Deadly Sin

By:Hikary_Cresenti_Ravenia

Disclaimer :Bleach punya Tite Kubo

Rated :Semi M

Genre :Angst, Crime

Warning :OOC, Bloody, EYD(s),Mistypo(s)

A/N :Pertama sekali kami ingin mengucapkan terimakasih kepada Kazue Ichimaru-san atas sarannya. Kami ucapkan terimakasih banyak.

Enjoy My fic

"Grimmjow-san," ujar Ichigo.

"Sudahlah, Grimm. Szayel sudah tidak ada," ujar Ulquiorra dengan ekspresi datar, meskipun dalam hati ia sangat bersedih kehilangan sahabat baiknya itu.

"Aku… Aku tidak akan memaafkan orang yang telah membunuh Syazel!" ujar Grimmjow penuh kemarahan seraya mengepalkan tangannya.

"Tenang saja Grimjow-san, kita akan menemukan pelakunya secepatnya," ujar Kaien lagi.

"Apa yang di katakan Kaien benar," ujar Hisagi.

"Szayel… " gumam Grimmjow.

.

.

.

Karena kejadian ini, para murid di pulangkan ke asrama dan universitas di liburkan beberapa hari.

Kaien Pov`s

'Jujur aku masih bingung. Siapa yang tega melakukan hal bejat seperti ini? Ada masalah apa orang itu dengan Szayel-san? Apa dendam di masa lalu?' gumamku dalam hati.

'Kalau diingat-ingat memang banyak sih yang punya dendam dengan Szayel-san dan yang lainnya. Termasuk Hisa,Renji, dan banyak lagi yang dendam dengannya. Kusaka-san juga dendam dengannya karena melecehkannya saat kalah pertandingan basket. Lalu Ikkakku dan Yumichika juga membenci mereka. Ah, terlalu banyak tersangka yang ada. Tapi bagaimana caranya dia membawa Szayel-san menuju ke ruangan itu? Banyak hal yang tidak mungkin dipikirkan dengan akal sehat. ' ujar ku lagi.

'Yang pasti motifnya dendam, tapi dendam apa hingga sampai membunuh seperti itu?' gumamku lagi.

'Mungkin lebih baik aku kembali ke universitas dan menyelidikinya,' gumamku lagi.

End Of Kaien Pov`s

"Kai loe mau kemana?" tanya Hisagi yang masih membaca buku novel itu.

"Gue mau ke universitas bentar, ada yang ganjal, ,Bro. " ujar Kaien.

"Aduh, Bro. Di universitas masih ada polisi. bisa-bisa elo yang di tuduh," ujar Hisagi lagi.

"Hisa bener tuh bro," ujar Ichigo.

'Hm… tapi kenapa yang dibunuh dulu adalah Szayel? Bukannya kalau menurut abjad harusnya Grimmjow-san dulu? Eh… tunggu dulu… "gumam Kaien dalam hati.

"His, nama panjang Szayel apa?" tanya Kaien.

"He? Untuk apa?"tanya Hisagi.

"Jawab aja,"ujar Kaien lagi.

"Apporo Grantz Szayel,"ujar Hisagi.

'Apporo.. benar juga berarti A, pantas saja dia yang pertama. Berarti selanjutnya… Jeagerjaques Grimmjow. Berarti Grimmjow-san!' gumamku lagi.

"Loe mau kemana Kai?" tanya Renji.

"Ke tempat Grimmjow-san,"ujar Kaien lalu ke luar dari kamar asramanya.

'Gawat juga, aku harus menghentikannya,' ujar Kaien lagi.

Setelah beberapa saat ia sampai di kamar Asrama Grimmjow.

"Permisi,"ujar Kaien seraya mengetuk pintu. Pintu pun terbuka.

"Kaien? Ada apa?"tanya Ulquiorra

"Ah, Ulquiorra –san. Grimmjow-san mana?"tanya Kaien.

"Dia tadi pergi,"ujar Ulquiorra.

"Gawat! Dia adalah korban selanjutnya,"ujar Kaien lagi.

"Apa!"ujar Ulquiorra kaget "Dari mana kau tau?"tanya Ulquiorra lagi.

"Ceritanya panjang. Ayo kita cari Grimmjow-san,"ujar Kaien lagi.

"Baiklah, aku akan menghubunginya,"ujar Ulquiorra lagi. "ayo masuk dulu,"ujar Ulquiorra lagi.

"Iya,"ujar Kaien lagi.

"Ck, sepertinya aku harus cepat menemukan dan membunuh si bocah berambut biru itu. Sebelum ada yang tau,Tak kusangka dia bisa menimbulkan masalah,"ujar seorang pria lalu pergi dari tempat itu.

Di dalam kamar

"Bagaimana Ulquiorra-san?" tanya Kaien

"Ck, tidak bisa dihubungi," ujar Ulquiorra.

"Sial!"ujar Kaien lagi.

.

.

.

Di koridor universitas

"Nii-san!"panggil seorang gadis berambut ungu, Senna.

"Senna? Apa yang kau lakukan di sini?"tanya pria itu.

"Sudah cukup… jangan membunuh lagi Nii-san,"ujar Senna lagi.

"Dendam kita belum terbalas,Senna. Aku akan membalas segala penderitaan dan seluruh rasa sakit yang kau alami,"ujar pria itu lagi dengan nada dingin.

"Nii-san, ku mohon… jangan seperti ini… kemana dirimu yang pemaaf dan baik hati itu?" isak Senna seraya memeluk tubuh pria itu lagi.

"Sudahlah Senna, ini bukan urusanmu. Pergilah dari sini,"ujar pria itu lagi.

"Tapi… Nii-san… " ujar Senna lagi.

"Aku menyayangimu,Senna,"ujar pria itu seraya tersenyum dan mengusap kepala adiknya itu. "Sekarang pergilah, dan jangan beritau hal ini,"ujar pria itu lagi.

"Jadi kau yang melakukan hal ini pecundang!" maki Grimmjow.

"Tak kusangka, mencarimu tidak sesulit yang ku perkirakan. Ku pikir kau akan lari seperti pecundang,"ujar pria itu seraya tersenyum.

"Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan pada Szayel!" ujar Grimmjow lagi.

"Nii-san… sudah.. jangan lagi… " ujar Senna.

"Oh ternyata ini dendammu pada kami, karena kejadian 5 tahun yang lalu itu ya?" ujar Grimmjow lagi.

"Bagus kalau kau sudah tau. Nampaknya aku juga terpaksa mengunci mulutmu untuk sementara adikku sayang,"ujar pria itu lalu membius Senna dan meninggalkannya tergeletak di sana.

"Tak kusangka ada seorang Kakak yang tega membius adiknya sendiri," ujar Grimmjow lagi.

"Ini untuk kelancaran misiku, untuk membunuhmu,"ujar pria itu lagi. "Ayo kita selesaikan dendam 5 tahun yang lalu, "ujar pria itu.

"Baiklah kalau begitu," ujar Grimmjow lagi.

.

.

.

Kaien Pov`s

"Jadi bagaimana?" tanyaku pada sesosok pria berambut hitam berkulit pucat di sebelahku, Ulquiorra Schifer.

"Masih tidak ada jawaban," ujar Ulquiorra lagi.

"Bagaimana kalau kita cari? Mungkin saja dia berada di universitas," ujarku lagi.

"Mungkin juga, ayo," kata Ulquiorra.

Lalu kami pun keluar dari Asrama dan mengendap-endap masuk ke universitas melalui belakang universitas. Setelah memanjat pagar belakang universitas, kami pun masuk ke universitas itu.

"Selamat datang di Game Killer,"ujar sebuah suara yang berasal dari computer.

"Kau kemanakan Grimmjow?"vtanya Ulquiorra.

"Tenang saja dia masih hidup, untuk saat ini. Jadi bagaimana kalau kita bermain?"ujar suara itu lagi.

"Baiklah kami ikuti permainanmu," ujar Kaien lagi.

"Bagus, Kalian harus mencari 4 buah mutiara yang telah ku sembunyikan di universitas ini dalam waktu 24 jam. "vujar suara itu lagi.

"Mutiara?" tanya Ulquiorra.

"Benar, biru,merah,kuning dan hitam. "ujar suara itu lagi. "Setelah menemukan mutiara itu pergilah ke lantai dua, dan susun mutiara itu menurut petunjuk yang di berikan. Semoga berhasil,"ujar suara itu lalu menghilang.

End Of Kaien Pov`s

"Sial! Bagaimana caranya kita menemukan mutiara itu di tempat seperti ini, dan juga tidak ada hint untuk memulai," ujar Kaien lagi.

"Ternyata kalian disini," ujar seseorang.

Saat menoleh, Kaien melihat teman-temannya.

"Ichigo… Hisa.. Renji… " ujar Kaien lagi.

"Berhentilah bertindak seorang diri seperti ini," ujar Hisagi lagi.

"Benar tuh. Kita ini sahabat. Jadi kalau ada sesuatu ceritakan," ujar Renji lagi.

"Kami siap membantu," ujar Ichigo.

"Terimakasih semuanya,"ujar Kaien.

"Baiklah, jadi kali ini apa?" tanya Hisagi.

"Kita harus mencari mutiara," ujar Ulquiorra.

"Mutiara?" ujar Ichigo.

"Begitulah," ujar Kaien. "Dan waktu kita hanya 24 jam," ujar Kaien lagi.

"Sial, apa tidak ada petunjuk?!" ujar Renji.

"Ini kertas apa?" ujar Hisagi seraya membuka sebuah amplop yang tergeletak di lantai.

"Eh? Amplop? Isinya apa His?" tanya Kaien.

"Hm… I am sad in the morning, Joyful at the noon, Angry at the afternoon and dead at Night, apa maksudnya?" ujar Hisagi lagi.

"Hm.. mungkin petunjuk untuk menemukan mutiara dan susunannya," ujar Ulquiorra.

"Tempat yang membuat sedih?"cujar Kaien bingung.

"Memangnya ada?" ujar Ichigo.

"Hm… atau maksudnya tempat yang indah sehingga membuatmu menangis?" ujar Ulquiorra.

"Tempatindah yang akan membuatmu menangis? Hm… Jangan-jangan kolam belakang?" ujar Renji.

"Kolam belakang?" ujar Hisagi bingung.

"Iya, kolam belakang universitas ini terkenal dengan keindahannya, dan dapat membuat siapapun tergugah karena keindahan tempat itu. Air yang bewarna jernih, dan yang pastinya tempat itu sangat indah," ujar Renji lagi.

"Ayo kita kesana," ujar Kaien lagi.

"Ayo," ujar yang lainnya.

Lalu mereka segera menuju ke kolam belakang.

.

.

.

Di kolam belakang, terhampar sebuah taman mini yang di tumbuhi berbagai macam bunga namun semuanya bewarna biru.

"Aneh," ujar Kaien.

"Aneh?maksudmu?" tanya Ichigo.

"Tidakkah, tempat ini aneh? Kenapa semuanya bewarna biru? Dari bunga yang tumbuh, hingga cat wadah kolam dan juga bangku tamannya. Kenapa bewarna biru?" ujar Kaien lagi.

"Biru itu lambang kebahagiaaan, Kai. Kebahagiaan yang bisa membuatmu menangis, oleh karena itu tempat ini juga di kenal dengan Blue Pond," ujar Hisagi lagi.

"Oh begitu… Ah tapi, sekarang yang terpenting kita cari dulu mutiaranya," ujar Ichigo.

"Kau benar," ujar Kaien.

Lalu mereka mulai mencari mutiara di sekitar tempat itu.

"Aneh, tidak ada," ujar Kaien.

"Apa perkiraan kita salah ya?" ujar Ulquiorra.

"Aku tidak tau," ujar Hisagi.

"Hei, ada sesuatu yang mengkilat di dalam kola mini," ujar Renji lagi.

Lalu mereka pun menghampiri Renji.

"Ah, kau benar, sial tidak sampai," ujar Kaien lagi.

"Kita harus mencari sesuatu untuk mengambilnya," ujar Ichigo lagi.

"Bagaimana dengan gayung ini?" ujar Hisagi.

"Ah, ide bagus His. Ayo coba," ujar Kaien.

Dan mereka berhasil mendapatkan mutiara yang pertama. Sebuah mutiara bewarna biru.

"Kita berhasil," ujar Renji.

"ayo ke tempat selanjutnya," ujar Ulquiorra.

"Iya!"

Kaien Pov`s

'Eh… kenapa ada huruf SE disini? Apa dia pelakunya? Tapi siapa nama orang yang berinisialkan SE?' ujarku lagi.

"Kai! Ayo!" ujar Hisagi.

"Iya,His," ujarku lalu menyusul yang lainnya.

End Of Kaien Pov`s

.

.

.

"Hm lalu tempat yang membuatmu senang di siang hari," ujar Ulquiorra.

"Senang?" ujar Renji.

"Hm… Cafetaria," ujar Ichigo.

"Eh? Cafetaria?" ujar Renji.

"Iya, di Cafetaria kita kan hampir seluruhnya bercat kuning kan? Menurut pengetahuanku, kuning itu melambangkan kebahagiaan," ujar Ichigo.

"Boleh di coba tuh," ujar Hisagi.

"Ayo kesana," ujar Kaien.

Lalu mereka pun menuju ke kafetaria itu.

.

.

"Kau benar Chi, semua kuning," ujar Renji.

"Ayo kita cari mutiaran- loh… kertas apa ini?" ujar Kaien

"Kertas lagi?"ujar Ulquiorra.

"Hm… A pair of Raindrops fell from the sky. As they landed on the ground, a child born. Half a decade later, he spoke his first words and said "Let me go," Six weeks later he died… Hah? Maksudnya?" ujar Kaien.

"Hei, ada sebuah saving nih," ujar Renji.

"Oh iya, ini kan tempat menyimpan uang di kantin ini, dan hanya ibu penjaga kantin yang tau tentang ini," ujar Kaien lagi.

"Hm… "

"Ada apa His?" tanya Kaien.

"Nggak Kai, berarti pembunuhnya tau tentang rahasia di sekolah ini secara detail ya," ujar Hisagi lagi "Termasuk kode Saving ini. "

"Iya juga, tapi sekarang kita harus memecahkan teka teki ini," ujar Kaien.

"A pair of Raindrops berarti sepasang kan? Berarti awalnya 2," ujar Ichigo.

"As they landed on a ground a child born, A child.. berarti 1. Kalau lebih maka akan jadi Children," ujar Hisagi

"Half Decade later, berarti setengah dari satu decade. Satu decade itu 10 tahun berarti 5," ujar Ulquiorra.

"He spoke His first words and said "Let me go, tunggu dulu kata pertama ya? Let-Me-Go- Berarti 3 kata," ujar Renji

"Hm lalu Six weeks later he died, berarti 6," ujar Kaien

"Ayo coba," ujar Hisagi

Lalu Kaien memasukkan kode itu dan- Saving itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah mutiara bewarna kuning, dan sebuah huruf n.

Kaien Pov`s

'Kenapa kali ini ada huruf n? apa orang ini tau sesuatu? Seseorang berinisial SE, dan N, siapa dia sebenarnya?' ujar Kaien dalam hati.

TBC

Setelah Hiatus ahirnya kami kembali mengupdate cerita ini. Di chapter ini tidak ada bloody hanya Riddle(teka-teki) yang author copas dari berbagai game.

balas Review:

Kazue Ichimaru: Terimakasih atas Review dan sarannya yang sangat berarti bagi kami yang masih newbie ini. Bagaimana cara pembunuhan akan terungkap di chapter terahir. Terimakasih banyak ^_^.

NightRin Kur3n21: makasih. sorry telat

Eru The Lucifer: hehe emang inspirasinya dari Death bell thanks.

Oke still mind to RnR