Disclaimer : Hetalia milik Hidekazu Himaruya. Michelle, A Hard Day's Night dan All You Need Is Love (meski cuma dibahas sedikit) milik The Beatles
Ringkasan
Peter Kirkland, dua belas tahun, tidak pernah jatuh cinta. Kakaknya membuat cinta terlihat sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan pantas ditentang. Jika cinta memang seburuk yang ia bayangkan, mengapa ia bisa mati-matian mempelajari bahasa asing sampai larut malam?
Catatan Penulis
Saya kembali lagi! Entah kenapa, rasanya saya senang sekali melanjutkan fic ini. Jujur, keseluruhan fic ini mungkin serasa tidak menyinggung lagu The Beatles yang manapun juga (bahkan yang disebutkan di atas), tapi kalau diresapi juga nanti terasa kok, hehe. Terima kasih sudah mampir!
Selamat Membaca!
– Sudut Pandang Peter –
Aku menghela napas dan mengumpat pelan saat telingaku mendengar suara pintu depan yang dibanting. Itu pasti si alis tebal bego, batinku. Aku tinggal bersama Arthur di flat kecil dekat kampusnya –dan dekat sekolahku juga.
Sudah pukul delapan malam. Harusnya aku makan. Aku beranjak dari sofa untuk memaksa si bego Arthur membuat makanan. Akan tetapi kelihatannya laki-laki ceking itu tidak akan memasakkan aku makan malam. Lihat saja wajahnya –seram, kesal, dan galau.
"Arthur –"
Arthur mengacuhkanku dan berjalan dengan teler masuk ke kamarnya sendiri, "Bikin mie instan saja sana, aku sudah makan di luar. Malas masak."
Aku mendecak kesal di seiring pintunya menutup, "Dasar bego."
Tiba-tiba aku mendengar kakakku melempari pintu kamarnya sendiri dengan buku, tas, dan gitar. Memang bego, batinku, gitarnya 'kan bisa rusak kalau begitu. Tadinya aku mau langsung pergi ke warung fast food terdekat yang sudah kukenal baik, tapi ternyata dompetku kutinggal di kamar Arthur (kamar Arthur kamarku juga, flatnya kecil sih).
"Keluar kau," Arthur menggumam kesal di atas tempat tidurnya kepadaku saat aku masuk, "hari ini hari yang berat untukku, aku sudah kerja keras dan dibodohi seperti anjing! Aku mau tidur tanpa diganggu olehmu –kukira kau membereskan rumah atau apa –"
"Iya, iya, aku juga malas di sini –dompetku kausimpan di mana?"
Jari telunjuknya yang kurus menunjuk ke arah meja belajar kami. Ada buku-buku tebalnya, dompetku, dan sekotak rokok kesukaannya. Bukankah dia sudah berhenti mencoba bunuh diri –maksudku merokok? Iya, merokok sama saja seperti bunuh diri bagiku. Ah, bukan urusanku. Aku mengambil dompetku dan memakai jaketku sebelum keluar dari flat kami.
Sambil berjalan menuju 8/12 (warung fast food terdekat yang kubicarakan), aku memikirkan sikap kakakku yang bodoh itu. Bodoh, karena ia bisa jatuh cinta kepada laki-laki aneh. Setidaknya hampir dua kali aku memergokinya hampir melakukan adegan dewasa di kamar kami –kurasa aku tak perlu menjelaskan adegan dewasa macam apa itu. Menjijikkan.
'Semua yang kau butuhkan adalah cinta,' itu kutipan yang tak bosan-bosannya ia katakan padaku. Jijik ah!
Aku ingat saat-saat pertama ia mengenal si pirang dari Prancis itu. Bikin muak. Kualitas makanannya yang sudah di bawah standar jadi lebih buruk, apalagi dia jadi hobi memasak sambil bernyanyi. Kemudian dia sering membawa pria itu ke rumah dan menyuruhku tidur lebih cepat, apa maksudnya? Aku benci kakakku saat dia jatuh cinta, dia seperti orang tidak waras.
Oh ya, kalau dilihat dari kelakuannya tadi sih, sudah jelas bahwa hubungannya dengan si Francis itu telah berakhir. Ah, payah. Masalah kecil! Memangnya kenapa kalau diputuskan oleh kekasih, toh masih banyak orang lain. Jujur, sebenarnya aku merasa agak senang mereka berakhir. Aku mengharapkan Arthur membawa pulang seorang gadis ramah yang bisa menggantikan ibu, bukan om-om yang jarang cukur jenggot.
Memangnya sedahsyat apa sih jatuh cinta, batinku sambil membelok di belokan terakhir menuju 8/12. Putus cinta juga, apa sakitnya? Kudengar orang bisa bunuh diri cuma gara-gara patah hati. Orang-orang mengatakan bahwa manusia tak bisa hidup tanpa cinta… salah! Manusia tak bisa hidup tanpa makanan, minuman, dan oksigen! Tanpa cinta juga aku masih bisa hidup sehat! Arthur membuatku berpikir bahwa semua orang dewasa itu konyol –maksudku mereka mau diperbudak cinta, bahkan mendewakan cinta… pokoknya semua hal dikaitkan dengan cinta.
Tak sadar melamun terlalu lama, aku telah melewati 8/12. Aku berjalan terlalu jauh. Ketika aku hendak menoleh ke belakang, mataku tak bisa berpindah dari etalase toko yang ada di sebelah kananku, jauh di seberang jalan. Di dalam, seorang pelayan berambut bob pirang tengah membawakan pesanan seorang tamu di atas nampannya.
"Cantik sekali."
Alih-alih berbalik dan pergi ke 8/12, aku malah menyeberang jalan dan masuk ke dalam toko itu. Aroma teh, kopi, dan roti hangat dari panggangan harum merebak. Cuaca di luar dingin, tetapi di sini aku merasa hangat dan nyaman.
Lalu gadis itu, dengan nampan kosong, menghampiriku dan tersenyum manis. Aku mengikutinya tanpa diperintah. Ia agak lebih tinggi dariku… tapi tetap cantik. Ia mengantarku ke meja yang kosong dan memberikanku daftar menu. Tanganku masih memegang daftar menu itu saat ia membungkuk sopan padaku dan pergi.
Erika. Itu nama yang ada di nametag-nya tadi. Erika, pelayan pirang berpita biru… Erika yang jelita.
Mataku mengikuti gadis itu ke mana saja ia melangkah. Aku tidak pernah melihat anak perempuan secantik itu, apalagi senyum seindah itu. Namanya juga manis sekali, Erika. Kuamati terus gadis itu sepanjang dia memutari meja, mengambil pesanan, meletakkannya di meja tamu–
"Pesan apa, Pendek?"
Lalu aku dikagetkan oleh laki-laki berekspresi dingin dan berambut merah. Bukan karena aku memerhatikan Erika terlalu lama –pria itu memang mengagetkanku. Si rambut merah yang mengesalkan, kakak dari Arthur dan aku sendiri, ternyata juga pelayan di sini.
"Allistor!" Jeritku kaget, "Kau bekerja di sini? Diskon dong, diskon!"
Tangannya mengisyaratkan kepadaku agar aku tidak ribut, "Enak saja –kenapa kau ke sini sendirian? Si Arthur tidak memasak?"
"Iya, dia sedang patah hati sepertinya!" Aku meninju perut Allistor dan memeluknya dengan senang, "Ya sudah, gratiskan pesananku deh! Ayo Allistor, kau kakak yang baik lho! Aku sayang sekali padamu!"
"Diskon saja dilarang," katanya sambil menjitak kepalaku agar aku melepaskannya, "apalagi berhutang. Mau pesan apa, Peter, cepatlah karena kami akan tutup sebentar lagi –dan kau tetap harus bayar."
Aku buru-buru membaca menu dan memilih makanan paling murah. Hampir semua makanan di sini adalah roti. Allistor berlalu setelah aku mengatakan padanya apa yang hendak kumakan. Beberapa menit kemudian, Nona Erika mengantar makanan yang kupesan. Ia tak bicara sedikit pun kepadaku, tak membalas ucapan terima kasihku, meski senyumannya sudah cukup bagiku.
Mungkin dia tidak mengerti Bahasa Inggris?
Aku pulang ke flat kami dengan senyum lebar dan hati luar biasa gembira. Bukan gembira, entahlah aku tidak mengerti bagaimana mendeskripsikannya dengan kata-kata. Seperti ada pesta kembang api yang semarak di dalam rongga dadaku. Kembang api itu berpendar dan membentuk wajah Nona Erika yang pendiam di dalam hatiku.
"Hari yang indah," gumamku ketika aku membuka pintu kamar kami. Arthur sepertinya baru saja menangis, matanya merah dan berkaca-kaca. Hanya saja dalam pandanganku, dia adalah Erika beralis tebal yang menyuruhku cepat tidur.
"Ngapain kau senyam-senyum begitu," tanya Arthur saat aku masuk ke kamar kami untuk tidur, "menjijikkan."
Jangankan menjawab, aku bahkan tak mendengar semua yang dikatakan si bego Arthur. Aku mengganti pakaianku dengan piyama sambil tetap tersenyum lebar –wah, piyamaku biru seperti pita Erika! Aku melompat naik ke tempat tidur kami dan Arthur segera menyeka matanya.
"Jangan sedih," kataku sambil mengacak rambut Arthur, masih juga tersenyum, "gembiralah seperti aku juga."
"Sudahlah," Arthur memandangku lemah, "anak kecil mana mungkin mengerti –PETER, LEPASKAN AKU CEPAT!"
Sesaat kemudian, Arthur marah-marah padaku lantaran aku tidur sambil memeluk tangan kanannya. Entahlah dia mengatakan apa –risih lah, aneh lah, atau gila, aku tidak peduli. Yang ada dalam kepalaku malam itu cuma Erika, Erika, dan Erika. Saat Arthur hendak memukulku agar aku melepaskannya, pelukanku mengendur karena aku sudah tidur pulas.
Esoknya sepulang sekolah, aku kembali mendatangi patisserie itu. Bukannya bertemu Erika, aku malah dilayani Allistor. Waktu itu patisserie sepi sekali hingga Allistor pun tak kerepotan meski ia bekerja sendirian.
Saat ia melayaniku di kasir, aku bertanya, "Kenapa kau sendirian?"
"Yang lain sedang istirahat," katanya sambil menerima uangku, "toh sepi."
"Nona Erika tidak ada?"
"Dia tak ada shift hari ini. Sudahlah, dia takkan mau jalan-jalan ke taman dengan bocah pendek sepertimu."
Hatiku langsung berdebar-debar setelah Allistor mengatakan itu, "Si –siapa yang mau mengajaknya jalan, Bodoh?! Lagipula, sepertinya… ia tak bisa berbahasa Inggris. Susah."
Allistor hanya tersenyum mengejek saat aku mengatakan itu. Aku pulang dengan perasaan bingung. Dari negara mana Erika berasal, bahasa apa yang ia mengerti, makanan apa yang ia sukai… payah, seharusnya aku menanyakannya kepada Allistor.
Aku akhirnya menunggu Arthur pulang untuk menanyakannya soal bahasa itu. Kalau dia masih galau sampai hari ini juga, keterlaluan. Sebegitu berhargakah Francis baginya?
Akan tetapi pukul sebelas malam si tolol Arthur baru pulang. Aku yang sudah tertidur di sofa terbangun lagi mendengar suara orang berbicara dari kamar kami. Dengan kesal aku membuka pintu dan melihat Arthur yang mabuk bersama laki-laki lain di dalam.
"Ah, bosan melihat kejadian begini," sahutku kesal sambil membanting pintu dan duduk di sofa. Aku sempat lihat orang itu terkejut, tapi dia tidak buru-buru keluar dari kamar kami. Itu bukan Francis, batinku, pasti teman si Arthur yang lain. Atau selingkuhannya, hahaha. Lima belas menit kemudian laki-laki itu baru keluar dan meminta maaf dengan sopan kepadaku.
"Kakakmu –"
Aku memotong kata-katanya, "Bahasa apa yang paling sering digunakan orang di dunia?"
Orang itu mengernyit bingung. Berpikir, mungkin. Tak lama, ia menjawab dengan senyum lebar,"Bahasa Prancis, karena disebut sebagai bahasa cinta."
Kenapa si bego Arthur selalu membawa orang-orang aneh ke sini?
"Terima kasih. Pulang sana, aku mau kunci pintunya."
Tersenyum padaku, orang itu pamit dan pergi –setelah mengacak-acak rambutku. Bahasa Prancis, ya… kenapa tak terpikir olehku? Bahasa yang rumit tapi disukai semua orang. Seketika kantukku hilang. Sampai pukul dua pagi aku mencoba menghapal beberapa kalimat pendek yang kudapatkan dari internet. Aku bahkan mencari nama Erika dan nama patisserie tempat ia bekerja, dan kini aku tahu nama lengkapnya –Erika Vogel. Sayang sekali situs resmi toko itu tak menyertakan data kewarganegaraan para pekerjanya.
Aku tidak mengerti kenapa aku melakukan semua hal ini demi Erika, tetapi aku sangat senang. Aku hanya ingin dia mengerti perasaanku. Memendam perasaan sangatlah menyedihkan, itu kata Arthur dulu. Karena itu aku akan berusaha mengungkapkan perasaanku padanya dengan kalimat yang bisa dipahaminya.
"Erika yang jelita," ujarku sendiri, "Erika, mon belle... jadi sebenarnya mon atau ma?"
Karena aku tertidur, esok malamnya pun aku juga melakukan hal yang sama –mengambil laptop Arthur dan memakainya sampai dini hari. Arthur sepertinya telah membakar semua buku yang berhubungan dengan bahasa itu. Bahasa Prancis sangat sulit! Lafal dan tulisan berbeda jauh. Heran, mau mengatakan aku suka padanya saja sulit sekali… bahkan aku belum tahu sebenarnya bahasa apa yang ia pahami. Kenapa aku begitu yakin dengan bahasa ini, ya?
Seirin aku belajar, aku merasakan bahwa si alis tebal galau mulai membaik sikapnya. Dia jadi lebih tenang dan senang –maksudku, masakannya jadi tidak terlalu buruk dan dia berhenti bernyanyi saat memasak. Awalnya ia agak kesal saat tahu bahwa aku mencoba mempelajari Bahasa Prancis diam-diam, tapi tiga hari kemudian dia menjadi tidak peduli. Kukatakan saja kepadanya bahwa ini tugas sekolah.
Butuh tiga hari lebih bagiku agar bisa menguasai beberapa kalimat dalam Bahasa Prancis. Aku ingin bicara juga dengan Erika, bukan sebatas 'aku-suka-padamu'. Tak ada salahnya, seandainya aku lupa kata-kata itu… yah, pokoknya aku akan berusaha agar Erika mengerti.
Aku bahkan membeli cokelat yang rencananya akan kuberikan kepada Erika bila aku mendadak lupa semua kosakata yang kupelajari.
Pukul sembilan kurang lima belas malam aku pergi ke patisserie. Tak kukatakan kepada si bego Arthur alasanku pergi. Aku datang pukul segitu karena toko itu tutup pukul sembilan dan sudah mulai sepi sekarang. Jadi, aku bisa berbicara dengan Erika –kalau perlu mengantarnya pulang ke rumah.
Sampai di sana, aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia. Kupegang erat cokelat yang kubeli untuknya. Erika sendirian di sana, tak ada Allistor atau pelayan lainnya. Ia tengah menyapu lantai seusai merapikan bangku-bangku.
"Malam," aku menyapanya, dan seperti biasa, ia tersenyum padaku. Ia meletakkan sapunya di ruang kebersihan dan kembali menemuiku. Sepertinya ia hendak meminta maaf karena toko telah tutup.
"Aku –aku ke sini bukan untuk beli makanan," aku terlalu gugup hingga bicara dalam Bahasa Inggris lagi, "No –Nona Erika, m –m –ma belle…"
Ekspresi gadis itu berubah sedikit, ia terlihat ingin tahu. Ia mendekat! Aku terlalu gugup dan hatiku berdebar sangat kencang. Sambil memberikannya cokelat yang kubelikan, aku mengutarakan kepadanya perasaanku –lebih tepatnya berteriak.
"J –J –J -Je aime –bukan– tu aime –aduh salah– JE T'AIME, ERIKA!"
Aku mengharapkan jawaban, tetapi gadis itu malah terlihat sangat tidak mengerti dan mendiamkan saja cokelat di tanganku. Sedih. Kata-kata yang telah kuhapal juga menghilang tanpa bekas dari kepalaku. Hanya itu yang bisa kusampaikan dengan baik kepadanya –dan bahkan tak meluncur lancar dari bibirku.
Erika masih menatapku dalam diam.
"Aduh, jadi kau tidak mengerti Bahasa Inggris dan Prancis," ujarku kecewa sambil tertunduk, "lalu aku harus bagaimana agar kau mengerti bahwa aku menyukaimu…"
Tiba-tiba gadis itu terlihat terkejut. Ia mengambil buku memo kecil yang biasa ia tulisi dengan pesanan para pengunjung. Ditulisinya satu halaman buku itu dengan pulpen yang selalu ia bawa. Cokelat dari tanganku diambilnya, lalu digantikannya dengan kertas itu.
'Aku mengerti Bahasa Inggris, tetapi aku sama sekali tidak bisa bicara. Terima kasih, Tuan Kirkland.'
Tidak bisa bicara, batinku. Maksudnya –ia bisu? Pesan pendek itu begitu mengejutkanku dan aku tak tahu harus bicara apalagi. Namun aku tetap memanggilnya, "Nona Erika –"
Erika mengecup pipi kananku dengan bibirnya yang lembut sebelum ia pergi ke dalam ruangan khusus karyawan.
Akhir dari The Beatledrama, Erika yang Jelita.
