Naruto © Masashi Kishimoto

Stay Close, Don't Go! © OkiniiriNamikaze

.

Tak pernah ada yang namanya kepercayaan murni

-Uzumaki Naruto-

.

Naruto menatap hamparan pepohonan hijau di pinggiran desa Konoha dari atas patung batu Hokage. Pemuda itu sudah diizinkan keluar dari rumah sakit setelah seminggu mengalami masa pemulihan.

Pandangan Naruto kemudian jatuh pada sisa reruntuhan kediaman Uchiha. Tempatnya sempat tinggal dulu bersama Oba-san, Oji-san, Oni-san dan... Sasuke.

Memikirkan Sasuke membuat Naruto mengepalkan tangannya. Setiap kali mengingat Sasuke. Kebenciannya pada Konoha semakin membuncah.

Siang ini dia berniat menemui Tsunade Obaa-chan untuk menanyakan status Itachi-nii. Dia berniat membersihkan nama sang pemuda yang sudah dianggapnya kakak terlebih dahulu. Lalu setelah itu... entahlah. Dia juga tak tau. Tak ada hal penting yang bisa ia lakukan.

.

Langkah kaki Naruto terlihat mantap memasuki kantor Hokage. Sesampainya di depan ruangan sang Hokage, dia mencoba mengetuk pintu. Setelah mendengar satuan persetujuan, pemuda dengan tanda lahir berupa kumis kucing -atau rubah tepatnya-.

Tsunade yang ada di dalam ruangan merasa terkejut saat mengetahui siapa yang berkunjung. Tumben sekali gaki kesayangannya ini berlaku sopan.

"Lapor Hokage-sama. Misi nomor 765 AN tingkat S* memberi laporan!"

(AN : ini hanya imajinasi saya . )

Tsunade terkejut. Dia terkejut. Dia tak pernah mengeluarkan misi dengan tingkat S untuk Naruto. Dan nomor itu... termasuk misi lama dengan kode AN yang artinya perkerjaan ANBU.

"Shizune, cek misi 765 AN tingkat S yang disebutkan!" Perintah Tsunade.

Naruto sendiri masih diam bergeming. Menunggu perintah dari Tsunade.

Tak lama Shizune kembali ke ruangan Tsunade. "Maaf, Tsunade-Hime. Misi itu... adalah tanganan langsung Sadaime Hokage dan para tetua. Jadi... Saya tak diperkenankan untuk membawanya. Begitulah perkataan sang penjaga Gulungan misi."

Tsunade langsung menatap Naruto, "Misi apa yang kau maksud Naruto? Atau kau hanya-"

"Ahh~ sudah kuduga jika pasti kau yang menanyakan misi tersebut." Belum sempat Tsunade melanjutkan perkataannya. Danzo yang baru datang langsung mencelanya.

"Aku hanya ingin mengajukan pencabutan misi, Danzo-sama."

Perkataan Naruto itu mengejutkan Tsunade dan Shizune. Seharusnya, Naruto tak tau siapa pria paru baya ini. Bagaimana bisa?

"ANBU hawk. Kau sudah dimatikan semenjak insiden saat itu. Dan pencabutan jabatan dan penurunan tingkatan jika aku tak salah."

Perkataan Danzo itu kontan saja mengejutkan Tsunade dan Shizune. Apa maksudnya ini? Batin keduanya.

"Tapi... Jika kau ingat, aku masih bagian dari Ninja Konoha." Jawa Naruto kalem.

"Namun, kau bukan satuan ANBU lagi yang pantas bertanya." Balas Danzo.

Perkataan pria itu membuat Naruto mengepalkan tangannya. Danzo mencoba main main dengannya.

"Namun, Hokage-sama memberikan ku izin jika aku ingin mencabut hal itu!"

"Kita akan membahas ini dengan tetua lainnya, bocah. Aku tak bisa dengan mudah mengambil keputusan."

Naruto tau itu bohong. Danzo berbohong mengenai hal itu. Dia bisa sebenarnya mencabutnya. Dia yang menjadi salah satu yang menandatangani misi itu.

Naruto langsung keluar setelah mendapat kepastian kapan rapat itu. Tanpa memperdulikan panggilan Godaime Hokage.

.

.

Sasuke menatap kosong kobaran api di depannya. Api itu melahap semua kayu bakar tersebut.

"Suke... Naru ingin seperti api! Yang bisa memakan semua kayu."

Perkataan polos Naruto saat pemuda itu gagal melakukan suatu Jutsu. Dia ingin menjadi api yang bisa memakan semua kayu. Dia ingin menjadi Ninja yang bisa mempelajari seluruh jutsu.

Mengingat Naruto membuat keinginannya kembali ke Konoha membesar. Namun, Sasuke sadar itu mendekati kata tak mungkin.

.

Naruto berjalan pelan menelusuri jalan menuju danau dengan pandangan sayu. Dia merindukan Sasuke...

Naruto menatap danau itu dengan pandangan sendu. Ini tempat dimana dia pertama bertemu Sasuke setelah insiden pembantaian. Naruto yang terlalu gengsi saat itu memutuskan membuang muka pada Sasuke.

Tanpa terasa lelehan liquid jatuh dari pelupuk mata pemuda itu.

Sasuke...

Aku rindu padamu.

Pemuda manis itu berjalan menelusuri jalan setapak di pinggiran Danau. Semua ingatan masa kecilnya menyeruak. Jadi.. ini yang namanya rindu? Naruto menertawakan kerinduannya sendiri. Sasuke belum tentu mengingat dirinya diantara obsesinya dengan Itachi. Obsesi membunuh yang bersumber dari Konoha.

Naruto mengepalkan tangannya. Memikirkan hal itu membuat Kebenciannya meluap. Konoha... tetua desa... Mereka semua... Tak bisa dimaafkan.

Naruto menghapus kasar airmatanya yang tanpa terasa mengalir deras membasahi pipinya. Kemudian beranjak dari tempat itu. Berjalan cepat menuju apartemen-nya.

.

.

.

Itachi menatap hamparan rumah yang terbakar itu. Lautan api menenggelamkan salah satu desa di negri Suna bagian utara itu. Ada rasa sesal menyelimuti hatinya mengingat di desa itu pasti ada keluarga yang saling kehilangan. Membawa kenangan kelana muncul.

Itachi boleh kuat, namun dia hanyalah pemuda berusia 21 tahun yang masih memikirkan adik adik kecilnya.

.

.

.

Naruto menatap datar Sakura yang menghentikan langkahnya di tengah jalan. Pemuda itu menatap datar sosok gadis di depannya. Tak ada lagi pancaran hangat, ceria dan ramah lagi di mata shappire-nya.

"Jangan terlalu lama membohongi dirimu, Naruto. Aku benci melihatmu seperti ini. Mana Naruto yang ku kenal?"

Sakura menatap Naruto sendu. Sudah cukup. Sudah cukup dia kehilangan Sasuke-kun. Jangan Naruto! Jangan!

"Bukan aku yang membohongi diriku. Tapi kau. Kau seharusnya sadar. Inilah Naruto yang sebenarnya. Bukan Naruto yang diciptakan Itachi nii-chan!" Bentak Naruto yang membuat Sakura terkejut. Ini bukan Naruto meraka!

Menggeleng pelan, gadis bubble gum itu mundur perlahan. Dia takut. Ini bukan Naruto-nya. Naruto to pernah kasar pada dirinya!

"Kau takut. Iyakan!? Kau menganggap ku monster!"

"Tidak! Kau bukan Naruto! Keluar kau dari tubuh Naruto!" Teriak Sakura sembari memukul mukul dada Naruto.

Naruto mengepalkan tangannya kuat. Percuma Sakura-chan. Konoha sudah menghancurkan Naruto yang kau kenal bahkan sejak bertahun tahun lalu. Bersama dengan matinya Clan Uchiha.

.

.

.

Sasuke memperhatikan desa Konoha dari jauh dibalik jubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pandangannya jatuh pada monumen Hokage. Entah mengapa... Sasuke seperti mengingat sesuatu.

"Sasuke, semuanya sudah disiapkan." Nada datar terkesan kalem dari Juugo menginterupsi pemikirannya. Sasuke berbalik dan berjalan melewati bahu Juugo. Dia ingin membuktikan semuanya. Mengenai beberapa kilasan ingatan Beberapa hari terakhir dan juga perasaannya.

.

.

.

...Aku hanya ingin bersamamu sebentar...

Izinkanlah aku walau hanya sedetik

-Uchiha Sasuke-

.

.

.

Naruto berjalan cepat menuju kantor Hokage kembali. Entahlah firasatnya tak enak. Dia bahkan sampai harus membentak Sakura tadi.

Naruto melangkah cepat menuju ruangan Hokage tanpa memperdulikan teriakan penjaga yang menghalanginya.

Brak!

Naruto membuat sang Hokage terlonjak dari kursinya.

"Ada apa, Gaki?" Desis Tsunade.

Belum sempat Naruto menjawab seorang ANBU bertopeng rusa sudah memasuki ruangan dengan tergesa.

"Lapor Hokage-sama, Team Taka terlihat di barat Konoha."

Laporan itu membuat semua kepala yang ada di ruangan Hokage menjadi seperti mendapatkan surprise.

"Kirim-"

Naruto segera memotong ucapan sang Hokage.

"Biar aku dan team tujuh saja. Sasuke adalah bagian dari kami."

Tsunade mencoba mempertimbangkan permintaan Naruto. Pemuda itu ada benarnya. Namun, dirinya masih khawatir dengan kondisi Naruto yang baru membaik. Tak menjadi hal yang tak mungkin jika nanti tiba tiba saja kondisi Naruto melemah.

"Kirimkan Team Kakashi, Team Asuma dan juga Team Guy!"

Naruto tersenyum tipis mendengar hal itu.

.

.

.

Sasuke menatap deretan Ninja yang dikirim oleh Konoha untuk menghadang dirinya. Pemuda itu menyadari sedari tadi jika Naruto tengah memperhatikannya di barisan paling belakang.

Ini aneh. Naruto biasanya akan selalu di barisan depan. Tanpa atau dengan aturan. Batin Sasuke.

"Apa yang kau mau, Uchiha? Kau hanya penjahat kecil anak buah Orochimaru!" Ejekan itu keluar dari Neji. Pemuda yang lebih tua satu tahun itu nampak kesal dengan kepergian Sasuke yang membuat Naruto seperti ini.

"Bukan urusanmu, Hyuuga. Itu hakku." Jawab Sasuke datar.

"Lebih baik kau pergi, Sasuke. Kami ditugaskan untuk menghadang segala musuh dengan bagaimana pun. Itu artinya kami berhak membunuhmu."

.

Sakura melirik takut takut ke arah Naruto yang ada di bagian belakang mendengaran ucapan Neji. Dia takut Naruto tak terima.

"Bukan urusanmu, Hyuuga. Itu hakku." Nada datar Sasuke itu membuat Sakura merinding. Namun, gadis juga mendapati pandangan aneh dari Naruto. Ada apa?

"Lebih baik kau pergi, Sasuke. Kami ditugaskan untuk menghadang segala musuh dengan bagaimana pun. Itu artinya kami berhak membunuhmu."

Perkataan Naruto itu membuat Sakura terbelalak. Bukankah Naruto ingin bersama Sasuke?

Bukan hanya Sakura. Namun, juga seluruh yang di sana termasuk Sasuke.

"Melepaskanku, eh Naruto." Ejek Sasuke.

"Untuk apa mempertahankan penghianat sepertimu! Kau hanya sampah, Uchiha!"

Deg!

Sakura dan yang lain terkejut mendengar ucapan Naruto.

.

.

"Untuk apa mempertahankan penghianat sepertimu! Kau hanya sampah, Uchiha!"

Deg!

Entah mengapa Sasuke merasakan ngilu di sudut hatinya mendengar perkataan Naruto. Namun, dicoba tepis oleh pemuda stoic itu.

"Heh, sudahlah. Jangan berbasa basi lagi. Lakukan sekarang, Karin,"

...

Skip

(AN : author susah buat scene fight. Sorry.)

...

Naruto terengah memandang ke arah Sasuke. Pemuda itu malakukan serangan besar besaran dengan menggunakan Kuchiyose pada Konoha. Dalam hati Naruto sebenarnya ingin membantu Sasuke. Namun, ini demi Nii-san.

Tanpa disadari oleh si pirang Suigetsu melemparkan jarum beracun kepada Naruto, masih penelitian Orochimaru yang ia curi.

Deg!

Pandangan Naruto mengabur. Menjadi hitam putih dengan banyak blur. Ada apa ini? Racun apa ini?

...

Naruto mengerjakan matanya pelan. Dimana dia? Tempat ini terasa begitu familiar Baginya. Sebenarnya dimana dirinya kini?

"Ahh~ Naru-Chan. Jangan berlari terlalu cepat! Nii-san jadi susah menangkapmu!"

Suara itu membuat Naruto menoleh. Di sana, terlihat Itachi tengah mengejar dirinya.

Naruto ingat kejadian ini. Saat itu Sasuke sakit. Dirinya yang baru pulang dari latihan terkejut dan langsung berlari menuju kamar sang raven.

Naruto mengikuti Itachi dan dirinya di masalalu menuju kamar Sasuke. Terdengar suara pintu bergesek. Dari Tempatnya berdiri Naruto bisa melihat dirinya di masalalu tengah memeluk Sasuke dan menangisi keadaan Uchiha bungsu tersebut. Mengingatnya membuat kenangan Dirinya bersama Sasuke berputar dengan cepat. Membuat kepalanya sakit.

...

Naru (past) POV

"'Suke, lain kali kau harus lebih banyak istirahat. Jangan memaksakan diri. Naru jadi sedih jika 'Suke begini." Bocah enam tahun itu mengucapkan Kamarnya dengan fasih.

Sasuke sendiri hanya tersenyum kecil dan mengusap rambut pirang di pelukannya ini. Naru-Chan khawatir padanya.

"Maafkan, 'Suke, nee?"

...

Deg!

Senyuman itulah yang dari dulu selalu menenangkan Naruto. Bisa dilihatnya dari jauh ketiga orang itu saling berpelukan. Tanpa sadar airmatanya menetes.

"Naru-Chan sangat khawatir padamu lho, Sasuke-kun."

Naruto berbalik. Mikoto ba-san menghampiri ketiga orang itu. Melewati dirinya yang ada di depan pintu.

Suke... Itachi-nii... Mikoto Oba-san... dan yang lainnya. Aku, merindukan kalian.

Mikoto ba-san, apa aku harus ke tempatmu dan Fugaku Oji-san saja? Aku ingin bersama kalian...

...

Sakura menatap khawatir pada Naruto. Setelah serangan terakhir Suigetsu semuanya menjadi panas. Dan Taka berhasil di pukul mundur. Namun, Naruto harus dikorbankan.

"Bagaimana ini, Hokage-sama. Pemuda ini terperangkap di alam bawa sadarnya dan tak mengijinkan kita masuk." Ucap salah satu medical-nins.

Sakura mendekat ke sisi Naruto. Membuat beberapa medical-nins menyingkir.

"Naruto-kun. Sadarlah. Kamu butuh dirimu di sini."

Namun, setelah mengatakan hal itu, Sakura terasa di tarik menuju alam bawa sadarnya.

Semuanya menjadi panik, karena Sakura pingsan dengan tiba tiba. Ada apa ini?

...

Sakura merasa kenal dengan tempat ini. Kapan Yah dirinya pernah kemari?

"Naru-Chan sangat khawatir padamu lho, Sasuke-kun."

Suara itu membuat Sakura menoleh. Di sana wanita berambut raven panjang tengah berdiri membawakan nampak berisi bubur hangat dan ocha.

Namun, tiga sosok di tengah ruangan lebih menarik perhatiannya.

Itachi Uchiha

Naruto Uzumaki

Dan...

Sasuke Uchiha.

Jadi... ini semacam ingatan Naruto?

"Bisa dibilang begitu,"

Suara itu membuat Sakura menoleh ke belakang. Naruto?!

"Naruto!? Syukurlah.."

Jadi... dugaannya benar?

"Sakura."

Suara itu membuat Sakura m oleh ke belakang. Naruto.

"Dimana ini Naruto?" Tanya Sakura tak terlalu terkejut dengan kehadiran Naruto.

"Ini ingatan masa lalu ku bersama keluarga Uchiha.-"

Sakura mengangguk namun...

"-Namun..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

AN : thanks buat yang udah Baca. Aku tau ini jadi makin gaje. Namun... maaf Yah? Aku jugs tau ini pendek :) aku udah berusaha.

Thanks,

Okiniiri-Hime

Inspire by :

Kesunyian Hati - rafaell_16

StarKid - Missing You

Afgan - Untukmu Aku Bertahan.

.

.

.

.

Mind to Review?