Chapter 3 : I Miss You
Suuugoooiiiiii .
Thanks for you that give me some suggestion and also supports. Jujur author tergolong masih sangat amatir dalam menulis cerita. karena kebanyak author hanya membayangkan saja. Dan baru kali ini agak nekat buat nulisin cerita imajinasiku tentang pasangan Sasuhina ini. Dan ternyata susah juga menggambarkan romansa Sasuhina dalam bentuk tulisan #hehehe :D.
Thanks a lot buat yang udh nge-review, nge-favorite and nge-followed this story.
Arigatou for support me *bow* ^_^
Just enjoy it!
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing SASUHINA
Genre :Romance
Rate : M (18+)
Warning : OOC, TYPOS, GaJe, Amatir, etc.
This is only "FanFiction", if you don't like, it's better you don't read.
Only for entertaining!
Sejauh yang di ingatnya, Uzumaki Naruto adalah satu-satunya sahabat laki-laki yang Hinata miliki sejak ia masuk ke SMA. Berada di kelas yang sama dan tempat duduk yang bersebelahan membuat mereka dekat secara perlahan.
Hinata yang pendiam terlihat sangat menikmati pertemanannya dengan Naruto yang periang dan selalu menghiburnya. Hinata memang mengagumi sosok itu diam-diam. Tapi siapa sangka bayang-bayang Sasuke tak bisa di gantikan oleh siapa pun dan begitu melekat.
Awalnya memang tak ada yang berubah dari hubungan Sasuke dan Hinata. Keduanya masih saling bertukar cerita walaupun hanya via telefon. Sasuke yang notabene sangat protektif terhadap Hinata selalu rutin menanyakan kegiatan sang gadis seharian ini. Mereka memang terpisah jarak, namun tanpa disadari perasaan saling mengisi satu sama lain semakin terasa.
Hingga saat kebiasaan itu mulai perlahan berkurang seiring dengan kesibukan keduannya. Setiap malam Hinata mencoba menghubungi Sasuke namun sang pemuda selalu dalam keadaan sibuk. Hinata tahu bahwa Sasuke akan menemaninya sepanjang malam. Tapi ia terlalu perasa dan tak tega jika Sasuke akan sakit karena keegoisannya ini.
Sampai akhirnya keduanya benar-benar tak pernah berhubungan lagi, saat itulah takdir perlahan merubah jalan keduanya.
Flash back: on
Tokyo, 12 Desember 2011
09.00 A.M
"Peep... Pip.. Peep.. Pip.. Peep..."
"Cklek"
Pagi ini tak biasanya putra Uchiha ini bangun kesiangan. Terlebih sekarang ia telah berada di Tokyo. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mengunjungi kota ini. Susah payah akhirnya ia mendapat libur musim dingin lebih cepat 1 minggu.
Tak banyak yang tahu jika bungsu keluarga Uchiha sedang menempuh High School-nya di negera yang di juluki "Big Apple" itu. Jika saat itu baka anikinya tak membuat onar dengan tiba-tiba memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan mungkin ia tak perlu jauh-jauh bersekolah disana.
Ayah bilang ini adalah tradisi keluarga. Setiap anak laki-laki dari keluarga Uchiha akan di kirim untuk melanjutkan studi di negeri tersebut.
2 tahun setelah kepergiannya itu, ia kini merindukan Hinata. Entah telah ratusan kali ia mencoba untuk kembali ke Jepang tapi penjagaan yang teramat ketat membuatnya tak pernah bisa lolos. Hingga ia dapat menduduki posisi pertama di ujian akhir semester ini. Tanpa pikir panjang, Sasuke segera terbang ke Tokyo.
Dengan segera dihubunginya kediaman sang gadis berkali-kali namun hasilnya sangat mengecewakan. Nomor itu telah dipakai oleh keluarga lain. Mereka bilang pemilik sebelumnya telah lama pindah namun tak menyebutkan lebih jelasnya kemana.
Kini Sasuke sedikit kewalahan mencari sang gadis. Seharian penuh ia telah mencoba mencari kediaman baru Hinata. Bodohnya Sasuke karena tak membawa Kakashi bersamanya. Sang asisten baru akan sampai Tokyo keesokan harinya karena ia harus mengurus beberapa berkas milik Sasuke. Ia seorang diri, pangeran Uchiha berjalan menyusuri tiap sudut Tokyo untuk gadisnya, Hinata. Jadi jangan salahkan Sasuke yang mungkin berdiri saja sekarang ia belum mampu.
Setelah mematikan alarm dari HPnya, tak lama berselang benda berlayar sentuh itu berdering nyaring memenuhi apartement bergaya minimalis sewaannya. Tergangu dengan suara nyaring itu, Sasuke berusaha meraih sumber suara dan dengan terpaksa mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hm", jawabnya singkat tanpa gairah.
"Benarkah kau sekarang di Tokyo?", tanya seorang gadis di ujung telepon.
"Nani?"ucapnya malas. Sasuke tahu siapa pemilik suara yang menghebohkan ini. Temannya saat masih di bangku SMP dulu. Gadis yang merepotkan menurutnya.
"Kyaaaa, akhirnya kau mengakui perasaanmu. Kau datang kesini karena aku kan?"
"Diamlah kau Karin",dengan kesal ia berusaha menjauhkan benda berlayar itu dan ingin rasanya mematikan telepon itu."Benar-benar menyebalkan", batin Sasuke.
Namun di saat Sasuke akan menekan tombolnya, tiba-tib saja gadis bersurai merah itu kembali bersuara.
"Aku tahu.. aku.. tahu dimana gadis itu sekarang. Hyuuga itu", ujarnya pelan.
Seketika mata Sasuke membulat tanda tak percaya. Benarkah yang Karin katakan barusan? Sasuke merasa dadanya dipenuhi banyak kupu-kupu yang menggelitik hatinya. Rasa penasaran menjalar di seluruh otak dan tubuhnya. Ingin rasanya menanyakan secara detail tentang informasi tersebut, namun ajaibnya Sasuke bisa mengatakannya dalam keadaan tenang.
"Dimana kau melihatnya?", tanya Sasuke tegas.
"Ehm.. sepertinya tak jauh dari sekolahku", jawab Karin sedikit ragu.
Mendengar penjelasan Karin yang terdengar ragu itu membuat Sasuke melanjutkan pertanyaanya.
"Bagaimana kau bisa tahu itu dia?", tanyanya lagi.
"Aku pernah melihat fotonya kan waktu SMP dulu"
"Apa kau satu sekolah dengannya?"
"Kurasa tidak, tapi mungkin aku pernah melihatnya di daerah itu sepulang sekolah", tambahnya untuk meyakinkan sang pemuda.
"Bisakah kau mengantarkanku padanya"
"Ehm, baiklah. Kapan?"
"Secepatnya, atau sebaiknya hari ini"
"Baiklah, ku tunggu sepulang sekola, aku akan mengirimkan alamat lengkapnya nanti"
"Hm"
Seketika sambungan telepon itu terputus begitu saja. Karin masih belum percaya ia mampu mengatakan itu. Jujur ia senang sekali bisa bertemu lagi dengan Sasuke, namun dalam hatinya ia sadar bahwa mempermainkan perasaan orang tidaklah baik dan apalagi ini menyangkut seseorang yang dicintai.
"Gomen ne Sasuke-kun, aku harus berbohong padamu. Ini semua karena aku sangat mencintaimu.", ucapnya penuh sesal sembari meninggalkan atap sekolahnya dan segera menuju kelas.
Namun disisi lain Sasuke tiba-tiba merasa sangat senang. Senyumnya terus mengembang ketika mengingat bahwa tak lama lagi ia akan bertemu dengan cintanya.
Perasaan hangat juga mulai menyelimuti hatinya kini. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya karena saking senangnya ia saat ini. Rasa lelah yang dirasakannya tadi entah mengapa tiba-tiba menghilang seketika. Sasuke yang masih dalam posisi tidur itu tiba-tiba menutupi wajah merahnya dengan bantal.
Tanpa ia sadari, perlahan ia mulai membayangkan sosok gadis yang ia cintai itu. Rambutnya, kulitnya, wajahnya, suaranya, baunya, dan masih banyak lagi hal yang mungkin sekarang telah berubah dari sosok gadis yang dicintainya itu. Dulu mungkin memandangi wajah sang gadis sudah cukup baginya namun kini ia tak bisa membayangkan perkembangan apa yang akan membuatnya terkejut nanti.
"I miss you, my princess", gumamnya riang.
16.00 P.M
Hari itu tiba-tiba saja langit berubah kelam, pertanda akan segera turun hujan. Namun pemuda tampan itu baru saja sampai di tempat yang telah di pilih temannya untuk menemukan cintanya. Terlihat Karin tengah duduk di halte bis depan Tokyo High School. Ya setidaknya begitulah yang tertulis kokoh pada pagar sekolah megah itu. Dari kejauhan Sasuke bisa melihat gadis itu tersenyum lebar padanya sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi dan melambaikannya kearah Sasuke sekarang. Tak butuh lama setelah ia membayar ongkos taxi, Sasuke perlahan melangkah menuju temannya itu.
"Setidaknya aku harus bersabar sebelum Kakashi dating dan mengurus semuanya untukku" yakinnya dalam hati.
Jarak keduanya kini cukup dekat. Namun ia sungguh tak menduga reaksi temannya itu akan berlebihan seperti ini.
"Apa harus seheboh itu", pikir Sasuke.
Dan secepat kilat Karin sekarang tengah mengandeng manja lengan kiri Sasuke.
"Apa kau sudah menemukannya?", tanya Sasuke tegas and to the point. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Hinata dan meminta maaf secepatnya.
"Aku.. aku sudah berdiri disini setengah jam yang lalu, tapi aku tak melihatnya", ucap Karin dengan nada yang mantap untuk meyakinkan Sasuke.
"Apa kau yakin dia ada di sekolah ini?" tanya Sasuke penuh selidik. Ia yakin bila temannya ini tak bicara jujur. Tak susah bagi Sasuke mengetahui bahwa gadis ini berbohong atau tidak.
"Aku yakin", padahal Karin hanya memilih asal sekolah yang di kiranya tak mungkin di kunjungi gadis Hyuuga yang terlihat kuno di mata Karin itu dan tak mungkin ia bisa ke sekolah elit seperti ini.
"Biar aku cari sendiri"
"Sebaiknya jangan, aku sudah mengunjungi sekolah itu tadi dan tidak ada", tahan Karin.
"Benarkah? Biarkan aku mengeceknya juga"
Namun sebelum Sasuke sempat menuju sekolah itu, tiba-tiba Karin menarik lengannya dan memeluk erat sang pemuda.
"Apa kau sangat mencintainya?", tanya Karin memelas.
"Lepaskan"
"Bagaimana denganku?"
"Lepaskan kataku", hertak Sasuke.
Dengan susah payah akhirnya ia bisa terlepas dari pelukan gadis aneh itu.
"Hentikan, aku tak ingin menyakiti teman sendiri terlebih perempuan", ujar Sasuke tegas.
Namun itu semakin membuat Karin berani melakukan lebih. Sekali lagi ditariknya lengan pemuda itu dan ciuman itu tiba-tiba saja terjadi. Dengan kasar akhirnya Sasuke melepaskan ciuman itu. Karena tak kuat dengan sikap aneh gadis bersurai merah dihadapannya, Sasuke memilih untuk pergi meninggalkan gadis itu dan berlari menyebrangi jalan dan mencari Hinata di sekolah tersebut.
Karin yang tahu bahwa tak semudah itu meruntuhkan niat Sasuke hanya bisa diam dan memandangi pemuda itu meninggalkannya. Dalam tangisnya ia puas telah mendapatkan ciuman dari laki-laki yang ia cintai. Senyumnya mengembang tipis saat mengingat akan reaksi yang terpancar dari gadis Hyuuga tadi. Gadis cantik beriris lavender itu terlihat sangat terkejut melihat adegan yang Karin ciptakan, dan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karin dan Sasuke.
"Maafkan aku Sasuke-kun"
Perlahan Karin meninggalkan tempatnya berdiri sekarang sembari mengusap genangan air mata di kedua pipinya.
TBC
Konbanwa all :* *bow*
I'm back with third chapter right now.
Sebelumnya author pengen ngucapain big thanks buat yang sudah kasih saran buat cara penulisan sudut pandang di chapter sebelumnya. Gomen ya, author sedikit nglantur kayaknya waktu itu #hehehe :P # _ya...
Insya ALLAH, kedepannya author akan lebih berhati-hati lagi.
for next chapter sabar ya. masih on going :D
