-Preview Chapter 2-

"Maksudku... Berkencan satu malam dan aku akan membayarmu."

Baru saja Kai akan mengeluarkan pendapatnya ketika kemudian seseorang memanggilnya.

"Kim."


VOLARE 03 [KaiSoo ff]

Present by RoséBear

Warning: Everything include in the rating applies to the level of language, adult content and sexual situation in this story. GS!

Disclaimer : Just a fanfiction! [Create :170819; publish: 180209]


Malam yang begitu indah dengan bulan yang bercahaya, dia bahkan sudah berdandan begitu cantik untuk menggoda seorang pria. Polesan lipstik merah dan rambut di tarik ke atas mempertunjukkan lekukan lehernya. Tapi apa yang Kyungsoo dapatkan? Secangkir Americano dan?

Lelaki itu baru saja memandang tidak suka pada seorang pria. Arah pandangan Kyungsoo segera bergegas menatap ke samping, kini ia bisa melihat seorang lelaki berpakaian rapi dengan tas kerja di malam hari. Rambut hitam yang di sisir ke atas melambangkan dedikasi terhadap sesuatu yang dia cintai, -pekerjaan. Namun Kyungsoo tidak tertarik. Ia memilih memutar bola mata bosan mengalihkan padanganan ke floor dance ketika lelaki itu bicara pada pemberi secangkir Americano, -Kai. Mata bulatnya mencoba menemukan sosok Baekhyun, tapi sepertinya sosok cantik itu telah di telan kenikmatan malam.

"Begitu sulit menemukanmu? Bagaimana kau bisa membuatku harus bekerja di malam hari?"

Kyungsoo kembali menarik perhatian untuk kedua orang di dekatnya. Ia perhatikan bagaimana Kai menyajikan segelas bir untuk pelanggan barunya. Kyungsoo tampak tidak tertarik dengan perbincangan yang akan mereka ciptakan, namun sebagian kecil dirinya ingin bergabung walau ia sadar tidak ada cela.

"Bukankah kau harus kembali ke rumah? Semua akan lebih baik ketika kamu bisa bicara dengan saudara..."

Tapi saat itu sosok seorang pemuda muncul dari balik pintu pada sisi ruang para bartender. Sosok seorang pemuda yang membuat Kyungsoo mendengus kesal.

"Kai! Aku membutuhkanmu!" Tapi perkataannya terhenti saat menyadari siapa pria yang kini mulai duduk di sebelah Kyungsoo.

Seperti membatu. Keempat orang itu diam tidak memiliki perbincangan. Sampai ketika lelaki berpakaian rapi ini menarik senyum kecil.

"Sehun? Lama tidak berjumpa. Aku mendengar pertunanganmu..."

"Kai aku benar-benar membutuhkanmu."

Ketika itu Sehun menarik Kai keluar dari bagian para bartender meninggalkan kedua orang itu.


"Kau mengenal mereka?"

Kyungsoo mengambil bagian dalam kejadian itu. Dia segera mendapat respon, tapi tatapan menyelidik membuatnya kesal dalam satu detik.

Segera ia menarik coat yang tadi masih di bawanya, menutupi bagian tubuhnya dari tatapan penuh content pertanyaan.

Pada dasarnya Kyungsoo bukanlah wanita yang membuka bagian tubuh, dia masih merasa tidak nyaman tapi untuk menemui Kai? Kyungsoo membutuhkan sesuatu yang terbuka.

Lawan bicaranya menopang kepala dengan tangan, hendak bertanya namun kemudian dia mengambil jeda memperhatikan Kyungsoo sampai satu kalimat tanya meluncur.

"Apa kau menyukainya?"

Pertanyaan yang membuat Kyungsoo memalingkan wajah, tentu saja jawabannya adalah iya. Dia menyukai bartender yang mereka panggil 'Kai' tersebut.

Tapi reaksi berikutnya membuat Kyungsoo ingin menyiram lelaki ini dengan Americano di dalam cangkirnya.

"Lupakanlah. Dia tidak akan tertarik pada wanita sepertimu."

Tapi sebelum itu terjadi, pria itu meninggalkan uang untuk minumannya dan pergi menjauhi Kyungsoo.

Pernyataan barusan seperti menyadarkan jika Kai adalah seorang gay. Kyungsoo benci walau dia sudah melihatnya apalagi tadi pria yang sama memanggil Kai menjauh darinya.


Kyungsoo melompat turun dari kursi dengan emosi yang memerlukan suhu dingin, floor dance bukan tempat yang menarik. Tidak ada alasan untuk pergi ke toilet dan dia tidak memiliki rencana apapun untuk sekarang. Dia tidak tahu apa-apa, seharusnya seseorang memberitahu Kyungsoo jika jatuh cinta itu membuatnya sakit, itu adalah hal biasa.

Dia ingin marah dan berkata itu milikku dan bukan milikmu, tapi faktanya Kyungsoo tidak memiliki Kai. Bahkan pria itu menolak berkencan dengannya malam ini.

Kyungsoo hanya merasa sedih dengan perasaannya, bagaimana dia bisa menyukai lelaki itu dengan begitu cepat? Kekecewaan membawa langkah kaki Kyungsoo ke luar dari bar. Udara dingin menjadi yang pertama menyapa. Berjongkok di bagian luar bangunan. Membiarkan beberapa kendaraan melewatinya. Wanita itu sepertinya tidak menyadari kondisi di mana dia berada.

"Hey! You're wanna going with us?"

Suara-suara ajakan seperti itu telah terdengar beberapa kali oleh telinga Kyungsoo. Tapi dia tidak peduli. Sebuah mobil Nissan altima putih berhenti di hadapan Kyungsoo.

Seorang pria yang kemudian membuka kaca jendela, lelaki yang cukup tampan untuk bisa di ajak berkencan.

"Satu malam bersamaku?"

Oh astaga!

Kyungsoo baru menyadari di mana dia berada. Bagian luar bar ketika malam hari sedikit mengerikan. Di mana para pelacur jalanan menawarkan diri untuk satu hingga beberapa jam bercinta di dalam mobil bahkan berakhir di motel terdekat.

Star bar avenue adalah hal terburuk yang tidak pernah dia inginkan, itulah kenapa Baekhyun tidak mengizinkan Kyungsoo meninggalkan tempatnya. Bagian luar bar terkadang lebih berbahaya daripada di dalam dan Kyungsoo seperti tikus percobaan dengan beberapa mangsa yang siap mengejar.

Baru saja dia ingin menolak karena Kyungsoo sedang tidak menginginkan pria manapun ketika sebuah tarikan membuat tubuhnya terangkat.

"Ikut denganku."

Suara berat nan menggoda membuatnya menggila, seolah memanfaatkan pikiran dan cukup menyadarkan Kyungsoo jika Kai adalah pria yang menariknya.

"Kau mau membawaku kemana?"

"Bukankah kau ingin bercinta denganku?"

Detik itu Kyungsoo terdiam. Tidak! Malam ini dia hanya ingin berkencan bukan bercinta.

Ia ingin menghentikan kegilaan malam ini, tapi dia mengalami situasi yang sulit ketika Kai membawanya ke bagian lain jalan dan memberhentikan taxi.

"Kita akan kemana?"

"Aku butuh bantuanmu. Jika kau membantu, aku akan bercinta denganmu."

Saat itu tawa Kyungsoo lepas mendengar perkataan Kai. Tapi tubuhnya telah terdorong masuk.

Astaga! Kenapa menjadi begitu mudah? Dia tidak mengharapkan hal semacam ini. Kai bertanya apanya yang lucu dari ucapannya membuat Kyungsoo mencoba menenangkan diri.

"Jawab saja aku. Kau akan membawaku kemana?"

Kai memilih diam, lebih pada mengutak atik ponselnya.

"Hey! Kau harus memberi jawaban padaku," ia mulai kesulitan mengtaur emosi. Padangan dari sepasang mata bulat Kyungsoo jelas menuntut jawaban.

Tapi jawaban yang Kyungsoo butuhkan ada di pemberhentikan mereka, sebuah bagian toko yang telah tutup. Tapi Kai terlihat menghubungi seseorang, dan dengan segera pintu terbuka. Seorang pria yang cukup cantik namun juga tampan menyambut kehadiran mereka.

"Tolong perbaiki penampilan wanita ini."

Mata bulat yang menggemaskan itu menatap Kai penuh tanda tanya besar. Tubuhnya terdorong ke bagian dalam dan segera mendapati begitu banyak pakaian tergantung ataupun terpasang di manekin.

"Kai? Kau mengubah seleramu?"

Pertanyaan dari pria yang setengah mengantuk sedang mendandani wajah Kyungsoo pada meja rias minimalis di bagian lain ruang toko mendapat teriakan kecil di mana Kai sedang berganti pakaian.

"Lakukan saja tugasmu!"

Kyungsoo terpesona sesaat dengan penampilannya, terlihat begitu cantik dan lihatlah pria yang tadi hanya mengenakan kaos hitam dan jeans telah ikut bertransformasi menggunakan jas hitam serta celana dasar. Jangan lewatkan bagian rambut yang berhasil di tata ke belakang. Dia sudah terlihat tampan dan semakin mempesona setiap kali sentuhan baru diberikan.

Taxi yang telah menunggu mereka membawa keduanya ke hadapan sebuah restoran, Kyungsoo berpegangan pada lengan Kai ketika tubuhnya terhuyung saat turun dari taxi.

"VOLARE." Dia membaca papan nama restoran. Terkesan lembut dengan warna peach dari beberapa tangkai mawar serta dua ekor burung merpati yang terbang, terlukis di dalamnya.

"Anggap ini sebuah kencan."

Kyungsoo tidak akan lupa perkataan Kai sejak mereka berada di dalam taxi. Siapa yang akan mereka temui? Sepertinya Kai membutuhkan kencan dengan seorang wanita dan bukan dengan pria. Membuat Kyungsoo membulatkan tekad.

Ini adalah bagian terbaik yang melintas di pikiran Kyungsoo. Pertumbuhan seorang anak laki-laki dipengaruhi oleh teman-temannya. Jika dia berhasil mendekatkan diri pada Kai, kemungkinkan untuk menyadarkan lelaki ini menjadi manusia yang lurus sangatlah besar.

Tolong beritahu Kyungsoo untuk berhati-hatilah. Dia tidak tahu bagaimana karakter pria yang kini membawanya masuk ke bagian lain restoran tepatnya sebuah ruangan di mana mereka benar-benar bisa merasakan kencan yang sesungguhnya telah terbentuk.

Sebuah kencan yang di bayar dengan kenikmatan bercinta.

Tidak berhenti Kyungsoo memandangi bagaimana Kai begitu mendominasi di antara mereka, -seolah dia kekasih yang sesungguhnya.

'Kai! aku benar-benar membutuhkanmu!'

Tiba-tiba saja perkataan pria di bar membuat Kyungsoo gelisah. Oh astaga, baru beberapa menit yang lalu dia menyepakati dengan diri sendiri jika ia bisa mengubah karakter Kai menjadi pria lurus kembali.

"Ada apa denganmu Kyungsoo? Kenapa kau begitu gugup? Aku rasa ini bukan kencan pertamamu kan?"

Tentu saja bukan. Kai bukanlah pria pertama yang berkencan dengan Kyungsoo. Bahkan jika mereka benar-benar melanjutkan pada sesi bercinta maka Kai juga bukan pria pertama yang bercinta dengan Kyungsoo. Dia telah mendapatkan pengalaman itu beberapa tahun yang lalu ketika tinggal di New York. Kota besar yang telah mengubah pikiran Kyungsoo, tapi kemudian dia menyadari jika pria New York sama sekali tidak bisa memiliki komitmen yang sama dengan budaya Timur. Mereka melakukan kencan satu malam penuh, tidak untuk pertemuan selanjutnya. Sementara Kyungsoo, untuk terakhir kali dia menginginkan pria sesungguhnya. Menatap begitu iri bagaimana adiknya telah menikah beberapa bulan lalu.

Bukankah Kai terlihat sebagai pilihan yang tepat?

Cinta karena nafsu adalah cinta pada status yang paling rendah, tapi jika di pelihara dengan baik maka dia akan menjadi cinta yang paling hebat karena telah memiliki dasar luar biasa.

Kyungsoo memahami itu seminggu yang lalu dari sebuah buku dialog yang dia beli.

Kembali lagi bagaimana kini Kai masih menanti jawaban Kyungsoo, wanita itu segera tersenyum. Ia tampil begitu cantik dalam balutan gaun biru tanpa lengan dan rambut terurai bergelombang.

"Apa kau benar-benar akan bercinta denganku?"

Suaranya adalah bisikan menggoda ketika memajukan wajah dan mendekatkan mulut pada telinga Kai. Ia memperhatikan bagaimana pria ini kemudian menarik diri dan bersedekap tangan sembari mereka menunggu pelayan menghampiri.

"Something is wrong?"

Kyungsoo memutar bola matanya mendengar pertanyaan Kai. Apa artinya dia bercanda dan mereka hanya akan mengakhiri malam dengan sebuah kencan biasa? Tanpa lilin dan nuansa remang-remang seperti yang di harapkan otak kotor Kyungsoo.

"I feel disappointed with the service of you."

Kai melepaskan tangannya, ia meraih wajah Kyungsoo untuk mendekat.

"Really? I don't know. Bagaimana jika benar-benar bercinta denganku malam ini?"

Jantungnya benar-benar bekerja sangat baik, terlalu baik hingga seorang pelayan harus menghentikan percakapan mereka. Kai bicara dengan pelayan itu, suaranya benar-benar jernih saat memesan beberapa makanan yang Kyungsoo tidak terlalu pahami. Tapi dia menyukai setiap kata yang Kai ucapkan. Pelayan itu awalnya sedikit terkejut melihat Kai tapi dia tetap sopan melayani perkataan Kai.

"Apa kau ini seorang tuan muda?"

Kyungsoo memberanikan diri bertanya. Tapi Kai hanya menggeleng pelan.

"Apa pernah melihat seorang tuan muda bekerja keras untuk membiayai hidupnya?"

Kyungsoo memberi jawaban singkat dan cepat, "aku selalu melihatnya pada novel yang kuselesaikan." Kai sedikit terkejut dengan jawaban Kyungsoo. Seolah memberitahu Kai apa pekerjaan Kyungsoo, "Jadi kau adalah penulis novel? Pembaca atau?"

Kyungsoo mengeram mendengar komentar Kai, kenapa sekarang mereka membicarakan dirinya? Kai sangat pandai memutar balikkan keadaan membuat Kyungsoo mendengus kesal. "Aku bekerja pada sebuah perusahaan penerbit sebagai seorang editor sampai kemudian aku di tarik kembali oleh kedua orang tuaku ke negara ini, dan sekarang mereka bilang aku tidak punya pekerjaan."

Tidak ada keraguan ketika dia bicara karena memang begitulah pikiran Kyungsoo.

"Wahh syukurlah aku menemukanmu bersama seorang wanita."

Kyungsoo dikejutkan oleh sebuah suara yang mendekat. Seorang lelaki berjalan mendekati mereka dari belakang Kyungsoo membawa nampan berisikan beberapa makanan pembuka. Terlihat menggugah selera.

Ingin Kyungsoo berteriak dan mengatakan jika dia berkencan dengan pria ini untuk mendapatkan satu malam di ranjang sementara teman pria Kai mungkin menunggu di ranjang yang lain. Oh astaga! Pikiran kotor itu benar-benar bertahan begitu lama di otak kecil Kyungsoo.

"Seberapa baik kau telah memperbaiki masakanmu Suho?"

Terlihat orang itu itu kemudian menyusun makanan mereka.

"Kau bisa menikmatinya Kai. Mungkin appatizer ini tidak semanis kekasihmu. Tapi jika dia hanya benar-benar kekasihmu."

Kai maupun Kyungsoo terdiam kemudian tersenyum canggung atas percakapan singkat barusan. "Silahkan dinikmati sembari menunggu hidangan utama."

Ia tetap menjaga kesopanan sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan kecanggungan di antara mereka. Kyungsoo mengambil gelas berisikan air dan meneguknya menghilangkan kekeringan di tenggorokkan.

"Aku pernah bekerja di sini sebagai seorang pelayan."

Mata bulatnya melirik Kai karena satu kalimat pendek barusan. Begitu menggemaskan seolah pikiran Kyungsoo dengan mudah bisa terbaca. Ia hampir saja tersedak air minumnya sendiri karena prasangka barusan.

Makan malam hari itu seperti kencan pada umumnya, terdengar ketukan sendok pada piring ataupun seruputan air. Tidak ada musik, tidak ada lilin aromaterapi yang bisa meningkatkan gairah hanya menyisahkan sebuah kecanggungan.

"Bagaimana jika kau benar-benar menjadi kekasihku?"

Kyungsoo memberanikan diri bertanya membuat Kai yang sedang mengelap sisa makanan penutup melirik. Bibirnya tertarik mendengar pertanyaan Kyungsoo. Ia perhatikan wanita itu kini, sangat cantik dalam balutan gaun tanpa lengan serta rambut panjang bergelombang dengan hanya sedikit make up. Kai bahkan tidak penasaran bagaimana wajah Kyungsoo, dia sudah melihat itu saat mengantar wanita ini ketika tidak sadarkan diri.

Dan sekarang dia seperti remaja yang sedang jatuh cinta.

"Jangan bercanda. Aku harus bekerja supaya bisa bertahan hidup."

Kai melempar sapu tangan ke meja dan menarik diri ke senderan kursi.

Malam sudah terlalu larut, tapi jalanan tidak pernah sepi oleh pengendara dan restoran ini memiliki banyak pengunjung di akhir pekan.

"Kau bisa bekerja di ranjangku."

Ingin Kai tertawa geli mendengar perkataan Kyungsoo.

Ia memajukan wajah mendekatkan bibirnya pada Kyungsoo.

"Apa kau benar-benar tertarik padaku? Berikan aku alasan yang masuk akal kenapa aku harus menjadi kekasihmu?"

Ia tidak berpikir bahkan untuk satu detikpun, hanya saja semua jawaban yang dia butuhkan telah terbentuk sejak jauh-jauh hari, mungkin jawaban itu bisa terdengar masuk akal ataupun tidak bahkan terkesan biasa saja.

"Kau tampan dan membuatku penasaran."

Tidak!

Tidak pernah ada wanita yang mengatakan hal semudah ini kepada Kai. Ia menjadi bingung harus memberikan jawaban bagaimana. Tidakkah Kyungsoo begitu polos? Hingga Kai melayangkan pertanyaan berapa banyak pria yang telah tidur dengannya? Jawaban mengejutkan kembali dia dapat.

"Ketika di New York aku menghabiskan akhir pekan bersama pria berbeda. Hanya ketika mendapatkan waktu."

Faktanya Kyungsoo hanya pernah tidur dengan tiga pria selama hidupnya. Pekerjaan tidak memberinya waktu di akhir pekan, itulah kenapa dia menikmati menjadi pekerja lepas selama dua bulan ini. Hanya saja ketika tiba mendapatkan malam yang panjang, ia justru tidak mendapatkan lelaki.

Lelaki itu membuat respon di diluar kendali otak, ia mengeram mendengar jawaban Kyungsoo. Setengah mengumpat ia juga mengakhiri makan malam hari itu.

"Kalau begitu mari hilangkan rasa penasaranmu itu."

Sebuah signal luar biasa. Kyungsoo segera mengikuti langkah kaki Kai. Berjalan tepat di belakang tanpa membuat jarak yang akan memisahkan mereka, membiarkan pria itu membayar makan malam mereka.

Tanpa Kyungsoo sadari beberapa orang memperhatikannya dengan seksama, tapi dia tidak merasakan semua perhatian berlebihan itu, wajah Kyungsoo menunjukkan betapa dia telah jatuh cinta pada lelaki yang kini mengapit jarinya dan berjalan keluar restoran.

Kai membawa Kyungsoo berjalan di sebelah bangunan restoran, menarik tubuhnya secara mengejutkan ke dinding. Kepala mungil Kyungsoo berada dalam kedua telapak tangan Kai. Pria itu mendekatkan wajah, mencium Kyungsoo bahkan membuat wanita itu setengah berjinjit akibat tarikan bibir Kai. Merasakan gigitan kecil pada ciuman yang begitu memabukkan.

Jemari Kyungsoo memegang kedua sisi jaz yang masih Kai kenakan, sementara kepalanya mendongak mendapatkan ciuman panas. Mengabaikan bagaimana sesaknya ketika tubuh terhimpit antara seorang pria dan bangunan tembok.

Kyungsoo terlalu menikmati ciuman Kai. Begitu panas dan juga dalam, merasakan lidah lelaki itu mengaduk seisi mulutnya. Oh Tuhan. Dia menyukai setiap gerakan yang telah Kai ciptakan ketika mereka berciuman.

Pria itu melepaskan tautan bibir mereka. Tersenyum senang menyaksikan bagaimana wajah Kyungsoo memerah akibat aliran darah yang mulai tersumbat dan udara panas yang hanya ada di sekitar mereka. Kai memasukkan satu jari telunjuknya pada mulut Kyungsoo sementara tangan satu memegang rahang Kyungsoo membuatnya mendongak dan mau tidak mau menikmati pergerakan jari telunjuk Kai pada mulutnya. Tubuh Kyungsoo bergetar, dia berpegangan kuat pada sisi pakaian Kai berusaha menopang tubuhnya sendiri. Mata terpejam erat dan Kyungsoo kehilangan mainan singkatnya. Berganti dengan sesuatu yang lebih menggoda. Kai menciumnya kembali, merasakan bibir tebal lelaki itu melumatnya, membuat suara kecipak saliva. Berakhir dengan sebuah kecupan singkat di bawah lampu jalan yang memberi cahaya atas gelapnya langit malam.

"Bagaimana jika ke tempat tinggalmu?"

Kyungsoo bertanya pada Kai. Terlihat pria itu berpikir sebentar sebelum menyetujuinya.

"Aku ini tunawisma walau seseorag mengizinkan aku tinggal dengannya, tapi malam ini dia tidak akan kembali. Kau bisa mendapatkan pelayananku di sana."

Kai berani berkata begitu karena mengingat perbincangannya dengan Sehun beberapa saat yang lalu sebelum menemukan Kyungsoo berjongkok di luar bangunan bar.


~ RoséBear~


Kyungsoo sangat terkesan dengan tempat tinggal Kai, walau di dalam hati dia merasa sesak mengingat Kai menyebutkan seseorang yang telah tinggal bersamanya.

Woahhh

Sebuah apartemen yang begitu luas. Kai membiarkan Kyungsoo melakukan hal yang dia inginkan sementara pria itu pergi ke minimarket terdekat.

Pilihan pertama Kyungsoo adalah kamar mandi, dia harus menghilangkan rasa gugup.

Kamar mandi arus jet.

Ia mendapatkan sensasi nikmat dan beraroma menyegarkan dari dalam kamar mandi. Sabun cair beraroma caring olive oil dan aloe vera, oh astaga betapa Kyungsoo menikmati aroma lembut yang kini menyatu dengan tubuh telanjangnya. Ia juga membilas rambut, berusaha menghilangkan aroma ginger dan coklat yang nyatanya tidak bisa hilang begitu saja.

Menikmati kehidupan di tempat orang lain, Kyungsoo merasa telah tertular sebagian dari diri Baekhyun. -saat itu dia teringat akan temannya, bukankah tadi Baekhyun melarangnya pergi. Apa yang telah dia lakukan. Kyungsoo bergegas meraih handuk dan keluar dari kamar mandi.

Thump!

Ia bergerak canggung ketika mendapati Kai berdiri bersender pada sebuah nakas dan menatap Kyungsoo dari ujung rambut hingga kaki yang membawa air membasahi lantai kamar.

Secara samar Kyungsoo tidak bisa melihat Kai meneguk salivanya sendiri melihat seorang wanita setengah telanjang di hadapannya, jangan lupakan tatapan polos Kyungsoo.

"Ka-Kai?" Ia bertanya gugup karena terkejut.

"Ya. Senang melihatmu benar-benar siap. Aku hanya ke minimarket membeli kondom dan saat kembali melihatmu..." Ia berjalan mendekat membuat Kyungsoo mundur.

Hampir saja wanita itu terjungkal ke belakang karena terpeleset jika saja Kai tidak segera sigap menahan tangan Kyungsoo. Membawanya ke dalam sebuah pelukan. Merasakan detak jantung Kyungsoo yang tidak beraturan.

"Wahh hati-hati Kyungsoo. Kepalamu bisa terbentur jika terjatuh."

"A-aku harus menghubungi temanku. Dia akan sangat khawatir... Yeah, aku datang ke bar bersama..."

Tapi wajah Kai mendekat, sementara tangannya telah melingkar di pinggang sempit Kyungsoo. Ketika bicara, bibir lelaki itu menyentuh bibir Kyungsoo.

"Kurasa temanmu sedang menikmati malam panjang di atas ranjang. Byun Baekhyun? Itu nama temanmu bukan?"

Jantung Kyungsoo berpacu mendengar perkataan Kai. Darimana dia bisa mengetahui nama lengkap Baekhyun. Oh Kyungsoo, tentu saja Kai tahu. Tadi malam saat kau tidak sadarkan diri dia telah berkenalan singkat dengan Baekhyun.

Lalu Kai mengeluarkan ponsel dari saku celana yang setengah basah karena dia berada begitu dekat dengan Kyungsoo. Rupanya ponsel Kyungsoo ada pada Kai ketika berganti pakaian di tempat pemberhentikan mereka sebelumnya.

'Kyung, aku tidak bisa menghabiskan malam denganmu. Seseorang menginginkanku, -Byun Baekhyun.'

Kyungsoo bisa membaca pesan Baekhyun. Bibir atasnya terangkat kesal mendapat pesan singkat itu.

"Kenapa kau harus memikirkannya ketika sudah bersamaku?"

Ketika itu Kyungsoo di sadarkan dengan kehadiran Kai. Dia tersenyum canggung, membelai dada Kai yang hanya terlapisi kemeja hitam berlengan panjang.

"Tentu saja. Kita bisa memulainya setelah aku berganti pakaian."

Alis Kai terangkat dan dia memandang Kyungsoo, menggeleng pelan membuat hidung mereka kembali bersentuhan.

"Aku pikir kau tidak membutuhkan pakaianmu Kyungsoo."

Pelan, lelaki itu membawa Kyungsoo berjalan mundur hingga tiba di sisi ranjang berseprai putih. Tubuh Kyungsoo dibiarkan duduk di pinggir ranjang. Beringsut naik dengan sendirinya sementara Kai sama sekali tidak membuat jarak berlebihan di atas Kyungsoo.

Ketika di kepala ranjang, tangannya membawa jemari Kyungsoo menyentuh dirinya. Kai mengakui sesuatu yang kemudian membuat kesalahpahaman meningkat.

"Kau adalah wanita pertama yang bercinta denganku. Bagaimana aku harus memperlakukanmu?"

Sejenak Kyungsoo terperangah atas perkataan Kai.

Jadi dia pernah bercinta dengan pria itu? Oh Kyungsoo! Tentu saja itu alasan kenapa mereka telah tinggal di satu atap.

Sementara kenyataannya Kai benar-benar pertama kali akan melakukan hubungan seksual dan itu adalah dengan Kyungsoo.

"Aku akan menuntunmu Kai."

Kyungsoo mengangkat kepalanya, mengecup bibir tebal milik Kai. Pelan tangannya bergerak melepas kancing kemeja Kai. Memperlihatkan otot perut yang telah terbentuk begitu sempurna. Ia melingkarkan kaki di pinggang Kai setelah melepaskan pakaian atas lelaki itu. "Biarkan aku memulainya Kai."

Posisi mereka berubah, Kai membiarkan Kyungsoo melayaninya. Dia dengan sedikit pengalaman lebih menunjukkan sesuatu yang sangat baru untuk Kai.

Rambut panjang Kyungsoo setengah basah terurai menambahnya sisi liar wanita itu. Sementara tubuhnya menjadi telanjang ketika handuk yang melingkar lepas begitu saja. Sebuah perpaduan sempurna pada tubuh Kyungsoo yang cukup proposional. Ia tersenyum menggoda pada lelaki yang telentang di bawahnya, jika di lihat tentu saja tubuh Kai lebih lebar dari Kyungsoo. Lelaki ini sulit di definisikan, dia begitu tampan dengan tatapan tajam yang secara tepat menusuk dunia Kyungsoo.

Bahkan Kyungsoo yang pernah bersama pria lain dibuat gugup oleh tatapan Kai. Menjadikan tangannya gemetar ketika membuka sabuk yang masih melingkari di celana Kai. Suara zipper di turunkan dan saat itu Kai mengangkat tubuhnya agar bisa melihat apa yang sedang Kyungsoo lakukan. Wanita itu tidak memiliki pergarakan apapun pada tubuh Kai.

Kyungsoo seperti terperangkap dalam sangkar besi yang mana sepasang mata kemudian mengawasi. Tatapan Kai yang memberi izin membuatnya memberanikan diri menarik turun celana dasar itu.

Kini ia melihat kejantanan Kai dalam sebuah cara pandang yang begitu dangkal. Melihat Kai yang lebih pada kepuasan gairah, penantiannya dalam dua malam akan terbayar secara seksual.

Kejantanan Kai yang sangat pas dalam genggaman Kyungsoo mendapatkan sensasi basah dari lidah wanita itu, perlahan ia berhasil meningkatkan gairah lelaki ini. Menciumi paha dalam Kai hingga pada scroctum kembar di bawah sana. Sesekali Kyungsoo mendongak menatap Kai memastikan reaksi yang ia terima. Pria tan hanya mendesis menahan nikmat dari sentuhan Kyungsoo.

Apa yang Kyungsoo tunggu?

Tentu saja dia menunggu Kai memohon untuk sebuah sentuhan yang lebih bergairah tapi kemudian tubuhnya tertarik ke atas.

"Kau mencoba mempermainkanku dengan bermain pelan?"

Tatapannya tajam membuat Kyungsoo kesulitan bernapas. Kai berubah menjadi dominan dalam hubungan mereka. Lelaki itu mendorong celananya untuk terlepas, membalik Kyungsoo telentang ke ranjang. Membawa tubuhnya turun ke bawah sementara kedua tangan mendorong kaki Kyungsoo ke atas hingga membuat kewanitaannya terbuka lebar di hadapan Kai.

Pertama kali Kai melihat kewanitaan seseorang, dan wanita itu adalah milik Kyungsoo. Terlihat berkedut dan begitu menggoda. Napas hangatnya berhembus membuat Kyungsoo kesulitan, tubuhnya menggelinjang tapi tertahan karena Kai menahan kedua kaki Kyungsoo. Napas hangat itu berubah menjadi sentuhan lidah Kai. Ia mulai menciumi dan menjilati bagian luar kewanitaan Kyungsoo, lidahnya masuk secara perlahan, kemudian ia menciumi dan menjilati bagian dalam kewanitaan Kyungsoo.

"Kaihhh!" Desahan meluncur dengan segera. Kai berhenti untuk menyaksikan bagaimana Kyungsoo kesulitan mengatur napas atas getaran barusan. Tangannya mencengkram erat seprai ranjang.

Lama pria itu kembali melakukannya dengan lembut, tapi keadaan ini terlalu menyiksa Kyungsoo. Dia inginkan sentuhan yang lebih, menginginkan Kai menggigitnya. Umpatan kasar tak terhitung telah berapa kali Kyungsoo erangkan. Memajukan bokongnya tidak terlalu berguna karena Kai benar-benar berhasil menahan Kyungsoo.

"Kai kumohon!"

Ia berteriak memohon atas sentuhan Kai. Membuat bibir pria itu pada akhirnya tersenyum. Dalam satu gerakan ia menghisap klitoris Kyungsoo masuk ke dalam mulutnya, kemudian melesakkan lidahnya membuat teriakan hebat meluncur dari bibir hati Kyungsoo.

"Aahhhhhh."

Kai memperhatikan reaksi Kyungsoo, ia benar-benar terdengar bergairah dan menikmati apa yang baru saja Kai lakukan. Kepalanya kembali maju, menggunakan bibirnya untuk kembali menikmati kewanitaan Kyungsoo. Seperti bekerja sebagai vibrator ketika dia bergumam membuat tubuh Kyungsoo bergetar. Napas wanita itu memburu, Kai menyelesaikan pemanasan yang begitu sempurna, ia merangkak menaiki tubuh Kyungsoo.

"Apa itu sangat buruk?" Sebuah pertanyaan meluncurkan napas hangat pada wajah Kyungsoo.

"Kau luar biasa. Ini pertama kali aku mendapat kenikmatan sesungguhnya "

Tangan Kai kembali ke bawah, telunjuknya menyentuh kewanitaan Kyungsoo. Memasukkannya dengan masih mempertahankan kontak mata mereka. Kyungsoo menarik leher Kai mencium bibir lelaki itu untuk mengalihkan perhatiannya pada apa yang Kai coba lakukan di bawah sana.

"Hnghhh," tapi desahan keduanya tidak bisa tertahan. Pria ini berhasil menyentuh titik tersensitif dalam tubuh Kyungsoo.

"Aku ingin milikmu Kai."

Ketika itu Kyungsoo telah memohon membuat Kai tersenyum dan melepaskan diri. Ia mengambil foil dan merobeknya dengan gigi. Kyungsoo sendiri bangkit memastikan Kai benar-benar memasangnya pada kejantanan yang telah siap itu.

Memasukkan sendiri kejantaannya membuat Kyungsoo terpekik kecil dan lelaki itu mengeram merasakan miliknya di telan kewanitaan Kyungsoo. Begitu sempit dan dia berhasil menerobos masuk.

"Bergeraklah Kai."

Dia mendengarkan permintaan Kyungsoo, mulai bergerak pelan di dalam sana. Bahkan menjadi tidak peduli saat merasakan leher dan lengan yang begitu lelah menahan tubuh sendiri agar tidak menindih Kyungsoo. Pria itu memasukkan miliknya ke dalam Kyungsoo, menikmati setiap erangan dan desahan yang meluncur.

Mereka telah makukan sesuatu di luar kendali. Mengambil langkah berani dengan melakukan malam yang begitu panas di atas ranjang berderit, tidak ada yang salah ketika keduanya memulai. Bahkan tempat dan waktupun tidak mempermasalahkannya.

Karena mereka telah menjadi satu setelah penyatuan ini. Sebuah hubungan yang semakin menarik masing-masing sisi dunia yang mereka miliki.


~ RoséBear~


Sementara di tempat lain.

Wanita itu berusaha bertahan dengan memegang pundak telanjang pria tinggi yang pagi ini mewawancarainya.

Gerakannya naik turun dengan diikuti desahan dalam yang terdengar luar biasa, tubuh telanjang berkeringat akibat aktivitas malam yang begitu panas dan menggairahkan. Tidak menolak sentuhan pada dua payudaranya yang ikut memantul akibat pergerakan dirinya sendiri. Mencari kenikmatan dengan menembakkan kejantanan lelaki itu semakin dalam pada kewanitaannya.

Oh astaga!

Baekhyun menikmati tubuh lelaki ini, begitupun sebaliknya. Percintaan mereka tidak hanya berakhir pada satu kali capaian tetapi berkali-kali.


~ RoséBear~


Sementara seorang pria lain sedang terlelap di atas sofa karena begitu kelelahan setelah berjalan kaki ke sana kemari sepanjang malam menuruti permintaan tunangannya sendiri. Pada akhirnya berakhir di sebuah gedung perkantoran pribadi.

Wanita itu datang dengan selimut tebal.

"Bagaimana aku harus mendapatkan perhatianmu Hun? Kau membuat semua kerepotan."


To be continue


Epilog Chapter 3

"Kai! Aku benar-benar membutuhkanmu."

Ketika itu Sehun menarik Kai ke lantai dua dan bersembunyi di ruang kerjanya.

"Luhan bertanya pada saudaramu apa kau adalah gay. Karena kau tidak mau menjauh dariku."

Mata Kai sangat terkejut mendengar perkataan Sehun.

"Maafkan aku. Aku tidak tahu jika dia berteman baik dengan salah satu saudaramu."

Kai mengeram kesal. "Memang merepotkan memiliki banyak saudara."

Sehun bersender pada meja kerjanya. Membiarkan keheningan merayapi mereka. Membuat otak masing-masing dari mereka berpikir cerdas.

"Itulah kenapa paman Choi kemari? Aku rasa dia mengawasimu Kai."

Napasnya meluncur. Sandiwara mereka benar-benar konyol. Tapi bagaimana menghindari masalah yang telah mereka ciptakan sendiri.

Luhan bukan gadis biasa seperti para tuan putri di luar sana. Yang akan menangis ketika permen lolipopnya di ambil orang lain. Nyatanya dia dengan lantang menyatakan perang kepada Sehun yang telah melibatkan Kai.

Sekarang masalah bukan bagaimana Sehun harus menghindari Luhan tapi bagaimana Kai harus menyelamatkan harga dirinya di hadapan keluarga?

Satu-satunya cara adalah berpisah dari Sehun. Lalu membuat pria ini tersiksa sebab kehadiran Luhan. Oh astaga! Mereka terlalu pening memikirkannya.

"Bagaimana jika kita mengakhiri sandiwara ini? Akhiri hubungan ini?"

Sehun memberikan saran.

"Tetap tidak memberi solusi."

Kai mengumpat atas perkataan Sehun, ia memukul udara di sekitar dan membuat otaknya berpikir.

"Akan kuselesaikan masalahku sendiri. Sementara kau jauhkan Luhan dariku. Semua ini karena kau yang memulainya."

Tatapannya begitu tajam mengejutkan Sehun, pelan ia membawa kepala mengangguk atas perkataan Kai.

"Aku akan mengawasi Luhan karena dia akan bekerja di Kantor sepanjang malam. Dia bilang akan begitu sibuk."

Langkah kaki pada malam hari membawa Kai berusaha mencari sosok wanita di Star bar avenue. Tidak sulit menemukan wanita untuk kencan satu malam tapi berbeda jika matanya seolah di tarik pada satu sudut di mana Kyungsoo berjongkok tidak peduli keadaan sekitar. Ia berjalan ketika mobil itu berhenti dan saat itulah dia mendapatkan Kyungsoo.


-Terima kasih-

RoséBear