"Tunggu ini..." Chanyeol menganga lebar.

"Byun Baekhyun!"

"Kenapa kau menyimpan fotonya sebanyak ini?!"

Kyungsoo bertanya dengan nada marah. Yap, Kyungsoo benar-benar tidak habis pikir dengan salah satu sahabatnya yang bernama Park Chanyeol ini. Yang Kyunsoo tahu, Chanyeol jelas-jelas sangat membenci gay dan membenci Baekhyun karena Baekhyun menyukainya. Tapi kenapa Chanyeol malah menyimpan wajah Baekhyun sebanyak ini.

"Aku juga tidak tahu..."

Park Chan bingung. Sudah terdampar di tahun 2018. Dia tidak mengenal siapapun. Sekarang dia diintrograsi oleh sahabat anaknya sendiri. Yah, Park Chan sendiri juga tidak mengerti kenapa anaknya menyimpan wajah orang lain disana. Walaupun Park Chan belum pernah bertemu langsung dengan anaknya, paling tidak dia sangat ingat dan sedikit mengenali wajah anaknya setelah melihat beberapa foto wajah anaknya yang berada di apartmentnya.

"Argghhh... Kau ini sebenarnya mau apa sih? Kau bilang kau benci Baekhyun! Kau benci gay! Lalu kenapa kau menyimpan fotonya?! Kau psikopat?!" Kyungsoo marah besar.

"..." Park Chan hanya bisa diam.

"Kenapa hanya diam saja ohh?!"

"Hmm... maaf, bisa tolong saya bayar ini semua, ini kartu saya. Cepat..." Park Chan ingin berusaha mengalihkan perhatian dari semua orang di toko.

Yah, Kyungsoo daritadi memarahinya sambil berteriak. Jelas orang-orang serta pegawai di toko itu memperhatikan jelas keributan yang mereka buat. Apalagi ini bersangkut pautan dengan anaknya. Yah, sebagai ayah yang baik, jelas saja Park Chan tidak ingin mempermalukan anaknya di depan umum.

"Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?!"

"Ini kartunya dan struk belanjanya" Kata pegawai disana mengembalikan kartu kredit Chanyeol.

"Terima kasih."

Chanyeol langsung beranjak berdiri dan menarik tangan Kyungsoo berlari keluar dari toko. Diapun menarik Kyungsoo ke daerah jalan kecil dan sempit yang lumayan sepi supaya Kyungsoo bisa bebas berteriak disana.

"Jelaskan padaku sekarang!" Kyungsoo geram.

"Aku sendiri juga tidak tahu. Lagipula sejak aku sadar. Aku sudah bilang bahwa aku bukan Park Chanyeol!" Park Chan ikut marah.

"Lalu kalau kau bukan Park Chanyeol kau siapa?! Park Chan?! Sudah berapa kali kubilang bahwa Park Chan itu ayahmu dan dia sudah meninggal?! Otakmu kemana sih!" Kyungsoo benar-benar naik darah sekarang.

"Kalau begitu jawab kenapa dia bisa meninggal?!" Chanyeol ikut meninggikan suaranya.

Kyungsoo benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Entah otaknya masih berada dikepalanya atau terpental kepinggir jalan saat dia kecelakaan, itulah yang ada dipikiran Kyungsoo sekarang. Pertanyaan yang tidak akan pernah dijawab siapapun. Yah, Chanyeol sangat tertutup tentang cerita akan keluarganya. Jadi, Kyungsoo sendiri juga tidak tahu penyebab kematian Park Chan karena apa dan bagaimana.

"KAU TIDAK PERNAH MEMBERITAHUKU BANGS*T!"

Kyungsoo benar-benar habis akan kesabarannya. Bila dia bisa, dia rasanya ingin memukul habis sahabatnya yang sedang berdiri di depannya ini. Untungnya, Kyungsoo masih bisa berpikir jernih.

"Hhh..." Chanyeol hanya bisa mengeluh.

"..."

"Bantu aku bertemu Oh Sehyung. Dia masih hidup kan?" Tanya Chanyeol.

"Ayah Sehun?" Tanya Kyungsoo yang mulai sedikit tenang.

"Eoh.." Chanyeol mengangguk.

"Kau pikir kita bisa menemuinya semudah itu?! Aku tahu kau memang lebih dekat dengan Sehyung samchun dibanding Sehun sendiri, tapi ini benar-benar tidak bisa..."

"Kenapa?"

"Menurutmu?!" Kyungsoo menatap Chanyeol kesal.

"Karena aku bukan anaknya?" Chanyeol menebak-nebak.

"hmmpphhh..."

Kyungsoo hanya bisa menghela napasnya panjang. Yah, rasanya iya ingin sekali menjitak kepala sahabatnya ini. Bagaimana bisa dia menjawab seperti itu? Entah Chanyeol memang hilang ingatan, bodoh, atau kehilangan otaknya. Kyungsoo yakin bahwa Chanyeol masih sakit.

"Aku rasa kau harus kembali ke rumah sakit..."

"Kenapa? Aku sudah sangat sehat..." Chanyeol berlari dan melompat di tempat.

"Sebelum bertemu Ayahnya Oh Sehun, aku ingin kau meluruskan masalah foto Baekhyun." Jawab Kyungsoo sabar.

"Sebelum aku bisa meluruskan itu, aku harus bertemu Oh Sehyung." Balas Chanyeol.

"...Aaauhhh... Kembalilah saja ke sekolah besok... Ya, Park Chanyeol. Aku ingin pulang dengan damai... kita bertemu lagi besok ya..."

Pada akhirnya, Kyungsoo memutuskan untuk pulang sebelum dia benar-benar memukul sahabatnya itu. Yah, dia sama sekali tidak mengerti kenapa Chanyeol sangat memaksa ingin bertemu dengan ayahnya Sehun. Tapi yang sangat dia tidak mengerti adalah kenapa Chanyeol bisa mengenali ayahnya Sehun tapi tidak dengan sahabat disekitarnya. Well, dari pada menghabiskan waktu memikirkan ini, Kyungsoo lebih memilih melakukan videocall bersama Jongin

.

.

.

"I Am Not Park Chanyeol"

"Hei, Oh Sehun?" Panggil Chanyeol yang masih belum terbiasa memanggil anak temannya itu.

"Ohh... Chanyeol-ah? Kau sudah mulai masuk hari ini.." Jawab Sehun yang duduk didepannya.

"Iya, aku sudah cukup sehat. Dan ada yang ingin kutanyakan padamu." Kata Chanyeol dengan wajah serius.

"Apa?"

"Kau kenal Baekhyun kan?" Tanya Chanyeol.

"Tentu saja aku kenal... dia sahabatku." Jawab Sehun meyakinkan.

"Dia tidak bersekolah disini?" Tanya Chanyeol penasaran.

"Hah?! Tentu saja Baekhyun bersekolah disini. Mungkin kau tidak ingat karena ingatanmu bermasalah, tapi kita sudah berjanji sejak sekolah dasar untuk selalu bersama-sama, dengan Kyungsoo dan Jongin juga, serta Luhan." Jawab Sehun.

"Tapi aku tidak melihat dia dari tadi..." Gumam Chanyeol.

Yah, sebenarnya Chanyeol sengaja datang 30 menit lebih awal agar dia bisa menemui anak yang bernama Baekhyun itu dan mengajaknya bicara. Tapi sayangnya, setelah mencocokkan banyak wajah murid yang masuk ke kelasnya, dia sama sekali tidak bisa menemukan wajah yang sama seperti di ponselnya.

"Tentu saja, Baekhyun kan di kelas A. Kita di kelas C, jangan sama kan dirimu dengan Baekhyun yang pintar itu... Hahhaa..." Sehun tertawa mendengar gumaman Chanyeol.

"Hah? Kelas kita digolongkan seperti itu...?!" Park Chan benar-benar tidak habis pikir dengan sistem pendidikan masa kini.

"Eohh... Apa itu aneh? Tentu saja tidak. Yang lebih pintar mendapat fasilitas dan pengajar khusus sedangkan kita anak yang biasa saja bahkan bodoh ya mendapat fasilitas standar.." Terang Sehun.

Jongin yang baru datang tepat saat 2 menit sebelum bel berbunyi, duduk disebelah Sehun dan ikut mengobrol dengan Chanyeol. Yah, bagaimanapun juga dia sedikit merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Dan dia sangat ingin membantu Chanyeol untuk mengembalikan ingatannya. Itulah sebabnya dia meminta tolong Kyungsoo untuk mengurus Chanyeol bila dirinya sedang sibuk.

"Ohh? Chanyeol? Kau sudah masuk hari ini?" Jongin sedikit terkejut melihat Chanyeol.

"Yah begitulah. Dan kau di kelas ini juga?" Tanya Chanyeol.

"Maksudmu?" Jongin bingung.

"Tunggu, Hei Oh Sehun. Bukankah aku orang yang bisa dibilang pintar? Aku melihat banyak penghargaan yang dipajang dirumah." Terang Chanyeol bingung karena kenyataanya sangat berbeda dengan apa yang dia lihat.

"Ahh... penghargaan itu... Mungkin kau tidak sadar. Tapi kau memang jenius. Tapi, itu semua 3 tahun yang lalu. Apalagi saat pergantian semester kemarin. Prestasimu semakin drop jauh..." Terang Sehun sambil memainkan ponselnya.

"Kenapa?" Chanyeol bingung.

"Hei, tentu saja itu karena ayahmu meninggal 3 tahun lalu dan Baekhyun yang menyatakan perasaannya padamu. Kau benar-benar stress saat 3 tahun lalu itu. Dan hubunganmu dengan Baekhyun entah kenapa mulai merenggang sejak saat itu. Dan ketika Baekhyun menyatakan perasaannya padamu, Kau menolaknya dan kau semakin stress.." Jelas Sehun.

"Tapi bukankah Chanyeol stress karena sudah tahu penyebab kematian ayahnya?" Sambung Jongin.

"Ayahku yang meninggal? Kenapa?" Chanyeol penasaran.

"Aku sendiri juga tidak tahu, kau sangat sensitif bila kami membahas hal ini. Tidak seperti sekarang sikapmu yang biasa saja, kau yang dulu akan langsung marah bila kami membahas ayahmu dan terlebih lagi Baekhyun. Walaupun kau mulai marah belakangan ini dengan Baekhyun... tapi kami juga tidak tahu alasannya kenapa. Yang kami dengar dari Kyungsoo, kau hanya benci gay dan kau jadi benci Baekhyun." Jawab Jongin panjang lebar.

"Aku?!" Park Chan bingung.

"Ya, padahal dulu kau sangat peduli dan dekat dengan Baekhyun. bisa dibilang kedekatan kalian seperti sepasang kekasih?" Terang Sehun.

"Hmm...kau punya nomor Baekhyun?" Tanya Chanyeol.

"Tentu saja aku punya..." Jawab Sehun.

"Beri aku nomornya." Pinta Chanyeol.

Pada akhirnya Park Chan berhasil mendapatkan nomor dari orang yang paling ingin dia cari. Yah, walaupun sebenarnya yang paling ingin dia temui adalah Oh Sehyung, yaitu ayah dari Sehun sendiri. Tapi, tidak mungkin kan dia secara mendadak, tanpa alasan khusus meminta nomor Oh Sehyung dari Sehun. Bisa-bisa Sehun menganggapnya aneh dan yah, intinya hubungan mereka bisa-bisa menjadi buruk.

*82*******

Temui aku di atap saat jam istirahat makan siang!

Yap, begitulah isi pesan yang dikirim Chanyeol ke nomor ponsel Baekhyun yang baru dia dapat dari Sehun. Sebenarnya Chanyeol lebih suka bicara langsung, tapi untuk kali ini, dia tidak yakin bila Baekhyun akan langsung mau menurutinya. Yah, dia memperkirakan, mungkin sifat Baekhyun dan Baekhee agak mirip.

*Baekhyun

Siapa?

.

*82******

Chanyeol!

.

.

.

Namja tinggi itu tengah berdiri di atap sekolah sambil bersandar dan menikmati angin disana. Dia telah menunggu namja mungil yang telah ia kirimi pesan selama 15 menit. Yup, sisa 15 menit lagi waktu untuk namja mungil itu menghampiri Chanyeol dan meluruskan semuanya.

Chanyeol dan Baekhyun sudah agak lama tidak berbicara. Sekitar 3 tahun? Yah, mereka hanya sekedar saling menyapa bila berpapasan. Itu juga dikarenakan ada Kyungsoo disekitar mereka. Bila hanya mereka berdua saja yang berpapasan, mereka tidak akan bertegur sapa, bahkan saling berkontak matapun tidak.

"Kau sudah tidak memblokir nomorku?"

Yup, akhirnya namja mungil itu datang. Namja yang menimbulkan banyak pertanyaan di kepala Park Chan. Namja yang merupakan pemeran utama dari sebab dia bisa datang ke tahun 2018. Namja yang mungkin sangat berpengaruh bagi hidup anaknya.

"Memangnya aku memblokir nomormu?"

Park Chan menatap Baekhyun bingung sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Ya, Park Chan tidak tau bila anaknya sudah memblokir nomor Baekhyun. Tapi kenapa? Bukankah Chanyeol menyukai Baekhyun? Park Chan benar-benar tidak mengerti situasi saat ini.

"Mungkin kau tidak ingat, aku sudah mendengarnya dari Kyungsoo bahwa kau kecelakaan dan hilang ingatan. Aku berharap kau bisa cepat sembuh. Tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan, aku kembali ke kelas."

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju pintu tetapi sebuah genggaman kasar menarik tangannya hingga Baekhyun tertarik secara paksa serta kuat dan tersandar pada dada bidang namja yang menarik dirinya.

"Tunggu"

"Masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu."

Baekhyun terdiam di tempat. Yah, bohong bila Baekhyun tidak menyukai dada bidang Chanyeol yang terasa hangat ini. Jujur Baekhyun sangat ingin memeluk namja didepannya ini. Tapi dia masih sadar bahwa dia tidak memiliki hak akan hal itu.

"Apa?" Baekhyun menjauhkan dirinya dari tubuh Chanyeol.

"Ayo kita berpacaran!"

...

Suasana benar benar tenang, hanya bisa terdengar hembusan angin dan suara daun pohon yang bergesekkan. Yah, sebenarnya Baekhyun sudah menduga hal ini. Bohong bila dia bilang dia sudah tidak menyukai Chanyeol. Bagaimanapun juga, Chanyeol adalah cinta pertamanya. Dia tidak bisa melupakannya, apalagi Chanyeol selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan ketika mereka bertengkarpun, Chanyeol tetap peduli padanya.

.

.

.

2 Tahun yang lalu

Sebagai siswa sekolah menengah pertama tingkat akhir, Baekhyun tentu sangat giat belajar agar bisa diterima di sekolah menengah atas yang ternama dan memiliki akreditasi tinggi. Sebenarnya sejak pertengkaran dengan Chanyeol 1 tahun lalu, dimana perasaannya ditolak dan Chanyeol menjauhinya, Baekhyun tidak banyak berharap Chanyeol akan menepati janjinya untuk selalu masuk di sekolah yang sama hingga SMA.

"Baek! Kau sudah mengisi formulir SMA yang ingin kau tuju?" Tanya Kyungsoo antusias.

"Aku masih bingung..." Wajah Baekhyun lesu.

"Kenapa?" Kyungsoo ikut bingung.

Baekhyun tidak menjawab dan hanya memutar mutar Bolpoinnya. Sebenarnya Baekhyun belum memilih sekolah SMA mana yang akan dia tuju karena dia tidak tahu Chanyeol akan memilih sekolah mana. Baekhyun sudah tahu jelas dimana Kyungsoo akan tuju dan hanya Chanyeol yang dia tidak tahu. Bagaimana pun juga, Baekhyun harus bertanggung jawab akan janjinya dengan Kyungsoo dan Chanyeol agar terus bersama sama hingga besar nanti.

"Argghhh... harusnya aku menunggu lebih lama waktu itu. Andai saja aku tidak menyatakan perasaanku padanya, dia tidak akan seperti ini kan?" Tanya Baekhyun khawatir.

"Lagi? Sampai kapan kau mau membahas ini Baek... ini sudah 1 tahun berlalu. Kau mau terus berputar di masa itu?"

Kyungsoo hanya bisa memutar bolanya malas dan dengan kesal menanggapi keluhan Baekhyun. Yah, sudah 1 tahun berlalu dan Baekhyun masih mengungkit hal itu. Paling tidak 1 minggu sekali. Kyungsoo sudah bosan dan muak dengan masalah yang mencapai jalan buntu itu. Chanyeol benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik dan Kyungsoo tidak tahu kenapa. Chanyeol sama sekali tidak bercerita apa-apa, itulah sebabnya Kyungsoo sudah tidak bisa membantu Baekhyun sama sekali.

"Kira-kira dia pilih SMA mana ya?"

"Mau kutanyakan?" Tawar Kyungsoo.

"Tidak usah Kyungg, aku tidak mau merepotkanmu. Lagipula ini semua salahku, karena aku prestasinya jadi menurun dan mungkin tidak bisa masuk ke SMA ternama dan karena aku juga hubungan kita jadi sangat canggung.

"Baek, bila kau membahasnya lagi, aku benar-benar akan bermusuhan denganmu." Jawab Kyungsoo dengan nada serius.

"Maaf Kyungsoo ya~ tapi rasanya hal ini tidak bisa berakhir. Sudahlah, aku ke toilet dulu."

Baekhyun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke toilet. Sebenarnya jarak kelas Baekhyun menuju toilet hanya sekitar beberapa langkah, tapi dia dengan sengaja pergi ke toilet yang lebih jauh, dimana dia bisa melewati kelas Chanyeol dan bisa melirik keberadaan namja yang disukainya itu.

"Eh? Chanyeol tidak ada..." Nada Baekhyun kecewa.

Betapa terkejutnya Baekhyun saat masuk ke dalam toilet, ternyata namja yang dia cari-cari berada disana. Entah ini takdir atau apa, dia tidak menyangka akhirnya bisa bertemu Chanyeol secara langsung, bahkan melakukan kontak mata sebentar.

Chanyeol sadar akan keberadaan Baekhyun. Sangat sadar. Baekhyun buang air tepat di samping bilik yang dia gunakan. Bohong bila dia tidak menyadari keberadaan Baekhyun yang sangat dirasakan olehnya. Namja yang lebih mungil dengan tubuh sedikit berisi, bau manis yang masuk kepenciumannya, ya benar, ciri-ciri seorang Byun Baekhyun.

"Kau mengambil SMA mana?" Tanya Chanyeol datar.

Baekhyun terdiam, setengah terkejut dan yah, dia tidak percaya bahwa Chanyeol mengajaknya bicara duluan. Dari tadi sebenarnya Baekhyun berpikir pertanyaan atau sapaan apakah yang paling cocok untuk memulai pembicaraan dengan Chanyeol. Tapi sepertinya dewa neptunus berkata lain. Namja tinggi itulah yang memulai pembicaraan diantara kedua insan ini.

"Ahh aku... aku belum memilihnya, masih kupikirkan..." jawab Baekhyun sambil tersenyum canggung.

"Ohh, aku memilih SMA SH, SMA SM, dan SMA JM..." Jawab Chanyeol datar.

Perut Baekhyun benar-benar terasa tergelitik sekarang. Dia benar-benar senang. Bahkan tanpa ditanya, Chanyeol menjawab kebingungannya dari kemarin. Ya! SMA yang ingin Chanyeol tuju. Itulah yang sangat Baekhyun ingin tahu dan akhirnya dia mendapatkan jawaban langsung dari orangnya.

"Yang mana yang kau suka?" Tanya Baekhyun hati-hati.

"Sepertinya aku lebih dominan ke SMA SM." Jawab Chanyeol lagi datar sambil mencuci tangannya.

"Ahh begituUuUuAAAAA...!"

Yah, sebenarnya salah Baekhyun yang terlalu senang karena berbicara dengan Chanyeol hingga dia tidak memperhatikan bahwa lantai yang dia pijak terdapat genangan air dan akhirnya dia terpeleset terjungkal ke belakang dan kepalanya terbentur dengan lantai keramik yang keras itu. Tidak bocor dan luka, tapi cukup membuat Baekhyun mengeluarkan darah dari hidungnya.

"Kau tidak papa?!"

Chanyeol panik, dia mengambil tisue lumayan banyak dan langsung memberikannya kepada Baekhyun, tidak lupa juga dia ikut membantu menggulung tisue untuk disumpalkan pada lubang hidung Baekhyun agar darah Berhenti mengalir. Melihat Darah merah segar yang terus merubah warna tisue putih yang Chanyeol ambil. Chanyeol pun semakin panik dan dengan tidak sabaran langsung menggendong Baekhyun yang masih duduk di lantai toilet dengan kedua tangannya dan berlari menuju ruang kesehatan.

Baekhyun panik? Tentu saja tidak! Dia senang tak tertahankan. Bagaimana bisa dia bicara dengan Chanyeol dan bahkan digendong oleh cinta pertamanya ini. Kebaikan apa yang terlah dia perbuat dikehidupan sebelumnya hingga dia bisa merima karma sebaik ini. Itulah pikir Baekhyun sekarang. Yah Baekhyun sangat berharap, sedikit berbalas kata dan kejadian tadi bisa mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala. Tapi kenyataan berkata lain.

"Sudah, aku pergi dulu. Kim seonsaeng akan segera datang."

"Terima kasih Chan-"

Klek suara pintu tertutup sebelum Baekhyun menyelesaikan ucapan terima kasihnya. Yah, Baekhyun pikir mungkin Chanyeol agak sibuk dan harus buru- buru kembali ke kelas. Baekhyun pun merasa dia harus benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Chanyeol nanti.

.

.

.

Saat pulang sekolah, Baekhyun cepat-cepat berlari ke gerbang. Yah, dia berharap bisa bertemu Chanyeol disana. Paling tidak bertegur sapa dan mengucapkan terima kasih. Itulah yang ada dipikiran Baekhyun sekarang.

Dari kejauhan, Baekhyun sudah bisa melihat Chanyeol berjalan sendirian sambil menggendong backpack hitamnya. Baekhyun tersenyum kecil dan bersiap untuk menyapa Chanyeol.

...

"Chanyeol-ahhh..."

...

...

...

Baekhyun terdiam dengan tangan masih diatas dengan gesture untuk bertegur sapa. Tapi sayangnya, lawan bicaranya tidak sepemikiran dengannya. Ya, Chanyeol hanya melewati Baekhyun yang telah tersenyum memanggilnya. Baekhyun terdiam pada tempatnya, matanya berkaca-kaca, air matanya penuh membasahi matanya dan akhirnya diapun tak sanggup menahannya. Airmatanyapun jatuh membasahi pipi gembulnya. Baekhyun berlari secepat mungkin menuju halte bus dan naik bus manapun yang datang duluan, walaupun itu bukan tujuan menuju rumahnya.

Hati Baekhyun teriris. Dia sangat yakin bahwa karena kejadian tadi, dia benar-benar akan bisa mengembalikan hubungannya dengan Chanyeol seperti sedia kala. Tapi setelah kejadian di gerbang tadi siang. Dia sangat yakin juga, bahwa hubungan mereka benar-benar sudah tidak bisa diperbaiki dan telah mencapai jalan buntu.

.

.

.

Chanyeol yang berjalan dengan perasaan tidak enak itu berpikir untuk kesekian kalinya. Haruskah dia kembali dan menghampiri namja mungil yang menyapanya tadi? Atau haruskah dia tetap menjaga jarak dan hubungan mereka akan terus renggang seperti ini. Sebenarnya Chanyeol sangat ingin membangun kembali hubungan yang baik dengan Baekhyun. Tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Hingga akhirnya dia hanya bisa menatap sosok namja mungil itu berlari sekencang mungkin dengan tas ransel yang terombang ambing dan tangannya yang sesekali mengusap wajahnya. Ya! Chanyeol adalah orang yang sangat peka. Dia tahu Baekhyun menangis. Bahkan Chanyeol sudah tahu bahwa Baekhyun menyukainya sejak 5sd dan Baekhyun baru berani menyatakan perasaannya saat 2 smp.

Chanyeolpun akhirnya memutuskan untuk mengikuti namja mungil itu. Dia ikut berlari agar tidak tertinggal. Dia berlari pelan agar tidak ketahuan. Dia menjaga jarak dan bahkan ikut naik bus yang sama dengan Baekhyun. Chanyeol tahu betul bahwa jurusan bus yang dinaikin Baekhyun bukan yang mengarah kerumahnya untuk mengantarnya pulang. Chanyeol memasuki bus dan duduk dipaling belakang. Dia terus memantau Baekhyun yang terduduk lemah sambil menatap jendela. Yah, seperti di musik video lagu galau, dia memasang earphone dan menatap kearah jalanan dengan tatapan kosong.

Baekhyun pun turun disebuah toko musik. Dia masuk dan melihat beberapa CD serta mencoba mendengarkannya. Chanyeolpun juga ikut memakai earphone dan mendengarkan lagu yang tadi didengarkan Baekhyun. Dia juga mengikuti Baekhyun ke sebuah toko buku bahkan ke Warnet. Baekhyun bermain game hingga berteriak teriak disana. Entah kenapa Chanyeol yang berada di 2 baris belakang deretan komputer yang digunakan Baekhyun jadi merasa bersalah.

Hingga pada akhirnya Baekhyunpun menuju rumahnya. Jam 9 malam, Baekhyun baru berjalan didaerah blok rumahnya. Chanyeol sudah merasa sedikit tenang saat itu. Akhirnya sahabatnya itu memutuskan untuk pulang kerumah. Melihat Baekhyun yang mulai berjalan ke arah rumahhya, Chanyeol memutuskan untuk berhenti mengikutinya dan memutuskan untuk pulang. Tetapi, sebuah teriakan menghentikan langkahnya.

"YA!" Baekhyun berteriak.

Chanyeolpun terhenti membeku di tempat.

"Kenapa kau mengikutiku?" Suara teriakan tapi lemah dapat terdengar disana.

Chanyeolpun hanya terdiam tanpa membalikan badannya. Ya, dia sudah tahu bahwa Baekhyun sedang bicara dengan dirinya. Entah kenapa Chanyeol sama sekali tidak memiliki inisiatif untuk membalikkan badannya. Dia sadar bahwa dia tidak sanggup melihat Baekhyun menangis dan pada saat itu juga dia sadar bahwa dia menyukai namja mungil itu.

"PARK CHANYEOL!" Teriak namja mungil itu dengan nada marah.

"Kumohon eohh..."

"Jangan ikuti aku, jangan perlakukan aku dengan baik... itu semua membuatku bingung..." Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca, penuh dengan air mata.

"Bila kau bisa, jangan pernah berhubungan denganku lagi!" Air mata Baekhyunpun akhirnya jatuh membasahi pipi gembulnya itu.

Baekhyunpun masuk kedalam rumah tanpa mempedulikan apakah namja tinggi itu akan menanggapi perkataannya atau tidak. Dia membanting pintu gerbang rumahnya hingga sanggup membuat Chanyeol sedikit terkejut. Sebenarnya Chanyeol sama sekali tidak menduga bahwa Baekhyun akan bereaksi seperti ini. Dia tidak tahu bahwa yang dia lakukan ini malah membuat Baekhyun semakin sedih. Chanyeolpun akhirnya pulang dengan wajah sedih.

2018

"Jadi bagaimana? Kenapa diam saja?"

"Eohh?"

"Kubilang, ayo kita berpacaran."

"I am Not Park Chanyeol"

.

.

.