.

.

.

.

Moves series : Dad? (3)

.

.

.

.

.

bultaereunae • MinYoon • Mature content

.

.

.

Yoongi melebarkan kedua mata kecilnya. Siluet yang ditangkapnya ini orang nyata. Orang yang sedari tadi melintas dengan tak sopan di pikirannya.

"Bangsat!"

Selimut dinaikkan, melingkupi tubuh dengan selimut. Lalu tangan di depannya menggenggam selimut kuat untuk menahan agar selimut tak jatuh. Ia turun dari kasur dan menghampiri Jimin dengan cepat.

"Keluar." Yoongi mendesis, takut takut Ayah, Ibu atau kakak laki lakinya terbangun karena suara mengintrupsi mimpi mereka, "Pergi Park."

Tubuh Jimin yang bersandar di pintu ia angkat dengan tangan kecilnya, mendorongnya kuat dengan tatapan bengis.

"Kau tak perlu menutupinya Yoon, aku sudah melihatnya."

Selimut ditarik oleh Jimin, tapi Yoongi mencekalnya lebih kuat. Yoongi merunduk melihat tangannya mencoba memastikan cekalan menjadi lebih erat, lalu saat kepalanya terangkat ia seakan melayang lalu tiba di lantai dengan bunyi bedebum keras.

Jimin mendorng Yoongi sehingga limbung dan selimutnya tersingkap.

"Bajingan!"

Yang diumpati menyeringai, masuk dan menutup pintu dari dalam, menguncinya tanpa ragu untuk menghampiri Yoongi yang menyibukkan diri untuk kembali menutup tubuhnya.

Jimin bukannya tak tau, bibir Yoongi yang bergetar, kedua maniknya yang memandangnya awas—Yoongi takut kepada Jimin.

Maka dari itu, Jimin akan terus menakutinya.

"Ha—ngh! Sakit!"

Surai dark brown Yoongi dijambak kuat, mendorongnya kebawah. leher jenjang yang terpampang Jimin pegang dengan satu tangan dan lima jarinya utuh—melingkarinya.

Yoongi terlalu lemah. Kedua tangannya tak bisa melepaskan ikatan dari selimut.

"Lepash—akh—"

Jari yang melingkar mulai meremas. Mencekik lawan.

"Ha—hakh—Jimink—"

Kedua kaki Yoongi menendang udara, membuat selimut yang menutupi turun hingga pinggang. Sedangkan Jimin masih dalam raut datarnya.

"Jangan melawan Yoon. Aku sudah bilang, aku tak akan berhenti."

Cekalan dilepas, Yoongi meraup napasnya dengan mata terpejam. Kedua obsidiannya seakan teremat karena ia menutup terlalu kuat, membuat pinggir mata mengerut. Air mata yang tertahan di pelupuk menetes saat terpejam dan terlewat dari penglihatan Jimin, menyisakan garis alur menetesnya air mata di kedua pipi.

"Angh—"

Napasnya kembali tercekat!

Sebelum ia menetralakan sakit di bekas cekikan dengan oksigen yang diambil teratur. Tangan Jimin yang kini beralih melingkar di penis Yoongi sembari meremat dan mengocok kuat membuat Yoongi menjatuhkan siku yang menahan tubuhnya sedari tadi.

Badannya mencoba berguling karena tangan yang mengorbankan selimut untuk terlepas tak memiliki pengaruh apapun saat Yoongi mencakar dan mencoba melepas tangan Jimin.

"Jangan bergerak, hey."

Gulingan dibatalkan, pinggang Yoongi ditarik kembali dan ditekan kebawah. Jimin naik ke atasnya dan mengukungnya.

"Jangan bergerak, sayang. Cukup aku saja."

Kepalan Yoongi terkuai, begitu tangan Jimin terlepas. Jimin menarik gesper yang dipakainya. Lalu menjeratkannya di kedua pergelangan tangan Yoongi

"Ani—"

Yoongi menurunkan tangan yang ditarik keatas dengan Jimin yang masih mencoba memasang gespernya. Tapi semuanya terlambat, karena gesper telak terpasang.

Jimin menarik ujung gesper agar semakin kuat, "Terlalu erat bangsat!"

Yoongi bisa merasakan tangannya tergesek besi kepala gesper tersebut, belum lagi sisi sisi gesper yang tipis membuat tangannya tergores.

"Mau ranjang atau disini saja sayang?"

Jimin bertanya lembut—hampir seperti psikopat gila. ia mengangkat tubuh Yoongi dengan sekali angkat, dan menurunkannya di kasur milik Yoongi—yang sudah kacau dan lengket oleh spermanya.

Kedua lengannya dipaksa untuk kaku saat Jimin mengikatnya di kepala ranjang. Jimin menarik sesuatu dari saku belakangnya, lalu mengikatkannya di atas gesper, menambah kuat eratan— itu adalah dasi Yoongi yang tadi terjatuh dan tak sempat diambilnya di mobil Jimin.

"Nah, diam begitu. Anak baik."

Pipi putih Yoongi dibelai, sontak membuat Yoongi memalingkan wajah menghindar. Yoongi memang tak melawan lagi semenjak diturunkan di kasur.

Jimin dan dominasinya.

Seolah dua hal tersebut adalah peluru yang bersedia menembaknya. Yoongi takut, pergerakan Yoongi adalah semacam ancaman bagi Jimin, Jimin selalu bersedia melepas pelatuk—dengan memukul atau menjambaknya.

"A-aku bisa berteriak."

Bibirnya memang berbicara keras. Tapi sebenarnya Yoongi ketakutan. Ia memang bisa saja berteriak. Tapi, mulutnya justru terjahit kuat untuk hal tersebut. Ia tak mau orang tuanya melihatnya seperti ini. Ia tak mau Hyun Ji tau. Pikirannya kalut. Ia tak bisa memikirkan lainnya kecuali dua hal tersebut.

"Tentu saja kau bisa. Silahkan saja. Tapi, jangan menangis," air mata yang menuruni sisi mata di hapus lembut.

Tidak, Jimin benar benar psikopat. Orang kata psikopat akan bertindak lebih tenang, dan Jimin sekarang terlihat sangat tenang. Pandangannya masih sama datar walau menusuk.

"Jimin—hentikan. Ini tak benar. K-kita keluarga bukan?"

Kata kata Jimin seminggu yang lalu masih Yoongi ingat. Saat Jimin dan Hyun Ji mendatangi rumahnya untuk sekadar mampir seperti biasa. Ayah Yoongi yang memang biasa pergi terlampau pagi mungkin tak dapat mendengarnya, tapi Yoongi dan Ibunya mendengarkan kata tersebut terkuak dan membuat ia dan ibunya tersenyum.

"Tak apa, kita kan keluarga."

Kata tersebut keluar karena Ibunya meminta maaf waktu itu, karena Jimin selalu mengantar Yoongi ke sekolah setiap pagi tanpa ada hari yang terlewat.

"Ah, kau mengingat kata kataku?" Jimin menyeringai, kungkungannya semakin menurun dan sengaja menggesekan kedua tubuh mereka. ia berbisik di telinga Yoongi dengan menempelkan bibir tebalnya—sama seperti yang ia lakukan di mobil, "Keluarga sekarang ini juga banyak yang melakukannya omong omong, apalagi kita yang tak terjalin di darah."

Bulu kuduk Yoongi meremang, ia tak bisa berkata apa apa lagi. Jimin dilalap nafsu, dan Yoongi terlalu lemas untuk mencairkan nafsu.

"Diam, dan nikmati."

Selimut yang belum tertanggal sepenuhnya disingkirkan. Membuang dan menjatuhkannya di lantai dingin kamar Yoongi.

Jimin menjilat bibirnya begitu badan Yoongi yang tak terbalut apapun tersaji tepat didepan mata. Obsesinya selama ini, menghantarkannya kepada tubuh yang terpahat cantik dan begitu menawan. Menghantarkannya kepada wajah sayu yang indah dengan kedua mata kucing yang kecil. Menghantarkannya pada bibir mungil yang dapat diraup oleh mulut dengan bibir tebalnya.

"Eumh—"

Ranum merah muda merekah itu—

"Manis." Jimin mengangkat kepalanya menjauhi bibir Yoongi, setelah menyecap sedikit rasa candu baginya dengan satu jilatan masuk ke rongga.

Jari dingin Jimin ia larikan menuju perpotongan leher, menarik tengkuk Yoongi ke atas. Yoongi sudah begitu pasrah didepannya, matanya meremang sama seperti ruang tersebut, napas yang sedikit ditarik kuat disetiap detiknya lalu mulutnya yang tak setengah membuka.

"Kau cantik Yoon, sangat."

Kepala Jimin menurun, ia mencium tengkuk Yoongi. Menjilat dan menggigitnya tanpa melewatkan satu bagian pun yang tak terjamah.

Entah sudah berapa lama Jimin akhirnya merasakan hal ini lagi. perasaan membuncah akan sex. Melakukannya dengan Hyun Ji bahkan tak pernah terasa semenyenangkan ini. Terlebih setelah Hyun Ji melakukan operasi pengangkatan rahim. Jimin enggan menyentuh Hyun Ji, ia terlalu rapuh. Ia adalah sosok yang Jimin jaga. Jimin tak pernah kasar pada Hyun Ji. Tapi berbeda untuk Yoongi.

Lama hasrat akan nafsu seperti ini tak menguar, sekalinya muncul sifat binatangnya yang satu ini benar benar tak main main. Kontrol pun terlepas, tepat setelah bunyi denting jam rumahnya yang menandakan tengah malam. Jimin memutuskan pergi menyebrangi rumahnya dan masuk ke rumah Yoongi—

Ia memiliki kunci duplikat. Lebih tepatnya bukan ia tapi mereka, Hyun Ji dan Jimin. Ibu Yoongi mempercayakan kunci tersebut agar Jimin dan Hyun Ji bisa berkunjung menemui Yoongi leluasa.

Empat hari yang lalu, Ibu dan Ayah Yoongi pergi keluar kota dua hari penuh. Kakak laki laki Yoongi sering berada di rumah makannya hingga larut. Maka dari itu kunci diserahkan kepada Hyun Ji dan Jimin, orang tua Yoongi masih terlalu takut akan suasana rumah baru mereka yang masih asing. Lama di desa, sekalinya mereka pindah ke kota mereka takut.

Dan ketakutan mereka menjadi peluang untuk Jimin.

"Umh—"

Bibir Jimin mengunci milik Yoongi, mengecap saliva yang mencecer di sekitar bilah pemuda manis di bawahnya. Menggigit gemas bibir Yoongi tapi juga menggigitnya keras satu dua kali kesempatan. Jimin menyedot saliva dan menelannya dengan bibir masih tertaut, seakan ia haus dan tak pernah kenyang untuk memakan ranum tersebut.

Bunyi kecipak dan lenguhan Yoongi membuat atmosfer ruang menjadi lebih intim. Gelap yang di sampiri cahaya bulan memasuki celah jendela bagian atas kamar Yoongi. Menurunkan cahaya tepat di kasur yang berdecit lirih karena pergerakan. Yoongi menjadi begitu dengan tuangan cahaya itu.

"Angh—"

Lidah Jimin menari dengan liar di telinga kanan Yoongi, menarik narik piercing yang ia pakai.

Yoongi telak terbuai akan segala sensasi lembut yang Jimin berikan.

Seakan sifatnya kembali melembut seperti hari hari biasa jika ia mengantarkan Yoongi ke sekolahnya.

"jiminh—ugh—"

Erangan itu.

"ugh—jangan—"

Pucuk dada kiri dipelintir kuat, benar benar memutarnya lalu menyentilnya keras. Perut Yoongi tegang karena ransangan.

Jimin menurun, menggeret lidahnya menuju tengah dada Yoongi. Menggigitnya sekali lalu pindah ke pucuk dada Yoongi yang menegang. Menghisap dan menyedotnya memaksa sesuatu keluar dari dalamnya.

"Akh—hungh—"

Jimin menggigitnya, memberi gigitan tepat di puting dan menariknya. Ia melakukan hal yang sama di dada lain juga.

Tangannya merambat naik dengan sentuhan seduktif dari pinggang ke pinggir ketiak Yoongi. Menaiki dagu dan berhenti di bibir Yoongi. Memaksa tangannya masuk tanpa aba,

"ohk—"

Yoongi telak tebatuk.

Empat jari Jimin masuk kedalamnya. Dengan sengaja melebar lalu menelungkup dan bahkan menekan lidah Yoongi dengan menekuk.

Uvula Yoongi tersentil—rasanya seperti ia ingin memuntahkan makan siangnya yang ia makan di sekolah tadi siang.

Jimin menarik pinggul kecil Yoongi. Membuat Yoongi terduduk dengan menyandar ranjang. Ia menaikan tengkuk Yoongi untuk mengecup bibir Yoongi sekali, meluruskan kepala Yoongi yang lunglai.

Jimin membuka baju dan celananya tepat di hadapan Yoongi. Sesekali kembali menarik dagu runcing Yoongi saat berkilah menghadap ke samping. Yoongi malu mengetahui dirinya akan digagahi.

Saat semua terlepas, mata Yoongi sengaja mengedip lebih sering dan lama. Tak mau berkelanjutan melihat hal didepannya.

Jimin dengan tubuh terbentuknya.

Keringat dan peluh yang menyiraminya.

Kulitnya yang sedikit gelap dan miliknya.

Yoongi berteriak begitu sadar ia memikirkan sesuatu dengan terlalu jauh. Membuat Jimin mengeryit dan menyatukan alisnya begitu kaki Yoongi berusaha menendang Jimin yang tentu saja tak mengenai Jimin karena ia sudah mundur dengan lebih tanggap.

"Hey, sudah aku bilang diam kan."

Yoongi menggeleng, ia kalap. Ia ingin menurut tapi ia—entahlah.

Sret.

Bugh.

Kaki Yoongi ditangkap, lalu ditarik sehingga ia kembali berbaring. Tubuhnya jatuh di kasur dengan tangannya yang semakin tertarik gesper Jimin. Bukan lagi lecet tapi kiranya darah sudah merembes keluar dari pergelangan tangannya.

Yoongi mendesis, kepalanya terbentur sisi ranjang saat terjatuh. Ia limbung ke samping dan tak bisa menghindarinya.

Jimin dan kekasarannya. Jimin dengan kelembutannya. Jimin dengan sifatnya.

"Kulum."

Yoongi terlampau asik mengerang karena kepalanya yang berdenyut nyeri, tanpa sadar Jimin sudah kembali ke atasnya. Sedikit menaik lagi untuk berada di atas dadanya, tangannya menarik leher Yoongi menaik sehingga pipinya bersentuhan dengan milik Jimin.

"Aku—"

Telat.

Jimin sudah membuka mulutnya dengan menciutkan pipinya yang ditekan dengan ibu jari dan telunjuknya. Lalu memasukkan miliknya dalam satu kesempatan.

"Kulum Yoon. Sedot, jilat, mainkan. Ini mainanmu kucing manis."

Surai Yoongi diremas, mendorongnya paksa saat Yoongi hanya menjepit tanpa gerak. Yoongi masih pasif.

Batukan Yoongi terpendam, Jimin masih terus mendorong dan mengeluarkan miliknya. Sampai dirasa Yoongi mengerang dengan menggeleng, lalu mulai menghisap dan menggigit miliknya.

"Kucing pintar."

Jimin mendongak sejenak dengan menggerung, melepaskan cekalan dari rambut Yoongi. Tangannya ia bawa menuju ke pipi gembil Yoongi yang menggembung karena mengulum miliknya. Mengusapnya halus dengan satu jari, dan tersenyum sayang.

Mata sayu Yoongi juga turut menangkapnya. Senyuman Jimin yang begitu ia puja setiap harinya—senyuman yang ia anggap sebagai senyuman Ayah ke anaknya.

Geram, Jimin hampir memuntahkannya di mulut Yoongi, "Fuckh—sudah—"

Yoongi melebarkan mulutnya dan melepas milik Jimin, menurunkan dan merebahkan kepalanya. Bibirnya terasa kebas.

"Menungging sayang,"

Pinggang Yoongi diangkat oleh Jimin, dinaikan lalu dibalikan dengan cepat. Tangan Yoongi terasa pegal dan perih lagi karenanya.

Jimin membasahi bibirnya, mengocok miliknya sendiri yang sukses menegang hanya karena melihat lubang Yoongi yang berkedut.

"Angh—"

Jimin turut merunduk, membawa organ tak bertulang menyapa lubang Yoongi, menjilat disekitar lalu mencoba masuk. Kedua tangan Jimin tak tinggal diam, satu tangannya meraba paha dalam Yoongi lalu yang satunya sengaja digesek gesekan ke penis kecil Yoongi.

Jimin membasahi dengan cepat, meludah dan menelesakannya ke dalam. Membawa air liur masuk walau sebenarnya hanya mengucur ke paha Yoongi.

Ia menggigiti kulit luar, menarik lidahnya ke paha dalam Yoongi, sesekali menuju ke selangkangan untuk menggoda. Menggigit dan membuat ruam merah disana. Mengecup dengan bibir yang dibasahkan terlebih dahulu, menggeret bibirnya di ambang kulit.

"Hngh— Jiminh—"

Kedua kaki Yoongi menjepit kepala Jimin yang sedang memberi suatu tanda di pahanya.

"Jepit jika aku sudah didalam sayang."

Paha kembali dilebarkan. Jimin menegapkan badannya kembali. Ia mengecup kerutan merah Yoongi sebelum naik dan berbisik lirih di telinga kiri Yoongi.

"Kau milikku Yoon. Hanya aku."

Jimin memasukannya tanpa aba. Memasukinya dengan susah karena lubang Yoongi yang masih begitu sempit. Hanya liur pelumasnya, bahkan jari jarinya tak ikut melebarkan tadinya. Wajar saja jika susah. Dan sedangkan Yoongi meredam jeritnya di bantal.

"Oh—bangsat—kenapa susah sekali."

Begitu setengah miliknya masuk, ia langsung menyentaknya dalam.

Yoongi menggerung, bawahnya benar benar sakit. Perihlah yang mendominasi.

"Aku bergerak."

Yoongi tak menjawab, ia menjawabpun Jimin akan tetap bergerak didalamnya. sebenarnya Yoongi ingin berteriak untuk dilepas kembali penyatuan mereka. ia ingin memekik untuk Jimin tak bergerak. Tapi ia tak berani.

"Jiminh—sakit—"

Hanya desisan sakit yang berani terkuak.

"Sst. Tak apa."

Dan Yoongi tak menyangka jika Jimin akan menjawabnya dan menyentuh pipinya untuk menenangkan.

Sungguh. Sifat Jimin yang cepat sekali berubah ini. Menghangatkan hatinya.

"Jiminh—hng"

Jimin mencepatkan tempo kala Yoongi mendesah bukan meringik sakit lagi. Jimin mengusap punggung putih Yoongi dengan lembut. Lalu meremat kecil pinggang Yoongi. Mendorong tubuh Yoongi untuk mendalamkan miliknya.

Geraman rendah terdengar dengan milik Jimin yang membesar didalam Yoongi. Dibarengi dengan pekikan nelangsa yang lebih muda karena perutnya bergejolak ingin meraih nikmat.

"Ugh—aku-jim—ahh—"

Yoongi sampai, dan Jimin menyusul di belasan detik selanjutnya. Tubuh mereka berdua ambruk dengan tumpang tindih, walau Jimin menahan beratnya agar tak benar benar menjatuhi tubuh dibawahnya.

Jimin berguling ke samping tanpa melepas penyatuan. Menelungsupkan tangan kekarnya ke pinggang Yoongi—melingkari yang memunggungi.

"Kau milikku Yoon. Mutlak."

.

.

.

.

.

.

.

Jimin dan segala sifatnya :""

Anw, ini end sampai sini aja ya/? hahaha end dengan tidak enak/? bagian itunya ga aku jelasin ya, foreplaynya doang difokus :''sorryyyy

Oh iya, if you don't mind. Kalian bisa cek wp aku dengan username : bultaereunae. Moves itu hanya repost dari sana. Jadi, aku kalo update wp dulu. sekalian mau bilang bulan puasa aku hiatus untuk story mature content :''' hehe.

Oh iya, any req pairing ngga? Aku buatin abis puasa tapi ahahaha. Reach me over pm kalo mau ya. Tapi karena biasanya jarang buka ffn, bisa dm aku ke ig : syaws_._._ (inimah aku promo wkwk). Terserah sih, mau chat lewat mana, wp juga gapapa. Soalnya aku lagi cari temen juga :""" , ayo berteman! 3

Ps. Aku kangen taekook

Pss. Tapi aku ingin Namjin