.
.
.
Mission 3: Ask Me, Ask Me, Now!
.
.
Selama libur 2 hari itu, Luhan benar-benar membereskan apartemennya hingga terlihat benar-benar rapi. Ia tak keluar kemana-mana dan berkutat dengan tugas Jung songsaenim. Bahkan ia tak sudi harus bertanya dengan tetangga sebelahnya itu, yang notaben adalah teman sekelompoknya. Lebih baik ia mengerjakannya sendiri, dan tinggal ia beri nama orang itu saat ia mengumpulkan. Perfect!
Namja bermata rusa itu baru keluar dari apartemennya saat malam hari untuk mencari bahan makanan yang sudah menipis. Atau lebih tepatnya, sekerdus ramyun, sosis, dan berbagai makanan lainnya yang tinggal digoreng. Ia hanya memakai celana training dan kaus oblong yang ia tutupi dengan jaket kremnya. Dan jangan lupa dengan syal bermotif garis hitam putih yang ia pinjam dari Baekhyun dari kejadian hari itu. Kejadian mengerikan yang ingin sekali ia lupakan. 'UUhuhuh' hanya itu responnya apabila ia teringat. Yang menurutnya aneh adalah.. kenapa Baekhyun saat itu membawa syal? Tapi 'I don't give a damn'
Seperti biasa, saat ia hendak kembali ke apartemennya, ia akan berjalan biasa sampai akhirnya ia akan berjalan sambil berjinjit jinjit seperti maling saat berjalan di depan apartemen nomor 1204 itu dan kembali berjalan biasa saat sudah melewatinya. Dengan cepat ia memasukan nomor sandinya dan masuk kedalam rumah.
Rasanya menyenangkan, karna sekarang pihak apartemen telah menganti keamanan mereka dengan yang lebih baik. Tapi, sesampainya didalam rumah. Luhan merasakan ada yang berbeda ketika ia tinggalkan beberapa menit tadi. Ia melirik kesetiap sudut ruangan. Namun ketika ia yakin itu hanya perasaannya saja, ia kembali tak peduli dan pergi kedapur untuk menata bahan makanannya.
.
.
.
사랑하지마(Don't Love Me)
Mission 3: Ask Me, Ask Me, Now!
.
.
.
Jam menunjukan pukul 09:14 saat ia dengan tergesa-gesa memasuki lorong di jurusan bisnis menegemen itu. Bukan karna ia bangun terlambat atau karna ia terjebak macet di tengah jalan tapi karna memang ia sengaja.
Luhan memakai baju yang memiliki kerah sampai keleher yang berwarna blue black sekaligus coat hitam favoritnya, celana hitam, dan sepatu biru gelapnya. Sekarang ia benar-benar terlihat seperti orang yang memancarkan aura keputusasaan hanya dari apa yang ia kenakan. Salahkan Oh Sehun yang membuatnya harus membeli beberapa setel baju dengan model yang sama agar menutupi bekas kissmark yang tak hilang-hilang meski sudah ia bersihkan sekuat tenaga. Bahkan ia sempat berfikir untuk mencuil bagian yang ada bekas keunguan itu dengan pisau -_-.
"Persetan dengan ancamannya. Aku tidak takut!" katanya disela-sela larinya. "Semoga aku tidak takut…" lanjutnya dengan bibir yang digigit.
Dengan tergesa-gesa ia buka pintu kelasnya. Beruntung ia tak mendapati dosennya, dan segera melangkah untuk duduk. Dari bawah sini ia bisa melihat Oh Sehun yang baru saja melangkah menuju tempat favoritnya. Kursi belakang.
Namja berwajah datar itu memakai kemeja putih panjang yang ia masukan kedalam celana abu-abu panjangnya. Tak lupa dengan dasi hitam yang bertengger dilehernya. Entah kenapa ia terlihat sangat dewasa. Lebih tepatnya, seorang Xi Luhan terpesona dengan sosok Oh Sehun yang sekarang balik memandangnya dengan senyuman manis. Kemeja putih itu sangat ketat sehingga menampilkan bentuk lekuk tubuhnya yang . . . bagaimana menjelaskannya… sumpah demi tuhan, Luhan sekilas melihat cahaya yang bersinar disekitar namja itu.
Buru-buru ia gelengken kepalanya. "Bodoh sekali kau Xi Luhan. Kau tak boleh terpesona! Ani ani ani! Kau harus pertahankan harga dirimu! Tadi kau hanya terkejut saja okee! Oke! Ya pokoknya begitu! Pokoknya begitu!"
"Oppa!" panggil Ji Yeon sambil melambaikan tangannya.
Luhan yang melihat itu langsung tersenyum dan berjalan kearah yeoja dengan rambut sebahu berwarna hitam yang sama dengannya. Ji Yeon menepuk-nepuk kursi yang sudah sengaja Luhan pesan dari kemarin. Ini adalah rencananya untuk menjauhi namja haus belaian -_- macam Sehun.
Ji Yeon duduk di deret paling depan bagian kanan seperti biasa, namun kali ini ia duduk di kursi paling ujung, deret depan itu sudah penuh kecuali satu kursi tepat disebelah Ji Yeon. Ya, itu kursi yang Luhan pesan.
"Gomawo Ji Yeon-ah. Mian, jika aku merepotkanmu. Hehe"
"Aniyo, Oppa! Aku malah senang kau duduk disampingku. Dengan begini aku punya teman ngobrol. Hihihi"
Luhan hanya tersenyum menanggapi perkataan Ji Yeon. "Oppa! Banyak orang yang menitipiku hadiah untukmu! Aku kesal, memang aku penitipan barang? Kenapa mereka tidak langsung memberikannya padamu ya?"
"Jongmal? Ah, maaf Ji Yeon-ah. Lagi-lagi aku merepotkanm—"
BRAAAK!
Belum selesai Luhan bicara, tiba-tiba suara meja yang dipukul terdengar keras dikelasnya yang sangat hening itu. Namja bersurai hitam itu hanya menutup bola matanya dengan tangan yang bergetar. "Omoo, omooo, ottoke, ottoke? Bisa-bisa nanti pulang aku sudah tak bernyawa.. Aboeji! Tolong anakmu aboeji!". Sedang Ji Yeon melihat kesumber suara. Kemudian ia berbisik kearah Luhan.
"Oppa, perasaanku saja atau memang disin—"
"Bukan perasaanmu Ji Yoen-ah. Tapi memang aura membunuh yang pekat itu terasa menusuk kearah kita" ujar Luhan sambil berbisik. Sejujurnya namja bermata rusa itu sedang ketakutan setengah mati.
Dan Ji Yeon hanya mengangguk menyetujui. Setelah itu tak ada percakapan diantara mereka. Karna mereka tau, kedua mata elang itu siap mengoyak tubuh mereka jika berbicara lebih lanjut sampai akhirnya dosen yang mengajar masuk.
Ketika dosennya sedang mengabsen, entah kenapa Luhan tak memperhatikan dan sibuk berkutat membaca bukunya. Sampai ia sadar dosennya selesai dengan kegiatannya.
"Jadi yang tidak masuk hari ini hanya Oh Luhan?" tanya dosen itu sekali lagi.
Luhan yang mendengar hal itu langsung kaget dan berteriak kencang. "MWOOOO?!" nggak nyante -_-
Semua mata tertuju padanya. "Kenapa . . . mm siapa namamu nak?" tanya Dosen itu.
"Saya Xi Luhan Saem" jawab Luhan kalem. Dosen itu kemudian membolak-balik daftar absennya, yang hanya mengerutkan dahinya. "Maaf, tapi apa ini benar kelasmu? Tapi disini tidak ada mahasiswa yang bernama Xi Luhan, yang ada Oh Luhan, nak"
Luhan melongo. Apa-apaan ini? Dan Oh Luhan? -_-
Luhan memutar kepalanya kebelakang dan melirik dengan pandangan membunuh. "Oh… sehunnnn!" teriaknya geram. "Dia benar-benar ingin membuatku terkena serangan jantung! Sialan!"
.
.
.
Luhan Prov
Si biadab tak bermatabat sialan itu benar-benar, untung aku bisa berlari kekantin sebelum ia menangkapku dan mencabuliku (-_-) seperti 2 hari lalu. Dan entah kenapa semua orang sekarang menatapku dengan berbisik-bisik. Oh hell, apa lagi yang salah? Aku sedang tak berniat pergi kepemakaman dengan baju seperti ini.
Aku duduk di tempat biasa, sambil menunggu Baekhyun dan si Princess wannabe itu. Baekhyun sudah mengirimiku pesan jika ia ada urusan sebentar dengan dosennya sehingga akan sedikit terlambat diacara makan siang kami. Dan saat pintu kantin itu dibuka, aku melihat Kwanghee yang berjalan dengan tergesa di belakang seorang namja yang aku tau sekarang namanya Siwan.
"Tapi, tapi Siwan-ah, aku masih mencintaimu! ini tak boleh berakhir! Andwe! ANDWEEEE!" teriaknya sambil memutar tubuh Siwan yang terpaku di tempatnya sekarang. Aku langsung membulatkan mataku dan sedikit memundurkan wajahku saking kagetnya dengan teriakan Princess gila itu.
"Dengarkan aku Kwanghee Sun—"
"Princess!" ralatnya dengan mata yang menakutkan. Aku hanya geleng geleng kepala. Bisa-bisanya ia bertingkah idiot seperti itu.
"Oke, Princess Kwanghee… aku sudah bilang padamu berkali-kali.. aku sudah tak merasakan apa-apa lagi saat bersamamu. Jadi… mian.." kata Siwan dengan nada yang baik. Menurutku.
"Hiks… oke… fine…" akhirnya Kwanghee berbalik dan berjalan kearah mejaku. Tapi entah kenapa Siwan masih ditempatnya. Apa ia ambeien sehingga tak bisa duduk? Ah molla.
"Aihuhuhiha.. hihi..huhu..hiks…huhu..hihi..haha.. hiks hiks" entah kenapa rasa kasianku kepada Kwanghee menguap saat mendengar isakannya yang sangat aneh dan tak berkelas. Sampai akhirnya ia menatap tajam kearahku. Oh no, it can't be good.
Kemudian air mukanya berubah tegas, atau lebih terbilang galak tapi sedikit menthel -_- dan berbalik menuju Siwan.
"Fine! I'll go! Aku masih punya harga diri oh yeaaah! Dan jangan pernah! Jangan pernah! Kau berfikir untuk menghubungi nomer baruku! Jangan pernah ookkkeeeyyy! Jangan pernah menghubungiku di five five five zero one two nine! Karna di five five five zero one two nine aku.. tak akan mengangkat telponmu! Huh! Awas kau! iihh!"
Oke Kwanghee, kau benar-benar idiot -_-. Bisa-bisanya ia berkata begitu dengan gaya yang iyuuuh dan sekarang berjalan kearahku. Baru berapa langkah dan ia kembali berbalik. Dan entah kenapa sepertinya Siwan sudah tau akan hal itu dan tetap ditempatnya. Oh great -_-
"Daaan aku sudah bilang, okeeey kau namja tampan! Jangan pernah menelpon di five five five zero one two nine, karna aku tak akan pernah mengangkatnya. Okeeeee! Kau mengerti? Huh! Bubyeee! Ih!"
Kali ini Siwan sudah pergi, dan Kwanghee sedang duduk disampingku. Tiba-tiba ia menelungkupkan kepalanya di keduatanganya. Dan bisa kudengar ia mulai terdesak. "MUWAHAHAHAHA.! HAHAHA! HUUAAAAA! HUAHAHAHA! Hiks hiks hiks" kali ini aku tak berniat menenangkannya karna aku tak tau bagian mana ia tertawa dan bagian mana ia menangis -_-
Aku bisa mendengar lengkingan dari pintu kantin. "Luuuuuuuheeeeeennnnnnnn~~" tanpa melihatpun aku sudah bisa tau jika itu Baekhyun. Ia berlari dengan senang kearah mejaku. Sambil terus-terusan tersenyum. Namun "Apa yang dilakukan bayi besar itu disitu" tanyanya dengan wajah jijik dan tangan menunjuk Kwanghee.
"Lupakan saja. Kenapa Baek? Wajahmu bahagia sekali?" tanyaku saat ia sudah duduk di kursi depan mejaku yang kosong.
"Dia bahagia setelah appa member kami kartu kredit hari ini, Luhan Hyung" jawab Kai malas sambil duduk di kursi sebelah Baekhyun. Ia membawa sepotong sandwich yang aku tau ia ambil di kantin. Dan sepertinya tangisan Kwanghee terhenti. Molla
Baekhyun mengeluarkan Kartu kredit dan dompetnya. "Dimana aku harus menaruh kartu suci ini? Mm? apa aku harus menaruh di jendela kecil ini agar semua orang bisa melihat? Atau mm? ah, lebih bagus jika aku menaruhnya di sloth ini. Nah it's perfect!" katanya bermonolog sendiri. Aku mencoba meminta sandwich yang dibawa Kai dan ia dengan senang hati memberikannya.
"Oh! Oh! Oh! Oh! . . . . I don't care!" balas Kai dengan wajah menyebalkan yang dibalas dengan jitakan dari Baekhyun.
"Nice Place" aku melihat Kwanghee yang sudah ceria kembali. "mmm… Baek… boleh kah aku…." Kwanghee mengulum bibirnya sendiri sambil terlihat malu-malu. Demi tuhan ia terlihat sangat memuakkan!. "Oke.. perlakukan dengan lembut! Dia masih kecil" kali ini aku sadar jika Baekhyun memang sama idiotnya. Ia memberikan dompetnya itu, dan Kwanghee hanya berooh ria.
"Ckckck. Hyung seharusnya kau tak perlu pusing-pusing seperti itu, taruh dimanapun yang penting kau membawanya" ujar Kai yang sekarang sibuk mengecek kantong celana dan meraba-raba (?) tubuhnya. "Damn!aku taruh dimana tadi" umpatnya, sedang aku mencoba menikmati sandwich.
"Heh, pesek! Kenapa kau bisa tak habis pikir?" tanya Baekhyun.
"Ckck! Cause I'm manly hyung! To the mat!" jawabnya asal. "Sebenarnya dimana aku menaruhnya! Uugh!". Saat aku menyantap Sandwich itu, entah mengapa ada sesuatu seperti plastik didalamnya, dan aku langsung melirik Kai dengan pandangan malas. "Affa infi?" tanyaku dengan sebuah benda dari plastik berbentuk persegi panjang yang sedang kugigit.
"Ah, Gomawo Luhan Hyung. That's right! Aku menggunakannya untuk meratakan mutart di sandwich ku. Hehehe" katanya sambil mengambil kartu kredit itu dari gigiku.
"WHAT?! KAU MENGGUNAKANNYA UNTUK APA?!" teriak Kwanghee nggak nyante.
"Sudahlah, dia memang jorok Hyung" jawab Baekhyun menengahi. "Mmmpphhh, apakah kita harus menggunakannya untuk membeli sepatu yang sedang diskon di mall itu?" tanya Baekhyun dengan mata berbinar.
"Why?" tanya Kai.
"Because I'm CUTE! To the mat!" balas Baekhyun malas. Ia memutar kepalanya dan tiba-tiba wajahnya kembali berseri. "Hyung Hyung! Lihat, bukankah itu Minho? Kau tak mau mengajaknya jadi pasanganmu di Last Waltz?"
"Oh ya, kau benar sekali. Minggir! Aku akan duduk di meja yang dekat dengannya!" tiba-tiba Kwanghee bangkit dan berjalan ke meja disamping Minho.
"Ask me, ask me, ask me, ask me. . . . . "
"Sangat menyedihkan" timpal Kai yang melihat teman Hyungnya itu dengan tatapan datar.
"Diam kau bocah!" teriak Kwanghee dari meja yang berada dua kaki dari mejaku. "Ask me, ask me, ask me Naaauuuuuwww (now)!. Ask me, ask me naaaauuuuuwwww (now)!" aku hanya geli melihat tingkah seseorang yang sedang duduk dibangku tahun terakhir kuliah dan bertingkah memalukan seperti itu.
"Apa diacara itu kita harus membawa pasangan Baek?" tanyaku.
"Tentu. Itu seperti acara Prom Hyung" jawab Kai yang dibalas Pukulan ringan dari Baekhyun.
Entah kenapa Baekhyun memandangku intens, aku bingung, kenapa ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dipendam? Apa ia masih ingin tau tentang kejadian 2 hari lalu? Bahkan aku tak mau membahasnya. Yang terpenting sekarang aku harus mengalihkan perhatiannya.
"Eh, Baek. Lihat bukankah itu Chanyeol?" dan dengan kalimat itu ia langsung menoleh kearah yang kutunjukan. Kearah seorang namja yang sedang menghampiri perempuan cantik yang bernama Choi Sulli itu. bahkan dari sini aku bisa mendengar apa yang ia katakan.
"So, Sulli… Mpp… aku hanya berfikir mungkin, kau ngg… jika pergi kesuatu acara seperti ngg last waltz atau semacamnya… ngg mmp.. mungkin kita berdua bisa nngg pergi bersama ke acara itu. ya kalau kau tak keberatan? Hehe" berkali-kali kulihat namja yang setinggi tiang listrik itu terus-terusan membenarkan letak kacamatanya. Dan apa-apaan Russian Hat yang ia pakai itu? memang itu terlihat keren dengan kemeja lengan pendek yang ia pakai? Of course not! Itu membuatnya terlihat idiot. Sangat idiot.
"Ngg..mmpph.. bagaimana? Pesta Dansa?" ujarnya sambil memberikan sebuah bunga mawar merah. Kearah Sulli yang sedang berdiri. Iya mereka berbicara sambil berdiri. Dan kulihat Baekhyun meremas-remas bajunya dan jangan lupakan ekspresi wajahnya yang menahan amarah.
"Ahaha, sebenarnya kau sangat romantis Chanyeol-ah.. hahahaha.. Tapi, ngg.. sejujurnya.. aku mencari seseorang yang lebih baik. Sowrryy…" balas Sulli sambil melengang pergi.
"Ah… junjung tinggi kejujuran! Aha..hiks" tiba-tiba Chanyeol duduk di kursi kosong itu.
"Poor Chanyeol" kata Baekhyun dengan suara memelas.
"Oh ya, aku bahkan tak bisa menyangka ia berani mengatakan itu pada Sulli. Hahaha! Itu sangat memalukan. hahahaha" tawa Kai yang langsung diberi death glare oleh Baekhyun. Aku hanya diam sambil tersenyum.
"Ehehe.. ngg… lihat sisi positifnya Baekhie Hyung! Bukankah terluka membuatmu tumbuh menjadi seorang manusia? Hehe? He?" dan baekhyun hanya tersenyum.
"Kau tau Kai? Seharusnya kau membaca buku! Haha"
"Memang kenapa?" tanya Kai Bingung.
"I. Don't. Care. as long you stop talking!" ujar Baekhyun kasar, aku memberikan kode untuk menemui Chanyeol. Kau harus menghiburnya. Tapi ia terlihat ragu. Aku hanya mengangguk untuk membuatnya yakin. Dan ia tersenyum, kemudian berjalan menuju Chanyeol. "I'll be back"
.
.
"Hai Chanyeol" ujar Baekhyun
"Sorry I'll Move!" ujar Chanyeol tiba-tiba. "No! No no no! duduklah!" ujar Baekhyun panik. Dan Chanyeol hanya menurut. "M..ngg… aku hanya mau bilang. Aku melihat apa yang terjadi padamu dengan Sulli tadi. Menurutku itu sangat tak adil. Pasti banyak orang yang mau pergi ke Last Waltz dengan seseorang yang baik sepertimu.. jadi bersemangatlah!"
"Benarkah?" tanya Chanyeol. Oh yang benar saja, sekarang mereka bicara dengan sangat pelan.
"Yes. Kau luar biasa dan jangan lupakan hal itu! dah!" Akhirnya Baekhyun tersenyum dan berjalan menuju arahku. Aku bisa melihat Chanyeol yang tersenyum bahagia, tapi bisa kulihat ia berfikir sebentar dan berdiri.
"Maukah kau pergi ke Last Waltz denganku?!" teriak Chanyeol terang-terang.
Baekhyun membatu ditempatnya dengan mata yang membulat sempurna. Kai cepat cepat memberikan tanda silang . "Nooo! Hyuuung! Nooo!" teriak Kai nggak nyante. Aku melihatnya sedikit. Dasar adik bodoh.
Sedangkan aku memberikan dua jempol. Seakan berteriak 'Terimmaaaa Baeekkk!'. Dan kemudian ia berbalik. "My Pleasuree" jawab Baekhyun yang aku tau ia tersenyum.
"Trima kasih Baek, hehe… sahabat terbaikku pasti tak akan percaya.. hehe" Chanyeol mengeluarkan handphonenya dan mulai menghubungi seseorang.
"Hai Mom. Kau pasti tak akan percaya!" dan aku bisa menebak muka Baekhyun yang bingung dengan tidak elitnya.
.
.
.
.
.
.
Aku dan Baekhyun berjalan beriringan. Meninggalkan Kwanghee yang sibuk dengan "ask me, ask me, ask me naaaauuuuwwww"-nya dan Kai yang sudah masuk karna ada kelas tambahan. Kami berdua berjalan menuju taman universitas sambil bercakap-cakap. Hingga…
"Lu, kau mengajak siapa ke acara itu? bukankah acaranya tinggal seminggu lagi? Kau tak mau pergi dengan tampang merana kan?"
"Aku… ng… aku akan mengajak Kai! Tentu saja! Kai! Hehe" jawabku setelah berfikir keras. "Kau seharusnya bahagia, Chanyeol mau mengajakmu ke acara itu"
"Tentu saja, Lu! Aku bahagia sekaliii~~~ apalagi si Jong In jorok itu mau me-remake penampilan Chanyeol dari si –cupu-chic menjadi man-chic. Hehehe. Baru kali ini aku merasa mempunyai adik yang berguna. Baru kali ini… ya meski aku tau nanti ia akan meminta imbalan. Tapi tak masalah. Hehe" jawab Baekhyun sambil tersenyum.
"Tapi lu… sebenarnya ada yang ingin kutanyakan…"
"Apa Baek?"
"Bagaimana kau bisa menjelaskan dengan … ini?" Baekhyun menyodorkan handphone-nya yang memperlihan gallery fotonya. Ia memperbesar foto itu. dan kemudian . . .
"MWORAGO?! Apa-apaan ini?!" teriakku sambil membulatkan mata saking tak percayanya. Bisa-bisa aku gila gara-gara ini.
"Ku fikir kau tau, Lu. Padahal berita ini sudah di temple. Di seluruh madding universitas. Kau benar tak tau?"
Mulutku menganga lebar. Jadi tadi ramai-ramai karena hal ini? Jadi semua orang memandangku sambil berbisik karena ini? "Siapa?"
"Apa maksudmu Lu?"
"Siapa yang bertanggung jawab akan mading Baek?!" tanyaku tak sabar dengan gigi yang bergemertak menahan amarah. Ini berita bohong! Apa-apaan ini! Sial sial sialll!
"Klub mading sih seharusnya. Memang kenap— ya ya ya! Kau mau kemana Lu? Jangan bilang kau mau mengamuk di ruangan klub mereka Lu? Ya! XI Luhan! Dengarkan aku! Yaaa! Tunggu! Jangan kesana! Yaaa!"
Tak kupedulikan teriakan Baekhyun yang memanggilku. Aku sudah tak peduli, akan ku mutilasi semuanya! Huaaaaaa! Citraku di universitas ini bisa hilang hanya karna berita palsu seperti itu! ya ampun! Cobaan apa lagi ini? Apa salahkuu?! Hiiiihhhhhh!
Aku sebenarnya mendengar Baekhyun yang meneriakiku dan menarik tanganku untuk menjauh saat sudah hampir sampai di sebuah gedung yang bertuliskan "KLUB MADING". Aku sudah tak tahan.
"Lu, dengar kan aku! Jebal! Plis! Aku mohon! Plis Lu! Jangan masuk kesana! Aku mohon! Jebbbaaallll! Kali ini saja! Ya, Lu? Ya? Yak Xi Luh—"
Persetan dengan teriakan Baekhyun!
Kalian fikir tidak marah apabila fotomu yang sedang dicabuli di tengah kantin dipajang. Oke lebih tepatnya di cium. Atau apalah namanya itu. dan diatasnya bertuliskan. "XI LUHAN, TUNANGAN OH SEHUN" What the hell -_- aku tidak sudi, lebih baik aku mati! Oke mungkin tidak juga. Hehe.. tapi aku tidak sudi! Hih.
Aku membanting pintu gedung itu dengan kasar sampai terdengar bunyi BRAAAK yang sangat keras. Semua mata saat itu tertuju padaku. "SIAPA YANG MENULIS ARTIKEL ITU?!" teriakku frustasi.
Semua orang disitu tersentak kaget dan takut-takut menunjuk sebuah ruangan yang lumayan besar dengan pintu tertutup. "Ke.. ketua… kami yang.. menulisnya.. Luhan sshi…" ujar namja itu takut-takut. Aku tak peduli dengan Baekhyun yang sedang menyeretku tak sabar. Tapi apa peduliku, kemudian aku beranjak dengan Baekhyun yang masih mencoba menyeretku meski itu tak berguna.
Dengan kasar kubuka pintu itu. "APA MASALAHMU HA—" tiba-tiba mulutku tercekat. Mataku membulat sempurna. Dengan cepat kukendalikan diriku. Aku menatap ketua klub madding itu dengan wajah datar. Kemudian melirik Baekhyun dan berbisik. "Kenapa kau tidak bilang jika dia ketuanya? Hah!"
"Karna kau tidak bertanya Luhan Babo!" balasnya dengan suara pelan.
Namja berkemeja putih panjang itu melebarkan matanya. Tak ia pedulikan kepentingannya lagi (aku melihatnya tadi sedang menulis-nulis sesuatu). Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Maaf, aku salah ruang. Ini bukan toiletnya Baek! Aku kan sudah bilang! Ah, mian sudah mengganggu" dengan cepat kututup pintu itu. Dan segera mungkin keluar dari tempat sialan itu.
.
GREB!
.
Tangan besar itu menarik tangan kananku dan mendorongku masuk keruangannya. Dengan cepat ia mengunci pintu itu. Dan sekarang aku harus merutuki kebodohanku. Oh man, it can't be good!
"Kau … kau mau apa Oh Sehun?!" teriakku saat ia menampakkan seringai menakutkannya. Oh man.. aboeji… tolonglah anakmu ini! Huwaaaaaaa!
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
SIDE STORY 1: Morning Byun Family
.
.
Pagi itu di kediaman keluarga Byun, seorang namja berkulit Tan sedang duduk gelisah di salah satu sofa sambil terus mengerak-gerakan kakinya. Sampai akhirnya keluar namja mungil bersurai ungu magenta dengan kulit yang kontras dari namja sebelumnya turun dari lantai dua dan menuju kearah sofa yang lain.
"Kenapa appa memanggil kita untuk family meeting sepagi ini? Aku benci family meeting!" ujar Byun Jong In atau biasa dipanggil Kai itu terus terusan mencakar-cakar sofa yang ia duduki.
"What you do?" tanya Baekhyun mengejek adiknya dan kemudian duduk.
"Apa maksudmu bilang 'What you do?' apa yang sudah kau lakukan Hyung?" balas Kai tak terima.
Baekhyun kemudian melipat tangannya didada sambil duduk nyaman. "Aku tak melakukan apapun" jawab Baekhyun cuek. "Atau lebih tepatnya I never do anything" lanjutnya sambil melirik kearah adiknya itu dengan sorot mata hanya kau yang pasti melakukan sesuatu dan terus tersenyum. Mengejek tentunya.
"O. oke, Hyung. Tidak masalah siapa yang berbuat sesuatu , mm selama kita terus bersatu, stay strong, dan terus bersama-sama" Jelas Kai sambil berdiri dan mengepalkan tangannya mantap. Baekhyun hanya memutar bola matanya dengan malas.
Dan saat itu juga Byun Joon Myun, atau biasa dipanggil Mr. Suho, berjalan menuju sofa yang sudah dihuni kedua anak semata wayangnya. Kai yang melihat ayahnya langsung berteriak.
"He did it! He did it! Aku melihatnya dengan kedua bola mataku! Kau seharusnya malu dengan dirimu, Byun Baekhyun!" kata Kai sambil terus menunjuk Hyungnya.
"Bagaimana dengan kata-kata stay strong mu tadi, tuan-pecundang yang suka berkhianat" balas Baekhyun sambil berdiri.
"Don't worry, Baekkie. Aku tau kau tak melakukan apapun" bela Mr. Suho sambil terus melirik Kai dengan pandangan tajam.
Kai yang merasa tak bersalah juga akhirnya berkata. "Aku juga tak melakukan apapun, appa!"
"Atau lebih tepatnya belum" sambung Baekhyun yang dihadiahi pukulan pelan dikapala oleh ayahnya.
"I Know" balas Mr. Suho masih melirik tajam Kai.
"Tapi kenapa appa melihatku seperti itu?" tanya Kai merasa tak nyaman.
"Karna ini menyenangkan" balas ayahnya dan Baekhyun hanya tertawa dalam hati.
"Kau adalah appa yang sangat sangat kejam. Huh!" kali ini Kai melipat tangannya didada seperti anak kecil yang merajuk.
"Oh ya? Apakah appa mu yang sangat sangat kejam ini akan memberikanmu ini?" tanya Mr. Suho sambil mengambil dua benda berbentuk plastik persegi panjang dari kantong celananya.
"Kartu kredit!" pekik kedua anaknya bahagia. Kai langsung memeluk ayahnya di leher sedang Baekhyun terus terusan melihat kartunya dengan pandangan berbinar. "My First grand credit card…. Mulai hari ini… aku .—"
"Dan itu hanya untuk keperluan darurat!" lanjut Mr. Suho memotong imajinasi anaknya. Sedang Baekhyun langsung melirik benci kearahnya. Apppppaaaaaaa!
"Hati-hati appa! Seseorang akan membuat tagihanmu membengkak~" kata Kai sambil memoyongkan mulutnya kearah Baekhyun.
"Sudahlah, yang penting Baek, gunakan kartu itu hanya jika ada masalah saat appa tak ada disekitarmu. Kalian berdua juga sudah tau kan jika appa akan sering dinas keluar kota" jelas Mr. Suho yang kemudian memberikan tatapan setajam silet kearah Kai.
Kai membalikkan wajahnya kearah lain, namun Mr. Suho masih memberikannya tatapan itu.
"Terus kenapa appa masih melihatku seperti itu?"
"Karna ini masih menyenangkan" lanjutnya sampai terdengar suara bunyi bel rumah yang berbunyi. Karna merasa sudah selesai berurusan dengan kedua anaknya, ia berjalan kearah pintu depan.
Menjadi seorang Single Parent bukanlah hal yang mudah baginya. Apalagi ia ditinggal mati istrinya saat anak terakhirnya, Byun Jong In itu masih duduk di sekolah dasar. Meski begitu, ia tetap membanting tulang untuk kedua anaknya yang sudah berada dibangku kuliah. Ia tak mencari istri lagi karna tentu ia masih mencintai almarhumah istrinya dan juga ia akan menunggu hingga kedua anaknya siap menerima kehadiran orang lain di kehidupan mereka.
Menjadi seorang petinggi di departemen pemerintahan, dengan rumah besar, tanpa pembantu, dan lagi setiap harinya selalu dipenuhi dengan suara-suara melingking dari kedua anaknya yang bertengkar hebat, membuat hidupnya melelahkan. Tapi… selama ia bisa melihat wajah bahagia kedua anaknya itu, maka semangatnya akan selalu bangkit.
"Jongmal Gomawo Appa! Aku berjanji tak akan membuatmu kecewa!" teriak Baekhyun saat ayahnya berjalan kepintu depan. "Karna kita berdua cukup dewasa untuk menghendel tanggung jawab ini… right Jong In?" lanjutnya dengan nada tak percaya diakhir kata. Atau lebih tepatnya saat ia bilang 'Jong In'.
"Benar sekali, Hyung!"
Dan tiba-tiba Kai mengecek kantong celananya bahkan seluruh tubuhnya dengan wajah pucat. "Okee, aku lupa menaruh kartu ku" dan kemudian ia mencari dibalik sofa dan . . . . "OH! Ini dia!" serunya saat akhirnya ia menemukan kartunya yang berada dikolong meja, jangan tanya mengapa kartu itu ada disana. "Oh! Dan… sikat gigiku! Aku sudah mencarinya sejak 2 hari lalu"
Hell. Baekhyun memutar bola matanya. "Kau tak menyikat gigimu sejak 2 hari lalu?!" tanya Baekhyun dengan pandangan jijik. "Hyung! Jangan berlagak bodoh! Aku menggunakan sikat gigimu.. hehe"
"Iyuuuuuhhhhhhh! Ya Byun Jong In! turun! Jangan kabur! Kemari! Akan kupatahkan kedua tanganmu! Dasar dongsaeng gilaaaa!" teriak Baekhyun mulai merasa gila.
"Baek! Ada yang mencarimu!" tiba-tiba ayahnya berteriak dari arah depan. Sehingga mau tak mau ia harus melupakan untuk menghajar adik kurang ajarnya dan berjalan kesumber suara.
Sampai akhirnya ia melihat sosok namja yang berdiri didepan pintu sambil bercakap dengan appa-nya.
.
"Hyung!" panggil namja itu riang.
.
"Ada perlu apa kemari . . . . . . ?" tanyanya dengan nada senang.
.
END of Side Story 1
..
Gimana? suka sama side storynya enggak? rcl ya :)
