SECOND LOVE

Disclaimer : Karakter milik mereka sendiri, dan Toradora milik Yuyuko Takemiya-san, saya mengambil beberapa adegan dan inti cerita, tapi tidak semua mirip sama Toradora kok :)

Pair : SuLay, KrAy, SuDo

Warning : BL, Bahasa campur aduk, Typo(s), OOC (untuk kebutuhan cerita)

.

.

.

.

"Yixing"

Seakan tidak melihat orang itu, Yixing langsung berjalan cepat kearah apartemennya namun tangannya ditahan oleh pria tadi

"Lepas" Yixing meronta. Junmyeon speechless. Ia tidak tahu harus melakukan apa dan akhirnya ia hanya bisa terpaku disana.

"Yixing, dengarkan papa dulu nak" Pria itu masih memegang dengan keras tangan Yixing, ia terlihat kewalahan menahan Yixing yang masih meronta.

Papa? Jadi orang ini ayahnya Yixing? Dan sebenarnya ada apa? Junmyeon tidak paham dengan apa yang ia lihat dihadapannya.

"Nggak!" Ujar Yixing masih berusaha melepaskan diri "Aku sudah bilang, gak usah peduliin aku" Lalu kemudian ia menendang pria itu tepat di daerah vitalnya.

Pria itu sontak melepas tangan Yixing lalu ia memekik kesakitan, Yixing yang sudah terlepas menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke apartemennya

Junmyeon kaget melihat apa yang dilakukan Yixing pada orang yang mengaku sebagai 'papa' itu. Ia langsung menghampiri pria itu "Bapak tidak apa-apa?"

Orang itu melambaikan tangannya, padahal ia masih meringis nyeri. Junmyeon geram, bisa-bisanya Yixing melakukan itu kepada ayahnya sendiri. Kemudian Junmyeon langsung mengejar Yixing ke apartemennya.

Junmyeon memegang tangan Yixing ketika ia sampai di kamar Yixing "Kamu bisa-bisanya ngelakuin itu sama ayah kamu sendiri" Teriak Junmyeon, entah kenapa ia merasa marah melihat apa yang dilakukan Yixing "Dia kesakitan!"

Yixing berusaha melepas tangannya "Aku gak peduli, dia mau sakit atau apa aku gak peduli!" Teriaknya dengan suara bergetar, air mata Yixing sudah turun dari tadi.

"Dia itu ayahmu!" Bentak Junmyeon

Tapi Yixing masih tetap keras kepala "Terus kenapa kalau statusnya ayah?"

Junmyeon makin geram "Kamu harus dengerin dia! Dia bilang tadi mau menjelaskan sesuatu kan?"

Yixing menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya semakin deras. "GAK! Aku gak peduli, dan aku gak butuh kepedulian dia" Yixing semakin meronta, Junmyeon langsung mendorong tubuh Yixing sehingga Yixing kehilangan keseimbangannya dan jatuh telentang di atas karpet dan Junmyeon ikut terjatuh di atasnya.

Tangan Junmyeon kini sedang menopang badannya sendiri, tapi kedua tangan itu masih memegang kedua pergelangan tangan Yixing masing-masing disebelah tubuhnya.

"Tapi dia peduli sama kamu!" Ujar Junmyeon dengan keras.

Yixing berhenti meronta "Kenapa kamu sebegitu pedulinya sih sama dia?"

"Itu karena aku peduli sama kamu!" Jawab Junmyeon dengan tekanan. "Kamu beruntung, karena ayahku bahkan meninggalkan aku ketika aku masih dalam kandungan ibuku dan tidak peduli sebanyak apapun aku berharap dia tidak akan pernah kembali"

Yixing terperangah dan Junmyeonpun kaget dengan ucapannya sendiri. Jadi ia bukan melakukan ini demi Yixing, tapi demi dirinya sendiri?

"Maaf Yixing" Tanpa sadar air mata Junmyeon ikut jatuh tepat ke pipi Yixing.

Mata Yixing berubah sendu kemudian ia memalingkan wajah "Kamu gak akan ngerti"

"Kalau gitu, bikin aku ngerti!"

Yixing kemudian menatap mata Junmyeon yang masih merah, kemudian ia mengangguk. "Lepasin dulu, sakit"

Junmyeon melepaskan tangannya kemudian ia bangkit, dan Yixing mendudukan diri didepan Junmyeon.

Kemudian hening

Junmyeon masih menunggu, Yixing menggigit bibirnya, ia bingung harus mulai darimana.

"Dulu—" Yixing mulai bersuara "—Aku tinggal di China bersama papa dan mama. Kita hidup bahagia sampai ketika aku lulus sekolah dasar, mamaku ketahuan selingkuh, papa geram dan langsung menceraikan mama saat itu juga, dan disitulah awal dari semuanya"

"Aku dibawa ke Korea oleh papa, dan menyekolahkan aku di sana. Di salah satu SMP di Incheon. Dan disana juga dulu aku bertemu Yifan"

Junmyeon terperangah "Jadi kamu udah kenal Yifan dari dulu?"

Yixing tersenyum sendu, lalu ia mengangguk "Iya, dulu pertama aku bertemu Yifan, dia keren banget. Dulu, karena aku orang asing, aku jadi bahan bully-an. Waktu itu, aku dipalak kakak kelas, dan tiba-tiba Yifan datang sambil berkata 'hei, kalian, pergi'"

Yixing tersenyum mengingat kejadian itu "Terus orang yang bully aku kaget lihat Yifan, dia emang ditakuti karena tampangnya judes dan tinggi badannya diatas rata-rata. Kamu tahu? Mereka langsung gelagapan, kemudian salah satu dari mereka tiba-tiba bilang 'ah, mendung, aku harus angkat jemuran' padahal waktu itu cuaca sedang panas"

Yixing terkekeh

"Semenjak itu, aku jadi akrab sama Yifan, kita cepat akrab karena mungkin kita sama-sama orang China dulunya"

"Lalu, papaku berubah. Ia jadi kasar, dan kalau pulang ia bawa selalu bawa pasangannya beda orang. Aku seakan gak kenal lagi sama papa, dia benar-benar berubah. Di saat itu, Yifan selalu ada disamping aku. Dan dia jadi cinta pertama aku—jadi ketika Yifan bilang kalau dia sayang sama aku lebih dari sahabat, aku senang sekali dan kita pacaran"

"Kalian pernah pacaran?"

"Umm" Yixing mengangguk "Mungkin bagi orang ini cuman cinta monyet, tapi bagi aku itu berharga banget. Yifan selalu ada buat aku, dia selalu mengulurkan tangannya ketika aku ada masalah. Dia seperti… hero"

Junmyeon jadi paham kenapa Yixing bahkan masih mencintai Yifan sampai sekarang.

"Tapi waktu itu, waktu kenaikan kelas tiga SMP, papaku tiba-tiba bilang dia akan menikahi perempuan Jepang, dan kita akan pindah ke Jepang"

Tatapan Yixing menyendu "Awalnya aku menolak, aku tidak mau meninggalkan Yifan tapi papa tetap pada pendiriannya. Dan aku terpaksa menurut karena aku gak punya siapa-siapa di Korea—selain Yifan"

"Waktu itu, tepat setelah aku dan Yifan melakukan ci-ciuman pertama kami" Wajah Yixing memerah ketika menyebut kata ciuman. "Aku menyeringai. Yifan tampak bingung, lalu aku bilang 'Cih, ciuman kamu payah, beda dari yang lain' padahal itu ciuman pertamaku"

"Aku sengaja bilang gitu karena aku gak mau Yifan sedih aku tinggal. Jadi aku pikir lebih baik Yifan benci sama aku daripada dia sedih aku tinggal. Dan aku berhasil. Yifan kelihatan marah banget dan langsung pergi. Jadi waktu pertama kali aku bilang sama kamu kalau Yifan jutek, aku udah tahu alasannya"

Junmyeon jadi ingat Yixing pernah bilang kalau Yifan jutek. "Tunggu, kalau kamu udah deket sama Yifan, kenapa kamu masih suka gugup kalau dekat sama Yifan?"

"Semuanya seperti kembali lagi dari awal, Jun. Kalau kamu pernah deket sama orang atau orang itu mantan kamu, ketika kamu dan dia dekat lagi, semua seperti di awal lagi Jun. begitupun rasa gugupnya" Jelas Yixing.

Junmyeon mengangguk-angguk paham. Ia belum pernah punya mantan, jadi dia baru tahu tentang hal itu.

"Jadi, lanjutin?"

"Ah iya"

Yixing melanjutkan "Aku pergi ke Jepang tanpa ngasih tahu Yifan" Yixing menghela nafasnya "Dan di Jepang aku ketemu Kyungsoo"

"Dan bukannya berubah, papa malah semakin menjadi. Istrinya bahkan hanya bertahan satu bulan lalu cerai lagi. Karena Kyungsoo tetangga aku, jadi dia tahu semua kelakuan papa dan dia selalu menghibur aku"

"Aku sudah menyayangi Kyungsoo seperti adik aku sendiri, dan Kyungsoo juga begitu. Aku bahagia, tapi kebahagiaan itu gak bertahan lama, karena papa bilang dia mau nikah lagi sama orang Singapur."

"Aku muak" Air mata Yixing mulai mengalir lagi "Tapi aku tidak punya pilihan lain selain menurut, kan?"

"Kenapa kamu gak ikut mama kamu?"

"Mama udah bahagia sama keluarga barunya. Aku gak mau jadi pengganggu, apalagi sekarang mama udah punya anak lagi"

Junmyeon merasa sakit mendengarnya. Ia merasa beruntung masih punya ibu yang sangat menyayanginya.

"Aku ikut papa ke Singapur. Disana aku tidak bersikap baik. Aku dikenal jadi Yixing si es batu karena sikap dinginku. Aku gak mau kehilangan lagi Jun. Jadi aku gak punya teman satupun di sana"

"Papa tetap tidak berubah. Aku sudah gak peduli lagi. Aku merasa aku tidak punya tujuan hidup sampai papa bilang dia mau pindah lagi ke Korea"

"Ketika kita sampai di Korea, aku bilang sama papa kalau aku udah cukup dewasa dan aku mau hidup sendiri. Dan dia ngasih aku apartemen ini., dan semenjak aku tinggal disini dia hanya ngasih uang dan gak peduli sama sekali dengan keadaanku"

"Aku gak peduli, karena aku sudah cukup bahagia karena disini ada Kyungsoo, ada Yifan, dan Ibu kamu juga udah aku anggap ibu aku sendiri, dan ada kamu juga"

"Dan kenapa disaat seperti ini dia malah muncul" Yixing mulai terisak "Aku takut Jun"

Junmyeon langsung memeluk tubuh Yixing yang masih terisak "Aku takut dia misahin aku sama orang-orang yang aku sayangin lagi"

Junmyeon mengelus punggung Yixing. Dia baru tahu kehidupan Yixing ternyata sekompleks itu. Yixing terlalu memikirkan perasaan orang lain, meskipun ia sendiri sakit.

Kemudian tidak ada yang bicara, hanya ada suara isakan Yixing. Mereka terus seperti itu untuk beberapa saat.

Setelah merasa isakan Yixing mulai berkurang, Junmyeon melepaskan pelukannya. "Kamu gak usah takut. Meskipun papa kamu pergi lagi, tapi disini masih ada aku, masih ada ibu, masih ada Kyungsoo" Junmyeon mengusap air mata Yixing dengan ibu jarinya "Kamu gak sendiri"

Yixing tersenyum, kemudian mengangguk "Terimakasih" gumamnya.

Junmyeon mengusap rambut Yixing "Tapi tidak baik juga bersikap seperti itu. kamu bisa bicara baik-baik sama papa kamu. Kasih dia kesempatan, ya"

Yixing mengangguk "Aku akan coba" Yixing memegang pipi Junmyeon kemudian menarik kedua sudut bibirnya sehingga bibir Junmyeon mengurva membentuk sebuah senyuman "Jadi kamu jangan pasang wajah sangar lagi kayak tadi" Ujarnya dengan senyum sendu.

Junmyeon mengusap kepala Yixing sekali lagi "Papa kamu mungkin masih ada di luar"

Yixing mengerti maksud ucapan Junmyeon. Ia menghela nafas dalam kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya supaya mengurangi sembabnya.

"Aku, kebawah"

Junmyeon menatap Yixing yang sedang dipeluk ayahnya kemudian kedua orang itu memasuki mobil dan kemudian menjauh dan hilang dari pandangan.

Semoga saja ini yang terbaik, pikirnya.

.

.

.

Pagi itu, semua siswa dikumpulkan di aula untuk mendengarkan pengumuman dari ketua osis.

Kim Jongdae selaku ketua osis sudah berdiri dihadapan semua siswa, dan Yifan selaku wakil ketua osis berada di sampingnya.

"Selamat pagi semua" Ujarnya sebagai pembuka "Maaf mengganggu waktu kalian, dan terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang kesini dan mendengarkan pengumuman ini"

"Jadi sesuai dengan rapat osis, sekolah akan mengadakan pentas seni untuk menampilkan bakat kalian dan nantinya kalian bebas mengajak siapapun untuk datang ke acara itu. Kalian bisa mengajak orang tua kalian misalnya, untuk menunjukan bakat kalian"

Semua siswa jadi ricuh. Termasuk Yixing yang salah fokus, ia malah rusuh melihat Jongdae dan Yifan "Ih, kenapa mereka berdiri berduaan gitu kayak pengantin baru. Ah nggak nggak mereka mah kayak lagi kampanye"

Junmyeon sweatdrop "Ya mereka kan emang petinggi osis" Junmyeon baru tahu kalau cemburu buta itu memang benar adanya.

"Tenang tenang semua" Ujar Yifan menenangkan. Setelah semua siswa kembali tenang, Yifan mengembalikan pengeras suaranya kepada Jongdae.

Yixing makin keki.

"Jadi saya harap semua bisa berpartisipasi dalam acara nanti. Nanti acaranya akan dimulai tiga minggu dari sekarang, jadi persiapkan diri kalian! Kita harus membuat pensi ini sukses dan meriah" Ucapnya semangat

Dan dijawab tepuk tangan dari seluruh siswa, sepertinya mereka juga merasakan aura semangat dari Jongdae

"Antusias sekali" Yixing tersenyum sinis "Padahal kan cuman pensi". Entah kenapa Junmyeon merasa Yixing selalu menyebalkan kalau urusan dengan ketua osis itu.

Dan tingkatan kecemburuan Yixing berbanding lurus dengan frekuensi Yifan mengunjungi ruang osis. Mungkin Yixing cemburu melihat Jongdae yang saat ini lebih dekat dengan Yifan.

"Ya, waktu rapat kemarin sih dia bilang ini acara terakhirnya, jadi dia ingin acara ini sukses besar" Ujar Junmyeon

"Oh" Jawab Yixing singkat.

Jongdae berniat menutup pengumumannya sebelum Yifan membisikan sesuatu ke telinganya.

Yixing menarik-narik baju Junmyeon gemas "Ih, ganjen banget" gerutunya.

Junmyeon memutar bola matanya. Sebelah mananya yang ganjen? Yifan kan hanya membisikan sesuatu yang mungkin Jongdae lupa. Lagian kalau memang begitu, yang harusnya disebut ganjen kan Yifan.

Ah mungkin memang beda kalau kasusnya Jongdae.

"Oh iya, bagi siswa yang ingin tampil, bisa menghubungi saya untuk mendaftar" Lanjut Jongdae "Terimakasih"

.

.

.

"Jadi tugas ini dikerjakan perkelompok. Setiap kelompok terdiri dari lima orang. Anggota kelompoknya bebas, terserah kalian"

Setelah guru fisika mereka mengucapkan kalimat itu, Junmyeon langsung menoleh kearah Yixing dan Yixing pun menoleh kearah Junmyeon.

Junmyeon kemudian mengacungkan ibu jarinya, dan dibalas anggukan Yixing. Kemudian mereka menyeringai bersama.

Dan disinilah Junmyeon, Yixing, Kyungsoo, Yifan dan Jongin sekarang. Mereka jadi satu kelompok hasil dari kode-kodean Junmyeon dan Yixing. Kyungsoo, Yifan, dan Jongin terima-terima saja waktu mereka mengajak sekelompok, toh anggotanya bebas kan.

Mereka khusyuk mengerjakan tugas sebelum bunyi 'kruyuuk' datang dari perut seorang Kim Jongin.

Semua menoleh kearah Jongin, dan dibalas cengiran "Hehe, aku belum makan siang" meskipun batinnya menggerutu sialan nih perut. Duh tengsin.

"Kayaknya aku juga laper" Ujar Kyungsoo.

Jongin gak jadi tengsin.

"Kalau gitu cari makan dulu yuk" Saran Yifan. Kalau dirasa-rasa, ia juga lapar "Mau makan dimana?"

"Emang disini gak ada makanan Jong?" Tanya Junmyeon kepada sang tuan rumah.

Jongin menggeleng "Ah, gimana kalau kita beli bahan makanan, terus kita masak sama-sama aja?" Sarannya, yang langsung disetujui oleh semuanya.

.

Jongin, Yixing dan Kyungsoo sedang duduk-duduk menunggu Yifan dan Junmyeon yang sedang membeli bahan-bahan makanan. Tadi Junmyeon menyuruh Yixing menemani Yifan sebenarnya, niatnya supaya Yixing dan Yifan jadi makin dekat, tapi malah ditolak Yixing dengan alasan 'Aku gak ngerti soal masak-masakan, jadi aku gak tahu harus beli apa' padahal kan Yixing suka belanja sama Junmyeon, jadi dia pasti sedikit-banyak tahu tentang bahan makanan. Dan akhirnya Junmyeon dan Yifan yang pergi.

"Kalian mau nampilin sesuatu buat pensi?" Tanya Jongin

Yixing dan Kyungsoo saling berpandangan. "Aku nggak kayaknya" Jawab Kyungsoo.

"Tapi Kyungsoo kan bisa nyanyi" Yixing ingat kata-kata Junmyeon waktu itu. "Junmyeon yang bilang" Lanjutnya

Kyungsoo langsung terperangah "Nggak kok, biasa aja" Jawabnya merendah. Dia tidak menyangka Junmyeon memujinya. "Ah Yixing juga jago dance kan?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan

"Yixing jago dance? Aku juga mau nampilin dance, bisa duet dong kita" Ajak Jongin semangat.

Yixing melambai-lambaikan tangannya "Nggak kok, cuman bisa gerakan-gerakan biasa aja"

"Ah kamu, jangan merendah gitu" Ujar Kyungsoo (cermin tolong) "Kamu tahu gak Jong, Yixing itu jago banget dance, waktu di Jepang dia juga pernah menang lomba antar sekolah" Mata Kyungsoo berbinar "Dan waktu aku lihat dia ngedance di atas panggung, aku jadi terpesona, aku merasa kalau aku lagi lihat dewa tari"

Wajah Yixing jadi memerah. Ah Kyungsoo mah gitu. Yixing kan jadi malu dipuji berlebihan seperti itu. Lagian.. apa pula itu dewa tari?

"Mau yah duet sama aku?" Mata Jongin jadi ikutan berbinar. Apa mata berbinar itu menular?

Yixing menggeleng "Nggak ah, badan aku udah kaku"

"Yaaah" Hela Kyungsoo dan Jongin bersamaan. Kompak sekali.

"Beneran gak mau?"

"Nggak"

Kemudian acara mengobrol mereka diinterupsi kedatangan Yifan dan Junmyeon yang sudah pulang dari supermarket. Yifan dan Junmyeon langsung ke dapur dan disusul Kyungsoo.

"Wah, lagi ngomongin apa nih?" Tanya Yifan setelah menyimpan kantung pelastik di dapur.

"Pensi" Jawab Jongin "Aku mau nampilin dance, tapi belum daftar sih"

"Hoo" Yifan mengangguk-anggukan kepala "Kalau Yixing? Mau dance juga?"

Yixing langsung menggeleng cepat "Nggak" kemudian ia tersenyum kikuk.

"Loh kenapa? Kamu kan jago ngedance?" Tanya Yifan, dan pertanyaan kedua lebih mirip pernyataan. Duh Yixing jadi baper dipuji Yifan. "Ayo dong, tampil aja"

Jongin mendengus. Percuma, tadi Yixing udah nolak dibujuk Jongin

"Iya deh"

Seseorang, tolong jedotin kepala Jongin.

Sementara itu Kyungsoo sedang membantu Junmyeon masak di dapur Jongin. Ia sedang mengiris-iris sayuran. Ceritanya sih mau masak bareng, tapi akhirnya yang masak malah Junmyeon dan Kyungsoo.

"Wah, Kyungsoo bisa masak juga ya" Puji Junmyeon

Kyungsoo tersenyum "Aku suka masak di rumah, dan kadang aku juga suka bantu-bantu di restoran paman, jadi udah biasa" Jawabnya. Calon uke idaman.

Jadi, Kyungsoo bisa masak, Junmyeon juga bisa masak. Mungkin kita jodoh, pikir Junmyeon membuat teori sendiri.

"Wah Kyungsoo udah cakep, rajin lagi" Junmyeon mengucapkan kalimat itu dengan ringan tanpa memperhatikan dampak dari ucapannya.

Wajah Kyungsoo memerah sekarang. Dia melirik kearah Junmyeon yang malah melanjutkan acara memasaknya, mungkin Junmyeon tidak sadar mengucapkan kalimat itu dan akhirnya Kyungsoo pun memilih untuk melanjutkan acaranya memasaknya.

.

"Waah enaak" Puji Jongin "Jun, kalau kamu masaknya enak gini, nanti jadi istri aku aja" Yang kemudian dihadiahi toyoan di kepalanya.

Semua terkekeh, Jongin meringis sambil mengusap-usap kepala "Kalau gitu Kyungsoo aja yang jadi istri aku" dan dibalas deathglare dari Junmyeon dan tatapan meledek dari Kyungsoo "Nggak. Makasih"

Jongin pundung di pojokan, ditolak dua orang sekaligus dalam waktu kurang dari lima menit. Dunia kejaaaam :')

"Kenapa muka kalian jadi merah?" Yixing keheranan melihat wajah teman-temannya yang mulai memerah, padahal ia makan biasa saja.

"Ini pedes Xing" Jawab Jongin kemudian ia menyumpit lagi makanannya.

"Pedes?" Yixing tambah heran. Apa level pedas mereka itu, manisnya Yixing?

"Punya kamu aku bedain, Xing" Ujar Junmyeon menjawab keheranan Yixing "Kamu kan gak suka pedes, jadi aku pisahin dulu tadi"

Yixing membulatkan bibirnya sambil bergumam "Oh", Junmyeon perhatian sekali.

Yixing mulai menyumpit lagi, tapi sebelum sumpit itu masuk ke mulutnya, si sumpit malah nyasar ke mulut Yifan diiringi kalimat "Aku coba dong"

"Umm, iya, beda" Ujarnya setelah 'membajak' sumpit Yixing.

Sementara itu Yixing menatap sumpitnya dengan mulut terbuka. Wah. Indirect kiss. Kemudian wajahnya memerah, saking gugupnya dia kemudian dengan cepat menyumpit lagi dan langsung memasukan makanan itu ke mulut Junmyeon "Junmyeon juga harus coba" Ujarnya.

Lalu kemudian dia jadi galau sendiri. Ciuman Yifan diambil Junmyeon eomaaaaa

.

.

.

"Jadi kamu mau nampilin dance diacara pensi nanti?"Tanya Junmyeon sambil berjalan pulang setelah mereka menyelesaikan tugas kelompok.

"Iya" Jawab Yixing "Sebenernya males sih aku harus daftar sama si ketua osis itu"

Junmyeon terkekeh. Yixing masih cemburu buta ternyata "Tapi ambil sisi positifnya Xing. Selain kamu bisa bikin Yifan terkesan, nanti kamu juga bisa undang papa kamu buat ke acara pensi"

"Hmm" Yixing menggumam, kemudian ia terlihat berpikir "Sebenernya, aku belum bisa lupain apa yang udah papa lakuin. Tapi, kayaknya boleh juga. Aku mau nunjukin kalau aku bisa bikin papa bangga, dan mungkin aja kan dia berhenti mainin orang dan jadi lebih milih peduliin aku"

"Kamu gak harus ngelupain Xing, kamu cuman harus maafin" Junmyeon tersenyum "Tapi papa kamu juga sedang berjuang, dia jadi sering ngajak kamu makan malem kan" dan Junmyeon hanya mendengar gumaman Yixing.

Kemudian ia melihat mobil yang sudah terparkir di depan apartemen Yixing "Tuh, papa kamu udah datang"

Yixing menangguk lalu ia menghampiri mobil itu. Junmyeon menatap mobil yang sedang menjauh itu. Mereka sama-sama berjuang ya, pikirnya.

.

.

.

"Jongdae mau pindah yah? Yifan jadi ketua osis dong?"

Mendengar nama Yifan disebut, telinga Yixing langsung peka "Hey Jun" Ia menoel-noel lengan Junmyeon "Yifan mau jadi ketua osis?" Hanya itu yang didengar Yixing ternyata.

Junmyeon mengangguk. "Iya, Jongdae mau pindah, jadi Yifan naik jabatan"

Yixing menggumamkan kata "Hmm" kemudian ia tersenyum lebar "Yifan jadi ketua osis? Keren"

.

.

.

Waktu menunjukan pukul 13.45, kelas diisi dengan pelajaran matematika. Tak seperti pelajaran yang lain, anak-anak tak berani gaduh. Bahkan, anak paling cerewet dan hyperaktif seperti Jongin tidak berani mengacaukan kelas matematika.

Gurunya memang baik dan lembut. Namun kata-katanya pedas dan jika marah raut wajahnya menjadi sangat tajam. Selain itu, ia juga wakil kepala sekolah.

Tak ada suara sedikitpun dari siswa-siswa. Hanya suara goresan boardmarker dan suara pak Jung yang sedang menerangkan saja yang terdengar.

Anak-anak hanya bisa duduk manis mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan pak Jung. Hanya beberapa anak saja yang terlihat serius, dan sebagian besarnya lagi hanya bisa sesekali menguap dan menahan kantuk.

Jasad mereka memang ada disana, namun pikiran mereka mungkin sedang terbang ke Mesir, London, Zimbabwe atau bahkan ke alam lain.

"Nah Yifan, coba jawab nomer 2" Pak Jung kesal melihat Yifan yang hanya memandang keluar jendela. Jika murid-murid lain masih ada usaha untuk 'berpura-pura' mendengarkan, Yifan malah terang-terangan tidak memperhatikan.

Kalau murid-murid lain, pasti sudah kaget dan panik kalau tiba-tiba disuruh maju oleh pak Jung, tapi Yifan hanya menoleh dengan wajah datar kemudian ia berdiri

"Jika x dan y berada dalam satu garis lurus, x dan y bisa jadi satu kesatuan, kecuali jika y malah harus dibagi bilangan lain" Jawabnya di tempat, kemudian tubuhnya merosot lagi.

Seisi kelas melongo, termasuk pak Jung.

Jawaban macam apa itu? dan teori darimana?

Muncul perempatan di dahi pak Jung. Dia kesal, baru kali ini ada yang mempermainkan mata pelajarannya.

Lain pak Jung, lain lagi para siswa yang beberapa detik kemudian langsung tertawa.

Yixing memandang Junmyeon dengan wajah yang seakan bertanya 'Yifan kenapa?' dan dijawab gelengan Junmyeon. Ia juga tidak tahu apa-apa. Kemudian Yixing memandang Yifan yang sedang menunduk. Wajahnya jelas sekali menggambarkan keadaaan hati Yifan yang sedang kacau.

.

.

.

Jongin dan Yixing akan memulai latihan dance mereka setelah Yixing dengan enggan mendaftarkan diri ke ruang osis dan Jongin yang menemukan satu ruangan kosong di lantai tiga sekolah mereka.

Jongin menyetel musik di handphonenya, kemudian mereka mulai menentukan gerakan yang sesuai dengan musik itu.

"Kayaknya jangan gitu deh Jong" Komentar Yixing pada gerakan Jongin. Ia pikir gerakan itu terlalu kaku untuk musiknya "Kalau begini gimana?"

Sementara itu, Junmyeon sedang berjalan menyusuri koridor lantai tiga ketika ia melihat Kyungsoo yang berada di depan pintu sebuah ruangan. Junmyeon baru saja selesai mengikuti rapat osis.

"Hey" Sapa Junmyeon, ia lalu mengarahkan pandangan kearah pandangan Kyungsoo. Ia melihat Jongin dan Yixing yang sedang latihan.

"Yixing, berlatih keras sekali ya" Ujar Kyungsoo tiba-tiba. Senyuman terukir dari bibirnya dan Junmyeon terpana sesaat.

"Umm" Junmyeon mengangguk "Dia mau ngundang papanya di acara pensi nanti. Mereka ingin memperbaiki hubungan katanya. Kyungsoo juga tahu keadaan keluarga Yixing kan?"

"Papanya?" Kyungsoo masih mencerna kalimat Junmyeon. Yixing? Papanya? Memperbaiki hubungan?. Rahang Kyungsoo kemudian mengeras "Aku harus bangunin Yixing. Dia gak boleh terjebak lagi sama tipu daya papanya"

"Maksudnya?" Junmyeon tidak mengerti kenapa Kyungsoo tiba-tiba marah "Gak ada salahnya kan memperbaiki hubungan?"

Kyungsoo memandang Junmyeon dengan tajam "Memperbaiki hubungan? Cih. Dia akhirnya hanya akan menyakiti Yixing"

Junmyeon menautkan kedua alisnya "Kenapa kamu bisa bicara sekejam itu? sebagai teman, kamu harusnya ikut bahagia kan?"

Kyungsoo mendengus "Bahagia? Aku? Kenapa?"

"Kenapa?"

"Bagaimana aku bisa bahagia melihat sahabat sendiri akan disakiti? Aku gak bisa diem aja" Tegasnya

Dada Junmyeon jadi sesak. Rahangnya mengeras "Bukannya kamu terlalu berlebihan?" Bentak Junmyeon.

Jongin dan Yixing yang sedang berlatih langsung menghentikan kegiatan mereka lalu menoleh kearah suara Junmyeon

"Jangan ngelakuin sesuatu kalau kamu gak ngerti sama keadaannya! Papanya Yixing berniat tulus buat memperbaiki hubungan mereka—"

"Kamu udah ketemu sama dia?" Tanya Kyungsoo dengan nada tak kalah tinggi "Apa kamu udah liat matanya? Kenapa kamu yakin kalau dia tulus?"

"Apa maksud kamu?"

"Hey, udah udah" Yixing yang mendengar namanya disebut langsung mengampiri mereka. Ia tersenyum kikuk. Ia merasa dialah sebab dari pertengkaran Kyungsoo dan Junmyeon.

Ia melihat wajah Junmyeon "Junmyeon… Kyungsoo" Lalu ia menoleh kearah Kyungsoo yang wajahnya sama-sama keras.

Ia lalu meraih tangan kedua sahabatnya itu "Hey, ayo salaman" Yixing berusaha menautkan kedua tangan yang ada di genggamannya.

Junmyeon pergi begitu saja setelah ia menepis tangan Yixing dan Yixing hanya bisa menatap kepergian Junmyeon. Ia lalu menoleh kearah Kyungsoo yang sedang menunduk.

Jongin yang ada disana hanya bisa memandang mereka. Junmyeon bodoh, pikirnya.

TBC

A/N :

Ketemu lagi sama Rin. Hehe itu, masa lalunya Yixing sama Yifan udah kebuka :D Teori 'pdkt lagi sama mantan itu kayak mulai lagi dari awal' Rin dapet dari temen :D oh ya makasih ya buat review, fav sama follownya *cium satu-satu :* dan maaf kalau ceritanya Alay haha :D mind to rnr again?

Big Thanks to

qwertyxing, May, iggy, xingmyun, Regina Pearl Luce, TaoTaoZiPanda, fysl, MissMoretz, Guest, Shin Eun Young, Mery zhang, kerdus susu, demiapa, chenma