©Angelsoo Proudly Present
LONG TIME COMING (REMAKE)
Chapter 3
-Do Kyungsoo, Park Chanyeol, dan Oh Sehun-
Rated T-M
Warn : Do Kyungsoo GS!; Remake; OOC; ypo(s); DON'T BASH PLEASE!
Genre : Romace, Family
Desclaimer : All characters belong to their agency; original story belongs to Sandra Brown
.
.
Chanyeol mencengkeram lengan atas Kyungsoo. "Aku akan mengantarmu ke mana pun juga."
"Kau tidak perlu melakukannya."
"Kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Enak saja," sergah Chanyeol, mendekatkan wajahnya hingga hanya terpaut beberapa senti dari wajah Kyungsoo. "Kau baru saja memberitahuku bahwa aku punya seorang anak remaja. Aku akan menempel terus padamu sampai aku mendapatkan jawaban. Sekarang, untuk terakhir kalinya, aku akan mengantarmu," putusnya sopan.
Kyungsoo bisa saja berontak, tapi pria itu mencengkeramnya kuat-kuat saat mereka menuruni tangga. Konyol rasanya untuk terus berdebat tanpa ada kemungkinan untuk menang. Selain itu, Kyungsoo juga merasa bahwa sudah saatnya Chanyeol diberi penjelasan. Jadi meski harga dirinya sedikit tersinggung, Kyungsoo ikut dengan patuh.
"Kunci rumahmu," ujar Chanyeol padanya. "Kau tidak punya sistem alarm untuk mencegah pencuri?"
"Tidak."
"Seharusnya kau memasangnya. Rumah ini besar, mudah didobrak pencuri dari mana saja." Chanyeol mengantar Kyungsoo hingga pintu depan dan menuju trotoar tempatnya memarkir mobil Porschenya.
Begitu Kyungsoo sudah duduk di kursi penumpang, Chanyeol mengitari kap mobilnya yang rendah dan panjang, dan duduk di belakang kemudi.
"Lewat mana?"
Kyungsoo memberinya nama-nama jalan serta jalan tol yang harus diambil pria itu. Tidak lama kemudian mereka sudah berada di jalan tol. Kyungsoo mencengkeram ujung kursinya kuat-kuat. Pria itu menyetir mobilnya bagai roket. Mata Chanyeol yang lebih sering memperhatikannya daripada memperhatikan jalanan tidak membuat Kyungsoo merasa lebih lega.
Kyungsoo akhirnya berkomentar setelah merasa sudah cukup lama menahan diri dari tatapan tajam Chanyeol, "Kau sedang melihat apa ?"
"Kau. Kau begitu mungil. Kau tidak kelihatan bisa mengandung seorang anak. Dan—" Chanyeol menggelengkan kepalanya dengan bingung "rasanya aneh karena aku tidak ingat pernah tidur denganmu." Mata pria itu tertuju ke mulutnya, kemudian ke tulang ramping lehernya, lalu ke dadanya, hingga ke pangkuannya.
Tatapannya yang begitu intens membuat Kyungsoo merasa telanjang. Ingin rasanya ia menutupi dirinya dengan kedua tangannya.
"Aku pasti sedang mabuk berat," ujar Chanyeol parau. "Kalau tidak, kurasa aku akan ingat pernah berhubungan intim denganmu."
"Aku tidak pernah... aku tidak pernah tidur denganmu." Kyungsoo menegakkan kepalanya dan memandang ke kaca jendela yang gelap, merasa terlalu Iemah untuk bertatapan mata dengan pria itu dan berpikir minimal salah satu dari mereka harus memperhatikan jalan.
"Sehun bukan anakku."
"Kalau begitu—"
"Sehun anak Baekhyun, kakakku. Kau dan dia..." Kyungsoo mengangkat bahu dengan kikuk dan melirik pria itu sekilas sambil tersenyum datar. "Kita keluar di jalur keluar berikutnya. Sebaiknya kau bersiap memasuki jalurnya."
Chanyeol melakukannya, menyalip sebuah mobil roti. Pengemudinya langsung menekan klaksonnya sekuat tenaga dan mengumpat dengan kasar. Chanyeol tidak mengindahkan tanda berhenti di ujung jalur yang melandai dan langsung berbelok dengan gigi tiga.
"Jadi ceritanya kakakmu itu hamil olehku, begitu?"
"Bukan ceritanya. Dia memang hamil olehmu. Kisah cinta di musim panas."
"Musim panas yang mana?"
"Kau baru saja lulus dari Akademi Angkatan Laut dan akan mulai bertugas."
Tiba-tiba Chanyeol menjadi defensif dan berang. "Dari mana kau tahu bahwa Sehun anakku?"
Kyungsoo menatapnya dengan tajam.
"Oke, oke, aku mengakui bahwa dia memang sedikit mirip denganku. Tapi itu tidak membuktikan apa-apa."
"Aku tidak perlu membuktikannya," tukas Kyungsoo. "Kau mau percaya atau tidak, sama sekali bukan masalah bagiku. Belok kanan di pojok itu."
Dengan tidak sabar Chanyeol menunggu lampu hijau, lalu memacu mobilnya bagai kuda liar yang baru dilepaskan dari jeratnya.
"Itu panti wredanya," ujar Kyungsoo dengan lega saat mereka tinggal terpaut satu blok.
"Kau bisa menurunkanku di pintu samping. Aku punya kuncinya supaya aku bisa menjenguk ibuku kapan pun aku mau."
Panti wreda itu merupakan bangunan sederhana yang didanai oleh sebuah gereja, pemandangannya indah dan stafnya sangat berkualitas. Stroke yang diderita Nyonya Do tidak membuatnya lumpuh total namun cukup lemah hingga membutuhkan pengawasan sepanjang hari. Menitipkan ibunya di rumah perawatan merupakan keputusan berat bagi Kyungsoo, apalagi menyadari umur ibunya takkan panjang.
Ketika Chanyeol menghentikan mobilnya di pintu samping, Kyungsoo membuka pintu mobil dan menjejakkan sebelah kakinya di tanah. Ia menengok ke belakang dan berbicara pada Chanyeol. "Aku tidak tahu siapa yang mengirimimu semua surat tentang Sehun, tapi yang pasti bukan aku. Aku tidak pernah berpikir untuk memberitahumu tentang Sehun maupun sebaliknya. Aku tidak butuh apa-apa darimu, apalagi uang. Jadi kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan dan biarkan aku mengerjakan pekerjaanku dan anggap saja hari ini tidak pernah terjadi. Terima kasih atas tumpangannya."
Ia melangkah keluar. Di pintu rumah perawatan, sementara ia bergumul dengan kunci yang biasanya dapat dibukanya dengan mudah, Kyungsoo ingin menoleh dan berlama-lama memandangi pria itu untuk yang terakhir kalinya.
Sudah tujuh belas tahun ia tidak bertemu dengan Chanyeol. Ia ingat pria itu melambaikan tangannya pada mereka, lalu berbalik dan berlari menyusuri pantai, tampak seperti seorang putra dewa matahari yang muda dan bersemangat, tampak keemasan dan tampan serta ditakdirkan untuk meraih ketenaran. Saat itu hatinya yang hancur diam-diam mengucapkan selamat tinggal pada pria itu.
Kali ini ia tidak melakukannya. Ia tidak mengizinkan dirinya menoleh ke belakang sebelum memasuki bangunan yang steril itu.
Kyungsoo tinggal di kamar ibunya sampai satu jam lebih. Selama itu Nyonya Do lebih sering tidur, hanya sesekali menggumamkan kata-kata yang tidak jelas pada Kyungsoo.
Dengan sedih Kyungsoo meninggalkannya. Ketika ia keluar dari kamar, Chanyeol sedang berjalan mondar-mandir di lorong. Para perawat di meja perawat di ujung lorong memperhatikannya dengan penuh minat, tapi lantai yang mengilap adalah satu-satunya yang dilihat oleh Chanyeol, yang terus berjalan seperti seekor singa dalam kurungan.
"Kau masih di sini?" tanya Kyungsoo. Emosinya terkuras setelah menunggui ibunya. Melihat Chanyeol semakin membuatnya marah.
"Kau mau pulang naik apa?"
"Naik taksi."
Chanyeol menggelengkan kepalanya dan menuntun Kyungsoo ke pintu keluar terdekat. "Di kota ini taksi tidak dapat diandalkan. Kau seharusnya tahu itu."
Beberapa menit kemudian mereka sudah kembali berada di dalam Porsche, termenung dan merenungi tujuh belas tahun yang berlalu di antara mereka.
"Bagaimana keadaan ibumu?"
"Tidak baik."
Setelah terdiam beberapa saat Chanyeol berkata, "Aku ikut prihatin."
"Mereka terus memberinya obat untuk meminimalkan akibat dari stroke-stroke ringan yang terus-menerus dideritanya. Ibuku sering sekali merasa pusing. Saat ibuku bisa berpikir jernih, dia selalu membicarakan ayah dan kakak. Ibuku juga sering menangis."
"Di Naksan, kan?"
"Maksudmu tempat kita bertemu dulu?"
"Di pantai, kan?"
"Ya," ujar Kyungsoo, bertanya-tanya seberapa banyak yang dapat diingat pria itu.
"Pondok yang disewa keluargaku saat itu dekat dengan pondok yang disewa keluargamu." Chanyeol menyipitkan matanya ke arah jendela lalu bergumam, "Kalian berdua, Kakak-beradik."
"Kakakku, Baekhyun, dan aku, Kyungsoo."
"Baekhyun dan Kyungsoo. Ya, aku ingat sekarang. Kakakmu sangat cantik."
Kyungsoo menganggukkkan kepalanya sedikit. "Betul."
"Saat itu kau masih kecil."
"Empat belas tahun."
"Dan ayahmu seorang pendeta, kan? Aku ingat kita harus mengendap-endap untuk minum bir."
"Kau membujuk Baekhyun untuk ikut minum."
Chanyeol tertawa. "Tapi kau tidak mau. Dia selalu menyebutmu sok alim."
"Aku memang tidak suka bertualang seperti kakakku."
Chanyeol merenungkan kata-katanya beberapa saat, lalu berkata, "Kalau kakakmu tidur denganku, dia mungkin tidur juga dengan banyak pria lainnya."
"Dia baru berumur enam belas tahun saat itu. Kau adalah pria pertama."
"Enam belas? Enam belas?" ulang Chanyeol, wajahnya berubah kelabu. "Aku kira umurnya sudah Iebih dari enam belas."
"Dia memang tampak lebih dewasa dari usianya," ujar Kyungsoo pelan.
"Memang. Tingkah Iakunya juga. Jauh sebelum aku bertemu dengannya tingkah laku kakakmu sudah tidak seperti anak umur enam belas tahun lagi. Aku ingat busungan dada di balik bikininya. Yang pasti tubuhnya sama sekali bukan tubuh anak remaja lagi."
"Aku tidak memperdebatkan hal itu," sergah Kyungsoo. Entah mengapa ia merasa kesal karena Chanyeol ingat tubuh kakaknya yang padat berisi. Tentu saja hal itu tidak membuatnya terkejut, hanya saja ia berharap pria itu berhenti membahasnya.
"Tapi itulah usianya yang sebenarnya, enam belas tahun. Dan hamil di minggu pertama kelas 1 SMA bisa berakibat fatal, apalagi kalau ayahmu seorang pendeta ternama dalam masyarakat."
Chanyeol berbelok ketempat parkir sebuah kafe yang terang-benderang. "Tampaknya kau perlu minum."
"Aku lebih suka kau mengantarku pulang."
"Dengar," tukas Chanyeol dengan kesabaran yang mulai menipis, "kau terguncang dan sedih. Apa kau tidak merasa minum secangkir kopi dapat membuatmu merasa lebih enak? Demi Tuhan, aku tidak akan mengajakmu mabuk-mabukan dan tidur denganku. Apa kau masih sok alim seperti dulu sampai tidak mau minum kopi dengan seorang pria?"
Tanpa menunggu jawabannya, Chanyeol melangkah keluar, membanting pintu mobilnya, Pria itu memutari mobilnya ke pintu penumpang.
Ia melihat para pelayan langsung mengenali Chanyeol ketika mengantar mereka ke kursi pojok. Bisikan dan pekik-pekik kecil mengikuti mereka seperti gelombang. Kyungsoo langsung duduk di kursinya.
"Apakah ini selalu terjadi ke mana pun kau pergi?"
"Apa?" Chanyeol menatapnya dengan bingung. "Oh, maksudmu tingkah laku orang-orang itu? Acuhkan saja."
Kyungsoo berusaha melakukannya, tapi hal itu bukanlah sesuatu yang mudah karena ia sendiri juga sedang diperhatikan dengan cermat seperti halnya Chanyeol.
Ketika pelayan mendekati meja mereka sambil memberikan daftar menu dan meminta tanda tangan Chanyeol, pria itu memberikannya sambil memesan dua cangkir kopi.
"Jadi, apa yang dilakukannya?" Chanyeol bertanya segera setelah pelayan yang kegirangan itu pergi.
"Siapa?"
"Kakakmu. Apa yang dilakukannya saat dia tahu dia hamil?"
"Oh, dia, eh..." Kyungsoo menundukkan kepalanya. "Dia ingin menggugurkannya."
Dari seberang meja ia dapat merasakan reaksi Chanyeol. Tubuh pria itu menegang. Ia melihat tangan Chanyeol mengepal.
"Kenapa dia tidak melakukannya?"
Kyungsoo merasa sulit membicarakan hal ini. Saat itu merupakan saat paling menggemparkan dalam keluarganya. Saat itulah mereka mulai tercerai-berai. Setelah itu mereka tak lagi menjadi orang yang sama.
"Baekhyun menceritakan rencananya padaku" ujar Kyungsoo pada pria itu setengah berbisik. "Suatu malam setelah makan malam kakakku bilang dia perlu bicara denganku. Dia bilang padaku bahwa dia hamil. Dia takut. Hal itu membuatku takut karena aku belum pernah melihatnya begitu kacau karena apa pun juga. Kami terjaga sepanjang malam, menangis bersama, memikirkan apa yang harus kami lakukan. Kami tidak mungkin mencarimu. Kau bergabung dengan Angkatan Laut, dan kami pikir kau juga takkan peduli. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Tapi aku tidak menyangka dia mau menggugurkannya, membuang bayinya seperti sampah. Bagaimanapun juga, itu kan seorang bayi, bayimu."
Kyungsoo terdiam, menatap mata Chanyeol, lalu kembali melanjutkan. "Aku tidak tahan memikirkannya. Dan aku tahu Ibu dan Ayahku Iebih suka memiliki anak tidak sah itu daripada menggugurkannya begitu saja."
"Jadi kau membeberkan rencana kakakmu pada mereka," ujar Chanyeol.
"Ya. Mereka melarangnya. Kakakku sangat marah pada kami semua. Kehamilannya yang berlangsung selama sembilan bulan sama sekali tidak menyenangkan. Kemudian, lahirlah Sehun" tambah Kyungsoo sambil tersenyum sayu, "dan kami semua menyayanginya."
"Bahkan kakakmu juga?" Senyumnya mengambang. "Dia akhirnya menyayangi Sehun. Anak itu begitu menggemaskan dan tampan, tidak mungkin tidak menyayanginya."
Chanyeol menatap Kyungsoo, merasa masih ada yang belum diceritakan wanita itu, tapi kopi yang mereka pesan sudah datang, membuat Kyungsoo menghentikan ceritanya.
Saat pelayannya pergi, Chanyeol bertanya, "Mengapa Sehun tidak bersama Baekhyun sekarang?"
"Kakakku sudah meninggal."
Chanyeol terpana saat menatap Kyungsoo.
"Waktu Sehun masih umur empat tahun."
Chanyeol menghirup kopinya. "Apa yang terjadi?"
"Kecelakaan mobil. Orang tuaku sangat berduka. Ayah terkena serangan jantung dan meninggal di tahun yang sama. Sejak saat itu tinggal Ibu, Sehun dan aku."
"Musim panas itu mengubah seluruh hidup kalian."
"Kurasa begitu, memang," Kyungsoo mengiyakan dengan sedih.
"Saat itu merupakan musim panas yang menyenangkan bagiku. Orang tuaku ingin aku menikmati liburanku."
"Aku ingat mereka. Jelas sekali betapa mereka sangat bangga padamu. Kau lulusan terbaik di angkatanmu. Omong-omong, selamat ya, karena berhasil mewujudkan cita-citamu dan menjadi astronot."
"Dari mana kau tahu itu cita-citaku?"
"Kau yang mengatakannya padaku. Suatu sore ketika kakaku sedang berjemur, kau dan aku sedang berselancar di laut. Waktu itu kau bilang padaku bahwa kau ingin melanjutkan ke sekolah penerbangan Angkatan Laut untuk menjadi pilot penguji, lalu kau ingin melamar program astronot. Aku begitu bangga waktu membaca surat kabar dan melihat kau telah diterima. Aku merasa... yah, aku merasa mengenalmu."
Chanyeol tersenyum, namun tiba-tiba senyumnya lenyap. "Aku tidak pernah memikirkan musim panas di Naksan itu selama bertahun-tahun. Cara yang hebat untuk ingat lagi," gerutunya, memberi tanda pada pelayan untuk mengisi kembali cangkir kopi mereka.
Kyungsoo menghirup kopinya dengan pelan, masih merasa rikuh oleh tatapan mata para tamu lain di sekeliling mereka.
"Aku selalu pakai kondom."
Kopi panas tumpah di atas tangan Kyungsoo, membuatnya melepuh dan membanjiri tatakan cangkirnya. Ia terenyak. "Apa?"
Dengan tenang Chanyeol mengambil dua lembar serbet dari wadahnya di meja dan menggunakan keduanya untuk menyerap tumpahan kopi di tatakan cangkir Kyungsoo. "Tanganmu melepuh?"
"Tidak apa-apa," Kyungsoo berdusta, bertanya-tanya apakah ia berani meminta mentega pada pelayan.
Namun ia tidak perlu melakukannya. Chanyeol memanggil pelayan itu dan meminta mentega.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa kok, sungguh," elak Kyungsoo ketika pelayan dengan cepat kembali dengan piring berisi bongkahan mentega besar bagi teman kencan Park Chanyeol yang dengan ceroboh telah menumpahkan kopi di tangannya sendiri.
"Terima kasih," ujar Chanyeol pada pelayan sambil tersenyum mengusir.
"Aku bisa melakukannya sendiri," ujar Kyungsoo. "Sungguh, untuk apa ribut-ribut soal— "
"Kemarikan tanganmu."
Kyungsoo menjulurkan tangannya yang melepuh merah. Dengan dua jari Chanyeol mencolek mentega dan mengusapkannya ke luka yang melepuh itu.
"Setiap kali aku tidur dengan seorang wanita, aku pakai kondom," ujarnya pelan. "Selalu."
Jari-jari Chanyeol meluncur di sela jari Kyungsoo, mengolesi mentega ke lekuk yang sangat sensitif. Kyungsoo nyaris terlonjak dari kursinya.
"Pemerintah harusnya memberimu penghargaan." Suara Kyungsoo sama sekali tidak terdengar normal. Luka itu membuat suaranya serak dan parau. Atau mungkin sentuhan Chanyeol yang membuatnya begitu.
Saat jari-jari pria itu terus meluncur di antara jari-jarinya, Kyungsoo bergerak-gerak di tempat duduknya dan menggigit bibirnya supaya tidak mengerang nikmat. Sentuhan Chanyeol juga membuat bagian bawah tubuhnya bergetar dan menggelitik payudaranya.
"Waktu aku tidur bersama Baekhyun, AIDS belum banyak dibicarakan orang," lanjutnya. "Aku selalu pakai kondom untuk mencegah kehamilan. Aku takkan berhubungan intim dengan seorang gadis yang kutemui di pantai Naksan tanpa pakai kondom."
Pijatan tangan Chanyeol begitu memabukkan hingga bisa membuat Kyungsoo meleleh akibat rasa nikmat. Panas tubuh mereka berdua tampaknya dapat mencairkan mentega di kulitnya. Dengan enggan Kyungsoo menarik tangannya dari pria itu.
"Berarti kau masih belum percaya Sehun adalah anakmu."
"Coba kaupikir," tukas Chanyeol, mencondongkan tubuhnya ke meja. "Sebelum hari ini, aku bahkan tidak tahu bahwa dia ada. Apa kau mengharapkan aku langsung menerima penjelasanmu mentah-mentah?"
"Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, Kolonel Park," ujar Kyungsoo dingin. "Aku sudah mengatakannya di pintu panti tadi."
"Tapi aku bukan tipe pria yang bisa begitu saja bersikap tidak peduli saat mendengar bahwa aku mungkin punya seorang anak. Wajar saja kalau aku jadi emosi, karena hal ini benar-benar mengejutkan. Begini saja. Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan, jawablah dengan jujur."
Kyungsoo mendorong cangkir dan tatakannya ke samping dan menaruh lengannya di atas meja, memberi udara pada tangannya yang luka. "Tanya saja. Apa yang ingin kau ketahui?"
"Mana mungkin Sehun anakku kalau aku sudah berhati-hati seperti itu?"
"Kau tidak menggunakannya."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya, alisnya berkerut tajam. "Apakah itu semacam permainan? Si kakak yang main sementara adik kecilnya boleh menonton?"
Kyungsoo merenggut tasnya dan langsung bergeser ke ujung bangku.
Chanyeol meraih lengannya. "Maaf. Ucapanku tidak pantas."
Kyungsoo berusaha merenggut lengannya tapi mata pria itu menahannya.
"Ayolah, Kyung."
Mungkin karena mendengar pria itu menyebut namanya untuk pertama kalinya setelah tujuh belas tahun, atau mungkin karena Kyungsoo merasa perlu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya setelah sekian lama. Entah untuk alasan yang mana, ia kembali duduk di kursinya.
"Aku bisa mengerti kalau kau menganggap rendah kakakku," ujarnya kaku. "Tapi tidak sepantasnya kau menghinaku."
"Aku kan sudah minta maaf, dan aku benar-benar menyesal. Oke?"
Kyungsoo mengangguk lemah.
"Jadi bagaimana kau tahu apa yang terjadi?"
"Kakakku bilang padaku kalau kau tidak punya... bahwa kau... tidak punya persediaan suatu malam. Menurutnya, keadaan sudah Iumayan, eh, panas." Kyungsoo menatap Chanyeol dengan tatapan bertanya.
"Aku mengerti. Teruskan."
"Dia tidak mau kau berhenti, jadi dia berbohong padamu. Dia bilang padamu kalau dia minum pil KB."
Chanyeol menerawang sesaat, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingat."
"Kau minum bir sepanjang hari."
"Kalau begitu mungkin kejadiannya memang seperti itu."
"Kolonel Park, aku—"
"Kenapa sih kau tidak memanggilku Chanyeol saja?"tanyanya kesal. "Aku ingat pernah bergulat denganmu dipasir dan mengoleskan losion di punggungmu untuk berjemur. Makanya panggil aku Chanyeol, oke?"
Pria itu ingat. Meskipun hanya sedikit. Mengetahui hal itu membuat Kyungsoo sangat gembira. Chanyeol mungkin cuma bisa mengingatnya secara samar, tapi minimal kenangan itu masih ada.
"Tidak penting apakah Sehun anakmu atau bukan," bisik Kyungsoo. "Hidup kita bisa terus berlanjut seperti biasa."
"Kau melupakan satu hal yang penting, Kyungsoo."
"Apa?"
"Surat-surat itu."
Kyungsoo mengangkat tangannya dengan pasrah. "Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa bukan aku yang menulisnya?"
"Kalau benar begitu berarti masalahnya lebih besar."
"Aku tidak melihat—"
"Kalau bukan kau, berarti orang lain yang menulisnya."
Memikirkannya dari sudut itu membuat alis Kyungsoo berkerut prihatin. "Aku mulai mengerti maksudmu."
"Kau bilang kau tidak meminta apa pun dariku."
"Memang tidak."
"Tapi siapa pun yang menulis surat itu meminta sesuatu dariku. Dan itu berarti Sehun berada dalam bahaya yang sama seperti aku."
"Kau tidak berpikir seseorang. berniat mencelakainya, kan?"
"Aku tidak tahu. Mungkin tidak. Tapi mungkin ya."
Kyungsoo menggigiti bibir bawahnya. "Apa yang harus kita lakukan?"
"Aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Hanya saja kau perlu waspada sementara kita mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini. Menurutmu siapa?"
"Entahlah. Sehun mirip sekali denganmu, tapi orang baru akan menyadarinya kalau kalian berdiri berdampingan."
"Bagaimana dengan dokter yang membantu kelahirannya? Mungkinkah dia memerasku?"
"Aku tidak tahu. Kami pindah jauh dari pemukiman itu dan sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar kabarnya. Lagi pula, dia tidak tahu siapa ayah bayi kakakku."
"Mungkinkah kakakmu menceritakan pada sahabatnya?"
"Kurasa tidak, tapi siapa tahu. Menurutmu ada orang yang tahu dan begitu kau menjadi terkenal, mereka ingat dan memutuskan untuk memerasmu?"
"Teoriku sih begitu." Chanyeol memperhatikan kopinya sesaat, berdeham, lalu tanpa tedeng aling-aling berkata, "Panti wreda tempat ibumu tinggal tampaknya mewah."
"Panti itu dijalankan oleh gereja tempat Ayahku bergabung. Mereka memberi potongan harga bagi janda pendeta... jadi sebaiknya hentikan pikiran burukmu saat ini juga."
Chanyeol langsung menegakkan kepalanya.
Kyungsoo memelototinya dengan tajam. "Keadaan tidak selalu mudah," ujar Kyungsoo dengan kemarahan yang ditahan, "tapi aku bisa memenuhi kebutuhanku maupun Sehun. Kami sama sekali tidak kaya. Dia tidak bisa mendapatkan semua yang diinginkannya, dan karena itu saat melihat benda-benda mewah dia lebih heboh dari teman-teman sebayanya. Tapi kami bukan orang melarat. Dia tidak pernah kekurangan makan, rumah, ataupun pakaian, dan yang terpenting, dia tidak kurang kasih sayang."
"Aku hanya—"
"Diam dan dengarkan aku," perintah Kyungsoo, mengejutkan mereka berdua dengan kegarangannya. "Aku menyayangi Sehun. Sehun menyayangiku. Sejauh ini yang kau pikirkan hanyalah bagaimana akibatnya terhadapmu kalau hal ini sampai terungkap. Seandainya memungkinkan, coba pikirkan bagaimana akibatnya terhadap Sehun. Dia sedang berada dalam usia yang peka, sangat mudah terpengaruh. Dia anak yang hebat. Aku tidak mau terjadi apa pun yang dapat merusak cara pandangnya terhadap kehidupan, termasuk mengetahui bahwa ayahnya adalah astoronot hebat yang hanya tidur dengan wanita kalau dirinya sudah memakai kondom, dan yang menyetir seperti orang gila. Kalau kau melakukan atau mengatakan apa pun yang dapat mencelakai Sehun, kau akan berhadapan denganku, Kolonel Park." Kyungsoo mendengus. "Tolong antar aku pulang sekarang!".
.
.
TBC
.
.
A/N : Karena ini hanya nge-remake karya orang jadi versi chansoohun, saya akan merasa bersalah kalau harus membuat readers nunggu lama. Setelah dilanjut semoga masih ada yang suka. Jujur, menurut saya gregetnya itu dimulai di chapter 5. Hehehehe tapi gak tahu kalau menurut kalian.
.
Mind to review?
.
Deepbow, muach
Angelsoo
08012017
