Do You Love Me?

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Drama

Pairing: NaruHina

Pengumuman : Chapter kali ini mengambil dari 3 sudut pandang yang berbeda, yaitu Naruto, Hinata, dan juga Hiashi.

Chapter 3

Naruto PoV

"Hinata, apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku pada Hinata yang tengah memegang penyedot debu.

"Mou Naruto-kun, sudah jelas kan? Kalau aku sedang memegang penyedot debu, sudah pasti aku akan beres-beres."

"Aku tahu itu Hinata, tapi kau itu sedang hamil dan sebentar lagi melahirkan. Kau tidak boleh bekerja terlalu keras dan memaksakan dirimu begini!" omelku.

Wajahnya berubah menjadi cemberut dan memandangku kesal. Semenjak aku mengetahui dia hamil, aku melarangnya untuk melakukan pekerjaan yang menurutku terlalu berat. Aku mengakui kalau aku sedikit protektif padanya, tapi apaboleh buat kan? Aku tidak mau mengambil resiko yang akan mengganggu kehamilan Hinata.

"Naruto-kun, aku ini ibu rumah tangga, kalau aku tidak bersih-bersih dan melakukan pekerjaan rumah lainnya lalu apa yang harus aku lakukan?"

"Tapi kau ini sedang hamil sayang, aku tidak mau kau kandunganmu terganggu," ujarnya membela diri.

"Aku ini cuma hamil, bukan menderita penyakit berat."

"Aku tahu, aku juga bisa membedakan mana pasien penyakit berat dan juga ibu-ibu yang sedang hamil."

"Maksudku bukan itu, kau terlalu memanjakanku. Aku tidak tahu harus melakukan apa-apa lagi kalau kau terus melarangku ini dan itu."

"Kau kan bisa membaca novel kesukaanmu," usulku.

"Tidak mau, duduk seharian dan membaca novel itu membosankan. Setidaknya izinkan aku melakukan perkerjaan rumah tangga yang sederhana."

"Iya deh, aku mengaku kalah. Kau boleh mengerjakan sesuatu, tapi jangan yang terlalu berat."

"Aku tahu, bagaimana kalau membuatkan sarapan untuk kita berdua? Itu tidak berat kan?"

Dia tersenyum sambil mengatakannya, dia tahu kalau wajahku akan memerah dan mengizinkannya melakukan apapun kalau aku melihat senyumannya, itu adalah kelemahanku dan aku menyukainya.

"Terserah kau sajalah."

Akhir-akhir ini Hinata terlihat berbeda dari biasanya, kepribadiannya sedikit berubah. Dia jadi suka sekali dengan ramen, keras kepala dan sedikit tempramental, aku berdoa semoga perubahan ini tidak bersifat permanen dan hanya pengaruh bayi dalam kandungannya saja. Walaupun dia berubah, Hinata tetap tidak bisa menghilangkan sifat pemalu yang menjadi ciri khasnya. Karena itu aku yakin, Hinata tetap Hinata walau apapun yang terjadi. Dia tetap menjadi wanita yang kucintai dan hal itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

"Menyetel musik klasik lagi?" kataku sambil meminum kopi buatannya.

"Iya, kata para peneliti musik klasik dapat membantu perkembangan otak bayi sejak di dalam kandungan. Jadi..."

"Hinata, jelaskan saja dengan singkat. Aku tidak mau kepalaku pusing di pagi hari," aku langsung menyela penjelasannya, takut mendengar istilah-istilah rumit yang akan membuat kepalaku berasap.

"Iya, iya, singkatnya musik klasik dapat mencerdaskan anak kita, Naruto-kun atau bisa dibilang dapat menjadikan anak kita jenius."

"Ooh begitu, kalau saja waktu dulu aku sering mendengarkan musik klasik, mungkin aku juga bisa jadi jenius ya?"

"Haha...mungkin saja, lagipula ini hanya iseng saja kok. Aku memang suka mendengar musik klasik sejak dulu."

"Oh ya? Kalau begitu apa judul lagu ini? Apakah ini Mozart atau Beethoven?"

"Bukan, ini Kreisler, Fritz Kreisler. Judulnya Liebesleid atau Kesedihan Cinta," ujar Hinata.

" 'Kesedihan Cinta'? Memangnya tidak ada lagu lain?" tanyaku.

"Sebenarnya aku punya kenangan dengan lagu ini, dulu Okaa-san sering sekali memainkannya untukku. Katanya agar aku terbiasa dengan kesedihan dan tumbuh menjadi anak yang kuat dan tidak mudah menyerah, karena itu aku mau anak kita juga seperti itu," ujarnya dengan merona.

"Kau sudah membuktikannya Hinata, kau memang tumbuh menjadi anak kuat dan tidak mudah menyerah walau melalui banyak kesedihan. Kau tumbuh seperti harapan ibumu, beliau pasti bangga melihat putrinya menjadi wanita tegar."

"Terimakasih Naruto-kun. Oh iya, kau tidak bekerja hari ini Naruto-kun?" tanyanya.

"Entahlah, rasanya aku punya firasat tidak enak. Aku merasa kalau kau akan melahirkan hari ini."

"Kau juga mengatakan hal sama kemarin. Tidak boleh begitu Naruto-kun, ini adalah hari pertamamu sebagai seorang kepala bagian kan? Lagipula Tsunade-san bilang masih seminggu lagi menjelang kelahirannya, jadi masih aman kok. Kau masih bisa menyaksikan kelahiran putra pertamamu."

"Tapi Hinata, siapa nanti yang akan mengantarmu ke rumah sakit kalau kau tiba-tiba saja melahirkan?" cemasku.

"Tidak usah khawatir, lagipula Tsunade-san dan Jiraiya-san sudah bilang kalau mereka akan kemari nanti. Oh iya Naruto-kun, bagaimana kalau aku mengabarkan hal ini pada keluargaku."

"Aku sih tidak masalah, tapi...bagaimana dengan pendapat ayahmu nanti? Mungkin Neji, Hanabi, dan ibumu akan senang, tapi aku ragu kalau ayahmu juga akan senang mendengar kabar ini," tukasku.

"Tidak apa, aku hanya ingin mereka tahu ada keluarga baru yang akan hadir. Aku ingin membagikan kebahagiaanku pada mereka, hanya itu saja. Boleh kan?" ujarnya sambil tersenyum

"Aku tidak bisa menolaknya kalau kamu tersenyum seperti itu, Hinata. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu."

"Naruto-kun, terimakasih...terimakasih karena selalu mendukungku, dan mendampingiku setiap saat."

"Bodoh, aku sudah berjanji padamu kan?"

Sebelum berangkat ke kantor, aku mengecup kening Hinata dan mengucap salam, sebuah rutinitas yang biasa kulakukan setiap pagi. Namun, entah kenapa...rasanya aku begitu enggan meninggalkan Hinata hari ini. Semoga ini hanya perasaanku saja, semoga...

~Do You Love Me?~

Hinata Pov

Aku bisa mengerti keraguan Naruto saat aku mengutarakan keinginanku untuk memberitahu kabar ini pada keluargaku, memang benar kalau Okaa-san, Hanabi dan Neji Nii-san pasti senang, tapi Otou-san...Otou-san adalah laki-laki yang paling keras kepala yang pernah kukenal dalam hidupku, beliau jarang sekali menarik keputusan yang telah dibuatnya. Walaupun begitu, aku ingin mereka menyaksikan kelahiran cucu pertama mereka, sebuah kehidupan baru yang terlahir dalam keluarga ini. Aku tahu kalau aku sudah berbuat kesalahan fatal yang mungkin tidak akan pernah dimaafkan, tapi bayi ini tidak salah. Dia tidak pantas mendapatkan hukuman yang bukan karena perbuatannya, aku ingin Otou-san mengakuinya dalam keluarga Hyuuga.

"Hinata!" suara Kurenai Sensei memanggil dan membangunkanku dari lamunanku.

"Ah, iya sebentar!" jawabku.

Aku baru ingat kalau aku berjanji akan menemani Kurenai Sensei dan juga Mirai-chan pergi berbelanja hari ini. Kurenai Sensei adalah guruku saat SMA dulu, dia adalah guru terbaik yang pernah kumiliki. Dia selalu peduli terhadap murid-muridnya, dia bahkan rela mendengarkan curhatanku tentang Naruto-kun berjam-jam lamanya, aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Mirai-chan adalah buah pernikahannya dengan Asuma Sensei yang telah berjalan selama 7 tahun. Mirai-chan sendiri gadis kecil yang lucu dan menggemaskan, aku harap bisa memiliki putri selucu dan semenggemaskan dirinya.

"Maaf menunggu lama Kurena Sensei, Mirai-chan," kataku menyapa mereka berdua.

"Tidak lama kok, iya kan Mirai?"

"Iya, tidak lama kok," ujar Mirai menirukan perkataan ibunya.

Keduanya menyambutku dengan hangat layaknya aku adalah bagian dari keluarga mereka. Ah, mungkin ini yang dimaksud oleh Naruto-kun dengan hubungan keluarga tanpa ikatan darah.

"Hehe, terimakasih telah menunggu," balasku pada mereka berdua.

"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang!" teriak Kurenai Sensei penuh semangat.

"Hinata, kau sudah mengabarkan tentang kehamilanmu pada keluargamu?" tanya Kurenai Sensei di tengah-tengah kegiatan belanja kami.

"Belum," jawabku menggeleng.

"Kenapa? Ini kesempatan bagus untukmu agar bisa berbaikan lagi dengan keluargamu kan? Kau tidak mau melakukannya?"

"Tentu saja aku mau, hanya saja aku bingung bagaimana caranya. Ibuku, Hanabi, dan juga Neji Nii-san pasti senang, tapi bagaimana dengan Otou-san? Apa dia mau menerimanya?"

"Hei, jangan murung begitu. Aku yakin kalau dia juga akan menerimanya, kelahiran seorang cucu akan melunakkan hatinya. Aku jamin itu!"

"Terimakasih sensei, terimakasih karena telah mendengarkan semua keluh kesahku selama ini. Aku hanya merepotkanmu dengan segala masalahku, maaf...maaf..."

"Bodoh, kau ini bagian dari keluarga kami kan? Naruto-kun, kau dan juga bayi yang ada di dalam kandunganmu itu, kita semua keluarga, Hinata. Jadi tidak ada kata merepotkan dalam keluarga, semua masalahmu adalah masalahku juga!"

"Iya benar juga, terimakasih Sensei!"

"Hentikan, jangan berterimakasih terus padaku. Terimakasih itu tidak bisa dimakan, kalau kau benar-benar ingin berterimakasih nanti bantu aku membuat makan malam, bagaimana?"

"Baik, dengan senang hati."

"Ngomong-ngomong, dimana Mirai? Aku tidak melihatnya darita...Mirai!"

Kurenai Sensei menunjuk Mirai-chan yang berada tepat di tengah jalan raya yang entah sejak kapan sudah berada disana. Melihat Mirai-chan yang tengah bermain di tengah jalan membuat jantung kami berdetak tidak karuan, perasaan panik dan cemas memenuhi dadaku. Aku memang bodoh, membiarkan diriku dan Kurenai Sensei larut dalam pembicaraan kami sehingga tidak memperhatikan Mirai-chan. Apabila sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Melihat Kurenai Sensei yang tengah shock dan tidak bisa bergerak memunculkan satu pilihan dalam benakku.

Aku mencoba tenang dan berusaha menguasai kepanikanku, setelah menarik nafas dalam-dalam aku segera berlari menuju ke arah Mirai-chan. Beruntung suasana lalu lintas dan pejalan kaki tidak begitu padat, sehingga memudahkanku untuk meraih Mirai-chan. Akhirnya aku berhasil meraih tangan Mirai-chan dan menariknya sebelum dia melangkah lebih jauh. Kurenai Sensei yang melihat keberhasilanku menyelamatkan Mirai-chan hanya bisa mengelus dadanya sambil tersenyum lega. Tiba-tiba saja sebuah mobil meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku dan juga Mirai-chan, kami hanya berjarak beberapa meter saja darinya. Saat itu aku telah membuat keputusan, aku lebih memilih Mirai-chan yang selamat. Aku melemparnya sekuat tenaga ke sisi jalan, beruntung Kurenai Sensei bisa menangkapnya dan dia tidak terluka. Aku hanya tersenyum ke arahnya, Kurenai Sensei berteriak memanggilku dengan pandangan cemas dan panik...itu adalah hal terakhir yang kulihat.

~Do You Love Me?~

Hiashi PoV

Praaang! Sebuah figura baru saja terjatuh tiba-tiba, padahal aku yakin sudah memaku figura itu dengan kencang. Aah, menambah pekerjaanku saja. Aku memungut figura berwarna coklat itu dan melihat foto di dalamnya, seorang wanita cantik tengah berdiri di sana dan tersenyum padaku. Wanita itu adalah putri pertamaku yang bernama Hyuuga Hinata. Seorang gadis yang baik, murah senyum, cantik, tidak pernah sekalipun membangkang pada orangtua. Bisa dibilang dia adalah putri ideal dan kesayanganku selama ini, kalau saja dia tidak melakukan hal kotor yang mencoreng nama keluarga. Semuanya gara-gara ulah Uzumaki Naruto, bocah itu telah menjerumuskan Hinataku ke lubang yang penuh dengan kesesatan. Gara-gara dia aku telah mengusir Hinata pergi, dari sisiku, selamanya.

Sebenarnya, aku tidak ingin Hinata pergi dari sini. Ini adalah rumahnya, tempat kelahiran dan tempat dimana dia dibesarkan. Tapi aku tidak punya pilihan lain, hukum keluarga Hyuuga harus ditegakkan, apalagi posisiku sebagai seorang kepala keluarga. Aku tidak punya pilihan lain, maafkan ayahmu ini Hinata...

"Memandangi fotonya lagi, Hiashi-san?" suara Natsume menganggetkanku.

"Tidak, ini hanya terjatuh dan aku harus membereskannya. Bahaya kalau terinjak!" kataku berpura-pura.

"Kau tidak usah berpura-pura begitu di depanku, aku tahu semua tentang dirimu bahkan saat kau berbohong sekalipun. Kau pikir sudah berapa tahun kita menikah?" tukasnya sambil tersenyum.

"Iya, iya, aku hanya memandangnya sebentar saja. Tidak lebih!"

"Kau rindu padanya?"

"Aku tidak..."

"Hiashi-san..."

"Baik, baik, aku mengaku. Aku memang rindu padanya, kau pikir ada orangtua yang tidak rindu pada putrinya sendiri?"

"Kau menyesal telah mengusirnya kan?"

"Tentu saja, tapi ini sudah hukum keluarga Hyuuga. Aku tidak bisa menentang ataupun mengubahnya begitu saja."

"Kau begitu kolot Hiashi-san, kau terus memegang teguh hukum keluarga yang mengikat takdir kita selama bertahun-tahun lamanya."

"Aku tidak bisa berbuat apapun Natsume..."

"Tentu saja bisa, kau bisa mengubah takdirmu, keluargamu dan juga dirimu. Kita adalah manusia yang bebas menentukan takdir kita, bukan hewan ternak yang tak bisa melarikan diri dan menerima takdir mereka begitu saja."

"Andai saja aku punya kekuatan untuk melakukannya..."

"Kau punya, yang kau butuhkan hanya sedikit keberanian untuk memiliki kekuatan itu. Naruto-kun memiliki kedua hal itu, karena itu dia bisa membuat Hinata bahagia berada sisinya. Hiashi-san, cobalah lihat ke dalam hatimu dan tanyakan sesungguhnya apa yang kau inginkan."

"Aku...ingin...hukum keluarga Hyuuga ditegakkan."

"Dasar keras kepala!" Natsume meninggalkanku setelah mengatakan hal itu.

~Do You Love Me?~

Naruto PoV

Aku berlari dengan sekuat tenaga di lorong rumah sakit yang sempit, bau obat yang tercium dimana-mana semakin membuat hatiku tidak karuan. Teriakan peringatan para suster tak kuhiraukan, aku terus berlari dan berlari. Air mataku terus mengalir deras, kenapa hal ini terjadi padaku? Seandainya saja aku tidak berangkat kerja, seandainya saja aku menemani Hinata, seandainya saja aku...aku...aku...

Aku telah sampai di tempat tujuanku, ruang tempat Hinata dirawat. Kurenai Sensei yang menyadari kehadiranku hanya bisa menangis dan memelukku erat, dia terus mengucapkan kata maaf yang berulang-ulang ditelingaku. Mirai-chan juga menangis keras di pelukan ayahnya, Asuma Sensei. Tsunade Baa-chan dan putrinya, Shizune Nee-chan tengah berjuang menyelamatkan nyawa Hinata di dalam. Jiraiya Jii-chan, berusaha menenangkanku dan mengatakan semua akan baik-baik saja.

Tuhan...akankah aku kehilangan keluargaku untuk yang kedua kalinya? Kenapa kau ambil mereka, disaat aku tengah merasakan lagi kehangatan keluarga? Apakah sebuah kesalahan bagiku untuk memiliki keluarga? Kalau begitu kenapa kau tidak biarkan aku sendirian sejak awal? Kenapa kau mengirimkan Hinata padaku? Kenapa kau biarkan wanita secantik dan sebaik Hinata jatuh cinta padaku? Kenapa kau mengambil semuanya dariku? Kenapa kau lakukan ini padaku!? Kenapa?!

Duniaku perlahan mulai berubah, semuanya mulai terasa gelap dan dingin, aku mulai kehilangan kesadaranku. Aku tahu...aku berada di neraka sekarang.

~Do You Love Me?~

Perlahan kesadaranku mulai pulih, yang kulihat pertama adalah atap putih dan infus yang terpasang di lenganku. Sepertinya aku pingsan tadi, kepalaku masih terasa pusing dan berat. Di sampingku ada Jiraiya Jii-chan yang menemaniku selama aku tidak sadarkan diri. Aku memang bodoh, aku malah menambah beban orang-orang di saat keadaan Hinata sedang kritis. Saat keadaanku mulai pulih, aku langsung meminta izin pada Tsunade Baa-chan untuk menjenguk Hinata. Tentu saja, dia menolak dan mengomeliku habis-habisan. Dia malah menyuruhku untuk tetap beristirahat, tapi aku tidak menyerah. Aku meminta dan terus meminta sampai dia mengijinkanku pada akhirnya.

Keadaan Hinata sangat parah, tubuhnya penuh luka dan darah dimana-mana, beruntung kandungannya selamat. Hanya saja dia harus segera melahirkan, karena kondisi kandungannya yang terus melemah. Namun untuk melakukan hal itu, dia harus mendapatkan kesadarannya kembali.

"Hinata...aku mohon sadarlah. Aku bahkan belum melihat wajah bayi kita dan menamainya, kau bilang ingin aku yang menamainya kan? Karena itu bangunlah Hinata! Kembalilah padaku Hinata, duniaku terasa berbeda tanpamu, aku tidak bisa hidup tanpamu!"

"Na...ru...to...-kun..."

Hinata bicara, Hinata baru saja berbicara padaku! Ah tidak, dia mengucapkan namaku! Ini berarti belum berakhir, Hinata masih berjuang, demi dirinya dan juga bayi kami yang ada di dalam kandungannya. Kalau begitu aku juga tidak akan menyerah, aku akan melakukan sesuatu untuk membawa dirimu kembali Hinata! Aku langsung mengendarai mobilku dan menuju suatu tempat, kediaman keluarga Hyuuga.

~Do You Love Me?~

Seperti biasa, sambutan terhadapku disini tidak begitu baik. Hiashi-san memandangku seolah-olah aku adalah seekor kecoa kecil yang tidak pantas berada di tengah-tengah kediamannya. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku dan mulai mempersiapkan mentalku.

"Ehem, jadi apa maksud kedatanganmu kemari Uzumaki Naruto-kun? Bukankah kita adalah orang asing? Kau yang mengatakannya padaku kan?" Hiashi-san bertanya dengan menggunakam nada yang mengintimidasi.

"Aku akan langsung saja, aku tidak ingin berbasa-basi mengenai hal ini. Aku ingin Anda dan juga sekeluarga untuk ke rumah sakit Senju sekarang juga, Hinata menginginkan kehadiran Anda sekeluarga."

"Apa maksudmu? Kami tidak ada hubungannya lagi dengan wanita itu sekarang, jadi..."

"Hinata baru saja kecelakaan dan dia tidak sadarkan diri sekarang Hiashi-san! Dia itu putri Anda bukan, apa Anda masih berniat mengacuhkannya sampai sekarang!? Dimana hati Anda sebagai seorang manusia dan juga ayah!?" ujarku berang.

"Wanita itu sudah bukan tanggungjawabku lagi, dia milikmu sekarang. Kalau dia kecelakaan itu juga karena kesalahanmu yang lalai. Lagipula, seharusnya kau mendampinginya sebagai suaminya kan?"

"Iya, tapi bukan hanya aku yang Hinata butuhkan! Dia juga membutuhkan Anda dan yang lain sebagai keluarganya, bagian hidup yang tidak bisa dipisahkan begitu saja darinya!"

"Cukup! Aku tidak mau mendengar ocehanmu, memangnya kau pikir kau itu siapa menceramahiku tentang keluarga? Aku sudah hidup lebih lama darimu, aku lebih mengerti apa itu keluarga!"

"Kalau begitu jenguklah putri Anda! Anda akan menyesal seumur hidup jika tidak bisa melihatnya lagi!"

"Bagiku tidak ada lagi penyesalan lagi dalam hidupku. Kalau ada mungkin, karena membesarkan wanita itu sebagai anakku!"

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini pada Anda, karena Anda sama sekali tidak berhak mengetahui kabar ini! Tapi Hinata yang memintaku mengatakannya, jadi aku akan bicara mengenai hal ini! Hinata tengah hamil dan mengandung cucu Anda, jika dia tidak memperoleh kesadarannya dia tidak akan bisa menjalani operasi persalinan. Aku dan Anda akan kehilangan Hinata dan bayi yang ada di dalam kandungannya untuk selamanya!"

"Be-Benarkah itu Naruto-san!?" tanya Hanabi yang tiba-tiba saja merangsek masuk ke dalam ruang pertemuan kami berdua. Sepertinya dia menguping pembicaraan kami berdua.

"Itu benar, aku tidak akan berbohong!"

"Tou-san, kita harus menjenguknya agar Onee-chan..."

"Diam Hanabi! Tidak ada yang memberimu kesempatan untuk berbicara, ini adalah pembicaraanku dengan dia!" bentak Hiashi-san, dia memberikan tatapan peringatan pada Hanabi untuk menyingkir dari hadapannya. Natsume-san, ibunya langsung membawa Hanabi keluar. Hanabi sendiri nampak kesal dan tidak puas atas perlakuan sang ayah padanya.

"Kau itu sombong sekali Naruto-kun, caramu meminta tolong dengan berteriak dan kasar begitu. Itukah yang orangtuamu ajarkan? Bersikap sok penting saat dirimu membutuhkan orang lain..."

"Iya, orangtuaku sudah lama meninggal dan aku diasuh oleh kerabat jauh yang tidak pernah memperdulikanku sekalipun. Aku selalu hidup dalam hinaan dan celaan, tapi bukan itu yang membuatku seperti ini padamu, Hiashi-san! Perbuatanmu pada Hinatalah yang membuatku kesal dan bersikap seperti ini! Kau dengan mudahnya membuang ikatan keluarga yang kau jalin dengan putrimu begitu saja, kau piki keluarga itu apa? Keluarga adalah mereka yang saling mendukung, berbagi kesedihan, kebahagiaan, tawa dan juga airmata. Itulah yang Hinata katakan padaku! Putrimu yang kaubuang mengajarkan hal itu padaku!"

"Kau! Dasar bocah rendahan!" wajah Hiashi-san sudah sangat memerah, emosinya sudah mencapai batasnya.

DAK! Aku membenturkan dahiku ke tatami, mengambil sebuah sikap dogeza di hadapannya, "Kau mau aku mengatakan permintaan tolong dengan begini kan? Kau puas kalau aku memohon dengan begini kan? Sekarang aku sudah merendahkan diri dan martabatku, karena itu...aku mohon...sekali saja...tolonglah lihat Hinata. Aku tahu kalau setiap malam dia menangis dalam tidurnya, meminta maaf pada Anda. Dia sudah sangat menyesal dan menderita selama ini, aku mohon maafkanlah Hinata. Yang dia butuhkan saat ini bukanlah aku, melainkan Anda sebagai keluarganya. Aku mohon sekali lagi, aku mohon..."

Aku merasakan darah mengalir di dahiku, mungkin aku terlalu keras saat membenturkan kepalaku tadi. Tapi aku tidak peduli asalkan aku bisa membawakan keluarganya, aku rela melakukan apapun walau harus kehilangan harga diriku.

"Bodoh!" dia membentakku, aku rasa semua hal yang kulakukan sia-sia saja. Perbuatanku barusan tidak cukup untuk menggugah hati Hiashi-san.

"Laki-laki tidak boleh menundukkan kepala dengan begitu mudahnya, seorang menantu keluarga Hyuuga tidak boleh melakukan hal itu dengan mudahnya!"

"Eh?! Hi...Hiashi-san, Anda bilang apa barusan?"

"Menantu keluarga Hyuuga, itu yang kuucapkan! Apa telingamu itu masih berfungsi dengan benar, Uzumaki Naruto-kun?"

"Ma-Masih!"

"Bagus kalau begitu! Hanabi, Natsume, Neji, persiapkan barang-barang! Kita akan menjenguk Hinata di rumah sakit sekarang!" teriaknya lantang.

"Baik!" jawab ketiganya kompak.

"Hiashi-san, jadi Anda memaafkan Hinata?"

"Bodoh, memangnya kau tidak dengar apa yang kuucapkan barusan?! Aku sudah memaafkannya!"

"Te-Terimakasih, aku sungguh-sungguh sangat berterimakasih!"

"Yang harusanya berterimakasih itu aku, bukan kau. Kau telah memberikan aku keberanian untuk membuat takdirku sendiri, terimakasih Uzumaki Naruto-kun."

~Do You Love Me?~

Kini kami semua sudah berada di kamar rawat Hinata, Tsunade Baa-chan sudah memberikan izin pada kami. Dia mengatakan pada kami, "Terkadang bukan hanya dokter dan obat yang dibutuhkan seorang pasien, melainkan dukungan moral dari keluarga yang selalu bersamanya."

Aku menggenggam tangannya sambil berkata padanya, "Hinata, aku berhasil membawa semua keluargamu disini dan tebak apa yang ayahmu katakan padaku tadi? Dia memaafkanmu Hinata, dia memaafkanmu!"

Tidak ada respon dari Hinata, dia tetap diam layaknya sebuah patung yang bisa bernafas. Aku kemudian memberikan kesempatan pada Hiashi-san untuk bicara padanya.

"Hinata, Otou-san tidak tahu kalau selama ini kau sangat menderita akibat perbuatanku. Harusnya aku yang meminta maaf padamu, bukan kau Hinata. Karena itu bukalah matamu, kau harus mendengar permintaan maafku Hinata!"

Hasilnya sama, tetap tidak ada respon dari Hinata. Apakah ini akhirnya? Aku pikir aku telah membawa keajaiban pada Hinata, tapi ternyata tidak. Perlahan aku kembali mendekati tubuhnya dan berbisik, "Kalau tidak ada Hinata, rasanya hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Bukankah kau pernah bilang, ingin selalu bersamaku, disisiku walaupun aku tidak menginginkannya? Kalau begitu aku ingin kau berada disini Hinata, bersamaku. Aku menginginkan kehadiranmu. Dunia akan terasa berbeda tanpamu disini Hinata, karena itu aku mohon...bukalah matamu. Aku mencintaimu."

Aku mengecup keningnya dengan lembut, tak terasa air mataku mengalir. Aku tidak bisa menerima akhir yang menyedihkan begini, aku tidak bisa. Tiba-tiba sesuatu yang lembut terasa menyentuh kepalaku dan mengelusnya.

"Na...ru...to...-kun...ja...ngan...me...na...ngis...a...ku...di...si...ni..." dia mengatakannya dengan terbata-bata sembari tersenyum.

"Hinata, syukurlah...syukurlah!" aku memeluk tubuhnya dan menciumnya sebagai tanda ucapan syukurku.

"Oi, pasien sudah sadar! Segera siapkan perawatan dan juga operasi persalinan, kita akan bekerja keras!" seru Tsunade Baa-chan pada staffnya.

Persiapan operasi memakan waktu lama, karena menunggu kondisi Hinata agar bisa menjalani operasi. Operasinya sendiri memakan waktu beberapa jam, sungguh saat itu aku sungguh benar-benar cemas dan ketakutan. Aku bahkan meneteskan keringat lebih banyak daripada saat di sauna dan keluar masuk toilet. Upaya Jiraiya Jii-chan dan yang lain untuk membuatku tenang rasanya tidak ada yang berhasil, aku baru bisa tenang saat melihat wajah istri dan anak pertamaku. Beruntung tidak ada kendala saat operasi, Hinata dan bayi kami baik-baik saja, dia lahir dengan sempurna.

Wajahnya lebih banyak mengambil dari sisiku yang membuatnya terlihat tampan, sedangkan kulitnya yang putih dan halus seperti Hinata. Aku memeluknya sebentar dan kemudian memberikannya pada Hinata untuk diberikan ASI pertamanya. Sungguh aku benar-benar terharu melihat kejadian ini hingga menitikkan air mata. Hiashi-san juga sepertinya terharu, hanya saja dia terlalu gengsi untuk membiarkan air matanya mengalir. Sepertinya dia punya banyak hal yang ingin disampaikannya pada Hinata, hanya saja dia menahannya. Dia ingin menunggu kondisi Hinata sampai benar-beanr pulih dan kemudian berbicara padanya secara langsung. Hanabi, Natsume-san, dan juga Neji memandang putra kami dengan gembira, mereka sudah tak sabar ingin menggendong dan bermain bersamanya kurasa.

~Do You Love Me?~

Pemulihan fisik Hinata berjalan yang cepat membuatku terkagum-kagum, ini pasti berkat kerja keras Tsunade Baa-chan. Tak heran banyak orang yang menjulukinya sebagai dokter nomor satu se-Konoha. Aku bahkan juga tidak perlu khawatir dengan pertumbuhan Boruto, bayi kami, walau dia lahir agak cepat dari jadwal yang sudah diperkirakan. Biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh Jiraiya Jii-chan selaku direktur, aku sungguh sangat beruntung bisa mengenal kedua orang baik hati ini.

Hinata masih belum kuperbolehkan untuk melakukan hal-hal berat, oleh karena itu aku bergantian dengan Natsume-san dan Hanabi untuk mengurusnya. Awalnya dia terlihat keberatan, namun lama kelamaan dia bisa menerimanya juga.

"Nee Naruto-kun," dia berkata tiba-tiba pada diriku yang tengah mengupaskan apel untuknya.

"Apa sayang? Apa ada yang sakit?" tanyaku khawatir.

"Tidak," dia menggeleng dan kemudian melanjutkan perkataannya, "Aku hanya penasaran, apa kau sudah bertemu dengan Otou-san? Aku belum melihatnya sama sekali akhir-akhir ini."

"Aku sering bertemu dengannya di depan ruang inkubator, aku pikir dia ke ruanganmu setelah itu," ujarku.

"Tidak kok, sama sekali tidak pernah. Apa dia masih membenciku?"

"Aku pikir tidak, kalau dia membencimu dia tidak akan kesini setiap hari untuk melihat Boruto. Mungkin, dia hanya malu untuk kesini dan berbicara padamu."

"Kalau begitu, bisa kau sampaikan padanya aku ingin bertemu dan bicara padanya?"

"Tentu..."

"Tidak usah, aku sudah disini!" Hiashi-san tiba-tiba saja muncul di belakangku.

"Otou-san, maaf..."

Hinata mencoba untuk bangun, namun dia ditahan oleh Hiashi-san yang berkata, "Kau tidak usah banyak bergerak dulu. Tubuhmu belum sembuh benar."

Hinata hanya mengangguk diam menyetujui perkataan ayahnya, Hiashi-san kemudian berganti menatapku.

"Anoo, apa aku harus keluar dan memberi kalian waktu berdua?" tanyaku canggung.

"Tidak usah, kau juga harus mendengarkan hal ini karena ini menyangkut kalian berdua. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini, tapi aku terus mengundurnya. Aku terlalu takut untuk mengatakannya, tapi hari ini aku akan mengatakannya. Hinata, Naruto-kun...aku minta maaf! Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kubuat pada kalian, aku sungguh-sungguh minta maaf!" Hiashi-san menundukkan kepalanya dengan berurai air mata, sungguh pemandangan yang tidak bisa dipercaya. Orang yang sekeras Hiashi-san bisa dengan mudahnya menundukkan kepala, meminta maaf pada kami anak dan menantunya dengan berurai air mata.

"Otou-san jangan begitu! Otou-san tidak boleh menundukkan kepala begitu!" Hinata segera mengangkat kepala Hiashi-san.

"Tidak Hinata, ini masih belum cukup untuk menebus atas semua keasalahan yang pernah kubuat. Sejak dulu aku selalu dididik dengan keras oleh ayah dan ibuku, mereka ingin menjadikanku seorang pemimpin klan Hyuuga yang hebat dan juga disegani. Oleh karena itu kegagalan tidaklah dimaafkan. Mematuhi hukum Hyuuga yang selalu benar dan tidak pernah salah, itulah yang mereka ajarkan padaku..." Hiashi-san menghela nafas dan kemudian melanjutkan ceritanya lagi.

"Itu adalah hal yang berat, namun aku tidak pernah punya keberanian untuk menentangnya. Karena itu aku pun mendukung pandangan itu dengan menerapkan hukum itu dalam kehidupanku. Aku membentuk keluarga dan membesarkan kedua anakku dengan aturan Hyuuga, tapi hari itu...hari dimana kau hamil. Saat itu aku tahu kalau aku sudah gagal sebagai ayah dan kepala keluarga, aku salah dan tidak bisa membesarkan putriku dengan baik."

"Otou-san...aku yang salah...bukan Otou-san. Aku yang sudah membuat Otou-san menderita, Otou-san bukanlah ayah yang gagal," ujar Hinata dengan berurai air mata.

"Tidak Hinata, aku memang gagal dan aku tidak mau mengakuinya. Karena itu aku memutuskan untuk mengeluarkanmu dari keluarga untuk menghapus kesalahanku. Aku berkata pada diriku dan orang lain bahwa aku melakukannya untuk melindungi nama baik keluarga, namun aku salah. Yang sebenarnya aku ingin lindungi adalah diriku sendiri, aku seorang ayah yang jahat bukan? Hinata...aku minta maaf! Maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku ingin menjadi ayahmu sekali lagi!"

"Aku selalu berpikir kalau Otou-san tidak akan pernah memaafkanku, tapi aku tidak pernah menyerah. Aku selalu mendambakan kita berkumpul lagi bersama seperti layaknya sebuah keluarga, karena itu Otou-san jangan mengucapkan hal itu. Karena baik sekarang, dimasa depan, dan sampai kapanpun, aku adalah anak Otou-san, putri pertamamu, Hyuuga Hinata."

Hinata memeluk Hiashi-san dengan erat dan berurai air mata haru, bahkan air mata yang sedari tadi kutahan pun akhirnya tumpah juga karena melihat momen mengharukan antara putri dan ayahnya. Akhirnya keinginan Hinata bisa terwujud juga, dia bisa kembali bersama keluarganya.

~Do You Love Me?~

Lima tahun telah berlalu, aku dan Hinata masih hidup bahagia sebagai sepasang suami istri. Setahun setelah Boruto lahir, Hinata melahirkan anak kami yang kedua, Uzumaki Himawari namanya. Kalau Boruto lebih banyak mengambil dari sisiku, Himawari sebaliknya. Dia lebih mirip dengan Hinata, ibunya yang tentu saja membuatnya sebagai putri paling cantik dan terimut sedunia.

Hiashi-san dan juga Natsume-san sering mengunjungi kami di akhir pekan untuk bercengkrama dengan kedua cucunya itu. Hanabi dan Neji pun tak keberatan bila kuminta menjaga mereka jika aku dan Hinata tengah sibuk. Sungguh, rasanya kedatangan kedua malaikat kecil kami ini telah mengubah keluarga Hyuuga yang dingin dan suram menjadi hangat dan ceria.

"Tou-chan! Selamat pagi!" sapa kedua malaikat kecilku pada diriku yang masih terbaring di ranjang.

"Pagi, kalian semangat sekali hari ini. Ada apa?"

"Tou-chan sudah janji kan akan mengajak kami bermain hari ini! Jadi cepat bangun!" keduanya menarikku dengan paksa untuk meninggalkan tempat tidurku yang nyaman.

"Baik, baik, Tou-chan bangun kok," akhirnya aku menyerah pada kedua malaikatku ini dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diriku.

"Ah Naruto-kun, selamat pagi!" sapa Hinata yang tengah membuat sarapan.

Penampilannya yang masih terlihat agak berantakan mengindikasikan kalau dia juga baru saja bangun dan dipaksa kedua anak nakal ini untuk membuat sarapan, dia bahkan belum sempat mencuci mukanya. Aku yang tak tahan melihat wajah berantakannya langsung mencium bibirnya.

"Hei, jangan menciumku didepan anak-anak!"

"Tidak apa kan, ini bisa menjadi contoh kasih sayang bagi mereka."

"Dasar! Hei Naruto-kun...do you love me?"

"Yes, forever and always..."

Aku kembali mengecup bibir Hinata yang lembut dan manis.

END

Author Note

Liebesleidadalah salah satu bagian dari Alt-Wiener Tanzweisen. Alt-Wiener Tanzweisen sendiri adalah set yang terdiri dari tiga bagian untuk biola dan piano yang ditulis Kreisler. Tiga bagian itu biasanya ditampilkan secara terpisah, dan judulnya adalah Liebesfreud (Love's Joy), Liebesleid (Love's Sorrow), and Schön Rosmarin (Lovely Rosemary)."

Tatami : sebuah papan yang digunakan pada rumah-rumah di jepang. Biasanya rumah tradisional yang menggunakannya.

Dogeza : sikap orang Jepang saat benar-benar menyesal dan meminta maaf

Yak, dengan terbitnya chapter ini akhirnnya selesai pula fict ini. Terimakasih bagi yang selalu mendukung dan menantikannya ya. Tadinya chapter ini mau dibuat dua bagian, tapi nanggung ah. Jadinya dibuat agak panjang deh. Maaf ya apabila kurang puas dengan endingnya dan ada salah kata. Sampai jumpa di lain kesempatan dan jangan lupa reviewnya!