Disclmers : Naruto punya Mashasi Kisimoto selalu, saya hanya minjem Sasuke sama Hinata doank

Pairing :Sasuke x Hinata

Slight :Sasuke x Karin, Hinata x Sai, Naruto x Sakura

Warning :AU,OOC,Miss-typo,Alur cepat,Language dan EYD berantakan

With You The First Time by Ay Shi Sora-Chan

Don't Like Don't Read

.

.

.

Chapter Kemarin

"Hinata-chan, kenapa banyak sekali halamannya yang ditandai?"

"Eh? I-itu…soalnya aku i-ingin berkencan dengan Sasuke-kun" lirih Hinata.

"Apaaaa?" ujar Ino-chan berteriak.

"A-ano…Ino-chan, ja-jangan teriak-teriak begitu, semuanya jadi te-terganggu" Ujar Hinata yang merona Malu saat di pandangi dengan tatapan menyelidik ingin tau dari teman-teman sekelasnya karna terganggu dan heran akan teriakan Sahabatnya, Ino-chan.

"Eh...iya, gomen ne menganggu" ujar Ino-chan melihat ke teman-teman yang ada di kelasnya. Dengan sikap penuh salah tingkah, karna berteriak tidak jelas di pagi-pagi begini.

"Jadi…apa itu benar?" Tanya Ino-chan penasaran.

Hinata yang memang dari awal sudah memerah wajahnya karna malu hanya dapat mengangguk mengiyakan menjawab pertannyaan sahabatnya itu.

"Apa Sasuke yang mengajakmu?"Tanya Ino-chan dan dijawab Hinata dengan anggukan lagi.

"Uwaaahhh...akhirnya keinginanmu terwujud, Hinata-chan"

"I-iya"

"Kau harus berdandan secantik mungkin Hinata-chan, inikan kencan pertamamu. Kamu pasti senang sekali sekarang, beda dengan waktu itu"

"I-iya, selain itu, aku juga sangat senang karena Sasuke-kun yang menggajakku"

'Apakah kencannya akan berjalan seperti yang ku harabkan?'

Yang paling membuatku senang bukanlah tempat yang akan kami tuju, tapi kebersamaan kami.

Saat ini juga…

Aku ingin merenda hari-hari bahagia bersama Sasuke…

.

.

.

*WITH YOU THE FIRST TIME*

"Ma'af, Hinata"

"Eh? A-ada apa? Ka-kamu bolos ekskul basket?" ujar Hinata heran, Sasuke menemuinya di kelas, mengajaknya pergi kebelakang sekolah dan langsung berkata maaf kepadanya.

"Tidak, tim basket kami ada pertandingan basket dadakan. Sebenarnya…pertandingan ini harusnya dilaksanakan 3 bulan kedepan. Tapi karena suatu hal, pertandingannya diajukan bulan ini"

"Kata meneger tim kami, kami tidak boleh libur sampai pertandingan selesai"

Hinata terkejut akan pemberitahuan dadakan ini dari Sasuke.

"Eh? Jadi… ke-kencanya ba-bagaimana?"

"Aku tidak tahu kapan bisa pergi. Maaf, ya"

Hinata tak percaya ini, kencan pertama yang diinginkannya selama ini tak kan pernah terjadi…

Sekilas angan-angan yang ku bayangkan nanti saat akan kencan muncul.

'Nanti pergi kemana, ya?'

'Ketaman hiburan atau bioskop?'

'Atau pergi piknik dan membawa bekal makanan?'

'Sasuke mungkin akan menyukainya.'

Bayangan akan dirinya duduk dibawah pohon dengan memakan bekal yang dibuatnya secara khusus untuk Sasuke. Duduk berdua, sambil menikmati kesejukkan angin yang berhembus sepoi-sepoi dan bercanda ria bersama.

Semuanya hancur…

Hancur sudah rencana kencan pertama yang selalu di idam-idamkannya Hinata. Hinata sungguh merasa kecewa akan hal ini, padahal dia selalu mengharabkan kebersamaan mereka.

"Oh…apa boleh buat" ujar Hinata sendu.

"Maaf."

"Ti-tidak usah minta maaf, ini kan bukan salah Sasuke" ucap Hinata sambil menunduk, menyembunyikan segala rasa kekecewaan hatinya serta air mata yang sudah tergenang dipelupuk matanya. Melihat itu Sasuke hanya bisa diam sambil menggulangi mengucapkan maaf kepada Hinata.

"Maaf, Hinata"

"Ti-tidak usah minta maaf" ujar Hinata yang mulai menangis, Hinata menangkubkan kedua tangganya pada wajahnya, agar Sasuke tidak bisa melihat air mata yang turun dikedua pipinya.

"Hinata, aku minta maaf. Kamu marah, ya? Aku…tidak peka soal ini." Ujar Sasuke yang mulai khawatir saat mendengar isak tangis tertahan dari Hinata.

"Selama ini kamu selalu menahan diri, ya? Katakanlah apa yang ingin kau katakan. Tidak usah menahan diri"

"Aku ingin mendengar semuanya sekarang!" ucap Sasuke bersungguh-sungguh.

Hinata yang mendengar apa yang diucapkan Sasuke pun mendongak untuk menatab Sasuke. Melepaskan kedua tangannya dari wajahnya. Memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan beruraian air mata.

'Banyak yang ingin kukatakan'

'Kirimlah email walaupun kamu tidak begitu menyukainya.'

'Aku ingin pulang berdua saja. Aku ingin lebih sering mengobrol denganmu.'

'Apa kamu tidak bisa libur sehari saja, agar bisa pergi denganku?'

'Apa kamu bohong waktu kamu bilang sangat menantikan kencan kita?

Tapi…

'Kalau aku mengatakannya, apa kamu akan membenciku?'

'Mengapa hubungan kita tidak berjalan lancar.' Walaupun aku berfikir seperti itu, aku takut mengucapkannya.

Padahal…

Aku hanya ingin bicara dan tertawa bersama Sasuke.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku menangis dihadapan seorang pria, apalagi pria itu adalah pacarku yang pertama.

"Maaf" ucap Sasuke yang tidak tahu lagi harus berkata apa melihatku menangis dihadapannya.

Aku iri kepada teman-temanku yang punya pacar.

Kukira…

Asal perasaan kami sama, kami akan menjalani hari-hari yang indah. Seperti yang selalu kuingin-inginkan. Tapi kenyataanya berbeda. Ada hal yang lebih menyakitkan ketimbang cinta yang tak terbalas.

.

.

*WITH YOU THE FIRS TIME*

"Ohayou, Hinata."

DHEG

"Soal kemarin, aku…" belum sempat Sasuke melanjutkan ucapannya Hinata sudah berbalik memunggunginya dan pergi begitu saja. Tak menghiraukan sapaan dari Sasuke. Hinata meninggalkan Sasuke yang termangu ditempatnya, terdiam mematung melihat kepergiannya. Sasuke terdiam…

.

Di kelas Hinata hanya diam saja, menatap kedepan dengan pandangan kosong kearah papan tulis. Walaupun pandangan Hinata melihat papan tulis, dia sama sekali Tak menghiraukan penjelasan Kakashi-sensai yang menuliskan atau mencoret-coret rumus-rumus kimia didepan sana.

Hal itu menimbulkan tanda tanya diwajah sahabatnya, Ino. Yang duduk sebangku dengannya. Padahal baru kemarin Hinata dengan malu-malu mengatakan bahwa dia akan kencan dengan Sasuke untuk pertama kalinya. Harusnya pagi ini dia bahagia bukan? Sama dengan perasaannya kemarin.

Tapi entah mengapa, wajah sahabatnya ini malah menunjukkan ekspresi sebaliknya. Tak ada semburat merah lagi atau bahkan senyum manis yang ditampilkannya saat dia kembali masuk kedalam kelas. Hanya ada wajah murung dan sedih yang terpancar dari raut mukanya.

'Ada apa dengan Hinata-chan? Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya, dia kelihatan kecewa.'

Pelajaran Kakashi-sensai telah usai dan Hinata masih saja terlihat murung. Ino pun menyenggol tangan Hinata agar dia melihat kearahnya.

"Ada apa, Ino-chan?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Hinata. Ada apa denganmu? Tak biasanya kau tak berkonsentrasi pada pelajaran."

"Aku tidak apa-apa, Ino-chan"

"Jangan bohong, aku bisa melihat kau sedang tak baik-baik saja"

"Aku tak bohong, Ino-chan. Aku baik-baik saja" ujar Hinata menyakinkan sahabatnya, Ino sambil tersenyum sedikit dipaksakan.

"Baiklah, bila kau tak mau cerita saat ini. Tapi jangan pasang wajah muram begitu dong…Hinata-chan"

"Kau terlihat tidak cantik lagi kalau begitu" ujar Ino menghibur.

Hinata tersenyum tulus mendengar penuturan Ino. "Kau bisa saja, Ino-chan"

"Ahahaha… akhirnya kau tersenyum lagi. Kau terlihat sangat cantik bila tersenyum seperti itu, jangan murung lagi, ok?"

Hinata mengganguk mengiyakan sebagai jawabanya.

"Begitu dong… itu baru namanya sahabatku" ujar Ino sambil merangkul Hinata.

"Nanti jam istirahat temenin aku makan dikantin, ya? Aku gak bawa bekal nih…"

"Iya, Ino-chan pasti tadi bangunnya telat lagi kan?"

"Ehehehe…iya, tadi aku bangunya kesiangan. Sampai lupa tak membawa bekal"

"Tapi aku gak telat loh… berangkat kesekolahnya"

"Emm…benarkah?"

"Iya, aku datangnya pas detik-detik terakhir dan langsung nyerobot masuk saat gerbang mau ditutup. Telat satu detik aja mungkin aku gak boleh masuk" ujar Ino curhat.

"Ino-chan, mulai sekarang jangan terlalu malam tidurnya" ujar Hinata menasehati.

"Siap bosss…" ucap Ino sambil memberi hormat ala tentara.

Hinata hanya tersenyum melihat Ino yang ceria seperti ini. Seakan-akan tak pernah ada beban yang menghampirinya.

.

Jam istirahat pun datang dengan cepatnya. Tak terasa jam pelajaran kedua telah usai. Hinata dan Ino membereskan semua alat tulis serta buku-bukunya kedalam sorokan meja.

"Hinata-chan, ayo kekantin"

"Iya"

Mereka berdua pun keluar dari kelas menuju kantin sekolah, suasana dikantin sungguh ramai, karna memang ini jamnya semua murid untuk beristirahat sejenak, melepas stress dan mengisi perut.

"Hinata-chan mau pesan apa? biar sekalian sama aku."

"Tidak usah Ino-chan, aku membawa bekal dari rumah"

"Emm…kalau begitu aku pesankan jus saja buat mu, ya?" Hinata mengangguk sebagai jawaban.

Ino pun pergi memesan makanan, Hinata lalu mengambil tempat duduk dimeja kantin yang kosong. Menunggu sahabatnya, Ino datang. Hinata meletakkan bekal yang dibawahnya diatas meja. Tak sengaja matanya saling bertemu pandang dengan mata Sasuke yang duduk dimeja kantin tepat didepanya, hanya terpisah dua meja kalau dihitung dari meja Hinata. Posisi duduk Sasuke yang menghadap kearah Hinata pun membuatnya dapat dengan mudah melihat Sasuke dan begitu juga sebaliknya.

Hinata menundukkan wajahnya, saat Sasuke menatabnya dari mejanya. Sasuke hanya dapat menghela nafas pasrah, dan semua itu tak luput dari pandangan sahabat baiknya, Naruto yang duduk disebelahnya sambil memakan ramen kesukaannya.

"Ada apa, Teme? Kau punya masalah dengan Hinata-chan, ya?" Sasuke langsung mendelik tidak suka saat sahabatnya yang selalu dipanggilnya dobe ini memanggil Hinata dengan sufik "Chan". Padahal dia saja masih tak berani memanggil Hinata seperti itu.

"Oi…Teme, kenapa kau menatabku seperti itu, aku kan cuma tanya?" ujar Naruto polos.

"Tch, jangan pernah memanggil Hinata seperti itu lagi"

"Eh? Kenapa? Apa yang salah?"

"Sudah diam, kalau kau memanggilnya seperti itu lagi, aku tak akan segan-segan memukulmu"

"Dasar, teme menyebalkan. Kau terlalu over protective pada pacarmu" ujar Naruto merucutkan bibirnya.

"Hn"

"Teme, kau belum menjawab pertanyaanku, kau ada masalah dengan Hinata-Cha…? Eh? Maksudku dengan Hinata?"

"Hn"

"Masalah apa?"

"Hn"

"Temeee…"

"Urusai, dobe."

"haahh…terserah kau sajalah" ucap Naruto menyerah dan kembali menikmati ramen ketiganya lagi.

Sasuke melihat kembali kearah Hinata yang ada disana, yang tetap setia menundukkan wajahnya. Dan tak lama Ino datang menghampiri Hinata Sambil menyerahkan sekotak kaleng jus pada Hinata.

"Ini jus mu, Hinata-chan" ucap Ino sambil duduk dihadapan Hinata serta menjulurkan sekotak kaleng jus.

"Arigatou, Ino-chan" ujar Hinata berterimah kasih.

"Hinata-chan, bukankah itu Sasuke-kun dan Naruto? Kau tak mau menemui Sasuke-kun?"

"Tidak, Ino-chan"

"Kenapa? Kau punya masalah dengan Sasuke-kun?"

Hinata tak menjawab, dia diam saja dan menundukkan wajahnya kembali. Hal itu dianggap Ino sebagai jawaban iya.

"Ya sudah, jika kau masih belum mau cerita, aku akan selalu jadi pendengar yang baik bila nanti kau sudah siap untuk mencerita masalahmu denganku" ujar Ino bijak

"Ayo, makan"

"Itadakimasu" ujar mereka berdua.

Akhirnya mereka makan dengan tenang. Mereka semua tak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka. Memperhatikan bagaimana Sasuke menatab Hinata dengan pandangan sendu, juga memperhatikan perbincangan antara Sasuke dengan Naruto tadi.

'Tch, jadi si Hyuga itu pilihanmu, Sasuke-kun. Buruk sekali' ujar seseorang itu.

To be Continue…

Hay…saya kembali lagi. Gomen seharusnya ini chap terakhir, tapi karna saat saya baca ulang fic ini, ternyata eh? terrnyata. Ceritanya terlalu datar, benar kata reader yang mengatakan cerita ini terlalu datar. Gomen saya gak tau namanya, karna di review tidak dicantumkan nama. makanya ceritanya aku kembangin lagi jadi seperti ini, Maaf bila ceritanya agak pasaran…

Sekali lagi ma'af dan terimah kasih…^^

Spesial Thanks for:

, Rei Atsuko, dewijombloslalu99, Luluk Minam Cullen, miura, Rini Andriani Uchiga, kensuchan, irnapriatnha, Uchiha Itaara.

Gomen gak bisa balas satu-satu review kalian, tapi kalau yang login aku balas kok di PM…

Arigatou ne...^^

.

.

.

Kritik dan saran saya terimah dengan senang hati kembali…;)