B e l i e v e or L e a v e

Zixyalous (c) 2018

Characters are JK. Rowling's

The story's purely mine

[AU[Horror[Thriller[Romance]

Chapter 3

The Blind Girl

Aku memutar gelas cocktail di tanganku dengan gelisah seraya memandang sekeliling. Baru kusadari bahwa hampir semua orang, kecuali aku tentu saja, memakai pakaian semi-formal hingga formal. Sedangkan aku terlihat seperti alien yang salah masuk. Seharusnya memang aku tidak perlu repot-repot masuk kesini. Seakan penampilanku belum cukup mencolok, Malfoy tadi menahan kepergianku dengan cara seperti itu. Aku tidak tahu apa maksudnya. Bahkan sampai sekarang saja masih bisa kurasakan satu dua tatapan melayang ke arahku. Tentu saja tak satupun dari tatapan itu bisa kuasumsikan sebagai tatapan positif.

"Hermione."

Malfoy tersuruk-suruk mendekatiku dengan senyum terpatri di wajahnya yang tak bercela itu. Ia tampak sangat kepayahan dengan crucknya. Tapi akhirnya ia berhasil mencapai diriku.

Diriku yang selalu bingung harus berbuat bagaimana bila di dekatnya. Orang sepertiku terbiasa bersikap kasar dan sarkas--yah, kebanyakan orang memang berprilaku sesuai dengan bagaimana cara semesta memperlakukannya, tapi dengan Malfoy aku seperti telah terpogram untuk tidak bisa melakukan itu. Itulah masalahnya.

"Aku sungguh tidak menyangka kau akan datang." Ungkap Malfoy yang kalau ia tak mengatakannya dengan nada senang, aku akan menerjemahkan kalimat itu menjadi 'lihat dirimu, tak diundang tapi datang'.

Aku memerintahkan diri sendiri untuk tersenyum dan mencoba menjelaskan, "Aku tahu sebenarnya kehadiranku disini agak aneh karena aku tidak diundang dan kita tidak dekat sama sekali, tapi--"

Malfoy memotong penjelasanku dengan perubahan raut wajahnya yang tadinya cerah menjadi semacam.. tidak suka? Entahlah. Yang pasti perubahan ekspresinya itu membuatku terdiam karena takut aku mengatakan hal yang keliru seperti sikap emosionalku di trotoar waktu itu. Ya, kuakui itu agak berlebihan.

Pada akhirnya, Malfoy buka suara, "Bukan seperti itu maksudku, Hermione. Acara ini terbuka untuk umum dan sebenarnya.." ia berdeham kecil dan membenahi posisi crucknya, terlihat sangat tidak nyaman, "Saat melihatmu di halte kemarin, aku berniat memberimu undangan, tapi kurasa kau tidak akan datang karena kurasa lagi, kau tidak menyukaiku."

Seketika aku ternganga, "Aku tidak menyukaimu?"

Setelah segala debaran jantung dan bertahun-tahun memandangimu dari jauh selama masa sekolah? Wow, dia terdengar seperti sedang melucu. Namun setelah dipikirkan kembali, siapa juga yang tidak merasa dibenci setelah diperlakukan seperti waktu itu?

"Mmm.. maafkan aku untuk kejadian di supermarket dan setelahnya itu, Malfoy. Kurasa aku memang berlebihan. Aku hanya.."

"Tidak apa-apa, kurasa aku bisa mengerti." Sahut Malfoy dengan senyuman kembali terpatri di wajahnya. Aku bertanya-tanya apakah dia selalu tersenyum dengan cara seperti itu--bukan jenis senyuman lebar, hanya senyuman tipis namun senyuman itu seakan juga mencapai matanya, menyiratkan ketulusan dan juga kehangatan.

Oke. Kurasa semakin lama bersamanya aku akan semakin terdengar seperti pemain opera sabun murahan. Mungkin aku hanya sedang terjebak dalam euforia sesaat karena ini adalah untuk pertama kalinya aku dan Malfoy bisa dikatakan sedang 'mengobrol-dengan-normal.'

"Tapi, aku akan merasa jauh lebih baik seandainya kau berhenti memanggil nama belakangku, Mione." Lanjutnya.

Aku mengerjapkan mata, teringat bagaimana Ginny memanggil namanya dan sepertinya mulai sekarang aku juga akan memanggilnya seperti itu.

"Yeah, baiklah. Bukan permintaan sulit, Draco." Ujarku, merasa agak rileks dan terkendali setelah kuputuskan untuk meminum sedikit cocktail itu. Ternyata aku tidak menyadari bahwa tenggorokanku kering sejak tadi.

"Senang mendengarnya." Tukas Malfoy riang, ia menghentikan seorang pramusaji dan mengambil segelas cocktail juga. "Jadi..." ucapnya, memutar-mutar gelas seperti yang tadi kulakukan, "Apa kabar?"

Meneguk beberapa tegukan lagi, aku merasa jauh lebih baik dan juga mampu menjadi 'teman mengobrol' yang cukup menyenangkan menurut kapasitasku, "Aku baik." Kemudian tatapanku turun pada crucknya dan merasa perlu mengorek sesuatu demi kepentingan 'investigasi'ku kesini, "Tadi kudengar katanya kakimu begini karena kau jatuh dari tangga."

Dia mengikuti arah pandangku, agak terkesiap dengan topik yang kupilih dan mengangguk, "Yeah. Lukanya tidak terlalu parah jadi aku menolak untuk dirawat inap."

"Bagaimana itu bisa terjadi?" Tanyaku lagi.

"Kemarin aku sedang mengirim pesan singkat di anak tangga teratas rumah Dad. Kemudian aku tergelincir begitu saja. Agak aneh memang, mengingat hanya ada aku di ruangan itu." Jelas Draco, tampak mengingat sesuatu, detail kejadian itu, namun ia buru-buru menggeleng tidak mengerti.

Tentu saja ia tidak mengerti, ia takkan bisa mengerti. Karena itu semua pastilah perbuatan hantu sialan yang menulisi dinding apartemenku dengan ancaman untuk membunuh dirinya.

"Hei, kenapa melamun?" Draco menyenggol gelasku dengan gelasnya, menimbulkan suara dentingan kecil yang membuatku segera terbangun dari lamunanku.

"Maaf." Ujarku seraya menatapnya.

"Jangan terlalu sering minta maaf, ini sudah maafmu yang kedua dalam sepuluh menit terakhir, kurasa." Katanya, membuat gestur mengecek arloji, "Dan aku tidak ingin mendengar yang ketiga kali."

Aku ingin mencoba tertawa demi alasan kesopanan, karena apabila menilik dari raut wajahnya Draco ingin melucu, namun yang keluar hanyalah cengiran tak ikhlas yang membuatku merutuki diri sendiri.

"Ngomong-ngomong," aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang menarik untuk menebus 'dosaku' sebelumnya, "Kukira kau masih berkuliah di lowa."

"Oh.." Draco tampak heran aku tahu itu, apa dia tidak sadar kalau dulu ia adalah cassanova yang ukuran sepatunya saja semua orang tahu? "Iya, aku tidak betah disana karena jurusan yang dipilihkan Dad sama sekali tidak menarik untukku. Akhirnya aku mengambil short course memasak dan memutuskan menjalankan bisnis restoran disini."

"Itu bagus. Kau jadi bisa bekerja dengan hal yang kau cintai sekarang." Kataku yang dibalas dengan anggukannya.

"Dan bagaimana denganmu, Hermione?" Ia balik bertanya.

"Aku?" Tidak ada yang bisa dibanggakan dari pengangguran sepertiku, tapi setidaknya aku masih punya satu pekerjaan, "Aku bekerja sebagai penulis lepas. Dan sedang mencari pekerjaan tambahan untuk mengisi waktu."

Sekaligus mengisi tabungan yang sedang dalam keadaan kritis, tambahku getir dalam hati.

Mungkin aku terlalu tenggelam dalam kekalutanku yang tentunya bukan tentang kondisi finansialku, melainkan tentang ancaman hantu itu. Aku yakin sekali entah bagaimana dia juga memiliki kemampuan untuk mengikutiku tanpa kuketahui. Dan saat ini, mungkin saja...

Pokoknya sebelum dia bahkan sempat merencanakan sesuatu untuk memperburuk keadaan Draco aku sudah harus menemuinya terlebih dahulu, tekadku dalam hati.

Dan ya, aku terlalu tenggelam dalam kekalutan sampai-sampai tidak menyadari Draco sudah berdeham dua kali dalam usahanya mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya. Sesuatu yang ternyata secarik kartu nama itu ia sorongkan padaku.

"Kau memberiku kartu namamu." Ujarku, lebih kepada diri sendiri saat kartu nama itu sudah berada di tanganku.

"Ya, kalau kau mau.." Draco tampak begitu ragu pada awalnya namun ia langsung melanjutkan, "Kau bisa bekerja disini. Ada beberapa lowongan".

Bekerja disini? Di Malfoy's Kitchen? Aku membelalak. Oh, tentu saja, aku sanggup bekerja dimana saja, namun berada satu area dalam intensitas sering bersama Draco Malfoy sama saja bunuh diri. Perasaanku bisa tak terproteksi dan aku hanya akan menghamba pada perasaan tak berguna--

"Sepertinya kau tidak terlalu senang." Tebak Draco karena aku diam saja, atau mungkin karena ekspresiku.

Aku menggeleng, agak terlalu kuat karena ujung rambutku yang bergelombang ikut bergoyang, "Tidak, bukan begitu. Aku menghargai tawaranmu, Draco, tapi sepertinya aku tidak bisa."

"Kau bahkan belum memikirkannya." Sergah Draco terlihat tak senang, "Itulah mengapa kuberi kau kartu namaku. Kalau kau berubah pikiran, kau bisa menghubungiku."

"Baiklah." Ucapku pada akhirnya, menyelipkan kartu nama itu pada tas selempangku lalu mengerling sedikit untuk memastikan kartu itu berada di posisi aman dan tidak akan jatuh. Tak sengaja tatapanku jatuh pada jam tangan murahan yang melingkari pergelangan tanganku. Waktu terus berlalu. Aku sadar seharusnya aku tidak boleh lama-lama berada disini. Karena setiap detik yang kuhabiskan tanpa membuat keputusan yang diinginkan hantu peneror itu sama saja membahayakan nyawa pemuda di hadapanku ini.

Maka dari itu, aku segera meletakkan gelas di meja terdekat dan kembali menghadap Draco untuk pamit, "Sayang sekali, kau harus mendengar maafku yang ketiga kali, Draco. Karena aku tidak bisa mengikuti jamuan makan malammu. Aku ingat ada sesuatu yang harus kuurus."

Alasan yang lemah sekali, suara dalam kepalaku berkomentar sarkas. Ya, setelah secara tidak langsung memproklamirkan diri sebagai seorang pengangguran, sekarang kau punya sesuatu untuk diurus? Yang benar saja.

Oh.. God. Sepertinya aku memang memiliki kecenderungan untuk mempermukan diri sendiri di hadapan.. well, orang yang kusukai.

Namun nampaknya Draco tidak menganggap itu sebagai sebuah alibi karena keningnya berkerut serius, "Kuharap itu bukan sesuatu yang buruk."

Ketulusan yang terus menerus dinampakkannya membuatku, untuk pertama kalinya, bisa tersenyum tulus juga, "Tidak, kok. Kalau begitu, aku pergi dulu, Draco. Senang bertemu denganmu, semoga bisnismu sukses."

Aku sudah separo jalan menuju pintu keluar saat kudengar Draco memanggil namaku dengan agak cukup keras, meningkahi suara musik yang diputar untuk memeriahkan suasana.

Saat aku menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, kudapati dia tersenyum miring kemudian berkata dengan lebih pelan namun masih jelas tertangkap indera pendengaranku,

"Kau berhutang satu makan malam denganku, Hermione."

-o0o-

Aku berjalan menerabas dinginnya angin malam. Untuk ukuran malam hari seperti ini, jarak ke pemakaman terbilang jauh, sementara tubuhku sudah menun, jukkan gejala siap ambruk dimana dan kapan saja. Jadi, dengan sikap menyerah aku duduk di sebuah bangku reyot di depan bangunan kuno yang difungsikan sebagai toko kue. Namun, toko tersebut sudah tutup sejak siang hari tadi.

Pluk.

Sebuah gelas plastik dilemparkan ke arahku. Aku menggeram pelan. Apa di jam segini sudah ada orang yang mabuk dan tidak bisa membedakan mana tempat sampah dan mana--

Aku hampir terjerembab ke samping tatkala hantu yang kucari itu tiba-tiba berdiri di hadapanku, tersenyum miring penuh kemenangan. Rambut panjangnya yang keemasan berkibar, menimbulkan efek kilauan. Aku punya perasaan kalau dulunya ia gadis yang benar-benar cantik.

"Kau.. bagaimana.. sial, tentu saja.." Aku tergagap oleh beragam kata umpatan yang sudah memenuhi otakku.

Dia duduk di sampingku dan berkata dengan nada yang begitu lembut, seperti saat pertama kali ia bicara padaku, "Kurasa kau sudah berubah pikiran, Nona Granger."

Aku mendengus, "Sepertinya bukan cuma aku yang berubah pikiran, mengingat kau hanya melukai kakinya." Dia tertawa tidak tulus yang menyebabkan tulang pipinya terlihat kentara sekali. Namun, itu menjadi hal terakhir yang ada di kepalaku; sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan pemandangan itu.

"Aku ini tidak bodoh, ya. Aku tahu akan sangat rugi sekali kalau langsung menghabisinya, bukan begitu?"

Cih, aku mencibir pelan dan memutuskan diam saja. Kulipat kedua tangan di depan dada dan menatap lurus ke depan. Ke arah jalanan sepi di hadapanku.

Dan tiba-tiba aku disodori tangannya yang pucat, "Namaku Fleur Delacour."

"Apa kau benar-benar berpikir aku akan membalas uluran tanganmu?" Tanyaku retoris.

Fleur tertawa hambar dan menarik uluran tangannya, "Tentu saja tidak. Kalau begitu, ayo ikut aku ke Central Park sebagai bagian dari misi pertamamu menolong hantu."

Ia menekankan kata pertama dengan sangat jelas lalu beranjak berdiri dan melayang mendahuluiku.

-o0o-

Pikirku, hanya orang-orang yang kurang kerjaan sajalah yang mau repot-repot datang ke Central Park malam-malam. Karena taman kota kami itu tidak terlalu hebat dan bisa dibanggakan. Tapi nyatanya, ada juga yang datang ke tempat ini. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih yang kurang kreatif dalam menentukan lokasi kencan.

Namun, aku melihat pemandangan yang berbeda di sebuah ayunan tua yang terletak agak menyendiri, tepat di samping dinding bata yang membatasi areal taman dengan jalan raya. Seorang gadis kecil tengah duduk disana, kepalanya terkulai menyandar pada besi ayunan. Kaki kecilnya tertumpu pada tanah dan ayunan itu bergoyang maju mundur dengan gerakan yang pelan sekali.

Fleur sudah berdiri sekitar tiga meter dari gadis itu, membelakangiku. Aku pun berjalan pelan dan berdiri di sebelahnya. "Siapa gadis ini? Kelihatannya mirip denganmu." Ujarku, mengacu pada warna rambutnya yang juga keemasan.

Fleur mendesah dengan sedih, "Yeah, dia Gabrielle. Adikku yang malang."

Aku tidak dapat menemukan komentar apa-apa, jadi aku hanya bertanya, "Memangnya kenapa dia?"

"Dia buta. Kau tidak lihat tongkatnya?"

Aku memicingkan mata dan melihat benda yang daritadi luput dari perhatianku, sebuah tongkat. Dan juga mata gadis itu tampak kosong. Baiklah, jadi Fleur punya adik perempuan yang buta, lalu apa hubungannya dengan 'misi' ini?

"Waktu aku kecelakaan, kira-kira bulan lalu..." Fleur memulai ceritanya, aku menegakkan diriku dan mendengarnya baik-baik, meskipun mataku terfokus pada Gabrielle dan tulang selangkanya yang tampak menonjol. Dia kurus sekali.

"Aku sempat terbangun beberapa saat dari koma dan sadar betul kalau aku tidak bisa bertahan. Jadi, aku bilang pada dokter yang merawatku untuk mendonorkan mataku pada Gabrielle kalau aku pergi. Kami adalah yatim piatu dan aku yakin kalau Gab bisa melihat lagi, dia--meskipun agak sulit pada awalnya, akan bisa hidup mandiri. Dia gadis yang pintar dan juga berbakat." Fleur tampak kesulitan menahan tangis, dan aku penasaran akan seperti apa tangisannya, namun dia buru-buru menguasai diri dan kembali meneruskan ceritanya,

"Tapi ketika aku benar-benar tiada, dokter itu mengingkari janjinya. Ia justru memberikan mataku pada anak walikota itu." Fleur berteriak berang, lalu menoleh padaku dengan kaku,

"Jujur saja pada awalnya aku tidak berniat mengusikmu karena kurasa kau juga memiliki hidup yang menderita dan repot. Tapi kehidupan Gab semakin menyedihkan, aku tak tahan lagi.." Dada Fleur naik turun dan ia mulai mengeluarkan suara seperti orang sesenggukan, namun tidak ada air yang keluar dari matanya.

Dengan terbata, ia berkata, "Apalagi saat aku tahu kau mengenal Draco Malfoy, aku semakin membulatkan tekad."

Kali ini barulah aku terpancing untuk membuka suara, "Apa hubungannya Draco dengan semua ini?"

Fleur tersenyum dengan jenis senyuman yang membuatku merasa tidak enak,

"Oh, tentu saja ada hubungannya. Karena dokter keparat itu, kebetulan, adalah ayah Draco Malfoy."

-o0o-

Aku mondar-mandir di sepanjang ruang duduk. Gelisah dan bingung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap Ginny ada disini. Aku menyadari memerlukannya untuk mengatasi persoalan Fleur dan adiknya ini, karena aku sama sekali tidak memiliki petunjuk untuk apa yang harus kulakukan selanjutnya. Selain cerita dan fakta mengejutkan tadi, Fleur tidak memberi petunjuk apa-apa. Ia hanya bilang padaku untuk mencari keadilan bagi Gabrielle.

Dan masalahnya adalah, Ginny, sejak pertama kali aku mengenalnya, selalu pergi menghilang di hari Sabtu minggu keempat dan akan kembali lagi di awal bulan nanti. Jadi aku hanya bisa tercenung sendiri, memikirkan apa yang harus kulakukan. Bayangan berita di koran yang tak sengaja kubaca saat aku tengah menjalankan pekerjaanku di kafe bulan lalu terbayang-bayang di pelupuk mataku,

Dr. Lucius Malfoy Sukses Diangkat Menjadi Direktur Utama RS St. Mungo

Mengenal Lebih Dekat Dokter Terbaik Kota Ini, Lucius Malfoy

Ternyata.. itu semua karena dia berhasil menyelamatkan anak walikota dari kebutaan--sementara di sisi lain ada seorang yang lebih berhak dan benar-benar menderita..

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku juga sejujurnya, merasa geram. Namun mengingat dia adalah ayahnya Draco, kurasa aku perlu sangat berhati-hati dalam menentukan sikap.

Pandanganku beralih pada kartu nama yang tergeletak di atas meja. Dan aku seperti langsung tahu apa yang mungkin bisa membantuku menemukan jawabannya.

-o0o-

Malam yang dingin tergantikan oleh pagi yang begitu cerah. Bahkan, langit biru nyaris bersih tanpa awan. Aku menjerang kopiku dengan air panas dan menyeruputnya sedikit. Enak, pikirku dalam hati. Padahal ini hanyalah kopi instan.

Aku bangkit untuk berkaca pada jendela dapur yang agak buram. Long cardigan abu-abu muda dengan legging hitam. Rambut kuncir kuda. Terlihat sangat... profesional.

Dengan langkah ringan aku mengecek beberapa kertas dalam map holder cokelat kemudian pergi setelah meninggalkan cangkir yang sudah kosong.

Seperti biasa, keadaan di luar benar-benar ramai di hari Minggu. Banyak orang pergi berlibur ke pantai yang memang tak jauh darisini atau ke museum dan tempat yang kudatangi semalam, Central Park. Apalagi di hari cerah begini, halte penuh sesak. Untungnya aku hanya akan mendatangi tempat yang bisa dicapai langkah kakiku dalam waktu kurang dari setengah jam.

Akhirnya aku sampai di tempat itu. Kaca jendelanya tengah dilap oleh seorang berpipi tembam dengan kecepatan tinggi seakan ada noda membandel pada kaca jendela itu.

Aku memperhatikan tulisan di pintu dan agak ragu apakah aku harus mengetuk dulu atau langsung masuk ke dalam, karena tulisan itu berbunyi : TUTUP. Dengan ragu, aku mendorong pintu itu terbuka, suara kerincingan yang menandakan ada orang masuk itu membuat pemuda pengelap kaca jendela itu memutar tubuhnya dengan cepat dan berkata, "Maaf, pelanggan. Kami masih belum buka."

"Aku tahu, tapi aku bukan pelanggan." Ujarku datar, menatap sekeliling ruangan.

Pemuda itu mengernyit heran dan berjalan ke arahku, "Lalu kau mau.. oh!" Mata bundarnya melebar terkejut sekaligus geli, "Jangan-jangan kau ya, pacarnya Vincent? Oh, bagaimana mungkin begundal itu memiliki pacar secantik--"

"Greg." Sebuah suara yang sudah familier untukku itu terdengar.

Pemuda di depanku menghentikan ucapannya dan menoleh, aku juga melakukan hal yang sama dan berusaha menyembunyikan fakta bahwa tubuhku agak gemetar gugup dengan memeluk map holder di dadaku sekuat-kuatnya.

"Hai, Draco." Sapaku gugup.

Draco yang kali ini mengenakan busana casual dengan kaus polo yang mencetak tubuh atletisnya itu nyaris menganga. Ia melangkah mendekatiku dan berkata, "Wow, halo, Hermione. Apa yang membawamu kemari?"

"Jadi kau bukan pacarnya Vincent?" Tanya pemuda itu, kernyitan di dahinya makin dalam.

"Jangan bodoh, Gregory." Sela Draco tanpa melepaskan pandangannya dari wajahku, "Dia teman SMA ku."

Aku menunduk menatap kuku sejenak lalu menengadah, mendapati mata coklat itu masih menatapku hangat.

Aku malah semakin gugup, "Baiklah aku kesini.. untuk ini." Kuserahkan map holder di pelukanku padanya.

Pandangan Draco teralihkan. Ia menerimanya seraya bertanya, "Apa ini?"

"Itu surat lamaranku. Aku berubah pikiran." Jawabku cepat dan karena Draco masih tak mempercayai kata-kata yang baru saja kuucapkan aku pun menambahkan dengan lebih tegas, "Ya, Draco, aku ingin melamar pekerjaan di restoranmu ini."

Bersambung.

Special thanks untuk Nasumichan Uharu dan Dracoola atas reviewnya yang sangat nge-boost semangatku untuk nulis Sebenernya chap 3 ini sudah hampir selesai sehari setelah chap 2 rilis, tapi karna kurasa alurnya absurd banget :3 jadi aku remake, jadinya agak pendek hehe. Semoga suka yak~ review please??