Changmin meremas rambutnya sembari menunduk. Ia terduduk di kursi di samping ranjang inap Hero. Sudah hampir tiga jam, namun bocah itu masih tetap setia menutup mata. Changmin menyalahkan dirinya atas kejadian ini, sekali pun Yunho mencoba menyakinkan Changmin, jika semua terjadi karena keadaan Hero yang menurun.

Namun dokter Park mengatakan jika bocah itu agak syok, hingga mempengaruhi jantungnya. Dan itu yang membuat Changmin merasa bersalah. Changmin semakin kuat meremas rambutmya. Ia hampir saja membunuh putra sematawayangnya.

.

.

.

JaeMin Fanfiction

Present

With All My Heart © Ran Hime

DBSK © Themselves

Healing for Myself © Kim Jaejoong

Genre: Drama, Hurt/comfort

Rate: M

Warning: Yaoi, OOC, Typo, etc

Ini hanyalah fanfiksi.

Segala sikap dan sifat tokoh ditulis demi alur cerita.

Dan tidak ada sangkutpautnya dengan kehidupan mereka di dunia nyata.

Bijaklah dalam menilai sesuatu hal.

.

.

.

Chapter 3

.

Yoochun berlari di sepanjang koridor rumah sakit Seoul. Ia datang di pagi buta setelah mendapat kabar bahwa Hero masuk ke rumah sakit. Yoochun terus berlari dan mengabaikan asmanya yang mulai terasa. Ia harus membuat perhitungan dengan Changmin.

Yoochun berhenti di depan kamar 1114. Ia mengatur nafasnya yang hampir hilang itu, lalu perlahan membuka pintu kamar Hero. Ia mendekat dan bisa melihat bocah kesayangannya tengah memejamkan mata dengan bantuan selang pernafasan. Wajahnya terlihat pucat.

"Bagaimana keadaan Hero, Hyung?" tanya Yoochun ketika ia telah sampai di samping Yunho. Leader TVXQ itu menggeleng. Sejujurnya ia tidak yakin dengan kondisi Hero. Ini ketiga kalinya bocah itu seperti ini selama lima tahun. Harusnya bocah itu sedikit lebih kuat seiring bertambahnya usia.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yoochun lagi. Ia tahu, tanpa jawaban dari Yunho seharusnya ia sudah mengerti bagaimana keadaan Hero.

Ruangan VIP itu terasa sepi. Pertanyaan dari Yoochun seakan tertelan kesunyian. Tidak ada yang berbicara dan itu membuat Yoochun sedikit menggeram.

"Hyung?"

"Aku mengatakan kalau Hero anak Haram!" seru Changmin membuat Yoochun terkejut, "semua salah hyungmu!" lanjutnya lantas berdiri dari kursi dan berbalik menatap Yoochun tajam.

"KAU!"

"Semua ini takkan terjadi kalau saja hyungmu-"

"Shim Changmin! Kau kira Hyung tak menderita selama ini, heh!" teriak Yoochun memotong ucapan Changmin.

Sejujurnya ia lelah dengan sikap Changmin yang selalu menyalahkan Jaejoong. Jika Jaejoong tahu tentang Hero, mungkin ia akan setuju dengan sikap Changmin. Tapi selama ini Jaejoong tidak mengetahui perihal tentang keberadaan Hero.

"Kau selalu saja menyalahkan Jae hyung. Dari awal kami bertiga ingin agar Jae hyung tahu, tapi kau menolaknya. Kau selalu bilang kalau kau lebih berhak atas Hero. Tapi sekarang ..."

"Jika kau lelah, kau bisa menyerahkan Hero kepadaku!"

"Kau kira Hero barang, eoh!" Changmin melangkah mendekati Yoochun, hingga Yoochun dapat melihat dengan jelas mata Changmin memerah.

"Kau yang memulai semua, Shim Changmin!"

"Aku, aku dan selalu aku yang disalahkan!" bentaknya dihadapan Yoochun.

"Semua juga tidak akan seperti ini, jika dari awal kau bersedia mengatakan bahwa Jae hyung punya anak dari-"

"CUKUP! Kubilang hentikan!" ucap Yunho yang jadi penonton dari drama memuakkan itu. Disini tidak ada yang salah, karena rasa egoislah yang perlu dipersalahkan. Dan ia tidak bisa membela salah satu dari mereka. Karena pada kenyataannya, dia juga telah ikut andil dari permasalahan ini.

.

.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

.

.

Junsu memijat keningnya. Rasa sakit di kepalanya tak kunjung reda, meski ia telah meminum obat penghilang sakit kepala. Ia menatap ponselnya, di sana, di layar ponsel itu tengah menyajikan sebuah foto Yoochun dan Junho. Ia selalu menyangkal kenyataan jika Yoochun perlahan mulai berpaling ke Junho. Ia enggan menerima kenyataan, jika hubungannya dengan Yoochun mulai retak setelah kakaknya pindah ke management dimana ia bernaung dalam karir.

Salahkah keputusannya dua tahun yang lalu? Dengan suka cita, ia mengajak Junho untuk ikut bergabung dengan managementnya. Ketika itu, yang ada di pikirannya hanyalah agar ia bisa lebih punya waktu dengan sang kakak. Bukan malah seperti ini.

Drrttt ... Drrttt

Junsu mengambil ponselnya di meja ketika ada panggilan masuk. Ia mengernyit ketika melihat nama Yunho tertera di sana. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkatnya.

"Ya, Hyung!"

"APA?"

Tanpa menghiraukan rasa sakitnya, ia langsung bergegas menuju rumah sakit Seoul. Ah, bocah itu ... Shim Youngwoong memang selalu menjadi bocah kesayangan mantan anggota TVXQ.

.

.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

.

.

"Ayah!" seru Hero lirih. Ia membuka matanya berharap menemukan Yunho di sampingnya. Namun bukan sang ayah yang ia lihat, melainkan papanya dengan wajah khawatir.

"Hero yah!" Changmin tersenyum melihat Hero yang sudah siuman. Ia mencium kening Hero, "Papa minta maaf."

"Papa sudah tidak lelah?" tanyanya sembari menyentuh kedua pipi Changmin yang ada di hadapannya, "Papa jangan terlalu keras kerjanya. Hero takut papa kelelahan seperti kemarin dan membuat Hero takut." ia hanyalah bocah 6 tahun yang selalu percaya perkataan ayahnya. Ia percaya apa yang dikatakan Yunho tentang papanya. Changmin kelelahan hingga bicara aneh-aneh.

"Maafkan papa, hero yah!" Changmin memegang kedua tangan mungil Hero dan menciumnya, "Papa akan menuruti perkataan Hero. Papa tidak akan bekerja terlalu keras, agar Papa tidak membuat Hero takut."

Bocah itu tersenyum, "Saranghae, Papa!"

"Nado!" balas Changmin. Ia melepaskan tangan Hero lalu mengacak helaian hitam di kening Hero.

"Hero lapar, Papa! Ayah bilang akan mengajak makan di luar!" ia mengerucutkan bibirnya.

"Nanti setelah Hero sembuh. Papa akan menemui dokter dulu. Hero istirahat dulu."

Changmin dapat melihat senyum di wajah pucat putranya lalu bangkit dari kursi. Ia keluar dari kamar Hero dan menuju ke ruangan Dokter Park.

.

.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

.

.

Presdir Baek berhenti bicara ketika ia melihat Jaejoong nampak terdiam melamun. Tidak seperti biasanya Jaejoong terlihat tidak berkosentrasi dalam membahas persiapan konsernya nanti.

"Jaejoong ah, kau kenapa?"

Jaejoong tergragap mendengar itu. Ia tersenyum canggung ketika ia kepergok melamun dalam rapat.

"Apa kau sakit?" tanya Presdir Baek khawatir, "Kita bisa menunda rapat ini."

Jaejoong menggeleng, "Apa aku bisa meminta satu hal, hyung?"

"Katakan saja!"

"Untuk konser pembukaan Come Back nanti-" Jaejong terlihat sedikit ragu mengutarakan keinginannya, "aku berharap TVXQ bisa ikut tampil."

Presdir Baek cukup terkejut mendengar penuturan Jaejoong. Ia tidak menyangka Jaejoong meminta hal tersebut. Meskipun perselisihan dengan SME sudah usai, bukan berarti Presdir SM itu akan membiarkan Jaejoong sepanggung dengan artisnya. Apalagi duo TVXQ.

Presdir Baek tersenyum tipis, "Aku akan mengusahankannya. Tapi aku tidak bisa janji."

"Terima kasih, Hyung!" seru Jaejoong dengan senyuman yang tidak biasa.

.

.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

.

.

"Bagaimana keadaan pahlawanku, eoh?" Yoochun mengambil kursi lalu duduk di samping ranjang Hero.

"Hero sudah sembuh, Paman! Tapi Papa tidak membiarkan Hero pulang. Hero bosan di sini," ucap Hero panjang lebar dengan sesekali mengerucutkan bibirnya.

Yoochun tersenyum, "Tapi Hero memang masih harus dirawat."

Hero menghela nafas, "Paman sama saja dengan Papa dan Ayah."

Yoochun terdiam mendengar kata Ayah dan papa keluar dari bibir bocah kecil itu. Ia berpikir sejenak sebelum mengeluarkan selembar photo dari balik jasnya.

"Hero yah!" ujarnya lirih sambil menyerahkan photo tersebut.

"Ini photo siapa, Paman?" Hero menerima photo tersebut lalu memandangnya.

"Itu Kim Jaejoong!"

"Benarkah?" teriak Hero girang, "Penyanyi itu?"

Yoochun mengernyit, "Kau tahu dia, Hero yah?"

"Papa sering memutar lagunya diam-diam." terang Hero dengan ceria. Ia nampak berpikir sejenak lalu mencoba menyanyikan lagu yang sering papanya putar itu, "sarang sarang nal beorigo gan sarang."

Yoochun mengelus rambut Hero dan memandang wajah yang nampak senang itu.

"Kau mengenalnya, Paman?"

"Iya!" Yoochun kembali terdiam, "Hero yah, jika kukatakan bahwa Kim Jaejoong adalah-"

"Apa yang coba kau katakan pada Hero, Hyung?"

Ucapan seseorang di ambang pintu memotong ucapan Yoochun. Yochun menoleh ke ambang pintu sesaat lalu kembali menatap Hero.

.

.

.

To be Continue

.

Thank's to:

Flowerinyou, ClouDyRyeoRez, mochi, xxx