DISCLAIMER : It's none of my character, it's all belongs to Mrs. J.K Rowling. Stories are mine. I take no profit in this fic. Kalau Harry Potter buatanku sudah dari dulu kupasangkan Hermione dengan Draco.

WARNING : Banyak typo, eyd berantakan, tidak –sangat malah- menarik. But I hope you'll like it.


Hermione hanya terdiam sambil memegang pipi yang barusan Draco kecup. 'Apa yang terjadi pada ferret pirang itu? Mengapa ia sekarang berubah menjadi lembut seperti ini? Oh, Hermione kuasai hatimu. Ok, lebih baik aku ke aula saja untuk makan malam, aku juga sudah mulai lapar.' Hermione menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar dari asrama menuju aula. Seketika ia sampai di Aula ia melihat Ron disana sedang asyik mengobrol dengan Giny, Harry dan … Lavender? Apa yang sedang Ron perbuat? Seketika Hermione memberi tatapan tajam pada Lavender dan hatinya mulai merasakan amarah yang meledak-ledak.

.

.

.

Hermione berjalan dengan irama yang cepat dan emosi menguasai hatinya. Ia duduk disebelah Giny. Giny, Harry dan Ron jelas kaget melihat kedatang Hermione yang secara tiba-tiba datang dan duduk dengan tergesa-gesa. Mata hazelnya berkilat-kilat memperlihatkan amarahnya yang bergejolak dalam hatinya. Dengan kasar Hermione mengambil kentang tumbuk, ayam panggang dan jus labu. Belum sempat ia memasukan makanan kemulutnya, pertanyaan Giny menghentikannnya.

"Kau baik-baik saja Hermione? Dari tadi sore kau seperti kurang baik."

"Aku baik-baik saja. Sekarang biarkan aku makan," ucap Hermione dengan nada yang dingin dan datar.

"Hermione, jika kau ada masalah kau bisa menceritakannya pada kami. Kami akan selalu membantumu," kata Harry dengan suara yang cemas.

"Aku tidak ingin berbicara sekarang Harry. Aku sedang tidak mood untuk menjelaskan apa pun," jawab Hermione.

"Apa ini gara-gara si ferret bodoh itu, Mione? Biar aku hajar dia. Katakan apa yang dilakukannya padamu? Aku tak akan membiarkan kau tersiksa olehnya," celetuk Ron yang membuat Hermione semakin bingung dengan sikap Ron, tapi melihat Lavender yang langsung cemberut mendengar pembelaan Ron membuat ia sedikit senang, namun suara manja itu menghapus perasaan senangnya.

"Won-won, kau tidak boleh marah-marah seperti itu," kata Lavender sambil bergelayut manja.

Hermione yang tidak tahan langsung berdiri dan berjalan keluar dari Aula, tanpa ia sadar seorang pria bertubuh tegap dan bersurai pirang mengikuti ke mana ia akan pergi. Hermione yang hatinya diselimuti rasa kecewa, sakit hati dan kesal tak menghiraukan sekitarnya dan sesekali ia menyenggol murid junior nya. Ia menuju menara astronomi. Menara yang paling tinggi di Hogwarts, setelah menara asrama ketua murid tentu nya. Ia memasuki menara astronomi dan berdiri di sekitar balkon. Ia menatap langit yang gelap dan sedikit bintang yang berkelip. Udara yang dingin tidak ia hiraukan karena hatinya saja sudah membeku. Ron yang selama ini ia cintai malah berpaling darinya. Ia bahkan melihat Ron tidak memarahi Lavender saat bermanja-manja padanya. Air mata yang ia per tahankan untuk tidak keluar akhirnya keluar juga.

Draco yang bersembunyi di balik tembok akhirnya keluar dan mencoba mendekati gadis yang sedang menangis di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan disini, Malfoy?" Tanya Hermione dengan nada yang ketus setelah menyadari keberadaan Draco.

"Aku hanya ingin di sini, tidak lebih, tapi kau juga ada di sini dan menangis. Apa yang terjadi padamu?" Tanya Draco dengan nada lembut dan sedikit kebohongan.

"Bukan urusanmu, bisakah kau tidak mengganggu ku se menit saja? Aku ingin sendiri!"

"Sampai kau mengutuk ku aku tak akan pergi."

Hermione diam dan masih mencoba meredakan tangisan nya, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Draco. Ia hanya menatap langit lagi dan memejamkan matanya, menghirup udara yang menyegarkan, menenangkan pikirannya. Draco menatap intens pada gadis di sebelah nya. Setelah yakin Hermione agak tenang ia memulai pembicaraan.

"Jadi, ceritakan apa yang membuat mu menangis?"

"Aku sedang tidak tertarik membicarakannya, apa peduli mu juga terhadap ku?"

"Kau partner ku, jadi aku berhak tau. Kita bukan anak kecil lagi, Hermione. Aku tau hampir setengah hidup mu aku telah menyakiti mu, tapi jika kau memberi ku kesempatan untuk memperbaikinya aku akan menggunakannya sebaik mungkin."

Hermione terdiam dan menatap mata kelabu Draco seolah ia mencari kebenaran dari kata-kata Draco. Ia tidak menemukan tatapan tajam atau dingin sedingin es, atau tatapan menghina. Melainkan tatapan yang hangat. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan Draco setelah kejatuhan si hidung pesek dengan kepalanya yang botak nan licin. Ia bahkan merasakan hal lain ketika Draco memanggil nama kecilnya. Ia sekali lagi memejamkan matanya dan mengambil napas dalam-dalam. Draco masih menunggu jawaban Hermione.

"Aku tak yakin harus mencurahkannya padamu atau lebih baik bungkam saja," kata Hermione.

"Kau bisa mengatakan apapun padaku, Hermione."

"Ku pikir semua laki-laki sama saja, mempermainkan wanita seenaknya seolah wanita itu boneka. Ya, terkecuali Harry dan ayahku. Mereka tampak serius dengan cintanya. Buku-buku romansa itu penuh omong kosong. Cinta, cinta, hah bullshit!" rutuk Hermione sambil menatap sepatu nya yang kini lebih menarik.

"Kau tahu, aku sempat berpikir sama seperti mu, malah aku hampir merasa hatiku mati. Semua yang terjadi di depan mataku membuat ku kehilangan perasaan ku, tapi seseorang mengubahnya. Masih teringat sekali pukulan nya di wajah ku. Semua wanita tunduk padaku, mengejar ku, menginginkan ku tapi hanya ada satu wanita yang semakin membuat ku penasaran dan selalu membuat perutku dililit Nagini. Mungkin seumur hidupnya ia akan membenci ku tapi aku tidak tahu, yang jelas ia sudah mengubah pemikiran ku dan memberikan sedikit warna dalam hidupku yang hitam putih ini," Draco mengucapkannya dengan lirih dan sedikit tersenyum.

Hermione penasaran dengan wanita yang dibicarakannya. Siapa wanita itu? dan baru kali ini ia melihat seorang Draco Malfoy tersenyum tulus tanpa paksaan.

"Siapa wanita itu kalau aku boleh tau?"

"Belum saatnya aku memberi tahu mu, dear. Tapi jika otak cerdas mu mampu menebak siapa wanita itu maka aku tak perlu memberitahu mu dan menjelaskannya padamu."

Hermione hanya diam mencoba mencerna semua kata-kata Draco. Apa mungkin Greengrass? Atau Parkinson?

"Kau merasa lebih baik?" Tanya Draco dengan sedikit nada cemas, namun yang ditanya hanya diam saja. Dengan gerakan refleks Draco menarik Hermione ke dalam pelukan nya. Ia memeluknya seolah ia tak akan bertemu dengannya besok. Hermione kaget dengan gerakan spontan Draco, tapi aroma tubuh Draco memberikannya ketenangan dan kehangatan. Ia merasa nyaman dan aman dalam pelukan nya. Hermione ter hanyut dalam pelukan nya dan menaruh kepalanya di dada Draco dan mendengarkan degup jantungnya. Begitu pula dengan Draco, ia seperti melebarkan sayap untuk melindungi Hermione dan mengalirkan energi positif untuknya. Draco juga merasa nyaman dan damai ketika memeluk Hermione.

"Sebaiknya kita ke Asrama saja. Udara mulai dingin, kau malah sakit nanti," ujar Draco penuh perhatian.

"Mulai sangat perhatian padaku eh, Malfoy?" Tanya Hermione memulai untuk berargumen lagi dengan lelaki di sebelah nya.

"Pede sekali kau, Granger. Aku hanya berbuat baik karena – "

"Tugas, partner Ketua Murid. Oh sangat cliché."

"Jangan memotong pembicaraan ku," ucap Draco dengan kesal.

"Aku hanya melanjutkan apa yang akan kau bicarakan padaku. Aku mulai takut padamu."

"Takut? Mengapa?"

"tadi kau bersikap sangat baik dan lembut tapi sekarang kau kembali menyebalkan dan kembali ke sifat ferret mu itu," papar Hermione dengan ketus. "Aku tidak mengerti dengan pikiran yang ada di otak mu itu. Aku sempat berpikir kau ini berkepribadian ganda."

"Hei, seenaknya saja kau bicara! Aku–tidak–berkepribadian– ganda, Granger. Sudah! aku lelah sebaiknya kita tidur. Besok ada pelajaran Herbology, jadi kau harus bangun lebih awal. Ayo," sergah Draco sambil menarik Hermione untuk kembali ke asrama Ketua Murid.

oOo

Sudah 4 minggu mereka menjabat sebagai ketua murid. Mereka selalu beradu argumentasi di mana pun mereka berada. Dari argumentasi sepele sampai saling menggoda satu sama lain. Padma dan Parvati yang pernah melihat mereka dalam posisi mesra semakin percaya bahwa mereka menjalin hubungan sesuatu yang lebih dari sekadar partner kerja. Bahkan keduanya mulai mau untuk duduk di meja khusus ketua murid saat sarapan, makan siang atau makan malam. Organisasi yang mengincar Draco semakin geram melihat kedekatan Hermione. Ada satu kejadian pada saat pelajaran Transfigurasi yang mengharuskan Draco dan Hermione menjadi satu tim. Pansy yang kesal melihatnya mulai mengeluarkan kata-kata pedas.

"Professor, mengapa kau harus memasang kan Draco dengan si mudblood itu?"

Draco yang mendengar mulai terpancing emosi nya dan tak bisa menahannya lagi.

"You pig! Kau tak berhak berbicara seperti itu. Kau karena telah menghina ketua murid, potong 10 poin dari Slytherin," Draco mengatakannya dengan intonasi yang sedikit tinggi.

Semua terperangah termasuk profesor McGonagall, tapi sepertinya Profesor McGonagall sudah tau alasan mengapa Draco tiba-tiba marah dan memotong poin asramanya sendiri. Hermione yang duduk di sebelah nya walau tidak percaya Draco akan melakukan hal itu, ia menyentuh tangan Draco dan mengelusnya seolah memerintahkan Draco untuk sabar dan menahan emosi. Draco yang merasa di tenang kan mulai melunak dan menghela napas. Ia melirik ke arah gadis di sebelah nya.

"Maafkan perkataan Pansy."

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu bukan? Kau seenaknya saja memotong poin asrama mu sendiri."

"Aku tak peduli. Kata itu sudah ku hapus permanen dalam kamus mana pun, aku juga sudah bilang, siapa pun yang menyebutkan kata itu, ia akan berurusan denganku."

Hermione terdiam. Mengapa Draco sampai membelanya seperti itu? sebelumnya ia sendiri yang selalu berkata seperti itu tapi kini kebalikannya. Ia benar-benar berubah. Ia harus tau alasan mengapa Draco melakukan itu. Ia yakin alasannya bukan hanya karena kejatuhan Voldemort atau sekadar partner kerja saja, terlebih dimalam ia sedang sedih malah Draco yang berada di sisinya dan menenagkannya. Seperti teringat kata-kata Draco tentang wanita itu, ia terdiam mencoba menebak teka-teki pria yang menjadi partner nya sekarang. Setelah selesai pelajaran Transfigurasi, Hermione berencana ingin ke ruang rekreasi bertemu dengan Harry dan Giny, tapi niatnya di urungkan setelah melihat Ron dan Lavender pergi bergandengan. Mau kemana mereka? Kenapa selama empat minggu terkahir Ron jarang menemui dirinya atau hanya menanyakan kabarnya saja. Ia mengikuti keduanya tanpa mereka sadari. Ron dan Lavender pergi ke danau hitam sambil cekikikan tertawa. Kejadian ini mengingatkan saat ia menang pertandingan Quidditch dan Ron malah bermesraan dengan Lavender. Ia memfokus kan pandangan dan pendengaran nya - memperhatikan kedua manusia itu.

"Jadi, sampai kapan kita seperti ini? Kau tak bisa terus menyembunyikan hal ini. Ia pasti curiga," ucap Lavender.

"Aku tahu, aku hanya tidak tega melihatnya ter sakiti karena aku. Aku yakin ia pasti membenci ku jika ia tahu tentang hubungan ini."

"Tapi aku tak mau melihat kau selalu membelanya dan berpura-pura kita hanya teman, Won-won. Kau tak dengar gosip yang beredar? Ia sekarang kan dengan Malfoy."

"Apa? Malfoy? Oh, demi rambut Snape yang berminyak. Aku tak rela membiarkan si ferret itu menggantikan posisiku. Dia tidak lebih baik dariku!"

"Kau masih mencintainya, Ron."

"Tidak, aku mencintainya sebatas teman. Semenjak jatuhnya si botak berkepala licin itu aku tak merasakan apa pun padanya, bahkan saat kita .. ahm, berciuman aku tak merasakan sesuatu. Apa boleh buat? Aku hanya menjaga perasaannya saja."

"Bagaimana denganku? Apa kau mencintai ku lebih dari teman?"

"Tentu saja, Lav-lav my dear. Secepatnya aku akan memberitahu Mione, yah walau kemungkinan ia akan membenci ku, tapi ini demi kita juga."

"Bagus!" jawab Lavender dengan manja dan seketika mereka berciuman di depan Hermione yang bersembunyi di balik pohon. Hermione yang tidak tahan langsung berlari dan tujuannya mencari Harry dan Giny.

Sementara di tempat lain, Draco yang bersantai di ruang rekreasi Slytherin mendapat banyak pertanyaan dari temannya yang terus mang-introgasi dirinya.

"Apa kau over-dosis Draco?" Tanya Blaise dengan nada sarkastik.

"apa maksudmu Blaise?" Draco berbalik tanya sambil mengangkat alisnya.

"Kau akhir-akhir ini dekat sekali dengan, Granger. Bahkan kau membentak Pansy dan memotong poin asrama!"

"Ya, apa ada hubungan yang spesial eh dengan si Mu – muggleborn itu?" Tanya Theodore berhati-hati dengan ucapannya.

"Bukan urusan kalian, aku tak suka kau mengungkit pureblood atau mudblood. Sama-sama manusia, makanan pun sama dan aku lihat darahnya sama saja warna dan baunya. Masalah hubungan, itu juga bukan urusanmu! Si Parkinson dan Greengrass, aku tak peduli selama mulutnya tak bersungut yang aneh. Mereka untuk kalian berdua saja," ujarnya dengan nada yang datar.

"A-apa? Aku tak salah dengar, Drake?" Tanya Blaise dan Theo tak percaya

"Kalian mendengar ku atau mau aku antarkan kalian ke Hospital wings, eh?" Ucap Draco sembari memberi seringai TradeMark nya dan tatapan membunuh.

Blaise dan Theodore hanya menggelengkan kepala setelah mendapatkan tatap membunuh dari Draco. Sepertinya Blaise dan Theodore sendiri lah yang harus mengungkap apa yang terjadi diantara Ketua Murid mereka. Lima belas detik kemudian Blaise dan Theodore yang kembali dari rasa kaget nya mulai menyeringai dan saling ber-tatapan, lalu menatap Draco.

"Baiklah, mate. Aku mengerti. Kalau kau sudah siap, kau bisa katakan padaku atau Theo kapan saja. Lagi pula jika di pikir-pikir kalian pasangan yang cocok sekali," ujar Blaise.

"Apa maksudmu dengan kata 'cocok'?" Draco bertanya sambil menautkan alis nya.

"Ya, kalian tidak ada habisnya berargumentasi, kalian sama-sama ber-otak cerdas namun bodoh, kalian sama-sama senang mengoceh, sama-sama suka meledak-ledak ketika marah, seringai yang sama. Well, mungkin kau lebih diam dari pada Granger, tapi aku yakin hanya dia yang mampu membuat mu bicara lebih banyak dan tidak mengeluarkan kalimat dingin yang menusuk hati," ujar Blaise menjelaskan.

Draco hanya mengangkat alisnya. 'Bagaimana Blaise bisa menebak hal itu? tapi, jika aku mengakui apa yang sedang aku rasakan pasti Zabini dan Nott malah menertawakan ku dan mencemooh bahwa Draco Malfoy tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan tidak yakin dengan perasaannya. Cih, tak akan ku biarkan itu.'

"Jadi, ku pikir apa yang dinyatakan Blaise benar, mate!" Ujar Theodore sambil menyeringai.

"Diam kalian! sekarang kalian lah yang mengoceh! diam disini dan jangan bicara atau kau pergi tinggalkan aku sendiri," ucap Draco dingin pada temannya.

Blaise dan Theodore hanya mengangkat bahunya lalu pergi meninggalkan Draco berbaring di Sofa. Ia mencoba untuk tertidur sebentar karena kepalanya benar-benar pusing, tapi seakan Salazar sedang tidak berpihak padanya, suara segerombolan gadis yang menjijikan membuatnya terduduk kembali di sofa dan menaruh kakinya di meja sambil di silangkan. Benar saja, Pansy Parkinson bersama Greengrass bersaudara, Millicent dan beberapa perempuan asrama Slytherin datang menghampiri Draco. Draco hanya menatap mereka dengan sangat dingin dan datar, tanpa ekspresi.

"Kau mengapa menjadi berubah semenjak bergaul dengan si Mud – maksudku Granger, si gadis muggleborn itu!"

"Aku memang seperti ini dari dulu Pansy, jangan berlebihan," ucap Draco datar.

"Lalu mengapa kau memotong poin asrama mu sendiri, bahkan tadi kau membentak Pansy karena ia mengatakan Mudblood. Sudah seharusnya ia dikatai begitu kan, Drakie? Ia tidak lebih berharga dari seorang house-elf," ujar Astoria dengan santai.

Draco yang amarahnya mulai bergejolak kini berdiri dari tempat duduk dan menatap perempuan-perempuan itu dengan tatapan jijik.

"Jaga mulut kotor mu Greengrass! Kau! kau yang lebih rendah dari siapapun bahkan House-elf! Bangsawan.. ha, persetan dengan bangsawan atau tek-tek bengek lainnya! Sekarang kalian minggir!" bentak Draco sambil menatap wanita-wanita di hadapannya dengan tatapan tajam dan menakutkan.

Pansy dan Astoria ternganga mendengarkan ucapan Draco. Tidak di sangka ia akan semarah itu dan menghina Astoria. Bahkan kini Draco memanggil mereka dengan nama belakangnya lagi seolah mereka bukan teman lama. Mereka terdiam sampai suara nan dingin menyadarkan mereka.

"Kalian tuli, eh? Aku bilang minggir! Sekarang!"

Semuanya minggir memberi Draco jalan dan Draco pun berjalan melewati kumpulan gadis bodoh itu. Ia mendengus dan pergi seperti ayam tanpa sepatah kata apapun, namun ia berbalik sebentar.

"Kau Astoria dan Pansy, detensi untuk kalian! Kalian berdua harus berpatroli selama 2 minggu, itu tidak termasuk dalam jadwal yang sudah kubuat jadi perkerjaan kalian dua kali lipat sekarang," ujar Draco dengan sangat datar, lalu ia benar-benar pergi.

Astoria dan Pansy benar-benar kesal dan tak habis pikir dengan Draco. Apa yang membuat pria se angkuh Draco Malfoy yang notabene nya dulu ia membanggakan status darah, kebangsawanannya dan menyukai wanita berada disekelilingnya menjadi seseorang yang bukan mereka kenal. Selaku ketua dari organisasi pengincar Draco, mereka - Pansy dan Astoria - sekarang duduk di sofa ruang rekreasi yang tadi sempat Draco duduki.

"Kau mau melakukan apa sekarang, sis? Draco benar-benar marah padamu!" Tanya Daphne, kakak dari Astoria.

"Tidak tahu, aku pusing!"

"Sepertinya kita harus membuat rencana untuk si Mudblood itu! Kau tak mau kan Draco jatuh di tangan seorang yang tidak melebihi kita?" ucap Pansy.

"Ya benar, tapi apa rencananya?"

"Well, kita relaks saja dulu sekarang, mungkin aku akan mendapatkan ide malam hari atau besok atau kapanpun untuk membalas si Filthy Mudblood itu!"

"Up to you, Pansy."

oOo

Hermione yang tengah berlari menuju ruang rekreasi Gryffindor mencari sahabatnya untuk mengadu, akhirnya sampai juga dan mulai memfokuskan matanya yang masih berlinangan air mata mencari sosok pria berambut hitam, berkaca mata dan wanita yang selalu berada disisinya dengan rambut panjang – lurus berwarna cokelat. Ia melihat ada seseorang di Pantry, ia mendekatinya dan ternyata Ginny yang sedang membuat Milkshake.

"Hi Mione, God lord, kau tampak kacau! Apa yang terjadi Mione? Ceritakan padaku," pinta Ginny yang langsung menghentikan kegiatannya dan langsung memeluk Hermione. Alih-alih menceritakan, Hermione malah menangis kembali dan memeluk Ginny erat. Ya, dia butuh pelukan saat ini dan seseorang yang mendengarkannya serta memberi solusi. Pikirannya terbang kemana-mana memikirkan lagi kejadian yang barusan ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

"Ok, sekarang kita duduk dahulu di kursi. Tidak enak sambil berdiri di pantry seperti ini."

Hermione hanya mengangguk lemah dan menuruti perkataan temannya. Ginny mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Hermione yang langsung di sambar dan di minumnya dengan kasar sampai-sampai ia tersedak.

"Slow Mione! Kenapa kau seperti ini? Siapa yang membuatmu kacau seperti ini? Malfoy?" Tanya Giny hati-hati sambil menatapnya cemas.

"Bukan, bukan dia. Ron! Ron …"

"Ron? Apa yang dia perbuat?"

"Aku tidak mengerti. Kau adiknya, Harry sahabatku sekaligus sahabatnya tapi kau tidak tahu apa yang terjadi pada Ron?"

Raut wajah Ginny menengang dan agak khawatir. Selama ini dia tahu Ron menjalin kembali hubungannya dengan Lavender. Ia sudah memperingati Ron, tapi tampaknya Ron tidak menghiraukan peringatannya dengan Harry. "A-apa maksudmu, Mione? Jelaskan padaku," ujar Ginny lembut.

"Aku melihat dia di danau hitam dengan Lavender. Setelah pelajaran Transfigurasi, ia mengatakan semuanya dengan jelas dan aku ini tidak tuli! Aku mendengarnya! Ia tidak mencintaiku sebagai kekasih! Apa-apaan ini? Aku yakin kau tahu tentang ini Ginny! Kau tahu yang lebih menyakitkan? Ia mencium Lavender di hadapanku! Dihadapanku!" Ujarnya sambil menekan intonasinya pada kata 'dihadapanku'. " Dan ia tak pernah mencium ku seperti ia mencium Lavender! Aku ini bodoh sekali," seru Hermione dengan berapi-api. Ia marah besar karena ia merasa sangat kecewa, sedih dan kesal.

"Maafkan aku, Hermione. Aku tahu hal itu, aku sudah memperingati Ron tapi ia tidak mendengarkanku dan Harry. Maaf aku tak bisa menjaga perasaanmu dengan baik dan harus melihat semua kejadiaan ini dengan mata kepalamu sendiri. Aku… Aku tak tahu harus apa. Aku menyesal dan maaf atas kelakuan bodoh kakaku."

Hermione hanya diam tidak bergeming. Otaknya serasa mau pecah. Tiba-tiba suara lelaki mengaburkan pikiran Hermione dan Ginny yang sedang tertunduk.

"Ginny darling, kau lama sekali membuat Milkshake. Apa kau sedang … oh hey mione!" Sapa Harry yang baru menuruni tangga dan langsung menghampiri sahabat dan kekasinya. Ia memperhatikan raut wajah Hermione yang merah padam dan tanpa ekspresi, lalu melihat Ginny yang tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

"Ada apa ini? Apa yang aku lewatkan?" Tanya Harry.

"Mione sudah tau kalau… kalau Ron kembali pada Lavender. Aku juga memberitahu kalau kita merahasiakan hal ini. Aku tahu Ron salah dan ia sudah membuat Hermione seperti ini," ujar Ginny menjelaskan. "Hermione maafkan aku dan Harry. Sungguh aku tak berniat menyakitimu dengan semua rahasia ini. Aku sudah memberitahu Ron untuk secepatnya memilih tapi aku tak tahu apa yang membuat ia mengulur-ngulur waktu."

Hermione tetap diam dan menatap kedua sahabatnya sangat dingin menusuk sedingin es. Harry pun ikut duduk di sofa dan menatap Hermione dengan tatapan cemas, khawatir dan takut. Ya, ia belum pernah mendapat tatapan seperti itu dari Hermione.

"Dengar Mione. Aku tahu, aku dan Giny salah karena telah menyembunyikan ini padamu, tapi sungguh aku meminta maaf karena telah menyakitimu. Aku sarankan, kau saja yang duluan memutuskan Ron lalu berikan kesempatan pada seseorang."

"Kau mengatakan itu semudah membalikan telapak tangan, Harry," ucap Hermione datar.

"Aku tahu ini tidak mudah, tapi coba saja sedikit peka terhadap seseorang di sekitarmu. Aku tahu, aku merasakannya. Ada seseorang yang menaruh perasaan padamu. Kau saja yang tidak menyadarinya."

"Paling ia hanya pria brengsek yang sama-sama akan mempermainkanku sama seperti Ron."

"Setidaknya aku tahu dia bersungguh-sungguh mengejarmu dan berusaha mendapatkan hatimu, Mione." papar Harry.

Hermione hanya diam mencoba mencerna kata-kata Harry. Siapa lelaki itu? sejauh ini ia merasa tak ada yang memperlakukannya dengan sangat special. Semuanya hanya teman dan mungkin Malfoy? Jangan bermimpi! Malfoy junior itu hanya bertengkar dengannya saja. Ia pusing dan ia memutuskan lebih baik beristirahat saja di asrama Ketua murid.

"Aku sedang tidak berpikir jernih sekarang. Terimakasih sudah mendengarkan aku Ginny, Harry. Aku akan kembali ke Asrama ketua murid dan beristirahat. Sampai jumpa nanti," ucap Hermione seraya pergi meninggalkan Harry dan Giny yang masih – dalam keadaan bersalah dan khawatir.


Semenjak kejadian itu Hermione sering diam, jarang keluar asrama kecuali kalau ia benar-benar harus keluar seperti saat pelajaran atau sekedar mengumpulkan tugas. Ia lebih sering makan di ruang ketua murid. Draco yang menyadari perubahan sikap Hermione agak sedikit cemas dan merasa aneh. Ada sesuatu dalam dirinya merasa kehilangan. Ya, ia rindu celotehan Hermione, ia rindu berargumen dengannya, ia rindu melihat kilat amarah di matanya, ia juga rindu menggoda dan di godai Hermione. Wajah Hermione selalu murung dan sering melamun. Tebak sudah berapa lama Hermione seperti ini? Sudah 1 minggu lebih 4 hari dan Draco tak tahan dengan semua ini. Ia menghampiri Hermione yang sedang duduk di beranda asrama ketua murid sambil menatap pemandangan.

"Sampai kapan kau akan diam dan menghindari semua orang?"

"Aku sedang tidak mau berbicara, Malfoy. Jika kau tidak keberatan pergilah."

"Tidak mau!"

Hermione mengalihkan pandangannya untuk melihat Draco yang berdiri di sisinya. Draco hanya tersenyum tipis padanya.

"Apa yang membuatmu seperti ini? Kita tak bisa diam-diaman seperti ini terus."

"Apa dengan aku mengatakan masalahku padamu kau dapat menyelesaikan masalahku?" Tanya Hermione dengan sarkastik.

"Tentu aku bisa mencarikan solusi jika kau memberitahuku."

"Ok, Ron… dia selingkuh selama ini. Aku memergokinya berciuman di danau hitam dengan Lavender. Dia tidak benar-benar mencintaiku dan ia berniat mencampakanku. Miris sekali."

"Jadi si Weaselbee bodoh itu yang membuat mu seperti ini? Ia tak layak semua ini, Granger. Kau ingin membuat perhitungan padanya?"

"Kau benar dan kalau pun aku ingin, aku tak tahu caranya bagaimana."

Draco terdiam sebentar memikirkan cara yang tepat untuk membalas semua rasa kesakitan hati yang menimpa Hermione. Termasuk ia ingin membuat Hermione tersenyum lagi dan bersenang-senang melihat Hermione menyiksa batin si RedHead Weaselbee itu. Terbesit di otaknya cara bagaimana membalaskan dendam Hermione.

"Tapi aku tahu caranya," jawab Draco sambil menyeringai.

"Bagaimana? Beritahu padaku!" pekik Hermione dengan nada yang sedikit ceria dan mata yang berbinar. Wajahnya kembali pada Hermione nya yang riang dan bercahaya. Ia menatap Draco. Draco menatap balik perempuan yang berada di depannya dan sambil menyeringai licik.

'Oh Merlin,apa yang ada dipikiran si ferret ini? Mengapa ia menyeringai licik seperti ini? Godric Gryffindor, selamatkan aku dari pikiran apapun yang sedang dalam otak Malfoy saat ini' rutuk Hermione dalam pikirannya.


TO BE CONTINUE

Maaf ya kepanjangan ceritanya, aku tahu banyak kesalahan pastinya dan membuat kalian menjadi bosan karena kepanjangan. Entahlah, aku enggak bisa membuat cerita yang pendek a.k.a gak bakat nulis mungkin. Okeh, aku sudah memenuhi janjiku atas hukuman. Mind to RnR please? :D

Terimakasih juga buat para Readers dan Author Senior yang mau mengkoreksi kesalahanku. Well aku belajar dari setiap kesalahan yang kubuat. Maka dari itu aku melanjutkan fic ini dengan keberanian ku dan tentunya kritik sehat kalian semua. Love you all..


POJOK REPLY TO MY REVIEWERS :

Lilisacim : Makasih supportnya Lilisacim. Aku gak jadi hapus kok, udah aku lanjutkan sekarang? hehe semoga aku nulis sepanjang ini gak terlalu banyak salah, walaupun aku tau bejibun pastinya salahnya .. hehe

Ameee : sudah aku lanjutkan, Lovely Author :D terimakasih udah mau reviews.

Ryoma Ryan : Tadinya mau di hapus karena aku pikri fic ku jelek dan maklum saja aku author baru dengan Dramione fic ku yang pertama. Makasih juga udah koreksi mistake(s) ku.

AkemyYamato : Terimakasih support positivenya ^_^ tentu, aku coba belajar dari setiap kesalahan.

Beneamaya : Iya memang aku masih baru Thor, maaf ya kalau aku ada salah-salah *blush* hehe terimakasih udah membagi pikiran positif padaku, dan I'm back here.

: Sudah aku lanjutkan ini, 2 sekaligus malah.

Blackrose : Senang mendengar ini gak boring. Makasih udah menyempatkan baca ficku dan me-reviewnya.

Cacahoran1 : Tadinya mau McGonagall, tapi terasa sudah banyak fic yang menjadikan McGonagall sebagai kepala sekolah Hogwarts. Jadi aku pakai Aberforth aja. Aberforth adalah saudara dari Albus Dumbledore, yang tak lain adalah Brian Aberforth Dumbledore. Ada kok di filmnya, hampir sama punya janggut kaya Albus Dumbledore. ^_^

Rirrin dhika : Haha, thanks udah review :D sudah keliatankan Hermione dan Ron bakal putus? :D

Ms. Loony Lovegood : Yep, tapi masih belum bisa sepenuhnya yakin. Walau begitu ia akan tetap memantapkan hatinya, well terimakasih udah koreksi typo dan mistake(s) yg ku buat. Thanks Author ! :D

Constantinest : Kau tahu? Kau salah satu Author favoritku .. *.* hehe.. makasih udah review Fic aku.. :D

BryThyaNa: Yep, aku author baru ^_^ dan pertamakalinya memberanikan diri nge-post Dramione Fict. Oke, makasih-makasih atas semangat-semangat positif yang author berikan buat aku.. ^.^ it mean so much for me.

Makasih banyak buat semuanya yang udah menyemangatiku. See you in next chap, maybe.. really love you guys!