Tittle : Striptease

Subtittle : Promise

Rating : T for this chapter

Characters : Uchiha Sasuke (20), Uzumaki Naruto (16), Hyuuga Neji (20), Deidara (22) Sabaku no Gaara (18), Uchiha Itachi (24).

Warning : Yaoi, SasuNaru, NejiGaa, xxxSasu.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

.

.

.

Stripper must be a bitch. Patahkan anggapan itu kalau anda setuju dengan pernyataan barusan. Apalagi kalau yang sedang dibicarakan ini adalah dia, si rambut pirang. Ia tidak begitu tahu betapa pekerjaan itu amat merusak dirinya dan nama baiknya.

Kotor.

Karena yang ia tahu hanya sekedar menari erotis sambil menanggalkan pakaian, diberi uang, dan tentu saja... niat mulianya membahagian sang kakak.

Ini hari Minggu. Hari dimana ia biasa menghabiskan waktu di rumah sepulang dari Gereja. Mendengarkan lagu-lagu rohani yang menyejukkan hati. Menanti kakaknya pulang dan menyambutnya dengan wajah penuh senyuman.

Tapi tidak kali ini.

Naruto duduk di jok sebuah mobil silver mewah yang tengah meluncur membelah jalan utama Konoha Prefecture. Di sampingnya ada seorang pemuda berambut kecokelatan bertindak sebagai pengendara mobil mewah tersebut. Si pemuda itu menghentak-hentakkan kepalanya naik turun mengikuti dentuman musik keras yang memenuhi seisi mobil.

"Rumah paman celengan babi itu masih jauh, ya?" suara Naruto bersaing dengan musik yang memekakkan telinga dari band yang ia ketahui bernama Linkin Park.

Pemuda Hyuuga itu menjulurkan tangannya pada player yang terdapat di sebelah kanan setir mobil. Menekan tombol volume untuk memelankan musik, "Maaf, aku tidak dengar,"

Naruto mendengus. Manis sekali wajahnya kalau merengut begitu, "Tadi aku bertanya, 'apa rumah si Paman Celengan Babi itu masih jauh?'"

Sejenak si pengendara tertohok. Lalu menahan tawanya. Dirinya adalah Mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi terkemuka di Jepang. Artinya, seorang Hyuuga Neji tidak terlalu bodoh untuk mencerna apa yang dikatakan si Bocah. Paman Celengan Babi? Perumpamaan menarik yang ia tahu pasti ditujukan pada siapa.

"Heh! Aku tidak menyuruhmu tertawa tidak jelas seperti itu! Jawab pertanyaanku!"

"Sudah tidak sabar ya?"

Pernyataan barusan menghasilkan pelototan dari mata safir milik Naruto.

"Sebentar lagi juga sampai. Kurang dari sepuluh menit, kurasa!" ujar Neji sambil memperhatikan Naruto, 'Manisnya! Kalau saja bukan milik Sasuke, pasti sudah aku 'makan''

"Apa lihat-lihat?" bentak si pirang. "Perhatikan jalan atau kita akan berakhir di Rumah Sakit!"

Neji tidak takut dengan nada ancaman dari Naruto. Ia malah kembali menahan tawa. Meski begitu ia menurut, kini penglihatannya sudah terpaku kembali pada jalan. Tangannya merayap ke arah tombol volume dan detik berikutnya seisi mobil kembali dipenuhi musik keras.

Naruto menyumpal kedua daun telinganya dengan telapak tangannya.

.

Kediaman Uchiha.

Siapapun orang yang pertama kali menginjakkan kaki di sana pasti akan berdecak mengagumi kemewahan dan kemegahan Arsitektur-nya yang sedikit mengingatkan kita pada Kuil Parthenon nun jauh di Yunani sana.

Halaman luas dan ditumbuhi bunga-bunga indah serta sebuah kolam dengan patung Goddess Athena yang memiringkan bejana berisi airnya, symbol dari keindahan serta perlindungan. Cita rasa seni yang tinggi sepertinya dimiliki Arsitek yang merancang pembangunan rumah ini.

"Mari masuk! Si Paman Celengan Babi tentu tidak akan suka terlalu lama menunggumu." Neji menggoda Naruto dengan memberi penekanan di kata si-Paman-Celengan-Babi.

Naruto sempat kaget dengan ajakan tiba-tiba Neji. Meskipun dulu ia pernah hidup mewah, tapi jujur saja, rumahnya tidak sebesar rumah Uchiha ini.

Naruto jelas merasa sedang berada di depan istana. Ia akan tinggal penuh kemewahan serta kebahagian, sedangkan di sana kakaknya harus bersusah payah membagi suapnya dengan segala kebutuhan lain.

Naruto bukan seorang egois yang mampu hidup tersenyum di atas tangis orang lain. Tapi bukankah lebih baik begini? Kalau Naruto tetap hidup dengan Deidara -kakaknya- itu sama saja namanya dengan merangkak pada pundak kakaknya yang tengah memikul beban yang berat.

Ingat! Deidara sendiri yang menginginkan semua ini. Setidaknya, itulah yang ada dalam fikiran Naruto.

Hyuuga Neji tidak perlu izin khusus untuk masuk ke tempat mirip surga ini. Ia sudah menganggap tempat ini sebagai rumah kedua baginya. Meski sesungguhnya Sasuke sendiri tidak pernah mengatakan hal seperti, 'Anggap saja ini rumahmu.'

Dengan mudahnya mereka memasuki lapisan gerbang yang dijaga oleh dua orang satuan pengamanan. Kotetsu dan Izumo. Mereka tersenyum ramah seakan yang datang itu adalah Tuan Muda mereka.

Dan sekarang mereka sudah memasuki ruangan utama. Jam antik besar dengan angka Romawi di dekat meja telepon itu menunjukkan pukul 05.07 p.m maka tidak heran kalau di sana di sini banyak maid yang berseliweran untuk membersihkan ruangan.

Seperti mendapat komando, mereka serempak menghentikan aktivitas mereka. Dengan satu bungkukan hormat, mereka memberi salam, "Selamat sore, Hyuuga-sama!"

Naruto hanya diam. Sedangkan di sebelahnya, Neji tersenyum.

Dengan keheranan para maid itu memperhatikan Naruto. Mereka merasa yakin Tuan Muda Uchiha tidak akan suka Neji membawa seseorang asing. Tapi mereka tidak akan mau ikut campur, mereka hanya memberikan tatapan semoga-Anda-selamat-setelah-ini.

"Kalian boleh kembali bekerja! Dan kau~" Neji menunjuk seorang maid yang tengah merangkai bunga Tulip, "Di mana Sasuke?"

"Tuan Muda ada di kamarnya. Seharian ini beliau menunggu seseorang di ruangannya. Karena jenuh, beliau memutuskan beristirahat. Beliau berpesan tidak boleh ada yang mengganggunya sampai jam makan malam tiba."

Dengan senyum mencurigakan, Neji melirik anak pirang di sampingnya, "Aku yakin! Kalau kami yang mengganggu, pasti akan beda ceritanya!"

Neji menyadari keterlambatan mereka. Mendaftarkan Naruto ke sekolah barunya itu bukan hal gampang. Tanpa orang tua, ataupun wali -yang berakhir dirinya sendiri sebagai wali Naruto- terlebih harus lama menunggu Naruto menyebutkan nama lengkapnya. Entah kenapa.

.

Pintu warna beige ini berukuran kurang-lebih 3 meter. Ukiran sederhana dan sebuah papan bertuliskan .

Naruto memandang pintu itu horor.

Pertama, ia akan memanggil orang di dalam itu dengan sebutan-sebutan paling buruk yang pernah ada di muka bumi ini.

Kedua, ia akan melandaskan beberapa pukulan di wajah sang Uchiha, sekedar untuk menenangkan kecamuk emosinya.

Ketiga, mungkin sepercik, dua percik ludah akan cukup bisa memuaskan hatinya.

Seorang anak remaja berumur 16 tahun dengan emosi yang masih labil harus dipaksa berpisah dengan kakak yang amat dicintainya. Tentu siapa saja akan maklum dengan apa yang ada di pikiran Naruto sekarang.

Tangannya mengepal kuat-kuat

"Kau saja yang masuk duluan. Beri kejutan pada 'Paman Celengan Babi'-mu itu. Tapi, jangan membuatnya marah. Dia itu layaknya beruang kalau sedang tidur!"

Pemuda berambut pirang itu hanya menyeringai. Ia membuka pintu besar di depannya tanpa menimbulkan deritan sedikitpun. Kualitas engsel yang luar biasa.

Perlahan Naruto memasuki ruang kamar yang ukurannya hampir sebanding dengan rumahnya saat ini. Wewangian maskulin menguar di hidungnya. Cat tembok berwarna putih bersih. Tidak banyak pernak-pernik maupun barang yang terdapat di sana. Hanya meja belajar, lemari baju, meja Televisi dan benda elektronik penghibur lainnya. Ditata apik, gayanya minimalis. Di sana ada kasur besar yang menampilkan sosok tertutup selimut yang sepertinya membelakanginya.

Dengan ragu, Naruto mendekati sosok yang tertidur itu. Rambut hitam itu berantakan. Si pirang tak bisa melihat wajah itu karena si pemilik menyembunyikan wajahnya.
Ia ulurkan tangannya untuk membalik badan si pangeran tidur. Ingat rencana semula, mulutnya sudah gatal. Tapi...

Me-nge-jut-kan...

Mulut mungil Naruto hanya mampu menganga. Wajah itu... wajah tampan itu. Garis wajah yang halus dengan tulang rahang tegas namun berkesan gentle. Untuk pertama kalinya ia berterus terang tentang kesempurnaan tampang seorang laki-laki.

Otaknya dengan cepat mencerna bahwa ia salah orang.

Rencana pertama berakhir gagal.

Naruto menoleh ke arah Neji. Si Hyuuga itu mengisyaratkan Naruto meneruskan tugasnya tadi membangunkan si pangeran tidur.

Bingung. Kenapa seperti ini? Tidak mungkin pemuda tampan yang tertidur manis ini adalah seorang yang sudah membelinya dan jelas jauh dari bayangannya tadi.

Ia melirik sebuah foto besar yang terpampang di atas ranjang. Benar mirip. Sosok berkemeja putih itu tampak tersenyum penuh wibawa tapi berkesan angkuh sambil melipat tangannya.

Kesimpulannya, orang ini memang Uchiha.

Naruto kembali ingat sesuatu. Rencana kedua.

Naruto mendekatkan tangannya pada bahu, Uhmm sebut Sasuke.

Tidak. Wajah itu tampak damai. Adalah dosa baginya yang mengganggu sebuah keindahan milik orang lain. Jelas wajah damai itu tengah berkata bahwa mimpi indah sedang dirasakan sang pemilik.

Naruto hanya mampu mengguncang bahu Sasuke. Lembut. Sasuke menggeliat-geliat.

Rencana kedua berakhir gagal.

"Waaaa! !"

Ditariknya tangan berkulit karamel itu. Posisi Naruto tepat di atas Sasuke.
Kejadiannya begitu cepat. Naruto menambahkan kecepatan tangannya mengguncang bahu Sasuke dan tangannya ditarik hingga tubuhnya menimpa Sasuke.

"Kenapa. Kau. Membangunkan. Aku?" di sinilah suara khas Uchiha ketika nada tegas dan nada mengancam bersatu menimbulkan sesuatu yang disebut kengerian bagi siapapun yang mendengarnya. Itu juga berlaku untuk Neji, pemuda yang sudah menjadi sahabatnya selama belasan tahun.

Lupakan rencana kedua yang gagal total. Saatnya rencana ketiga. Dan inilah rencana terakhir yang sangat mudah, mengingat posisinya yang sangat mendukung. Jangan sampai rencana ini menyusul kegagalan rencana satu dan dua yang unhappy ending.

"Maaf!" heee? Bahkan Naruto pun tidak sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. "Maaf sudah membangunkanmu. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin berkata bahwa aku sudah datang."

Ah! Lagi-lagi gagal. Naruto mungkin tidak ditakdirkan sebagai pendosa yang seenaknya bisa mengeluarkan kekesalan dengan kontak fisik.

Pun kejadian sekarang begitu cepat. Naruto tidak sempat menyadari kapan Uchiha itu membalik posisi.

Tubuhnya membatu di bawah tindihan sang Uchiha. Jantung Naruto berdetak dua kali lebih cepat. Mata onyx yang sekelam malam itu menusuk pandangannya seakan menghentikan laju kerja syarafnya. Otaknya mengirim perintah ke seluruh tubuh untuk melepaskan diri namun yang bisa Naruto lakukan hanyalah diam.

Posisi mereka terlalu dekat sampai-sampai keduanya bisa mendengar bunyi detak jantung yang bersahutan. Bahkan dengan posisi sedekat itu memungkinkan mereka untuk saling bertukar nafas.

Meski Sasuke menahan beban tubuhnya dengan kedua tangannya, namun Naruto merasa tubuh berhawa dingin itu erat menghimpitnya.

"Jangan bilang kau punya penyakit jantung? Dasar Dobe!" Sasuke dengan tanpa dosa tiba-tiba beranjak dari kasur setelah mendorong Naruto ke samping.

"Haaa, Teme!" Naruto berteriak sambil membangunkan diri dari ranjang. Ia mendekati Sasuke yang duduk di tepi ranjang lalu menunjuk hidung sosok berambut acak-acakan itu, "Seenaknya saja! Kau pikir, kau siapa?"

Sasuke membuang napas lalu menyingkirkan tangan mungil yang menyentuh hidungnya itu, raut wajahnya datar. Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu bertuliskan 'bathroom', lalu berbalik lagi, "Tunggu aku di ruanganku. Nanti aku menyusul! Sorot matanya bukan terarah pada Naruto."

"Aku masih mau bicara! Jangan seenaknya meninggalkanku! Hei, Teme!"

Neji muncul dari belakang Naruto, menepuk pundaknya pelan, "Aku belum pernah sekalipun duduk atau sekedar menyentuh ranjang ini. Apalagi tidur di atasnya. Kau mungkin memang istimewa untuknya."

Naruto menggerutukkan giginya, "Aku tidak perduli!"

"Lebih baik kau ikut aku!"

.

Tuk.. tuk.. tuk..

Bunyi ketukan jari pada meja kayu itu mencoba menyamai bunyi detikan jarum jam yang terpasang di dinding. Siapa yang tidak kesal harus menunggu seseorang sampai hampir satu jam. Terlebih yang ditunggu adalah seorang pemuda. Seharusnya waktu 10-20 menit sudah cukup bagi seorang pemuda untuk mandi dan berpakaian.

Sedangkan bocah yang berpakaian serba orange itu lebih suka membunuh waktu dengan duduk di lantai sambil menopang dagu menggunakan meja. Mendengarkan guru menerangkan pelajaran Sejarah memang membuatnya mati bosan, tapi ternyata itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pekerjaan paling tidak menjengkelkan bernama menunggu.

Ceklekk!

Suara tertutupnya pintu mulai merubah suasana. Naruto duduk di sebelah Neji dan di hadapan mereka duduk pula Sasuke.

"Pertama, aku tidak suka pakaianmu. Warna terang bisa merusak mataku!" Sasuke memecah keheningan.

"Hei! Tidak ada yang salah dengan warna ini. Yang salah itu seleramu. Das~"

Pemuda berambut raven dengan santai memotong, "Kedua, kalau berbicara jangan berteriak. Suara tinggi bisa merusak gendang telingaku."

Dengan cepat Neji menyumpal mulut Naruto dengan kue kering yang ia ambil dari toples di atas meja. Si mata lavender tahu ruangan itu akan segera gaduh kalau ia tidak melakukan sesuatu. Neji menaruh telunjuknya di bibirnya sendiri. Sebuah isyarat agar Naruto diam.

Yang disuruh jadi menggerutu dalam hati dan mengunyah kue malang seukuran ibu jari yang baru saja dipaksa masuk ke mulutnya.

"Ketiga, jangan bertingkah konyol di hadapanku. Aku tidak bisa tahan dengan orang konyol yang selalu cari perhatian!" tetap tenang dan datar mengikuti gaya bicaranya. "Selebihnya, kau bisa tanya pada Neji. Apa yang aku benci dan apa yang tidak aku benci."

Urat-urat kemarahan sudah tampak jelas di dahi Naruto. "Kalau aku berbuat seperti yang kau mau, lalu kapan aku boleh pulang?"

Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi besar nan empuk berwarna kecokelatan sambil berlaku tak acuh pada pertanyaan Naruto. Ia memperhatikan sekeliling. Tempat ini sangat kental dengan furniture berwarna cokelat. Meja televisi, sofa, lemari buku, semua berwarna cokelat seragam. So natural and classic. Pewangi ruangan beraroma chinnamon pun akan membuat kita betah lama-lama di ruangan ini. Sayang, sepertinya Sasuke tidak akan membiarkan sembarang orang memasuki tempat pribadinya ini.

"Oi, Teme! Jawab aku!"

Neji yang berada di samping Naruto, segera mencubit pantat si Orangeholic itu, "Pelankan suaramu atau dia akan membunuhmu dengan tatapannya!"

"Aku hanya akan memulangkanmu kalau aku mau." mata itu tidak teralih pada lawan bicara. Onyx yang sombong.

"Teme sialan!"

Naruto dengan cepat berdiri dan meninggalkan tempat itu. Membanting pintu keras-keras seakan ingin menunjukkan bahwa ia sedang marah.

Kini mata onyx itu berputar ke arah Neji, tatapannya seakan berkata kejar-dia.

Inilah takdir seorang Hyuuga Neji yang menjadi tangan kanan seorang Uchiha Sasuke. Ia tidak pernah diberi gaji atau sekedar ucapan terima kasih. Namun membuat Sasuke senang karena keinginannya dituruti saja sudah membuat pemuda berambut panjang itu senang.

Neji keluar ruangan mengejar athlet lari dadakan yang beberapa saat lalu meninggalkannya.

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Sampai terdengar...

Praaang!

Neji menuju arah asal suara. Di sana ada Naruto yang jatuh meringkuk dan di depannya banyak sekali berserakan pecahan-pecahan keramik. Jujur saja, Neji panik. Namun kepanikan itu berangsur memudar setelah tidak dilihatnya ceceran darah.

"Kau tidak apa-apa?" Neji mengulurkan tangannya, hendak membantu Naruto berdiri tapi dengan segera tangan putih itu ditepis secara kasar.

'Jangan sentuh aku!" suruhan yang singkat-padat-jelas.

Neji menarik kembali tangannya. Memperhatikan Naruto yang mencoba berdiri tapi tak berhasil. Ia membiarkan Naruto kembali jatuh dan lalu duduk di sebelahnya.

"Hyuuga-sama, biar saya bersihkan pecahan guci ini!" seorang maid datang tergopoh dan bicaranya sedikit tersengal.

Senyuman manis kembali terukir di wajah Neji, "Nanti saja dibersihkannya. Sekarang tinggalkan saya dan anak ini!"

Maid yang kebingungan itu menurut dan meninggalkan Neji yang duduk bersebelahan dengan bocah pirang. Dua orang itu tidak perduli terhadap pecahan keramik yang mengganggu pandangan.

"Baiklah kalau kau menginginkan tempat pembicaraan seperti ini. Sekarang, ceritakan padaku, kau ini kenapa?"

Naruto mencoba berdiri namun jatuh lagi. Ia menyerah, "Aku berlari lalu pergelangan kakiku terkilir. Tanpa sengaja aku menyenggol sebuah guci besar dan terjatuh. Apa Uchiha itu akan marah?"

Neji tertawa dengan entengnya, "Kupikir stripper sepertimu tidak akan ceroboh. Setahuku kau tidak pernah jatuh sewaktu naik turun tiang strip,"

Naruto memberikan tatapan tidak suka.

"Maaf, maaf! Aku cuma bercanda. Lagi pula aku tidak bertanya mengenai insiden jatuhmu. Aku tanya, kenapa tadi kau tiba-tiba meninggalkan aku dan Sasuke?"

Bocah berkumis kucing terdiam sebentar, "Oh, yang itu?" flashback peristiwa kabur dirinya terbayang di otak Naruto. "Uchiha itu menyebalkan. Aku yakin, aku tidak akan kuat kalau berlama-lama tinggal di sini!"

Neji menaruh tangannya di pundak Naruto sok akrab dan sok mengerti. Itu membuat Naruto berharap ada kantung muntah di tangannya, "Kau tahu? Aku sudah berteman dengan Sasuke selama belasan tahun. Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa tahan dengan sikap sasuke yang, yah... bisa kita katakan disgusting itu. Sasuke memang berbeda. Sikapnya, hobinya, cara ia membenci sesuatu, cara ia menyukai sesuatu, terutama cara berpikirnya. Ia benar-benar berbeda dari orang lain,"

Naruto membuka mulutnya hendak berkata sesuatu...

"Maka dari itulah aku mau berteman dengannya," Neji cepat menyela. "Orangnya tidak gampang ditebak itu membuatnya tampak menarik. Dan bukankah sesuatu yang berbeda itu juga menarik?"

Naruto mengurut-urut kakinya sambil sedikit meringis sambil mendengarkan si Hyuuga itu berujar.

Neji meneruskan cerita, "Ia tidak se-menyebalkan yang kau kira, karena jauh di dalam hatinya, ia... ia hanyalah seorang yatim piatu rapuh, kesepian, dan butuh kasih sayang. Meski ia menutup dirinya pada orang luar, tapi aku yakin ia membutuhkan kasih sayang orang lain."

Yatim piatu? Kesepian? Itu artinya Uchiha Sasuke tidak jauh lebih baik dari Naruto. Ia bersyukur masih punya ibu -meskipun keadaannya bukan sesuatu yang harus ia banggakan- dan seorang kakak laki-laki yang amat dicintainya. Wajah Naruto sekarang tampak relax, siap mendengarkan kelanjutan cerita yang dibawakan Neji.

Mata Neji menerawang ke atas langit-langit, "Sasuke selalu menyembunyikan semua kelemahannya itu di balik sifat arogan-nya. Tak sekali aku memergokinya menangis diam-diam. Neji menarik napas, Sebenarnya ia tidak benar-benar sendiri. Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jauh lebih sering di luar negeri. Ia bekerja demi Sasuke seorang."

Niisan.. tiba-tiba itulah yang ada di benak Naruto sekarang.

Kenapa hidup Sasuke mirip dengan kisah hidupnya? Tidak mungkin ini hanya sandiwara Neji, karena Naruto benar-benar merasakan kesungguhan dalam ucapan pemuda ini.

Ia tidak mau menyangkal kalau kelebihan materi bukanlah suatu jaminan seseorang akan hidup bahagia. Tuhan benci hamba-Nya yang membiarkan orang lain dalam lingkaran kesedihan. Naruto pernah mendengar itu.

Neji menatap mata Naruto dalam-dalam, "Nama kakaknya adalah Itachi. Akan melakukan apapun untuk Sasuke. Bahkan aku mengikat janji dengannya untuk sama-sama berusaha membahagiakan Sasuke. Nah, apa kau mau mengikat janji denganku untuk hal yang sama?"

Naruto akan tinggal di sini. Sesungguhnya ia tidak tahu apa yang Uchiha itu harapkan darinya. Kalaupun pulang, kakaknya belum tentu mau menerimanya. Tidak ada jalan lain untuk Naruto. Ia tidak siap untuk hidup mengemis di luar sana.

Naruto berusaha akan melakukan apa yang ia bisa untuk menghapuskan kesendirian dan kesedihan Sasuke.

Jari kelingking terjulur di depan wajah bertanda lahir mirip kumis kucing itu. Dengan ragu ia ikut menjulurkan jari kelingkingnya. Saling mengait.

Ikatan janji telah terjalin.

Khas anak-anak, memang. Neji tersenyum sendiri, mengenang kalau ia pernah melakukan cara ini tujuh tahun yang lalu.

"Sudah kubilang jangan berbuat hal konyol di hadapanku! Dan kau, Neji! Apa kau tertular si Dobe ini?" suara cukup keras itu berasal dari orang yang tengah menuruni tangga dan menenteng sesuatu di tangannya.

Menyadari pelipis Naruto yang berkedut, Neji berbisik pada pemuda yang siap meledak itu, "Ingat janji kita!"

Mengangguk mengerti. Tapi wajahnya masih kesal. Naruto lalu memperhatikan tas kotak berwarna putih di tangan Sasuke yang ia terka pasti akan digunakan untuk memukul kepalanya.

"Kakimu membiru begitu, biar aku obati!"

Naruto shock. Neji dua kali lipat lebih shock.

Sasuke dengan santainya mengeluarkan salep dan membalurkannya ke kaki Naruto. Ia sedikit melakukan gerakan memijat. Meski tampak perhatian namun wajahnya masih se-suram tadi.

Naruto masih tak bergeming dari rasa kagetnya. Ia tidak merasakan betapa buruknya pijatan sang Uchiha. Ia hanya mampu memperhatikan wajah di depannya sambil berharap apa yang ia dan Neji bicarakan tadi tidak di dengar oleh pemuda bertampang stoic ini.

"Lain kali kalau ingin berlari sebaiknya di lapangan saja. Coba berdiri!"

Mengikuti suruhan, Naruto mencoba berdiri namun rasanya sulit. Hampir ia terjatuh kalau Sasuke tidak menahannya.

"Biar kubantu!" Neji menawarkan diri dan ikut menahan lengan Naruto.

"Tidak usah!" Sasuke menolak dengan caranya, "Biar aku yang mengantarnya ke ruangannya."

Dan di luar dugaan, Sasuke memangku naruto dengan gaya pengantin.

Lagi-lagi sesuatu yang mengejutkan kembali disuguhkan oleh seorang Uchiha Sasuke.

"Hei! Turunkan aku, Teme!" Naruto meronta-ronta minta dilepaskan.

Sasuke mendecih sambil mengeratkan pangkuannya, "Aku tidak akan tahan melihat seseorang berjalan terpincang-pincang!"

"Tidak mau! Cepat turunkan aku!"

Neji hanya mengangkat bahu sambil menggeleng-gelengkan kepala saat pasangan baru itu berlalu dari jangkauan pandangannya, "Dia sendiri yang berkata tidak suka hal berbau konyol."

To Be Continued...

.

.

.

OOC, Lebay, gaje, membosankan. Saya juga merasa hal yang sama. Sekali lagi mohon maaf untuk kegagalan fict ini. Benar-benar tidak sesuai konsep cerita yang saya pikirkan semula.

Terima kasih untuk yang sudah membaca, me-review dan menyukai Striptease sampai chapter ini.

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya, jaa~

Mind to review, please?