What's up?

I'm back xD

Lagi-lagi respon reader memberiku semangat untuk mengkhayal hahaha. Pada suatu sore yang membosankan aku mendengarkan lagunya Adele dan muncullah ide ini xD. Sebenarnya Cygnus lagi pusing dan lapar banget (bayangin adegan Habibie yang nulis surat pas keadaan sakit dan nangis) akibat jadwal mata kuliah baru yang udah kayak kerja rodi aja. Kebetulan banget yang dipelajarin B. Belanda pula -_-.

Tapi berhubung ada ide, ngga peduli hujan, badai, maupun salju, aku tetep mau update xD.

Pokoknya, Hope y'all enjoy this story! Dan author tidak bertanggung jawab atas segala hal yang di timbulkan cerita ini. Jaga diri anda baik-baik **ngelus jenggot**

WARNING : GAJE, ABAL, INCEST, RATED M, OOC, TYPOS.


Harry Potter © J. K. Rowling

Cygnus Jessenia

Mempersembahkan

Golden

Bab 3

Draco berjalan terburu-buru dengan 2 langkah normal sekaligus, ia kesal dan moodnya sedang dalam titik terendah alias buruk sekali. Hatinya terbakar karena Blaise memancingnya habis-habisan tentang orang yang diciumnya di kereta. Dan Draco masih cukup waras untuk tidak melepas nama Hermione dari mulutnya.

Blaise Zabini memang pernah bilang kalau dirinya mungkin saja akan tertarik dengan Hermione yang saat itu masih berumur 10 tahun, pasalnya gadis yang kini berusia 12 tahun itu telah menunjukkan kecantikan yang luar biasa di usia belianya.

Oleh karena itu, Draco sangat khawatir. Apakah Blaise serius dengan ucapannya?

Angin pergantian musim menerpa rambut pirang Draco, membawa lembar-lembaran daun birch terbang masuk lewat jendela dan hinggap di atas pundak Draco yang tegang. Mata abu-abunya bersinar garang sedang mengamati sesuatu.

Ia melihat Hermione di ujung lorong dekat kelas mantra bersama Neville Longbottom. Pemuda tampan itu melihat Neville nyengir lebar pada Hermione. Draco semakin tidak suka, pemuda 17 tahun itu berteriak dengan keras.

"HERMIONE!"

Sang adik menoleh ke arah sumber suara.

"Draco? Hei….apa yang kau lakukan?" Draco menyeret bagian belakang jubah Hermione, mendesaknya ke tembok dekat patung penyihir bungkuk.

Neville melongo tak mengerti.

"Untuk apa kau bicara dengan bocah gendut bergigi bajing itu?" Tanya Draco.

"Namanya Neville."

"Aku tidak peduli, jadi kenapa kau bicara pada bocah….,"

"Namanya Neville," potong Hermione mengintrupsi perkataan Draco.

"Aku tidak peduli," kata Draco geram.

"Tapi aku peduli peduli, kau pikir siapa yang kau bilang bocah gendut bergigi bajing. Dia temanku, Draco."

"Aku tidak suka padanya," tentang Draco.

"Lalu? Kau tidak punya hak apapun untuk melarangku berteman dengan Neville," Hermione mulai berkacak pinggang. Gayanya sangat mirip dengan Draco kecil yang sok bossy.

"Aku jelas punya..aku kakakmu dan aku sudah menciummu."

Mendadak rona merah merambat perlahan di pipi putih Hermione, tangannya turun dengan dramatis. Ia ingat betul peristiwa yang dialaminya.

Berciuman.

Ciumannya dengan Draco adalah ciuman pertamanya dan ciuman yang sekaligus menggairahkan.

"Itu tidah merubah apapun…," Hermione menggeleng cepat. Ia berkeras untuk melupakan lumatan bibir Draco, hisapannya dan sekuali gairah yang mengguyur basah tubuhnya.

'Sial'

Hermione malah semakin ingat adegan ciuman itu. Otaknya berteriak frustasi agar Hermione mau membuang ingatan bodohnya, akan tetapi hatinya berkata lain…..ciuman itu bagaikan godam yang menghancurkan tembok yang sengaja Hermione bangun untuk menhindari Draco selama 2 tahun berturut-turut.

Tahun keduanya di Hogwarts, Hermione benar-benar menghindar total dari Draco. Gadis Slytherin yang pernah mencium Draco selalu menempel ketat pada Draco. Gadis itu bagaikan kertas kering yang terkena lem dan menempel pada tiang beton. Hermione sangat risih melihatnya.

Menghindar dari seorang Draco Malfoy sangatlah berat, ia bahkan rela tidak pulang ke Malfoy Manor dan melewatkan natal serta paskah di Hogwarts karena Hermione tidak suka kalau-kalau Pansy atau perempuan lain datang ke rumah dan menemui Draco dengan gaya angkuh bak nyonya besar.

"Jadi ciuman itu tidak ada artinya bagimu?"

"Aku tidak mengerti, arti apa? Bukankah apa yang kau lakukan itu adalah salah satu dari tindakan jahilmu?"

Draco mendengus keras, ia mendecih sesaat lalu tertawa mengejek,

"Susah sekali membuat bocah 12 tahun mengerti apa yang orang dewasa katakan," Hermione memutar bola mata, Draco sama sekali belum dewasa.

"….apa kau tidak bisa membedakannya? Antara ciuman atau kejahilan? Aku bahkan hampir meledak karena menahan hasratku…untuk memilikimu…perasaan ini tidak bisa kupahami, Hermione."

Hermione bisa melihat api di mata Draco, ia bisa melihat mata itu berkilat berbahaya, lebih mengerikan dari milik Prof. Snape.

"D-Draco…,"

"Aku merasa buta dan bodoh …aku bahkan memarahi Blaise dan anak Slytherin lainnya," Nada bicara Draco meninggi.

Hermione tidak tahu pada akhirnya pembicaraan ini akan berakhir kemana atau bermuara ke masalah apa. Dimulai dengan perdebatan tentang Neville lalu ciuman kemudian masalah perasaan.

Apa ini? Apa ini boleh dikatakan semacam lelucon dari sihir sakti Weasley?

"…aku menyukaimu."

Hermione membatu. Entah apa yang terjadi, lorong di lantai 2 itu seakan berubah jadi dingin seperti kedatangan dementor. Jantung Hermione berdegup kencang penuh keretakan.

"Apa?"

"Kau jelas-jelas sudah mendengar semuanya," Draco berbalik memunggungi Hermione, kemudian berbalik lagi dan mulai menunduk.

Saat ini Hermione baru menyadari kalau Draco begitu jangkung. Kakaknya itu tinggi, kurus dan berkulit pucat seperti bayi.

"Aku menciummu karena aku menyukaimu. Kau tahu itu Hermione. Sekarang apa jawabanmu?"

***golden***

Hermione duduk di atas kursi merah berlengan di ruang rekreasi Gryffindor. Sesekali ia melempar batu kecil ke dalam perapian kemusian bermain dengan tongkatnya dan memunculkan bunga api atau sebuket anggrek warna ungu.

Hatinya berkecamuk, hatinya terombang-ambing. Pikirannya terbang jauh, membayangkan sosok Draco yang memeluknya dan berkata 'aku sayang padamu'. Dahinya berkerut, Hermione jubahnya sendiri dan berusaha mencari pencerahan.

'Sekarang apa jawabanmu?'

Kata itu….

"Aaarrrgghhh…," Hermione menutup wajahnya sembari meringkuk menekuk kaki.

"Hermione?" panggil seorang gadis, "Kau disitu kan?"

"Hai Gin," Jawab Hermione dengan nada lemah.

Ginny menghempaskan tubuhnya ke sofa tak jauh dari perapian, ia mendongan menatap langit-langit ruang rekreasi yang gelap, hanya ada beberapa lilin melayang yang samar-samar berpendar di atas ketinggian.

"Kau tidak banyak bicara hari ini," kata Ginny memecah kesunyian.

"Tidak ada yang harus dibicarakan atau di ceritakan," Jawab Hermione malas, ia semakin meringkuk dan mengangkat kedua kakinya ke atas sofa.

"Kau sendiri kenapa? Seharian ini kau tidak banyak bicara juga."

Ginny menghela nafas dan mendengus sekaligus.

"Aku sedang bertengkar dengan Ron. Kau lihat betapa konyolnya dia? Dia menyuruh-nyuruh seperti bos besar," keluh Ginny.

"Ouh, I am sorry," Hermione mengintip wajah Ginny dari balik rambut semaknya.

"Ya, dia memang konyol dan sedikit protektif. Sudahlah, lupakan si bodoh itu."

"Y-yeah. Mmmm…Gin…menurutmu kalau seorang kakak mengatakan suka pada adiknya, apakah itu semacam tindakan protektif juga?"

***golden***

Hermione berkali-kali bangun kemudian membaringkan diri lagi di ranjangnya, teman-teman yang sekamar dengannya kini sudah terbang ke alam mimpi, mendengkur halus dan sesekali bergerak mengubah posisi tubuh. Namun, Hermione sama sekali tak bisa memejamkan mata apalagi terlelap dan mimpi indah seperti dapat nilai outstanding di semua mata pelajaran yang di ujikan.

Ia tengah memikirkan jawaban Ginny atas pertanyaannya. Jawaban Ginny cukup logis untuk anak seusianya. Semua jawaban Ginny seperti gaung yang bergema di kepalanya, terus memantul dan tidak mau hilang.

'Kurasa itu penyimpanan, itu bukan protektifitas tapi obsesi, Hermione. Seorang kakak tidak boleh suka pada adiknya. Coba bayangkan jika salah satu kakakku ternyata menyukaiku, Mum dan Dad akan membunuhku.'

Hermione masih begitu ingat saat Ginny berbisik mengatakan, gadis Weasley itu bergidik dan gemetar,

'Jadi, jawaban untuk Draco adalah…,'

Hermione merasa percuma saja ia berbaring di atas ranjang, toh walaupun jarum jam menunjuk angka 11.30, matanya tetap tak mau terpejam. Hermione merasa dirinya butuh penyegaran.

Gadis cantik itu bangkit, tulangnya berbunyi keras saat ia mencoba berdiri tegak. Ia memakai sandal tidurnya yang berbulu jingga seperti bulu crookshanks dan mengambil jubah merah yang ada di samping bantal. Dengan langkah pelan, ia mencoba keluar dari kamar, meninggalkan Parvati dan Lavender yang terlelap.

Ruang rekreasi sangat sepi, perapian mulai padam dan meninggalkan bara kemerahan, udara pu masih hangat. Di sudut-sudut ruang Rekreasi banyak bertebaran perkamen, dadu dan beberapa bidak catur yang tercecer.

Hermione terus berjalan dan keluar dari asrama, dilihatnya Nyonya gemuk tengah terkantuk-kantuk, sanggul besarnya membuat kepalanya terhuyung ke kanan dan ke kiri. Gadis itu mendapati Peeves yang melayang-layang di antara jejeran baju zirah dan Rahib gemuk yang melintas cepat.

Beberapa kali Hermione menoleh ke belakang saat berjalan melewati lorong gelap dan menuruni tangga, ia merasa diikuti. Ia hanya khawatir terpergok Argus Filch, penjaga tua Hogwarts yang temperamental, bergigi kuning dan suka marah-marah.

Hermione terus menuruni tangga hingga sampai di lantai 5, ia berjalan kea rah patung boris yang membingungkan dan melihat kamar mandi prefek.

Terdengar langkah kaki…..hanya samar-samar….akan tetapi cukup untuk membuat Hermione berjengit dan menoleh dengan wajah panik.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya seseorang.

"Jenggot Merlin," Hermione reflek melepas jubah yang dibebatkan ke tubuhnya dan buru-buru mengacungkan tongkat sihir.

"Kau mau menyihirku atau menusuk mataku?" kata suara itu, menyebalkan, dengan nada sarkasme yang kentara.

Orang itu menurunkan tongkat Hermione yang menyentuh pangkal hidungnya dan meniup wajah Hermione dengan lembut, membekapnya, dan memeluknya dari belakang.

"Jangan biarkan matamu tertutup, selalu waspada atau kau akan berakhir seperti ini," orang itu menekan tongkatnya ke leher Hermione. Ia terdengar seperti Alastor Moody.

"Bukan saatnya untuk berduel, Draco. Kau mau kita berdua tertangkap oleh Filch?" Hermione berusaha memberontak.

"Untuk apa khawatir? Aku prefek, aku punya berpuluh alibi kuat," Draco menyeringai.

"Kalau begitu lepaskan aku, aku harus kembali. Aku bukan prefek."

"Kau tertangkap sweety, berkeliaran di tengah malam memakai piama seksi," Draco bersiul genit sembari meremas pinggang Hermione.

Hermione memutar bola mata.

Seksi? Demi Merlin, ia memakai piama putih berlengan panjang, juga dengan celana panjang. Hermione rasa Draco sedang mengigau.

"Sudahlah, lepaskan aku! Kaki ku kram."

Draco membawa Hermione ke depan pintu kamar mandi prefek dan bergumam lirih, "Gryndilow."

Pintu terbuka dan menampakkan kamar mandi yang mewah. Hermione merasa kamar mandi ini lebih mewah dari yang ia miliki di manor.

"Aku menunggu, Mione. Jawaban untuk pertanyaan kemarin, apa?" Draco menarik tongkat Hermione dan mendekap adiknya itu.

"Apa? Katakan padaku agar aku bisa mendengarnya."

"….."

"Katakan!"

"Aku….maksudku…..kita….k-kita bersaudara," Hermione memegang lengan Draco yang menggantung di depan dadanya.

"Hmmm," sahut Draco.

"Aku yakin kau tahu kalau saudara….tidak boleh….," Hermione tidak melanjutkan kata-katanya, ia berbalik dan memandang Draco.

"Hmm?"

"Jadi….," manik cokelat Hermione bertemu dengan manik kelabu Draco yang berkilat ganjil, mata Draco seeakan mengunci pandangan Hermione.

Draco membungkuk dan mendekatkan wajahnya, menyapukan nafas hangatnya ke seluruh permukaan wajah Hermione.

"Aku tidak peduli, aku tetap menyukaimu, aku menginginkanmu…menjadi milikku…seutuhnya," sambung Draco. Pemuda itu mulai mengecup hidung Hermione lalu berhenti sejenak.

"Kau hanya suka padaku, itu mungkin hanya rasa sayang pada seorang saudara," meski mengelak sekalipun wajah Hermione diliputi rona merah yang kentara di sekitar tulang pipinya, "Kau pasti hanya ingin mempermainkan aku. Sejak kapan kau menyukaiku? secara harfiah aku masih anak-anak dan...dan…," Hermione terdiam saat menyadari ia terlalu banyak bicara sedangkan Draco diam mendengarkan semua alibinya.

"Apa kau percaya aku sudah menyukai seorang gadis sejak aku berusia 9 tahun dan aku baru menyadarinya saat usiaku menginjak 11 tahun? Apa penantianku selama 8 tahun ini kau sebut main-main?"

Mata Hermione membesar seketika, apa Draco sudah menyukainya sejak lama? Ini tidak mungkin kan? Astaga!

Sedetik kemudian Draco mulai mengecup bibir sang adik, menautkan bibirnya dan menghisap bibir Hermione dalam-dalam. Ia kembali berhenti dan menatap Hermione dengan intens.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku bilang iya atau aku juga menyukaimu?" Tanya Hermione.

"Mungkin kita bisa mulai berkencan," Draco menyeringai, pemuda tampan itu kembali mengecup bibir adiknya lagi," atau melakukan hal lain seperti," Draco menggigit bibir bawah Hermione, "…berciuman disini atau melakukan sesuatu yang lain."

Hermione merasakan kakinya melumer, tangannya meraba pipi tirus Draco, mengusap kulit pucat itu dengan perlahan sambil merasakan hisapan kuat di bibirnya, merasakan lidah Draco menerobos giginya. Hermione merasa jika ia bisa pingsan kapan saja karena ciuman kakanya begitu panas dan menggairahkan.

"Aku akan menjagamu," bisik Draco.

"Kalau aku bilang tidak?"

Mendadak Draco menghentikan ciumannya, matanya beralih kembali pada dua permata cokelat di depannya.

"Maka aku akan mengejarmu sampai kau bersedia berkata 'ya'," kata Draco, " meskipun itu selamanya."


"…dengar tidak? Bagaimana menurutmu, Drake?" Tanya Theo, ia menyenggol Draco.

"Eh? Kau bertanya padaku? Tanya Draco.

"Tentu saja, kecuali kau tadi mendengarku memanggil nama orang lain," Theo merengut,

"Apa? Bagaimana menurutmu?"

"Apa sih yang kau bicarakan?" Draco menyentakkan kepalanya sebagai indikasi tidak mengerti.

"Maksudku tim quidditch Slytherin sedang mempersiapkan rencana untuk membantai Gryffindor. Menurutku kita bisa menghajar mereka pekan ini."

"Hm, terserah kau saja," jawab Draco malas-malasan, ia kembali memandang ke seberang. Draco melihat Hermione yang berbicara panjang lebar pada Harry dan teman rambut merah Weasley-nya.

Sesekali gadis 12 tahun itu menunjuk buku tebal dan memukul kepala Ron yang sebelumnya membuat gerakan mengendikkan bahu. Draco suka gadis itu, gadis yang semalam berkata 'ya' dengan suara desah yang tertahan, gadis yang semalam balas menciumnya dengan gerakan kaku dan tak sengaja menggigit lidahnya serta gadis yang mengangguk patuh saat Dracoo mengutarakan keinginannya untuk memilik Hermione seutuhnya.

Dia juga lah gadis yang mengerang kesal saat Draco melepas pagutannya hanya untuk sekedar menarik nafas. Semalam adalah kejadian yang paling indah bagi Draco. Ia dan Hermione terus berciuman dalam jangka waktu yang cukup lama. Draco bahkan nyaris melampaui batas, ia terlanjur melepas piama atas Hermione. Untung saja Peeves membuat keributan dengan menjatuhkan beberapa senjata yang ada di baju zirah sehingga mereka segera sadar dengan apa yang terjadi.

'Kau milikku, Hermione.' Ini adalah kata yang meluncur dari mulut Draco semalam.

'A-aku tahu,' dan ini adalah jawaban yang Hermione lontarkan dengan wajah merona yang lucu.

Di meja Slytherin Draco masih memandangi Hermione, namun tak berapa lama ia berdiri dan melangkah ke seberang meja dan mendekati sang adik di ujung meja Gryffindor. Draco bisa melihat Hermione yang membelalakkan mata dan menunduk malu saat melihatnya. Draco tahu, Hermione pasti sangat malu bertemu dengannya setelah kejadian semalam. Ia tahu itu.

"Hermione..," panggil Draco.

Harry dan Ron menoleh dan memandang Draco sengit, walau keduanya adalah sahabat baik Hermione, jujur saja mereka sama sekali tidak menyukai seoramg Draco Malfoy. Pemuda berambut pirang itu memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan saudara perempuannya. Draco jahil, sombong, semena-mena, dan sok kuasa.

"Mau apa kau kesini, Malfoy?" Tanya Ron dengan nada tak suka.

"Aku tidak memanggilmu, Weaselbee. Aku bilang Hermione," jawab Draco.

Wajah Ron memerah dan ia hampir saja mengumpat keras-keras di depan umum, dimana ada ratusan anak di aula.

"Ada apa, Draco? Tanya Hermione.

"Aku perlu bicara padamu, sweety," Draco menjawabnya dengan penekanan pada kata 'sweety'.

Hermione hampir saja tersedak jus labunya saat Draco memanggilnya sweety dan tentu saja gadis itu melotot tak suka. Belum sempat Hermione menjawab, Draco sudah menyeretnya ke kelas kosong di lantai dasar. Ia mendorong Hermione masuk ke dalam dan memeluknya.

"Jangan pernah memanggilku sweety lagi!" kata Hermione sedikit marah.

"Apa hal itu yang ingin kau katakana saat kita hanya berdua?" bisik Draco, kepalanya sedang menelusuri leher indah Hermione.

"Bukan, tapi jangan pernah -,"

" Kalau begitu aku akan memanggilmu love," potong Draco.

Hermione mendorong kepala Draco dan menatap mata abu-abu sang kakak dengan garang.

"Jangan!" Hermione mendikte Draco.

Draco tersenyum tipis dan memeluk Hermione lagi.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin memeluk dan mencium kekasihku di pagi hari," Draco melonggarkan pelukannya lalu memegang kedua lengan Hermione, "sebelum dia jadi orang lain di detik berikutnya."

Hermione paham benar apa yang dimaksud Draco dalam perkataannya barusan.

"Draco aku…,"

"Berjanjilah kalau kau tidak akan pernah pergi dariku, Hermione," Draco menuntut sebuah janji dari Hermione.

"Draco, aku…tidak tahu….kau dan aku….Mum dan Dad pasti akan sangat marah jika mereka tahu, maksudku…," Hermione memainkan jubah Draco yang bisa di sentuhnya. Pupil matanya bergerak ke atas untuk melihat bagaimana ekspresi kakaknya.

"Inilah yang kutakutkan..," Draco sengaja menggantung kalimatnya. Pemuda itu membalas tatapan mata coklat Hermione.

"Apa?" Hermione berkedip penasaran.

"Penyesalanmu." Kata Draco dalam nada rendah.

"Aku hanya tidak yakin, maksudku kita sedarah dan tiba-tiba kita menjalin hubungan. A-aku ragu-,"

"Sssttt…jangan bicara lagi, Hermione. Aku tidak mau mendengarnya. Jangan pernah ragu karena aku tidak pernah ragu sama sekali. Tidak sedetikpun," potong Draco.

Pemuda 17 tahun itu meremas tangan Hermione, menunggu Hermione kembali bersuara.

"Aku berpikir apakah kau mempermainkan aku? Kau tahu, aku tidak pernah punya kekasih, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Demi Merlin, aku baru akan menginjak 13 tahun!" kata Hermione dengan nada frustasi.

"Akan kutunjukkan, Hermione, akan kutunjukkan indahnya cinta…..hingga kau tak bisa melepasnya…..akan terus jadi Malfoy," bisik Draco penuh penekanan. Ia langsung saja melumat bibir Hermione, mencengkeram pinggang gadis ciliknya erat.

Tinggi badan Hermione yang hanya beberapa ratus senti tak cukup untuk menggapai Draco yang jangkung dan menjulang layaknya menara sehingga si pemuda harus rela membungkuk dalam-dalam.

"Mungkin aku bodoh, Hermione. Mungkin aku tidak normal….mencintai saudara perempuanku sendiri yang masih kecil…..mungkin aku pedofil," ucap Draco terputus-putus karena ia terus mengecap bibir adiknya yang semakin lama semakin terasa manis.

Hermione yang sudah sampai pada batasnya berusaha memberontak.

Ia butuh nafas, ia butuh oksigen.

Jari jemarinya terkatup kemudian membuka kembali, berusaha menjangkau tubuh Draco. Akan tetapi, Draco tetap menberondongnya dengan banyak ciuman sehingga seketika itu Hermione mendesah seraya mengambil nafas banyak-banyak.

Demi Jenggot Merlin, ini memalukan! Bagaimana bisa ia bersuara seperti itu di depan seorang laki-laki.

Draco tergelak dan berhenti mencium Hermione. Sang Malfoy pertama mengusap rambut adiknya yang sedikit basah karena peluh. Perlahan ia juga mulai melepas pegangannya pada Hermione.

"Cukup! Cukup untuk hari ini!" ucap Draco.

"Untuk hari ini? Jadi…besok….?" Hermione terlihat berpikir keras.

"Besok aku akan mendengar desahan yang lebih kuat dari mulut kekasihku," Draco menyeringai dan meraih pipi Hermione yang kemerahan,

"Berperilakulah dengan baik di sekolah, jangan tersenyum terlalu banyak, jangan terlalu dekat dengan Weasel dan Potty, jadilah anak penurut," Draco mencium kening Hermione.

"Namanya Potter dan Weasley," koreksi Hermione.

"Apa bedanya? Mereka memang seperti musang dan pispot," kata Draco dengan nada puas.

"Draco Lucius Malfoy," Hermione memanggil nama lengkap kakaknya sebagai tanda ketidaksukaan. Ibunya – Narcissa Malfoy- juga melakukan hal yang sama jika sedang jengkel.

"Oke..oke…Potter dan Weasley si anak banyak. Puas?"

Hermione masih memasang wajah masam dan makin melotot. Draco yakin kalau Hermione menambah tekanan pada wajahnya maka sebentar lagi bola mata adiknya itu akan menggelinding keluar dari rongganya.

"Sampai jumpa…," kata Draco sembari melangkah pergi, ia memperlihatkan seringai dan kedipan mata nakalnya.

Ruangan mendadak menjadi gelap, suara dorongan pintu terdengar jelas di telinga Hermione.

Gadis itu meringis.

Apa semuanya harus seperti ini?

Bagaimana jika hatinya tidak berkata bohong, bagaimana jika ia juga menyukai saudara kandungnya sendiri sejak lama?

Ia dan Draco….harus bagaimana?

.

.

.

.

TO BE CONTINUE…!

.

.

.

.

Akhirnya ...tbc

Gimana semakin seru atau ada yang bingung?

Oh ya, disini Draco itu seangkatan sama Percy Weasley ( 4 tahun di atas Hermione dan 2 tahun di atas saudaraku yang jahil Fred & George)

Reader : Huuuuuuuu!

Cygnus : Napa sih?-_- sirik aja lo pada

Terus yang jadi villain dari Slytherin sapa dong? Ntar juga ada, tenang aja.

Tom munculnya kapan? NTAR! Sabar bro. okay?

Nb : dimohon kritik dan sarannya (bebas layanan pulsa tapi butuh jaringan internet haha)

Satu lagi jangan meniru adegan yang ada di sini karena bahaya banget, apabila ada kesamaan cerita atau alur dengan fic lain, itu sama sekali ngga di sengaja.

See ya next time!

With Love,

Cygnus Jessenia