Hampir satu jam sudah aku dan Yixing duduk sambil bertukar cerita. Aku memang belum terbukan dengannya, masih berusaha bersikap dingin akan tetapi tidak sedingin sebelumnya. Namun Yixing masih saja bersikap ramah dan seolah benar-benar menganggap kami sudah berteman dengan baik. Sesekali aku hanya menjawab pertanyaannya dan menanggapi ucapannya.
"Ya, kau benar. Grup EXO itu benar-benar sedang trend sekarang."
"Tapi kau pun cukup menjadi trend bagi kalangan muda saat ini, Luhan."
Kami saling melontarkan argument mengenai music, tidak lebih. Tapi obrolan kami terhenti ketika seseorang memanggil Yixing.
"Yixing?". Yixing menoleh, aku lihat wajahnya sedikit terkejut namun tetap tenang dan tidak lupa untuk mengeluarkan senyum ramahnya.
"Oh? Chen… Hai"
"Apa yang kau lakukan disini dengan…Luhan?!" Chen terkejut saat melihatku yang baru saja mengalihkan pandanganku kearah Chen, penyanyi terkenal yang saat ini sedang digosipkan menjadi rivalku, dan dia memang benar rivalku.
Aku hanya menyeringai sinis sambil sedikit membungkukkan kepalaku dan meminum kembali bubble tea miliiku yang sudah tinggal setengah itu.
"Hai Chen, kami sedang berbincang-bincang disini. Tidakkah kau lihat?" ucapku sinis. Yixing menoleh kearahku dan kembali menghadap Chen kemudian mengangguk.
"Ya, kami sedang mengobrol. Ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan disini Chen?" Tanya Yixing yang masih bingung dengan kedatangan Chen yang tiba tiba.
"Membeli bubble tea tentu saja, kau tahu ini kan café favorite kita, aku pasti datang kesini. Dan ternyata kau sudah mengajak orang lain kesini.." Chen berkata sinis menekankan kata 'kita' sambil melirik kearahku. Yixing tersenyum sambil mengangguk.
"Ya, aku hampir saja lupa Chen."
"Chen, apa kau tidak ada urusan lain selain mengganggu kami?' Tanyaku sinis, Yixing menoleh terkejut kearahku dan tanpa kuperdulikan dia yang memberikan pandangan khawatir terhadapku dan Chen.
Chen mengangkat bahunya sambil tersenyum kecil kepadaku sebelum ia kembali menghadap Yixing.
"Baiklah, aku pikir aku memang menggangu kalian, nikmatilah. Aku pergi dulu Yixing, sampai jumpa lagi nanti." Chen mengedipkan sebelah matanya pada Yixing dan berbalik pergi meninggalkan kami berdua sambil dengan sibuk mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.
Yixing kembali menatapku dengan serius, dan ketika mataku bertemu dengan matanya aku langsung memasang wajah bingung.
"Apa?"
"Apa kau pikir kau tidak terlalu keras padanya,Luhan?" Tanya Yixing khawatir. Aku terkekeh mendengar pertanyaan bodohnya itu.
"Kau tidak tahu bagaimana rumor selama ini menyebar? Chen adalah rivalku dan akan tetap menjadi rivalku, aku pikir kau tahu tentang itu." Jawabku melecehkannya. Yixing menghela nafas pelan.
"Tentu aku tahu itu Luhan, tapi apakah kau memang benar-benar menganggap dia sebagai rivalmu?"
"Apa urusanmu?" Tanyaku ketus kali ini, aku mulai tidak suka ketika Yixing mulai bertanya tentang hal yang tidak ingin aku beritahu kepada orang lain.
"Aku pikir kita sudah berteman." Yixing tersenyum.
"Kita baru berteman 70 menit yang lalu Yixing, aku tidak mungkin mengungkapkan seluruh kehidupan pribadiku padamu. Tapi, kenapa kau mengenal Chen?" tanyaku penasaran.
"Chen adalah teman lamaku, kami bertemu saat Chen masih menjadi trainee di SM Ent. Saat itu aku composer baru yang tidak tahu apa-apa tentang music Korea, lalu Chen membantuku dan semenjak itulah kami menjadi dekat sampai aku bisa menjadi independent composer seperti sekarang ini." Ungkapnya padaku. Aku mengangguk, pantas saja Chen terlihat akrab bersama Yixing dan itu sama sekali tidak membuatku nyaman.
"Baiklah, sebaiknya kita pulang. Aku tidak ingin pulang terlalu malam, besok aku ada jadwal lain." Ucapku. Yixing mengangguk kemudian berdiri dan berjalan keluar toko bersamaku.
Namun ketika kami keluar bersama lewat pintu, sejumlah wartawan dan kamera sudah ramai memngambil gambarku dan Yixing, aku terpaku karna terkejut. Dari mana mereka tahu bahwa aku ada disini? Bahkan fanspun ramai meneriaki namaku, aku bingung setengah mati karena tidak ada Xiumin, managerku yang selalu ada disampingku setiap kali aku memiliki jadwal kemanapun untuk kegiatan keartisanku. Namun kali ini aku sendirian dan tanpa seorangpun yang dapat menghalangi kamera dan para fans.
Tak disangka Yixing membuka jasnya dan menutupinya ke kepalaku dan merangkulku kemudian membawaku berjalan cepat menghindari kamera yang masih saja menjepret gambarku dan Yixing sampai kami tiva dimobil. Yixing segera menyalakan mobilnya dan melaju dengan cepat menghindari seluruh media.
Diperjalanan kami hanya diam, aku menunduk dan menghawatirkan apa yang akan terjadi besok jika mereka melihatku dan Yixing sedang bersama. Tak lama kemudian handphoneku bordering, nama Xiumin terpampang dilayarku. Yixing melirikku kemudian aku menggeser tombol hijau untuk menerima telepon itu.
"H-Hallo?"
"Luhan? Apa yang terjadi? Ya Tuhan, bagaimana bisa kau bersama dengan Yixing? Composer terkenal itu? disaat kau sedang menjalani hiatus karena sakitmu itu?" tanpa basa basi Xiumin langsung menembakku dengan kata-katanya.
"a-aku…." Belum selesai aku bicara dengan Xiumin, Yixing merebut ponsel itu dari tanganku dan berbicara dengan Xiumin.
"Hallo? Maaf, saat ini Luhan tidak bisa berbicara denganmu, tolong hubungi dia nanti. terima kasih." Yixing menutup teleponnya dan kemudian memberikannya kembali padaku.
"Apa yang kau lakukan Yixing? Xiumin adalah managerku." Gerutuku. Yixing menghela nafas.
"kau shock Luhan, kau butuh waktu untuk menenangkan pikiranmu. Tutuplah matamu dan cobalah untuk tidur. Tidak akan ada yang terjadi esok hari." Ujar Yixing yang membuatku sedikit agak tenang dengan ucapannya.
Aku menutup mataku dan berusaha untuk melupakan apa yang terjadi, walalupun aku tahu bahwa esok bukanlah hari yang mudah untukku.
tunggu chapter 4 nya ya, tolong reviewnya... makasih ^^
