"kebetulan sekali kita bertemu disini Hinata-chan" Hinata mendengar dirinya dipanggil 'chan' oleh Naruto membuatnya tersipu malu.

"cih" Sasuke mendecih.

"kenapa Sasuke?" tanya Naruto, Hinata menatapnya tajam.

"liat wajahnya? Dia memerah" nada bicara Sasuke seperti meremehkan.

"a-aku tidak!" Hinata angkat bicara.

"lupakan soal itu, apa yang kau lakukan disini Hinata-chan? Sedang berbelanja ya?" Naruto melihat bungkusan di tangan Hinata.

"aku melamar pekerjaan, dan mampir kesini"

"disini?" tanya Sasuke

"ya" Hinata menjawabnya dengan wajah datar.

"wah, ini kan mall milik keluarga Uchiha" sergah Naruto.

"Uchiha?" Sasuke tersenyum meremehkan, sepertinya Hinata tidak mengenal Uchiha.

"Sasuke kan CEO-nya" mata Hinata membulat.

"dia?" hinata menunjuk Sasuke.

"iya, Uchiha Sasuke" tambah Naruto.

"aku akan memastikan wanita sepertimu tidak akan diterima di Mall ku" Sasuke menatap Hinata tajam.

"aku juga akan mengundurkan diri" ujar Hinata.

"bagus"

"atmosfir apa yang menyelimuti kalian ini? Apa kalian tidak bisa berdamai?" Naruto mengerutkan keningnya.

"tanyakan padanya, kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?" tanya Sasuke.

"aku juga tidak mau bertemu denganmu tuan" jawab Hinata dengan nada menyinggung.

"kalau begitu pergilah" Sasuke menatap Hinata tajam.

"baik. Saya permisi Uchiha-sama dan Uzumaki-san" Hinata membungkuk dan melenggang meninggalkan Sasuke dan Naruto.

"kau ini kenapa sih?" tanya Naruto bingung.

Sasuke tidak menjawab dan berjalan pergi diikuti Naruto.

Sialnya, sesampainya mereka disebuah butik mewah, mereka bertemu lagi dengan Sakura. Sungguh banyak orang yang Sasuke harap tidak akan bertemu lagi, malah bertemu hari ini.

"kita bertemu disini ya Naruto-kun, Sasuke-kun?"

"hn"

"kau sudah kembali dari San Fransisco ya Sakura-chan?" Naruto bertanya untuk mencairkan suasana. Dia sudah tau kalau hubungan Sasuke dan Sakura sudah memburuk sejak kejadian 3 tahun yang lalu.

"iya..bagaimana kabarmu Sasuke-kun?"

"menurutmu?" Sasuke bertanya balik dengan ketus.

"ah begitu, baiklah"

"ngomong-ngomong kau tinggal dimana Sakura-chan?" tanya Sasuke.

"di rumah orang tua ku Naruto-kun" Sakura tersenyum.

"perlukah kita makan siang bersama? Untuk menyambut Sakura?" namun nampaknya Sasuke tidak suka dengan ide Naruto.

"aku sibuk" dan Sasuke langsung pergi

"tidak perlu Naruto-kun, Sasuke-kun sepertinya sibuk"

"tapi lain kali kita makan bersama ya? aku harus menyusul bocah tengik itu, jaa ne Sakura-chan"

"Sasuke-kun sibuk dan tidak mau bertemu denganku" lirih Sakura.

SasuHina~

Sasuke berjalan cepat meninggalkan butik sambil berdecak kesal, Naruto menyusulnya.

"ayo makan siang!" ajak Naruto.

"tidak, kau saja"

"ayolah, jangan bekerja seperti robot"

"aku tidak lapar"

"baiklah, terserah kau saja"

Setelah Sasuke kembali ke kantornya, Naruto pergi mencari café untuk makan siang.

SasuHina~

Hinata baru pulang ke rumah dan langsung memotong kue untuk ibunya. Untunglah ayah tirinya sedang tidur.

"wah, ada apa ini Hinata?" tanya Hikari.

Ada terbersit di benak Hinata untuk mengundurkan diri dari Mall Uchiha, tapi melihat wajah ibunya yang nampak gembira, dia merasa egois karena mengundurkan diri hanya karena tidak mau bertemu dengan Sasuke, hanya sedikit lagi dan setelah itu, Hinata dan ibunya akan terlepas dari jeratan Hibito.

"aku dapat pekerjaan baru kaa-san"

"Hinata, bukankah ibu bilang berhentilah bekerja?"

"tidak apa-apa kaa-san, percayalah padaku" Hinata tersenyum.

"tapi, pekerjaan apa sayang?"

"pelayan di sebuah mall besar kaa-san" ibunya tersenyum sedih.

"seandainya ibu bisa menyekolahkanmu lebih tinggi, kau pasti bisa jadi manager" ibunya menyentil hidung mungil Hinata.

"tidak bu, tidak apa-apa kok"

"tapi putriku ini pintar, dia selalu menjadi juara satu disekolah dulu"

"hm, lagipula itu kan dulu bu"

"Hinata, mekarlah menjadi bunga yang cantik dan harum, dan suatu saat nanti, kau pasti akan menemukan seseorang yang akan menjagamu selamanya. Tetaplah memiliki keberanian dan kebaikan hati"

"iya bu, pasti" Hinata tersenyum.

SasuHina ~

Sasuke memijit pelipisnya pelan dan menelpon seseorang lewat telepon diatas mejanya.

"Tsunade?" tanya Sasuke.

"apa ada pelamar kerja yang baru?" orang disana menjawab pertanyaan Sasuke.

"bawa semua berkasnya ke ruanganku" dan Sasuke memutus panggilan teleponnya.

Tak lama, Tsunade masuk sambil membawa beberapa map di tangannya.

"ini berkas yang anda minta Uchiha-san"

"hn, kau boleh keluar" Sasuke langsung melihat berkas Hinata dan melihat ada yang janggal disitu.

"marga ayahnya Suzuki, kenapa marganya Hyuuga?"

"kalau itu, saya belum menanyakannya. lusa dia akan mulai manjalani masa pelatihan selama sebulan, kalau dia layak, dia mungkin akan jadi staff tetap" jelas Tsunade.

"Office girl?"

"latar belakang pendidikannya tidak memenuhi syarat untuk lowongan sekretaris"

"mana mungkin seorang bartender bisa menjadi sekretaris di perusahaan besar" Sasuke melempar berkas Hinata.

"anda mengenal gadis ini?"

"hn"

"sepertinya dia gadis yang baik" tambah Tsunade dan akhirnya keluar dari ruangan Sasuke.

'dia hanya wanita malam' batin Sasuke.

Tapi hati Sasuke masih janggal, dia harus mencari Hinata, untuk menutupi kejanggalan hati Sasuke. Sasuke mengambil jas-nya dan mengambil mobilnya.

SasuHina~

Hinata sedang bersiap untuk berangkat kerja, dia hanya mengenakan kaus hijau tosca polos dan jeans panjang, sedangkan rambutnya diurai, dan wajahnya hanya dipoles bedak tipis.

"hei anak sialan!" tiba-tiba ayah tiri Hinata membuka pintu kamarnya dan dibelakangnya ada ibu Hinata.

"malam ini kau harus bawa uang! Kalau tidak ibumu akan kupukuli sampai mati!" ancam Hibito.

"jangan pukuli ibuku" Hinata memohon.

"setidaknya bayar semua yang sudah kuberikan padamu!" Hibito membentak Hinata dan keluar dari rumah.

"pergilah bekerja sayang, kalau sudah begitu, dia tidak akan pulang sampai besok" ibu Hinata mencoba menenangkan Hinata.

"apa ibu yakin?"

"iya, pergilah"

Hinata berangkat kerja menggunakan sepeda bututnya, angin menusuk kulit Hinata, sebentar lagi musim dingin karena itu cuaca sangat dingin.

Setelah memarkirkan sepedanya, dia masuk lewat pintu karyawan dan disapa oleh Ino.

"Hinata!"

"Ino? Kau sudah kembali?" Hinata tersenyum.

"iya kemarin, bagaimana kabarmu?" tanya Ino.

"baik, bagaimana Las Vegas?"

"keren sekali, apalagi casino-nya..wahh, seperti disurga" Ino menggambarkan negara yang baru saja dia kunjungi.

"baguslah kalau kau menikmati liburanmu..ano, Ino? Ada yang ingin kubicarakan" Ino nampak ingin tau dan mengajak Hinata duduk.

"aku belum membuat suratnya , tapi aku akan mengatakannya lebih dulu" Hinata menarik nafas.

"aku mau mengundurkan diri Ino" Ino diam dan berusaha mencerna kalimat sahabatnya.

"Itu bagus Hinata! Aku selalu tidak suka kau bekerja disini, kau gadis yang manis, kau tidak cocok ditempat seperti ini" Ino nampak gembira.

"kau tidak marah?"

"kenapa aku harus marah? Tapi, apa kau sudah menemukan pekerjaan baru?"

"sudah, aku akan mulai masa pelatihan lusa disebuah mall"

"wah keren sekali! Sebagai apa? Di mall mana?"

"Office girl, di Uchiha mall"

"kau harus bekerja dengan giat Hinata! Aku ikut gembira untukmu! Tapi Uchiha?" Ino memeluk Hinata dan tersenyum tulus.

"iya, kau kenal? Namanya Uchiha Sasuke"

"dia tetangga ku yang seksi, apartemen kami bersebelahan"

"benarkah, wah, sungguh kebetulan"

"kalau dia macam-macam denganmu, aku akan mendobrak pintu rumahnya dan menghabisinya." Hinata tertawa bersama Ino.

Jujur, reaksi Ino berbeda dari perkiraan Hinata, dia pikir Ino akan marah tapi ternyata dia malah gembira. Setidaknya hati Hinata sudah terkurangi bebannya.

Waktu mulai menunjukkan pukul 10 malam, dan tempat itu sudah mulai ramai.

"1 cocktail Hinata" Kiba memberikan kertas pesanan pada Hinata.

"dan, dia minta kau yang mengantarkan" tambah Kiba.

"dia? Siapa?" tanya Hinata.

"orang yang kemarin memesan 2 chivas" Hinata pikir itu Naruto dan mengantarkan pesanan yang ternyata milik Sasuke.

"ini pesananmu tuan" Hinata membungkuk dan saat dia mendongak, dia sungguh tidak mau melihat pemandangan dihadapannya ini.

"kenapa margamu bukan Suzuki?" tanya Sasuke.

"kenapa anda menanyakan itu?"

"kau calon karyawan baru, aku harus menyeleksimu" wajah Sasuke tanpa ekspresi sama sekali.

Hinata menghela nafas panjang dan meneguk ludahnya. Namun saat dia akan mulai bicara, Sasuke menariknya keluar.

"kenapa disini?" tanya Hinata, sebenarnya diluar sangat dingin, lebih baik didalam.

"berisik" jawab Sasuke singkat.

"ayah kandungku sudah meninggal, dan ibuku menikah lagi..aku tidak mau mengganti margaku" jawab Hinata sambil menunduk. Sasuke merasa bersalah menanyakan hal ini pada Hinata.

DRRT

Hinata mengangkat panggilan di handphone-nya.

"moshi-mosh?" Hinata sedikit menjauh dari Sasuke.

"Hinata-chan! Ayahmu! Dia pulang dan membuat keributan dirumahmu, aku takut dia akan memukuli ibumu" tubuh Hinata melemas setelah mendengar kata-kata tentangga yang menelponnya.

"aku akan segera pulang baa-san, terima kasih sudah menelpon" Hinata memutus sambungan teleponnya dan segera berlari kedalam.

"apa-apaan dia?" Sasuke masuk dan melihat Hinata yang bergegas pergi membawa tasnya dan menaiki sepedanya.

Sasuke diam-diam mengikutinya, karena dia menyetir sendiri, dia tidak perlu mencari alasan pada Kakashi untuk mengikuti Hinata.

SasuHina~

"kaa-san.." Hinata menangis sambil mengayuh sepedanya.

Tiba-tiba dia tersandung batu dan terjatuh.

Sasuke memandanginya dari dalam mobil, dia melihat Hinata menangis saat terjatuh.

"cengeng" ucap Sasuke.

Tapi saat Hinata bangkit, dia meninggalkan sepedanya dan berlari tergopoh-gopoh. Sasuke hanya melihat sepeda Hinata ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Sasuke mengikutinya sampai didepan rumah yang nampak tidak terurus dan kumuh, dia akan menunggu saja diluar.

"kaa-san!" Hinata menghampiri Hikari yang pipinya bengkak dan bibirnya mengeluarkan darah.

"Hi-hinata..lari, ka-kabur sayang!" tegas ibunya.

"tidak, aku akan disini" Hibito keluar dari kamarnya dan melihat Hinata sedang menangis dengan ibunya.

"kau sudah disini ya bocah! Mana uangku?" pinta Hibito, namun saat tak mendengar jawaban Hinata, dia membanting vas bunga yang cukup besar hingga pecah.

PRANG

Sasuke mendengar bunyi sesuatu yang pecah dari dalam rumah Hinata dan mulai merasa ada yang aneh. Lalu dia keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah Hinata.

"baik! Kalau tidak ada uang, maka akan kupukuli kau! Aku malas bermain dengan ibumu" Hibito menampar Hinata sampai Hinata tersungkur dan menjambak rambutnya hingga Hinata berdiri.

"jangan lukai putriku!" Hikari mengumpulkan seluruh tenaga yang dia punya.

"salahkan dia kenapa tidak membawa uang untukku!" Hibito langsung menghempaskan Hinata ke dinding, membuat badan dan kepalanya menghantam dinding.

Tiba-tiba Hikaru menarik kerah baju Hibito dari belakang dan menyuruh Hinata kabur.

"kabur Hinata!" Hinata dengan langkah bergetar langsung berlari ke atas, mengunci pintu kamarnya dan menahannya dengan tubuhnya sendiri.

"sialan kau!" Hibito menampar Hikari dan mengejar Hinata ke atas.

Sasuke mengetuk pintunya namun tidak ada sahutan, malah pintunya sudah terbuka dan memperlihatkan isi rumah yang berantakkan dan seorang ibu yang berusaha bangun dan terluka.

"bibi tidak apa-apa?" Sasuke membantu Hikari berdiri.

"tolong..tolong putriku..Hinata-ku" Sasuke merasa ada yang aneh dengan perkataan bibi.

"dimana Hinata bi?" setelah Hikari memberi tau kamar Hinata, Sasuke langsung ke atas dan berhadapan dengan Hibito yang menggedor pintu kamar Hinata.

"buka pintunya anak sialan!" Hibito menendang dan berusaha mendobrak pintu tersebut dan langsung ditahan Sasuke.

"siapa kau bocah?" tanya Hibito, wajahnya sangat tidak bersahabat.

BUAGH

Sasuke langsung menghajar Hibito dan Hibito membalas, mereka berkelahi dan menghantam satu sama lain, sampai Sasuke memukulnya sangat keras dan membuatnya pingsan di lantai. Sasuke langsung menelpon polisi.

"Hinata! Buka pintunya!" Sasuke menggedor pintu kamar Hinata, namun nampaknya Hinata masih takut.

"jangan takut, ini aku! Buka pintunya" agak lama, namun Hinata membuka pintu dan melihat Sasuke yang wajahnya sedikit lebam.

"ini aku, aku tau hubungan kita tidak terlalu baik, tapi aku berjanji tidak akan menyakitimu Hinata" tatapan Sasuke begitu hangat dan menenangkan. Perlahan, Hinata membuka pintunya semakin lebar dan Sasuke langsung menarik tangan Hinata untuk merengkuh tubuh mungilnya.

"jangan takut" lirih Sasuke sambil mengelus lembut surai indigo Hinata.

TBC

Untuk semua yang sudah me-review dan mengikuti cerita Aya ini, hontouni arigatou ^^

Sebenarnya dari chapter pertama, aya sudah buat batasan atau simbol saat pergantian scene, tapi saat Aya lihat lagi setelah dipublish, ternyata pembatasnya hilang T.T Jadi Aya ganti dengan huruf saja ^^

Aya akan terus usahakan untuk update kilat, karena ff ini sudah Aya ketik sampai chapter 10, dan sudah tinggal 2 chapter terakhir.

Jaa ne~ ^^