Lebih dari satu bulan berlalu dan kini akhirnya Tifa serta Yuffie pindah ke apartemen Aerith. Dan kini, Tifa serta Yuffie berniat mengadakan sejenis pesta untuk merayakan kepindahan mereka.

Belakangan ini Tifa semakin dekat dengan Cloud dan beberapa kali bertemu serta menghabiskan istirahat bersama di Shinra Company.

Saat ini, Tifa mematikan komputer dan membereskan dokumen-dokumen serta berjalan meninggalkan meja nya. Ia mematikan lampu ruangan kerja nya dan meninggalkan ruangan untuk menyusuri lorong yang sepi.

Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan seluruh pekerja yang berada di divisi yang sama dengan Tifa sudah pulang terlebih dahulu. Tifa begitu fokus dengan pekerjaan nya hingga tak sadar bila waktu terus berlalu dan kini ia sendirian.

Tifa berusaha mempercepat langkah menuju lift. Suasana kantor yang hening dengan suara hak sepatu yang bersentuhan dengan lantai menambah kesan hening kantor itu. Tifa menekan tombol turun pada lift dan lift itu terbuka.

Dengan cepat, Tifa menekan tombol G dan menutup pintu lift sambil memandang sekeliling. Rasa takut mulai muncul di benak nya dan ia berusaha menghilangkan rasa takut dengan membaca artikel melalui situs berita di ponsel nya.

Pintu lift terbuka di lantai tujuh dan tiga orang pria berjalan masuk ke dalam lift. Tifa mengenali salah satu pria bersurai pirang yang sangat dikenali nya, sementara terdapat dua SOLDIER kelas satu bersurai raven dan silver yang berdiri di sudut lift.

"Tifa" , sapa pria bersurai pirang itu.

"Uh.. hei, Cloud" , jawab Tifa sambil menatap Cloud dengan binggung. Tidak biasa nya para SOLDIER berada di dalam gedung kantor, khusus nya bagi SOLDIER kelas atas seperti dua pria yang bersama dengan Cloud.

"Apa yang kau lakukan disini ?" , tanya Cloud sambil melirik jam. "Bukankah seharusnya kau pulang pukul lima sore ?"

"Ahaha.. aku terlalu asik bekerja hingga tidak sadar bila jam pulang sudah lama berlalu." , Tifa tertawa canggung menjawab pertanyaan Cloud. "Bagaimana dengan mu, Cloud ? Mengapa kau berada di kantor ?"

"Tuan Rufus memanggil kami untuk misi. Lalu, aku bersantai di ruangan SOLDIER sejenak." , jawab Cloud sambil menatap kedua pria yang tak biasanya menunjukkan atensi mereka pada pembicaraan orang lain.

Tifa menunduk pelan pada dua orang SOLDIER kelas satu yang berdiri di dekat tombol lift. Salah seorang pria itu terlihat mirip Zack, kekasih Aerith, hanya saja wajah nya terlihat lebih maskulin. Sementara, seorang pria lain nya berambut silver panjang dengan wajah yang lebih feminine dibandingkan pria di samping nya. Namun, meskipun pria itu terlihat feminine, namun sebetulnya ia adalah seorang jenderal perang hebat yang terkenal dengan sebutan 'The Great Sephiroth'.

"Tifa, bagaimana bila kau makan malam bersama ku dan aku akan mengantarmu pulang setelah nya ?" , ucap Cloud secara tak terduga.

"Cloud, bukankah kau akan makan malam bersama kami ?" , tanya pria bersurai raven yang terlihat mirip Zack itu.

"Maaf, aku membatalkan nya, Angeal. Hari sudah cukup larut dan aku harus mengantar gadis ini pulang.", tolak Cloud dengan ekspresi yang terlihat serius.

"Bagaimana bila kau mengajak gadis ini untuk ikut makan malam bersama kami ?"

Cloud tak langsung mengiyakan ajakan Angeal. Ia menoleh ke arah Tifa seolah meminta persetujuan yang disambut dengan anggukan oleh Tifa.

"Baiklah."

…..*…..

Kini, mereka berempat sudah berada di sebuah bar bernama Seventh Heaven yang terletak di sektor tujuh. Tifa berjalan memasuki bar itu dengan sedikit bernostalgia akan masa lalu nya sebagai gadis yang bekerja sambilan di bar itu.

Bar itu sama sekali tidak berubah bila dibandingkan saat Tifa masih bekerja di bar itu. Dan kini mereka berjalan menuju ruang karaoke.

Tanpa sadar, Tifa menarik pakaian Cloud dan menolak berjalan memasuki ruang karaoke. Sebagai mantan pelayan bar, ia tahu betul apa yang biasanya dilakukan para pria di dalam ruang karaoke.

Biasanya, para pria akan membawa pelacur dari luar bar dan membawa nya ke bar untuk berkaraoke sambil meminum minuman keras. Dan biasanya akan diakhiri dengan berhubungan intim atau setidak nya mabuk-mabukan dan melakukan hal yang kurang senonoh.

Tifa khawatir bila itu terjadi dan posisi nya saat ini sangat tidak menguntungkan. Ia bukanlah seorang gadis yang lemah, ia mampu bertarung dan kekuatan yang dimiliki nya jauh diatas wanita pada umum nya. Namun, bila tiga orang pria dengan dua SOLDIER yang memiliki kekuatan luar biasa melawan nya, maka ia akan kalah dengan sangat mudah.

"Kenapa ?", tanya Cloud sambil menatap Tifa dan mengernyitkan dahi.

"Kurasa, sebaiknya aku kembali. Aerith tiba-tiba saja menelponku dan aku harus segera pulang."

"Tunggu, Tifa." . Tifa berjalan cepat meninggalkan Cloud.

"Maaf, aku menunda makan malam bersama nya." , Cloud setengah berteriak sambil menolehkan kepala kepada dua pria yang sudah berada di dalam ruangan serta berlari mengejar Tifa yang sudah meninggalkan bar.

"Tifa ! Hey !", Cloud berteriak memanggil Tifa tanpa menghiraukan orang-orang yang menoleh ke arah mereka.

Tifa menghentikan langkah dan menoleh ke arah Cloud yang mengejar nya.

"Kenapa ?"

"Mengapa kau tiba-tiba pergi seperti ini, sih ?" , Cloud berkata dengan nafas yang sedikit terengah-engah sehabis berlari.

"Maaf. Hanya saja, aku terkejut kau mengajakku ke bar dan menyewa ruangan untuk karaoke. ", jawab Tifa dengan nada bersalah.

"Bar ? Karaoke ? Kami hanya makan malam, kan ?"

Tifa menggelengkan kepala berusaha menjelaskan maksud nya, namun ia terdiam. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan nya.

"Aku… khawatir terjadi sesuatu yang buruk." , Tifa berusaha keras menjelaskan. "Uh… maksudku ini adalah bar dan kalian menyewa VIP room untuk karaoke. Dan, aku merasa tidak enak."

Cloud seketika tertawa mendengar perkataan Tifa. Tanpa sadar, ia mengelus surai raven Tifa dengan perlahan.

"Tentu saja kami,setidaknya aku, tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu."

Tifa menarik nafas lega. Ia bersyukur bila Cloud tidak akan melakukan hal negatif pada nya.

"Sudahlah, ayo kita makan malam. Aku akan mengajakmu ke restaurant cepat saji di dekat apartemen."

"Terima kasih, Cloud. Maaf telah merepotkanmu. Apakah kau tidak ingin kembali ke bar itu bersama dengan kedua teman mu ?"

Cloud menggelengkan kepala dan mengulurkan tangan nya untuk menggandeng Tifa.

"A-apa ?" , tanya Tifa dengan wajah memerah.

"Ini… aku… menggandengmu" , Cloud berusaha menatap Tifa dengan wajah merah dan mengulurkan tangan nya. Tifa perlahan mengulurkan tangan dan menyambut uluran tangan Cloud.

Cloud dan Tifa bergandengan tangan sambil berjalan melewati kerumunan orang di bawah cahaya lampu gedung yang berkerlap-kerlip. Cloud dan Tifa berjalan dalam hening sambil mengalihkan pandangan dari wajah satu sama lain dan seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Umm… Cloud, maaf bila pertanyaanku menganggu. Namun, apakah kau pernah tinggal di Nibelheim ? Di samping rumah seorang gadis bersurai raven ?"

Seketika, Cloud terkejut dan menatap Tifa. Tifa membalas tatapan Cloud yang ditujukan padanya.

"Ya. Gadis itu adalah teman masa kecil ku. "

Tifa merasa sangat bahagia. Saat ini, jantung nya seolah ingin melonjak keluar. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, ia menatap Cloud.

"Apakah kau pindah dari Nibelheim untuk melanjutkan sekolah di kota lain ?"

"Ya.", Cloud mengangguk. "Jangan-jangan, kau-"

Cloud tak sempat menyelesaikan ucapan nya. Tifa menerjang tubuh Cloud hingga pria itu hampir terjungkal dan memeluknya dengan erat sambil menanggis.

"Cloud, ini aku, teman masa kecil mu. Apa kau ingat saat-saat kita memanjat sumur desa Nibelheim dan bermain disana ?" , ucap Tifa di sela-sela isakan nya.

Cloud tak dapat menahan perasaan bahagia sekaligus terharu yang dirasakan nya. Ia memeluk tubuh Tifa dengan erat dan tanpa sadar meneteskan air mata dan mengusap nya.

"Aku ingat. Dan, aku pun masih ingat saat di suatu malam kita berdua menatap bintang jatuh sambil mengucapkan impian."

Tifa seolah kembali ke dalam masa lalu nya. Ia terus memeluk Cloud dan melanjutkan perkataan Cloud.

"Saat itu kau mengatakan ingin menjadi SOLDIER dan menjadi jenderal perang yang hebat seperti Sephiroth, kan ? Sekarang, kau berhasil meraih setengah dari mimpi mu dan menjadi SOLDIER."

"Kau juga mengatakan ingin menjadi ibu rumah tangga dan merawat anak-anak. Lalu, aku masih ingat saat kau menangis tengah malam di dekat sumur saat mengetahui bahwa ibu mu tidak akan pernah kembali."

Tifa terdiam dan ia semakin larut dalam isakan tangis nya. Cloud terus menerus mengelus kepala Tifa dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukan nya. Saat ini, ia pun merasa sesak dan ia ingin menangis bila saat ini tidak ada seorangpun di sekeliling nya.

Cloud telah lama menunggu Tifa dan hampir melupakan gadis itu, dan tiba-tiba saja gadis itu kembali muncul di hadapan nya. Dan, rasa cinta yang mulai pudar seketika kembali bersemi di hati pria itu.

"Tifa., selama ini aku menunggu mu. Kukira, selamanya aku takkan bertemu denganmu."

"Kemana saja kau selama ini ? Kau tak pernah kembali ke Nibelheim, dan akhirnya aku pun pindah dari desa itu."

"Banyak hal telah terjadi padaku. Saat aku mendapat misi ke desa itu, aku tak bertemu denganmu dan mendapati desa itu terbakar sesudahnya."

Seolah dirasuki sesuatu, jantung Tifa berdetak lebih cepat dan wajah nya memerah. Cloud yang saat ini berada dihadapan nya berbeda dengan Cloud si bocah desa yang merupakan sahabat masa kecil nya. Pria itu terlihat jauh lebih maskulin dengan tubuh berotot hasil latihan keras serta suara yang berubah akibat pubertas.

Tifa seolah berhadapan dengan dua pria yang berbeda, namun ia sama sekali tak merasa asing. Sebaliknya, ia malah merasa sangat mengenal pria itu walau fakta nya mereka tak bertemu lebih dari satu dekade.

Perlahan, Tifa melepaskan pelukan nya dari tubuh Cloud dan menundukkan kepala.

"Maafkan aku"

"Tidak, seharusnya akulah yang meminta maaf karena telah melupakanmu, Tifa"

"Tidak apa-apa, aku pun tak mengenali mu bila kau tidak mengingatkan nya saat menonton bersama di apartemen Aerith."

Cloud terdiam sejenak, perlahan ia menyentuk kedua tangan Tifa dan menatap kedua iris Tifa.

"Tifa, apakah saat ini kau masih bermimpi menjadi ibu rumah tangga ?"

"Ya, masih."

"Maukah bila aku mewujudkan impian mu ?"

Wajah Tifa merona seketika. Ia tak menyangka bila Cloud akan mengucapkan hal ini pada nya.

"Ma-maksudmu ?"

Seketika, Cloud berlutut dengan satu kaki bagaikan ksatria di hadapan Tifa dan menyentuh kedua tangan nya tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar mereka.

"Tifa, maukah kau menikah dengan ku ?"

Tifa terdiam seketika. Perasaan yang selama ini dipendam nya pun meluap. Ia pernah bermimpi untuk suatu saat menikahi Cloud dan membangun keluarga bersama. Dan kini, mimpi itupun menjadi kenyataan.

Dengan air mata yang mengalir, Tifa mengangguk dan berkata, "Ya, aku bersedia menikah dengan mu, Cloud"

Cloud berdiri dan kembali memeluk Tifa dengan erat. Tak ada kata yang sanggup diucapkan untuk mengekspresikan kebahagiaan nya.

Cloud mendekati telinga Tifa dan berbisik, "Aku mencintaimu, Tifa."

"Aku juga sangat mencintaimu. Mungkin ini terkesan terburu-buru, namun aku mencintaimu sejak dulu."

"Akupun juga mencintaimu, kaulah cinta pertama ku, Tifa."

Dan, mereka pun semakin mengeratkan pelukan mereka. Di bawah sinar bulan dan bintang-bintang yang menjadi saksi bisu cinta mereka, mereka menyatakan cinta satu sama lain.

-Owari-


-Omake-


Tiga tahun berlalu dan kini Tifa telah menikahi Cloud serta tinggal bersama di apartemen Cloud. Sesuai keinginan Tifa, ia berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sambil mengurus sebuah bar. Sementara, Cloud berhenti dari SOLDIER dan menjalankan bisnis jasa pengantaran barang.

"Tifa, aku pulang !" , ucap Cloud ketika pintu apartemen terbuka.

"Selamat datang"

"Cloud ! Akhirnya kau pulang. Mana oleh-oleh untuk kami ?", terdengar suara teriakan dua orang anak yang berlari menyambut Cloud. Cloud mengeluarkan sebuah kantung berisi makanan ringan untuk kedua anak itu dan berjalan menuju meja makan. Sementara Tifa menutup pintu apartemen.

Tifa menghampiri kedua anak yang sedang mengobrol dengan Cloud dan tersenyum menatap mereka. Cloud bagaikan seorang figure ayah yang baik walau fakta nya pria itu tak pernah memiliki seorang ayah.

"Tifa, kenapa kau berdiri ? Ayo makan bersama-sama" , Cloud kini memandang Tifa.

"Ayo makan. Aku sudah menyiapkan makanan favorit kalian." , jawab Tifa sambil tersenyum dan mengusap air mata yang hampir menetes.

….*….

Makan malam selesai dan Tifa membereskan meja serta membersihkan peralatan makan. Dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki yang menghampiri nya.

"Tifa, biarkan aku membantumu membersihkan piring." , ucap Cloud sambil melirik apa yang dilakukan Tifa.

"Tidak apa-apa, sebentar lagi selesai."

"Bagaimana dengan Denzel dan Marlene ?"

"Kedua anak itu sudah tidur."

Tifa mengangguk pelan dan mematikan kran air. Ia meletakkan piring di atas rak dan menatap Cloud.

"Apakah kau masih mencintai ku ?" , tanya Tifa.

Cloud mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Tifa yang terdengar aneh, "Tentu saja. Bukankah aku sudah berjanji untuk mencintai mu hingga akhir hayat ku ?"

"Aku tahu bila kau menginginkan keturunan. Dan kaupun tahu bila Denzel adalah anak adopsi, sementara Marlene adalah anak adopsi Barrett yang dititipkan pada kita. Sudah tiga tahun kita menikah dan aku khawatir tak mampu memberimu keturunan.", ucap Tifa sambil menundukkan kepala.

Cloud mengelus kepala Tifa perlahan dan memeluk nya serta menyandarkan kepala Tifa pada dada bidang nya.

"Bodoh, walau kau tak memberiku keturunan sekalipun, aku tetap mencintaimu. Aku bisa mendapatkan keturunan sebanyak yang ku mau, namun aku tidak bisa mendapatkan gadis seperti mu."

Tifa membalas pelukan Cloud dan mereka kembali berpelukan. Beberapa saat kemudian, mereka melepaskan pelukan dan berjalan menuju jendela apartemen mereka, menatap langit sejenak seperti yang selalu mereka lakukan untuk menenangkan diri.

"Cloud, aku teringat saat pertama kali menatap jendela dan menemukanmu menatap jendela."

"Ya. Aku masih ingat, sejak itu aku selalu menemukanmu yang juga sedang menatap jendela setiap kali aku menggeser tirai dan menatap jendela."

Tifa tertawa dengan wajah memerah. Ia teringat betapa konyol diri nya yang sengaja membuka tirai jendela pada jam yang sama setiap hari.

"Aku jadi merindukan saat-saat kita berdua saling menatap jendela satu sama lain dan memikirkan apa yang sedang kau pikirkan saat itu."

"Dan saat ini, kau berada di sampingku dan menatap jendela bersama-sama."

Tifa tersenyum dan perlahan mendekati wajah nya ke arah wajah Cloud dan mengecup bibir pria yang telah menjadi suami nya itu.

"Aku mencintaimu, sang pria di seberang jendela."

"Aku juga mencintai mu, gadis di seberang jendela."

Dan, di depan jendela yang sama, Cloud dan Tifa kembali berciuman dengan mesra. Kini, tak ada lagi sang pria di seberang jendela, karena pria itu telah berada di sisi nya dan selalu bersama dengan nya.

-Owari-


Thanks udah ngebaca & review fanfict ini. Maaf bila ending nya mengecewakan & dipaksa.

Author berharap dapat membuat fict yang lebih baik dari ini & mengharapkan kritik & saran.