Life Story
By
Han
Do Kyungsoo, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, and other..
Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family.
Genderswitch/GS!
.
.
Chapter 2 :Ups, the secret?!
.
.
Hari ini adalah hari minggu. Baekhyun sangat senang karena hari itu dimana ia akan berkumpul dengan kedua orangtuanya. Ya, kesibukan keduanya membuat Baekhyun jarang sekali bertemu, jadi mereka hanya bisa bertemu setiap hari minggu. Baekhyun menuruni satu persatu anak tangga. Pagi ini ia memakai dress selutut dengan warna hijau tosca bercampur cardigan berwarna krem. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, tak lupa juga poni depan ia jepit ke atas, memperlihatkan keningnya yang indah.
Baekhyun segera menuju meja makan untuk sarapan. Keningnya mengkerut saat melihat meja makan tersebut masih kosong. Bukan makanannya, melainkan kedua orangtuanya belum duduk disana. Biasanya setiap minggu pagi Baekhyun menuju tempat tersebut, ayah dan ibunya sudah duduk lebih dulu. Berbeda dengan hari ini.
Pelayan Jung sekaligus pengasuhnya sejak kecil menghampiri Baekhyun yang terdiam di anak tangga terakhir.
"Nona Byun, mari ke meja makan.." ajaknya. Baekhyun menatap pelayan Jung dengan tatapan bingung penuh tanda tanya.
"Dimana ibu dan ayah?"
Pelayan Jung hanya tersenyum lembut, kemudian ia mengusap ujung rambut Baekhyun. Baekhyun tidak mempermasalahkan hal itu, karena yang pelayan Jung lakukan sudah biasa ia dapatkan.
"Tuan dan Nyonya Byun akan datang nanti sore. Sekarang, Nona Byun harus sarapan."
"Kenapa? Tidak biasanya,"
"Nyonya Byun hanya memberitahu kalau ternyata mereka ada urusan mendadak,"
Baekhyun mendengus, "Baiklah,"
.
Life Story
.
Matahari mulai menampakkan sinarnya dari sela-sela ventilasi udara dan gorden yang masih tertutup rapat. Kyungsoo membuka matanya, ketika mendengar cicit burung gereja mulai membangunkannya. Ia memang tidak memasang alarm dengan alasan hari ini hari minggu. Kyungsoo menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit dan menyandarkan punggungnya tembok. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Ah—ya! Kim Jongin.
Kyungsoo buru-buru keluar dari kamarnya dan segera menuju ruang tamu. Ia melihat Jongin masih tertidur di sofa. Kyungsoo memutar bola matanya malas saat mengingat peristiwa beberapa jam yang lalu. Setelah menampar Jongin, Kyungsoo langsung berlalu meninggalkan pria itu, tanpa mendengar alasan bagaimana pria itu bisa ada di depan rumahnya. Kyungsoo menghela nafas, lalu mengambil baskom dan juga kotak P3K yang terletak di meja. Membawanya menuju dapur.
Seperti biasa, ia akan segera mandi setelah terbangun. Dan sekarang ia sudah memakai pakaian santai. Dan ia kembali ke dapur untuk membuat sarapan. Ya, berhubungan di rumahnya sedang ada tamu—tak diundang—yaitu Jongin. Setidaknya ia memasakkan sesuatu, toh Kyungsoo bukan gadis yang dengan teganya membiarkan pria yang sedang terluka pergi meninggalkan rumahnya dalam keadaan perut kosong. Kyungsoo yakin Jongin pasti lapar.
"Kau tidak berpakaian sexy lagi?"
Kyungsoo menghentikan gerakan tangannya yang sedang menumpuk beberapa sayuran dan daging pada permukaan roti. Ia menoleh ke arah Jongin yang dengan santainya masuk ke dapur. Pria itu menyangga tubuhnya dengan siku yang bersandar pada tembok.
"Kau boleh keluar dari rumahku kalau kau sudah sadar sepenuhnya,"
"Aku sudah sadar, Do Kyungsoo.." katanya. Sorot matanya yang tajam menghujam tubuh Kyungsoo, seakan menelanjanginya. "Kau tak menjawab pertanyaanku?"
"Untuk?"
Kyungsoo mendorong piring ke arah Jongin yang diatasnya sudah terdapat sandwich buatannya. Jongin menaikkan satu sudut bibirnya.
"Anak SMA bekerja di Klub malam, tidakkah itu melanggar peraturan sekolah?" tanya Jongin. Lagi-lagi dengan santainya dia mengambil sandwich yang ada di piring dan melahapnya—enak, pikir Jongin.
Kyungsoo menatap ke arah Jongin, tatapan meremehkan pria. "Tidakkah itu urusanku? Kau boleh keluar Kim Jongin,"
"Ck, sepertinya Baekhyun telah salah menilaimu,"
"Apa aku pernah peduli dengan gadis itu? Aku rasa tidak," jawaban Kyungsoo membuat Jongin memajukan langkahnya mendekat pada Kyungsoo. Pria itu berdiri disamping Kyungsoo, tangannya menggebrak meja. Namun, Kyungsoo sama sekali tak menghiraukan bunyi gebrakan yang cukup kencang dan mengagetkan itu.
"Apa masalahmu dengan Baekhyun? Dia sudah baik padamu, kenapa kau mengabaikannya?"
Sorot mata tajam Jongin dan sorot mata datar Kyungsoo bertemu. Dengan santainya Kyungsoo memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. "Aku tak pernah memintanya,"
Jongin terdiam. Gadis yang dihadapannya ini bukan gadis seperti Baekhyun yang kalau di bentak atau di marahi akan langsung menangis. Kyungsoo bukanlah gadis biasa, ia yakin itu. Biasanya siapapun yang ditatap dengan mata tajam Jongin akan langsung mengkerut ketakutan. Namun, Kyungsoo berbeda.
"Kau bermasalah, Do Kyungsoo.."
Kyungsoo tertawa miring, "Begitupun denganmu, Kim Jongin.." balas Kyungsoo.
"Dan, ah.. ternyata kau bukanlah orang yang dingin seperti kelihatannya, ya?" ia semakin menatap Jongin dengan sinisnya. Ia merasa puas melihat wajah Jongin yang memerah.
Sialan—batin Jongin.
.
Life Story
.
Awalnya Kyungsoo berpikir bahwa pria jangkung bernama Park Chanyol itu tidak akan lagi mengganggunya sejak perkataannya waktu itu. Namun ia salah besar, Chanyeol justru lebih berani untuk dekat dengannya. Saat melewati gerbang sekolah, tidak sengaja Kyungsoo menabrak orang dan ternyata yang di tabrak adalah Chanyeol. Kyungsoo yakin ini adalah hal yang sengaja Chanyeol lakukan.
"Kelas kita bersebelahan 'kan ya?" tanya Chanyeol. Kyungsoo hanya berjalan lebih dulu tanpa ada niatan menjawab pertanyaan pria bertelinga lebar itu. Memang dasarnya kaki Kyungsoo yang pendek, dan kaki Chanyeol yang panjang seperti jerapah. Pria itu langsung bisa menyamakan langkahnya dengan Kyungsoo.
"Bisa tidak, kau tidak dekat-dekat denganku?"
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, kemudian ia menggeleng keras. "Tidak bisa,"
"Kau memang ingin melihat aku mati, ya?" Kyungsoo berdecih,
"Tentu saja tidak, memang siapa yang ingin membunuhmu kalau aku dekat denganmu?"
"Penggemar gilamu, mungkin."
Chanyeol tertawa, "Tidak mungkin."
Langkah mereka terhenti ketika banyak murid yang mengerubungi mading sekolah. Di tambah lagi beberapa orang yang tengah berkumpul menunjuk-nunjuk Kyungsoo dan juga Chanyeol. Tatapan yang seakan mengintimidasi. Chanyeol menyingkirkan beberapa orang untuk melihat apa isi mading. Agaknya ia terkejut melihat fotonya terpampang disana sedang menggendong seorang gadis yang ternyata gadis itu adalah Baekhyun.
"Chanyeol.." Chanyeol menoleh ke samping, ia melihat Baekhyun yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi bahan perbincangan di sekolah.
Baekhyun dan Chanyeol ternyata menjalin kedekatan. Apa ternyata mereka berdua berpacaran?
Baekhyun adalah murid yang sangat terkenal di sekolah, begitupun dengan Chanyeol. Dan lagi, di sekolahnya memang ada grup khusus yang menyebarkan berita-berita picisan anak sekolah seperti ini, gurp yang didalangi Jung Sister. Chanyeol tidak bisa tersenyum saat ini. Ia tidak tahu apa yang dia rasakan, tapi yang pasti hatinya tertohok.
Kyungsoo yang melihat dari belakang itu, hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak peduli dengan berita picisan sekolah. Ia memilih meninggalkan mading dan berjalan menuju kelasnya. Namun, saat ia melewati lorong kelas yang agak sepi, ia melihat sosok Jongin yang bersandar pada tembok. Kyungsoo memutar bola mata malas, dan berlalu begitu saja.
.
.
.
"Maaf,"
"Bukan salahmu, Baekhyun."
Chanyeol merasa bersalah ketika melihat Baekhyun menundukkan wajahnya. Mereka sengaja bertemu di belakang sekolah, tempat yang cukup sepi, apalagi sekarang sudah masuk jam pelajaran. Sebenarnya kalau ada yang melihat mereka disini, pasti mereka akan dihukum karena membolos.
"Aku terlalu sering menyakitimu, Yeol.."
Dengan wajah basah Baekhyun mendongak, tepat saat itu juga ia merasakan Chanyeol memeluknya. Jujur, ia merindukan pelukan Chanyeol. "Sudah aku bilang ini bukan salahmu, Baek. Berhentilah menangis, kau tahu aku paling tidak bisa melihat gadis menangis." ujar Chanyeol.
Ia mengusap rambut panjang Baekhyun. Rambut yang masih terasa sama seperti dulu. Chanyeol senang ternyata Baekhyun merawat mahkotanya dengan baik.
"Aku jahat, Yeol. Aku tahu,"
"Ya, kau memang jahat Byun Baekhyun. Tapi, sejahat apapun dirimu, aku tahu semua itu bukan maksud dari hatimu."
"Yeol.."
Baekhyun melepaskan pelukan Chanyeol. Ia mengusap kedua pipinya dengan punggung tangannya. Chanyeol memegang kedua tangan Baekhyun. Ia berusaha untuk tersenyum meskipun sebenarnya hatinya sekarang sakit.
Chanyeol mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun, sekejap Baekhyun memejamkan matanya. Ia merasakan hidungnya bersentuhan dengan hidung Chanyeol. Namun, selang berapa menit berlalu, tak terjadi apapun di antara mereka. Baekhyun membuka matanya dan melihat Chanyeol yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Maafkan aku, tidak seharusnya aku begitu." Setelah mengucap kalimat itu Chanyeol bergerak menjauhi Baekhyun.
"Aku yang harusnya minta maaf, Yeol.." lirih Baekhyun.
.
Life Story
.
Dahi Kyungsoo mengkerut saat melihat pemandangan yang tidak biasa. Pemandangan dimana Baekhyun yang sedang menelungkupkan wajahnya pada permukaan meja. Kyungsoo menghela nafas, perutnya lapar dan minta diisi makanan. Ya, pagi ini ia lupa sarapan karena kesiangan. Kyungsoo mengedikkan kedua bahunya tanda tak peduli. Ia berjalan melewati meja Baekhyun. Saat itu juga langkahnya terhenti ketika mendengar isakan halus, dan itu berasal dari Baekhyun.
Gadis itu menangis. Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. Gadis seceria Baekhyun menangis? Ya, ia tahu sedikit masalah yang tadi pagi menimpa Baekhyun. Ia di gosipkan dengan Chanyeol—si pria terkenal. Tapi, bukankah Baekhyun juga terkenal? Lalu, kenapa ia menangis sampai seperti ini? Apa dia takut dengan fans—gila—Chanyeol yang seperti siap membunuh siapapun yang dekat dengan Chanyeol? Kyungsoo menggelengkan kepalanya cepat.
Tiba-tiba ia terkejut dengan pergerakan yang dia lakukan. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk di kursi samping Baekhyun. Kyungsoo buru-buru saja berdiri, berniat meninggalkan Baekhyun, namun gerakannya terhenti saat Baekhyun menegakkan tubuhnya.
Kyungsoo tak menyangka bisa melihat pemandangan langka semacam ini. Baekhyun benar-benar kacau sekarang. Wajahnya basah karena air mata, matanya pun sudah sembab. Baekhyun mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia pun membuka mata dan terkejut saat melihat Kyungsoo berdiri didekatnya. Sebenarnya bukan hanya Baekhyun yang terkejut, tapi Kyungsoo sendiri juga terkejut.
"Kyungsoo.." panggil Baekhyun.
Diam—Kyungsoo tak menjawab panggilan Baekhyun. Namun hal itu membuat Baekhyun kembali menangis, bahkan sekarang isakannya terdengar cukup keras. Kyungsoo langsung saja duduk di kursi yang tadi ia duduki.
"Sudah, jangan menangis."
"Kyungsoo.."
Baekhyun langsung saja memeluk Kyungsoo dengan erat. Oh, Kyungsoo kembali terkejut atas apa yang Baekhyun lakukan. Sudah dibilang 'kan kalau Kyungsoo itu jarang sekali melakukan kontak fisik yang berlebihan dengan orang yang disekitarnya. Dan sekarang Kyungsoo bingung harus melakukan apa.
Tak lama Baekhyun melepaskan pelukannya, ia menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" dengan kaku Kyungsoo bertanya. Baekhyun menggeleng, namun airmatanya masih terus turun. "..Karena tadi pagi?" tambahnya pelan—masih kaku.
Kali ini Baekhyun yang diam. Tadi pagi memang menjadi salah satu alasannya, tapi sepertinya ada alasan lain.
"Kau tidak mau menjawab? Kalau begitu aku pergi," sejujurnya Kyungsoo mengatakan hal itu bukan karena ingin mendengar jawaban Baekhyun. Hanya saja ia bingung ingin mengatakan apa lagi, ditambah ini pertama kalinya ia berurusan dengan gadis yang menangis.
"Chanyeol.."
Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa dengannya? Dia marah padamu?"
"Tidak, tapi itu yang membuatku merasa sakit," jelas Baekhyun. Ia mendongak dan bertatapan dengan Kyungsoo. Namun Kyungsoo dengan cepat memutuskan kontak mata dengan Baekhyun.
"Kenapa begitu?"
Baekhyun diam, terdengar ia menghela nafas. "Karena dia mantan kekasihku, Kyungsoo.."
Dan saat itu, mata Kyungsoo membola sempurna. Jadi? Chanyeol pernah berhubungan—pacaran—dengan Baekhyun?
Oh—dunia sempit sekali.
.
Life Story
.
Pukul 9 malam, Kyungsoo memakai mantel yang tergantung didekat pintu rumahnya. Malam ini sangat dingin, namun Kyungsoo harus tetap bekerja. Ia segera membuka pintu dan tak lupa juga menguncinya. Yang dikatakan Jongin sebagian memang benar. Kyungsoo memang bekerja disebuah Klub malam didaerah Gangnam. Namun ia bukanlah seorang wanita penghibur. Ia hanyalah pelayan disana, lagipula pemilik Klub tersebut sangat menjaga Kyungsoo.
Kyungsoo mendudukkan dirinya kursi halte, mengetuk-ngetukkan sepatunya dilantai. Bis akan datang 10 menit lagi, ia beranjak dan kemudian berjalan menuju mesin minuman yang terletak tak jauh dari halte. Menekan tombol minuman yang ia inginkan setelah memasukkan uang ke dalam mesin tersebut. Sebuah minuman kaleng dingin. Ugh—udara malam sudah dingin tapi Kyungsoo masih menikmati minuman kalengnya dengan santai.
Dari jauh ia melihat bus yang mendekat, Kyungsoo segera berdiri di halte. Setelah bis berhenti dan pintu terbuka Kyungsoo segera masuk ke dalam bis tersebut. Ia mengambil tempat di bagian paling belakang sebelah kiri. Lalu menaruh tasnya ke pangkuan, ia menggenggam minuman kaleng yang dingin. Kepalanya menoleh ke jendela. Memandangi gemerlap lampu jalanan dan juga indahnya kerlap-kerlip bintang dilangit yang gelap. Kyungsoo menghela nafas. Ia tak menyangka bahwa ia akan masuk ke dalam dunia malam seperti ini, meskipun memang kenyataannya Kyungsoo hanyalah pelayan, namun tetap saja kalau ada orang yang melihat pasti mereka berpikiran yang tidak-tidak tentang Kyungsoo—seperti Jongin, misalnya.
Padahal dulu Kyungsoo hanyalah anak kecil yang tidak tahu menahu tentang gemerlapnya malam kecuali bintang-bintang. Sekarang Kyungsoo bahkan sudah masuk ke dalam bagian malam itu. Waktu mampu mengubah segalanya bukan?
Kyungsoo menegakkan tubuhnya lalu menekan bel berhenti. Ia segera turun dari bis. Ia menghembuskan nafas, lalu membuang kaleng ke dalam tempat sampah. Kyungsoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, lalu berdiri ditempat penyebrangan.
"Kyungsoo.."
Dalam gerakan lamban, Kyungsoo menoleh dan melihat seorang wanita muda yang cukup manis. "Minseok-eonni?"
"Ya, ayo kita masuk bersama." Minseok segera meraih lengan kanan Kyungsoo dan menariknya. Kyungsoo tersenyum dibuatnya, ia melangkah bersama Minseok memasuki Klub tersebut.
Asal kalian tahu saja, Minseok adalah pemilik Klub ini bersama dengan suaminya yang bernama Kim Jongdae. Minseok dan Jongdae adalah orang yang menolong Kyungsoo terlepas dari—sedikit—beban penderitaannya. Awalnya Jongdae ingin mengangkat Kyungsoo menjadi adiknya, namun sayang Kyungsoo menolak. Dengan alasan tidak ingin merepotkan pasangan muda itu. Toh sebenarnya, Kyungsoo masih memiliki keluarga. Namun meskipun begitu, Minseok dan Jongdae tidak pernah kurang memberikan perhatian kepada Kyungsoo, karena memang mereka telah menganggap Kyungsoo sebagai adiknya sendiri.
.
Life Story
.
Klub malam milik Jongdae dan Minseok bukanlah klub yang berisikan orang-orang yang bercumbu mesra tanpa aturan ditempat gelap sana-sini. Ya, walaupun terkadang masih ada juga yang nekat bercumbu ditempat pojok—gelap. Tempat ini memilik dua lantai. Dari kedua lantai tersebut memiliki nuansa yang berbeda. Lantai satu adalah tempat dimana ada lantai dansa, orang yang senang meminum alkohol, merokok dan lain sebagainya. Sedangkan lantai dua cukup elit karena memang berisikan pejabat-pejabat terpandang yang suka menghamburkan uangnya dengan berjudi. Namun, meskipun begitu keamanan disini sangat dijaga ketat. Ditambah lagi, lantai dua merupakan tempat yang terang tidak seperti lantai pertama yang sangat remang. Dan Kyungsoo bersyukur ternyata Minseok menempatkannya di lantai dua sebagai pelayan, meskipun terkadang kalau sempat Kyungsoo akan bernyanyi ketika diminta oleh Minseok ataupun Jongdae.
Seperti waktu Jongin melihat Kyungsoo memakai pakaian seksi itu, saat itu Kyungsoo habis bernyanyi dan ia lupa berganti baju karena sudah kelewat jam pulangnya. Dan beruntung, Jongdae dengan senang hati mengantarnya saat itu. Ya, Kyungsoo hanya bernyanyi disetiap hari sabtu malam, karena saat itu banyak sekali pengunjung dari orang-orang besar dan terkenal datang kesana.
Kyungsoo menempati satu persatu gelas yang diberikan bartender, lalu membawanya ke meja yang memang sedang melakukan perjudian. Kyungsoo menurunkan kepalanya sedikit. Beberapa orang disana telah mengenal Kyungsoo begitupun dengan sosok pria dengan jas berwarna abu-abu dengan topeng putih yang menutupi bagian mata higga setengah mulutnya.
"Terimakasih, Kyungsoo.." ucap sosok yang memakai pakaian misterius tersebut. Jujur saja, sebenarnya Kyungsoo agak merinding namun apa boleh buat, ia harus berani berinteraksi oleh pelanggan Klub Kems—nama Klub Jondae dan Minseok.
"Sama-sama Tuan," balas Kyungsoo. Setelah menaruh minuman itu, Kyungsoo langsung permisi untuk berlalu. Namun, ia merasakan sosok pria misterius itu masih saja memperhatikannya.
Orang itu benar-benar membuatku takut, pikir Kyungsoo.
.
Life Story
.
Ini sudah waktunya Kyungsoo pulang, ia juga sudah menggati pakaian kerjanya dengan pakaian yang ia kenakan saat berangkat tadi. Beberapa pekerja yang mendapat tugas membersihkan tempat kerja setelah selesai pun sedang sibuk-sibuknya. Kyungsoo menuruni anak tangga, Minseok menunggunya di lantai satu. Seperti biasa, Kyungsoo akan diantar oleh Jondae atau Minseok, dan kali ini Minseok-lah yang mengantar Kyungsoo pulang. Sebenarnya Kyungsoo tidak enak hati, namun menolak niat baik orang sebaik mereka pasti akan membuat hati mereka terluka. Dan Kyungsoo tidak ingin menyakiti dua orang yang sudah sangat berharga baginya ini.
Kyungsoo tersenyum ketika melihat Minseok yang duduk di kursi yang belum dibereskan sembari memainkan ponselnya, dengan langkah cepat Kyungsoo melangkah mendekati Minseok. Namun, karena terlalu terburu-buru, Kyungsoo menabrak kursi membuatnya limbung. Tapi, tubuhnya kembali tegap ketika seseorang menahan lengannya. Kyungsoo menoleh, melihat siapa yang menolongnya. Mulutnya baru ingin mengucap terimakasih, namun terhenti ketika terlihat jelas siapa yang menolongnya. Kyungsoo membulatkan kedua matanya.
"P-Park Chanyeol?"
Pria itu tetap diam. "Kau—Park—Chanyeol!? Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Kyungsoo penuh penekanan.
.
.
.
2014-10-06
Gilaa~ ini low-up banget :D kemaren sebenernya mau nerusin tapi dua hari kemarin saya sakit -_- maap yaa
Makasih juga yang udah ngasih kritik, saran dan pertanyaan. Semuanya akan terjawab seiring jalannya cerita..
Aku cinta kaliaaan guysss~~ :*
Xoxo,
Han
