Kau merogoh kantung seragammu. "A-Are? Aku yakin meletakkan kunci apartemenku disini."

Akashi acuh tak acuh dengan reaksimu—menunggu dirimu tuk membuka pintu. Sedangkan kau tengah dilanda kepanikan akibat hilangnya kunci masuk dalam rumah.

"Huwaa! Jangan-jangan terjatuh di taman tadi!" Kau berteriak panik lalu mengaduk isi tasmu. Berkali-kali kau memastikan, hingga akhirnya terdiam menyadari fakta yang berusaha kau sangkal—

—kuncimu tertinggal.

Mangaka

Story © alice dreamland

The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi

Genre: Romance, Drama, (slight) Humor

Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, alur lambat/ngebut, AkashixReader, slight KisexReader & KurokoxReader, Mangaka!Reader, OOC

[Drabble 3—Perlengkapan, Selalu Tersedia dalam Tas Milikmu]

"Huwaa~! Kukira akan lebih berantakan, tapi ternyata rapi sekali!" Kau berteriak antusias dengan mata berbinar. "Tak apa kan kalau kufoto?"

Kini kau tengah berada dalam apartemen Akashi yang—ternyata—tepat berada di sebelah apartemenmu. Akashi sesungguhnya tak mengijinkan, namun kau menuntut dengan alasan tak dapat bekerja di luar.

Selain itu, kau juga mengungkit 'perjanjian bantuan' antara dirimu dan Akashi.

Akashi tidak mengalah, dan hendak meninggalkanmu—dengan menguncimu di luar. Namun kau menyelip masuk dalam apartemennya.

Akashi akhirnya memutuskan untuk mengabaikanmu—membuatmu merasa menang. Meskipun sesungguhnya kau kalah karena tanpa kau sadari, Akashi mengetahui semua gerak-gerikmu—sasuga Emperor's Eye.

Dan beginilah hasilnya, kau dengan semena-mena menelusuri setiap sudut apartemen Akashi.

"Buatkan aku teh." Akashi duduk di lantai depan meja ruang tamu seraya melepaskan tas sekolahnya. Kau pun meletakkan tasmu di sebelah tas Akashi dan dengan gembira menanggapinya semangat.

"Ha'iiii!! Akan segera kusia—Eh! Tunggu dulu! Bukankah seharusnya kau yang menjamuku?!"

Akashi menatapmu tajam. "Anggap saja hukuman setimpal karena seenaknya masuk dalam apartemenku."

Kau mengerjapkan kedua mata berulang kali seraya menghela nafas. "Ha'iii... Kalau begitu dimana daun tehnya?"

"Di dalam lemari dapur nomor dua dari kanan." Kau mengangguk kecil seraya ke dapur—mengambil beberapa daun teh dan memasaknya dalam air.

Setelah itu kembali ke ruang tamu dimana Akashi berada. "Aku sudah menyiapkannya, tinggal tunggu tehnya siap."

Kau duduk di depan Akashi seraya menarik tasmu tuk mendekat—tanganmu merogoh tas dan mengeluarkan setumpuk kertas putih, kotak pensil besar, dan satu botol tinta.

"Jadi..." Kau menyerahkan selembar kertas penuh gambar pada Akashi. "Bantu aku mewarnai dan meng-outline-nya, ya?"

Akashi menatap kertas yang kau berikan—gambar manga dengan empat kotak besar. Garis besar halaman tersebut menceritakan seorang gadis yang digendong oleh seorang lelaki secara bridal style.

"Aku sudah menandai tempat yang harus kau warnai dengan tinta," ucapmu dengan senyuman cerah. "Dan hati-hati, aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun."

Akashi mengadahkan kepala—menatapmu dengan sebelah alis terangkat. "Kau seorang mangaka?"

Kau mengerjapkan kedua mata sejenak. "Bukannya Akashi-kun sudah mengetahuinya sejak awal? Karenanya Akashi-kun memutuskan untuk membantuku, kan?"

Akashi tak menjawab, ia kembali mengamati potongan manga dalam kertas yang kau berikan. "Dimana spidol atau kuasnya?"

Kau membuka tepak pensilmu—mengeluarkan spidol dan kuas dalam berbagai ukuran. "Ini! Spidolnya lengkap mulai dari 0,1 cm. Jadi, gunakan saja yang nyaman menurutmu. Lalu mengenai kuas—"

Kau mulai berceloteh mengenai macam-macam kuas, tinta, pensil mekanik, dan peralatan menggambar lainnya. "—jadi begitulah! Tapi menurutku, sebaiknya Akashi-kun menggunakan kuas saja."

Akashi terdiam—menyadari sesuatu yang ganjil. Sedangkan kau, menatap Akashi dengan tatapan berbinar.

Akashi pun membuka suara—menyerukan pendapatnya. "... Kalau semua ini lengkap, bagaimana kuncimu bisa tertinggal?"

Kau tersentak mendengar pertanyaan Akashi, lalu mengalihkan pandanganmu ke sembarang interior dalam ruangan.

"Em... I-Itu aku juga tidak tahu, e-ehehe... S-Sudahlah! Sekarang lebih baik Akashi-kun membantuku mengerjakan manga-nya!"

.

Yey! Drabble 3 selesai! Maaf jika semakin aneh. Saya berusaha untuk membuat drabble secara bertahap, jadi romancenya belum nyempil ok? Mungkin romance-nya di drabble 5 atau bahkan 10 keatas.

Makasih sekali lagi buat semua yang mereview, fave, fol, dan membaca! X3

Seperti drabble sebelumnya, review saya balas di PM yah! ;3

Sekiannnnnnn!

~alice dreamland