Langkah kaki-kaki itu menelusuri koridor sekolah yang sepi. Suara pada guru yang tengah mengajar menjadi back sound-nya. Senyum yang tersemat diwajahnya mengembang begitu besar— merasa senang sekaligus gugup karena ia akan menjalankan kehidupannya disini.
Wanita paruh baya itu berhenti didepan kelas dengan papan yang bertuliskan 3-B di atas pintu. Jantungnya berdegup semakin kencang, rasanya ia ingin kabur dan bersembunyi di toilet. Ia terlalu gugup bahkan tangannya sedikit basah akibat keringat dinginya.
"Kuharap kau senang disini," Ucap Lee ssaem dengan senyum manisnya. "Kelasku sedikit berisik." Imbunya dan di balas anggukan oleh murid barunya itu.
Pintu kayu itu terbuka membuat ruangan yang semula bising menjadi hening. Para murid langsung duduk manis ditempatnya melihat wali kelas mereka sudah datang yang diikuti dengan orang asing dibelakangnya.
Semua murid menatapnya penasaran, penasaran dengan siapa dirinya yang pindah dengan waktu mepet mendekati ujian kelulusan ini.
"Beri hormat!" suara lantang dari ketua kelas membuat yang lainnya berdiri, mengucapkan salam.
Masih dengan senyum yang mengembang, Lee ssaem menatap semua anak didiknya. "Hari ini kita mendapatkan teman baru." Lee ssaem menumpukkan kedua tanganya di atas tumpukan buku miliknya. "Meski waktu kita tinggal sedikit lagi disini, ibu harap kalian mau berteman baik dengannya. Apa lagi teman baru kita ini berasal dari Cina, jadi perkenalkan dirimu."
"A-annyeonghaseo naneun Luhan imnida."
Hum, terkesan awkward? Ya, itulah yang dirasakan Luhan yang tengah berdiri didepan kelas kikuk. Meski dia pernah merasakan hal yang sama tapi hal ini seakan hal yang baru untuknya. Tatapan mereka membuatnya agak takut. Begitu mata rusanya melihat senyuman dari Jongin yang duduk di dekat jendela membuat rasa gugup dan takutnya sedikit menghilang.
Tanpa ia sadari bibirnya tertarik keatas, membalas senyum Jongin tak kalah lebarnya.
"Apa ada pertanyaan? Kalau tidak ada buka buku kalian halaman 127 dan Luhan silahkan duduk di depan Juniel. Juniel angkat tanganmu."
.
.
.
"Kudengar ada anak baru ya dikelasmu?" Sehun buka mulut setelah kroket bekalnya sudah ia telan. Menyisakan rasa yang begitu ia sukai di indra pengecapnya.
Jongin mengangguk dengan menyeruput mi kare miliknya yang tinggal setengah. "Jadi itu yang namanya Luhan?"
Sekilas Jongin melirik Sehun dari mangkok berukuran sedang itu. Menghapus sisa kuah kare yang ada di sekitar mulutnya dengan tisu yang selalu ia bawa.
"Apa kau senang?" tanya Sehun lagi dan melahap kroket keempatnya kedalam mulut.
Sebuah senyum menghiasi wajah Jongin, "tentu saja! Menyenangkan sekali bisa terus bersama Luhan, apalagi aku tidak hanya bertemu dengannya di rumah."
"Bohong." Sehun menatap wajah Jongin yang berubah drastis. Kaget mendengar ucapan Sehun. "Kalau kau senang seharusnya kau mengajaknya kesini untuk makan bersama. Memangnya dia ada dimana?"
Jongin langsung menundukkan wajahnya, menatap lantai putih yang menjadi pijakannya. Suara ribut dikantin membuatnya sedikit tidak nyaman. "Dia sedang asik dengan teman-teman yang lain. Waktu aku ajak dia ke kantini dia tidak mau."
Sehun tersenyum tipis, menepuk punggung Jongin seakan itu bisa membuatnya semangat. "Jadi posisiku sudah tergantikan oleh Luhan?"
Pertanyaan itu membuat Jongin mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan temannya ini. "Maksudnya?"
Dengan malas Sehun memutar bola matanya, "jadi kau lebih suka dengan anak itu dari pada aku?" nada ucapan Sehun terdengar manja di telinga Jongin, tentu saja Sehun cemburu kalau Jongin lebih memilih Luhan dari padanya.
"Kau lupa dengan persahabatan kita?"
Jongin terkekeh pelan, "Jadi kau cemburu?"
Bibir tipis itu langsung maju, "Menurutmu?"
"Aku hanya ingin memperkenalkannya padamu, siapa tahu anggota kita bertambah? Ah kira-kira Chanyeol dan Baekhyun hyung sedang apa yang di sana? Aku ingin cepat-cepat lulus!"
Sehun memalingkan wajahnya, merasa malas menanggapi ucapan Jongin kalau sudah menyangkut kedua sunbae mereka yang sudah lulus itu.
"Ya, Sehun jangan cemberut gitu dong! Kau masih cemburu?"
Tanpa Jongin sadari Sehun tengah menahan senyum dan tawanya. Mengerjai Jongin itu asik— menurutnya. Mau itu membuat Jongin marah, cemberut bahkan menangis Sehun suka dengan ekspresi Jongin.
Ekspresi yag membuatnya ingin menjaganya, ingin membuatnya bahagia. Hanya itu. Meski ia belum begitu tau apa itu cinta, tapi Sehun yakin sekarang ini ia sedang jatuh cinta dengan Jongin. Makhluk imut yang ada di depannya ini sudah merebut hatinya, seolah Jongin mengisi bagian hatinya yang seharusnya ditempati oleh orang lain.
Sehun tau kalau menyukai sesama jenis itu salah, tapi apa perasaan ini salah? Saat Sehun jatuh cinta kepada Jongin hingga sampai saat ini ia masih memikirkan pertanyaan itu dan berusaha mencari tahu jawabannya.
"Sehun~ Sehun~, jangan marah. Aku traktir bubble tea deh nanti, tapi jangan buat tabunganku habis. Cukup satu." Rengekan Jongin membuatnya lepas kendali.
Suara tawanya membuat setengah dari pengunjung kantin menatapnya.
Sekarang giliran Jongin yang memajukan bibir tebalnya itu kesal. Apa yang lucu coba?
Dengan tangan yang memegangi perutnya, Sehun berusaha mengontrol tawanya. "Hah~ sudah lah, aku tidak butuh traktiranmu itu. Cukup melihatmu seperti ini aku sudah senang."
.
.
.
"Wah Luhan-ah gambaranmu bagus sekali!" puji salah satu dari mereka yang tengah berkerumun di meja Luhan.
Luhan tersenyum, merasa bangga gambarannya dipuji. "gomawo Sungyeol -ssi ." ucapnya formal.
"Hei jangan seformal itu. Bukannya kita teman?" kata itu terlontar dari teman barunya itu. Merasa seperti deja vu. "Kenapa?"
Luhan menggeleng, "mauku gambarkan lagi?" tawar Luhan yang langsung diangguki oleh semua orang. Teman-teman barunya ini begitu antusias dan membuat Luhan kewalahan untuk membalas satu per satu.
"Luhan, apakah di Cina itu menyenangkan seperti ini?" tanya Zelo sambil melihat Luhan yang tengah menggoreskan pensilnya.
Luhan mengangguk, "tentu saja, di sana juga tidak kalah menyenangkan disini. Hanya luas Korea dengan Cina lebih besar Cina. Kalau kau liburan kesana, seminggu tidak cukup kalau kau ingin berpergian."
"Apa kau pernah tinggal di negara lain?"
"Pernah, hanya dua bulan di Jepang. Setelah itu aku kembali lagi ke Cina."
"Wah, apa kau lihat bunga sakura disana?"
"Tidak, waktu itu sedang musim dingin. Jadi hanya warna putih yang aku lihat, nah selesai!"
.
.
.
Bel berbunyi nyaring, artinya pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Suara deretan kursi dan langkah kaki yang menggema perelahan mulai menghilang.
Dengan tas ransel yang ada di pundaknya, Jongin melangkah meninggalkan kelasnya dan pergi ke kelas Sehun yang ada di pojok koridor.
Kedua irisnya melihat sosok Sehun tengah menatap luar sekolah lewat jendela. Dengan langkah yang sengaja ia buat perlahan, kakinya berjalan semakin dekat dengan Sehun yang sedang bengong. Salah satu tanganya terangkat— hendak ingin mengkagetkan Sehun.
"Mobil appamu ada diluar, kau dijemput? Tumben sekali." Sehun merasakan kehadiran Jongin, ia menoleh kesamping.
Jongin mengerutkan dahinya, ikut melihat luar dari jendela. Dan benar saja, sebuah mobil hitam yang ia kenali terparkir di depan sekolahnya. Jongin merasa senang, hatinya terasa membuncah. Bahkan sebuah senyum lebar yang jarang Jongin tampilkan terlihat.
Namun senyum itu memudar, begitu melihat pintu mobil itu terbuka. Menampakkan sosok ayahnya yang sedang tersenyum ketika Luhan berlari manja ke arah ayahnya. Hatinya sedikit melocos karena selama dua tahun ini ia sudah tidak seperti itu kepada ayahnya. Selama dua tahun ini ia menahan diri untuk mengungkapkan keinginannya. Ia takut kejadian dua tahun yang lalu akan terulang.
Dimana ia dipukul oleh ayahnya sendiri karena ia meminta satu hal yang mungkin bisa dikabulkan kalau ayahnya bersedia meluangkan waktunya.
Pergi ke taman bermain.
Itu saja, Jongin hanya ingin pergi bersama keluarganya pergi ke taman bermain seperti teman lainnya. Tidak seperti dirinya yang hanya bisa berdiam diri di rumah saat liburan sekolah atau di ahkir pekan.
Semenjak itu Jongin tidak mau manja dan mengungkapkan keinginannya. Ia merasa takut ayahnya marah kembali karena keinginannya. Ibunya yang dulu selalu tersenyum sekarang tidak ada lagi di sampingnya. Seakan sosok itu menghilang entah kemana.
Jongin hanya ingin keluarganya seperti dulu, merasakan kehangatan sebuah keluarga yang pernah ia rasakan.
TBC
Hua~ apa ini, apa?
Entah kenapa pikiranku langsung hilang entah kemana!
Rasanya feelnya kurang (?) atau terlalu memaksa (?)
Aduh... aku nggak tau, minggu-minggu ini banyak tugas yang bikin aku males ngerjainnya
Terutama laptop kesayangan ini harus antri buat di service T_T
Maaf sekali kalau chap ini rasanya hancur banget #lari kepelukannya Kai dan telat ngepostnya...
Kayaknya aku memang nggak bisa nambahin 1k word deh, karena otak langsung ngeblank. Mungkin juga biar nggak bosen kali ya?
Terimakasih buat dukungannya ^^ dan juga koreksi tentang typo ==' #malu
Beneran aku nggak tau gimana nasib ini chap... semoga suka ye (maksa)
Big Thanks For You!
Deramy | estkai | Red Rose9488 | geash | Jiji Park | jonginisa | k1mut | Dhara432| | ariska | sexkai | GYUSATAN | Cute | kimm bii | sayakanoicinoe | | youngimongi | da94 | BabyWolf Jonginnie'Kim | lustkai | Kamong Jjong | jjong86 | Guest | Hun94Kai88 | Guest | melizwufan | dhantieee | tokisaki | oohsehun12 |
Dan terimakasih buat yang udah ngefav/follow ff ini ^^
Untuk chap depan aku usahain update cepet dan lebih baik #bow
Pai pai ~
