Sebelum kita memasuki chapter 3,mari kita putar arah dulu menuju...*suara drum*...
SESI JAWAB READER'S! *tepuk tangan meriah*
Sebelumnya Author amatir ini mau minta maaf dulu ya, karena kosa kata dalam fic ini sungguh tidak nyambung,hilang beberapa,dan cenderung kasar serta tidak tepat.
Terutama pada kata ANATA yang terselip di awal kita bahas bersama. Kata ANATA memang dapat digunakan sebagai kata sayang istri pada suaminya,namun saat ini disana sudah terkesan sedikit kuno.
Dan selain itu,kata ANATA juga dapat digunakan sebagai ganti otang kedua, kata "kamu",namun diucapkan secara tidak sopan (seperti mengatakan kata ANATA sembari menunjukan jari telunjuk tepat di depan wajah lawan seprti sedang menantangnya) tidak sopan bukan? Nah,itulah maksud saya menyelipkan kata ANATA dalam fic jika menurut readers kata itu mengganggu suasana membaca yang hikmat (kayak lagi berdoa aja),saya akan mengakhiri riwayat kata ANATA dalam fic saya. "Bye ANATA! I,ll miss u!" *digiring ke rumah sakit jiwa*
Kira-kira itu ilmu yang saya dapatkan dari berbagai sumber di untuk masalah membuat fic dalam kata jepang secara utuh,mohon maaf saya tidak sanggup karena saya sendiri juga masih ling-lung dan canggung dalam segi menyambungkan tiap kosa katanya.
Untuk urusan "Makhluk apakah sebenarnya Sasuke itu",biarlah waktu dan Author ini yang menjawabnya *menyeringai sadis*. Tapi yang pasti Sasuke itu bukanlah seorang monster ya.
Dan,untuk masalah alur yang terlalu cepat serta sudah selalu saya ingatkan dan tertera jelas di awal-awal sebelum cerita tak apa,berhubung saya author yang baik hati dan tidak sombong *di lempar ke jurang*,saya akan kembali mengingatkan jika cerita ini memang memiliki alur FAST yang berlebihan karena saya sendiri sering jengah saat menulis dengan menggunakan alur yang sangat lama. "Rasanya jadi bosan sendiri dan kehilangan inspirasi yang awalnya meletup-letup di otak".Tapi kalau menurut readers ini memang terlalu cepat,saya akan coba untuk SEDIKIT memperlambatnya,tapi jika ternyata sama saja...mohon maklum saja ya?
"Ingat,SE-DI-KIT saja,okay?"
Sekiranya hanya ini tanggapan saya untuk review dari readers,terimakasih karena telah semakin memperkaya ilmu bahasa untuk saya serta pembangkit semangat tenaga batin! *gaje*
Oh iya,untuk yang tidak suka dengan ke-posesifan Sasuke mohon maaf lagi ya? Karena di chapter-chapter selanjutnya Sasuke justru akan semakin posesif dengan Naru *ketawa jahat* (digebukin masa). Tapi tentunya posesif dalam batasan normal serta masih dalam lingkup romantis! *eaaaaaa*
Baiklah saya tidak akan banyak cuap-cuap gaje lagi,selamat melanjutkan membaca chapter ke-3 dari MY LOVELY DARKNESS!
v
v
v
v
INGAT! FIC INI MENGANDUNG TYPO'S YANG SANGAT MEMBANJIRI CERITA SAYA INI!
INGAT! TYPO'S!
T
Y
P
O
S
!
Naruto: Masashi Kishimoto-san
Lovely: Liciyha Namikaze
Pairing: SasuNaru
Rating: M (Nanti)
Genre : Supranatural, Romance, Friendship
Peringatan: typo (s), alur kerja super cepat, standar berantakan, sedikit jahat, dll
PS: Fic ini mengandung unsur menjijikan dan berdarah,hanya diperuntukan bagi readers yang senang membaca untuk memahami kosa kata dalam fic ini,karena kata-kata saya memang sangat berbelit-belit (belum biasa mengetik,biasanya menumpahkan ide dalam lembaran kertas), jika tidak suka bisa langsung tekan tombol BACK untuk kembali daripada membuat Author yang masih amatir ini sakit hati.
~Happy Reading~
"Teme,apa kau memakai lensa kontak? Warna matamu merah darah dengan bintik 3?" Bisik Naruto yang memperhatikan mata Sasuke yang berubah lekat-lekat. "Juga berputar-putar."
"Tatap terus, tidak akan mengingat warna mata ini,ingat saja jika aku membuatmu kesal." Sasuke mencoba menghipnotis Naruto.
"Apa? Apa maksudmu melupakannya?" Dan tampaknya apa pun yang Sasuke lakukan tak ada gunanya.
'Celaka!'
.
.
.
"Apa maksudmu? Kenapa kau tidak terpengaruh?" Sasuke tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Sementara Naruto tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. "Apa maksudmu? Kau ingin menghipnotisku,begitu? Tapi kan...astaga!" ia memekik saat iris Sasuke berputar lebih cepat sebelum akhirnya kembali berwarna onxy. "Itu...bagaimana bisa!" pekiknya tak percaya.
Sasuke kembali memasang ekspresi datarnya. "Apa?" ujarnya seakan tidak terjadi apa-apa.
"Itu...tadi matamu berwarna merah...lalu sekarang jadi...kau juga seperti hendak menghipnotis...tapi-tapi..." Naruto terdiam dan berusaha menyusun kata-katanya dengan Sasuke berpura-pura bingung dengan menaikan sebelah alisnya.
"Tadi kau seperti...bukan manusia." Ujar Naruto mengambil jarak sejauh mungkin dari pria pantat ayam itu.
"Kau ini bicara apa? Aku hanya duduk disebelahmu dan meminum minumanmu,dan kau menuduhku sebagai monster?" Sasuke benar-benar ahli dalam berakting. "Dasar baka!" pria itu kemudian melenggang Naruto yang tetap terdiam seribu bahasa.
'Minum punyaku? Sungguh?' gadis itu mengernyit. "Hah...otakku memang sedang bermasalah!" ucapnya tanpa berpikir panjang dan segera menganggapnya angin lalu,dan lalu ia segera melenggang pergi menuju sebuah ruangan yang dulunya-hingga tadi pagi menjadi satu-satunya ruangan yang paling gadis itu lagi selain ruang kelas.
Pelajaran kembali berlangsung,dan kali ini semua siswa duduk diam dengan satu pikiran yang mereka selalu berkata bahwa 'kapan pelajaran sejarah tidak akan terasa sangat membosankan' serta 'sampai kapan Guy-sensei mengajar pelajaran sejarah pada kami?'
Yah,itu memang SANGAT percaya?
Mari kita buktikan.
Guy-sensei masuk tanpa sepatah kata pun dan menuju meja guru dengan meletakan semua barang-barangnya dengan sejarah,atlas,laptop,spidol papan tulis,buku absensi foto dirinya yang tengah tersenyum lima jari dengan salah satu giginya yang memancarkan sinar yang sangat menyilaukan.
Apa-apan ini?
Pria itu berdeham dan mengambil napas dalam-dalam sebelum...
"Selamat siang semua! Mari kita mulai pelajaran hari ini dengan semangat muda yang membara!" Seru Guy-sensei secara mendadak hingga menciptakan "COPOT JANTUNG MASAL" karena suaranya yang melengking.
"Haha...baik! rasa-rasanya kalian juga setuju dengan ,sebagai sensei yang bijaksana,sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan kalian..."
"Hah...dia mulai lagi..." Keluh dulu dia memang tidak menyukai bukan berarti ia membencinya,ia hanya tidak suka saja saat Guy-sensei terus berceloteh akan hal-hal tidak penting dan sama sekali tidak itu bahkan pernah terus menyuarakan "SEMANGAT MUDAnya" dari awal hingga berakhirnya jamnya mengajar di kelas Naruto.
Naruto mencoba mencari tahu keadaan Sasuke melalui sudut berpikir jika Sasuke pasti sama bosanya dengan seisi kelas-kecuali perkiraannya meleset itu sama sekali tidak tampak bosan,karena sejujurnya ia juga tidak tampak mendengar apa yang sensei alis tebal itu katakan.
Bagaimana tidak,karena saat ini pria onxy itu tengah memfokuskan seluruh inderanya pada sesuatu yang berada di dunia luar menunjukan jika ia tengah memikirkan sesuatu dengan sangat keras.
Naruto memasang ekspresi aneh saat bertanya pada Sasuke. "Teme,apa kau ada disini?" dan pertanyaannya pun tak kalah membuka sebelah matanya dan menatap Naruto dengan ekspresi garang.
"Tentu,kau pikir aku bisa keluar dari tubuhku?" jawabnya mengerucutkan bibirnya hingga Sasuke mulai berpikir untuk mengkareti bibir itu.
"Hey,apa masalahmu? Aku bertanya baik-baik dan kau menjawabku layaknya seorang..."
"Monster,begitu?" sela pria itu.
"Aku tidak ingin mengatakan itu" lirih gadis pirang itu. "Tapi,berhubung gagasanmu itu lebih baik dari gagasanku,aku akan menggunakannya." Lanjutnya dengan mata berbinar.
Sasuke hanya menghela napas dan kembali memejamkan tidak boleh buyar harus benar-benar fokus untuk menembus dinding mental yang berdiri kokoh serta berlapis-lapis yang menghalangi Sasuke untuk mendapatkannya.
Mendapatkan .
Pria itu tidak habis pikir,kenapa Naruto memiliki dinding pelindung untuk alam bawah sadarnya? Gadis itu hanya seorang manusia biasa yang tercipta dengan perantara 2 manusia makhluk istimewa saja yang memiliki dinding pelindung,apalagi sampai berlapis-lapis.
'Naruto pasti dilindungi oleh sesuatu,tidak mungkin ia dapat menciptakan dinding pertahanan sekokoh itu tanpa mengerahkan seluruh ia hanyalah manusia biasa,ia pasti sudah mati hanya untuk menciptakan satu dinding yang sekokoh itu.' batin Sasuke yang mulai frustasi.
Dan saat ini,dalang dari kefrustasiannya juga tengah merasa frustasi memikirkan pria itu.
'Aku tahu jika ingatanku sangat lemah,tapi aku sangat yakin jika ia tidak meminum minumanku.' Renung Naruto. 'Seingatku,aku sudah menghabiskan minumanku sebelum pria bodoh itu datang.' Renungnya 'Atau aku tidak membeli minuman?'.Ia merasa sangat yakin jika warna mat Sasuke berubah,pria itu juga berlagak hendak menghipnotisnya tapi tidak bisa.
'Tapi kenapa Teme mengatakan hal yang berbeda?' hanya pertanyaan itu saja yang memenuhi pikiran Naruto,sehingga ia kembali sukses satu langkah menjauhi bea siswa tercintanya.
CRACK!
Kepalanya tersentak ke menggigit bibirnya kuat-kuat,ia merasa ada yang benar-benar tidak beres dengan entah mengapa,tiba-tiba saja kepalanya serasa hendak pecah dan dunia berputar-putar hanya sesaat,Naruto turut merasa jika sesuatu memaksa masuk kedalam pikirannya dan berhasil.
Sasuke mengamati mate nya melewati ekor matanya,diam-diam tanpa sepengetahuan semua orang ia tersenyum kemenangan yang bercampur aduk menjadi satu dengan senyuman penuh sesal. 'Gomenasai,my lady,aku terpaksa membuatmu kesakitan hingga seperti itu.' sesalnya dalam diam. "Tapi sebagai balasannya,aku akan membawamu pergi untuk bersenang-senang, saja sebagai perayaan atas berhasilnya aku untuk menerobos dinding pertahananmu." Gumamnya dengan sangat lirih,lebih pelan dari sebuah bisikian lembut hingga Naruto tidak bisa mendengarnya dengan jelas,syukurlah.
Naruto mengangkat sebelah alisnya tak paham. "Apa kau mengatakan sesuatu,Sasuke?" gumamnya penuh mengalihkan pandangannya dari papan tulis yang menurutnya begitu sedap dipandang,menuju sapphire cerah Naruto yang saat ini menjadi pemandangan terakhir yang ingin Sasuke lihat untuk saat satu alasan yang sangat kuat.
"Hn." Gumam pria raven itu dengan nada yang jauh lebih rendah dari biasanya.
"Sasuke, daijobu desu ka?k-kau tampak pucat...m-maksudku lebih pucat daripada biasanya." Naruto mulai gelisah.
"Jangan khawatir." Kepalanya saat ini serasa akan kekuatannya telah terkuras habis hanya untuk membuat retakan kecil yang cukup untuk membuka pikiran hanya sedikit,dan sedikit pula kemungkinan Sasuke untuk mengorek informasi Naruto dengan pasti harus mengerahkan kekuatannya lagi.
Membayangkannya saja sudah membuat kepala Sasuke serasa meledak-ledak.
Tapi,bagaimana bisa pria itu menyuruh Naruto untuk tidak khawatir? Dilihat dari wajah pucatnya serta gerak-geriknya saja sudah sangat ,bagaimana bisa Naruto tidak khawatir?
"Jangan bodoh,kau terlihat sangat sakit! Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan sekarang juga! Jangan membantah." Bentak Naruto hingga mengheningkan seluruh isi ,maksudnya-seluruh omong kosong Guy-sensei.
"Ada apa Naru..."
"Guy-sensei,maaf telah ini sangat penting,Saya harus segera diizinkan." Potong Naruto tegas.
"Tapi,mau kemana..."
"Arigatou gozaimasu,sensei." Potongnya lagi dan segera pergi keluar dengan memapah Sasuke seisi kelas dengan raut wajah yang beraneka ragam.
'Baka,baka,baka! Kenapa aku bicara dengan sangat tidak sopan seperti itu? astaga,Tuhan...Kesalahan apa yang hambamu ini lakukan!' rutuk gadis blonde itu sembari membawa paksa Sauke yang sedari tadi terus menolak.
"Salah siapa memaksaku kau pasti di cap sebagai gadis kurang ajar oleh..." Tidak ada sepatah kata pun yang kembali terlontar dari mulut gemetar ini ia sangat ingin untuk menggunakan kekuatannya agar dapat segera sampai di ruang sudah sangat tipis hingga ia sendiri merasa jika kakinya serasa tidak menginjak tanah lagi.
Singkatnya kesadarannya sudah mulai menghilang.
Pria itu menggeleng kecil,Naruto hendak bertanya saat ia mengurungkan niatnya dan justru terkesima oleh pemandangan yang berbeda.
"Bagaimana bisa kita sampai disini?" Pekik sebenarnya hendak melontarkan ribuan,bahkan jutaan pertanyaan yang lain pada ,mengingat kondisi Sasuke saat ini yang sedang tidak sehat,ia mengurungkannya dan memilih satu pertanyaan yang membumbung tinggi di kepalanya.
"Kita dibantu Doraemon." Ucap Sasuke melepaskan tangan Naruto dari bahunya dan melesat cepat menuju ranjang putih khas ruang kesehatan dan mulai beristirahat.
Abaikan Naruto yang menatapnya dengan bersungut-sungut.
"Jangan bercanda!" Teriaknya. "Kau itu...sebenarnya makhluk apa kau itu?"
Hening.
Naruto beringsut dan segera menghampiri Sasuke yang tampak tengah berpura-pura terlelap. "Jawab aku! Atau aku akan..."
"Apa? Apa yang akan kau lakukan?" tantang menatap tajam sapphire Naruto dengan iris merah menyala yang dikelilingi 3 titik megerikan.
Naruto menunduk dan menatap sepatunya dengan tatapan selalu kelu saat Sasuke menatapnya dengan mata ,walau baru dua kali,tapi itu sudah lebih dari cukup bagi gadis pirang ini.
"Kemarilah." Titah Sasuke layaknya seorang tetap bergeming. "Kalau begitu,jangan salahkan aku." Tambahnya yang membuat Naruto penasaran,namun rasa penasarannya itu segera tenggelam oleh kepanikan saat tiba-tiba saja kakinya bergerak seenaknya mendekati Sasuke.
"Apa yang terjadi?" seru Naruto tak melirik sekilas pada Sasuke dan menangkap ekspresi penuh hardikan dari wajah makhluk aneh nan tampan mendelik sengit saat otaknya berhasil mencerna makna dari ekspresi pria itu. "Apa yang kau lakukan,Teme! Makhluk macam apa kau itu sebenarnya?" Lirih Naruto dengan suara tersendat menahan air mata yang telah membasahi pelupuk matanya.
Sasuke tetap diam hingga Naruto berdiri tepat di Naruto seketika mengeras saat hanya mendapat jawaban berupa gelengan acuh seenak pantat saat Sasuke memaksanya mendekatkan wajahnya dengan wajah tanpa cela Sasuke.
"Kenapa kau menggangguku,monster?" geram Naruto dengan bibir yang gemetar ini ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan Sasuke,yang ternyata bukanlah seorang manusia.
"Jangan panggil aku monster,manis," tegur Sasuke dengan suara selembut ia harus berusaha keras menahan geraman yang telah sampai di ada satu pun yang boleh menggeram pria raven itu akan langsung mengoyak pembuluh nadi orang itu.
Sasuke menghela napas berat dan menubrukan bibirnya dengan bibir ranum Naruto yang itu sempat membelalak dan hendak memukul pria lancang ia tidak justru memperdalam ciumannya dan menyambut Sasuke.
Itu bukan karena tubuhnya masih berada dalam kendali pria bahkan telah bebas entah kenapa ia tetap tidak bisa menjauh dari hawa dingin yang pria misterius itu berikan entah kenapa terasa hangat.
Meski tubuhnya yakin jika Sasuke telah mengekang sesuatu yang jauh lebih penting lagi.
Hatinya.
Naruto menghirup udara sebanyak mungkin saat akhirnya Sasuke menjauh darinya-secara masih memiliki otak yang nalar untuk mengoyak hasratnya-jika ia tidak ingin mate nya mati kehabisan napas.
Gadis itu hendak menghambur kesetanan keluar ruangan saat kendali tubuhnya kembali Sasuke sangat yang sempat mengalir deras dalam darahnya seketika luruh dengan amarahnya pada pria bodoh itu.
"Dosa apa yang ku perbuat hingga ciuman pertamaku direnggut oleh seorang monster,Tuhan?" bisik Naruto melempar tatapan tajam iris ruby nya sengit sebelum memejamkan matanya dan kembali mencoba untuk beristirahat,mengumpulkan energinya yang sudah benar-benar habis.
Sekaligus membiarkan Naruto berdiri kaku di sampingnya tanpa sanggup melarikan diri.
3 detik.
10 detik.
30 detik.
Sasuke telah terlelap dalam tidurnya yang lelap,membuat pengaruhnya pada tubuh sang blonde itu terus mengamati Sasuke.Sapphire nya menelusuri tiap jengkal wajah pria itu dengan suatu kerinduan yang rasanya ia mnyusuri wajah mulus pria itu dengan hawa dingin tubuh pria itu hingga menusuk ke tulang-tulangnya.
Tunggu ?
Naruto mengernyit,meski ia jarang bersentuhan dengan orang lain,tapi ia tahu persis jika suhu seorang manusia biasa tidak pernah sedingin jika orang itu bukanlah manusia biasa.
Naruto menepuk jidatnya pelan,ia baru bukanlah manusia biasa.
Atau mungkin ia bukan seorang manusia?
Naruto mengenyahkan pikirannya yang mulai menerawang tidak jelas dan segera berjalan mundur dengan sangat hati-hati.
Tapi,dasar Naruto yang masih saja lupa akan kenyataan jika Sasuke bukanlah manusia.
Sasuke membuka sebelah matanya yang masih berwarna merah darah dan mempengaruhi tubuh Naruto untuk kembali mendekat. "Mau kemana kau?"
" lagi?" cuap Naruto cuek.
Sasuke mendengus lelah dan mendekatkan wajah gadis itu dengan mengira jika ia akan kembali merasakan bibir Sasuke yang manis pada indera pengecapnya.
Tapi ia salah.
Hal terakhir yang gadis itu ingat adalah,Sasuke menyentuh keningnya dengan dua kemudian gadis itu diserang rasa kantuk yang luar biasa dan ambruk ke dalam dekapan sang monster.
Pria itu tersenyum tipis. "Aku bukan monster,sayang." mendekatkan bibirnya pada telinga menggelitik leher gadis itu saat membisikan tiga buah kata yang jika Naruto mendengarnya,ia akan terkejut setengah mati.
"Aku seorang Vampir"
Setelahnya,Sasuke menggiring Naruto menuju mimpi indah ciptaannya.
Atau lebih tepatnya,masa lalu Naruto.
To
Be
Continued
.
.
.
Hai minna! Author datang lagi dengan chapter 3!
Apakah cerita Author ini tak kunjung lepas dari kata gaje dan typo's? Yak betul! Sepertinya memang tidak bisa lepas *nyengir*
Dimaklumi saja ya reader's?
Semoga saja chap ini udah bisa jawab pertanyaan-pertanyaan dari reader's semua ya. Sekali lagi Author amatir ini ingin meminta maaf yang sedalam-dalamnya pda reader's semua atas ketidak sempurnaan dari fic ini *sungkem* karena kesempurnaan hanyalah milik yang diatas semata. *pidato panjang lebar* (di tabrakin tronton sama reader's).
Haha...sudah lupakan saja ke-gajean saya lagi di chapter selanjutnya ya! "itu pun akan tercipta jika saya mendapat review yang banyak dari reader' tanpa reader's,aku mah apa atuh!" *nyengir kikuk*
SEE YA!
