya anak kecil yang ingin tahu dengan semuanya. Walaupun ia suka stroberi, tapi ia sedikit kesal dengan baju - baju pilihan Chanyeol yang dibelikan untuknya. Semua bajunya bahkan bergambar tokoh kartun dan buah, yang lebih parahnya dalamannya pun bergambar pororo. Bukankah itu sangat norak dan kampungan?
"Baekkie sayang, apa kau lapar?" Tanya Chanyeol sambil mengusap kepala Baekkie dengan sayang. Baekkie menganggukkan kepalanya sambil mempoutkan bibirnya, kakinya yang gantung sengaja ia goyang - goyangkan.
"Luhan ahjussi tidak memberiku makan tadi pagi." Lirih Baekkie dengan wajah seperti hendak menangis.
Luhan yang sibuk memotong wortel pun terkejut bukan main, pasalnya tadi pagi ia sudah memberi makan yang banyak. Bahkan ia berkali - kali dikerjai anak itu.
"Anak ini! Kau jangan berbohong Baekkie!" Teriak Luhan keras. Baekkie tampak terkejut, ia pun mengusap - usap matanya pura - pura menangis.
Bibirnya ia lengkungkan semakin kebawah.
"Hiks.."
"Yak! Xi Luhan! Jaga bicaramu! Kau tidak pantas berteriak pada Baekkie!" Ucap Chanyeol keras, ia terlihat sangat emosi. Ia pun memeluk namja kecil nan imut itu dengan lembut.
"Sudah sepantasnya! Ia berbohong Chanyeol!"
"Kau yang berbohong! Baekkie anak yang jujur!"
"Dia berbohong!"
"Diam!" Chanyeol mendorong Luhan dengan keras, membuat namja itu tersungkur kebelakang.
"Chanyeol kau tega sekali!" Lirih Luhan pelan, ia menatap Chanyeol memelas.
Chanyeol hanya memutar bola matanya malas, ia tidak suka dengan tatapan memelas namja itu. Ia sama sekali terpengaruh.
"Jangan menangis Baekkie sayang, kita makan diluar saja ya? Hyung belikan ice crem bagaimana?" Bujuk Chanyeol sambil menangkup wajah imut Baekkie. Baekkie pun mengangguk antusias.
"Lagipula masakan Luhan ahjussi tidak enak!"
Luhan pun membulatkan matanya, anak kecil itu suka sekali membalikkan fakta rupanya.
"Ya, makanan diluar jauh lebih enak!" Setelah mengatakan itu, Chanyeol pun
menggendong Baekkie dari depan.
Kemudian ketika Chanyeol berbalik, maka Baekkie pun menjulurkan lidahnya kearah Luhan. Lalu dengan pandangan seduktif ia mengecup pipi Chanyeol.
Tentu saja hal itu membuat Luhan panas, namun sebaliknya untuk Chanyeol. Ia malah merasa senang sekali dicium anak kecil yang biasanya judes itu. Entah kenapa ia merasakan jantungnya berdebar - debar. Sempat terpikir olehnya bahwa ternyata ia adalah seorang pedofil.
"Baekkie sayang, ice cream nya sudah ya? Nanti kau sakit." Ucap Chanyeol dengan lembut, berharap namja imut itu segera menghentikan kegiatannya yang sedari tadi menghisap ice cream berukuran jumbo.
"Aku tidak akan sakit." Ucap Baekkie ketus, sikapnya berubah kembali. Kadang ia bertingkah seperti anak - anak, kadang bersikap layaknya orang dewasa.
Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya, sungguh ia tidak mengerti kenapa ia harus tunduk pada anak kecil itu. Mungkin saja karena ia terlanjur menyukai anak kecil itu, ah Chanyeol benar – benar pedofil.
"Lihat wajahmu kotor begini, hyung jilat saja ya?" Tanya Chanyeol sambil tersenyum mesum. Baekkie hanya memutar bola matanya malas, tidak menyangka ternyata kemesuman namja tampan itu berlaku juga pada anak - anak.
"Kalau kau berani menjilat, akan ku gigit lidahmu itu!" Ketus Baekkie, ia menunjukkan wajah seram nya yang malah terkesan imut.
Chanyeol terkekeh, ia pun mengambil tissue dan langsung mengelap wajah Baekkie yang belepotan ice cream itu.
"Baekkie sayang, hyung sangat menyayangimu." Kata Chanyeol dengan pandangan sendu, entah kenapa ia merasakan hal itu. Padahal ia baru beberapa hari bersama Baekkie. Baekkie mengalihkan pandangannya kearah lain, wajahnya memerah. Walaupun ia membenci namja ini, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa ia masih mencintai namja yang membuatnya hampir mati itu.
"Apa kau malu sayang?" Goda Chanyeol, ia mendekatkan wajahnya kewajah Baekkie. Tentu saja wajah Baekkie semakin memerah.
"Siapa yang malu? Dasar kau ahjussi mesum!" Ucap Baekkie dengan kesal. Ia kembali menghisap ice cream nya.
Cup~
Baekkie membelalakkan matanya kaget saat benda kenyal mendarat dibibir mungilnya. Ia tidak menyangka Chanyeol senekat itu menciumnya didepan umum.
Baekkie pun mendorong wajah Chanyeol dengan kuat, sehingga ciuman mereka terlepas begitu saja.
"Manis." Ucap Chanyeol sembari tersenyum.
"Kyaa! Kau ahjussi mesum!" Teriak Baekkie sambil menangis, tentu saja semua orang yang berada dikafe itu menatap aneh kearah mereka.
"Cup.. Cup.. Baekkie sayang jangan menangis." Chanyeol panik setengah mati, apalagi saat melihat tatapan orang – orang yang seolah mengatakan ia memang ahjussi mesum.
Chanyeol pun bergegas menggendong Baekkie keluar kafe itu. Ia tidak mau semakin malu kalau ia berada disana.
"Sayang, kalau kau tidak berhenti menangis hyung akan menciummu kembali." Ancam Chanyeol ketika mereka sudah berada didalam mobil.
Baekkie semakin menguatkan tangisannya, namun tampak sebuah smirk muncul dibibir mungilnya.
"Baiklah, hyung akan menciummu."
Chu~
Kembali kedua bibir itu menyatu, membuat hati keduanya berdetak tak menentu. Namun..
"Akh! Sakit sekali Baekkie! Akh!" Ringis Chanyeol kesakitan, ia memegangi bibirnya yang tampak sedikit berdarah. Baekkie menggigit bibirnya dengan kuat, tentu saja itu benar - benar menyakitkan.
"Aku mau tidur, jangan ganggu." Ucap Baekkie cuek, ia kemudian tidur dikursi mobil dengan damai. Sebuah senyum kemenangan terpatri dibibirnya.
Diruang tamu tampak Chanyeol sedang duduk memangku Baekkie, sedangkan Sehun duduk disebelah mereka.
Chanyeol terlihat memeluk Baekkie dengan erat, seolah Baekkie adalah miliknya dan tak mau orang lain menyentuhnya.
"Sepertinya kau sayang sekali dengan Baekkie." Kata Sehun dengan datar, namun ia melirik kearah Baekkie yang sedang menatapnya.
"Ne, aku sudah menganggap ia sebagai— Kekasihku."
Sehun memutar bola matanya malas, ia tidak menyangka sahabatnya itu punya kelainan selain gay tentunya.
"Dimana - mana, orang menganggap anak kecil sebagai adiknya, keponakannya, atau bahkan anaknya, bukan sebagai kekasih! Kau gila!"
"Katakan saja aku pedofil, aku tidak peduli. Karena faktanya aku memang seorang pedofil. Mungkin." Chanyeol tertawa kaku. Ia juga tidak mengerti kenapa ia mengalami perasaan itu.
Sehun hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, tidak ada gunanya berbicara dengan orang orang stress seperti Chanyeol.
"Apa kau tidak pernah memikirkan Baekhyun?" Tanya Sehun mengubah topik pembicaraan.
Baekkie yang berada dipangkuan Chanyeol merasakan jantungnya berdetak melebihi batas normal, ia takut ketika mereka membicarakan dirinya.
"Umm. Kadang - kadang, aku merindukan saat aku menyentuhnya. Kapan lagi itu bisa terjadi ya?"
"Itu tidak akan mungkin bisa terjadi. Karena Baekhyun sudah pergi untuk selama – lamanya." Lirih Sehun dengan suara parau, ia seperti menahan tangisnya.
Dapat Baekkie rasakan dada Chanyeol tiba - tiba berdegup lebih kencang, napas namja tampan itu juga terdengar tidak beraturan.
"Da-dari mana kau tau?" Tanya Chanyeol menatap Sehun tidak percaya.
"Aku kesana kemarin, dan memang ia tidak ada disana lagi. Polisi sedang mencarinya."
Baekkie mengeratkan pelukannya ke dada bidang Chanyeol, ia juga ingin
menangis. Bagaimana kalau hyungnya tau tentang hal itu? Pasti hyungnya akan merasa sangat terpukul.
"Sulit sebenarnya, tapi mungkin itu jalan terbaik untuknya."
Sehun menaikkan alisnya saat mendengar perkataan Chanyeol tersebut, ingin rasanya ia meninju wajah tanpa rasa bersalah itu.
"Sialan! Itu semua karena mu! Kau yang membuat Baekhyun menderita! Apa rasa bersalah tidak menghantuimu?!" Teriak Sehun keras. Baekkie menatap kearah Sehun tidak percaya. Jadi namja ini peduli padanya?
"Aku manusia, tentu saja aku merasa bersalah. Tapi, semua sudah terjadi. Satu - satunya hal untuk menebus dosaku adalah dengan menjaga Baekkie. Kurasa Baekkie adalah reinkarnasi dari Baekhyun."
Baekkie membulatkan matanya kaget, tidak menyangka namja ini berpikiran seperti itu. Ia benar - benar tidak menyangka.
"Bicara apa kau? Baekkie ya Baekkie! Baekhyun ya Baekhyun! Jangan kau samakan mereka! Mereka tidak ada sangkut pautnya!" Teriak Sehun semakin kuat.
"Jadi maksudmu aku harus bagaimana? Apa aku juga harus mati bersama Baekhyun begitu?!" Teriakan Chanyeol tak kalah keras, membuat Baekkie harus menutup telinganya.
Sehun hendak membalas perkataan Chanyeol, namun belum sempat ia keluarkan, suara tangisan seseorang membuat mereka terdiam.
"Hiks.. Baekkie takut.. Hiks." Tangis Baekkie dengan bibir bergetar, air mata sudah meleleh dipipi lembutnya.
Greb!
Tiba - tiba Sehun mengangkat Baekkie dengan enteng, ia kemudian membawa Baekkie kearah pintu depan sebelum Chanyeol sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Yak! Berhenti! Sialan! Mau kau bawa kemana dia, hah?" Teriak Chanyeol sambil mencekal tangan Sehun yang hendak membuka pintu.
"Dari awal Baekkie memang milikku! Dan ia akan menjadi milikku! Terima kasih karena sudah menjaganya."
Ctar!
Bagai tersambar petir saat Chanyeol mendengar perkataan Sehun tersebut, ia tidak mau kehilangan Baekkie-nya.
"Sialan kau Oh Sehun! Kau sudah memberikannya padaku! Jangan pernah memintanya kembali!" Chanyeol segera menarik paksa Baekkie dari gendongan Sehun, ia kemudian memeluk namja imut itu dengan erat.
"Lepaskan dia Park Chanyeol! Kau punya Luhan! Sedangkan aku apa? Aku tidak punya siapa - siapa! Aku.. Aku.. Baekhyun-ku sudah pergi! Dan dia menitipkan Baekkie untukku!"
Chanyeol tertawa mengejek, apa - apaan itu? Kenapa ia ikut - ikutan mengatakan hal yang sebelumnya Chanyeol katakan?
"Jangan bercanda! Luhan itu tidak ada artinya bagiku! Dia tak lebih hanya pembantu disini! Jadi kau boleh mengambilnya, dan ingat Baekkie itu MILIKKU!"
"Chanyeol!" Pekik Luhan yang ternyata mendengar semua itu. Sedari tadi ternyata ia sedang berada didapur. Ia pun luluh kelantai, hatinya benar - benar sakit mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan itu.
"Katakan itu bohong Chanyeol!" Teriak Luhan keras, air matanya sudah mengalir dengan deras.
"Tidak! Itu benar! Jadi kau harus tau itu!" Ucap Chanyeol tak kalah keras, sudah seharusnya ia jujur.
"Tidaaaaak! Kau bohong Chanyeol!" Luhan menjambak rambutnya dengan keras, dadanya ia pukul - pukul karena tidak kuat menahan sakit.
"Kau bajingan! Sialaaan!"
Baekkie hanya menyeringai tipis diatas bahu Chanyeol, begitulah yang ia rasakan dahulu. Malah ia bahkan lebih sakit.
'Sekarang giliranmu yang merasakan sakit, sahabatku.' Batin Baekkie sambil tertawa mengejek.
"Kita putus!"
"Tidak Chanyeol! Tidak!"
Suho tampak menangis sambil menciumi kemeja yang terlihat sudah sangat kusut, disampingnya duduk seorang namja tampan sambil mengelus pundaknya agar namja berwajah malaikat itu bisa tabah.
"Aku tidak tau kenapa dia bisa berpikiran pendek seperti itu, aku tidak tau apa yang terjadi selama ini padanya. Aku bukan hyung yang baik." Tangis Suho sambil semakin membenamkan wajahnya ke dalam kemeja itu.
"Sudahlah, kau harus sabar. Mungkin ini sudah takdir Baekhyun." Ucap namja tampan teman Suho itu, ia adalah Kris.
"Tidak Kris, aku belum ikhlas ia pergi begitu cepat. Ini juga salahku! Kenapa aku sampai meletakkan barang sialan ini di sembarang tempat."
Kris hanya diam, tidak tau harus menjawab apa. Mungkin kalau ia berada diposisi Suho ia juga pasti akan sangat histeris. Apalagi Baekhyun adalah adik Suho satu - satunya. Jujur saja sebenarnya ia juga merasakan sesak didadanya, ia menyukai Baekhyun sejak pertama kali ia melihat namja mungil itu. Namun ia tidak berani mengungkapkannya karena waktu itu Baekhyun masih terlalu kecil. Kini Baekhyun sudah dewasa, namun sayang ia malah pergi terlalu cepat.
"Suho~ah." Panggil Kris sambil mengerutkan dahinya, tiba - tiba ia merasakan suatu kejanggalan.
"Baekhyun meninggal karena meminum racun itu kan? Tapi kemana jasadnya? Ia tidak mungkin pergi keluar setelah meminum racun itu, apalagi ada bekas buih disini. Aku merasa sangat janggal."
Suho tampak melebarkan matanya, ia juga berpikiran yang sama.
"Kau benar! Tapi.. Ah! Aku sangat bingung!"
Suho pun mengacak - acak rambutnya frustasi. Ia tidak dapat berpikir dengan jernih.
"Apa kau yakin cairan itu adalah racun?" Tanya Kris sambil menatap Suho intens.
Suho segera mengangkat bahunya, ia sama sekali tidak tahu.
"Tanyakan saja pada penciptanya, Profesor gila itu!"
Suho lalu segera meraih handphone nya, kemudian ia menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
"Yeoboseyo, Profesor Lee."
"..."
"Ya, aku ingin bertanya. Mm.. Cairan yang profesor berikan beberapa bulan lalu padaku, apakah itu racun?"
"..." Suho tampak mendengarkan perkataan disebrang sana dengan serius, namun tiba - tiba matanya yang sipit kini melebar. Bibirnya juga terbuka dengan lebar, seolah - olah perkataan dari seberang sana begitu mengejutkannya.
"Ja-jadi seperti itu?"
"..."
"Adikku meminumnya profesor. Dan sekarang aku tidak tau ia berada dimana."
"..."
"A-apa?! Aku tidak mau tau, profesor harus mencari penawarnya!"
Klik!
Suho langsung mematikan teleponnya, antara senang dan sedih itulah yang ia rasakan sekarang. Senang karena adiknya ternyata tidak mati, tapi sedih karena penawar cairan itu ternyata tidak ada.
"Apa yang Profesor gila itu katakan Suho~ah?" Tanya Kris yang terlihat sangat penasaran. Suho menatap Kris sendu, kemudian ia memeluk sahabatnya itu erat.
"A-apa?!" Ucap Kris setengah berteriak setelah Suho menceritakan percakapannya dengan Profesor tadi.
Kris pun mengusap wajahnya kasar jujur saja ia sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu. Tapi mau tak mau ia harus percaya, bagaimana pun ini menyangkut Baekhyun-nya.
"Kita harus menemukan Baekhyun, dan juga penawar racun itu." Kata Kris sambil mengusap punggung Suho. Namja berwajah malaikat itu pun mengangguk ragu.
"Pagi Baekkie sayang" Sapa Chanyeol ceria. Ia duduk disamping tempat dimana Baekkie masih tertidur. Namja imut itu pun menggeliatkan tubuhnya dengan gerakan lucu, sampai - sampai membuat Chanyeol harus menelan ludah. Oh ayolah Park Chanyeol! Kenapa kepada anak bau kencur itu pun kau harus bernafsu? Benar - benar tidak normal!
"Kau menganggu!" Ucap Baekhyun dengan suara serak, namun dipendengaran Chanyeol itu terdengar sangat imut.
"Maaf, hyung hanya tidak mau Baekkie sayang terlambat sarapan. Kajja mandi dulu, setelah itu kita sarapan."
Chanyeol segera mengangkat tubuh mungil itu dengan enteng. Ia pun membawa Baekkie kekamar mandi.
"Kau tidak kuliah?" Tanya Baekkie sambil mencuci wajahnya. Chanyeol menggeleng pelan, kemudian memberikan sikat gigi mungil kearah Baekkie.
"Hyung malas, hyung masih ingin berlama - lama dengan Baekkie sayang."
Baekhyun memutar bola matanya malas. Ia pun memasukkan sikat gigi beserta pasta rasa stroberi ke dalam mulutnya. Namun gerakannya terhenti ketika Chanyeol menahan gerakannya.
"Biar hyung saja yang menggosok."
Baekkie hanya diam, ia sedikit senang karena sukses membuat namja tampan itu layaknya pembantu.
Setelah selesai menyikat gigi Baekkie, Chanyeol pun menangkup wajah mungil itu.
"Bagaimana? Apa napasnya sudah segar?"
Baekkie mengangguk, kemudian ia membuka mulutnya.
"Haaaahh!"
"Wangi sekali."
Chanyeol menaikkan Baekkie keatas kursi ruang makan mereka, kemudian ia menaruh piring dan sendok ke depan Baekkie.
"Pembantu! Apa sudah selesai? Baekkie sayang sudah lapar!" Ucap Chanyeol sambil menatap sinis kearah namja yang ia katakan pembantu itu. Namja itu pun segera berbalik dengan masakan ditangannya, matanya sembab dan tubuhnya terlihat sangat lemah.
"Ini nasi goreng kimchi kesukaanmu." Kata namja itu yang ternyata adalah Luhan.
"Ya, baiklah! Tapi setelah ini pergi sana, jangan sampai merusak mood kami!" Ucap Chanyeol tak berperasaan. Luhan pun berpura - pura membelakangi mereka, padahal air matanya sudah mengalir dengan deras. Luhan mungkin adalah namja licik yang bodoh, buktinya demi tidak ingin berpisah dengan Chanyeol ia sampai rela menjadi pembantu seperti ini.
Benar - benar bodoh bukan?
Luhan pun memotong - motong wortel dengan keras, ia sangat emosi karena anak kecil itu berani merebut kebahagiaannya. Ia tidak terima, ia ingin membalas.
"Hyung, nasi gorengnya tidak enak! Asin!" Ucap Baekkie sambil menjulurkan lidahnya.
Chanyeol terkekeh melihat hal yang menurutnya lucu itu. Kemudian ia pun mengelus surai Baekkie dengan sayang.
"Maaf ya, pembantu hyung memang sangat bodoh soal memasak. Tapi kalau mengepel lantai ia sangat pintar."
"Huu.. Dasar ahjussi jelek! Ahjussi memang pantas mengepel lantai." Baekkie dan Chanyeol
tertawa bersamaan. Membuat hati Luhan memanas, ia meremukkan kesepuluh jarinya. Kalau saja ia tidak bisa menahan emosinya, mungkin saja kepala kedua namja itu sudah melayang.
"Baekkie jangan terlalu kasar seperti itu! Apa kau mau hyung menjewermu?" Kata Luhan dengan lembut, namun tampak wajahnya sangat memerah menahan emosi.
"Hiks! Ahjussi jelek ini sangat jahat!" Pekik Baekkie tiba - tiba. Ia mengucek - ucek matanya dengan keras.
"Yak! Pembantu sialan! Kau membuatnya menangis! Awas kau!"
Chanyeol pun langsung membawa Baekkie dari tempat itu, menyisakan Luhan yang tidak dapat mengontrol emosinya.
"Brengsek!"
Baekkie terlihat duduk diatas sebuah kursi menghadap kearah kaca yang menurutnya sangat besar, ia meneliti setiap senti dari wajahnya. Tidak ada yang berubah dari wajahnya, hanya saja semuanya terlihat lebih kecil.
Ia tidak mengerti kenapa ia tidak mati, dan kenapa malah tubuhnya yang mengecil? Ia benar - benar tidak habis pikir. Apakah ia akan selama - lamanya mengecil? Tidak! Ia tidak
mau kalau itu sampai terjadi. Ia takut. Padahal ia ingin sekali mati. Tapi kalau seperti ini terus ia berniat akan terus membalas Luhan maupun Chanyeol. Ya, ia sedang membalas keduanya.
Clek!
Baekkie menatap kehadiran seseorang itu dari kaca, namja tampan yang seperti tiang listrik lah yang masuk ke dalam kamarnya.
Namja itu pun sedikit menggeser kursi Baekkie, kemudian ia berjongkok dihadapannya.
"Sedang melihat apa hm? Sedang melihat wajah imutmu?" Tanya namja itu sambil mengecup bibir Baekkie. Baekkie hanya memutar bola matanya malas, mulai sekarang ia harus terbiasa dengan kecupan - kecupan dari namja tampan ini—Chanyeol.
"Pergi sana! Aku mau tidur!" Ucap Baekkie sambil mendorong wajah Chanyeol dengan tangan mungilnya. Chanyeol hanya tertawa, kemudian ia mengecup jari - jari mungil itu.
"Tidurnya dikamar hyung saja, karena kamar Baekkie sayang akan ditempati oleh sepupu hyung. Ayo!"
Chanyeol segera menggendong tubuh kecil Baekkie.
"Siapa?" Tanya Baekkie bingung.
"Kau akan tau nanti sayang, tapi dia adalah orang yang menyebalkan. Jangan sampai mau dekat dengannya ya?"
Baekkie hanya menggangguk malas. Sama sekali tidak tertarik. Justru malah sebenarnya Chanyeol lah yang lebih menyebalkan.
"Ck.. Menyebalkan sekali! Kenapa kau harus tinggal disini sih!" Ucap Chanyeol kesal ketika membuka pintu apartemennya. Seorang namja yang tak kalah tampan dan tinggi dari Chanyeol hanya mendengus kesal. Ia membawa masuk kopernya yang terlihat sangat besar itu.
"Kau ini! Apa kau tidak sadar waktu kau di Junior High School juga menumpang diapartemenku? Dasar!" Balas namja tampan itu tidak terima.
"Oh, jadi kau ingin aku balas budi begitu?"
"Ya tentu saja! Lagi pula kantorku tidak jauh dari sini. Dan aku ingin menenangkan diri disini, jadi kau jangan cari masalah denganku!"
"Baiklah tiang listrik!"
"Dasar kau tiang bendera!"
Baekkie yang duduk didepan televisi itu pun memutar bola matanya malas, ia mendengar perdebatan dua sepupu itu. Tapi ia tidak mau menoleh sedikitpun, menurutnya sangat tidak penting melihat manusia konyol seperti mereka.
"Eh? Siapa anak kecil itu? Anakmu?" Tanya sepupu Chanyeol sambil menatap curiga.
Chanyeol hanya mendengus kesal. Dia masih sangat muda, tidak mungkin sudah punya anak! Sepupunya benar - benar bodoh.
"Dia pacarku! Awas saja kalau kau berani mendekatinya!"
Sepupu Chanyeol membulatkan matanya, rahangnya pun terbuka lebar tak percaya bahwa Chanyeol yang dulunya sangat playboy kini tertarik pada anak kecil. Apa otaknya sudah error?
"Apa kau gila?"
"Diam kau! Sini biar kukenalkan padanya!" Chanyeol pun menarik lengan sepupunya itu kearah Baekkie, dan ketika mereka ditelah berada dihadapan namja kecil itu, Chanyeol pun memberikan senyum terbaiknya.
"Baekkie sayang! Ini sepupu hyung, namanya Kris!"
"K-Kris—?"
TBC
