Dislaimer : Harry Potter beserta teman-temannya adalah milik J. K. Rowlings, jadi bukan milikku!

Warning : Au, Dark!Fic, OOC, Light bashing, Slash, Future!Mpreg, Creature!Fic

Rating : T/ M

Pairing : DMHP, LMNM, other


An : Rasanya lama cukup lama aku nggak ngupdate cerita ini, Ok... di kesempatan ini aku mencoba untuk melanjutkannya. terima kasih sudah mengunjungi fic ini untuk membacanya


CHASING LIBERTY

by

Sky


Draco melihat Tom yang berdiri tidak jauh darinya dengan tatapan begitu dingin, ekspresinya mengkhianati apa yang ia rasakan saat itu juga. Meskipun ia berada di sana namun pikirannya melayang jauh pada apa yang terjadi pagi tadi, tentang pertanyaan yang Tristan lemparkan padanya yang tidak bisa ia jawab saat itu juga, bahkan sampai saat ini ia juga tidak bisa mengambil keputusan. Draco tidak tahu apa yang ia rasakan mengenai 'keluarganya', mereka memang membuangnya namun kejadian itu sudah sangat lama terjadi, apa yang harus ia lakukan dengan itu? Apa ia harus mengikuti permainan yang Lucius buat dengan menerima kenyataan yang ada dan kembali dengan suka cita? Atau ia harus tetap keras kepala untuk menganggap mereka tidak pernah ada? Draco tahu apa yang Lucius mainkan, ia menginginkan Draco untuk kembali kepada mereka karena siapa dan apa Draco sekarang ini, dia bukan lagi anak kecil yang tidak berdaya dan mudah untuk disakiti atau dihiraukan, Draco Malfoy yang sekarang berbeda dengan Draco yang dulu. Ia adalah seseorang yang sudah beranjak dewasa, seorang penyihir... bukan, tapi seorang Mage, Shadow Mage lebih tepatnya dan karena itulah dia menjadi seseorang yang sangat berbahaya.

Apa yang Lucius inginkan memang mudah ditebak, sangat sederhana yaitu ia menginginkan kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi.

"Kelihatannya banyak pikiran yang ada di dalam otakmu, Draco?" tanya Tom, ia memegang tongkat sihirnya dengan erat dan menatap lurus ke arah Draco yang masih tidak menunjukkan reaksi atas serangannya tadi. Membuyarkan lamunan Draco.

"Iya, ada banyak sekali yang kupikirkan saat ini." jawab Draco, perkatannya tajam dan lurus.

"Hmm... apa ini mengenai sesuatu yang kudengar dari Tristan pagi ini, mengenai kau dan Lucius? Apa yang Lucius inginkan kali ini?" Tom melemparkan kutukan Cruciatus kepada Draco, yang berhasil menghindar dengan membuat benteng bayangan di sekitarnya. Draco mengayunkan tongkat sihirnya dengan santai.

"Tidak terlalu besar. Protego.." kata Draco, ia menghindari serangan yang Tom lemparkan dengan cepat, "Dia menginginkan reuni keluarga kecil-kecilan."

Tom hanya menyeringai sebagai komentarnya, mereka berdua tengah berduel di halaman belakang manor Riddle seperti biasanya. Tom mengamati serangan yang Draco ciptakan menggunakan sihir yang Tom lemparkan, sangat jenius dengan ide itu. Draco tidak akan mudah lelah bila ia tidak menggunakan sihir terlalu banyak seperti yang Tom lakukan karena Draco hanya akan mengembalikannya dan memodifikasinya sedikit, tidak heran kalau anak muda yang ada di depannya ini bisa menjadi salah satu Assasine terbaik yang Tom miliki.

"Romendo Petrix!" kata Tom sambil mengacungkan tongkat sihirnya saat ia melompat menghindari serangan balik dari Draco dan melemparkan sihir Romendo ke belakang Draco.

Draco merasakan kekuatan yang hebat, ia berbalik dengan cepat sebelum memutar tongkat sihirnya 180 derajat dan meneriakkan, "Priterra!"

Kilatan hitam yang Tom buat tadi diterkam oleh embun penghancur sihir yang Draco ciptakan, memunculkan petir yang menggelegar di antara mereka dan menghancurkan beberapa pohon di sana. Draco menyipitkan matanya, kalau Tom akan bermain serius maka Draco akan mengikuti apa permaiannya. Baik ayah maupun anak saling menyerang satu sama lain, gerakan mereka sangat cepat dan sulit untuk diduga bagi mereka yang tidak begitu mahir dalam berduel. Mereka saling melemparkan sihir hitam yang sangat berbahaya ke arah satu sama lain dan tidak peduli siapa lawan mereka, bahkan Bellatrix yang melihat duel mereka pun hanya bisa terkagum-kagum akan apa yang kedua laki-laki itu lakukan. Duel adalah duel, tidak peduli itu keluarga apa bukan dan yang terpenting adalah baik Draco Malfoy ataupun Tom Riddle menganggap semua ini seperti aktivitas sehari-hari.

Siapapun yang melihat duel itu pasti menganggap mereka berdua berusaha untuk menghancurkan satu sama lain, baik Tom maupun Draco mempunyai intensitas untuk membunuh, Bellatrix sedikit kagum kalau mereka berdua hanya berlatih karena mereka terlihat begitu sungguhan. Wanita itu merinding, apa yang akan pihak cahaya lakukan bila mereka melihat kedua pemimpin pihak kegelapan yang berduel secara mematikan seperti ini.

"Incendio... Ultima!" teriak Draco, ia menciptakan sebuah naga api raksasa yang muncul dari belakangnya, naga itu mirip seperti naga betulan dengan tubuh yang terbuat dari lidah api yang sangat membara. Sihir yang Draco buat kelihatan siap menyerang siapa saja yang ada di hadapannya.

Draco mengendalikan benda itu dengan pikirannya, matanya menyipit saat Tom melakukan sihir dari elemental air, membuatnya seperti naga air raksasa yang terbang di belakang ayah angkatnya.

Tom melemparkan kilatan sihir yang sangat besar, sementara itu naga air yang ia buat tadi mulai menyerang naga sihir api yang Draco buat. Tentu saja kedua animate sihir tersebut saling menghancurkan satu sama lain ketika kedua orang yang membuatnya saling bertarung. Draco melompat sebelum menggunakan kemampuan Shadow mage-nya untuk membuat pita-pita tipis hitam yang berhasil menjerat tubuh Tom dengan sangat erat. Pada saat yang sama Draco menghindari lemparan sihir penghancur tulang yang Tom lemparkan barusan, ia berkelit dengan menciptakan portal bayangan yang ada di bawahnya sebelum menghilang dari pandangan untuk sementara waktu. Tom yang merasa tubuhnya terjerat oleh benang-benag tipis bayangan yang drco buat tadi mencoba untuk melepaskan tubuhnya, benang yang menjeratnya terasa semakin erat ketika ia semakin berontak.

Sebuah tangan tiba-tiba muncul di udara dan tangan itu seperti memegang sesuatu yang tidak tampak, namun apa yang dipegang tadi muncul seperti gelendong beberapa helai benang yang terhubung dengan ikatan Tom. Sebuah portal berwarna hitam pekat muncul dan Draco keluar dari sana sebelum portal tersebut menghilang.

"Expelliarmus!" Teriak Draco, membuat tongkat sihir yang ada di tangan kanan Tom terlempar jauh, mendarat di tengah-tengah mereka berdiri. Draco mengayunkan tongkatnya dua kali untuk membuat dua sihir animate naga itu menghilang, meninggalkan asap tebal yang menggantung di udara.

"Kau semakin baik dari waktu ke waktu." Ujar Tom, sebuah seringai muncul di wajah tampannya. Kedua mata ruby-nya memancarkan rasa bangga yang ia tunjukkan kepada anak muda yang berhasil menjeratnya dengan bayangan. "Bagaimana kalau kau lepaskan aku dari jeratan ini?"

"Tentu." jawab Draco, tanpa mengucapkan apa-apa bayangan yang menjerat Tom menghilang dari sana. "Kau juga lumayan, untuk ukuran orang tua tentunya."

"Draconis, aku ini belum begitu tua!"

Draco mengangkat bahunya, tanda kalau ia tidak peduli. "Penampilan memang bisa menipu siapa saja." jawabnya. "Tapi usiamu mengatakan sebaliknya."

Apa yang Draco katakan memang benar, usia Tom seharusnya sekitar 50 tahunan namun karena dia adalah Dark Lord yang sangat kuat, ia menggunakan ritual ilmu hitam saat kelahirannya untuk kedua kalinya dua tahun yang lalu untuk membuat penampilannya seperti laki-laki berusia 30 tahunan. Itu lebih baik daripada penampilannya pertama kali ketika ia bangkit dari kuburan tua Riddle, ujar Draco dalam hati.

Dua tahun telah berlalu sejak kembalinya Tom Riddle ke dunia ini untuk yang kedua kalinya, Draco bisa membayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang mengetahui kebangkitannya seperti Dumbledore, tentunya rasa panik tetap ada namun bisa dipastikan kalau Tom kembali dengan hal yang lebih berbahaya dan sihir yang lebih kuat, itupun tidak termasuk sekutunya yang berasal dari makhluk sihir lainnya. Kalau Draco berada di pihak lawan, mungkin ia akan merasa khawatir dengan hal ini namun sayangnya dia tidak berada di sana, ia berada di kubu oposite mereka dan dia adalah Draco Malfoy, orang yang menurut mereka sangat kejam dan tidak berperasaan.

Draco mengibaskan salah satu dari tongkat kembar yang ia miliki dengan perlahan sambil menggumamkan sesuatu yang sangat lirih. Tom melihatnya dengan takjub, pohon-pohon yang tadinya tumbang di dasarnya mencul serat-serat baru yang lama kelamaan membentuk sebuah batang yang akhirnya menggantikan batang yang hancur tadi, membuat hutan yang tadi hampir mereka hancurkan menjadi seperti sedia kala. Bahkan kerusakan di sekitar manor yang tadinya parah, kini sama sekali tidak tampak.

"Sihir yang sangat bagus, young master." ujar Bellatrix kepada keponakannya.

Draco menyimpan tongkat sihirnya ke dalam saku celananya lagi sebelum melihat ke arah di mana wanita itu berdiri dengan senyum lebarnya, pemuda itu hanya memberikan anggukan singkat sebagai jawabannya.

"Sebetulnya kau tidak perlu melakukan itu, Draconis. Setiap kita berlatih, kau selalu saja melakukan hal yang sama, aku sendiri tidak mengerti apa alasanmu harus mengembalikan mereka segala." komentar Tom, ia berjalan menghampiri batang pohon yang tumbang tidak jauh dari mereka dan mendudukinya.

"Entahlah, aku juga tidak dapat menjelaskannya." jawab Draco singkat.

"Tidak bisa menjelaskan apa tidak tahu alasannya?" tanya Tom dengan seringai tipis di wajahnya.

"Mungkin kedua-duanya, aku hanya punya perasaan kalau aku harus mengembalikan apa yang sudah kuambil."

"Hm.."

"Hutan yang ada di sekitar manor bukanlah hutan biasa seperti yang ada di dunia Muggle, mereka memiliki sihir dan seperti ada sesuatu yang mendorongku untuk tidak menghancurkan mereka."

"Aku tidak tahu kalau kau mendengarkan para Fey, Draconis. Mereka makhluk yang sangat licik, namun mereka tidak akan mengganggu kita kalau kita tidak mengganggu mereka dulu. Para Fey itu, sangat menarik. Kau mendapat alasan yang masuk akal di sini."

Draco memutar bola matanya, tentu saja Tom akan menganggap kalau ia mendapat bisikan dari Fey. Fey adalah salah satu dari makhluk sihir yang tinggal di hutan dan berwujud seperti seorang manusia, hanya saja mereka memiliki telinga seperti seorang elf dengan kulit sedikit berwarna kehijauan, mereka menyukai sesuatu yang begitu alami seperti alam, dan mereka akan sangat marah bila ada yang mengganggu mereka atau menghancurkan tempat tinggal mereka. Jadi tidak heran kalau Tom menganggap Draco mendengarkan apa perkataan mereka, padahal dalam kenyataannya Draco sama sekali tidak peduli pada mereka. Makhluk cantik atau tidak, kalau mereka mengganggunya maka ia akan menghancurkan mereka.

Sebuah suara 'krak' yang merupakan pertanda seseorang berapparate terdengar lumayan keras di mana mereka berada. Sebuah sosok yang mengenakan jubah hitam khas milik pelahap maut muncul di sana, sosok itu melepaskan topeng setengah wajah mereka dan memberikan hormat kehadapan kedua Lord yang ada di sana. Draco melihat wajah Antonio Dollohov yang diselimuti oleh perasaan puas dengan tenang.

"Maafkan saya yang telah mengganggu ketenangan anda." ujar Dollohov.

Tom mengayunkan tangan kanannya, pertanda bagi pelahap maut yang ada di hadapan mereka untuk segera bangkit dari posisinya yang membungkuk.

"Apa ada hal menarik yang ingin kau sampaikan sehingga kau berada di sini sebelum pertemuan kuselenggarakan?" tanya Tom.

"Tentu, Milord. Saya ke sini ingin membawakan berita kalau beberapa anggota Order telah masuk ke dalam perangkap sesuai dengan rencana yang Milord buat."

"Ada berapa orang yang terjebak ke dalam labirin yang aku buat?"

"Lima orang."

Draco melihat sebuah senyuman licik muncul di wajah ayahnya, ia hanya bisa menghela nafas karena itu. Draco melirik ke arah bibinya yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka berada, ia menemukan bibinya tengah menatap ayah angkatnya penuh dengan kekaguman di sana, Draco heran dengan itu tentunya namun ia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Pemuda berusia 16 tahun itu mensummon jubahnya yang ia letakkan tadi di atas tanah di dekat gazebo, ia memegangnya dengan erat tanpa mengenakannya.

"Draconis." panggil Tom, "Pukul berapa kau akan mengunjungi Malfoy manor?"

"Mungkin sebelum makan malam."

"Bagus, masih ada beberapa jam sebelum acaramu akan dimulai. Bagaimana kalau kau menangani lima orang anggota Order yang tidak tahu diri ini sebelum kau pergi mengunjungi Lucius dan keluarganya?"

Rupanya dugaan Draco benar, Tom akan menurunkannya dalam urusan yang seperti ini. Karena tidak mempunyai alasan bagus yang bisa ia keluarkan untuk menolak tugas ini, Draco mengangguk singkat sebelum kembali ke dalam Riddle Manor.


Harry menghela nafas dalam-dalam, ia merasa lega saat baik paman Vernon tidak mencoba untuk menghukumnya seperti kemarin lagi. Badannya masih merasa ngilu karena pukulan yang ia terima kemarin, apalagi ditambah transformasinya menjadi orang yang sama sekali Harry tidak kenal. Selama seharian ini Harry merasa was-was kalau saja keluarganya tahu Harry berubah menjadi seseorang yang berbeda setelah malam ulang tahunnya kemarin malam, tapi kelihatannya seperti ada sihir yang menutupi kemungkinan yang terburuk tidak terjadi, malahan baik paman Vernon, bibi Petunia dan Dudley menghiraukannya seolah-olah Harry ini tidak pernah ada, dan Harry berterima kasih karena itu.

Harry mengusap keringatnya menggunakan lengan bajunya, kali ini Harry tengah bekerja di kebun milik bibi Petunia. Bibi Petunia menyuruhnya untuk merawat tanaman yang ada di sana dan mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh, Harry tidak pernah mengeluh melakukan itu karena sejak kecil Harry memang menyukai berkebun ataupun merawat tanaman, entah mengapa ia selalu merasa damai saat berdekatan dengan tumbuh-tumbuhan sejak Harry masih kecil. Ketika tugasnya merawat tanaman milik bibi Petunia sudah selesai, ia masih punya tugas satu lagi hari ini yaitu membongkar isi gudang untuk membersihkan ruangan yang kata bibi Petunia penuh dengan sampah yang tidak berguna.

Apa yang bibi Petunia katakan memang benar kalau gudang mereka penuh sekali dengan sampah, mulai dari tumpukan buku-buku usang yang ada di dalam kardus sampai sepeda tua yang sudah rusak milik Dudley. Harry masuk ke dalam gudang dan mulai memilah-milah barang yang ada di sana, ia memulainya dengan peti tua yang ada di sudut ruangan.

"Wow, banyak sampah di sini." komentar Harry, ia membuka sebuah kardus dan menemukan beberapa bonek tua yang Harry pikir pasti milik Bibi Petunia waktu ia masih kecil. "Tidak heran dia tidak mau membersihkannya sendiri."

Jantung Harry merasa berdegup keras dan serasa berhenti saat ia menemukan sebuah kota kecil yang terbuat dari kayu berukir, di atas kotak itu terukir nama "Lily Evan" yang juga nama dari ibunya. Dengan perlahan Harry membuka penutup kotak tadi, terdapat banyak barang yang ada di sana, mulai dari buku-buku tua, boneka usang sampai album foto. Harry membuka album itu secara perlahan, ia menghiraukan debu yang berterbangan karena itu. Ia melihat sebuah foto di mana dua orang gadis kecil tengah duduk di atas jungkat-jungkit bersama-sama, gadis pertama mempunyai rambut ikal berwarna merah marun sementara gadis yang kedua berwarna pirang, tidak ragu kalau foto itu adalah foto ibunya bersama kakaknya yang tidak lain adalah bibi Petunia. Harry membuka lembaran album itu dan menemukan foto-foto ibunya lagi mulai dari ia kecil sampai usia remaja, bahkan ia juga menemukan foto ibunya bersama seorang anak laki-laki berambut hitam pekat tengah duduk bersama di sebuah bangku yang ada di taman.

"Tunggu, anak laki-laki ini Snape? Tapi... apa yang ia lakukan bersama ibu?" tanya Harry pada dirinya sendiri.

Tidak hanya pada satu foto saja ia menemukan Snape, tapi beberapa foto. Dari sana Harry mengambil kesimpulan kalau Snape dan ibunya dulu adalah teman yang sangat baik sebelum semuanya berubah, karena ia tidak lagi menemukan foto Snape di album itu. Harry merasakan matanya begitu panas, air matanya mulai terkumpul di pelupuk matanya saat ia melihat wajah gembira dari Lily Evan, ibunya adalah wanita yang sangat cantik, sangat persis dengan apa yang Sirius katakan. Harry terus membongkar kotak itu, ia berharap bisa menemukan sesuatu yang mengingatkan Harry dengan ibunya dan usaha Harry tidak sia-sia karena ia menemukan sebuah buku tua yang kelihatan seperti sebuah jurnal atau buku harian. Harry membuka sampul buku itu dan wajahnya terlihat gembira saat ia menemukan nama ibunya tercantum di sana, mungkin ia akan membawa barang ibunya. Harry memutuskan untuk membawa buku harian ibunya dan foto album tadi. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini dan mungkin ia akan kembali lagi untuk mengoleksi semua barang milik ibunya.

Pada malam harinya ketika Harry sudah memastikan keluarga Dursley telah tidur semua, perlahan-lahan ia menghidupkan lampu kecil yang ada di kamarnya dan mengeluarkan buku harian milik ibunya dari bawah bantalnya. Harry membuka entry pertama yang ada di sana dan mulai membacanya :

13 Agustus 1970,

Aku tidak tahu kalau aku adalah seorang penyihir, hari ini aku menemukan fakta itu ketika sebuah burung hantu yang aneh tiba-tiba mendarat di atas meja makan keluarga kami ketika kami sekeluarga tengah sarapan. Tentu saja kemunculan burung yang aneh itu membuat kami sekeluarga panik, dan Dad hampir saja membunuhnya kalau Mum tidak mencegahnya ketika ia melihat sepucuk surat yang tergantung di kaki burung itu.

Tentu saja semuanya menjadi aneh ketika Mum mengatakan kalau surat itu ditunjukkan padaku, aku pun membacanya dan baik aku maupun yang lainnya merasa terkejut terkejut sekali saat surat itu mengatakan kalau aku mendapat undangan untuk bersekolah di sekolah sihir yang bernama Hogwarts. Awalnya aku menganggap ini dalah lelucon yang dikirimkan Severus padaku, aku tahu kalau Sev senang sekali bercanda dan menggodaku tapi ketika aku mengingat kejadian-kejadian belakangan ini yang kurasa ada hubungannya dengan sihir, perlahan-lahan aku percaya.

Aku pun semakin yakin kalau aku adalah seorang penyihir saat Sev mengatakan ia juga mendapat surat yang sama sepertiku, aku tentu saja senang sekali mendengarnya karena ini berarti aku tidak sendirian pergi ke sana. Aku bertanya pada Sev apakah Tunia boleh ikut, tapi ia hanya menggeleng dan mengatakan kalau Tunia tidak mendapatkan surat yang sama berarti dia bukan penyihir, ini artinya ia tidak dapat pergi ke Hogwarts bersama kami. Saat aku ingin mendapatkan komentar dari Tunia, dia hanya diam dan mempunyai ekspresi aneh di wajahnya. Aku tidak tahu apa itu, saat aku bertanya ada apa padanya, dia malah marah dan meninggalkan kami berdua di taman. Bahkan saat makan malam Tunia tidak ingin berbicara padaku.

Apa Tunia marah kalau aku pergi ke Hogwarts sementara ia tidak? Aku ingin sekali kakakku ikut ke sana, mungkin aku bisa menanyakannya pada professor yang bernama aneh itu tentang kakakku, mungkin saja surat milik Tunia terselip entah di mana.

Lily Ariana Evan

Harry tersenyum simpul setelah membaca buku harian milik ibunya, ia yakin ibunya menulis halaman itu ketika ia berusia 11 tahun karena ia menulisnya ketika surat undangan ke Hogwarts datang. Harry bisa menebak kalau bibi Petunia merasa cemburu saat ibunya mendapat surat undangan itu sementara dirinya tidak, bahkan bibi Petunia semakin bersikap dingin kepada Lily setelah itu, namun kelihatannya tidak sejak itu saja bibi Petunia tidak menyukai saudaranya namun ia tidak suka adiknya semenjak Lily dilahirkan karena semenjak itulah perhatian kakek dan nenek Harry lebih tertuju kepada ibunya daripada kepada bibinya, jadi tidak heran kalau bibi Petunia mempunyai masalah dengan itu.

Harry menguap pelan, matanya sudah terasa begitu berat dan ia merasa mengantuk. Ia menyimpan buku harian milik ibunya kembali di bawah bantal. Tidak lupa Harry mematikan lampu kamarnya sebelum berbaring di bawah selimut tipis yang ada di sana, Harry memejamkan kedua matanya dan tidak lama kemudian Harry pergi ke dunia mimpi.

Harry bermimpi aneh sekali, ia menemukan dirinya berada di depan sebuah manor besar yang sangat indah. Ia tengah berdiri di tepi sebuah danau dengan sepasang sayapnya keluar dengan bebas, menciptakan pemandangan yang sangat indah. Harry menatap pantulan dirinya yang ada di atas air danau yang begitu jernih, ia begitu terkejut saat ia melihat bayangan dirinya sendiri seperti ia melihat lukisan seorang malaikat, ia tidak pernah tahu kalau sayapnya mirip seperti itu namun berbeda warna. Harry mengusap rambutnya yang sedikit panjang itu, memang rambutnya tidak banyak berubah namun lebih teratur seperti sebelumnya, begitu mulus dan berkilap. Kalau Harry tidak tahu pasti bayangan itu adalah dirinya, ia pasti akan mengatakan orang itu adalah malaikat cantik dengan wajah imut yang pernah ia lihat.

"Apa yang tengah kau lihat, Baby?" ujar sebuah suara yang sangat seksi dari belakang Harry, suara yang mampu membuat lutut siapa saja lemas ketika mendengarnya.

Harry menatap ke belakang dari atas bahunya dan tanpa sengaja menemukan dirinya terhipnotis saat melihat sepasang mata silver kebiruan menatapnya dengan penuh cinta di sana, ia tidak tahu siapa orang asing ini dan bahkan Harry sendiri tidak bisa melihat bagaimana rupanya namun Harry mempunyai perasaan nyaman dan bahagia di dekat orang ini, Harry merasakan nafasnya tercekat saat sepasang lengan kekar memeluk pinggang langsingnya dari belakang dan bagian belakang tubuhnya bersentuhan dengan dada orang itu.

"Tidak ada." Harry menemukan dirinya menjawab pertanyaan itu,

Orang yang memeluk Harry menatap bayangan mereka berdua dari pantulan air danau.

"Aku sama sekali tidak setuju dengan itu, Angel, kau mau tahu apa yang sedang aku lihat?Aku menemukan seorang malaikat yang sangat manis berada di pekukanku. Apakah aku sudah berada di surga?" tanyanya sambil mencium bibir Harry dengan lembut.

Harry menemukan dirinya melenguh penuh kenikmatan saat lidah milik kekasihnya melumat bibirnya, apalagi ketika sebuah tangan menelusuri bagian sayapnya yang begitu sensitif. Harry menemukan dirinya berhadapan dengan kekasihnya, kedua tangannya berada di leher laki-laki itu sementara ia menemukan kedua kakinya tidak berada di atas tanah karena perbedaan tinggi tubuh yang jauh berbeda itu, laki-laki itu menopang berat tubuh Harry sementara Harry sendiri dengan senang hati membiarkan bibir yang ranum itu terus mencium dirinya. Tidak lama setelah itu kekasihnya membiarkan Harry untuk berdiri dengan kedua kakinya sendiri, meskipun begitu ia masih belum melepaskan bibirnya dari bibir Harry.

"Kau tidak sedang... oh.. uh, di ... Merlin... di surga." ujar Harry di selingi desisan, membuat kekasihnya tertawa kecil dan mengacak rambut hitam milik Harry dengan penuh kasih sayang.

"Tapi aku merasa seperti itu saat bersamamu, Mon cherry... Helluva."

Wajah Harry merona merah, namun ia membiarkan senyumannya merekah di bibirnya. Ia berjinjit pada kedua kakinya sebelum menciumn pipi kanan milik laki-laki misterius yang sangat ia cintai itu, "Love you, my dragon."

"Love you too, angel."

Harry merasa merasakan senyumannya terus merekah dan memimpikan laki-laki bermata silver kebiruan yang selalu memancarkan kehangatan dan cinta saat ia memperhatikan Harry.


Sepasang mata silver kebiruan yang sama tengah menatap salah seorang anggota Order yang masih tersisa di tempat itu dengan dingin, ia tidak membiarkan konsentrasinya pecah meskipun ia tahu tubuhnya bersimbah darah, darah yang bukan miliknya namun milik dari beberapa orang anggota Order yang telah ia bunuh sore ini.

"Katakan padaku, apa yang Dumbledore perintahkan pada kalian sehingga kalian berada di daerah Hanglington kecil seperti ini?" tanya Draco dengan suara dingin, ia tidak peduli kalau ayahnya menginginkan beberapa dari mereka dibawa hidup-hidup namun apabila mereka melakukan perlawanan seperti ini maka Draco tidak punya pilihan lain untuk membunuhnya.

Bill Weasley melihat monster yang ada di hadapannya ini dengan marah, ia tidak mengerti bagaimana mungkin ada orang yang tega membunuh dengan berdarah dingin seperti ini? Oh, Bill lupa kalau orang yang mereka hadapi adalah pelahap maut, penyihir paling rendah yang ada di dunia ini. Tidak heran kalau Dumbledore menyuruh dirinya bersama Hestia untuk memata-matai mereka, mencoba untuk mencari tahu apa rencana Voldemort selanjutnya dan siapa pangeran kegelapan yang akhir-akhir ini muncul yang berhasil membunuh Fudge pada bulan Juni kemarin. Dan Bill punya firasat kalau pangeran kegelapan yang dimaksud itu kini berada di hadapannya, pemuda itu bisa merasakan bulu kuduknya merinding.

"Tidak mau bicara? Apakah aku harus membuatmu bernasib sama dengan temanmu agar kau mau berbicara?" ancam pelahap maut bertopeng porselain itu.

Melihat keadaan Bill yang penuh luka membuat Bellatrix yang berdiri di belakang orang bertopeng itu kelihatan begitu senang, wanita yang kelihatan seperti tidak waras itu terkikik begitu evil. Ia memberikan Crucio kepada Hestia yang terkapar tidak jauh dari mereka.

"Lebih baik kita habisi mereka saja, Milord!" kata Bellatrix dengan senyuman sadisnya.

Draco menghiraukan bibinya, ia menatap sosok anak tertua dari keluarga Weasley dengan tenang. Ia menggunakan Legilimency untuk melihat apa yang dipikirkan oleh William Weasley ini, sebuah senyum muncul di wajahnya dari balik topeng yang Draco kenakan. Rupanya Dumbledore menyuruh beberapa orang ini untuk memata-matai mereka, kelihatannya Snape saja tidak cukup untuk melakukan itu dan harus menyuruh mereka semua. Permainan akan semakin seru.

Draco mengarahkan ujung tongkat sihirnya pada Bill dan mengatakan Crucio untuk membuat Bill pingsan.

"Bibi Bellatrix, Dolohov, kita pergi dari sini!" kata Draco

"Mengapa? Kita belum menghabisi mereka, bagaimana kalau mereka menyerang kita lagi?" tanya Bellatrix seperti anak kecil.

"Itu tidak perlu, Dumbledore tidak sebodoh itu. Yang terpenting sekarang adalah kita tahu kalau ada mata-mata di pihak kita, kita harus segera menangkap orang yang dimaksud sebelum mereka membocorkan rencana kita kepada Dumbledore."

Dengan itu, ketiga pelahap maut tersebut beraparate dari sana. Meninggalkan anggota Order yang tidak sadarkan diri itu untuk dijemput oleh temannya.


Bersambung


Kamus mantra sihir :

Romendo Petrix : sihir kelas menengah, sangat berbahaya namun belum bisa dikategorikan sebagai sihir hitam. bila mengenai tubuh makhluk hidup, mantra atau residu yang ada di dalamnya bisa menguras energi yang dimilikinya dan lama kelamaan akan menimbulkan suatu efek samping, berupa koma dalam waktu yang lama dan bahkan bisa menyebabkan kematian. sihir ini bisa disebut juga Ancient.

Protego : Sihir pelindung yang mampu melindungi penggunanya dari serangan mantra Cruciatus atau serangan sihir lainnya asalkan mereka yang menggunakan tipe sihir ini harus mengkonsentrasikan sihir mereka pada tongkat sihir. sihir ini tidak bisa melindungi penggunanya dari sihir pembunuh ataupun tipe bloodmagic lainnya

Prittera : Tipe sihir penghambat serangan, berupa embun mistik yang muncul dari ujung tongkat sihir. sihir ini bila diulangi dengan Fowl akan mampu membalikan serangan dengan level yang begitu tinggi. Tipe sihir ini digunakan pertama kali oleh Rowena Ravenclaw

Ultima : Sihir kuat yang termasuk dalam kategori netral.


AN : Terima kasih bagi kalian yang sudah mengunjungi fic-ku, apabila ada kata-kata salahnya, aku minta maaf

Author : Sky