Rasa Baru

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Romance, High school love life

Rated : T

Warning :

AU!, Typo(s), gaje

.

Present~

.

.

Aku merasa ada yang berbeda dengan keseharianku kini. Seolah orang yang baru saja ku kenal sudah bertahun-tahun akrab denganku. Ini aneh, tapi aku suka. Karena selama ini aku selalu melalui segalanya sendirian, rasanya jadi seperti bertemu…

Seseorang yang istimewa.

Entah ada definisi yang lebih baik dari ini atau tidak.

Di malam itu aku sudah memutuskan untuk tidak menolak kedekatan dengan sesama penderita red nose. Terutama karena kami hanya terpaut umur 1 tahun. Apabila kami mengobrol juga pasti akan seru, tidak seperti pengalamanku dulu yang lebih sering bertemu orang dewasa. Namun, mungkin aku terlalu banyak melihat ke arahnya, hingga banyak sekali deskripsi yang ku ceritakan tentang dia.

Tapi bagaimana aku bisa tidak menceritakan banyak hal tentang Sasori? Lihatlah sendiri bagaimana caranya menghargai keadaan hidungnya, tidak pernah ditutupi meski panas di lapangan.

Ketika terpilih sebagai pemberi sambutan di acara olahraga sekolah, hidungnya juga memerah, tapi ia membiarkannya. Pemuda itu benar-benar membuatku iri. Betapa aku tidak pernah mensyukuri apa yang ku miliki.

Tapi mungkin ada sedikit perbedaan yang pasti dari kami tentang red nose ini. Sasori tidak pernah mendapat gelak tawa, atau bahkan teriakan geli orang-orang ketika warna merah itu muncul. Sedangkan aku…

Ya, semua orang pasti sudah tahu.

Wajar saja sih, dia kan anggota tim sekolah. Mana mungkin ada yang berani berteriak menghina, paling-paling hanya teriakan heboh ketika ia berhasil melempar bola ke garis lawan.

Berita buruknya, Kiba semakin tidak terlihat setelah malam itu. Mungkin dia masih marah gara-gara telepon yang ku matikan sepihak. Salah sendiri tidak kunjung muncul sejak sebelum acara dimulai, malah menelepon di saat sudah patah hati duluan.

Tapi niatnya baik sih, mau membantuku dekat dengan seseorang idamanku. Mungkin jika kami bertemu nanti, aku harus memperbaiki pertemanan kami. Lumayan kan jika teman yang mengerti kondisiku semakin banyak?

"Ino, sendirian saja?"

Hari itu di lapangan, Sasori yang kutahu tengah sibuk mempersiapkan pertandingan justru mendekat padaku. Beruntung latihanku sedang dihentikan beberapa waktu dengan alasan senior akan segera menjalani serangkaian kegiatan latihan ujian nasional. Alasanku tetap tinggal di lapangan hanya karena aku merasa sudah punya ikatan batin tersendiri dengan rerumputan hijau yang luas ini.

"Ino?"

Ah iya, aku sampai melupakan orang ini.

"Melamun?"

Aku menggeleng, berusaha keras melupakan pikiranku tadi..

"Kamu sendiri kenapa ke sini? Tidak sibuk?"

Ku lirik teman-temannya yang seluruhnya bercucuran keringat dan terpapar sinar matahari tidak berhenti berlatih. Justru si kapten tim dengan seenaknya keluar dari latihan hanya untuk berdiri di depanku.

Semoga saja aku tidak disalahkan para penggemarnya setelah ini.

"Tidak terlalu sih. Tapi aku ke sini karena ada yang mau aku tanyakan padamu."

Pandanganku mendadak terkunci di matanya.

"Ta-tanya apa?"

Sasori terbatuk sebentar ketika aku balik bertanya. Seperti ada sesuatu yang menyangkut di rongga-rongga mulutnya. Semakin ditatap justru semakin dia tidak bersedia bicara. Ingin ku tanyakan lagi namun takut niatnya batal.

"Itu... tidak terlalu penting sih sebenarnya. Tapi besok kan hari minggu, kamu mau jalan denganku?"

.

.

.

Aku berhenti di seperempat tingkat kesadaran. Merasa berhalusinasi tapi tidak sama sekali. Nyatanya aku sudah berada di kedai kopi 'Sepanjang Tahun', memesan es cappuccino. Di hadapanku ada Sasori, memesan kopi yang sama.

Sasori memulai cerita dengan kedai kopi yang berdiri tepat di depan toko yang kami singgahi. Namanya kedai kopi 'Penghujung Tahun'. Ia bilang kedai itu sangat terkenal, terlebih karena waktu bukanya yang unik, yaitu setiap akhir tahun. Namun kabarnya, kedai kecil itu sudah tutup, karena pemiliknya sudah memiliki pekerjaan baru di kota lain.

Sedikit banyak kami hanya mengobrolkan tentang kedai di depan itu, menyimpulkan sesuka kami bahwa dua kedai kopi ini berdiri berhadapan karena alasan persaingan bisnis, hingga akhirnya salah satu kedai kalah dan berakhir gulung tikar. Tidak semua yang Sasori katakan itu lucu, tapi anehnya aku tertawa.

Kemarin, ku kira aku tidak akan pernah menyetujui ajakan ini. Karena demi apapun, kami hanya pernah beberapa kali mengobrol di sekolah. Jadi, bisa dibilang ini kali pertamaku pergi keluar dengan laki-laki. Rasanya canggung.

Baru saja aku hendak memulai sebuah topik baru, namun ponselku di atas meja bergetar. Ada panggilan masuk. Tidak biasanya ada telepon di minggu siang seperti ini. Ku pikir ibuku yang penasaran kenapa tiba-tiba aku pergi keluar tanpa seperangkat alat latihan. Tapi ternyata Kiba lagi.

"Aku angkat telepon dulu, ya?"

Sasori mengangguk, mempersilahkan aku pergi sebentar.

"Halo?"

"Kamu dimana? Tidak latihan?"

"Aku tidak latihan. Grup pemandu sorak sedang diliburkan. Kamu sendiri sedang latihan?"

Ku dengar Kiba menghela napas panjang.

"Latihan lah, hanya saja kapten tim kami malah tidak datang. Sialan memang dia suka seenaknya sendiri. Malah tadi ada yang melihatnya pergi kencan."

Ap-apa? Kencan?

"Ka-kamu tahu kapten timmu itu pergi dengan siapa?"

"Mana kutahu. Kalau aku tahu, sudah kuhajar dia dengan pacarnya sekalian. Biar sama-sama tahu lelahnya latihan ketika sudah mendekati hari kompetisi. Harusnya jangan mentang-mentang ini cuma kompetisi kecil, lalu dia menyepelekan latihan. Dia pikir selama ini bisa menang tanpa latihan?"

Kiba terus-menerus berceloteh, membuatku merasa bersalah karena membuatnya dalam posisi sulit. Tapi yang paling membuatku bertanya-tanya detik itu juga adalah alasan mengapa Sasori sampai mencuri waktu latihan demi pergi denganku. Bukankah itu aneh? Iya kan, itu memang aneh!

Ya Tuhan, aku gagal menyembunyikan senyum!

Aku kembali dengan jantung luar biasa berdebar. Seperti ada gendang yang bertalu-talu di dalam sana. Aku yakin ini bukan kali pertama merasakan perasaan seperti ini, namun yang membuatnya berbeda adalah ketika mengetahui fakta ada seseorang yang tertarik padaku.

"Sudah selesai teleponnya?"

Sasori langsung menyapaku dengan senyuman. Aku mengangguk canggung.

"Kenapa hidungmu merah? Baru ditelepon pacarmu ya?" Dia tertawa sambil melihatku yang semakin tersipu.

"Tidak kok, aku tidak punya pacar."

"Yang benar? Bagus kalau begitu."

Bagus katanya? Apanya yang bagus dari seorang perempuan yang tidak punya pacar? Dia pasti benar-benar ada rasa padaku!

"Oh ya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini penting sekali, jadi dengarkan baik-baik ya," Titahnya padaku.

"Kamu ingat tidak berapa kali kamu ikut main voli ketika jam latihanmu sedang kosong?"

"Beberapa kali. Kenapa memangnya?"

"Aku lihat permainanmu lumayan untuk ukuran orang yang bukan atlit voli. Kamu mau tidak bergabung dengan tim voli putri?"

Mulutku membuka, terlalu terkejut dengan tawaran pemuda di hadapanku.

"Bukannya anggota tim voli putri sudah penuh?"

"Ada masalah dengan mereka. Salah satu anggotanya cidera parah di kompetisi sebelum ini. Aku pikir kamu pasti bisa menggantikan dia untuk sementara waktu. Aku akan bicara dengan guru pembimbing pemandu sorak supaya latihan volimu tidak mengganggu kegiatan aslimu."

Ku kira orang ini ingin membicarakan apa. Menyesal sudah memikirkan yang macam-macam!

"Kamu tidak keberatan, kan?"

"Oh, tidak kok. Lagipula aku memang suka olahraga."

Tapi tidak ada salahnya juga mencoba membantu Sasori yang satu kondisi sepertiku. Siapa tahu kami tidak hanya sekedar saling membantu, tapi juga bisa makin dekat satu sama lain, hingga akhirnya lebih istimewa.

Hahaha.

Mikir apa aku!

.

.

.

Kembali aku harus menjalani perkenalan. Ditemani hidung yang memerah, wajahku ditonton berpasang mata yang kini mengenakan kaos andalan. Entah apa yang harus ku lakukan, yang penting ketika dilempari bola, aku siap memulai servis.

Aku tahu, mereka mencoba mengetesku. Berkali-kali bola voli datang hingga membuat penglihatanku mengabur. Astaga, yang ku lakukan sekarang bahkan lebih mengerikan daripada latihan sebagai flyer di timku. Sepertinya orientasi anak baru semacam ini sudah menjadi kegiatan favorit setiap grup di sekolah.

Tunggu, memangnya aku anak baru?

Aku kan hanya menggantikan seseorang untuk sementara, jadi aku tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti ini.

Kembali bola dilemparkan padaku. Kali ini giliranku memberi smash, dan bolaku langsung masuk ke dalam garis lawan. Seringaiku tak terbendung mengetahui bahwa aku bisa mencetak skor di permainanku yang pertama sebagai anggota tim.

Aku tersenyum puas, membiarkan mereka menatap kagum padaku.

"Cara mainmu boleh juga. Sayang sekali kamu cuma jadi pemain sementara di sini."

Aku hanya bisa tertawa menanggapi perkataan orang yang berkali-kali melempar bola dengan kasar ke arahku tadi. Lihat ekspresinya yang tidak berdosa itu saat melihatku, dia pikir aku tidak tahu apa yang dia lakukan tadi itu sengaja!

Biar saja lah, hal semacam ini tidak akan menjadi alasan diriku untuk mundur. Tidak akan pernah.

Orang itu pergi, memberi tanda pada semuanya bahwa saat ini sudah waktunya istirahat. Awalnya aku bingung harus kemana karena semua orang sudah saling kenal, jadi aku duduk sendirian di pinggir lapangan seraya meneguk air mineral.

Langit siang ini sangat bersih, tidak ada kabut tanda-tanda akan hujan. Aneh sekali, padahal ramalan cuaca di ponselku tertulis hari ini akan hujan deras. Terserah lah, aku tak peduli, lagipula yang namanya ramalan bisa saja salah. Aku hanya akan memakan roti yang ku beli dan menikmati waktu-waktu istirahat yang sangat berharga.

"Hei," Seseorang sudah duduk di sampingku.

Dia Sakura, salah satu anggota tim voli putri.

"Oh, hai juga."

"Kenapa tidak bergabung dengan kami di sana? Bukannya kamu anak baru?"

Cih, apanya yang anak baru. Dari awal saja aku diperkenalkan sebagai pemain pengganti, bukan anak baru. Kenapa aku baru tahu kalau anak voli semenyebalkan ini!

"Aku hanya menggantikan orang yang sedang sakit kok, dan setelah pertandingan ini selesai aku akan kembali ke grupku sendiri."

"Memangnya pemandu sorak vakum sampai kapan?"

"Tiga minggu lagi kita sudah latihan seperti biasa kok." Ku pandangi perempuan itu yang entah bicara apa dan kemana ujungnya.

Ia mengangguk singkat, dan pada akhirnya memandangi langit dengan tatapan sayu.

"Kamu dekat dengan Sasori, ya?"

Sebuah perasaan aneh tiba-tiba saja muncul dalam diriku.

"Kata siapa?"

"Tidak ada sih, hanya saja aku tahu kalau Sasori yang membawamu ke sini."

Di saat itulah aku tidak tahu hendak menjawab apa.

"Enak ya bisa dekat dengan dia. Andai saja aku jadi kamu, pasti aku sudah bahagia bisa diberi perhatian sebanyak itu."

Kini hanya tatapan bingung yang kutunjukkan padanya. Perempuan itu justru tertawa tertahan.

"Ya ampun, maaf ya omonganku kemana-mana."

Selebihnya tidak ada percakapan lagi diantara kami, hanya ada angin kencang yang tiba-tiba menyapu rerumputan kering di depan sekolah. Hujan deras setelahnya.

Semua orang berlarian mencari tempat berteduh, tak terkecuali tim voli putra yang tadi juga latihan di ujung lapangan yang berseberangan dengan tempat kami latihan. Aku melihat semuanya, bahkan Sasori yang baru saja berlari ke dalam kelas dan keluar lagi membawa payung biru.

Ya Tuhan, dia berlari ke arahku!

Tapi tiba-tiba saja pandanganku tertutup oleh sesuatu berwarna merah. Ku tengok ke samping kanan, ternyata Kiba yang sedang memegang payung merah.

"Lama tidak bertemu ya?" Kiba tersenyum, matanya menyipit dibalik kacamata besarnya.

Ketika payung merah miliknya sudah tidak menghalangi pandanganku, justru di hadapanku ada payung biru yang tergeletak di antara rerumputan. Basah.

.

.

TBC

.

A/N: Sedikit respon, hmm. Tapi tidak apa-apa. Aku tetep bakal lanjutin ff ini sampai tamat. :D

.

.

Lin Xiao Li : Aduh, jangan begitu. Aku jadi terharu. :( Ini update cepet karena memang lagi nggak ada kerjaan kok, jadi jangan merasa terbebani. Oke? :D

Uyab4869 : Aku semangat kok, cuma suasana hati kadang berubah. eheheh. Makasih sudah mampir ke sini :'')