Bertahap

.

.

All Member of Seventeen

.

.

Friendship

K+

Ini adalah Official Couple Seventeen. Konflik pertemanan dan percintaan yang mainstream. Bagi para pembaca bisa menyarankan satu alur yang bila menarik aku akan tulis ceritanya. Nanti akan aku tentukan umurnya.

Warn:

Chapter ini akan sangat panjang

.

Seventeen's own their Parents and Pledis Entertaiment and also Carat(s)

.

.

Chapter 3:

Kelulusan, berpisah dan kumpul lagi.

.

.

Hari ini adalah acara kelulusan kelas enam SD Matahari Terbit. Kepala sekolah sudah mengumumkan kalau seratus persen anak muridnya Lulus. Tentu saja disambut teriakan senang dan tepuk tangan meriah.

Saat ini adalah pengumuman anak lulusan terbaik. Sudah ada kepala sekolah, wakil dan kesiswaan disana. Mari kita dengar, siapa lulusan terbaik Sd Matahari Terbit.

"Oh! Ini dari kelas yang siswanya paling awet! Dari kelas satu sampai enam selalu sama-sama!" Kepala Sekolah memberi clue dengan semangat.

"Aku akan memberikan clue. Eum, dia ini anaknya suka merasa kalau dia ini yang paling benar. Bahkan sering melawan guru kalau dia ini merasa benar. Dia ini diktator kecil menurutku." Reaksinya berbeda-beda, ada yang mengangguk-angguk mengerti, ada yang mengerutkan kening karena tidak tau.

"Lulusan terbaik dari SD Matahari Terbit adalaaah...!"

Ada beberapa siswa yang duduk di paling belakang yang membuat sound effect sok-sok menegangkan.

"Lee Jihoon dari Kelas 6-2! Selamat untuk Lee Jihoon! Ayo, nak Jihoon. Silahkan kedepan."

Yang dipanggil masih tetap menunjukkan wajah datar walaupun teman-temannya sudah senang bukan main. Jihoon berdiri dan berjalan kedepan podium.

Jihoon menerima penghargaan. Dia tersenyum tipis ketika tau harus memberikan beberapa patah kata. Jihoon maju dan menggenggam mic, jujur saja berada didepan banyak orang seperti ini membuat dia gugup.

Jihoon menatap dua belas temannya yang memberikan Jihoon gesture semangat. Jihoon tersenyum.

"Selamat pagi semuanya. Ini Lee Jihoon dari kelas 6-2." Jihoon memulai.

"Jujur saja, aku bingung harus bicara apa. Yang jelas, terimakasih untuk Sekolah yang sudah memberikan penghargaan ini. Terimakasih untuk kedua orangtuaku, walaupun mereka tidak datang. Tapi terimakasih untuk segalanya. Terimakasih untuk teman-teman yang selalu ada untukku. Kalian sungguh luar biasa, masih mau berteman dengan orang sepertiku." Jihoon menunjukkn satu jempolnya tanda dia benar-benar salute dengan temannya itu.

"Dan terakhir untuk Kalian yang berada di kelas 1-5, belajarlah dengan giat! Jangan suka membuat onar dan membuat guru sakit kepala karena ulah kalian!"

Rata-rata yang mendengar tertawa karena ucapan terakhir Jihoon. Jihoon menghela nafas. Sedikit heran ketika dia tidak melihat keduabelas temannya.

"Hm, itu saja dari saya. Terimakasih." Jihoon membungkuk dan membalikkan tubuhnya.

Tapi Jihoon malah menemukan kedua belas temannya yang sedang tersenyum bangga. Jihoon menuntup mulutnya, dia hampir saja menangis karena melihat mereka.

Seungkwan dan Wonwoo mendekat dan mendekap Jihoon diikuti yang lainnya. "Selamat, Jihoon hyung! Hyung, yang terbaik!" Kata Seungkwan, diangguki Jihoon.

Jeonghan mengelus kepala Jihoon. "Hyung bangga!" Katanya. Jihoon tertawa. "Terimakasih, hyung."

Mereka bertiga belas membuat lingkaran dengan saling merangkul. Kemudian berputar dan berteriak sesuka hati.

"YEAH LULUSS!" Soonyoung.

"WOAAH! LULUS KITA LULUS!" Jun.

Kepala sekolah dan yang lain bertepuk tangan, terharu juga melihatnya.

Merasa cukup, akhirnya mereka berhenti dan turun dari panggung. Setelah itu acara dilanjutkan. Sementara Jihoon dan yang lain pergi dari sana.

Selamat, Jihoon. Kau yang terbaik.

.

.

"Jadi kita berpisah, ya?"

Pertanyaan dengan nada kecewa itu keluar dari mulut Chan. Yang termuda dari mereka semua. Semua langsung menatap Chan, tidak ingin menjawab.

"Ngga satu sekolah lagi?" Kali ini, Seungkwan. Tidak ada yang menjawab.

Ini sudah satu minggu setelah acara kelulusan sekolah. Mereka berkumpul di rumah Soonyoung untuk membahas akan melanjutkan sekolah dimana. Mereka berada di kamar Soonyoung yang untungnya muat untuk ditempati bertiga belas.

"Nggak satu sekolah? Pasti bakal kangen, deh." Ujar Jeonghan. Disetujui yang lain.

Mereka tadi sudah bicara soal ingin sekolah dimana dan kesimpulannya, ada yang punya rencana satu sekolah, dan kebanyakan sekolah yang mereka ingin, berbeda dari yang lain. Hanya beberapa saja yang bakal satu sekolah.

"Kenapa nggak satu sekolah lagi, sih? Pasti beda deh kalau bukan kalian." Seokmin berucap gusar.

"Kita kan punya impian sekolah masing-masing, Seokmin-ah." Balas Seungcheol.

"Kita masih bisa bertemu, kan? Kenapa kalian berlebihan sekali?" Jihoon.

"Iya, tau, Ji. Kita bisa aja bertemu, tapi tidak akan sesering seperti ini. Kata umma, semakin tinggi tingkatannya semakin susah pelajarannya dan banyak yang harus dikerjakan, waktu berkumpul semakin sedikit." Soonyoung menjelaskan yang dia tau. Jihoon tidak menjawab lagi.

Tidak ada yang berbicara sampai Seungkwan bertanya pada Soonyoung, Jihoon dan Wonwoo. "Jihoon hyung? Nggak satu sekolah dengan Soonyoung hyung dan Wonwoo hyung?"

Mereka bertiga yang duduk bersebelahan langsung saling tatap kemudian dengan kompak menunduk. "Aku masih satu sekolah dengan Wonwoo. Tapi tidak dengan Jihoon." Jawab Soonyoung.

"Jihoon yang berpisah sendiri, kan?" Tanya Seungcheol. Yang ditanya mengangguk.

Jihoon memang sekolahnya berbeda sendiri. Sekolah terbaik sekorea yang menurut Jihoon bakal ketat sekali peraturannya. Jika Wonwoo dan Soonyoung satu sekolah. Yang lain ada juga, Seungcheol, Jeonghan, dan Jun satu sekolah. Jisoo, Seungkwan, Seokmin, Mingyu dan Chan satu sekolah. Minghao dan Hansol satu sekolah.

"Jihoon, kenapa tidak meminta sekolah di tempat yang lain?" Tanya Jisoo.

"Tidak, hyung. Umma sudah mendaftarkan aku disana." Jawab Jihoon. Yang lain mengangguk mengerti.

Jihoon sebenarnya ingin sekali bisa satu sekolah dengan salah satu dari mereka. Tapi tidak bisa, Ummanya sudah terlebih dulu mendaftarkan Jihoon tanpa meminta pendapat Jihoon.

Jihoon pasti bakal rindu dengan mereka. Apalagi Soonyoung dan Wonwoo. Mengetahui pisah dari mereka berdua, Jihoon rasanya ingin menangis. Teman paling dekat, teman sebangku, teman yang paling mengerti Jihoon bagaimana. Tiba-tiba harus berpisah karena tidak satu sekolah.

Hening.

"Yasudah, kita nikmati aja yang sekarang sebelum kita berpisah. Pokoknya jangan lupa dengan yang lain. Kita harus tetap sama-sama, okay?" Ujar Seungcheol memecah keheningan diantara mereka.

"Iya, pisah sekolah bukan kendala bagi kita. Kita udah enam tahun bersama, loh." Lanjut Jisoo.

Hansol juga merasa sedih dengan dia yang berpisah dari semuanya. Apalagi Seungkwan. Walaupun ada Minghao nanti, Hansol berpikir pasti mereka berdua tidak akan sekelas.

'Ini akan mengerikan.' Kata Hansol dalam hati.

.

.

Seungkwan berjalan dengan matanya yang memandangi sekeliling dengan kaku. Hari ini adalah hari pertama memulai harinya tanpa teman-temannya yang selalu bersamanya. Seungkwan bisa melewati masa orientasi siswa dengan berhasil, itu juga karena dia sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperintah kan. Jadi dia bisa mengalihkan pikirannya dari segala ketakutannya tanpa teman-temannya.

Seungkwan masuk ke kelasnya. Ketika masuk, sudah banyak murid yang datang. Mereka menatap Seungkwan dengan tatapan masing-masing yang Seungkwan tidak ingin tau bagaimana.

Canggung dan tidak tau harus apa selain duduk di kursi yang sudah Seungkwan tetapkan menjadi kursinya selama satu tahun kedepan.

Seungkwan duduk dikursi paling belakang dekat jendela. 'Tempat duduk kesukaannya Jihoon hyung dan Wonwoo hyung.' Seungkwan mengingat kedua hyungnya yang paling pendiam dan pintar itu.

Seungkwan melihat anak sekelasnya, banyak yang sudah bercengkrama. Dan ada juga beberapa orang yang Seungkwan rasa familiar anaknya. Seungkwan mengernyit melihat seseorang seperti menghampirinya, dan benar, Orang itu sekarang berada disebelah meja Seungkwan.

"Aku Jaehyun. Namamu siapa?" Seungkwan menatap heran orang yang bernama Jaehyun itu. Dengan kaku, Seungkwan mengulurkan tangan dan menjabat tangan Jaehyun.

"B-Boo Seungkwan." Seungkwan menyebutkan namanya. Jaehyun tersenyum dan mereka berdua melepaskan tangan masing-masing.

"Salam kenal, Seungkwan. Kita harus berteman, orang-orang disini menyebalkan. Mereka tidak menanggapi aku yang ingin akrab. Untung kau menanggapi, aku tidak tau harus berteman dengan siapa nanti." Seungkwan tersenyum dan mengangguk mengerti.

"Duduk aja, Jaehyun. Kita akan jadi teman sebangku selama satu tahun kedepan." Suruh Seungkwan. Jaehyun menatapnya tidak percaya. Dia langsung duduk disebelah Seungkwan dengan semangat.

"Ah! Kau baik sekali, Seungkwanie. Baik, kita akan jadi teman sebangku satu tahun kedepan!"

Seungkwan hanya tertawa menanggapinya. Jaehyun mengingatkan Seungkwan pada Minghao hyungnya dan Chan. Mereka kan polos dan semangat sekali.

Seungkwan bersyukur, dia sudah mendapatkan teman. Dia tidak sendiri. Ada Jaehyun yang menemaninya.

Seungkwan berpikir, bagaimana dengan yang lain? Dia belum bertemu dengan Jisoo, Seokmin, Chan dan Mingyu yang satu sekolah. Saat masa orientasi juga Seungkwan tidak menemukan mereka, ingin mencari tapi dia tidak tau harus bagaimana.

.

.

Minghao menatap kedepan kelas dengan pandangan tidak tertarik. Situasi yang tidak diharapkan. Minghao benci dia yang tanpa teman-temannya. Masa Minghao ingin berkenalan, tapi dia di acuhkan? Apa-apaan. dan juga Minghao belum menemukan seorang teman sekalipun.

Tidak bertemu dengan Hansol. Apalagi sekelas. Minghao bisa gila, setidaknya dia ingin bertemu dengan Hansol. Biar dia tenang.

Minghao duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Minghao mendapatkan kursi ini dengan susah payah. Dia harus beradu argumen dengan anak perempuan di kelas ini. Tapi Minghao bersikeras kalau dia ingin duduk dikursi ini. Minghao bahkan melakukan ancaman agar anak perempuan itu memberikan kursinya.

Dan, pemenangnya adalah Minghao. Minghao mendapatkan kursi ini. Tempat duduk favoritenya Wonwoo hyung dan Jihoon hyung. Mereka berdua dari dulu suka sekali duduk di kursi belakang dekat jendela. Bahkan bisa jadi semua temannya yang lain menyukai kursi paling belakang dekat jendela. Mereka bisa jadi mendadak introvert dan menyukai kursi paling belakang ini.

"Minghao hyung!" Panggil seseorang yang Minghao kenal sekali suaranya. Minghao menoleh kearah jendela dan menemukan Hansol disana. Minghao menatap Hansol berbinar.

"Hansol-ah!"

"Hyung! Astaga akhirnya aku menemukanmu!" Hansol terkikik ketika dipeluk Minghao.

"Yatuhan! Rasanya aku mau mati, Hansol. Ini benar-benar mengerikan!" Kata Minghao. Hansol mengangguk setuju. "Aku benci ini, hyung. Rasanya aku ingin pindah sekolah!"

Setelah itu keduanya terdiam. "Hyung? Kenapa kau duduk dibelakang? Dulu kau selalu duduk ditengah-tengah." Tunjuk Hansol pada tempat duduk Minghao. "Tidak mau. Aku suka disini. Aku jadi tau kenapa dulu Jihoon hyung dan Wonwoo hyung suka sekali duduk di paling belakang." Hansol mengangguk-angguk semangat.

"Aku juga seperti mu! Duduk di paling belakang, hehe." Minghao langsung mengajak Hansol high-five.

"Aku senang menemukanmu, hyung. Aku tidak punya teman dikelas. Semoga aja nanti aku dapat satu. Kau juga harus mencari teman hyung. Aku harus pergi, sepertinya sudah mau bel. Dah, hyung! Oiya, aku kelas 1-3 ya hyung! Byee!" Hansol pamit dan pergi. Minghao masih melihat Hansol yang berlari menuju kelasnya.

Minghao kembali duduk ditempatnya. Dia menatap sekeliling dan tersenyum kaku ketika semua anak kelasnya sedang menatapnya.

Minghao menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Minghao benci ini!

.

.

Seungcheol menatap orang dihadapannya dengan senyum manis. Orang dihadapannya ini mengajaknya berkenalan. "Choi Seungcheol, kau?" Seungcheol menyebutkan namanya.

"Kim Taehyung. Hey, dude. Salam kenal!" Dengan kadar semangat yang tinggi, Taehyung menepuk bahu Seungcheol membuat yang ditepuk bahunya tertawa.

Dalam hati dia senang karena sudah mendapatkan teman. Ada banyak tadi yang mengajaknya berkenalan. Tapi sepertinya yang membuatnya nyaman untuk menjadikannya teman hanya Kim Taehyung ini. Taehyung yang mengingatkannya pada trio BooSoonSeok.

"Kau mirip dengan temanku, dude." Kata Seungcheol mulai mencoba sok asik. Dia mencoba membuat dirinya sendiri memulai dengan nyaman.

"Apa temanmu tampan? Siapa?" Taehyung juga membalas dengan sok asik.

"Sebenarnya ada tiga. Mereka biasa aja sih. Aku lebih tampan!" Ujar Seungcheol dengan percaya diri, hal itu membuat Taehyung tertawa.

"Ya! Percaya diri sekali! Kau duduk dimana? Paling belakang aja!"

Taehyung merangkul Seungcheol dan mengajaknya duduk ditempat paling belakang. Mereka berdua memutuskan sebangku.

Seungcheol berhasil melewati hari pertama dengan baik dan juga mendapatkan teman.

.

.

Soonyoung tertawa mendengar candaan yang dilontarkan temannya, membuat matanya menyipit lucu. Soonyoung sedang berada dikantin sekolahnya. Soonyoung juga sudah mendapatkan teman, teman yang asik.

Baginya ini tidak buruk. Dia yakin bisa melewatinya. Orang-orang disini menerimanya dengan baik dan dia juga menerima mereka dengan baik. Soonyoung paling dekat dengan Sehun dan Jimin. Dari saat orientasi siswa, mereka selalu bertiga kemana-mana. Dan untungnya Soonyoung sekelas dengan mereka.

"Itu teman-mu kan, Soonyoung?" Soonyoung menoleh kearah Sehun yang sedang melihat kearah depan. Soonyoung mengikuti arah pandang Sehun dan menemukan Jeon Wonwoo sedang berjalan sambil membaca buku. Sesekali dia melihat kearah depan takut menabrak orang lain.

Soonyoung tersenyum sumringah. "Jeon Wonwoo!" Soonyoung memanggilnya. Wonwoo sepertinya mendengar dan menoleh kesemua arah untuk menemukan siapa yang memanggilnya.

"Jeon! Disinii!"

Sehun, Jimin dan dua temannya yang lain terkikik melihat Soonyoung. Wonwoo yang sepertinya sudah menemukan Soonyoung, Wonwoo menghampiri meja Soonyoung dengan ekspresi wajahnya yang antusias.

"Soonyoung-ah!" Wonwoo menghampiri Soonyoung dan mereka berdua berpelukan sebentar.

"Ayo duduk, Wonwoo-ssi." Ajak Jimin ramah. Wonwoo mengangguk dan dia duduk dikursi yang tersisa, itu ada ditengah-tengah Jimin dan Sehun. Dia persis dihadapan Soonyoung.

"Wonwoo! Disebelah kananmu itu Sehun dan sebelahnya Jimin. Mereka teman sekelasku!" Soonyoung mengenalkan Jimin dan Sehun, kedua temannya yang lain memutuskan pergi ke kelas duluan.

"Halo, Wonwoo-ssi. Senang bertemu denganmu. Soonyoung sudah banyak cerita tentangmu." Sehun. Wonwoo mengangguk dan tersenyum.

"Senang bertemu denganmu juga, Sehun-ssi. Ah, begitukah? Apa dia menceritakan hal yang baik?" Pertanyaan Wonwoo disambut tawa dari Sehun dan Jimin.

"Tidak, dia menceritakan aibmu pada kami." Dijawab Jimin dengan candaan. Soonyoung merengut. "Enak aja! Aku menceritakan yang memang perlu diceritakan. Kalian berlebihan!" Dengan kesal, dia berteriak. Ini namanya fitnah tau!

"Kau tidak tau yang namanya bercanda, Soonyoung-ah." Ejek Sehun. Soonyoung mehrong saja.

"Ah~ dia berpisah dengan Jihoon-nya. Jadi begitu, tuh." Ejek Wonwoo. Saat ditatap tajam oleh Soonyoung, Wonwoo berpura-pura tidak tau apa-apa.

Jimin dan Sehun mengernyit, setelahnya mereka mengejek Soonyoung abis-abisan sampai istirahat berakhir. Soonyoung mengutuk Wonwoo sepanjang perjalanan menuju kelasnya.

.

.

Kelas Dua

.

Tiga belas orang itu sudah cukup melewati masa yang panjang tanpa kehadiran teman-teman yang biasanya selalu disisi.

Perkara satu sekolah, tidak lagi berlaku. Sibuk dengan tugas dan kegiatan ekstrakulikuler adalah alasan utama. Ada juga yang ikut organisasi kesiswaan, dan itu sibuknya minta ampun. Sudah kelas dua SMP jadi makin kesini makin sibuk.

Jadi kesempatan berkumpul dengan komplit memang hampir tidak ada. Hari terakhir libur sebelum masuk SMP, itu adalah pertemuan terakhir mereka bertiga belas. Setelah itu tidak lagi, mungkin untuk satu sampai lima orang, bisa sering bertemu. Seperti Seungkwan dan Hansol, atau Mingyu, Soonyoung dan Wonwoo. Seungcheol, Jeonghan dan Jisoo. Chan, Jun dan Minghao.

Yang paling susah dihubungi, kandidat pertama dan terakhir adalah: Lee Jihoon.

Wonwoo kehilangan kontaknya. Ia dan Soonyoung pernah mendatangi rumahnya, dan apa yang dia dapat? Lee Jihoon pindah rumah. Mereka berdua mendapat informasi, Jihoon masih di Seoul. Tidak keluar kota maupun keluar negeri.

Mereka berdua belas rindu dengan Jihoon, yang paling mungil diantara mereka. Duh, Jihoon.

Teman baru juga tidak senyaman mereka berdua belas. Ada saja konflik yang menguras emosi, membuat pening dan lain-lain. Tidak awet, dan itu menyebalkan bagi mereka semua. Eh tidak deng, ada juga salah satu dari mereka yang sekarang lebih memilih bersama teman baru dibanding berkumpul bersama salah satu dari mereka. Lupakan. Soonyoung dan Seungkwan hampir saja membenci 'orang itu' karena mengetahui 'pengkhianatan' yang dilakukan salah satu dari mereka. Tapi mereka berdua di ceramahi oleh Jisoo dan tidak jadi membenci, hanya kesal, kecewa dan marah. Semuanya juga sama, tentu saja kecuali Jihoon dan orang itu.

Menurut laporan Chan dan Mingyu, si 'orang itu' tidak pernah mau diajak kumpul bersama lagi. Maksudnya hanya bersama yang satu sekolah dengan mereka. Jisoo, Seungkwan, Chan, Mingyu dan orang itu. Alasannya karena ada yang harus dilakukan.

"Pengkhianat!" Kata Seungkwan dan Soonyoung begitu Chan dan Mingyu selesai bercerita waktu itu.

Waktu itu, Soonyoung pernah bercerita pada Seungkwan dan Mingyu (Mereka bertiga bertemu di hari Minggu di akhir-akhir bulan November tahun lalu) Soonyoung sering melihat kalau ada satu kelompok disekolah yang membuatnya iri. Ini betulan Soonyoung rasakan dan tidak ada unsur rekayasa(?). Ada sepuluh orang, mereka kemana-mana selalu bersama seperti mereka bertigabelas dulu. Itu yang membuat Soonyoung iri.

.

"Kangen, Jihoon." Kata Soonyoung sendu. Hari ini dia punya kesempatan bertemu dengan Jeonghan, Seungcheol dan Chan. Mereka berkumpul di dekat Sungai Han. Dan Soonyoung sedang dalam keadaan maksimal ingin ketemu Jihoon.

"Kami juga kangen dengan dia." Balas Seungcheol. Seungcheol yang tadinya berdiri, ikut mendudukan diri disebelah Soonyoung. Memandang Sungai Han yang Indah.

"Jihoonie sedang apa ya? Kangen banget." Soonyoung menunduk.

Seungcheol mengelus punggung Soonyoung. "Semoga kita bisa bertemu dengan dia, ya." Doa Seungcheol. Soonyoung menatap kearah Seungcheol, lalu mengangguk.

"Jeonghan hyung! Itu Seungkwan hyung! Lihat! Seungkwan hyung!" Teriakan Chan membuat fokus mereka berdua teralih. Seungcheol memutuskan berdiri dan melihat apa yang terjadi.

Dan senyum mengembang di bibir Seungcheol. Seungcheol melihat ada Seungkwan, Hansol, Mingyu, Wonwoo, Jun dan Minghao. Begitu sudah berhadapan, Chan langsung memeluk Seungkwan dan yang lainnya bergantian.

"Yaampuuunn! Nggak nyangka ketemu disini! Aduh, kangeeen!" Heboh Seungkwan.

"Soonyoung-ah! Sini! Lihat! Ada Wonwoo!" Panggil Jeonghan membuat mereka semua teralih menatap Soonyoung yang sedaritadi diam hanya menatap mereka.

"Dia sedang over maksimal kangen Jihoon." Bisik Seungcheol membuat yang baru datang mengerti.

Soonyoung berjalan menghampiri mereka dan memeluk semua yang baru datang. Ketika memeluk Wonwoo, Soonyoung memeluknya lama sekali, dan Wonwoo mengerti.

"Kangen Jihoon, Wonwoo. Kangen." Sedih sekali nadanya, Wonwoo sampai tidak tega mendengarnya.

Soonyoung tersenyum. "Senang bertemu dengan kalian. Udah lama ya." Dia merangkul Seungkwan yang ada didekatnya.

"Aku sudah mengirim pesan pada Jisoo hyung untuk ke Sungai Han. Untung dia bisa dan sedang otw kesini." Hansol melapor.

Setelah itu mereka bersepuluh memutuskan untuk mencari tempat untuk bisa bersantai. Dan mereka menemukannya. Langsung saja mereka mencari tempat sekalian memesan.

Selang sepuluh menit, Jisoo datang. Dia sudah diberi tau oleh Hansol untuk pergi ketempat mereka berkumpul.

ketika datang wajah Jisoo datar, dan ternyata setelah dilihat dibelakang Jisoo ada seseorang yang rasanya ingin mereka semua maki-maki. Itu adalah Seokmin. Seokmin si pengkhianat yang lebih memilih teman baru dibanding mereka yang sudah enam tahun bersama.

"Mau apa kesini?" Ketus Seungkwan. Seokmin berdiri di sebelah meja mereka.

"Aku ingin meminta maaf.."

"Untuk apa? Percuma! Kumpul aja dengan teman baru mu itu dan lupakan kami! Tidak penting!" Kali ini Seungcheol.

"Aku menyesal. Teman baru tidak seperti Kalian yang mengerti aku. Tidak senyaman ketika bersama kalian juga. Maafkan aku." Kata Seokmin. Dia masih menunduk.

"Aku tak percaya. Pergi aja. Kami udah biasa ya tanpa kau selama satu semester. Sekarang kau datang? Cih." Ini adalah Mingyu.

"Kau pasti ada sesuatu kan dengan teman baru-mu itu? Jadinya ketika kau misalnya bertengkar dengan siapapun itu, akhirnya datang ke kami. Datang cuma pas butuhnya aja." Seungkwan. Dia bisa berbicara seperti itu dari teman-temannya juga. Lebih tepatnya status teman-temannya di sosial media. Rata-rata permasalahannya sama. Dan dia tidak percaya kalau dia juga akan mengalaminya.

"Mereka mengkhianati aku. Ternyata selama ini mereka tidak pernah tulus berteman denganku." Kata Seokmin.

"Kau juga berkhianat." Balas Jeonghan. Seokmin tertohok.

"Pergi lah, aku muak melihatmu." Usir Jeonghan. Seokmin mendongak dan menatap mereka semua dengan pandangan tidak percaya.

"Hey, hey. Kalian tidak boleh menghakiminya seperti itu. Bagaimanapun juga Seokmin adalah bagian kita dulu. Dulu sih, sebelum dia berpaling. Udahlah, maafkan aja. Dia juga udah minta maaf kan?" Lerai Wonwoo. Kali ini Wonwoo yang dipandangi tidak percaya oleh mereka semua kecuali Soonyoung yang diam saja memandang kearah luar.

"Kalau kau berjanji nggak akan melakukan itu lagi, akan aku maafkan. Udahlah, aku tidak akan sejahat itu padamu." Mendengar perkataan Wonwoo. Seokmin mengangguk yakin. Dia mengangkat satu tangannya.

"Aku berjanji nggak akan melakukan hal seperti itu lagi. Jadi tolong maafkan aku." Janji Seokmin. Wonwoo mengangguk dengan senyum puas.

"Kalau Wonwoo hyung begitu, aku juga deh. Aku memaafkan, hyung." Kata Minghao dengan senyumnya. Diikuti Jisoo disebelahnya. "Aku tak pernah marah padamu, Seokmin-ah." Katanya.

"Aku pikir kata Wonwoo benar. Lagipula, BooSoonSeok tanpa Seokmin apa jadinya? Aku bosan bersama Seungkwan mulu." Soonyoung menatap Seokmin jenaka. Seungkwan menatap Soonyoung tidak percaya.

"Ya hyung! Apa ini? Aku nggak mau menerimanya!" Tolak Seungkwan. Padahal Seungkwan kira Soonyoung adalah orang pertama yang akan menolak keras Seokmin.

"Kau berlebihan, Kwan. Dia sudah berani meminta maaf. Bisa jadi, nanti kau yang mengkhianati kami. Dan kami akan melakukan hal yang sama denganmu." Mendengar perkataan Soonyoung, Seungkwan manyun.

"Baiklah, baiklah. Aku memaafkanmu hyung! Yang jelas jangan seperti itu lagi! Masa aku menyapamu, kau malah mengacuhkanku, berpura-pura tidak mengenal. Padahal kau lihat aku." Seungkwan manyun. Masih ingat dia dengan itu, peristiwa pertama kali dia diacuhkan dengan Seokmin. Menyebalkan. Dia jadi terlihat seperti orang bodoh waktu itu.

Seokmin mengangguk. Dia ingat hal yang dibicarakan Seungkwan. "Maaf, Seungkwan."

Karena orang pertama (Seungkwan), sudah memaafkan Seokmin. Akhirnya semua yang marah pada Seokmin memaafkannya.

.

.

Setelah tiga jam berada di Cafe dekat sungai Han. Akhirnya mereka berdua belas memutuskan pergi dari sana. Jalan-jalan. Bosan juga kan di Cafe.

Mereka bercerita banyak hal, sebenarnya lebih banyak mengeluhnya dibanding bercerita hal serunya. Haha.

"Aku capek, hyung. Masa yang andalkan aku terus! Nanti aku akan keluar dari OSIS! Alasan utamanya adalah perbudakan yang tidak adil!" Seungkwan bercerita dengan berapi-api. Maksudnya semangat hehe.

Jangan salah loh, Berisik-berisik begitu. Seungkwan adalah sekretaris OSIS. Yang lain ketika Seungkwan bercerita tentu saja awalnya tidak percaya. Tapi ketika Seokmin, Chan dan Mingyu mengiyakan. Baru mereka percaya.

"Ya itu memang kewajiban-mu, Kwan. Sekretaris kerjanya akan lebih lah. Kau gimana sih." Respon Seungcheol. Seungkwan manyun. Dia kan ingin diperhatiin. Seungcheol hyung, nggak pekaa!

Semuanya sibuk dengan masing-masing. Termasuk Soonyoung yang sedang melihat sekeliling.

T-tunggu.

Mata Soonyoung yang sudah sipit, dia sipitkan lagi guna memperjelas objek yang dilihatnya. Soonyoung yang paling belakang berhenti sejenak. Membiarkan yang lain duluan.

Itu...

"Jihoon! Lee Jihoon! Jihooniee!" Panggil Soonyoung keras. Ada Jihoon disebrang sana. Soonyoung yakin tidak salah lihat. Tubuh mungil itu Soonyoung kenal sekali. Itu Jihoon!

Soonyoung melihat kiri dan kanannya takutnya ada kendaraan. Dia masih ingin hidup, ya.

Soonyoung buru-buru menghampiri Jihoon yang sedang memotret pernak-pernik yang orang jual dipinggir jalan. Soonyoung memegang bahu Jihoon.

"Jihoon?" Orang yang dikira Jihoon itu menoleh. Dia terlihat terkejut melihat Soonyoung.

"Soonyoung?!"

Benar, positif, itu Lee Jihoon.

Soonyoung menatap Jihoon. Kedua tangannya memegang kedua bahu Jihoon dengan erat. Matanya mengobservasi tubuh Jihoon, bahkan tubuh Jihoon dia bolak-balik. Masih tidak percaya dia bertemu Jihoon.

"Jihoonie.." panggil Soonyoung. Senyum tersemat di bibirnya. Dia buru-buru memeluk Jihoon, erat sekali.

"Aku kangen Jihoon. Kangen banget. Jihoon kemana aja?" Bisik Soonyoung. Jihoon membalas pelukan Soonyoung tak kalah erat. Jihoon tersenyum.

"Aku juga kangen dengan Soonyoung. Kangen banget." Katanya.

"Soonyoung hyunggg!"

Mendengar namanya dipanggil, Soonyoung melepaskan pelukannya dengan Jihoon. Dia menatap Jihoon. "Aku nggak percaya bakal ketemu kamu. Ayo, itu Chan. Ada yang lain juga. Mereka kangen juga denganmu." Soonyoung merangkul Jihoon, mengajak Jihoon menyebrang. Sudah ada yang lain ditempatnya tadi berdiri ketika melihat Jihoon.

Jihoon menunduk. Ini pertemuan pertama setelah satu setengah tahun tidak bertemu. Jihoon senang, Jihoon tidak menyangka dia akan bertemu dengan Soonyoung dan yang lain. Hal yang selalu diharapkannya selama satu setengah tahun.

Soonyoung tersenyum ketika mereka menatapnya dengan kening berkerut. Siapa yang dibawa Soonyoung? Itu rata-rata yang ada dibenak mereka.

"Siapa, Kwon?" Tanya Jun. Soonyoung hanya tersenyum. Jihoon mendongak menatap mereka semua satu-satu.

Masih berpikir itu siapa. Beda dengan Seokmin yang ternyata lebih dulu sadar. "Jihoon hyung?!" Teriaknya. Jihoon tersenyum manis. Seokmin langsung memeluk Jihoon, Jihoon yang dipeluk, awalnya ingin menolak tapi sudah terlanjur, ya akhirnya dia membalas.

"Jihoon hyung?"

"Ya! Seokmin! Gantian dong!"

"Kelamaan nih!"

"Chan mau peluk Jihoon hyung."

"Jihoonieee!"

Jihoon buru-buru melepas pelukan Seokmin. Akhirnya dia berinisiatif memeluk mereka satu-persatu. Tidak peduli bahwa mereka ada dipinggir jalan, yang penting mereka bertemu, udah itu saja.

Dan ketika melihat Wonwoo. Dia tidak langsung memeluk sahabat sebangkuenamtahun nya itu. Mereka bertatapan lama sebelum berpelukan. Yang lain tertawa melihatnya.

"Wonwoo-yaaa!" Panggil Jihoon. "Jihoonie!" Balas Wonwoo memanggil namanya.

Akhirnya semuanya ikut memeluk Jihoon dan Wonwoo. "Yeaay Jihoon hyung!"

"Ga nyangka ketemu Jihoon!"

"Jihoon hyuuuungg!"

"Kangen bangeeeettt!"

Jihoon tertawa mendengar itu semua. Seperti biasa, selalu heboh. Tapi justru itu yang Jihoon kangenin. Hebohnya mereka, tidak bisa diamnya mereka. Jihoon kangen itu. Karena ketika ada disekolahnya yang sekarang, dia tidak mendapatkannya. Sekolahnya yang selalu serius yang Jihoon benci. Jihoon benci sekolahnya yang sekarang.

Jadi karena sudah bertemu lagi, mereka akan pergi seharian kali ini. Lihat, Seungkwan sudah membicarakan rencananya itu.

"Jadi kita makan dulu, terus jalan lagi, kita ke Taman bermain! Makan lagi baru pulang!"

Tadinya Seungcheol tidak setuju. Dia inginnya Jihoon yang menentukan tapi para maknae sudah terlihat ingin sekali. Lihat itu mereka yang sok-sok menggunakan aegyo. Jadi Seungcheol pasrah.

"Baiklah, baiklaaah! Ayoo kita pergi!" Mendengar itu para maknae langsung heboh.

"Yeaaay!"

"Yooohoooo!"

"Ayo, ayooo!"

Berterimakasihlah pada Soonyoung. Karena dia, kalian bisa bertemu dengan Jihoon yang saat itu sedang memotret pernak-pernik disebrang jalan. Jadi kalian bisa berkumpul lagi dengan komplit.

Wonwoo senang sekali, dia, Jihoon dan Soonyoung berjalan paling belakang dan mereka bercerita banyak hal. Membiarkan yang lain berjalan didepan sana. Tanpa tau kalau yang di depan menunggu mereka.

Greb!

Seungkwan merangkul Soonyoung dan Jihoon. Seokmin merangkul Wonwoo dan Jihoon. "Ayolah hyung! Kalian ini lama sekali! Lumutan nihh!" Kata Seungkwan membuat ketiganya tertawa.

"Ya! Boo Seungkwan! Hahahaha~"

Satu setengah tahun saja sudah begitu berat bagi mereka. Karena enam tahun bukan waktu yang sebentar, ketika sekalinya tidak bersama-sama pasti akan merasa kehilangan. Walaupun akhirnya terbiasa karena adanya teman baru, tapi pasti teman yang sudah biasanya dengan kita akan selalu diingat.

Chapter 3:

Kelulusan, berpisah, dan kumpul lagi.

Selesai!

.

.

...hai

Err..ini Chapter ketiganya..

Bagaimana? Masih ada yang mau baca nggak? Insyaallah chapter depan, masa cinta-cintaannya akan muncul. Tapi inginnya chapter depan bagian-bagian eratnya persahabatan mereka. Seperti BooSoonSeok, Wonwoo-Jihoon, Hansol-Seungkwan, Mingyu-Wonwoo, Soonyoung-Jihoon-Wonwoo, Chan-Jun-Minghao, Seungcheol-Jeonghan, Seungcheol-Jisoo, Seokmin-Jisoo.

Jadi seperti special chapter sebelum dimulainya masa SMA :) atau kalian ada ide?

Oiya, aku ingin berterimakasih dengan Kak Inchii17. Walaupun nggak sepenuhnya pakai idenya, tapi ada beberapa dari based idenya kak Inchii17. Terimakasih kak. (Btw, kaka ada dimana aja ya. Barusan aku liat kaka di instagram wkwk)

Aku ingin bahas Mingyu dan Jun di Thank You Concert duahari yang lalu. Tapi nanti akan panjang notenya hehe. Tidak jadi deh, tapi yang ingin bahas mereka denganku, bisa PM aku hehe/? atau di review hehe.

Terimakasih juga yang sudah membaca chapter kemarin, dan review. Tolong berikan tanggapan! Terimakasih!

Chapter 3:

Selesai!