Chapter 2: Interlude

Oke! Akhirnya selesai jujga! Whui!

EnJoY~

DREAM ON

Rate : T

Genre : Fantasy, Adventure, Supranatural, Crime, Angst, Family

Character : Naruto U.

Author : Marsilea2510

Desclaimer : I don't own anything, its Masashi Kishimoto's

Warning : Typo(s), Oc's, OOC, dll

Summary :

Bukannya mundur dari pertempuran, Madara Uchiha atau Tobi kembali menyerang usai penyegelan dan Kekkei diruntuhkan, lalu berusaha mengambil bayi Naruto. Namun kesalahan terjadi dan Naruto terkirim ke dimensi lain. AU


Kiiro menatap pemandangan di depannya dengan takjub, 'Ini dimana?'

Di depannya saat ini ada sebuah kota tradisional yang sangat besar. Berbeda dari Kota Kyoto atau Tokyo, di sini tak ada gedung pencakar langit yang ada hanyalah gedung berarsitektur aneh di tengah-tengah kota yang menjadi gedung tertinggi. Warga kota juga berpakaian berbeda, ada yang memakai kaos dan celana katun normal, tapi ada juga yang memakai pakaian tradisional seperti Kimono Tsumugi dan Kinagashi. Ada juga gunung yang berukir empat wajah yang sangat besar. Dan ada juga orang-orang yang melompat dari atap ke atap-.

"Nani? Bagaimana mereka bisa melakukannya! Sugoi~!"Kiiro berteriak dengan bersemangat, meninju kedua tangannya di udara. Ia kemudian berlari mengikuti orang yang berlari di atap itu secepat yang ia bisa dengan kaki pendeknya. Baginya ini adalah pemandangan unik dan luar biasa, bahkan di tv pun ia tidak pernah lihat hal seperti ini. Kalau ada tempat seperti ini di Jepang pasti akan diliput tv kan?

"Hayate! Kau sedang apa di sini? Bukankah kau sedang sakit? Lebih baik tinggalkan saja semua ini ke Genma, aku yakin dia tidak akan keberatan." Seorang laki-laki berompi hijau, bercelana hitam dan memakai sebuah kain di kepalanya melompat dan mengejar seorang lainnya yang berpakaian sama. Mereka berhenti di salah satu atap sebuah toko roti dan saling berbicara dengan santai, seakan mereka sedang berada di atas tanah bukannya di atap yang miring itu.

"Tsk, aku sudah terlalu lama absen, aku ingin melakukan misi, lagi pula mungkin Hokage-sama hanya memberiku misi rank-C." Orang bernama Hayate itu menelengkan kepalanya sedikit,"kau sendiri, kau tidak ada misi?" Hayate memandang orang di depannya dengan tatapan malas.

'Eh? Misi?'

"Ahh," orang itu menggaruk kepalanya dan tertawa ragu,"Aku baru saja pulang dari misi tadi malam, dan lagi pula, aku sedang ada janji." Melihat temannya yang tersenyum mesum, ia segera mengalihkan pembicaraan, "Ah sudahlah! Lupakan! Ingat kau harus jaga dirimu, kau tahu 'dia' sangat menyeramkan kalau sedang khawatir. Hah! Aku tidak sabar menunggunya menjadi ANBU, dia berencana menjadi ANBU kan?"

Hayate tersenyum miring, "Kau takut padanya?"

Laki-laki itu memandang sekitarnya dengan waswas lalu berbisik, "Kau gila? Dia itu moster! Entah kenapa semua wanita cantik pasti menyeramkan sepertinya, seperti Tsunade-sama yang memiliki kekuatan super itu. Dan kau juga belum pernah melihatnya menghajar Ebisu kan? Yugao itu mengerikan! Aku benar-benar tak tahu kenapa kau bisa bersama dengannya!" orang itu berbicara dengan teriakan keras di akhir.

"Khem!"

Orang itu menegang.

"Pagi Yugao, sedang apa kau di sini?" Hayate tersenyum lebar kepada seorang wanita yang berdiri tepat di belakang laki-laki itu. Kelihatan sekali dia sangat menikmati ketegangan temannya itu menghadapi pacarnya.

Yugao memiringkan kepalanya dan menatap orang itu dengan tatapan mematikan. "Aku janya sedang berjalan-jalan, kau tahu? Lau tiba-tiba aku mendengar seseorang berbicara bahwa aku ini monster. Benar begitu eh, Yukio?"

Yukio yang mendengar namanya di sebut semanis itu, langsung bergidik, ia langsung mengerti arti dari nada itu, "Err tidak, tidak, bukan begitu maksudku. Oh ya, aku harus latihan, aku lupa tadi. Chakraku sangat ingin digunakan!" katanya mulai menggerak-gerakkan tangannya dengan gerakan aneh. "Baiklah! Aku pergi dulu!" lalu Yukio pun pergi, melompat dari satu atap ke atap lainnya dengan sangat cepat.

Kiiro menatap mereka dengan mata terbuka lebar. Ia masih belum mengerti sepenuhnya apa yang di bicarakan oleh tiga orang berpakaian aneh tadi, tapi ia menangkap beberapa kosa kata aneh. Apa itu 'Chakara'? Apa itu 'Hokage'? Ia tidak pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya, bahkan anak-anak Panti yang sudah dewasa pun juga tak pernah menyebutkan kata-kata itu dan yang pasti, mereka tidak pernah sama sekali lompat setinggi itu!

Ia terus menjelajahi 'Konoha' dengan pandangan takjub. Sebagian kota ini benar-benar terlihat normal seperti sebuah desa pada umumnya, namun sejauh ini ia sama sekali tidak melihat ada kendaraan beroda yang melintas di jalanan utama. Selain itu, pohon pohon di sini sangat besar melebihi pohon pohon di sekitar Panti Asuhan. Semua di sini sangat berbeda walaupun beberapa baru sekali ini ia pernah lihat.

Apa ini kota superman?

Sebenarnya ia ada dimana?


"Kiiro-kun! Apa yang sedang kau lakukan?" seorang wanita paruh baya berambut coklat gelap berjalan mendekati seorang anak berambut pirang yang sedang menyendiri di taman.

Anak laki-laki berumur 3 tahun itu tidak menjawab. Ia berbalik dan memunggungi pengasuh itu, sementara pengasuh muda itu mendesah pelan dan menyerah atas usahanya untuk membujuknya bersosialisasi.

Sudah lebih dari 3 tahun Kiiro berada di bawah pengawasan para pengasuh Panti Asuhan Himawari, dan sudah selama itu pula, mereka mencari tahu siapa orang yang telah tega meninggalkan bayi pirang itu di pinggir hutan yang jauh dari keramaian. Tak ada jejak kaki, sidik jari, atau apa pun. Tidak ada sama sekali. Itu seperti Kiiro muncul tiba-tiba saja dari udara kosong. Dan semua tahu, itu mustahil. Namun tetap saja, gosip menyebar mulai dari yang aneh sampai yang benar-benar tidak masuk akal sekalipun. Ada yang mengatakan, Kiiro adalah anak dari seorang miko dengan orang asing, anak dari seorang mata-mata asing, anak seorang artis Eropa yang di buang saat tour, anak seorang turis, anak Sosano'o, anak Zeus, atau pun anak roh pelindung hutan tersebut. Benar-benar nonsense.

Kiiro adalah anak yang aneh menurut para penghuni Panti. Bukan hanya penampilan yang 'eye chatching' tapi juga karena sikapnya yang tak bisa dibilang normal. Ia mempunyai rambut kuning cerah, kulit tan, mata sebiru langit tak berawan, dan yang paling unik adalah trademarknya yang berupa tiga garis hitam tipis di pipi kanan dan kirinya seperti kumis kucing. Mungkin bila ia berada di tempat yang berbeda,-negara yang berbeda, ia tidak akan semencolok itu selain garis-garis di pipinya. Namun, ia berada di Jepang, negara Asia dengan ciri-ciri khas yang sangat mencolok; mata gelap, rambut gelap, dan kulit kuning. Ia benar-benar sangat kontras dengan teman-teman seusianya.

Awalnya, Kiiro adalah anak yang 'normal', senormal yang dapat dilakukan seorang anak nyentrik berpenampilan cerah di lautan manusia berpenampilan gelap. Namun seiring waktu, semua itu berubah saat ia menyadari betapa berbedanya ia dari teman-temannya. Ia mulai mengunci dirinya. Ia selalu menjauh dari perhatian yang lain, diam dengan tatapan aneh di terpasang wajahnya. Ia selalu bertanya yang aneh dan tidak masuk akal. Apa itu 'chakra'? Apa itu Hokage? Dan seterusnya. Mereka benar-benar tidak mengerti maksud si Pirang kecil itu.

Namun, betapa pun berbedanya ia, banyak calon orang tua yang ingin mengadopsinya. Mulai dari kalangan atas nan elit sampai ke pasangan pedagang Ramen di pinggir Kota Kyoto. Dan banyak pula alasannya. Ada yang mengatakan ia sangat lucu, imut, unik, cerdas, jenius, enigma, dan sebagainya. Dengan berbagai cara juga dilakukan oleh para calon orang tua asuh, menggoda dengan harta, akting, menawarinya dengan barang mewah, menyogok pengurus Panti atau pun menjebaknya untuk menerima. Namun diantara semua itu, yang paling mendekati adalah pasangan penjual Ramen. Ya. Ramen, makanan berlemak dan berkarbohidrat tinggi yang memiliki rasa super lezat yang tiada tandingannya itu.

Namun, sampai saat ini, belum ada satu pun permintaan adopsi yang diterimanya. Dan tak ada yang tahu mengapa.

Kiiro menatap punggung seorang pengasuh wanita yang baru saja mendekatinya. Wanita itu selalu baik padanya. Semua baik padanya. Dan ia selalu tahu kenapa.

Ia aneh.

Teman-temannya selalu mengatakannya, betapa ia sangat aneh dan para orang dewasa hanya kasihan padanya. Ia tahu semua pandangan yang dilemparkan kepadanya. Tatapan mata yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, tertarik, cemas, dan kasihan. Seperti ia adalah sejenis fosil hidup yang patut dipublikasikan dan diteliti, kemudian dikurung sebagai tontonan, terus dipandangi, dan diperlakukan seperti bayi. Mengerikan.

"Ugh! Kenapa sih? Apa yang salah dengan rambut kuning? Kuning itu keren! Kenapa! Kenapa!" Kiiro berteriak diantara lipatan tangannya.

Ia benci menjadi berbeda. Apa salahnya menjadi berbeda?

"Kiiro-chan..."

Ia berbelik dan mendongak untuk menatap sosok yang membayanginya dari atas. Seorang wanita tua berkeriput berlutut di depannya dengan ekspresi sendu. Tangannya terulur perlahan, seolah meminta izin padanya untuk menyentuhnya.

"Ohara-obaachan?"tanyanya lembut.

Di sekian banyak orang yang memperlakukannya seperti makhluk aneh, Ohara-obaachanlah yang paling mengerti tentang keadaannya. Katanya dulu, Ohara-obaachan dan Kaito-nii yang menemukannya pertama kali saat badai besar. Ia jadi penasaran, katanya juga namanya diambil dari warna kilat yang ada saat itu. Apa warnanya benar-benar sekuning rambutnya? Apakah ayah atau ibunya yang memiliki warna sama? Apa mereka masih ada?

"Kiiro-chan? Ada apa?" Ohara-obaachan menyentuh dahiku dengan punggung tangannya,"kamu tidak apa-apa nak?"

Ia menggeleng cepat.

"Baiklah, ayo kita makan Tempura!"

Kiiro tersenyum lebar untuk pertama kalinya hari itu. "Hai! Obaa-chan!"


-Empat tahun kemudian-

Kiiro lagi-lagi terbangun tengah malam. Ia memandang sekitarnya dengan was-was. Ruangannya masih sama, tembok oranye, satu meja di sisi kanan, satu lemari di ujung kiri ruangan dan satu set meja belajar di tembok sebelah kirinya. Tidak ada orang selainnya di sana dan ia bersyukur karenanya kalau tidak mereka pasti sudah mengocehinya habis-habisan.

Ia menggeleng kepalanya yang terasa berat itu dengan cepat. Sudah beberapa hari ini ia terbangun dengan mimpi buruk yang bahkan ia tidak ingat setelahnya. Benar, ia sering mendapat mimpi aneh, tapi ia selalu mengingatnya, sedangkan yang satu ini tidak. Sebenarnya apa yang salah dengannya?

Ia menggeleng lagi, berusaha menghilangkan pikirannya yang tidak tidak. Saat ini ia sudah berusia 7 tahun, ia harus berani!

Kiiro pun turun dari kasurnya dan pergi keluar kamarnya menuju dapur yang ada di lantai dasar. Suasana sepi di koridor menyambutnya begitu ia menapakkan kaki dari kamarnya. Sudah lama sekali Panti Asuhan ini menjadi sepi karena satu persatu banyak anak yang diadopsi oleh para orang tua asuh. Sebenarnya ia juga bisa melakukannya, namun ia ingin tinggal dengan satu-satunya orang yang ia anggap sebagai keluarga, Ohara-obaachan. Dan kini hanya tinggal lima orang yang menempati bangunan tua ini, ia, Ohara-obaachan, Yui-nee, Daiguchi-san, dan Isa-nee.

Ia membuka kulkas di dapur dan mengambil sebotol air mineral di dalamnya. Ia memandang sekelilingnya dari ujung matanya. Terlalu sepi, ia merasa malam ini terlalu tenang, ia jadi merasa ketakutan. Kiiro mencoba bereksperimen dengan berjalan mengelilingi dapur tiga kali. Suara langkah kakinya terdengar sangat keras di telinganya, menggema di ruangan kecil itu. Ia melingkarkan tangannya di perutnya, berusaha mengusir rasa takut yang membuatnya mual.

Ia mendesah kesal. Ada apa sebenarnya? Ia tahu kalau ia sendiri memang seorang anak kecil, baru 7 tahun, tapi ia lebih dewasa di bandingkan dengan anak-anak seusianya. Dan ia tahu instingnya selalu tepat. Kali ini, ia benar benar merasa ketakutan, instingnya menyuruhnya untuk berlari, tapi kakinya tak mau bergerak. Ia memandang sekitarnya sekali lagi.

Dapur berukuran 4x3 meter itu sangat gelap dengan bayang-bayang samar dan cahaya redup bulan purnama bersinar lewat jendela yang menghadap ke halaman belakang. Meja dan kursi telah tertata rapi, tak ada piring kotor maupun sampah yang berserakan. Sama sekali tidak ada yang ganjil di sini. Tapi tetap saja, ia merasa terancam. Bulu kuduknya berdiri di tengkuknya. Apa ada hantu? Tapi kata Ohara-obaachan hantu itu tidak ada. Lalu apa? Kenapa seperti ini?

Tap tap tap.

Kiiro menatap ke arah tangga dengan mata lebar, jantungnya berdetak kencang tak karuan dengan keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia berjalan mundur, menoleh ke sekitar ruangan mencari benda yang dapat ia gunakan untuk membela diri. Ia teringat pada salah satu mimpi anehnya di sebuah desa bernama Konoha dan orang-orang di sana yang bertarung menggunakan senjata bernama 'Kunai'. Benda itu mirip pisau dengan bentuk yang berbeda, tapi tetap saja mirip dengan pisau yang ia tahu.

Tap.

Ia semakin gelisah. Dengan ekstra hati-hati, ia membuka semua kabinet dapur dan mencari pisau yang ia cari tanpa suara. Ia tahu para orang dewasa pasti menyembunyikannya dari jangkauannya, karena ia yang terlalu terobsesi dengan gaya hidup ninja yang gemar melempar benda tajam. Jadi pasti pisau-pisau itu ada di kabinet bagian atas. Tapi ia tak bisa menjangkaunya. Tingginya yang hanya 110 cm benar-benar membuatnya tak mampu meraih benda yang berada lebih dari ketinggian 1.5 meter. Tapi ia harus bisa, lebih tinggi, lebih tinggi-.

Brak.

Ia membeku.

Ia sama sekali tak mampu untuk berbalik, takut pada apa yang telah menantinya di ujung tangga.

"Lho? Kiiro? Sedang apa kau bangun semalam ini?" terdengar suara khas yang dalam dan sedikit serak yang ia kenal.

"Dai-daiguchi-san?" Kiiro mendesah lega dengan suara yang masih bergetar, ia berbalik perlahan dan mendapati orang yang ia kenali benar-benar di sana dengan alis yang terangkat sebelah. Ia memperhatikan laki-laki berusia 20 tahun itu memakai pakaian tidurnya yang hanya berupa kaos katun putih dan celana jeans selutut, dengan rambut coklat karamelnya yang berantakan ia tahu laki-laki itu juga tidak bisa tidur sepertinya.

"Hn,"Daiguchi mengangguk singkat,"Kau tidak bisa tidur eh Gaki?"

Kiiro mengerucutkan bibirnya, "aku bukan 'Gaki'."

Sementara itu Diguchi hanya tersenyum singkat yang dengan cepat digantikan oleh wajah seriusnya. "Kau merasakanya kan?" ia memandang anak di seberangnya itu dengan serius. Ia tahu Kiiro adalah anak yang spesial sejak pertama ia datang ke Panti Asuhan ini untuk menemui ibunya yang menjadi pemilik yayasan. Anak itu memiliki penglihatan dan pikiran yang sangat tajam, pintar dan sedikit keras kepala.

"Eh? Merasakan apa?" anak berambut pirang itu menatapnya aneh.

Dan tadi ia berpikir anak pirang itu pintar. Apa dia salah?

"Tch, jangan pura-pura bodoh denganku gaki, aku tahu otakmu itu bisa saja seumuran denganku."

"Huh? Apa maksudmu otakku tua? Kau yang tua Daiguchi-ojisan!" Kiiro langsung membekap mulutnya begitu ia menyadari ia telah membentak dengan suara tinggi.

"Sshh!" Daiguchi berdiri tegang, matanya mencari sesuatu yang janggal di dalam dapur yang gelap gulita itu, dan mulai berbicara dengan suara pelan begitu memastikan keadaan aman. "sudah kuduga, kau pasti mengerti." ia menunjuk tangan yang membekap mulut itu dengan gerakan samar kepalanya.

Kiiro melepaskan bekapan mulutnya dan menatap lantai. Jantungnya masih berdetak kencang membentur rusuknya, keringat dingin makin membasahi sekujur tubuhnya. Ia mengambil napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Ada sesuatu, entah apa itu, yang akan terjadi. Dan firasatku berkata itu sangat buruk," ia mendongak menatap mata hitam laki-laki yang berdiri di seberang meja, "aku ingin lari," ia berusaha menelan ludah yang tersangkut di kerongkongannya dengan susah payah, "tapi tidak bisa."

Daiguchi mengangguk, "aku juga."

Mereka pun terdiam, menajamkan telinga mereka untuk menangkap tanda-tanda bahaya yang mungkin akan mendekat. Daiguchi menatap Kiiro dengan tatapan menganalisa, ia dapat melihat dengan jelas walaupun keadaan sangat gelap dengan bulan sebagai sumber cahaya satu-satunya, Kiiro memiliki postur tubuh yang ramping untuk seorang anak kecil sepertinya dengan otot yang kuat dan agak pendek. Matanya yang biru bersinar dalam gelap seperti dua batu Safir yang terkena cahaya lampu. Tapi di bawah mata birunya itu, ia melihat lingkaran hitam samar yang menandakan kurang tidur selama beberapa hari.

"Ne, gaki? Sudah berapa lama kau tidak tidur?" ia bertanya masih dengan cara berbisik.

Kiiro mengerutkan keningnya. Berapa kali ia harus mengatakan kepada paman aneh ini kalau di bukan 'gaki'? dan lagi, dari mana dia tahu kalau ia kurang tidur? Apa dia punya semacam telepati? Ia membuka mulutnya untuk membalas perkataan Daiguchi, "Dari mana kau tahu, D-,"

Pyar! Buk!

Keduanya menegang seketika.

Daiguchi melirik Kiiro dari ujung matanya dan berkata dengan sangat pelan hingga anak pirang itu hampir tak dapat mendengarnya. "Kau. Tunggu di sini, jangan melangkah sedikit pun dari tempatmu berdiri. Mengerti?"

Kiiro menatapnya dengan tatapan tidak percaya lalu memincingkan matanya, "Tidak akan. Aku ikut."

Ia menggeram, sudah ia katakan kan, kalau anak ini keras kepala? Sepertinya sudah tapi parahnya, yang ini keras kepalanya melebihi kerasnya baja. Mana ada anak kecil yang sok berani seperti itu? Anak normal pasti langsung lari ketakutan. Dan dia? Oh well, lupakan. Di tidak normal.

"Bagaimana kalau aku bilang tidak, dan kau menuruti perintahku, hah? Gaki?"

Kali ini, Kiiro yang menggeram, "Hentikan! Pokoknya aku mau ikut. Titik."

"Tsk, keras kepala." Gumam Daiguchi saat ia mulai menapakkan kakinya di anak tangga pertama. "Tapi, jika aku bilang lari, kau harus lari apa pun itu. Dan jangan sekali pun kau melihat ke belakang. Mengerti, Kiiro?"

Sementara itu, Kiiro mendongak, kaget melihat mata hitam Daiguchi-san menatapnya lembut dan tulus.

Tapi ia tak menyukainya sama sekali. Kata-kata itu terdengar seperti perpisahan baginya.

"Jangan bicara seperti itu, aku tidak akan lari. Aku tidak takut pada apa pun." Tapi aku takut kehilangan segalanya.

Daiguchi menatapnya dengan tatapan membunuh. "Kalau kubilang lari, ya lari."

"Tidak."

"Tsk, kau menyebalkan bocah."

"Aku bukan bocah."

"Berapa umurmu?" oke, sekarang Daiguchi benar-benar kesal tingkat dewa-,tidak belum, mungkin masih setingkat Mt. Everest, walaupun sebenarnya ia ingin mencekik anak ini sampai dia mau menuruti kata-katanya.

"Tak perlu bertanya, kau pasti sudah tahu."

"Bukan itu intinya. Bagiku kau tetap bocah sampai kau benar-benar dewasa dan menikah, baru kuakui kau."

"Hm, kau juga belum menikah, Daiguchi-san. Itu artinya kau juga masih bocah."

Oke, kali ini ia benar-benar mencapai tingkat dewa. "Huh, terserah kau saja. Tapi, jangan sampai kau terkena masalah karena ini. Aku tidak mau disalahkan." Ia menatap anak di belakangnya yang sedang tersenyum lebar itu dengan kesal.

Ia tak tahu bagaiamana kaa-sannya sanggup bertahan hidup selama tujuh tahun dengan anak ini.

Huh, pasti itu mukjizat.

Prang!

"Aish, kuso!" Daiguchi mempercepat langkahnya dengan sumpah serapah meluncur dari bibirnya yang pucat pasi. Dia benar-benar khawatir sekarang setelah tahu dari mana asal suara-suara itu.

Dari kamar Ibunya.

"Kuso!" umpatnya dengan marah. Siapa yang ada di sana?

Saat berada di ujung tangga, ia langsung berlari menuju kamar ibunya yang tertutup rapat.

"Kaa-san! Kaa-san! Kau tidak apa-apa di sana?" ia berteriak dan menggedor pintu sekeras yang ia bisa.

"Dai!" ia mendengar ibunya berteriak. Teriakan keputus asaan yang membuat lututnya lemas dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ada apa ini? Apa yang terjadi?

"Kaa-san! Buka pintunya!" ia terus menggedor pintu.

"AAKKHH!"

Seluruh tubuh Daiguchi kini benar-benar membeku. Sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin yang tidak berhenti mengucur deras dari pori-pori kulitnya. Wajahnya pucat pasi seperti mayat. Ia kini benar-benar bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam. Tapi tetap saja, ia tidak bisa membayangkannya secara jelas, karena kini, pikirannya hanya diselimuti dengan perasaan takut yang membuatnya seperti di dalam air. Tenggelam, tak bisa bernapas, tak bisa bergerak, tak berdaya, dengan pandangan kabur yang tak jelas.

Bang!

Deiguchi tersentak dari parasaan tak berdayanya dengan tekad baru. Ia siap menghadapi apa pun itu yang ada di balik pintu. Ia langsung berbalik menghadap anak kecil yang berdiri tepat di belakangnya dengan ketakutan.

"Lari. Sembunyi."katanya dengan nada datar, berusaha menjaga ketenangannya. Saat ini yang lebih penting adalah keselamatan Kiiro. Ia tahu siapa pun itu pasti mengincarnya, mengincar Ohara Daiguchi, pewaris sah harta dan perusahaan Ohara. Kalau memang itu alasannya, ia tahu siapa pelakunya.

Kiiro menggeleng cepat. Samar-samar ia tahu apa yang terjadi karena ia sendiri sering melihat film-film horor. Dan ia dapat mencium bau kematian, tidak, sebenarnya ia sendiri tak yakin bau kematian seperti apa, atau bagaimana kematian bisa berbau. Tapi mungkin, kematianlah arti dari bau ini. Bau darah segar yang tercecer. Samar samar juga ia mencium bau mesiu. Bagaimana ia bisa menciumnya, ia sendiri tidak tahu. Yang pasti, semua itu hanya berarti satu;bahaya.

"Aku tidak akan pergi tanpa Oji-san." Katanya dengan gejolak ketakutan yang hampir tak bisa ia kontrol.

"Kiiro, dengar," Daiguchi berbisik dengan tegang,"orang ini mengincarku, kau tidak akan pernah selamat selama aku bersamamu. Karena itu, larilah. Biarkan aku mengurus semua ini."

"Tapi-."

BRAK!

"Lari!"

Kemudian, semuanya terjadi begitu cepat.

Pintu terbuka dengan kasar, menampakkan seorang laki-laki dewasa dengan rambut dan mata hitam yang memancarkan kekosongan, kegilaan, dan kegelapan. Orang itu memakai stelan jas coklat muda yang telah dinodai oleh bercak-bercak hitam dari atas sampai bawah. Namun, bila dilihat lebih teliti, bercak-bercak itu terlihat lebih seperti darah yang berwarna merah tua dari pada hitam. Ia membawa tali dan pisau di tangan kanannya dan pistol di tangan kirinya.

Daiguchi melangkah mundur, kedua tangan di saku celananya. Matanya melebar dan tubuhnya terlihat jelas bergetar hebat.

"Eh, lihat siapa yang kutemukan." Orang itu tersenyum sadis-, senyum lebar yang mengerikan. Suara orang itu terdengar serak dan berat yang terdengar dingin bukannya hangat seperti kebanyakan orang. "Ohara Daiguchi." Orang itu menyebutkan nama Daiguchi dengan amarah yang terpendam.

"Cih, Kamisuke Toba. Apa yang kau lakukan? Aku tak tahu kau benar-benar pecundang yang hanya bisa bekerja dengan tangan kotor."Daiguchi membalas perkataan pria itu dengan nada mengejek. Ia dalam hati berdoa-, bukan, berharap setinggi-tingginya pada Kami-sama, anak bodoh yang bernama Kiiro itu sudah pergi dari lantai ini, atau mungkin rumah ini. Dan ia juga berharap setulus-tulusnya, dengan bahunya yang lebar dan tubuhnya yang tinggi, ia dapat menyembunyikan keberadaan Kiiro dari pandangan Toba. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri bila anak sekecil Kiiro sampai terbunuh di tangan Toba. Bisa mati ia untuk kedua kalinya di alam kubur nanti bila bertemu dengan Ibunya, ia tahu wanita tua itu telah lama menganggap Kiiro sebagai cucunya sendiri.

Toba tersenyum lebar, menampakkan giginya yang putih. "Kau, adalah satu-satunya penghalangku untuk merebut harta keluarga Ohara. Sekarang matilah!" dia mengarahkan pistolnya ke kepala Daiguchi.

Daiguchi tersenyum tipis, "Aku tak semuda itu kau bunuh." Ia pun bergerak. Dengan gerakan cepat, ia menendang tangan Toba yang memegang pistol, namun Toba tetap menggenggam erat pistolnya dan tak sengaja menembak ke salah satu vas di pojok ruangan. Ia tetap bergerak mendekat, masuk ke area jangkauan tangan, sehingga ia tak tertembak oleh pistol yang diacungkan oleh Toba. Pistol hanya untuk jarak jauh, pikir Daiguchi dengan tersenyum miring.

Ia terus bergerak memutari Toba sekaligus menghindari tembakan. Di ujung matanya ia melihat Kiiro yang masih terpaku di tempat. Sial! Anak bodoh itu akan membunuh dirinya sendiri dengan berada di tempat yang sama, apalagi, Toba dengan pikiran kotornya juga dapat membuat anak kecil itu sebagai umpan untuk membunuhnya. Sial.

Dengan susah payah, Daiguchi menutupi Kiiro dari pandangan Toba. Namun ia telah melupakan satu senjata lagi yang di bawa oleh Toba, pisau lipat kecil yang tajam yang ada di tangan kanannya. Sesaat ia tak merasakan apa pun, tapi kemuadian, rasa sakit yang tak tertahankan mulai terasa di lengan kiri atasnya disertai dengan rasa mual, pusing, dan ekstasi yang terjadi karena pendarahan hebat. Secara instan, tangan kanannya berusaha menutupi luka itu dan menghentikan pendarahannya. Ia tak boleh mati di sini.

"Heh, masih mencoba melawanku, Daiguchi-kun?"

Daiguchi berusaha mengatur napasnya yang kini tak karuan beserta detak jantungnya yang sangat cepat. Ia butuh ketenangan untuk menghadapi Toba, tapi dengan luka sebesar ini, rasanya hampir mustahil. "Cih, jangan pernah panggil namaku dengan –kun seperti itu. Aku tidak sudi."

Toba tersenyum sadis. "Masih belum menyerah juga? Bagaimana kalau ini?" ia mengarahkan pistolnya melewati kepala Daiguchi ke arah Kiiro.

Kali ini, Kiiro benar-benar jujur kepada dirinya sendiri, ia bahkan berani bersumpah bahwa untuk kali ini, ia benar-benar ketakutan. Ia ingin lari dengan kecepatan maksimalnya sebelum orang gila itu sempat menembaknya. Tapi bagaimana dengan Daiguchi-san? Jika ia berlari, ia akan meninggalkan Daiguchi-san sendirian melawan psikopat ini. Tidak bisa. Ia harus membantunya. Tapi bagaimana caranya?

'Dasar bodoh! Gunakan chakramu!'

Chakra? Apa itu akan berhasil?

'Kalian ingin tim kalian selamat dalam misi kan?'

Bukan tim, karena ia jelas-jelas tak punya tim. Tapi benar, jika ini sebuah misi, maka Daiguchi-san adalah timnya yang harus ia lindungi.

'Kalau begitu, gunakan otak dan chakra kalian dengan semaksimal mungkin.'

Iya! Tapi bagaimana?

'Chakra adalah bagian dari tubuh sekaligus jiwa kalian. Semua orang memiliki chakra, bahkan penduduk biasa juga memilikinya. Hanya saja dengan kapasitas yang berbeda dan lebih kecil dan lemah dari ninja terlatih.'

Bagian dari tubuh dan jiwa? Energi? Tapi apa bisa? Isa-nee bilang sema itu hanya mimpi kan? Apa akan berhasil?

'Semua dimulai darI niat dan kepercayaan kalian.'

Oke, yang itu bukan dari mimpi anehnya, tapi dari Azusa-sensei, guru Tknya.

Baiklah akan ia coba!

Kiiro menutup matanya dan berkonsentrasi. Ia harus meraih enegi yang ada dalam tubuhnya, energi yang terasa hangat dan menyebar ke seluruh tubuhnya dan terfokus di jantung dan perutnya.

Sementara itu, Daiguchi menggumamkan sumpah serapahnya. Apa ada orang yang berdiam diri di depan musuh dengan menutup matanya? Tidak ada, kecuali bila orang itu ingin mati. Apa ada orang yang bersemedi saat pertempuran? Tidak ada, kecuali orang itu ada di barisan paling belakang atau hanya ingin mati lebih cepat. Apa ada orang yang hanya berdiam diri saat diacungi senjata? Tidak ada, kecuali bila orang itu bodoh, arogan, atau ingin mati. Apa ada orang yang tak sayang nyawanya? Banyak, satu diantaranya adalah anak ingusan yang bernama Senko Kiiro yang bodoh, idiot, tak berotak, gila, bodoh, idiot-, yang dua terakhir itu sudah.

Intinya, anak itu benar-benar cari mati.

Tidak bisakah dia berlari saja dan menyelamatkan diri selagi bisa? Tidak bisakah dia mencari tempat bersembunyi selagi bisa? Tidak bisakah dia menurutinya sekali saja? Tidak bisakah dia tidak keras kepala sekali saja? Tidak bisakah dia menyayangi nyawanya sendiri?

Rupanya jawabannya;tidak, tidak, tidak, tidak, dan tidak.

Ia benar-benar menyesal menyebutnya pintar tadi.

Toba tersenyum sinis ke arah anak kecil berambut pirang itu yang rupanya hanya ingin mati dan menyerah begitu saja. "He, rupanya anak kecil itu hanya ingin mati, iya kan Daiguchi-kun? Bagaimana menurutmu? Aku tembak kau dulu atau anak ingusan itu dulu? Terserah, kau boleh memilih." Katanya dengan santai.

Daiguchi benar-benar kesal setengah mati. Orang ini sudah arogan, idiot pula. Tch, dasar, tentu saja Tou-san tak akan memilihnya sebagai penerus, perusahaan pasti langsung bangkrut begitu jatuh di tangannya. "Kau arogan sekali, eh? Kamisuke-san?" dan idiot, jangan lupakan itu.

Musuhnya sekaligus penyanderanya itu tersenyum licik. "Hah! Seperti kau sendiri tak sombong ne? Ohara-san?"

Bagus, lebih lama lebih bagus. Setidaknya ia harus terus berbicara menunggu bocah bodoh itu sadar dan lari. Setelah itu, paling tidak ia akan mati tenang nantinya. "Bagaimana kau bisa berpendapat begitu? Setahuku kau tak pernah secabang denganku." Ia berkata dengan pelan dan tenang, agar setiap kata-katanya masuk dengan benar di otaknya yang eror itu.

"He, semua orang membicarakanmu. Daiguchi-san ini, Daiguchi-san itu. Aku benar-benar muak mendengarnya."

"Huh? Kau iri?" Idiot! Bocah bodoh! Cepat sadar dan lari!

"Iri? Apa katamu? Untuk apa aku iri kepada orang yang mau mati?"

Brengsek! Bocah brengsek! Kalau aku masih hidup setelah ini, kucincang kau! "Tapi bukankah jika polisi menemukanmu sebagai pelaku, kau tak akan dapat hartanya kan?"

"Hn, kalau aku tak mendapatkannya, maka orang lain juga tidak akan mendapatkannya."

Kau mau aku mati hah? Gaki?"Pemikiran bagus, tapi egois."

"Hm, bagaimana kalau aku saja yang memutuskan? Bicaramu banyak sekali, membuatku pusing, ayo kita selesaikan secepatnya, agar kau dapat beristirahat dengan tenang di alam baka nanti." Toba memindahkan tangannya dan menunjuk kepalanya dengan pistol. "Aku pilih kau yang pertama."

"Grr, kau-,"

BLAR! BRUK!

"Ah! Sialan! Apa-apaan...kau..." kata-kata Toba menghilang semakin kecil bersamaan dengan nyalinya yang semakin ciut. Di depannya, bukan lagi anak ingusan yang ketakutan itu lagi, tapi seorang monster, demon, setan, apalah itu. Yang pasti dia bukan manusia. Mana ada manusia yang bercahaya biru?

"Kau!" anak itu menunjuknya dengan tatapan mematikan, "akan kuhabisi kau sebelum kau sempat menyentuh Daiguchi-ojisan!"

"Dia sudah menyentuhku, gaki...akh! aish, sakit sekali." Di pojok ruangan Daiguchi meraung kesakitan karena kapalanya yang terbentur lantai dengan keras.

"Huh? Aku bukan 'gaki'! ah terserahlah!" ia pun mulai menyerang Toba dengan tinjunya.

Di sisi lain, Daiguchi yang terluka dan kehilangan banyak darah hanya bisa mamandang dengan horor. Ia benci tak dapat melakukan apa-apa, apa lagi bila yang dihadapannya adalah anak kecil yang sedang mempertaruhkan nyawanya. Untuk sekali ini, ia benar-benar membenci ibunya. Untuk apa membangun panti asuhan di pinggir hutan seperti ini jika itu hanya akan membuat polisi datang lebih lama? Tidak ada saksi ataupun bantuan. Bukankah itu akan mempermudah aksi kriminalitas?

ia terus mengawasi jalannya 'pertarungan' yang ada di depannya. Entah bagaimana Kiiro dapat bergerak dengan sangat cepat dan bersinar kebiruan-,tentu saja, ia menyalahkan kepalanya yang pening dan pandangannya yang kabur,mana ada manusia yang dapat menyala seperti lampu neon? Tidak ada kan? Dengan kecepatan barunya anak itu dapat menghindari semua tembakan. Terlalu dekat untuk menembak, tapi cukup jauh untuk menghindari pisau yang diarahkan padanya. Anak itu dengan mudahnya keluar dan masuk area defensif Toba dengan gerakan yang mulus untuk seorang amatiran. Sudah beberapa kali ia mendapati Kiiro menendang kepala dan perut Toba, tapi orang itu tetap saja sadar dan berusaha menembak Kiiro, padahal ia sendiri mendengar suara 'Krack' berkali-kali.

Siapa sebenarnya Kiiro? Dari mana dia belajar semua itu?

DOR!

Ia terpaku. Tubuhnya kali ini benar-benar kaku dan mati rasa. Perlahan ia menoleh ke arah kirinya, tepatnya bahu kirinya yang kini telah berlubang karena tertembak. Kemudian rasa sakit merambat keseluruh tubuhnya, menariknya dari alam sadar, tapi tidak, Kiiro masih membutuhkannya. Dia harus sadar sampai semua ini berakhir, walaupun prosentase harapan hidupnya kini menurun drastis dari 62% ke 21%. Ia hanya memiliki sedikit darah yang cukup membuatnya bertahan untuk tetap sadar, tapi untuk bertahan hidup-,tidak.

"ARGH!" terdengar suara erangan kesakitan yang sangat keras. Awalnya ia mengira itu suara Toba, tapi ternyata itu adalah suaranya sendiri. Heh, ironis.

"Kau!"

Dengan pandangan berkunang-kunang, ia berusaha untuk terus melihat dan mengawasi Kiiro. Entah kenapa sekujur tubuh Kiiro berubah menjadi merah. Ah, apa matanya juga ikut berdarah?

Seiring dengan hilangnya kesadarannya sedikit-demi sedikit, ia melihat bagaimana Toba yang marah sekaligus ketakutan, mengarahkan pistolnya ke arah Kiiro.

"Kau-kau demon! Matai saja kau!"

DOR!

Kiiro membuka matanya yang tertutup karena refleks. Ia mengantisipasi rasa sakit di kepalanya atau dadanya, tapi ia mulai menyadari bahwa yang ia rasakan hanyalah rasa hangat yang menyelimutinya. Rasa hangat dari 'chakra' merah yang meluap keluar karena amarahnya. Tapi tidak ada lagi. Pusing? Lelah? Sakit? Perih mungkin? Tidak.

Di depannya, orang yang sangat ia kenal jatuh limbung begitu saja dengan darah yang mengalir deras dari lengan, bahu dan dadanya. Begitu banyak darah sampai lantai di sekitar mereka pun basah karenanya.

Sesaat Kiiro tertegun. Ia mulai merasakan rasa sedih yang mendalam saat melihat mayat Daiguchi di depannya. Kenapa dia-orang yang aneh dan menyebalkan harus diselamatkan? Bukankah lebih baik ia saja yang menerima tembakan peluru tadi? Bukankah lebih baik jika Daiguchi saja yang hidup sehingga dia dapat meneruskan perusahaan keluarganya, warisan ayahnya? Bukankah selama ini itu yang Daiguchi inginkan bukan? Tapi kenapa dia sampai repot-repot menyelamatkannya? Apa untungnya menyelamatkannya? Tidak ada.

Marah, itulah yang ia rasakan pertama kali. Bukan, bukan marah yang tadi, tapi kemarahan murni dengan tekad kuat untuk membunuh sumber amarahnya. Lalu benci, mungkin yang satu ini muncul karena amarahnya juga. Dan...kosong, mungkin juga karena amarahnya yang begitu dalam, atau mungkin karena ia tak tahu harus berbuat apa.

'Bunuh dia.'

Eh?

'Bunuh orang yang telah membunuh Daiguchi.'

Tapi aku tidak mau membunuh siapa pun!

'Bunuh dia atau kau di bunuhnya.'

Memang siapa kau?

'Khukhukhu, itu adalah masalah yang harus kau cari tahu sendiri.'

Lalu semuanya menjadi semerah darah. Ia tak tahu apa yang terjadi. Rasanya seperti tenggelam, jatuh, tenang, dan tidak bisa melakukan apa pun. Ia melihat lewat permukaan air di atasnya ada wajah Toba yang ketakutan, mata dan mulutnya terbuka lebar dengan suara teriakan keras yang tak dapat di dengarnya dengan jelas. Lalu kilatan merah dan oranye. Ia melihat sesuatu juga, tangan seperti cakar dengan cahaya merah pekat yang keluar dari kulitnya, tangan itu terulur ke arah Toba dengan sangat cepat dan merobek lahernya. Darah merembes keluar dari seluruh luka di tubuh Toba.

Ia ingin mengatakan 'jangan' pada tangan itu. Tapi untuk apa? Bukankah Toba pantas untuk menerimanya? Dia sudah membunuh seluruh penghuni Panti, kecuali dirinya. Dia pantas menerima semua rasa sakit itu. Lagi pula ia juga menyelamatkannya kan? Menyelamatkannya dari panjara, penyesalan dan penderitaan dunia. Ia sama sekali tak salah melakukannya.

Kiiro mengikuti dengan diam-diam empat orang di depannya. Ia tahu tak ada orang lain yang dapat melihatnya atau mendengarnya, menyentuh saja tidak. Ini hanya mimpi. Mimpi aneh yang selalu ia ingat. Mimpi yang sangat unik yang menyebabkannya menjadi seorang fans fanatik ninja. Ia ingin mempercayai semua ini nyata, tapi tentu saja, harapan bodoh itu hancur begitu ia membuka mata nanti.

Ini hanya mimpi.

Dan tak pernah kenyataan.

Harusnya saat ini ia sudah dapat menerimanya.

Ahh, betapa bodoh dan egoisnya ia.


"Sensei, kemarin Kotetsu membunuh seorang ninja. Apa itu sebenarnya tidak apa-apa?"

Seorang laki-laki dewasa dengan jaket rompi hijau, kaos lengan panjang biru tua dengan lambang spiral di lengan kanannya, celana panjang dengan warna yang sama, dan sandal yang ia lihat dipakai oleh ninja lainnya. Orang itu tersenyum.

"Oh, begitu. Pantas saja kau diam terus hari ini, Kotetsu."

Anak yang bernama Kotetsu itu hanya terdiam.

"Membunuh itu sebenarnya tidak boleh. Apalagi jika itu adalah teman setimmu sendiri maupun orang–orang desa Konoha yang sudah kita anggap sebagai keluarga. Membunuh orang yang tidak bersalah juga tidak boleh."

Ketiga anak itu berpaling secara bersamaan ke arah senseinya, menengarkannya dengan teliti dan mencerna semua kata-katanya.

"Lalu kenapa kita membunuh, sensei?" kali ini Kotetsu yang bertanya.

Senseinya kini tersenyum kecil. "Karena sudah tugas kita untuk melindungi desa dan klien kita. Kita tidak perlu membunuh jika orang itu tidak terlalu berbahaya, tapi jika orang itu mulai menyakiti seseorang yang harusnya kita lindungi...kupikir kalian sudah tahu jawabannya."

"Kemarin,"Kotetsu mulai berbicara dengan ragu-ragu,"ninja Kumo itu hampir membunuh Izumo dengan jurus elemen tanah dan hampir membunuh Kuzushi-san-, klien kita. Apa itu tidak apa-apa sensei?"

"Nah Kotetsu, kalau itu sensei sangat setuju padamu."


Ya. Itu jawabannya.

Kiiro merasakan kepalanya sangat berat, dan pandangannya kabur. Ia merasa sangat lelah. Dan...panas.

Panas?

Oh ya, kilatan oranye tadi. Api.

Ia akan mati, terkubur bersama reruntuhan bangunan yang salama ini menjadi rumahnya bersama orang-orang yang ia anggap sebagai keluarga dan orang yang baru saja ia bunuh. Ia tidak keberatan. Ia pantas menerimanya. Bukan begitu?

Kiiro menutup matanya tanpa tahu apa yang datang di hari esok. Matikah ia?


Suara sirine yang sangat keras memecah keheningan malam. Jalanan gelap di depan mereka sangat kontras dengan kesunyian dan ketegangan yang terjadi. Tak ada yang berani berbicara maupun membuat suara. Cahaya merah, biru, dan kuning menerangi daerah sekitar mereka. Pohon, pohon, rumah, pohon, pohon, pohon, rumah, pohon lagi dan lagi. Begitu banyak pohon yang menandakan mereka memasuki wilayah terpencil.

Ah, kasus lagi.

Malam ini beberapa mobil polisi dan ambulans dikerahkan menuju tempat kejadian perkara yang terletak di pinggir hutan kota Kyoto. Semua anggota kepolisian dan tim medis tampak tegang. Sejak panggilan telepon misterius itu, semua sudah bersiap untuk yang terburuk.

Ia ingat sekali waktu itu. Sekitar 45 menit yang lalu.


"Yamada-san ini sudah sangat malam, pulanglah."

Seorang pria berpakaian polisi lengkap yang duduk di meja resepsionis menganglat kepalanya dan memandang lawan bicaranya dengan tatapan tak percaya.

"Tapi pak, tugas saya hari ini belum tuntas, saya harus menyelesaikannya sekarang."

Ia memandangnya dengan tenang, orang ini sangat keras kepala.

"Kalau begitu istirahatlah. Aku bisa melihat warna hitam di sekitar matamu. Berapa lama kau tidak istirahat, hah?"

"Eh, lima hari?"

"Sudah istirahat sana!"

"Tapi pak-."

Istirahat. Saya tidak mau seorang bawahan yang hanya mementingkan tugas tapi tidak sama sekali dengan kesehatannya. Kau tahu itu tidak baik."

Yamada hanya mendesah berat. Ia melihat pria itu meminta izin padanya ke kamar mandi dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sudah lama ia kenal dengan Yamada dan ia tahu betul dengan sifatnya itu. Kalau ia sendiri sampai begitu, istrinya sudah pasti akan mengulitinya dan menceramahinya sampai semua pelajaran itu masuk ke kepalanya kata perkata. Uh, menyeramkan sekali. Ia sendiri heran bagaimana bisa ia menikah dengan istri seperti itu.

Kring! Kring!

Ia mengerutkan alisnya. Jarang sekali ada yang telepon malam-malam seperti ini. Apa ini keadaan darurat?

"Eh, lihat siapa yang kutemukan." Terdengar suara seseorang di seberang sana dan suara gemerisik sejenis kain. "Ohara Daiguchi."

Ada apa ini?

"Cih, Kamisuke Toba. Apa yang kau lakukan? Aku tak tahu kau benar-benar pecundang yang hanya bisa bekerja dengan tangan kotor." Terdengar balasan dari suara orang lain. Dari ketegangan yang terdengar dan suara gemerisik kain ia menduga bahwa ini asli dan sangat penting. Sepertinya Ohara Daiguchi yang di sebutkan ini adalah korban dengan Kamisuke Toba sebagai tersangka dibuktikan dengan suaranya yang terdengar jauh dan lebih samar. Sepertinya si korban dengan sangat cerdik menghubungi nomor polisi secara tersembunyi saat berhadapan dengan tersangka, tahu bahwa nyawanya dalam bahaya bila si tersangka sampai tahu bila dia menghubungi mereka.

Ah cerdik.

"Kau, adalah satu-satunya penghalangku untuk merebut harta keluarga Ohara. Sekarang matilah!"

Baik, itu adalah kalimat konfirmasi yang paling jelas yang ia terima. Ini juga mengkonfirmasi atas nama yang ia dengar. Ohara Daiguchi, seorang pria muda penerus keluarga Ohara. Karena kematian ayahnya dua bulan yang lalu, kemungkinan besar si 'Daiguchi' ini akan mengambil haknya sebagai anak langsung dari Ohara Hisagi untuk memimpin perusahaan dalam beberapa waktu ini. Dan ini artinya gawat.

"Kisuke! Masuda! Cepat cari lokasi nomer telepon ini! Ada kasus pembunuhan! Cepat lakukan!"

"Apa kau yakin pak?"

Ia menggeram, "Kubilang cepat lakukan!"


Ya, seperti itu. Kali ini ia benar-benar kasihan dengan seseorang yang bernasib sama dengan Yamada. Dan kali ini, ia masuk dalam golongan itu.

Tsk, merepotkan.

"Nara-san, kita sudah sampai."

Lebih cepat lebih baik.

"Terima kasih, Kosugi-san."

Ia hanya bisa berharap Yoshino tidak marah padanya kali ini. Yah, sungguh merepotkan.


Daftar arti kata:

Kimono Tsumugi : Kimono non formal bagi wanita.

Kimono Kinagashi : Kimono non formal bagi Pria.

Gaki : bocah

Obaachan : nenek

Ojisan : paman


A/N : whui lama sekali~ tapi review masih dikit? :'(

readers! review please? ayolah! Revieaw!

*dilempar samehada*

Kisame : hehhehe...