Guardian Love
Warning :
This is official pairing with Genderswitch inside, if you don't like just leave this page.
Untuk yang menanyakan Xiumin, dia sudah di S.O.P.A tapi memang belum ditemukan disebelah mananya, coba cari deh XD
Dan Luhan, dia masih sibuk di China. Kkk XD
Pemberitahuan :
Ada beberapa pemain baru dichap ini dan kedepannya mungkin akan terus bertambah, untuk sementara ini dulu. Nanti akan diperkenalkan lagi tiap ada penambahan pemain.
Kalian masih ingat dichap sebelumnya ketika saya menuliskan beberapa nama Sonsaengnim, kalian masih ingat siapa saja mereka? Tolong jangan diambil hati soal itu ya, anggap saja itu orang lain, maksut saya saya bener-bener minta maaf ketika menuliskan nama mereka tanpa mempedulikan kebutuhan cerita untuk kedepannya, Cho Kyuhyun, Kangin dan Lee Hyukjae sonsaengnim akan berubah peran disini, mereka yang sebagai guru akan tetap ada, tapi tolong anggap saja mereka orang biasa, jangan anggap mereka bagian dari Super Junior, karena member Super Junior akan saya perankan jadi orangtua masing-masing main cast. Untuk Kibum sonsaengnim, ia tetap dengan peran sebelumnya menjadi guru Kimia, ini juga sudah saya pikirkan matang-matang untuk kebutuhan cerita.
Sekali lagi saya minta maaf untuk beberapa perubahannya #bow
Ini main castnya, ada alasan sendiri kenapa Kris ditulis dalam kurung Wu Yifan, ini berhubungan dengan kebutuhan cerita. Jadi tolong saya jangan dibash ya :D
Main Cast :
Huang Zitao (yeoja)
Kris ( Wu Yifan ) (namja)
Oh Sehun (namja)
Xi Luhan (yeoja)
Kai (namja)
Do Kyungsoo (yeoja)
Byun Baekhyun (yeoja)
Park Chanyeol (namja)
Suho (namja)
Yixing (yeoja)
Chen (namja)
Xiumin (yeoja)
Marga diubah untuk kebutuhan cerita.
Other Cast :
Huang Zhoumi + Henry Lau ( orangtua Zitao )
Wu Hangeng + Kim Heechul ( orangtua Kris )
Park Yunho + Kim Jaejoong ( orangtua Chanyeol )
Byun Kangin + Kim Taeyon ( orangtua Baekhyun )
Happy Reading
E
X
O
Sore harinya, setelah selesai berlatih karate, Zitao yang akan pulang berjalan melewati tempat parkir mobil. Ia melihat gerak-gerik mencurigakan dari beberapa anak disebuah mobil. Zitao berjalan mengendap mendekati mereka yang terlihat sedang melakukan sesuatu pada ban mobil tersebut.
"Apa yang kalian lakukan?" Zitao bertanya dengan polosnya.
Mereka dibuat kaget oleh Zitao yang datang secara tiba-tiba. Mereka sudah kepalang basah jika ingin pergi, satu-satunya cara adalah mengancam Zitao untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun.
"Ini bukan urusanmu bocah! Sekarang menyingkir dari sini, kau menggangu pekerjaan kami" Salah satu dari mereka mencoba mengusir Zitao.
"Apa kalian sedang memperbaiki mobil ini? Sepertinya aku mengenali mobil ini, tunggu bukankah mobil ini milik Kangin sonsaengnim, apa beliau meminta kalian memperbaiki mobil miliknya? Beliau baru saja mengajariku karate, tapi dia tidak mengatakan apapun soal mobilnya"
Anak-anak itu saling bertatapan, "Apa kau yakin ini mobil yang seharusnya kita 'kerjakan?" "Kurasa ini benar" Anak-anak itu masih saling berargumen.
Zitao mecoba mengulur waktu, tangan kanannya ia sembunyikan dibalik badan mencoba mengetik sebuah pesan pada Sehun. Ia bukannya tak berani menghadapi mereka sendiri, hanya saja ia merasa membutuhkan bantuan untuk sedekar membuat mereka pergi tanpa harus menggunakan kekerasan.
"Apa yang kalian lakukan dengan mobil itu, kalian ingin aku adukan pada Lee sonsaengnim?" Suara cempreng milik Baekhyun membuat anak-anak itu berhenti berdebat dan memilih pergi tanpa membereskan sisa kekacauan yang mereka timbulkan dimobil itu.
"Aaah syukurlah kalian datang" Zitao mendesah lega melihat Baekhyun bersama Chanyeol dan Sehun. Hari ini memang ekskul Musik dan Dance mengadakan latihan bersama, kalian tak boleh berfikir buruk mengenai suara cempreng Baekhyun yang Kai bilang bisa membuat Kyungsoo-nya pingsan, nyatanya suara Baekhyun mampu membawanya menjuarai lomba menyanyi antar sekolah tingkat nasional diperiode lalu, sedang Chanyeol dengan tampang polos cenderung idiot yang dimilikinya serta dipadukan dengan senyum lima jari yang selalu menghiasi wajahnya, maka kalian pasti akan merekomendasikannya untuk membuat acara komedi bersama Lee Kwangsoo sunbaenim beserta para pemain Running Man lainnya. Tapi dia dengan tampang idiotnya itu ternyata memiliki kemampuan yang membuat Baekhyun dan yeoja-yeoja lain jatuh hati bila melihatnya melakukan Rapping, yaa dia seorang Rapper, dan tak hanya itu saja, ia juga dianugerahi kemampuan untuk melakukan beatbox, perpaduan sempurna bukan beatbox dan rapping. Dan si namja albino bertampang datar bernama Oh Sehun itu adalah Ketua Klub Dance, hahaha menyebalkan bukan, membayangkannya saja sudah membuatku muak, bagaimana bisa ia menjadi ketua dance dengan tampang yang menyebalkan seperti itu, tapi itulah Oh Sehun. Prince ice bermata tajam bermuka menyebalkan yang sayangnya begitu aku cintai *abaikan* kemampuan dance nya tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Apa yang terjadi?" Sehun memandang Zitao khawatir.
"Jangan bicara padaku, aku masih kesal padamu" Zitao berlalu dari hadapan Sehun, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi pada mobil didepannya.
"Haahh, bahkan dia sendiri yang meminta bantuanku, kenapa sekarang malah mendiamkanku" Sehun mendesah pilu melihat Zitao. Baekhyun dan Chanyeol hanya tertawa memandang tingkah keduanya, mereka hanya terlalu terbiasa dengan hal ini, Zitao yang ngambek pada Sehun bukan hal baru bagi mereka, hingga membuat mereka harus bersimpati pada Sehun, karena ini tak akan berlangsung lama, percayalah.
"Sepertinya aku mengenali mobil ini, ini milik siapa ya?" Zitao bergumam.
"Bukankah itu mobil milik" belum sempat Chanyeol menjawab, sebuah suara sudah menginterupsinya.
"YA! Apa yang kalian lakukan pada mobil Kris!" Apa aku sudah menjelaskan pada kalian bahwa ternyata tak hanya Baekhyun yang memiliki suara cempreng, ada satu orang lagi yang memiliknya, mau ku kenalkan?
"Jangan berteriak Chen, dan kumohon kalian jangan salah paham" Sehun mencoba menengahi, ia menyadari arah pandang Chen dan Kris yang tertuju pada Zitao, masih ingat posisi Zitao, baiklah akan ku ingatkan, ia sedang berjongkok menatap ban mobil yang ternyata milik Kris dengan obeng ditangan kanannya, jangan tanyakan mengapa dia memegang obeng, entahlah bukankah Zitao bebas melakukan apapun.
Zitao yang merasa diperhatikan, melempar obeng begitu saja dan kemudian berdiri. Ia menghindari tatapan menusuk yang dilayangkan Kris, membuatnya justru nampak dalam posisi yang pantas disalahkan.
"Kami baru saja datang ketika Zitao memberitahu kami bahwa ada sekelompok anak sedang melakukan sesuatu pada sebuah mobil yang baru kami tau ternyata itu mobilmu" Chanyeol menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
"Antarkan aku pulang Chen" Kris berlalu pergi begitu saja dari hadapan mereka, membuat Zitao makin beringsut dibalik punggung Sehun. Tunggu, sejak kapan mereka dalam posisi itu, mungkin ini namanya gerak refleks yang ditimbulkan ketika kita merasa gugup atau takut, masing-masing dari kalian tentu pernah merasakannya bukan, kita akan melakukan apapun untuk menetralisir rasa itu, Zitao selama ini memang dikenal sangat dekat pada Sehun, dan ini adalah gerak refleksnya ketika ia merasa takut dan gugup, ia akan mendekat dan meminta perlindungan pada orang terdekatnya, dibanding yang lain bisa dibilang Sehunlah yang memegang kendali atas Zitao.
"Hey, tidakkah kau ingin mendengarkan penjelasan Zitao" Baekhyun sedikit berteriak mengingat Kris dan Chen sudah berjalan mendahului mereka.
Kris mengangkat sebelah tangannya tanpa menghentikan langkahnya atau berusaha berbalik menghadap mereka. Ia tak ingin membahas itu sekarang. Tidak setelah melihat Zitao yang ketakutan dan bersembunyi dibalik punggung Sehun, mengingatkannya akan sesuatu.
"Sudahlah, ia tak akan menyalahkanmu, toh kami mengetahui semuanya dengan jelas. Jika dia berusaha menyalahkanmu, kami akan membantu menjelaskan kejadian yang sebenarnya" Sehun mengusap kepala Zitao lembut tanpa berusaha melepaskan genggaman tangan Zitao pada lengannya, mencoba menenangkan Zitao. Zitao seperti tidak ingat akan perkataannya bahwa ia sedang kesal pada Sehun, ia hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Ayo pulang, sebentar lagi gelap" Chanyeol mengajak mereka untuk kembali, dengan mengait jemari Baekhyun dalam genggamannya ia berjalan mendahului Sehun dan Zitao, memberikan waktu bagi mereka untuk bicara. Chanyeol memang paling peka untuk kondisi seperti ini.
"Aku antar ne?" Sehun berbalik menghadapkan tubuhnya berhadapan dengan Zitao.
"Bagaimana dengan sepedaku?" Zitao menatap Sehun imut, tinggi badan mereka yang tidak berbeda jauh langsung menghadapkan mata mereka untuk saling bertemu, Zitao mengerjapkan matanya tanpa sadar.
Sehun menyentil ujung hidung Zitao gemas "Tinggalkan saja, lagipula kau pikir aku bisa selamat dari ocehan appa-ku jika mengetahui kau pulang selarut ini dengan menggunakan sepeda sendirian. Lagipula mengapa kau nekat membawa sepeda jika tau akan pulang larut, hari ini kan jadwalmu berlatih karate. Mengapa malah meninggalkanku, padahal aku sudah menjemputmu dan Moma bilang kau sudah berangkat" Sehun berbicara panjang lebar tanpa sadar, masih ingat gerak refleks yang aku jelaskan sebelumnya. Hal itu juga berlaku untuk Sehun, namja albino bermuka datar berwajah menyebalkan yang dikenal sangat irit kata ini akan menjadi bukan seperti dirinya jika dihadapkan pada Zitao, dia akan berbicara panjang lebar dan tanpa sadar sesekali akan mengeluarkan aegyo seperti sekarang ini.
"Aku masih kesal padamu, apa kau tak ingat?" Zitao mendengus berjalan mendahului Sehun.
"Hahahaha, kau yakin berani menuju mobilku sendirian Tao, ini sudah gelap" Sehun tertawa makin kencang ketika Zitao berbalik dan menghadiahi Sehun dengan tatapan mematikan. Sehun sampai berlutut memegangi perutnya yang terasa sakit, ini adalah gerak refleks seorang Oh Sehun yang lain.
Guardian Love
Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, tapi namja ini masih bertahan dengan kesadarannya. Ia memperhatikan atap kamarnya, mengingat kejadian yang membuatnya kesal.
"Harusnya itu aku"
Namja itu bergumam sebelum kemudian menutup mata dan jatuh tertdur karena lelah.
"Ge, tolong jiji ge, jiji takut hiks" yeoja kecil berumur sekitar 5 tahun terlihat bersembunyi dibalik tubuh namja yang usianya tak berbeda jauh dengannya.
"Tenanglah ji, gege akan melindungimu, jangan takut, gege akan membawamu keluar dari sini" namja itu mengusap pucuk kepala yeoja kecil yang dipanggil jiji dengan penuh kasih, mencoba meyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja, berusaha terlihat tenang walau ia sendiri teramat sangat ketakutan.
Saat ini mereka sedang berada dalam ruangan entah dimana, karena ruangan ini gelap tidak disinari penerangan sama sekali. Mereka diculik ketika sedang bermain ditaman dekat rumah mereka.
"Bagaimana caranya kita keluar ge, disini gelap jiji tidak bisa melihat wajah gege, jiji takut ge, hikss mama papa, hikss tolong jiji"
"Ssstt tenanglah, jika jiji menangis orang-orang jahat itu akan kembali datang dan memisahkan kita, jiji tidak akan bisa memeluk gege seperti ini lagi jika mereka membawa jiji pergi, jiji jangan menangis oke" namja itu menangkup wajah yeoja kecil dihadapannya kemudian mengecup dahi yeoja itu, berusaha memberikan ketenangan, cara ampuh yang selalu orang tuanya berikan ketika ia merasa takut. Dan, berhasil. Yeoja kecil itu berhenti menangis.
"Sekarang tidurlah, kau pasti lelah, gege akan menjagamu" ia membawa yeoja kecil ini dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung yeoja ini pelan, mencoba membuatnya tertidur.
"Gege janji gege tidak akan meninggalkan jiji sendirian ya, janji ge" jiji mengangkat wajah kecilnya sejenak menatap namja bergaris wajah tegas namun lembut didepannya, mencoba mencari kesungguhan untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tentu, gege tidak akan pernah meninggalkanmu ji, tidurlah"
BRAKK
Kedua bocah yang baru saja terlelap dikagetkan dengan suara pintu yang dibuka dengan kasar.
Namja kecil menutup sebagian wajah dengan lengannya, menghalau cahaya yang menusuk matanya, sedang tangan yang lain ia gunakan untuk merengkuh yeoja kecil dalam dekapannya.
"Hikss, jiji takut ge" satu isakan lolos dari bibir yeoja kecil itu.
"Berdiri!" Salah satu dari tiga orang yang memasuki ruangan itu memerintah keduanya untuk berdiri.
"Cepat" Namja yang lain mencekal lengan yeoja kecil itu keras, hingga ia berteriak kesakitan.
"AKH! SAKIT! Hiks sakit, lepaskan jiji! Hiks gegee, tolong jiji ge! SAKIT!"
"JIJIIIIII!" namja itu terbangun dari tidurnya dengan peluh sebesar biji jagung membasahi dahinya, sekujur tubuhnya terlihat gemetar. Ia bermimpi buruk, sejujurnya ini bukan pertama kalinya ia memimpikan hal ini, tapi ini sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendapatkan mimpi yang sama.
Namja itu mengusap wajahnya, ia melirik jam yang ada dinakas disamping tempat tidurnya, jam menunjukan pukul 4.30 masih terlalu pagi, ia tak mungkin tidur kembali ia takut akan mendapatkan mimpi yang sama.
Diluar sangat dingin, karena ini masih akhir musim dingin. Ia mengambil jaket tebal dari lemarinya memutuskan keluar rumah untuk jogging, sekedar untuk mengalihkan rasa sakit didadanya sejenak.
Guardian Love
Seorang yeoja yang masih terlihat cantik diusianya yang menginjak 38 tahun, tubuh tingginya dibalut dengan dress rumahan biasa berwarna peach, rambut panjangnya dicepol keatas, ia mengenakan apron untuk mencegah kotoran dari masakan yang sedang ia masak mengotori bajunya.
"Chanyeol-ah! Yeeoool!" Yeoja itu berteriak memanggil Chanyeol.
"Ada apa yeobo? Mengapa berteriak seperti itu, heum?" Seorang namja terlihat memeluk yeoja itu dari belakang, tak lupa ia menciumi tengkuk yeoja yang ia panggil yeobo.
"Ssshh, hentikan Yun! aku sedang memasak" kalian sudah bisa menebak dua orang yang sedang bermesraan itu siapa? Mau aku beritahu? Mereka adalah orangtua Chanyeol, Park Yunho dan Kim Jaejoong. Sekarang kita tau dari mana gen tiang listrik Chanyeol berasal. Ayahnya Park Yunho-lah yang mewarisinya untuk Chanyeol.
"Sebentar saja Boo" Yunho semakin mengeratkan pelukannya dan makin menyerukkan kepalanya pada perpotongan leher sang istri.
"Yunhh" Jaejoong mencoba melepaskan pelukan Yunho dengan terus menggerakan badannya.
"Apa yang kalian lakukan?" Sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Jaejoong bernafas lega. "Hahh, kalian ini! Tau tempat jika ingin bermesraan, bagaimana jika oranglain yang melihat bukan aku" Chanyeol mendengus melihat kelakuan kedua orangtuanya. Menjadi putra seorang Park Yunho, ia menjadi sangat terbiasa dengan hal yang berbau 'pervert' seperti ini, orangtuanya memang suka lupa diri ketika bermesraan seperti tadi.
"Jangan tiru kelakuan buruk appa-mu itu Yeol" Jaema memberikan sepiring omelet kesukaan Chanyeol dihadapannya.
"Tentu saja umma, aku tak akan membuat Baekhyun takut dengan bertingkah seperti appa" Chanyeol menjawab dengan mulut penuh suapan omelet buatan ummanya.
"Kenapa kalian menyudutkanku, kau yeobo bukankah jika tidak ada Chanyeol kau sangat menikmatinya" Yunho membela diri.
Uhuukk
Chanyeol tersedak mendengar penuturan appa-nya.
"YAK! Kau ini! Ingin membuatku malu didepan anakmu sendiri, lagipula apa pantas hal seperti itu dibicarakan dimeja makan" Jaejoong melempar serbet makannya kearah Yunho.
"Minumlah Yeol, jangan pedulikan ucapan appa-mu. Setelah ini kau akan menjemput Baekki?"
"Tentu saja umma, wae?" Chanyeol menjawab setelah meminum air yang diberikan umma-nya.
"Semalam umma membuat apple-pie, nanti mampirlah sebentar dan berikan ini pada umma Baekhyun ya Yeol, katakan umma tidak bisa mengantarkannya sendiri, umma harus menemani appa-mu ke Jeonju setelah ini" Jaejoong memberikan sebuah kotak yang kemudian akan dibawa oleh Chanyeol.
"Taeyon umma pasti akan sangat menyukai ini, masakan buatan umma memang yang terbaik" Chanyeol memberikan dua jempolnya sembari memamerkan senyum idiot miliknya pada sang umma. "Geundae, berapa lama kalian akan berada di Jeonju?"
"Sekitar dua atau tiga hari, appa harus mengurus pembukaan yayasan baru milik kita disana" Yunho menjawab pertanyaan Chanyeol.
"Jika hanya membuka saja bukankah itu cukup sehari, lalu sisanya?" Chanyeol menatap orangtuanya curiga.
"Jangan pernah berfikir untuk memberikanku adik ppa, meskipun aku menyukai anak kecil, aku tak akan mau mendekatinya jika itu anak kalian" Chanyeol yang mengerti watak ayahnya sudah tau apa jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Wae? Kyungsoo saja senang ketika ia mengetahui akan memiliki adik" Yunho mencoba membujuk Chanyeol.
"Tidak appa, sekali tidak ya tidak! Sudahlah aku berangkat, Baekki bisa marah jika menungguku terlalu lama"
Setelah mengecup pipi kedua orangtuanya, Chanyeol lantas berlalu menjemput Baekhyun. Chanyeol dan Baekhyun tinggal dikompleks yang sama, hanya terpisah beberapa blok saja.
"Aiissh anak itu!" Yunho mengacak rambutnya kesal.
"Wae, kenapa dengan anak itu. Dewasalah Yun, anakmu saja bisa berfikir dewasa, tidak mesum sepertimu"
"Tapi kau suka kan Boo?" Yunho menaik turunkan alisnya menggoda Jaejoong.
"Demi Tuhan Yun, kau menjijikan sekali! Ayo bersiap, kita bisa terlambat nanti. Aku akan mengganti bajuku dulu, kau mandilah" Jaejoong sudah akan berjalan menuju tangga hingga tangan Yunho kembali memeluknya dari belakang.
"Mandikan akuu"
"PARK YUNHO MESUM!"
Guardian Love
Chanyeol terlihat memasuki sebuah rumah yang halamannya dijadikan taman untuk kemudian ditanami beberapa tumbuhan bunga, dan disudut taman terdapat kolam ikan yang disampingnya terdapat pohon jeruk berukuran sedang.
"Yonma, aku datang" Chanyeol melepas sepatu, menggantinya dengan sendal rumah yang disediakan didekat pintu masuk.
"Aah, kau Yeol masuklah, umma sedang siapkan sarapan, apa kau sudah sarapan?" Taeyon terlihat sibuk memasukan beberapa makanan kedalam kotak bekal.
"Sudah umma, tadi Jaema membuatkanku omelet" Chanyeol terlihat membantu Taeyon dengan menutup kotak bekal-bekal itu. "Banyak sekali umma, apa Taehyung akan memakan bekal sebanyak ini, bukankah Kangin appa masih diluar negeri?"
"Tidak, ini milik Baekhyun dan yang satu lagi ini milikmu, bawalah Yeol, supaya kalian bisa makan berdua atau bersama yang lain, Baekhyun pasti tidak akan mau memakannya jika sendiri" Taeyon memberikan satu kotak bekal yang kemudian dimasukan kedalam tas oleh Chanyeol.
"Gumawo umma, aah hampir saja lupa, tadi Jaema menitipkan ini padaku umma" Chanyeol mengambil bungkusan yang tadi ia letakan dimeja ruang tamu milik keluarga Byun.
"Apa ini Yeol?" Taeyon mengintip isi bingkisan yang diberikan Chanyeol.
"Umma membuat apple-pie semalam"
"Waah, umma-mu itu pintar sekali membagi waktu ya, setelah seharian menemani appa-mu berkeliling, masih sempat membuat makanan seperti ini, kalau umma sih lebih memilih tidur" Taeyon tertawa sembari meletakan apple pie pemberian keluarga Park kedalam kulkas.
"Entahlah Yonma, appa sudah sering kali melarang umma, tapi umma bersikeras ingin melakukannya, mereka bahkan selalu bertengkar tiap tengah malam" Chanyeol memilih duduk diruang tamu sembari menunggu Baekhyun turun menemuinya.
"Umma-mu kesepian Yeol, sering-seringlah luangkan waktu untuk bersamanya. Sebagai anak satu-satunya kau sudah beranjak dewasa dan sudah semakin sibuk, appa-mu pun demikian. Yonma paham sekali bagaimana Yunho oppa, appa-mu itu seorang pekerja keras perfeksionis yang menginginkan semuanya sempurna, ia juga tak mudah percaya pada kinerja oranglain kan, itu sebabnya Yunho oppa memilih mengerjakan semuanya sendiri, tak apa jika perusahaan yang ia kelola hanya satu, kau tau sendiri kan berapa banyak perusahaan yang harus dikelola appa-mu" Taeyon mendudukan dirinya disebelah Chanyeol menepuk pundak Chanyeol untuk memberinya pengertian.
"Jaema mengikuti kemanapun appa-mu pergi bukan tanpa alasan Yeol, ia hanya tak ingin berdiam diri dirumah sendirian, ia mungkin bisa memasak atau melakukan hal lainnya, tapi untuk apa ia memasak banyak jika akhirnya ia juga yang akan memakannya sendiri, umma-mu itu yeoja hebat hebat Yeol, ia mampu mengimbangi appa-mu yang keras dan juga terus memperhatikanmu tanpa pernah berusaha mengeluh pada kalian betapa beratnya mengurus dua namja dewasa yang sikapnya tak ubahnya dua bayi besar" Taeyon tertawa sejenak dan membelai lembut surai Chanyeol.
"Aah, mengapa aku tak pernah berfikir sampai kesana, aku pikir selama ini umma menikmati semuanya, aku terkadang memilih untuk menginap dirumah Sehun supaya umma dan appa punya waktu untuk bersama, Yonma tau sendiri kan betapa pervert-nya appa-ku" Chanyeol menghadapkan wajahnya pada Taeyon dengan memasang wajah sebal.
"Hahaha, kau ini Yeol. Sudah tidak usah dipikirkan, yang jelas mulai saat ini kau harus luangkan waktumu lebih banyak untuk umma-mu, arra?"
"Siap capten!" Chanyeol berlagak hormat dihadapan Taeyon hingga disambut tawa lepas keduanya.
"Hey, apa yang kalian tertawakan?" Baekhyun terlihat menuruni tangga dibelakang mereka dengan tangan sibuk merapikan dasinya. "Kalian mentertawakanku?" Baekhyun mendengus sebal.
"Kau ini percaya diri sekali Tuan Putri" Chanyeol tersenyum lembut melihat tingkah Baekhyun.
"Kau, tumben sekali sudah datang sepagi ini, biasanya aku harus marah-marah dulu baru kau datang" Baekhyun berjalan menuju ruang makan mengambil segelas susu strawberry kemudian meminumnya.
"Jaema menitipkan sesuatu untuk kalian, jadilah aku berangkat cepat"
Jadi, apa kalian bingung siapa Moma, Jaema, Yonma dan Wookie umma? Mereka masing-masing ibu dari Zitao, Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo dan untuk ibu Sehun, mereka biasa memanggilnya Bunma. Mereka berlima itu seperti sudah memiliki takdir untuk terus bersama sejak bayi. Mereka saling memanggil orangtua yang lain dengan sebutan umma atau appa selayaknya mereka memanggil orangtua mereka sendiri. Karena orangtua mereka juga saling mengenal dan memiliki hubungan baik satu sama lain. Jadi mereka tak akan canggung untuk memanggil dengan sebutan umma atau appa.
"Cih, coba saja aku yang memintamu berangkat cepat, aku harus menangis dulu baru kau datang" Baekhyun mendecih sebal pada Chanyeol.
"Tentu saja Chanyeol akan menuruti keinginan ibunya, memangnya kau siapa Baek" Seorang namja dengan muka yang menyerupai Baekhyun terlihat menuruni tangga, Baekhyun menolehkan kepalanya melihat namja itu.
"Ummmaaaaa! Taehyung jelek tidak memanggilku noona ummaa!" Suara melengking Baekhyun mengadukan tingkah namja yang ternyata dongsaengnya.
"Berhenti berteriak Baek, dan kau Tae cepat turun dan habiskan sarapanmu. Kalian berdua berangkatlah, jalanan pasti akan ramai sebentar lagi" Taeyon meminta Baekhyun dan Chanyeol untuk segera berangkat, dibelakang Taeyon, Taehyung masih sempat menjulurkan lidahnya meledek Baekhyun.
Baekhyun sudah melebarkan matanya, bersiap akan berteriak sebelum Chanyeol merengkuh badannya dan menutup mulut Baekhyun dengan sebelah tangannya, hal yang sangat mudah bagi Chanyeol untuk bisa melakukannya mengingat postur tubuh Baekhyun yang kecil atau Chanyeol yang kelewat besar.
"Kami berangkat umma" Chanyeol berpamitan sembari berlalu. Taeyon yang melihat bagaimana keakraban mereka hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Jangan terus-terusan menggoda noona-mu seperti itu Tae" Taeyon mendudukan dirinya dihadapan Taehyung, menemaninya makan. Pekerjaan rumah sudah selesai sedari tadi, jadi ia bisa bersantai menemani anak-anaknya tiap pagi seperti ini. Ayah Baekhyun, Byun Kangin sedang dalam tugas untuk melakukan seminar dibeberapa negara di Eropa, beliau merupakan professor yang juga dosen di Korea University dan baru akan kembali minggu depan, sudah tau darimana otak encer Baekhyun berasal?
"Ne umma" Taehyung menundukan wajahnya sembari terus memakan sarapan buatan umma-nya.
Guardian Love
Kriingggg
Bel istirahat berbunyi dan anak-anak berhamburan keluar kelas.
"Kyungie kau sudah baikan?" Zitao menanyakan keadaan Kyungsoo yang duduk dibangku berseberangan dengannya.
"Sudah lebih baik eonni" Kyungsoo tersenyum menyambut pertanyaan Zitao.
"Mengapa tak pernah bercerita pada kami jika Wookie umma sedang hamil?" Baekhyun mengerucutkan bibirnya memprotes pada Kyungsoo.
"Kupikir kalian sudah tau eonni" Kyungsoo mencoba membela diri.
"Terakhir kami berkunjung kerumahmu bukankah itu sebulan yang lalu, kukira tak ada yang aneh dengan Wookie umma" Zitao berusaha mengingat terakhir kali ia bertemu dengan ibu Kyungsoo.
"Wookie umma sudah menggunakan baju longgar jika kau memang memperhatikannya" Sehun yang duduk disebelah Zitao ikutan berbicara.
"Benarkah?" Zitao yang semula menghadap Kyungsoo memutar badannya menghadap Sehun.
"Sehun yang seperti itu saja paham, bagaimana kalian bisa tidak menyadarinya?" Chanyeol memilih untuk duduk di meja milik Kyungsoo.
"Apa maksutmu dengan Sehun yang seperti itu, memang aku seperti apa, hah?" Sehun yang galak mulai keluar.
Mereka hanya tertawa melihat Sehun mulai kesal.
"Memang sudah berapa bulan Kyung?" Baekhyun yang masih penasaran mencoba bertanya mengenai kehamilan Ryewook.
"Baru jalan lima bulan eonni, hari itu ketika kalian datang perut umma memang belum terlalu kelihatan besar, mungkin karena itu eonni tidak menyadari bahwa umma sedang hamil" Kyungsoo menjelaskan.
"Aah pantas saja" Zitao dan Baekhyun manggut-manggut mendengar penjelasan Kyungsoo.
"Ayoo ke kantin, aku lapar" Sehun mengajak mereka semua menuju kantin.
"Kalian duluan saja, aku ingin ke toilet. Kyung temani aku ne" Zitao memamerkan deretan gigi putihnya, berusaha merayu Kyungsoo agar mau menemaninya.
"Ayo eonni"
"Yihaaa" Zitao mengamit lengan Kyungsoo dan membawanya berjalan menuju toilet.
"Hahh, anak itu" Sehun menghela nafas melihat tingkah Zitao.
"Menarik bukan?" Baekhyun menaik turunkan alisnya dan tersenyum meledek.
Guardian Love
Zitao sudah kembali dari toilet ketika ia mendengar suara orang sedang membicarakan sesuatu dilorong dekat kamar mandi namja. Zitao lantas menghentikan langkahnya ketika ia mendengar nama yang tak asing baginya disebut oleh mereka.
"Apa kau sudah siapkan obatnya untuk Kris?"
"Sudah, ini dia"
"Jangan beri terlalu banyak, supaya efeknya tak harus dirasakan sekarang"
"Eonni ada apa?" Kyungsoo memandang Zitao yang sedang menajamkan pendengarannya heran karena Zitao berhenti berjalan.
"Sssstt" Zitao menempelkan jari telunjuk didepan bibirnya, meminta Kyungsoo untuk diam.
Kyungsoo hanya diam menuruti apa yang Zitao perintahkan.
Kris? Ada berapa banyak Kris disekolah ini? Ku harap itu bukan kau.
Zitao baru saja akan beranjak pergi ketika ia kembali medengar mereka berbicara "Guk-ah siapa yang akan melakukannya?"
"Aku sudah meminta Youngjae melakukannya untukku"
"Kau memanfaatkannya lagi?"
"Haha, seperti yang kau tau Daehyun-ah, dia begitu tergila-gila padaku jadi dia pasti akan menuruti apa yang aku perintahkan"
Yongguk, Bang Yongguk. Aku harus meminta Suho oppa mencari tau apa motif mereka melakukan ini.
"Ayo pergi Kyung" Zitao mengamit lengan Kyungsoo membawanya menjauh dari lorong itu.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi eonni, kau terlihat khawatir sekali" Kyungsoo yang masih berjalan disamping Zitao memperhatikan wajah Zitao yang terlihat berfikir keras.
Zitao menghentikan langkahnya, menghadapkan tubuhnya pada Kyungsoo membuat Kyungsoo berhenti melangkah.
"Menurutmu ada berapa banyak laki-laki bernama Kris disekolah ini Kyung?"
"Eoh?" Kyungsoo memiringkan wajahnya, mencoba mencerna apa yang ditanyakan Kyungsoo.
"Aah sudahlah, ayoo"
Mereka kembali berjalan menuju kantin, setelah menemukan meja teman-temannya, mereka langsung duduk bersebelahan. Zitao nampak menundukan kepalanya diatas kedua tangan yang ia lipat diatas meja.
"Wae?" Baekhyun menatap Zitao tak mengerti.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti.
"Ada apa?" Sehun yang duduk bersebelahan dengan Zitao mencoba bertanya dengan nada selembut mungkin.
"Tidak, tidak apa-apa" Zitao mendongakan(?) wajahnya menatap Sehun, saat ia menatap kedepan ia melihat seorang yeoja berjalan kearahnya, bukan pasti yeoja itu bukan menuju kearahnya, begitu batin Zitao. Zitao kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin. Sehun, Baekhyun, Chanyeol dan Kyungsoo yang juga sedang memperhatikan Zitao mau tak mau juga ikut mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kantin, meski sejujurnya mereka sendiri tak tau apa yang sedang Zitao cari.
"Ada apa?" Baekhyun bertanya gusar.
Disana, ia disana. Apa yeoja ini benar-benar akan melakukannya?
Zitao makin terlihat panik.
"Hey ada apa Tao?" Sehun berusaha menyentuh bahu Zitao untuk mendapatkan perhatiannya.
Belum sempat Sehun menyentuh bahu Zitao, Zitao sudah berdiri menghampiri yeoja yang membawa segelas orage-juice ditangannya, yeoja ini jelas akan menghampiri namja disudut kantin, hanya ada dia disana.
"Akhhh!" yeoja ini menumpahkan orage-juice ditangannya tepat mengenai wajah namja berwajah stoic dihadapannya. Baju bagian atas namja itu basah, perhatian semua orang dikantin tertuju pada ketiga orang itu, Zitao, si yeoja yang membawa orage-juice dan namja yang terkena tumpahan orage-juice. Zitao masih diam memandang namja yang juga sedang memandangnya tajam, dia sepertinya tidak menyadari baru saja membuat kekacauan.
"Kris maafkan aku, aku tak sengaja melakukannya. Aku berniat memberikan orage-juice ini untukmu, tapi yeoja ini" Youngjae berbalik menghadap Zitao yang masih belum berekspresi ditempatnya "YA! Apa kau buta, punya mata tidak?"
Zitao mengalihkan pandangannya dari Kris, menatap Youngjae dingin. Yang ditatap balik menatap Zitao tak suka. Mengerti situasi makin tak kondusif, Sehun berinisiatif menggandeng Zitao keluar dari kantin, Zitao tak berusaha memberontak, ia diam saja ketika Sehun membawanya keluar.
Kris memandang mereka berdua dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Biar aku bersihkan noda dibajumu Kris" Youngjae sudah mengeluarkan sapu tangan dari sakunya ketika Kris menampik tangan Youngjae kasar kemudian beranjak pergi, ia sempat berpapasan dengan Chen dan Kai yang memandangnya tak mengerti.
"Apa yang terjadi denganmu?" Chen bertanya yang tentu saja diabaikan oleh Kris yang terus berjalan. Kai yang juga akhirnya mengikuti Chen dan Kris sempat mencuri pandang kearah Kyungsoo yang juga sedang beranjak bersama Chanyeol dan Baekhyun.
"Nomu yeopo" Kai menggumam dengan smirk andalan dibibirnya.
Disudut lain dikantin, seorang namja mengepalkan tangannya menahan amarah dan mendesis "Sial!"
Guardian Love
Sehun membawa Zitao menuju taman, jam istirahat masih sepuluh menit lagi itu sebabnya ia mau mengajak Zitao kemari, ia bermaksut meminta penjelasan atas apa yang Zitao lakukan barusan.
Orang-orang pasti akan membicarakan hal ini, mereka yang ada dikantin jelas mengetahui bahwa Zitao sengaja melakukan ini, ini murni kesengajaan bukan kecelakaan.
Sehun mendudukan Zitao, ia memilih menunggu Zitao berbicara, ia tak ingin terlihat menghakimi Zitao dengan pertanyaannya. Sehun berdiri memandang wajah Zitao yang tak berekspresi tertunduk menatap rumput, perlahan wajahnya memerah dan cairan bening mengaliri kedua pipi Zitao.
Sehun tersentak melihatnya, ia teramat sering melihat Zitao menangis, tapi bukan menangis yang seperti ini, ini tangis pilu pertama yang Sehun lihat dari seorang Zitao.
Perlahan Sehun merengkuh Zitao dalam pelukannya dengan tetap mempertahankan posisi berdirinya. Zitao membenamkan wajahnya diperut Sehun, Sehun mengusap rambut Zitao lembut mencoba menenangkannya. Zitao makin terisak merasakan kelembutan tangan Sehun dikepalanya.
Kenapa tatapannya penuh kebencian menatapku, apa salahku? Bukankah ia yang meninggalkanku.
E
X
O
To Be Continued
Apa kalian sudah mulai paham dan menikmati jalan ceritanya, jika iya maka saya akan sangat berbahagia sekali. Dan jika belum, saya akan berusaha lebih keras untuk dapat menghasilkan tulisan yang berkualitas. Semoga kalian puas dengan chap ini .
Saya update kilat sebagai bentuk apresiasi kalian yang sudah mensupport saya melalui review.
Chap depan akan saya usahakan update cepat bila review mencapai angka 88, ini untuk menghindari banyaknya silent readers, sejujurnya saya tidak ingin mempermasalahkan soal itu, hanya saja sebagai penulis baru saya merasa butuh masukan, butuh dikritik, butuh dikoreksi dengan bahasa yang baik tentu saja.
Terimakasih untuk kalian yang sudah menyempatkan mereview, balasan review akan saya berikan lewat PM.
Enjoy and keep review guys, see you next chap :)
