Last chapter:

Langkahku berhenti saat dari jauh melihat Jaejoong memasuki kamar 103. Perlahan aku mendekati kamar itu dan mengintip dari pintu yang sedikit terbuka.

Aku melihat Jaejoong memberikan pelukan singkat pada seseorang di atas ranjang. Mereka tertawa dan menepuk pundak. Sedikit memiringkan kepala, aku bisa melihat wajah EunJae. Pembawaannya sangat dewasa dan tenang.

Aku terdiam.

Setelah itu aku berbalik arah dan meninggalkan kamar 103.

Kau tahu bagaimana perasaanku sekarang?

.


.

Setelah menerbangkan abu ayah, kami bertiga—aku, ibu, JiHye—kembali pulang. Saat memasuki rumah, aku merasa perasaan sepi. Begitu juga yang terpancar di wajah JiHye dan ibu. Setelah itu kami berusaha melakukan aktifitas seperti biasa.

Semalam ponselku habis batre. Aku baru menyalakannya sekarang setelah terisi penuh.

Hanya ada satu pesan masuk dari Yoochun—sahabatku.

Aku memang belum memberitahu temanku perihal kematian ayah pada teman-teman. Tidak juga kepada Jaejoong. Setiap mengingat namanya, entah kenapa aku merasa bebanku menjadi dua kali lebih berat.

Duduk di atas kasur. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku bingung. Sesaat ada keinginan untuk bertemu dengan Jaejoong, namun aku tepis itu.


.

Stay

-Z-

.

YunJae Fanfiction

.

Terinspirasi; Stay – Sugarland

.


Aku sendiri tidak paham apa yang membawaku hingga kemari. Aku sudah berdiri di depan ruangan 103 milik EunJae—mantan Jaejoong. Apa aku sudah gila? Atau kepalaku terbentur?

'Mungkin sebenarnya aku hanya terlalu merindukan Jaejoong, dan berfikiran bahwa dia akan kemari dan kami tidak sengaja berjumpa.'

Aku mendengus dengan pemikiranku sendiri. Seperti orang tolol. Tapi sudah terlanjur basah sampai di tempat ini. Apa yang bisa aku lakukan?

Tanpa berfikir panjang aku membuka pintu ruangan itu dan mendapati sesosok pria sedang asyik memainkan PSP. Alisku menyatu, bertepatan dengan dia mengangkat wajahnya dari layar PSP.

"Siapa?"

"Umm…" sial, aku yang salah tingkah sekarang, "Mungkin aku salah ruangan."

Pria itu terkekeh, "Santai saja, bro. Mau jeruk?" tanyanya sambil mengambil jeruk dari atas meja dan melemparnya ke arahku.

EunJae ternyata tipe orang yang mudah bergaul.

"Siapa namamu? Aku Jung EunJae."

Aku melihat jeruk di tanganku agak lama sebelum kembali menatapnya, "Jung Yunho. Senang berkenalan," ucapku singkat, "dan terima kasih jeruknya. Aku pergi ya."

"Senang berkenalan denganmu, Yunho!" katanya sambil melambaikan tangan singkat. Aku hanya membalasnya dengan senyum sebelum kembali menutup pintunya.

Benar-benar ramah!

Aku memijit pangkal hidungku. Siapa saja pasti merasa nyaman dengan orang seperti itu. Apa lagi Jaejoong. Shit! Aku jadi ingin segera pulang.

Saat aku memutar tubuhku, aku mendapati Jaejoong melihatku dengan wajah terkejut.

"Kenapa disini, Yun?"

Aku tertawa datar, "Berjalan-jalan sore."

Jaejoong terkekeh, "Jalan-jalan sore sampai masuk ke rumah sakit? Dasar aneh."

Dia tertawa. Hal yang sudah lama tidak aku dengar.

Tak lama Jaejoong merubah ekspresinya, "Ngomong-ngomong kenapa dua hari ini kau tidak kuliah?" tanyanya.

Aku diam. Dalam hati menyusun kata-kata untuk menjawab pertanyaannya. Kalau memang tahu aku tidak masuk, dia bisa menghubungiku untuk bertanya, kan?

Jaejoong mendengus dan melanjutkan kata-katanya, "Ponselku rusak kemarin pagi. Jatuh dan terlindas mobil saat aku menyebrang jalan. Kemarin saat aku berkunjung ke rumahmu juga sepi. Kau membuatku khawatir."

Biasanya hatiku merasa hangat saat mendengar dia perhatian padaku. Tapi entah kenapa tiba-tiba perasaan itu tidak ada.

"Jae…" ucapku lirih.

"Ya?"

"Ayahku meninggal 2 hari yang lalu."

Jaejoong terkejut. Dia menutup mulutnya yang terbuka dengan tangan, "Sungguh?"

Aku hanya menatap matanya. Memasang wajah serius.

"Kenapa kau tidak menghubungiku? Ya Tuhan, Yunho," Jaejoong mendekat dan menyentuh lenganku.

"Aku sudah mengirim pesan, dua hari yang lalu. Kurasa itu sebelum ponselmu rusak," balasku dingin.

Jaejoong terdiam. Dia memandangku dengan wajah yang sulit diartikan, tampak seperti berfikir keras, "Pesan yang mengatakan kau membutuhkanku?" tanyanya ragu.

Aku hanya mengangguk singkat. Tanganku terangkat dan memberikan jeruk yang kudapat dari EunJae, "Aku harus pulang sekarang Jae. Sudah hampir malam. Ini jeruk untukmu. Kau harus menjenguk EunJae juga, kan?" ucapku panjang lebar. Setelah itu langsung berjalan pergi.

Dari sudut mataku aku bisa lihat Jaejoong memandang jeruk ditangannya dengan tatapan kosong. Mungkin dia terkejut dengan maksud pesanku 2 hari yang lalu. Tapi…

Sial! Aku hampir menangis.

Aku menyeka sudut mataku. Merasa sangat menyesal pergi ke tempat ini. Ya ampun, dasar kau bodoh, Yunho. Kenapa kau harus ke tempat ini?! Bodoh. Bodoh. Bodoh.

.


.

Ponselku berbunyi saat aku sampai ke rumah. Ku lihat ada 3 panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak di kenal. Mungkin karena bising suara lalu-lalang kendaraan, membuat panggilan ini tak terdengar olehku.

Tak lama ada panggilan lagi dari nomor itu. Aku segera mengangkatnya.

"Yeobseo?" ucapku.

"Yun, ini aku Jaejoong."

"Oh," jawabku singkat.

"Aku merasa bersalah. Dua hari yang lalu, EunJae kemoterapi. Jadi baru saat malam hari membaca pesanmu. Aku memutuskan untuk menelfonmu untuk bertanya, tapi sudah sangat larut. Besoknya, aku berniat mengunjungi rumahmu. Saat keluar dari rumah sakit, ponselku malah rusak."

Aku diam mencerna ceritanya. Entah ini sungguhan atau hanya karangannya saja.

"Hey, Yun? Kau masih disana?"

"Aku ngantuk."

Suara Jaejoong tampak kecewa, "Sudah mau tidur? Selamat tidur Yun."

"Hmm…" dengungku, sebelum menutup telepon kami.

Aku mendesah panjang, lalu memutuskan untuk berbaring di atas kasur. Menatap langit-langit kamar sambil berfikir.

Mungkin besok aku akan memutuskan hubungan kami.

Aku masih sayang… bahkan mencintainya. Hanya saja ini terlalu melelahkan. Aku pria dan egois. Jika kekasihku tidak mengkondisikan diriku sebagai kekasihnya, aku merasa seperti dinomor duakan saja.

Walaupun masalah dengan EunJae baru terjadi sekitar 3 mingguan, tapi aku sudah cukup lelah. 3 minggu waktu yang cukup lama untuk merasakan sakit.

Terlalu berlebihan? Terserah!

Terlalu terbawa emosi? Terserah!

Aku tahu Jaejoong pasti punya alasan sendiri.

Tapi aku tidak salahkan, menuntut hubungan cinta yang indah? Oke, terlalu berlebihan. Tapi setidaknya, kekasih macam apa yang sampai tidak tahu kondisi kekasihnya sendiri? Dia masih bisa mencari alternatif lain untuk tetap berhubungan denganku, kan? Iya, kan?! Hei! Jawab aku.


TBC


Aku merekomendasikan lagu, 'Never Again- Justine Timberlake' untuk yang suka galau. haha.
Ugh, perasaanku ikut bercampur-aduk membuat cerita ini. Kalau dari sudut pandangku, Jaejoong tidak salah. Tapi Yunho juga tidak salah! Jadi agak complicated. Mungkin chapter depan tamat, Mungkin. Hehe, chapter ini sedang menanjak menuju klimaks cerita. Maaf agak membosankan.

Thanks to; nickeYJcassie, Aaliya Shim, Oya, riska0122, irengiovanny, jaena, putryboO, yewonmjeje, duvypanha, loupeu, daelogvrl, lipminnie, jaejae, missjelek, Youleebitha, 909596 (nice to know I have international reader), Elzha luv changminnie, gdtop, 3kjj, hanasukie, Clein cassie, YunHolic, and all guest! Love you