Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto U. x Hinata H.

Rate : T

Genre : Romance, Fantasy

Warnings : AU, Gaje, OOC, (miss) Typo yang pasti ada, dan masih banyak lagi…

.

.

.

Saat Naruto sedang sibuk mempertanyakan keadaannya, dibelakang mereka tepatnya disudut ruangan, terlihat seseorang yang mengamati mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Hm…." Gumam orang itu sambil melipat tangannya.

.

Chapter 3 : With You!

Dari kejauhan mata itu menyipit ketika tubuh Naruto menegang karena Hinata terlihat sedikit bergerak. Sebenarnya tidak lama setelah mereka menyadari keadaan perpustakaan kosong, Naruto merasakan kehadiran orang lain selain mereka di perpustakaan itu, namun menurutnya itu mungkin hanya pengunjung lain yang baru datang.

Rasa penasaran Naruto timbul setelah beberapa lama merasakan kehadiran seseorng tapi tidak melihat orang lain berkeliaran disana. Masih dengan memegang kepala Hinata di pundaknya, Naruto berusaha untuk mencari orang yang mengganggu pikirannya itu. Melihat kekiri dan kekanan, Naruto berusaha mencari keberadaan sosok yang dirasakannya, tapi tak menemukan siapapun.

'Hmm… mungkin hanya perasaan ku saja.' Ucap Naruto dalam hati ketika usahanya tidak membuahkan hasil.

Sadar kehadirannya diketahui, sosok misteruis yang berada di sudut ruangan itu menghilang ditelan bayangan.

Pandangan Naruto masih berkeliling ketika dirasakannya tubuh Hinata sedikit bergerak. Tangan putih Hinata naik untuk mengusap matanya, masih dengan bersandar pada Naruto, Hinata mulai membuka matanya perlahan.

Hal pertama yang dilihatnya adalah cahaya keemasan yang keluar dari sebuah jendela. Merasakan kepalanya bersandar pada sesuatu, Hinata meraba tempatnya bersandar. 'Hm? Apa ini…? Cukup keras, tapi sangat nyaman'

"Hinata-chan, kau sudah bangun?" Tanya Naruto yang heran karena Hinata tetap bersandar dengan meraba-raba lengannya seperti sedang mencari tahu apa yang sedang dipegangnya itu.

Hinata membatu, suara Naruto terdengar sangat dekat di telinganya. Hinata mendongakan kepalanya untuk mencari sumber dari suara yang didengarnya. Tapi, keputusannya untuk melihat kearah sumber suara langsung disesali Hinata begitu mendapati wajah Naruto yang berjarak sekitar beberapa sentimeter dari wajahnya.

Dengan gerakan reflex, Hinata berusaha mendorong tubuh Naruto menjauh darinya. Tapi, karena tubuh Naruto yang pada dasarnya lebih berat dan lebih kuat darinya, malah membuatnya terhuyung kebelakang.

Untung saja belum sempat kursi beserta Hinata diatasnya jatuh merasakan lantai perpustakaan yang dingin, tangan Hinata yang tadi digunakannya untuk mendorong ditarik oleh Naruto mendekat kearahnya. Setelah menarik Hinata yang hampir saja jatuh, tanpa sadar Naruto menyandarkan kepala Hinata pada dadanya.

"Kau tidak apa-apa Hinata-chan?" tanya Naruto yang masih memegang kepala Hinata yang bersandar padanya.

Antara kaget dan malu, Hinata hanya bisa mengangguk menandakan ia baik-baik saja. Beberapa detik, hanya beberapa detik dalam posisi seperti ini, tapi entah kenapa terasa begitu lama bagi Hinata dan mungkin juga bagi Naruto.

"A-ano… Na—Naruto-kun?" lirih Hinata setelah memberanikan diri.

Naruto tersentak, ia baru sadar akan posisinya. "Ma–maaf" ucap Naruto.

Setelah melepaskan Hinata, Naruto menggaruk pipinya. Kikuk, itu adalah hal yang dirasakan mereka berdua saat ini. Tidak ada yang berani memulai percakapan, bahkan saling pandangpun tidak.

Hinata mencoba untuk menghindari bertatapan dengan Naruto, diarahkan pandangannya kearah jendela, matanya berkedip beberapa kali menyadari hari sudah petang.

Hinata memandang jam tangan putih yang melingkar ditangan kirinya, pukul 17.45 itulah yang pertama kali ditangkap oleh indra penglihatnya. Sambil menghela napas ringan, Hinata mulai mengemasi barang-barangnya yang tergeletak diatas meja.

"Na-naruto-kun? Aku harus pulang sekarang kalau tidak orang tua ku akan khawatir. Sa-sampai jumpa besok." Ucap Hinata yang berdiri didepan Naruto sambil memeluk buku-buku perpustakaan didadanya.

Setelah mengucapkan itu dan dibalas oleh anggukan dan tentu saja senyuman dari Naruto, Hinata berlari menuju pintu keluar dengan wajah yang lagi-lagi memerah, tanpa lupa meminjam beberapa buku untuk dibacanya dirumah.

Sedangkan Naruto hanya memandang kepergian Hinata dalam diam. Tangan kanannya diangkat serata dada, melihatnya sejenak lalu tangannya bergerak kearah dada kirinya, merasakan sesuatu yang berdetak disana.

*Recalling You*

Hinata berlari menuju tempat tidurnya, tas dan buku-bukunya diletakannya asal-asalan di atas meja. Dengan wajah yang merona dan senyum yang mengembang, ia teringat lagi saat Naruto memeluknya yang hampir jatuh karena kebodohannya sendiri. Walaupun hanya ketidak sengajaan, entah kenapa senyumnya tidak bisa hilang dengan mudah.

"Naruto-kun…" gumammnya sambil menutup wajahnya yang semakin memerah dengan bantal. Hanya dengan mengingat wajah Naruto saja wajahnya akan memerah seperti tomat. Haaah… Sepertinya dia punya masalah baru.

Di tempat lain…

Naruto berjalan di trotoar yang penuh dengan hiruk pikuk masyarakat kota Tokyo. Pandangannya lurus kedepan, ditangan kanannya tergenggam buku yang selau dibawanya kemana-mana. Tanpa perlu merepotkan diri menghindari tabrakan tubuh-tubuh manusia yang berlalu lalang ditrotoar, ia terus berjalan sambil sesekali membaca buku ditangannya. Manusia-manusia itu tidak menyadari kehadiran Naruto bahkan menyentuhnya pun tidak, Naruto seakan hantu yang tembus pandang dan tak bisa disentuh.

Naruto berhenti melangkah. Pandangannya yang tertuju pada buku kecil ditangannyapun terhenti. Mengangkat wajahnya, tergambar raut wajah serius yang tak terbaca seperti banyak sekali hal-hal yang memenuhi kepalanya.

"Apa yang kau lakukan disana, Naruto?" terdengar suara dari arah belakang Naruto yang langsung membuyarkan lamunannya.

Berbalik kebelakang, Naruto menemukan sumber dari suara yang menegurnya. "Shikamaru-senpai… ada apa?" ucap Naruto setelah terdiam sejenak.

Shikamaru menatap Naruto dalam, "Seharusnya aku yang tanya begitu, apa yang kau lakukan ditengah jalan begini?" Shikamaru merogoh sakunya dan mengeluarkan rokok lalu membakarnya, kepulan asap keluar dari mulutnya.

Naruto menggauk belakang lehernya sambil tertunduk, ia juga bingung apa sebenarnya yang dilakukannya dari tadi, pikirannya seperti melayang entah kemana.

"A-aku hanya jalan-jalan, lagipula tidak ada kerjaan" Naruto berusaha mengalihkan pandangannya dari seniornya itu.

Shikamaru menyipitkan matanya, dia memperhatikan sesuatu sampai akhirnya dia angkat bicara.

"Hmm? Benarkah? Tidak masalah bagiku jika kau bersantai sebentar, tapi harus ku ingatkan bekerjalah dengan baik. Aku tidak ingin ada lagi reader yang 'dibuang'." Setelah mengucapkan itu Shikamaru berbalik akan meninggalkan, tapi belum saja dia melangkah, ia berbalik lagi untuk menatap Naruto.

"Dan satu hal lagi, Jangan buang-buang energimu hanya untuk hal yang tidak penting. Kulihat energimu tidak banyak tersisa, seharusnya kau yang paling tahu bahwa energimu tidak selalu didapatkan dimanapun." Setelah memberikan peringatan pada juniornya, Shikamaru melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Sedangkan Naruto hanya terdiam memikirkan perkataan Shikamaru.

"Haaahhh…! Aku juga tahu, tapi ada hal yang tidak kumengerti terjadi padaku." Gumam Naruto sambil mengacak-acak rambut jabriknya, dia terdiam ditempat yang sama sampai beberapa menit sebelum ia menggerakan kembali kakinya untuk melangkah.

*Recalling You*

*RINGGG… RINGGGG… RINGGG…!*

Mendengar deringan jam beker, Hinata terjaga dari tidurnya. Masih dengan munutup matanya, ia mencari letak jam ungu berbentuk bulat yang diletakan di atas meja tepat disamping tempat tidurnya. Diraba-rabanya tempat itu, namun tidak menemukannya. Akhirnya Dering suara dari jam itu memaksanya untuk membuka mata.

Perlahan tapi pasti tangan Hinata bergerak untuk mematikan jam diatas mejanya itu. Dengan malas ia memaksa tubuhnya untuk duduk diatas tepat tidurnya yang nyaman. Dan setelah mengumpulkan seluruh kesadarannya, ia bangkit berdiri untuk melakukan kegiatan rutinnya sebelum ia menyadari sesuatu.

Pandangannya mengarah pada pintu balkon yang terbuka, seingatnya ia menutupnya tadi malam tapi kenapa sekarang bisa terbuka? Dia berjalan menuju balkon dengan langkah yang pelan, tirai putih yang berkibar-kibar tertiup angin menapilkan siluet seseorang dengan samar. Hinata mundur selangkah, dengan ragu-ragu ia pun berani mengeluarkan suara kecilnya.

"Si-siapa disana?" tanya Hinata. Tangannya saling menggenggam didepan dada, perasaan takut mulai menjalar keseluruh tubuhnya.

Sosok dibalik jendela itu mendengar suara Hinata, dapat dilihat bahwa sosok itu mulai meninggalkan tepatnya berdiri sebelumnya. Dengan satu gerakan tangan sosok misterius itu menyingkirkan tirai yang menghalangi wajahnya.

"Ah! Hinata-chan kau sudah bangun? Ohayou…." Senyum manis Naruto terkembang setelah ia mengucapkan kata-katanya. Namun tubuhnya tidak beranjak dari balkon kamar Hinata.

Terkejut?. Tentu saja itu hal pertama yang didapatkan Hinata, bagaimana mungkin Naruto berada di kamarnya selama dia masih tertidur, bagaimana jika Naruto melihat wajah tidurnya yang jelek Naruto mungkin akan membencinya. Tidak! Tidak! Bukan saatnya memikirkan hal seperti itu.

"Na-Na-Na-Na-Naruto-kun, a-apa yang kau lakukan di-disini?" Ucap Hinata gugup, kedua tangannya memegang kedua pipinya yang panas dan pandangannya dialihkan kearah lantai keramik putih kamarnya.

"Hahaha… maaf... maaf… aku berniat menjeputmu sebelum pergi sekolah karena sedang tidak ada kerjaan. Tapi sebelum itu aku harus mengumpulkan energiku dulu karena sepertinya aku membutuhkan cukup banyak hari ini." Jelas Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Energi? Bagaimana caramu mendapatkan energimu? A-aku akan membantumu mengumpulkannya." Ucap Hinata, matanya berkilat-kilat penuh semangat. Kakinya mulai melangkah mendekati Naruto, wajahnya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.

Naruto mundur selangkah karena kaget dengan gerakan Hinata yang sudah berada dekat dengannya. Dengan gerakan kikuk, Naruto mengaruk pipi kiri wajahnya dengan jari telunjuk tangan kirinya.

"Em. Bagaimana menjelaskannya yah? Pada dasarnya aku dan kaum sejenisku tercipta dari energi yang berbeda-beda. Contohnya saja Shikamaru-senpai, energinya berasal dari 'air mata', selama masih ada yang menangis baik itu karena perasaan senang maupun sedih dia bisa terus mendapatkan energinya sebanyak apapun. Sedangkan aku, energiku berasal dari 'cahaya Matahari' selama matahari masih ada aku tidak perlu khawatir akan kehabisan energi, aku juga bisa menyipannya sebagai cadangan dan lebih banyak lagi yang seperti aku dan Shikamaru-senpai diluar sana dengan sumber energi yang berbeda-beda" jelas Naruto panjang lebar.

"Hah? … 'air mata'?... 'cahaya matahari'? menurutku itu tidak terdengar adil. Bukankah lebih menguntungkan menjadi seperti Shikamaru-san yang energinya tidak akan pernah habis dibandingkan energi Naruto-kun yang terbatas pada siang hari? Bukankah ini terdengar tidak adil, bisa saja Naruto-kun kehabisan energi pada malam hari, lalu apa yang akan terjadi padamu?" Hinata tidak bisa menahan semua kalimat yang keluar dari mulutnya, ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya, sedangkan Naruto hanya bisa kaget melihat Hinata yang untuk pertama kalinya berbicara cukup panjang tanpa tergagap sedikitpun.

Senyum Naruto terkembang, pandangannya melembut, "Tenang saja, aku tahu sampai mana batas kemampuanku. Lagi pula aku tidak mungkin membahayakan diriku sendiri."

Hinata tertegun, "Membahayakan diri? a-apa maksudnya?" pandangan Hinata berubah semakin takut. Apa maksudnya membahayakan diri , dikepalanya banyak serangkaian hal-hal mengrikan yang mungkin akan terjadi.

Senyum yang tadi terpatri di wajah Naruto memudar seketika, tangannya diletakan kebelakang dengan tangan kiri menggenggam tangan kanan, perhatiannya terfokus pada arah datangnya cahaya matahari kemudian dialihkannya lagi kepada Hinata yang ekspresinya masih menunjukkan wajah yang sulit dimengerti Naruto.

"Bukankah tadi Hinata-chan menanyakan apa yang akan terjadi jika aku kehabisan energi?" melihat anggukan kecil dari Hinata, Naruto melanjutkan perkataannya.

"Aku akan… Menghilang…"

*Recalling You*

Hinata tidak bisa fokus pada pelajaran yang sedang berlangsung didepannya, berkali-kali ia mencoba untuk menyelesaikan soal-soal pada bukunya tapi perkataan terakhir Naruto tadi pagi membuatnya tidak bisa memikirkan hal yang lain.

Hinata melirik Naruto yang sedang duduk di tepi jendela tempat biasa ia duduk saat menemani Hinata di kelas, Naruto duduk sambil melihat kearah halaman sekolah. Pandangannya terlihat biasa, sesekali ia membaca buku kecil ditangannya dan melihat jam yang melingkar manis di tangan kirinya, hanya itu yang dilakukan Naruto selama di dalam kelas. Sikapnya yang seperti biasa seperti itu setelah mengatakan hal-hal yang tidak dimengerti Hinata seperti tadi pagi membuat Hinata berakhir frustasi dan khawatir tanpa hal yang jelas. Dadanya terasa sesak hanya dengan mengingat perkataan Naruto sebelumnya, dan Naruto hanya bersikap seperti biasa? Ini benar-benar menjengkelkan.

Hari ini Naruto sama sekali tidak meninggalkannya seperti yang dilakukannya kemarin, bahkan saat Hinata keruang guru atau ke perpustakaan Naruto tetap berjalan di belakang Hinata sambil terus melihat buku yang tidak pernah lepas dari tangannya itu.

"Kau mau makan siang dimana, Hinata-chan?" akhirnya suara itu keluar juga saat Naruto melihat Hinata mengambil bungkusan bentou dari dalam tas. Dengan isyarat, Hinata menaikan telunjuknya untuk menunjuk arah atap sekolah. Hari ini ia akan makan sendirian lagi karena Ino mendadak dipanggil guru sebagai perwakilan dewan siswa dikelasnya.

Setelah mereka sampai di atap sekolah, Hinata memutuskan untuk duduk sambil bersandar pada pagar pembatas disana. Di bukanya bentounya yang dusah ia bawa sebelumnya. Tanpa banyak bicara, Hinata memulai acara makan siangnya.

"Hari ini kau diam sekali Hinata-chan." Ucap Naruto membuka percakapan saat mereka telah berada di atap sekolah. "Yah… walaupun kau juga cukup pendiam. Tapi, hari kau terlalu diam. Apa ada masalah?"

Hinata mengelengkan kepalannya, "A-ano… ti-tidak ada. Aku hanya sedang berpikir. Itu saja."

Setelah mengucapkan itu Hinata melanjutkan makan siangnya dalam diam, namun kediamannya itu hanya bertahan beberapa detik. Diletakannya sepasang sumpit diatas bentou yang sudah hampir habis.

"Ano… Naruto-kun, bolehkah aku betanya?" setelah mendapat anggukan kecil dari Naruto, Hinata melanjutkan kembali perkataannya. "A-apa saja hal yang bisa membuat energi kalian habis? A-ano… kau bisa tidak menjawabnya jika tidak mau mejawab pertanyaan seperti itu."

Naruto terkekeh, Hinata terlalu polos—menurutnya, ia juga tidak terlalu paham, lagi pula ia tidak tahu apa-apa tentang emosi manusia.

"Tidak apa-apa Hinata-chan. Hmm… hal yang bisa membuat energi kami habis ya? Sebenarnya cukup banyak. Contohnya saja saat akan bersentuhan dengan manusia atau benda-benda di dunia manusia, tapi energi yang digunakan untuk itu cukup kecil, yang paling menguras energi adalah saat kami terpaksa harus berpindah tempat—maksudku berteleportasi— dalam keadaan darurat. Energi yang digunakan untuk itu cukup banyak." Naruto mengakhiri perkataanya dengan berbaring disamping Hinata yang sedang duduk memangku bentounya.

"Tapi, tenang saja. Selama ada matahari aku tidak akan kehabisan energi… lagi pula aku punya kunci ini, ini bisa menghemat energi untuk berpindah tempat" ucap Naruto mengakhiri perkataannya sambil memandang kunci emas yang baru dikeluarkannya dari dalam kantong jaket cokelatnya.

Hinata hanya terdiam, lalu ia melanjutkan makannya. Matanya berkilat akan sesuatu, ia sudah memutuskan! Ia akan berusaha melindungi Naruto selama Naruto masih bersamanya. Ya… ia akan melindungi Naruto, walaupun ia tidak tahu harus bagaimana….

"Naruto? Sedang apa kau disitu…?"

Terdengar suara wanita, suara yang terdengar asing di telinga Hinata dan ia tidak terlalu suka mendengar nada akrab dalam suara itu.

Eh? Tunggu sebentar, yang ditegurnya barusan Naruto-kun? Hinata buru-buru mengalihan pandangannya pada datanganya sumber suara dan menemukan sosok yang membuat matanya melebar karena kagum.

Di dekat pintu masuk menuju atap sekolah berdiri seorang perempuan dengan rambut blonde dan sepasang manic ungu yang bening, ia mengenakan pakaian one piece warna putih sebatas lutut dan terdapat pita putih di tangan kanannya. Disana juga terlihat sebuah map berwarna hitam yang terlihat kontrs dengan baju yang digunakannya. Rambutnya tergerai indah tertiup angin. Bahkan sebagai perempuan Hinata bisa mengatakan bahwa orang yang dilihatnnya saat ini sangatlah cantik.

Hening beberapa saat, Naruto hanya melirik perempuan didekat pintu itu dengan menggunakan ekor matanya. Tatapannya terlihat malas-malasan.

"Oh… ternyata kau Shion." Tanggapan kecil yang di keluarkan Naruto membuat perempuan itu mengangkat sebelah alisnya.

"Kudengar kau dapat masalah besar. Lalu? Apa yang terjadi?" parempuan itu melangkah dengan anggun kearah Naruto yang masih berbaring. Tapi, belum sampai ke arah Naruto langkahnya terhenti, pandangannya bertabrakkan dengan Hinata yang masih memperhatikannya.

Shion mengehela napas ringan, melipat kedua tangannya didepan dada lalu pandangannya kembali kepada Naruto yang masih tetap berbaring seolah tidak peduli.

"Jadi, gadis ini masalahmu? Kau sungguh ceroboh. bagaimana mungkin kau ketahuan seorang manusia?" Shion berjalan mendekat kemudian bersimpuh disamping Naruto yang membuatnya bisa melihatnya Hinata yang berada di sisi Naruto yang lain.

Naruto bangun dari tidurnya, kedua kakinya disilangkan dan badannya menghadap kearah Shion dan membelakangi Hinata.

"Shion. Tidak perlu menghawatirkan aku, mengerti?" Naruto mengakhiri ucapannya dan memegang kedua pundak Shion seakan sedang menenangkannya. Hinata tidak suka dengan apa yang dilihatnya, hatinya terasa sakit saat melihat Naruto akrab dengan perempuan lain. Hinata meremas rok sekolahnya menahan rasa tidak nyaman didadanya.

"Ah! Satu lagi, Hinata bukan sebuah masalah. Aku tidak suka kau berkata seperti itu padanya. Mengerti?" Masih sambil memegang pundak Shion, terlihat Shion mengangguk kecil seperti seorang anak kecil yang baru saja dimarahi oleh orang tuanya.

Hanya karena beberapa kata itu saja, Hinata merasakan rasa hangat mengalir dari dadanya keseluruh tubuhnya, seakan rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya tidak pernah ada.

Shion menggeser posisinya sehingga ia bisa melihat Hinata, masih dengan posisi bersimpuh Shion menundukkan kepalanya tanda perminataan maaf. Sedangkan Hinata hanya bisa membalas menundukkan kepalanya dengan kikuk.

"Maafkan aku Hinata-san."

"E-eh… ti-tidak apa-apa, tenang saja."

Mendengar permintaan maafnya sudah diterima, Shion tersenyum lega. Setidaknya dengan begini Naruto tidak akan marah padanya. Soalnya hanya Naruto yang bersedia mendengarkan cerita-ceritanya.

Hinata menutup bentounya yang telah habis, kemudian membungkus kembali bentounya dengan kain warna ungu polos yang terkadang digunakannnya.

Melirik Hinata sekilas, Naruto bangkit dari posisi duduknya, menepuk celananya yang sedikit kotor karena debu kemudian meregangkan tubuhnya.

"Ayo Hinata-chan, waktu istirahat sudah hampir habis." Ucap Naruto singkat.

Mengangguk sekilas, Hinata berdiri dan membersihkan debu yang menempel pada roknya. Dia hampir saja menjatuhkan kotah bekalnya saat tiba-tiba Shion berdiri dari posisi bersimpuhnya dan langsung memeluk tangan kiri Naruto.

"Hee? Sudah mau pergi? Aku baru saja tiba disini." Shion terlihat menggembungkan pipinya menggemaskan.

Melihat tingkah Shion, Naruto hanya bisa terkekeh pelan. Diusapnya kepala Shion dengan lembut untuk menenangkan perempuan disampingnya itu. "Dasar. Aku sedang sibuk, kau juga sibuk kan? Aku akan menunggumu di tempat biasa dan jam biasa. Ok?" ucap Naruto sambil mengarahkan kelingking tangan kanannya pada Shion yang disambut dengan kelingking kanan Shion membuat jari mereka bertautan seperti sedang membuat janji.

"Baiklah… sepertinya aku juga harus pergi." Shion melirik map hitam yang berada ditangannya, terlihat ada simbol kecil warna merah yang berkedap-kedip di sudut map miliknya. Ia berbalik kemudian melambai pada Naruto sebelum akhirnya menghilang.

"Ayo, Hinata-chan. Kau akan terlambat jika hanya berdiam diri disana." Ucap Naruto yang melirik Hinata yang berada di belakangnya dengan ekor matanya.

"I-iya." Jawab Hinata singkat sambil mengikuti Naruto yang mulai berjalan didepannya.

*Recalling You*

"Huaaahh… pelajarannya benar-benar membosankan, iya kan Hinata?" tanya Ino membuat Hinata menoleh kebelakang untuk melihat Ino yang sedang menopang dagunya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya sedang memainkan pensil miliknya.

"Iya. yang tadi cukup sulit." Membenarkan perkataan Ino, Hinata melirik papan tulis didepan yang masih menyisakan rumus-rumus matematika yang baru mereka pelajari tadi.

"Hinata, yang tadi itu bukannya 'cukup' sulit, tapi sangaaat sulit! Tahu!" keluh Ino kemudian bersandar pada kursi di belakangnya. Melihat itu Hinata hanya bisa tersenyum sambil mendengar ocehan temannya yang terus keluar.

Mereka teman yang bisa dikatakan cukup akrab, bahkan mereka sudah kenal sejak kecil. Tapi karena Hinata sejak kecil selalu sakit-sakitan sehingga ia tidak selalu punya kesempatan untuk bermain bersama Ino ataupun anak lainnya. Dan baginya sekarang Ino adalah temannya yang berhaga.

Seperti teringat sesuatu, Ino langsung memperbaiki posisi duduknya dan langsung menyatukan telapak tangannnya seperti sedang meminta maaf.

"Ah! Aku lupa. Maaf ya Hinata, hari ini dan sekitar dua minggu kedepan kita tidak bisa pulang bersama soalnya ada persiapan untuk festival sekolah bulan depan. Maaf ya?" ucap Ino sambil menyatukan kedua tangannya didepan wajah, memang hampir setiap hari mereka pulang bersama dengan mobil jemputan Hinata karena rumah mereka yang searah sekaligus menjaga Hinata dan Ino merasa sangat bersalah membiarkan Hinata harus pulang sendiri karena ia tahu Hinata tidak punya banyak teman sejak kecil karena sifat pemalunya dan karena fisiknya yang lemah.

"Tidak apa-apa Ino-chan, aku bisa pulang sendiri…" Hinata menunduk berusaha mengalihkan pandangannya dari Ino, kemudian dengan menggunakan ekor matanya ia melirik kearah jendela tepatnya kearah Naruto yang sedang duduk di jendela dan menghadap keluar, kakinya menggantung diudara dan matanya terpejam seperti sedang menikmati semilir angin yang lewat.

"Hm? Benarkah? Kau yakin Hinata?" Tanya Ino memastikan.

"A-ah… Ya, tentu saja."

"Baiklah, kalau begitu. Aku harus segera pergi sekarang." Ino merapikan barang-barangnya yang berhamburan di meja kemudian memasukannya kedalam tas. Setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan Ino beranjak dari tempat duduknya tapi baru sampai di pintu kelas ia berhenti dan berbalik kearah Hinata.

"Kalau ada apa-apa, telpon saja. Ok?" lambai Ino kemudian menghilang dibalik pintu.

Hinata hanya bisa tersenyum melihat perhatian Ino kepadanya, sejak dulu Ino terlalu menghawatirkannya. Ia senang Ino menjadi sahabatnya.

"Ayo pulang." Ucap Naruto menyadarkan Hinata dari lamunannya.

Hinata menoleh kearah samping kirinya dan mendapati Naruto sedang berdiri disana tidak jauh darinya. Blue ocean itu tertuju kearahnya dan membuatnya harus memalingkan wajah sebelum ia memerah dan pingsan.

"Um-m… Ba-baiklah"

Setelah merapikan semua buku-bukunya, Hinata segera mengikuti Naruto yang mulai berjalan keluar ruangan. Tidak biasanya Naruto berjalan mendahuluinya, biasanya Naruto akan menunggunya dan berjalan di belakangnya. Tapi, hari ini Naruto terlihat buru-buru, dengan buku di tangan kanannya dan jam tangan yang melekat di tangan lainnya Naruto berjalan cepat seperti sedang mengejar sesuatu.

Nauto masih berjalan tidak jauh darinya ketika mereka keluar dari gedung sekolah saat tiba-tiba Naruto menghilang dan muncul kembali tepat di depan gerbang.

Disana terlihat seorang perempuan berambut gulali dengan setumpuk buku yang hampir menghalangi pandangannya dan Naruto yang berjalan disampingnya. Belum sempat Hinata terkejut dengan Naruto yang tiba-tiba menghilang, Hinata harus menutup mulutnya terkejut melihat Naruto dengan sengaja mengaitkan kakinya sehingga gadis dengan nama Haruno Sakura itu jatuh beserta dengan semua buku yang dibawanya.

Baru saja Hinata akan berlari mendekat untuk membantu Sakura, Naruto menghilang dan muncul tepat di depannya memaksa Hinata untuk berhent berlari.

"Sst. Bisakah kau berdiam diri sebentar. Ini tak akan lama" sambil menempelkan telunjuk di bibirnya Naruto menghentikan tatapan penuh tanya, "… pekerjaan" tambah Naruto menjawab tatapan Hinata.

Merasa penjelasannya cukup, Naruto membalikkan badan untuk melanjutkan pekerjaannya. Didepan mereka gadis Sakura itu tampak sedang memungut beberapa buku yang berhamburan ditanah beberapa orang hanya melewatinya tanpa menghiraukan Sakura, sampai seseorang berjongkok didepannya.

Hinata merasa pernah melihat orang itu sebelumnya, Ah! Benar orang itu yang pernah dilihatnya di perpustakaan, kalau tidak salah namanya Sasuke… ya, benar Sasuke Uchiha. Ini terlihat seperti De javu baginya, Perbedaannya ia belum mengenal Naruto pada saat itu.

Mereka tampak sedang berbicara sesuatu, namun karena jarang yang cukup jauh Hinata tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Mengikuti Naruto yang berjalan mendekat kearah keduanya Hinata mulai bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

"Selalu begini. Memangnya kau tidak bisa hati-hati. Dari dulu seperti ini" Perkataan itu dilontarkan dari pemuda yang sedang membantu Sakura memungut buku-bukunya yang terjatuh.

"Hah?" Sakura merasa ada yang salah dengan pendengarannya, ia memang pernah bertemu satu kali dengan orang ini dengan kejadian yang hampir sama tapi dia berbicara seperti orang yang sudah sangat mengenalnya.

"Maaf, tapi…" belum sempat Sakura berbicara pemuda didepannya itu langsung berdiri memaksa Sakura harus mendongakan kepalanya.

"Ayo." Seperti biasa Sasuke bebicara dengan nada datar yang tidak terbaca, namun ia harus berusaha menahan senyum tipis yang hampir menyelinap keluar dari bibirnya saat iya bertatapan langsung dengan Sakura.

Mengikuti Sasuke yang berdiri setelah memungut semua beberapa bukunya, Sakura mengikuti Sasuke yang berjalan menuju kedalam sekolahnya.

"Ada apa? Ke-kenapa?" tanya Sakura yang masih kebingungan dengan sikap Sasuke.

Sasuke berhenti sejenak, menghela napas kemudian berbalik menghadap Sakura. Pandangannya mengarah kearah kaki Sakura, diikuti dengan pandangan Sakura. Memang tidak parah, tapi disana terlihat sedikit luka yang mengeluarkan darah. Lututnya berdarah.

"Aku harap dokter sekolahmu belum pulang." Setelah mengatakan itu Sasuke segera berbalik dan melanjutkan langkahnya diikuti Sakura yang berjalan dengan lambat dibelakangnya karena kakinya yang sakit.

"Ck." Dengan cepat Sasuke berbalik dan membantu Sakura untuk berjalan.

Hinata berhenti melihat kepergian keduanya menuju gedung sekolah. Sebenarnya ia masih ngin mengamati keduanya sampai sebuah suara memanggilnya.

"Hinata-chan?" itu suara Naruto yang berdiri di belakangnya.

"Y-ya… tu-tunggu aku." Ucap Hinata setengah berlari kearah Naruto.

Lagi. Dari jauh pandangan mata itu tertuju pada Naruto dan Hinata. Jauh diatas atap sekolah sesosok pria berdiri mengamati dua orang yang berjalan menjauhi lingkungan sekolah.

"Aku harap kau tidak seperti yang lainnya… Naruto" Suara itu terdengar khawatir.

*Recalling You*

Mereka sedang di perpustakaan tempat Hinata biasa mengahibskan waktu sebelum pulang kerumah dan Naruto sedang membaca bukunya saat Hinata tiba-tiba teringat sesuatu yang ingin ditanyakan.

Hinata mengangkat kepalanya dari buku yang di sedang di bacanya kemudian menoleh kearah Naruto yang duduk di samping kanannya, sejenak ia ragu untuk bertanya namun akhirnya ia memberanikan dirinya, "Um… Naruto-kun, gadis yang tadi… Itu… ano… yang di atap sekolah…" apa yang sedang dibicarakannya, ia bahkan bingung mau mengatakan apa, "… itu… Maksudku." Ucap Hinata putus-putus.

Naruto hanya menatap Hinata bingung dengan maksud perkataan yang tidak jelas, sampai akhirnya Naruto mengerti apa yang sedang Hinata bicarakan.

Naruto terkekeh, pasti yang sedang dibicarakan Hinata adalah Shion yang mereka temui di sekolah siang tadi. Tapi, yang tidak dia mengerti adalah kenapa Hinata susah sekali hanya untuk bertanya tentang Shion.

"Maksudmu Shion yang datang tadi siang?" tanya Naruto yang dijawab dengan anggukan semangat dari Hinata tidak lupa dangan semburat kemerahan di pipinya.

Hinata menunggu jawaban Naruto, sebenarnya ia juga bingung kenapa ia bisa begitu antusias tentang hubungan Naruto dengan Shion hanya karena mereka terlihat akrab tadi siang.

Naruto menutup bukunya, "Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Kalau bisa dibilang kami sama dan juga berbeda." Ucap Naruto dengan pandangan menerawang kedepan.

"… Sama dan juga berbeda…?" Hinata menatap Naruto mencoba mengerti apa maksud dari perkataan Naruto.

"Iya. kami sama-sama bukan manusia tapi pekerjaan yang kami lakukan dan tujuan kami juga berbeda." Jelas Naruto.

Merasa ketidakpahaman Hinata, Naruto mulai menjelaskan maksud perkataannya. "Maksudku, jika aku bertugas untuk memastikan manusia berada di jalur takdir mereka masing-masing maka pekerjaan Shion berbeda dengan pekerjaan yang kulakukan."

"Berbeda… Apanya yang berbeda?" Tanya Hinata semakin tidak sabar.

"Shion dan banyak lagi yang sepeti dia bertugas menjemput manusia yang sudah menyelesaikan kehidupannya… manusia menyebut mereka 'Malaikat pencabut nyawa' tapi kami menyebutnya 'Pengantar', karena tugas mereka adalah mengantar jiwa manusia ketempat yang seharusnya." Jelas Naruto panjang lebar.

"Ma-malaikat? Jadi itu benar jika malaikat benar-benar ada. Dan mereka juga punya kemampuan seperti Naruto-kun?" tanya Hinata disela-sela kekagumannya.

Naruto menggeleng, "Mereka jauh lebih bebas dari pada kami, para Pengantar tidak membutuhkan energi seperti kami para Pembaca. Jadi sebanyak apapun mereka bekerja, mereka tidak punya kensekuensi untuk 'dibuang'…" Menekan kata terakhir pada ucapannya Naruto masih tetap fokus menerawang kedepan.

Hinata baru menyadari bagaimana Shion datang dan pergi tadi siang dan bagaimana sebuah map hitam ditangannya mengeluarkan cahaya merah.

"Ta-tapi kenapa? Bagaimana bisa?" Lagi. Hinata menyuarakan ketidaktahuannya.

"Itu mungkin harga yang harus dibayar karena tidak memiliki emosi sedikitpun." Ucap Naruto sambil menolehkan pandangannya kearah Hinata menunjukan manic birunya yang indah.

Tanpa emosi? Itu tidak mungkin, ia melihat bagaimana Shion saat bersama Naruto tadi siang dan bagaimana caranya bersikap. Itu tidak seperti orang yang tidak punya emosi.

"Tidak mungkin, dia tidak terlihat seperti tidak punya emosi." Bantah Hinata menolak informasi yang baru saja di dapatkannya. "Shion-chan terlihat seperti orang yang ceria." Sambung Hinata.

Naruto menaikkan sebelah alisnya, "Sebaiknya jangan tertipu dengan tingkahnya, ia hanya meniru itu dari manusia yang dilihatnya setiap hari dan… apa maksudmu memanggilnya dengan sebutan 'chan'."

Hinata tertunduk malu Karena menambahkan suffix 'chan' pada Shion, "Dia meniru semua itu dari manusia? Kenapa?"

"Karena sejak dulu Shion tertarik pada Manusia dan karena ia tidak mengerti dengan emosi yang di ciptakan manusia, yah seperti itulah kira-kira." Jawab Naruto.

Belum sempat Hinata mengeluarkan pertanyaan lainnya, ekor matanya mengakap sosok yang tidak asing namun masih belum terlalu di kenalnya berjalan kearah Naruto.

"Dan kenapa kau menceritakan semua itu pada manusia, Naruto? Apa kau menginginkan masalah yang lebih banyak lagi hah?"

Terkejut. Naruto berbalik kebelakang hanya untuk mendapatkan Shikamaru yang sedang berjalan kearahnya dengan kedua tangan yang terselip di dalam kantong celana.

"Shikamaru-senpai?" awalnya ia sedikit terkejut dengan kedatangan senpainya itu tapi kemudian ia menjadi santai kembali "Sejak kapan kau datang?"

Shikamaru menghadiahkan tatapan membunuhnya khusus untuk Naruto yang mengalihkan arah pembicaraannya dan ia tidak suka itu.

"Selamat Sore, Shikamaru-san" Ucap Hinata dengan sedikit menganggukan kepalanya.

"Hm." Jawab Shikamaru ogah-ogahan. "Jadi?" tatap Shikamaru sengit pada Naruto yang hanya menampilkan cengirannya.

"Tidak masalah kan, Senpai? Lagi pula Hinata-chan juga akan lupa. Bukankah begitu?" Ucap Naruto sambil mengangkat bahunya.

Shikamaru hanya diam menanggapi perkataan Naruto, begitu juga Hinata. Ia tidak berani menghadapi sikap Shikamaru yang ketus, jadi ia memutuskan untuk berpura-pura melanjutkan bacaannya namun tetap mendengarkan percakapan dua pria disampingnya itu.

Cukup lama mereka dalam kondisi seperti itu sampai akhirnya Naruto memecah keheningan. "Senpai?" tanya Naruto yang heran dengan kediaman Shikamaru. Dia tahu Shikamaru memang pemalas, bicarapun malas tapi tidak biasanya senpainya itu mendiamkan kesalahannya seperti ini.

"Aku hanya tidak ingin kau menjadi seperti yang lainnya…." Lirih Shikamaru hampir seperti bisikan. Tatapan matanya seperti melihat sesuatu yang tembus pandang.

"Hah? Apa yang kau katakan barusan, Senpai?"

"Ck. Tidak ada" setelah mengatakan itu Shikamaru melenggang pergi meninggalkan Naruto dan tanda tanya besar di kepalanya.

Naruto tidak mendengar apa yang dikatakan Shikamaru padanya tapi, tidak dengan Hinata yang mendengarnya cukup jelas karena ia berada tepat disamping Shikamaru. Tapi mendengar itupun tidak membantu sama sekali karena sekarang timbul rasa penasaran dengan apa maksud dari Shikamaru. Apa maksudnya 'seperti yang lainnya'? Hinata tidak tahu apa itu tapi sepertinya itu bukan hal yang baik. Ia takut, sebuah rasa takut muncul entah karena apa dan itu membuatnya tidak tenang.

Diliriknya Naruto yang kembali fokus pada bukunya, "Naruto-kun…." Bisik Hinata dalam Hati. "Apa yang akan terjadi?"

TBC

Huaa… Maaf… Maaf… baru sempat update lagi soalnya ada masalah ini dan itu… #Hehehe

Selanjutnya saya usahakan tidak akan terlalu lama updatenya deehhh…

Dan MAAF! MAAF! MAAAAAFF! karena tidak sempat balas Review. Tapi, yang sudah Review terimakasih banyak karena sudah mau singgah ditempat saya yang kumuh ini #AmbilSapu #Nyapu-Nyapu. Karena Itu sekali lagi… #GarukGarukKepala

TOLONG TINGGALKAN JEJAK MU (^_^)V