warning: ff ini mengandung unsur darah-darah dan sejenis itu, so save yourself!
oh, its slow burn YoonSeok :*
jadi harap sabar... hhehehe...
Ini jadi lebih rumit dari perkiraan kami. Jika aku biarkan imajinasiku melayang, aku akan punya sebuah gambaran perang 3 kubu. Perang bebuyutan antara Guild dan Koloni, ditambah Hunter.
"aku benci mengakui ini tapi sepertinya kita berada diantara perang besar"
"ah, iya sepertinya. Terus kita kudu gimana dunk?" aku diam sejenak kemudian aku hela nafasku. Aku bukan orang yang suka mengambil resiko, tapi apapun bisa terjadi nanti. Eh, tapi kan selama Hoseok punya sihirnya, aku masih bisa meraba tentang kejadian di depan nanti.
"Hoseok, kamu udah nyelesein bayaranmu yang terakhir?" tanyaku
"iya, kamu butuh ngeliat ke depan kah?"
"iya"
"okay, aku balik dulu. bye" Hoseok menutup telponnya. Hoseok punya kekuatan yang sebenarnya cukup berguna untuk banyak hal. Kemampuannya mengendalikan waktu memang punya banyak keuntungan. Mulai memberhentikan waktu, mempercepat, memperlambat, dan bahkan dia bisa membuat dirinya kembali dari masa depan ke masa lalu, atau membuat dirinya yang berada di masa lalu ke masa depan. Kemampuannya yang unik dan banyak memberikan keuntungan juga sepadan dengan bayarannya. Kekuatanku sebagai Lich yang bisa menggandakan apapun harus dibayar dengan waktu tidur yang panjang. Sedangkan Hoseok harus membayar kekuatannya dengan bunuh diri berkali-kali. Semakin sering mati makin lama ia bisa menggunakan kekuatannya. Bagaimanapun kekuatan yang kami miliki memang harus dibayar mahal.
Aku keluar perpustakaan setelah semuanya beres. Sekarang jam 8 malem. Mungkin aku bisa pergi membeli kopi dulu sebelum ke apartemen Hoseok. Aku berjalan menuju ke kedai kopi yang berada di ujung jalan, searah dengan stasiun kereta terdekat. Aku masuki kedai kopi itu dan memesan espresso. Seperti biasa aku menunggu pesananku di depan kasir. Kemudian seseorang dengan jaket donker motif army dengan topi hitam menghampiriku.
"Hai Yoon!" sapanya. Aku gigit bibirku saat melihatnya. Hoseok berdiri di depanku. Aku telan ludahku. Bukankah... tidak, apa ini...
"Butterfly Effect?" tanyaku. Ia mengangguk pelan.
"ada hal yang harus aku bicarakan padamu" aku mengangguk pelan. Kemudian petugas kasir memanggilku dan memberikan kopiku. Setelah membayar kopi aku dan Hoseok pergi keluar kedai.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku. Hoseok berjalan mendahuluiku sambil memberi isyarat untuk mengikutinya. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat Hoseok yang cukup intens dengan 'aura keseriusannya'. Kali ini, butterfly effect yang muncul di depanku dengan wajah serius dan tidak banyak bicara seperti biasanya, aneh bukan. Tapi ini lama-lama membuat perutku jadi aneh. Apa yang sebenarnya terjadi di masa depan?
Ah, kalian pasti tidak mengerti yang kubicarakan. Aku akan jelaskan sedikit tentang efek dari kekuatan Hoseok yang lumayan rumit. Hoseok punya kemampuan mengendalikan waktu, ini membuatnya memiliki kemampuan untuk berada di masa depan dan masa lalu secara bersamaan. Ini berarti Hoseok bisa mengubah sesuatu dari masa lalu. Jarang sekali Hoseok menggunakan kemampuannya untuk kembali ke masa lalu karena bayarannya sangat menyakitkan dan lama. Selain efek bayaran yang besar, kemampuan ini juga membuat efek berantai yang bisa mengubah banyak hal. Satu kejadian kecil yang salah bisa membuat akibat yang benar-benar fatal. Karena itu, Hoseok biasa menggunakan kekuatannya sesuai efek yang ada, termasuk menggunakan kekuatannya untuk menyesuaikan efek yang ada supaya bisa 60% sesuai dengan apa yang kami harapkan. Tapi biasanya menyesuaikan 40% dari efek yang diinginkan itu sudah sangat sulit. Agak kasian juga sebenarnya pas ngeliat Hoseok membayarnya. Dia mengurung diri di kamar mandi sambil terus menembak kepalanya sendiri dengan revolver Phyton kesayangannya.
Setiap Hoseok yang berasal dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk mengubah masa depan aku sebut sebagai 'Butterfly Effect'. Kenapa? Karena Butterfly Effect adalah istilah dari kemampuan sistem untuk mengubah keadaan dengan kerentanan kecil dari pengubahan posisi awal sehingga menghasilkan efek yang jauh berbeda dari kondisi awal yang seharusnya. Seperti kataku tadi, Hoseok datang ke masa lalu untuk membuat 'Butterfly Effect' yang akan mengubah masa depan. Karena itu aku memanggilnya Butterfly Effect.
Aku mengikuti Hoseok menuju ke sebuah gang kecil dibelakang perpustakaan.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku lagi. kali ini Hoseok berhenti di depanku.
"kau tau kan aku benci bayaranku, jadi aku akan buat ini semua clear. Kamu akan diikuti Hunter waktu di stasiun. Mereka sudah tau beberapa hal tentang kekuatanmu. Mereka akan menangkap kita setelah ini. menurutmu kenapa aku datang kemari?" aku telan ludahku dan kembali menatap mata Hoseok.
"mereka menangkapmu?"
"tidak, tapi ini satu-satunya cara memperingatimu di awal. Hunter benar-benar menaruh mata ke kita sekarang. Aku mulai kehilangan waktuku." sosok Hoseok memudar di depanku. Aku diam sejenak.
Hoseok mengirim Butterfly Effect-nya ke aku. Ini bukan hal yang biasa. Hoseok enggak akan gampang ditangkep apalagi dia punya kekuatan untuk menghentikan waktu. Apa ada rencana yang kami rencanakan? Fuh, ini semakin rumit. Ayolah, Info-broker gak seharusnya terlibat yang beginian! Okay, calm down. Aku harus bisa sampai di apartemen Hoseok. Okay pertama buat umpan. Posisi di dekat kedai kopi sambil bawa kopi. Umpan akan berjalan ke arah stasiun. Umpan kedua berada di dalam stasiun. Kemudian membuat distraksi di stasiun. Kemudian menutupi diri menggunakan sihir kamusflase, dan pergi menuju ke apartemen Hoseok sambil terus menjalankan umpan. Fuh, okay lets do it!
.
.
.
Aku keluar gang menggunakan sihir kamusflase. Kemudian aku mulai membuat umpan di dekat kedai kopi. Terlihat beberapa orang menyadari keberadaan umpanku. Ada beberapa orang yang kemudian mengikuti umpanku berjalan. Aku menjaga jarak dibelakang rombongan orang yang terpisah satu sama lain yang mengikutiku umpanku. 20.10, bukan waktu yang cukup ramai. Mereka mengikuti umpanku ke stasiun dengan mudah. Stasiun tampak lengang, ini bukan waktu yang baik untuk menjalankan rencana ini dan waktuku menggunakan sihir kamusflase semakin sedikit. Tapi aku tidak pilihan lain. Baiklah, aku akan membuat keramaian. Aku membuat duplikat banyak orang yang kemudian mulai lalu lalang membuat stasiun ramai seperti rush hour. Aku mulai mengarahkan umpanku ke tengah keramaian. Aku segera mencari jalan lain sejak sihir kamusflaseku sudah hilang.
Aku sembunyi di titik buta kamera publik (cctv stasiun). Aku terlampau hafal dengan posisi kamera publik di stasiun ini. Jadi aku bisa menentukan titik butanya ketika aku mulai melihat arah sorotnya. Aku mulai menutupi rambutku dengan topi dan hoodie jaketku. Aku lirik sejenak arah kamera. Posisi yang pas, aku segera terjun ke tengah keramaian, bejalan searah titik buta 3 kamera publik dan melirik sekitarku. Umpanku berada di arah jam 10 dariku. Hunter tersebar di 3 arah, jam 11, jam 2 dan jam 9. Aku membuat instruksi untuk menunduk ke umpanku. Umpanku menunduk dan Hunter mulai kebingungan mencari umpanku. Jadi aku membuat umpan kedua di arah jam 3 dari posisiku. Hunter di posisi terdekat menyadarinya. Aku mulai membuat Hunter merasa bahwa umpanku menyadari bahwa ia diikuti sekumpulan orang. aku mengubah rute umpan menuju pintu selatan peron. Sekumpulan Hunter ini mengikuti umpanku menuju selatan. Sedangkan aku bergerak cepat menuju peron utara.
20.16, tinggal 1 menit lagi kereta datang. Dari peron utara aku bisa melihat hunter menjaga jarak disekitar umpanku. 20.17, kereta datang. Saat kereta berhenti aku gunakan umpanku untuk membawa semua Hunter ke dalam kereta, caranya dengan menginstruksikan umpanku masuk ke dalam kereta. 20.22, kereta berangkat dan semua Hunter yang mengikutiku sudah tidak ada. Aku sendiri sedang menunggu kereta yang datang pukul 20.30, karena ini kereta yang melayani rute ke arah apartemen Hoseok. Setidaknya, sekarang aku aman.
.
.
.
Perjalanan menuju ke apartemen Hoseok berjalan lancar dan aman. Aku berhasil sampai di depan gedung apartemennya. Untuk seseorang yang bener-bener matre dan menggunakan uangnya, Hoseok punya selera yang lumayan. Dia punya kondominium di lantai 30 di pusat kota Jugeun. Lebih tepanya di gedung apartemen paling mahal dan mewah di Jugeun. Berbeda denganku yang hanya menyewa flat kecil di rumah bertingkat 3 yang berisik. Beruntung aku jarang menempatinya dan hanya menggunakannya untuk membayar bayaranku. Aku masuk dan segera pergi menuju ke kamar Hoseok. Apartemen Hoseok memang mewah dan mahal. Tapi ini juga basis persenjataan kami. Meskipun kami tidak pernah menggunakannya (senjatanya maksudnya). Gedung apartemen ini juga ditempati oleh orang-orang khusus. Ada banyak pejabat negara yang memiliki kamar disini, kemudian tidak lupa petinggi undead. Klan-klan khusus Undead di zona netral yang dianggap berpengaruh seperti klan Phoenix, klan Nephilm, dan beberapa klan besar Demonic seperti Oriens, Paymon, Amaymon dan Egyn. Bisa di bilang, gedung apartemen ini adalah zona aman yang akan sangat sulit untuk disentuh Hunter. Sejujurnya aku bersyukur Hoseok menyiapkan tempat ini.
Masuk ke dalam apartemen ini juga tidak sembarangan. Hoseok butuh waktu 3 bulan hanya untuk mengurus agar aku bisa keluar masuk sesukaku. Untuk masuk ke dalam gedung butuh kartu khusus, kemudian cek sidik jari, dan lain-lain. Okay, cukup ribet untuk sekedar masuk ke dalam apartemen. Untuk penghuni tetap di gedung ini, ada kartu tersendiri yang membuat mereka tidak perlu pake cek yang aneh-aneh. Setelah melewati berbagai cek, aku masuk ke lobby dalam dan menuju lift. Setelah menunggu lama akhirnya pintu lift terbuka dan aku masuk.
"hei! Tahan dulu liftnya!" teriak seseorang. Aku mengikuti kata-katanya, aku tahan tombol buka hingga orang itu masuk. Setelah pintu lift tertutup, lift mulai naik.
"terima kasih sudah menahannya untukku." Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"sama-sama" balasku. Aku kembali menatap pintu lift. Orang di sebelahku menggunakan jas hitam dan celana hitam, jangan lupakan dasi kupu-kupu dan kemeja putih. Setidaknya aku merasa kurang berkelas dengan jaket dan kemeja kerjaku. Lain kali aku akan menggunakan uangku dengan lebih baik.
"kau ini zombie kah?" sebuah pertanyaan muncul. Reflek aku menoleh kearah orang itu. Aku bukan orang yang suka mengidentifikasi sesuatu, tapi jujur apa sebegitu busuknya bau badanku?
"yya..." jawabku agak ragu. Kesalahanku tidak menggunakan hidungku dan instingku sejak awal. Aku baru menyadarinya, orang di sebelahku ini bukan makhluk biasa.
"kau punya teman tinggal disini? Atau kau tinggal disini?" tanyanya.
"ah, teman dekatku tinggal disini, jadi aku sudah sering keluar masuk gedung ini." jawabku se-netral-mungkin dan se-polos-mungkin.
"ah, begitu ya. jarang sekali ada Zombie yang lumayan kaya. Kudengar mereka hanya bisa makan sampah sih."
Aku benci mengakui kalau dia benar! Boleh aku gampar dia? Bisa-bisanya ngomong kayak gitu di depanku?! Aku ini zombie memang, tapi aku juga Lich okay! Dasar gak sopan!
Aku mengalihkan pandanganku dan berusaha tenang. Enggak lucu kalo aku marah-marah, ternyata dia dari klan Demonic. Bisa di gorok mati leherku.
"ah, tapi kalian para zombie memang lemah. Jadi maaf kalo kata-kataku kasar."
"yah, sama-sama. Terima kasih telah mengingatkanku pada kenyataan." Balasku ketus. Demi apa cobak pake ngomong kayak gitu segala.
"tapi hidupmu bisa lebih baik jika kau mau bekerja untukku. Kau tau, Undead yang bekerja untuk Demonic hidupnya lebih terjamin." Aku menoleh ke arahnya lagi. Trjamin? Hidup terjamin? Undead?
"maksudnya?" tanyaku.
"bukankah kalian sekarang sedang dipanen Hunter?"
Sumpah aku jadi makin bingung. Apa maksudnya 'di panen Hunter'? emang Undead itu apaan? Sejenis ayam pedaging yang bisa di sembelih dijadiin ayam goreng?
DING!
Pintu lift terbuka di lantai 30.
"ah, maaf aku pergi dulu" pamitku sambil membungkuk hormat. Kemudian aku keluar lift. Tapi orang itu menahan pintu lift dan mulai berbicara
"hubungi aku kalau kau mau. Lantai 45 kamar nomor 4507. Namaku Taehyung, Kim Taehyung. Boleh aku tau namamu?" Aku berbalik kemudian mengangguk dan tersenyum.
"namaku Yoongi, Min Yoongi" kemudian pintu lift tertutup. Demi apa Demonic sepertinya mengatakan ini kepadaku? Apa dia tau aku ini Lich? Atau bagaimana?
aku berbalik membelakangi lift dan menuju kamar Hoseok. Kamar Hoseok ada di nomor 3013. Begitu sampai aku gunakan kartuku untuk masuk. Suara klik terdengar tanda kunci pintu terbuka. Aku buka pintu kamar Hoseok.
Kondominium Hoseok didesain cukup modern dan elegan. Didominasi warna putih, krem, dan abu-abu tua. Jangan lupakan kucing yang berkeliaran dimana-mana dan bunga artifisial yang berwarna-warni menghiasi setiap meja, lemari dan nakas.
"Hoseokie, kamu dimana?" panggilku. Terdengar suara pintu terbuka dan Hoseok keluar kamar dengan wajah murung. Kerah kemejanya penuh darah dan dia berjalan gontai kearahku.
"aku benci bayaranku..." katanya. Well, sapa suruh punya bayaran kayak gitu by the way...
"aku tau. Tapi takdirmu sudah bilang begitu, jadi jalanin aja ya?" balasku sambil menepuk pundaknya.
"kamu enak, bayaran cuman tidur doank, buka harus bunuh diri berjam-jam."
"impas kan sama yang kamu dapet." Hoseok menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
"hyung, ayo kita selesaikan ini." katanya sambil berjalan menuju ke dinding di sebelah TV. Ia menempelkan tangannya ke dinding kemudian dinding itu terbuka. Sebuah lorong kecil nampak di depannya. Kami masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan ini terdapat sebuah sofa dan meja kopi. Dibelakangnya ada lemari berisi berbagai senjata api dan senjata tajam koleksi kami. Di depannya ada meja kerja yang terisi komputer dengan 3 layar sekaligus. Komputer yang enak banget buat nge-game sebenernya. Di samping hanya dinding yang dilapisi karet eva untuk menempelkan beberapa informasi yang telah kami kumpulkan.
"lama sekali rasanya enggak dateng kemari." Aku menoleh ke arah Hoseok yang sudah menjatuhkan diri di sofa. Aku mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Hoseok mengambil sebuah laptop dari laci meja dan mulai menyalakannya.
"hei, tadi aku ketemu Demonic di lift." Hoseok menoleh ke arahku.
"siapa? Taehyung?" aku balik menoleh ke Hoseok.
"kok tau?"
"oh, dia itu suplier daging manusia. Tangan kanan The great Oriens, oh iya dia itu masih saudaranya Leader of Egyn."
DA-A-FUK
"jangan bilang dia tau kalo kamu ini Lich" Hoseok nyengir kuda dan kembali menatap layar laptopnya. oh FUCK! Demonic itu tau kalo aku ini Lich. Bisa jadi dia tau kalo aku partnernya Hoseok. Bolehkah aku tanyak kenapa harus aku yang dihidupkan kembali jadi Lich? Bisa enggak sih aku memilih buat menyudahi kehidupan dunia yang aneh ini plis!
Tak ada gunanya mengeluh, karena itu tidak menghasilkan apapun.
"udah siap?" tanyaku.
"siap" aku jentikkan jariku dan duplikat Serapihm yang menyerang kami tadi muncul di depanku.
"ambilah kursi dan duduk" perintahku. Duplikatku melakukan apa yang aku suruh. Kemudian ia duduk di depan kami.
"nama?" tanyaku.
"Jungkook, Jeon Jungkook."
"kau ini sebenarnya apa?"
"Malaikat dibawah komando Olivier" aku tidak sadar mengangkat alisku. Siapa lagi itu? Olivier? Masih sodaranya Olive pacarnya Popeye kah?
"Olivier?"
"komandan utama Serapihm. Diberkahi dengan pedang penghakiman. Yang terkuat dari 3 tingkatan." Trivia ya? ada juga malaikat yang dikasih pedang. Terus, aku lahir lagi jadi lich apa juga karena 'berkah'? yang bener aja?!
"oh okay, terus Hunter itu ngapain?"
"menghentikan Undead Kolosal" aku noleh ke arah Hoseok. Dia juga noleh ke arahku. Okay, kita sama-sama enggak tau apa itu Undead Kolosal.
"Undead Kolosal? Apaan itu?" Tanya Hoseok.
"kebangkitan kekuatan para Undead setelah 1000 tahun ditaklukkan. Lich telah lahir kembali dan ini adalah ancaman bagi eksistensi kami yang sudah menguasai selama 1000 tahun lebih." Aku noleh lagi ke Hoseok dan ia membalasku dengan tatapan sama-sama bingung.
"tunggu, apa hubungannya Undead Kolosal sama Lich?" tanyaku.
"Undead Kolosal dipimpin oleh pemimpin tertinggi Undead, Lich."
Oh fuck
Shit
Fuck
Shit!
FFFFUUUUUUCCCKKKKINNNNNGGGGG SHHHHIIIIIITTTT!
"oi, kau ini enggak salah kan?" tanya Hoseok yang kembali memastikan.
"tidak, Lich telah bangkit lagi dengan perantara Dullahan. Konfirmasi tentang kembalinya Lich sudah dikonfirmasi 13 tahun terakhir oleh Dullahan. Saat ini kami Hunter berusaha mencarinya. Lich punya kekuatan diambang batas ruang dan waktu, berkah yang tidak bisa dipungkiri membuat iri kami dan Demonic." Aku menoleh ke arah Hoseok lagi. kemudian kami berdiri meninggalkan duplikatku di kamar itu dan kami keluar dari ruangan itu.
Kami mendudukkan diri di sofa depan TV. Hoseok menyalakan TV dan menyandarkan kepalanya di sofa. Sejujurnya, ini hal yang tidak pernah aku perkirakan. Aku kira kami bisa pergi dari masalah perang Undead, Hunter dan Demonic. Kenyataannya ini hampir tidak mungkin sama sekali.
"hei Yoongi, aku enggak pernah nyangka Lich bisa sekuat itu. Tapi Hunter sampai mencari kita selama ini, apa segitu takutnya kah mereka sama kita?"
Memang sih aku sendiri juga tidak tau. Aku hanya tau beberapa strata dalam dunia supernatural teraneh ini. Hunter dan Demonic berada dalam level yang sama, tapi mereka juga punya tingkatan-tingkatan tertentu hanya saja aku tidak seberapa paham. Setauku, Demonic terkuat dari orde Oriens. Tapi aku enggak tau juga masalah tingkatan Hunter, aku awam banget sama Hunter. Sedangkan tingkatan Undead ada beberapa sih. Tingkatan paling bawah ada Zombie dan Ghoul, mereka dijuluki 'Corpse Eater' karena emang mereka makan mayat. Diatasnya ada 'Massive Population' yaitu Vampire dan Werewolf. Kemudian diatasnya lagi ada Nephilm dan Phoenix. Bisa dibilang mereka adalah klan terkuat Undead. Kemudian ada lagi 'Immortal' yang cuman ada satu di dunia ini, dia adalah Dullahan. Selama ini, aku mengira Dullahan adalah yang terkuat diantara semua klasifikasi Undead. Tapi kenyataannya Lich memang enggak masuk ke strata manapun. Aku enggak terlalu ambil pusing tentang strata ini juga. Tapi apa yang dikatakan Hunter tadi mengubah banyak hal. Lich berada di strata tertinggi Undead. Memang sih, aku punya kekuatan yang bisa dibilang tidak terikat ruang dan waktu. Aku sendiri bisa menggandakan apapun selama aku bisa merasakannya, termasuk ruang waktu dan dimensi bahkan alam semesta jika aku mau. Kekuatan Hoseok masih terikat oleh ruang tapi tidak terikat oleh waktu, tapi kekuatanku tidak terikat ruang tapi masih terikat oleh waktu. Meskipun kami belum pernah menggabungkan kekuatan kami. Tapi aku pernah melakukan sebuah percobaan. Aku menggandakan ruang waktu Hoseok dan hasilnya mengejutkan. Aku bisa menguasai ruang waktu yang aku gandakan, menumpuknya dengan waktu yang sudah ada. Saat aku menyadarinya, aku bisa bergerak diluar batasan kekuatan Hoseok dan membuat kekuatan Hoseok tidak berguna, Hoseok berhenti bersama ruang waktu yang aku hentikan. Dalam ruang waktu yang aku buat, Hoseok tidak lebih dari werewolf biasa dan ia seperti kehilangan kekuatannya.
Jika dipikirkan secara baik-baik. Kami punya kekuatan yang tidak akan bisa dihentikan Hunter dan Demonic. Konsepsi mereka masih sangat terikat dengan ruang dan waktu. Sedangkan, bagiku dan Hoseok, membunuh mereka bukan hal sulit. Kalo butuh cepet dan efisien, cukup menghentikan waktu dan membunuh mereka diruang waktu. Bahkan sebelum mereka sempat jantung mereka berdetak, kami sudah membunuh mereka. Segampang itu bagi kami menghancurkan mereka. Cuman, bayaran yang harus dibayar itu yang cukup nyebelin, haha
"mana aku tau Hosiki, yang jelas ini menyebalkan. Kita enggak akan bisa lepas dari perang." Aku balas Hoseok sambil mengeluarkan rokok dan korek api.
"mau dong satu" pinta Hoseok. Aku sodorkan rokokku kepada Hoseok dan ia mengambilnya sebatang. Kemudian aku nyalakan rokokku baru kemudian aku berikan korekku kepadanya. Aku menyedotnya sejenak kemudian menghembuskannya pekat-pekat.
"aku rasa kita mulai punya misi sekarang." Hoseok mengembalikan korekku dan mulai mengisap rokoknya.
"Dullahan kah? Kita butuh cara supaya bisa bertemu dengannya. Kita butuh penjelasan darinya kan? Uh, yang benar saja semuanya jadi semacam t ik sekarang"
"aku punya sedikit firasat. Aku rasa aku tau siapa Dullahan ini." Hoseok menoleh kearahku. Aku hanya diam dan mulai menguap. Mataku mulai berat dan mengantuk. aku sudah mencapai batasku, aku butuh membayar bayaranku.
"begitukah? Okay, biar aku yang nyelesein kerjaan ini. Bertahanlah 1 jam lagi, okay." Hoseok pergi dari sofa dan menuju ruangan rahasia itu lagi. Aku berdiri dan menuju kamar Hoseok. Kamar Hoseok terlihat rapih seperti biasa. Ah, dia memang orang yang gila kerapihan, perfeksionis, dan dia menyemprot kamarnya dengan parfum melati. Aku rebahkan badanku ke kasur empuk Hoseok. Hoseok memang memanfaatkan uangnya dengan benar, sedangkan aku menghabiskan kebanyakan uangku hanya untuk senjata-senjata api yang pada akhirnya aku koleksi di ruangan rahasia itu. Aku rogoh saku celanaku dan mengeluarkan smartphoneku. Hoseok bilang, aku harus bertahan selama 1 jam sebelum aku memulai bayaranku. Aku mulai membuka media sosial berharap ini akan membuatku bertahan lebih lama. Entah berapa lama, rasanya otakku berjalan auto pilot. Bahkan aku tidak tau aku harus bertahan berapa lama lagi. Aku tutup layar smarphoneku dan mulai memandangi bantal dan guling di sekitarku. Hoseok menggunakan sarung bantal bermotif bunga ala vintage yang berwarna biru. Meskipun remang-remang lampu tidur... uh? Seseorang menyentuh pundakku.
"otsukaresama," ia menaikkan selimut hingga menutupi leherku
"Good night Yoongs, have a sweet dreams" ia mematikan lampu tidur itu dan entah aku tidak ingat lagi...
hai~ fuse desu~
makasih banget udah review dan membaca sampek baris ini. oh iya makasih banget yang udah like, n follow... huhu... i'm feeling loved~
semoga pembaca mau nge-review ini ff :)
