.

.

Angel With A Glasses

Summary:

Bukan salahnya kalau ia tidak suka manusia. Mereka makhluk lemah, tidak seperti malaikat—tidak sepertinya. Jadi sekarang ia bingung kenapa Ocho memaksanya untuk menjaga seorang manusia. Seorang pemuda bertopi jingga. Ugh, Ia yakin kalau tugas ini akan menjadi merepotkan. Apa lagi jika sebentar lagi kiamat. Tunggu. Apa?! [Supernatural!AU]

.

.

.

Angel With A Glasses

By: TsubasaKEI

Genre: Supernatural, Friendship, Romance(?)

Character: Angel!Fang, ?Boboiboy, Angel!Ochobot (Ocho)

Warning: penulisan indo-melayu tidak konsisten, slowburn(?), TYPO

Disclaimer: I do not own Boboiboy and Supernatural, but this fic is mine tho :)

Enjoy~

.

.

.


Chapter 3: And There'll be War

Hutan Białowieża bisa dibilang sebagai salah satu hutan tertua di dunia. Rumah dari 800 bison Eropa yang menjadi buruan turis yang tengah bertamasya mau sebau apapun kotorannya. Pohon ek tersebar di sepanjang hutan. Batangnya yang berumur ditinggali lumut dan fungi beraneka jenis. Bias cahaya hangat yang kontras dengan udara dingin menyisip dari sela-sela daun di atas.

Di sana ada juga jalan setapak dari batu untuk turis. Penjaga setempat memutuskan lebih baik bekerja membuat jalan ketimbang harus mencari turis yang tersesat.

Itu sih, hiruk pikuk yang terjadi di sana. Tapi di sini; di balik semak belukar yang tebal, melewati parit yang dalam, tidak ada satupun jalan setapak yang nampak. Kalau pun ada, mungkin kau hanya akan mendapatkan jalan buntu pada akhirnya, atau mungkin kau akan bertemu salah satu penjaga hutan yang keheranan kenapa bisa ada orang di jalur non-turis. Yah, orang tersesat memang hal yang biasa.

Tapi itu hanya terjadi kalau kau mondar-mandir asal tidak punya tujuan selain mengambil foto.

Jika kau tahu apa yang harus kau lihat di antara semua kuning dan hijau yang terpampang, kau akan menyadari bahwa dahan pohon ek yang menjulang beratus-ratus meter ke atas sebenarnya tengah berusaha menyapamu. Dahan mereka bergetar tanpa bantuan angin. Dedaunan kuning jatuh berguguran. Kalau kita menyadari hal itu dan membalas lambaian mereka dengan senyum manis, akan terdengar suara patahan keras yang menyakitkan, seperti sambaran petir. Tapi jangan khawatir, pohon-pohon tua itu hanya membunyikan sendi mereka yang jarang mereka gerakkan. Mereka bergerak lamban, meregangkan jarak di antara setiap pohon dengan melebarkan setiap ranting, dan membukakan jalan setapak baru untuk kita lewati, lengkap dengan lengkungan dahan di atas kepala saat kita berjalan melewatinya. Pandangan yang romantis, seperti menyusuri altar pernikahan.

Ocho melompat-lompat girang menuju ujung terowongan. Pohon ek yang ia dadahi tadi sempat enggan untuk membiarkannya lewat. Tapi Ocho bersikukuh terus melambai-lambai hingga pohon itu menyerah dan menunjukkan jalannya. Ocho bersorak penuh kemenangan dan kembali berjingkat menuju terowongan ajaib itu.

Tentunya tidak semua yang tahu harus melihat apa dibolehkan untuk diberi jalan. Terkadang—seringnya—ada mereka yang berniat jahat untuk mengganggu hal yang seharusnya tidak diganggu. Ocho bukan termasuk kategori yang buruk, buktinya pohon-pohon itu masih mau memberinya jalan. Hanya saja, mereka sedikit...uh, trauma.

Ocho bersenandung riang, layaknya anak kecil yang bertamasya ke tengah hutan seorang diri tanpa terlalu mempedulikan keamanannya. Ocho mengenakan topi jerami dan sepatu gunung, jaket hitam tebal membalut porosnya yang kecil. Seorang kakek tua merasa kasihan ketika melihat dirinya yang berpakaian tipis berkelana sendirian. Dia menepuk-nepuk pundak Ocho dengan lembut dan memberikan sebuah jaket dan sepatu gunung yang kebetulan sekali muat untuk tubuhnya. Ocho tersenyum lima jari, memeluk kakek itu erat, dan berlari menjauh meneriakan 'Thank you, Sir!' padanya.

Ocho mendapati jalannya dihadang sederet pohon. Ia tidak melihat ada celah. Jika Ocho adalah turis mungkin ia sudah menggerutu dan berbalik arah. Tapi Ocho tidak menjadi ragu. Matanya menyala biru dan seketika ilusi itu luluh, menunjukan sebuah pondok tua dibaliknya. Ocho langsung mencium bau melati yang menyengat, sebuah anugrah setelah mencium bau kotoran bison selama beberapa kilometer ke belakang. Ocho membenarkan topinya, merapihkan kerutan dan membersihkan tanah dari bajunya. Ia berdeham dan memasang senyum termanisnya. Ocho lalu mengetuk pintu lapuk yang berlumut itu dengan irama unik—dua ketuk, diam sedetik, satu ketuk, dan tiga ketukan cepat.

Pintu itu berderik terbuka.

Ocho menarik nafas dalam lalu menyapa girang. "Hai nenek lampir! Lama nggak ketemu!" Wangi bunga melati disertai angin kejut kemudian, Ocho terhempas lima meter ke belakang, menabrak pohon dan seketika mematahkan tangan dan kakinya.

.

~Angel With A Glasses~

.

Kedai Tok Aba penuh dengan pelanggan. Pagi-pagi orang berdatangan untuk mendapat asupan kafein pertama mereka di hari itu. Jika tidak suka kopi, tak apa. Tok Aba memiliki menu andalan yang sudah laris sejak pertama ia membuka kedainya; Special Hot Chcolate, minuman yang kaya dengan coklat 100% asli untuk membangkitkan energi. Rasanya gurih dan meleleh di lidah. Manisnya pas, tidak kurang dan tidak giung menyilukan gigi. Coklat panas itu sudah menjadi sahabat tertua Boboiboy. Tok Aba akan menyeduhnya di saat langit berubah kelabu dan senyumnya murung, dan Boboiboy akan menerima tawaran sang kakek dengan senyuman lega. Minuman itu tidak lepas dari genggaman tangan kecilnya di saat Boboiboy menatap langit. Ia ingat betapa lega dadanya ketika ia menyisip minuman itu waktu itu.

Mungkin itulah mengapa sekarang Boboiboy membagi waktunya agar dapat membantu kakeknya mengurus kedai sepulang sekolah dan di hari libur. Boboiboy mendapat kebahagiaan kecil ketika ia melihat pelanggan bergumam puas atas minuman yang ia buat. Ia ikut tersenyum ketika anak-anak berusaha mengambil marshmallow yang mengambang di dalam minumannya dan hatinya berdebar mendengar pujian yang mereka tuturkan pada minuman kakeknya.

Ditengah rutinitas itu berdirilah Fang, dengan celemek coklat tua mengirimkan pesanan ke berbagai meja.

Boboiboy ingin tertawa akan betapa kakunya senyum sang pemuda setiap kali dia mengucapkan 'Selamat datang,'. Beberapa pelanggan ikut terbata gugup mengucapkan pesanan mereka saat Fang menatap tak berkedip dengan pensil dan kertas di tangan, siap mencatat pesanan. Di genggam Fang, pensil itu terlihat sangat mengintimidasi, entah mengapa.

"Satu coklat panas spesial, satu coklat dingin, satu roti bakar coklat." Urai Fang ketika ia berjalan ke arah Boboiboy di meja counter dan menyerahkan kertas catatannya. Boboiboy menerima kertas itu dari Fang dan membacanya.

"Oke, kubuat dulu. Kau bisa duduk, Fang. Kau belum berisitirahat sejak tadi, aku jadi tidak enak. Lagi pula, belum ada pelanggan baru." Saran Boboiboy, ia sudah mengambil dua gelas kosong untuk mulai membuat pesanannya. Fang mengangguk dan duduk di kursi di depannya. Namun tetap saja, matanya mengawasi setiap aktivitas dengan jeli, berjaga-jaga siapa tahu ada yang meminta pesanan lagi. Boboiboy yang melihat itu terkekeh pelan, menarik perhatian Fang.

"Serius sekali." tawanya, "Aku senang ketika mendengar kau akan tinggal disini cukup lama dan mau membantuku di kedai, tapi lemaskan pundakmu sedikit, tarik nafas dulu. Pelanggan tidak akan kabur begitu saja." Canda Boboiboy.

Fang mengerungkan alis heran. Ia lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Sudah. Pundakku juga sudah lemas." Fang tidak mengerti kenapa ia harus melemaskan pundak jika tugas utamanya adalah bersiap-siap mengambil pesanan pelanggan yang tidak terwaktu pasti.

Boboiboy jadi tertawa lagi. "Itu hanya ungkapan, Fang. Maksudku, kau tidak perlu selalu waspada, tidak akan ada apa pun yang terjadi di sini, santai saja oke?"

Fang memicingkan matanya tidak yakin. Tapi Boboiboy sudah kembali sibuk dengan pesanannya.

Beberapa hari lalu Fang berpisah jalan dengan Ocho. Sesuai dengan janjinya, Fang akan menunggu sampai Ocho kembali membawa kabar baik...atau buruk, tapi Fang berdoa agar itu tidak terjadi. Boboiboy bersorak gembira ketika Fang berkata bahwa ia akan tetap menetap di rumahnya. Fang tidak mengerti mengapa Boboiboy bahagia sekali ketika Fang ingin menetap. Bocah bertopi itu menariknya berputar-putar bergelak tawa, merayakan keputusannya layaknya Ocho yang bersorak penuh kemenangan ketika lelucon garingnya berhasil membuat Fang tersedak ludahnya sendiri.

"Fang, ini." Boboiboy menyerahkan nampan baru berisi roti dan minuman yang menggugah selera manusia. Fang mengangguk mengerti dan membawa pergi pesanan itu.

Boboiboy memperhatikan punggung Fang. Teringat sesuatu, Boboiboy cepat-cepat memanggil Fang sebelum pemuda itu pergi terlalu jauh. "Psst, Fang!"

Yang dipanggil berhenti dan menoleh ke belakang. Boboiboy mengacungkan kedua telunjuk, meletakan mereka di ujung bibir dan menariknya ke atas, memperagakan sebuah senyuman. Fang berkedip. Ia lalu menarik satu ujung bibirnya ke atas dengan telunjuk, membuat Boboiboy mengacungkan jempolnya puas.

Fang berjalan mencari meja 4. Selagi ia melangkah Fang memperhatikan apa saja yang manusia lakukan di sini. Coklat panas di tangan, ponsel genggam di tangan satunya. Mereka berbincang, atau sebatas duduk diam ditemani secangkir coklat. Ditengah keragaman itu mereka semua memiliki ekspresi yang sama; puas. Mereka senang dengan kegiatan yang mereka lakukan. Kedai ini memiliki atmosfer yang pas untuk mereka yang mencari ketenangan ditemani minuman lezat. Hawa ketenangan itu menjalar hingga ke Fang. Bahkan ia yang dirisaukan dengan masalah dapat merasakan tali yang mengekang dadanya mengendur, membuatnya bisa bernafas lebih lega. Sedikit aneh rasanya, ketika sebuah tempat dapat mempengaruhi apa yang kau rasakan. Secara tidak rela Fang akui. Benar kata Ocho, berada didekat Boboiboy memang memberinya pengalaman baru.

Fang merasa seseorang mengawasinya dari belakang. Ia menoleh. Mata Fang menangkap seorang lelaki tua tengah duduk mengamati Fang, seperti menantikan sesuatu darinya. Melihat papan nomor 4 terpampang jelas, Fang segera bergegas menghampirinya.

"Maaf lama menunggu." Ucap Fang. "Pesanannya satu coklat hangat spesial dan blackforest cake. Silahkan menikmati." Lalu bibirnya tersenyum seperti yang diperagakan Boboiboy.

Lelaki itu tidak mengucapkan terima kasih, mengangguk saja tidak. Ia melihat cangkir di mejanya dengan kritis, lalu ke arah Fang, dan kembali ke cangkir. Lalu lelaki itu tersenyum, entah mengapa tidak cocok untuk wajah bergaris usia itu. Tidak enak untuk dilihat, tidak seperti senyum Boboiboy.

"Aneh melihatmu bekerja seperti manusia." Tubuh Fang berubah tegang. Dengan riak wajah tetap tenang, satu tangan menyelip ke belakang jaket, bersiap mengeluarkan belatinya. Lelaki itu menyisip minumannya santai, mata menyadari gerakkan Fang, namun dia tidak terlihat terancam.

"Siapa?" Tuntut Fang. Suaranya dingin dan waspada. Lelaki tua itu terkekeh di balik cangkirnya, suara serak akibat usia.

"Awh, kau tidak mengenaliku? Yah, aku tidak yakin kau tahu siapa aku, tapi paling tidak kamu tahu apa aku ini." Tapi suaranya mendelik genit. Gaya bahasa sangatlah tidak sesuai bagi seorang sepuh yang tampak melebihi umur Tok Aba. Dia berkedip, lalu matanya berubah menjadi merah pekat seutuhnya.

"Lagi pula, aku hanyalah makhluk berjiwa muda dengan tubuh yang tua."

Demon.

Fang membeku.

Ada makhluk pembisik nafsu, yang menyisip coklat hangat dengan cangkir dipegang manis; jari kelingking diacungkan ke udara layaknya konglomerat, duduk tidak disadari di tengah kumpulan manusia.

Tidak butuh lebih dari sedetik untuk Fang memproses informasi itu.

Jari Fang tinggal sedikit lagi menggapai belatinya. Namun Fang berhenti. Ia tahu ia mampu mengusir setan itu dari tubuh lelaki malang yang dia rasuki. Tapi Fang yakin jika ia berlaku demikian setan itu tidak akan diam saja. Jika ada perlawanan, manusia lain disekitarnya bisa terancam bahaya.

Dan Boboiboy salah satunya.

Fang mencari alternatif lain. Bagaimana jika menikam setan itu dengan cepat? Efektif dengan pemandangan sadis. Mengeluarkan belatinya ditengah kumpulan manusia sepertinya tidak menunjukkan moral yang baik. Fang tidak yakin Kedai Tok Aba akan tetap memiliki pelanggan jika ia melakukan aksi tersebut. Fang mendecih.

Pertemuan ini bukanlah kebetulan. Dia merencanakan ini.

"Nah nah, bagaimana kalau kau jauhkan tanganmu dari benda tajam itu dan mengobrol denganku sebentar." Dia meletakan gelas dan menunjuk bangku kosong di seberangnya, tersenyum angkuh namun di saat yang sama berusaha terlihat bertata krama. Setan itu tahu saat ini dia lebih unggul dari Fang.

Fang menggeram. Ia melirik ke arah Boboiboy; ia sedang menyeduh kopi tidak terganggu, menggumamkan sesuatu dengan suara yang pastinya merdu. Membulatkan tekadnya, Fang menarik kursi dan duduk tidak rela. Kedua tangan mencengkram erat pegangan kursi saat kakek itu menyeringai puas.

"Nah, gitu dong."

.

.

.

Ocho merasakan tubuhnya mulai merajut kembali dirinya secara otomatis. Setiap serat yang terputus kembali tersambung, semua anggota tubuh yang terpelintir ke arah yang salah kembali berada di tempat seharusnya. Ketika semua sudah kembali seperti semula, Ocho menarik nafas seolah itu adalah nafas pertamanya di bumi ini.

"Kau tahu aku tidak suka denganmu." Seusai regenerasi, Ocho melihat ke arah sesosok gadis yang tengah duduk di dekat jendela, memperhatikannya sejak tadi. Ia berada di dalam pondok, Ocho sadar. Entah bagaimana tubuhnya bisa berada di sini, berdiri di antara bunga dan rempah yang tumbuh di tempat tak lazim dan rak botol berisikan cairan warna-warni. Ada jarak jauh di antara mereka yang Ocho yakin sengaja gadis itu buat. Ocho merengek.

"Ya ampun, inikah sambutan yang kudapat setelah aku jadi daging cincang tadi? Senang juga bertemu denganmu, Ying. Lama nggak berjumpa."

Gadis itu—Ying—menggeram dengan wajah masam. Tapi bulu burung warna-warni yang menggantung di telinganya sekilas terlihat seperti kemoceng, jadi Ocho tidak bisa merasa terancam. "Kau ke sini tiga bulan lalu lah. Itu tidak lama."

"Mencuri ginseng di kebunmu nggak termasuk bertamu, Ying. Lagi pula untuk ukuran manusia tiga bulan termasuk lama 'kok." Balas Ocho dengan senyuman polos. Ada lonceng angin digantung di atas jendela bergorden putih gading, berkelinting tanpa angin yang berhembus masuk ke dalam pondok Ying. Pondok yang seolah menyatu dengan pohon itu berderak, layak baru dilewati segerombolan gajah yang menggetarkan tanah dengan langkah mereka.

"Tapi kau bukan manusia." Sindir Ying. Gemerlap kebiruan memercikan diri dari jemari gadis itu. Ocho melangkah menjauhi akar pohon yang mulai merambat ke arahnya; seperti bermain kejar-kejaran tanpa gairah.

"Dan kau juga nggak lagi manusia," Ocho memilih untuk berdiri di atas bangku kayu, tidak terjangkau dari akar-akar yang ingin membelitnya. Ia lalu melihat Ying dari ujung kepala ke ujung kaki. Ia tersenyum—menyindir. "yah, sudah nggak sepenuhnya lagi manusia."

Ada jeda yang memekakkan, dan Ocho sadar ia baru menyentuh topik sensitif bagi Ying. Ocho memucat. "Uh, kamu nggak akan nyincang aku lagi, kan?"

"Tergantung." Ying bersenandung. Ia balik tersenyum sembari menahan emosi. Kali ini telapak tangan gadis itu menghasilkan api berwarna biru. "Apa kau memberiku alasan untuk mengubahmu jadi bubur atau tidak."

Ocho cepat-cepat mengangkat kedua tangannya menyerah. "Uuh, aku bakal jadi anak baik kalau kau nggak melakukan itu."

Api itu berkobar terang, tapi sesaat kemudian Ying mendesah lelah dan mengepalkan tangannya, memadamkan api. Lantai berhenti bergetar dan akar kembali masuk ke dalam tanah. Ying menjetikan jarinya, membisikkan sesuatu di bawah nafasnya, dan Ocho mendapati dirinya mendadak duduk di depan meja makan bundar bersediakan teh hangat dan biskuit.

Ying mendecih, membenarkan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Memijat keningnya, ia duduk berseberangan dengan Ocho yang masih terdiam canggung, bingung apakah ia sudah aman atau belum.

"Jadi...kita damai?" Tanya Ocho hati-hati. Ying menyentak telunjuknya ke atas dan tiba-tiba biskuit di meja menerjang masuk ke mulut Ocho, membuatnya tersedak.

"Tutup mulutmu dan kunyah. Aku ingin minum teh dulu dengan tenang sebelum kau menceritakan masalahmu itu. Paham?"

Dengan mulut tersumbat biskuit, Ocho memberi salut pada Ying. "Houd 'an khlea!—jhelas shekali!"

"Kunyah." Ying mendengus dan menyeruput tehnya. Gadis itu langsung merasa rileks. "Dasar. Malaikat semua sama saja; bodoh dan tidak beradab. Apa lagi kamu, Gabriel. Datang ke sini walau sudah kubilang dengan sangat jelas untuk tidak kembali lagi ke sini."

Ocho meneguk teh oolong panasnya, menyingkirkan tekstur pasir itu dari mulutnya. "Percaya deh, biasanya aku ini malaikat pemegang janji. Tapi ini penting Ying. Jika jatuh ke tangan yang salah, informasi ini bisa berujung kiamat!"

Ying menaikan alis, tidak terkejut. "Seingatku definisimu terhadap kiamat adalah 'adik kecilku sudah nggak lagi mencintaiku! Dunia ini sudah nggak punya harapan! Ini akhir dunia!' Apa bedanya dengan yang ini?" Ying mengeluarkan senyum pertamanya saat Ocho terbata-bata jadinya. Gadis itu kembali meneguk tehnya santai.

"Hei! Jangan ingatkan aku!" Ocho mencibir. "Kau mungkin nggak tahu, tapi dulu Fang imut sekali ketika dia masih muda. Sayap hitam manis di punggung, mata yang bersinar-sinar—Aah! Aku rindu masa-masa di mana dia masih mau bermain denganku."

"Malaikat pintar, dia tumbuh dewasa mengambil keputusan yang tepat. Aku tidak sanggup kalau harus berurusan dengan dirimu dikali dua." Ying meneguk lagi tehnya, kali ini sampai habis. Dia menghela puas dan meletakan cangkirnya kembali. Lalu matanya berubah serius.

"Teh ku sudah habis. Sekarang, jelaskan padaku informasi macam apa yang bisa mengakibatkan bencana terbesar sepanjang masa itu?"

Melihat kawan lamanya itu serius, Ocho berdeham. Kecemasan yang sempat hilang itu kembali muncul di wajah Ocho. Ying menyadari ini saat Ocho menatap gadis itu tepat di mata.

"Tuhan menghilang. Dia menghilang dari Heaven." Ucap Ocho tanpa basa-basi.

Hening.

Satu menit berlalu, dan Ocho dapat merasakan keringat dingin di lehernya.

"Oh, oke."

Ocho menantikan kawannya itu terkejut bukan main, membantah dan mengancam Untuk menghancurkan tubuh Ocho jika dia berbohong.

"...Apa?!" Ocho terlonjak berdiri. "Reaksimu hanya 'Oh,oke.' Saja?!" Balasnya tidak percaya.

"Kau mau aku bilang apa, 'hah? Tidak seperti kamu, aku tahu kapan waktunya serius dan kapan waktunya bercanda." Ying menyilangkan tangannya kesal. Gadis itu menjentikkan jarinya, dan Ocho dipaksa duduk oleh kekuatan kasat mata.

"Ugh, entahlah. Mungkin seperti 'Jangan bohong kau malaikat sialan! Aku kutuk kau jadi kodok!'" Seru Ocho dengan suara tinggi, berusaha mengimitasi Ying.

"Aku akan mengubahmu jadi lalat kalau kamu tidak berhenti meracau." Ancam Ying, jarinya sudah bersiap mengirim mantra ampuh jika Ocho mendorong kesabarannya lebih jauh.

Ocho menghempaskan dirinya ke senderan kursi rotan, mengerang dan mengacak-acak rambut pirangnya. Sembari cemberut, Ocho memicingkan matanya kesal pada Ying. "Kenapa kau menyepelekan masalah ini? Atau kau sungguhan percaya ucapanku kalau tuhan benar-benar hilang? Waw, aku merasa terpuji."

"Mau kamu atau penciptamu, aku tidak percaya kalian." Balas Ying santai. Ada sepasang burung woodpecker bertengger di jendela, menonton adu mulut mereka. Burung Hantu Tengmalm di pojok ruangan mengerjap kantuk tidur siang dari matanya, dan kijang betina yang penasaran memunculkan kepalanya dari pintu yang terbuka. Seperti penghuni hutan datang menonton drama favorit mereka.

Ocho menganga. "Uh, Halo? Aku ini malaikat, kamu itu penyihir, kita ini bukti nyata ciptaan yang di atas. Apa kau nggak percaya padaNya?"

"Aku tahu Dia tu nyata. Tapi apa yang Bosmu tu lakukan, mau liburan ke Hawaii atau jadi petani sekalipun, aku tidak peduli. Aku sudah cukup berumur untuk menentukan apa yang signifikan di hidupku ini. Makhluk langit dan yang di bawah bumi tidak termasuk."

Ocho mengangkat tangannya menyerah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Kenapa kita bisa berteman?"

"Kita memang tidak berteman." Ying blak-blakan. "Tapi aku bertanya-tanya kenapa aku kuat menoleransi dirimu." Renung Ying. Jarinya otomatis memilin anting bulunya mencari ketenangan. Salah satu woodpecker dari jendela berpindah ke bahunya. Ying tidak mengusirnya. "Tapi aku percaya ucapanmu karena aku melihat buktinya."

Ocho memiringkan kepalanya heran. "Bukti? Bukti macam apa? Aku melihat Sang Pencipta tidak ada di atas singgasananya. Apa itu nggak cukup jadi bukti?"

"Kau melihat, tapi tidak memperhatikan. Buktinya kau tidak sadar kau melewatkan perubahan yang harusnya kau sadari."

Ocho mengerungkan keningnya bertanya-tanya. Apa yang ia lewatkan? Sejauh ini Ocho tidak merasakan sesuatu yang berbeda. Langit tidak jatuh, bumi tetaplah bumi yang berputar di porosnya, dan tidak pula memuntahkan isi perutnya. Akhir dunia belum terjadi, tapi di ambang kemungkinan dapat terjadi.

Ocho menghela nafas panjang. "Baiklah. Kalau aku segitu nggak peka, memangnya apa yang kulewatkan?"

Ying menderapkan jarinya di atas kursi untuk beberapa saat. "Hutan. Apa yang kau lihat ketika kau berjalan di dalamnya"

"Daun, pohon, kotoran bison, bison, kotoran lagi – Ying aku nggak ngerti maksud pertanyaan ini." Desah Ocho resah. Ia tidak pernah suka jika Ying mulai berbicara dalam teka-teki. Sudah 3.000 tahun sejak Ocho pertama bertemu Ying, namun tetap saja ucapan kriptik gadis itu kerap membuatnya kebingungan. Dan seringnya, Ying sengaja seperti itu untuk membalas tangan jahil Ocho.

"Apa warna daunnya?"

"Sebegitu penting kah warna daun itu?"

"Penting. Kau ingin tahu atau tidak?"

Ocho mulai merasa frustasi. Ia melihat keluar jendela, melihat pepohonan berbaris. Ia kembali menghadap Ying dengan tidak sabaran. "Kuning. Lalu apa?"

"Sekarang musim semi, Ocho."

Ekspresi Ocho seolah berkata 'Lalu? Pentingnya apa?'. Ying tidak menjawab. Ia menatap keras Ocho; gadis itu ingin Ocho menemukan sendiri jawabannya. Ocho mendengus, tapi ia tidak lagi mengomel dan segera berpikir keras.

Lalu semua itu meng-klik! di benaknya.

"...ini musim semi..." suara Ocho kecil, berbisik pelan pada dirinya sendiri. "...tapi daun sudah mengering layaknya musim gugur!"

Ying mengangguk. "Tepat."

Daun yang meranggas seperti kekurangan air, hancur dibawah kakinya. Udara yang mulai menghangat di musim semi, yang harusnya membawa kehidupan setelah musim dingin kini malah mencabut kehidupan itu. Langit belum runtuh, namun tampaknya kehancuran itu dimulai dalam skala kecil.

"A-apa yang terjadi, Ying? Kenapa hal itu bisa terjadi?" Tanya Ocho khawatir. Sesaat matanya menangkap toples berisi awetan kadal dan lemari penuh buku berdebu. "Ini bukan ulah ritual tahunan kalian, bukan?"

Ying tampak tersinggung dengan tuduhan Ocho. "Ritual penyihir tidak ada yang seperti ini. Bagi kami yang mendedikasikan hidup untuk alam, kami tidak akan pernah mengambil darinya."

Tapi ada ketakutan diwajah Ying yang berusaha terlihat tegar. "...Tuhanmu tidak mati. Kalau Dia mati, seluruh alam semesta dapat merasakannya. Saudara-saudaramu akan turun dari langit, penunggu neraka akan naik dari dalam tanah, dan bumi akan menjadi medan perang."

Ocho meneguk pilunya susah payah. "Lalu...apa?"

Woodpecker di bahu Ying mematuk antingnya. Dengan muram Ying mengelus kepala burung itu dengan jarinya. "Seperti katamu. Ia hanya menghilang dari singgasananya di langit. Dan sekarang, kalau Ia tidak ada di bawah atau di atas, maka kemungkinan besar ia sedang bersembunyi di tengah-tengah; di bumi."

.

.

"Apa maumu." Fang tidak pernah basa-basi jika berhadapan dengan musuh. Kali ini musuhnya berwujud lelaki tua kurus kering yang tersenyum genit pada Fang. Kalau saja ia bisa melenyapkan setan itu saat ini juga...

"Duh, muda-muda tapi ganas." Keluh kakek itu kelewatan manja. Menjijikan.

"Apa ini karena aku keriput dan botak? Kalau begitu lain kali aku datang dengan tubuh muda yang manis." Samar ada bau mayat yang tertutupi semprotan cologne mahal, tapi hidung Fang menangkapnya sejelas ia menatap mata merah si Demon.

"Apa seleramu? Gadis pirang? Yang seksi? Atau mungkin..." matanya mendelik kearah Boboiboy. "...pemuda manis yang seumuran?"

"Hentikan basa basimu!" Desis Fang. "Aku bisa membacakan ayat suci untuk mengusirmu sekarang juga kalau aku mau, jadi tutup mulut busukmu itu."

"Lalu apa yang menghentikanmu? Silahkan saja, aku tidak takut." Lelaki itu menyengir. Tubuh rapuh dicondongkan ke depan, menantang Fang untuk mengusirnya saat ini juga. Si malaikat mencengkram celemeknya. Namun Fang hanya bisa membersut diam di kursi, tidak menarik perhatian.

Setan itu kembali bersender dengan senyum puas. "Sudah kuduga. Itulah mengapa hidup kalian malaikat itu susah. Terlalu mempedulikan banyak hal." Ucapnya. Dia memandang pelanggan lain di sekitar mereka seolah setan itu juga salah satu pelanggan setia.

"Kau cukup terkenal di kalangan kami–" lelaki itu melirik name tag yang ditulis tangan di celemek si malaikat. "–Fang. Setan-setan segar berjiwa liar biasanya sering kau buat kapok. Terima kasih, ya. Kalau mereka nggak ngerti cara menjadi setan yang benar, memang lebih baik mereka jadi debu." Dalam kata lain; mati.

"Kau pikir aku butuh pengakuanmu?"

Kakek itu mendengus. "Tidak. Aku pikir kau butuh pengakuan Bosmu."

Fang dapat merasakan sayapnya menggertak emosi. Melihat kegeraman itu, si setan tertawa.

"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud memprovokasi. Hanya menyatakan fakta saja." Belum Fang sempat menyela, lelaki itu sudah lebih dulu menyerocos. "Aku di sini untuk memberimu peringatan. Atau mungkin sebuah peluang, jika kau melihatnya sama sepertiku."

Peringatan? Fang memicingkan mata tidak yakin, tapi jelas perkataan itu menarik perhatiannya. "Peluang? Memangnya apa yang bisa kau tawarkan yang pasti aku butuhkan?" Tanya Fang.

"Sebuah perjanjian. Sebut saja kerjasama antar pihak yang memiliki minat yang sama." Ucap si lelaki sembari membersihkan kuku.

"Kerjasama?" Fang mendengus. Ia punya gambaran samar tentang tujuan setan itu. "Ah, begitu rupanya. Kau ingin membuat kontrak denganku lalu menjerumuskan jiwaku ke neraka." Fang bergeleng-geleng. "Tampaknya kau lupa. Kalau makhluk sepertiku tidak akan terjebak tawaranmu. Dan malaikat tidak mungkin menjual jiwa—kita tidak mempunyainya."

Setan itu mengibaskan tangannya, wajah mengernyit tidak setuju. "Bukan itu maksudku, malaikat kecil." Fang mengernyit tidak suka dipanggil seperti itu.

"Setan-setan kecil memberitahuku kalau ada sosok penting yang hilang dari kursi rajanya." Dia menopang dagunya dengan seringai. "Sosok cahaya yang harusnya tidak pernah padam."

Mata Fang terbelalak lebar. Dadanya serasa terpukul telak. Kalau ia ingin berpikir positif, ada banyak dewa yang berupa cahaya. Ra jarang berada di mesir, tapi Ocho bilang ia senang menghabiskan waktunya di sauna Busan. Ada juga dewa cahaya, Baldr, tapi dia selalu pergi berkencan dengan Kai, dewi Hindu.

Tapi Fang yakin bukan mereka yang setan ini maksud.

"Kau tahu siapa sosok yang kubicarakan ini, 'kan?" Setan itu menggoyangkan alis tipisnya bercanda. Tapi ucapannya jauh dari kata gurau. "Si Bos Besar."

"Kau percaya rumor? Anak buahmu setidak kompeten apa hingga berkesimpulan demikian?" Fang tidak mundur. Dalam hati ia mengingatkan dirinya kalau Ocho bergantung padanya – dunia bergantung padanya. Fang punya pengalaman beratus-ratus tahun menghadapi setan bermulut besar. Tentu makhluk yang satu ini tidak ada bedanya?

"Selalu ada kebenaran di setiap rumor, malaikat kecil. Sangkal saja ucapanku, tapi aku tahu apa yang akan terjadi kalau semua orang mendengar apa yang ku tahu. Hanya rumor, memang. Tapi dari situ akan ada yang bertanya-tanya. Akan ada yang berbicara, lalu akan ada yang berani untuk bertindak, mengangkat senjata; perang." Ada urgensi pada suara sang kakek yang membuat Fang melekat pada kursinya dan mencerna setiap perkataan si setan. Fang tidak mau mengakui, tapi ia menemukan kebenaran pada ucapan itu.

"Walau tidak ada Lucifer, aku yakin banyak Jendral di bawah sana yang ingin pesta pora di permukaan. Dan mengenal saudara-saudaramu, mereka akan langsung turun tangan." Si setan lalu menggerdik ngeri. "Hii, aku tidak mau membayangkan kalau Michael ikut turun. Dia akan memindahkan neraka ke permukaan."

"Michael tidak akan melakukan itu. Dia akan menghentikan kalian memporak-porandakan bumi."

"Dia akan menghentikan kita dengan cara apapun. Aku tahu malaikat; kalian akan melakukan apapun untuk Tuhan kalian. Tanpa-Nya, kalian tersesat, bahkan Michael. Kalian boneka sempurna. Prajurit yang sigap memang. Tapi sekali pengikut, selalu seorang pengikut. Michael tidak akan sadar apa yang ia telah lakukan."

Setelah ucapan setan itu, ada sesuatu yang menggerakkan tangan Fang tanpa ia sadari, yang membuatnya menyabet belatinya keluar. Ia dapat merasakan semua indranya mengabur seiring nafasnya yang bertempo cepat. Tangan memegang belati gemetar, dan sesuatu itu seolah berteriak untuk menyerang sekarang. Tusuk setan itu dan biarkan dia mati.

Apa ini yang ia rasakan? Fang mengingat terakhir ia bertemu Ocho, untuk beberapa saat ia merasakan gejolak yang sama. Energi yang membuat logika dan pikiran rasional dikunci rapat. Energi yang menguras, yang mencuri nafas Fang. Membutakannya, membuatnya serasa dirasuki makhluk ganas yang haus ingin mengoyak musuhnya.

Inikah amarah? Emosi manusia yang membuat manusia bertindak tidak masuk akal?

"Kau mestinya bersyukur aku membuat dinding ilusi. Manusiamu bisa menganggapmu gila." Fang tersontak. Ia melihat belati di genggamannya seperti benda asing. Saat ia mengecek ke meja sebelah, memang benar, mereka tidak menyadari apa pun, seolah Fang tidak ada di sebelahnya.

Fang meletakan belatinya di atas meja ragu-ragu. Ia lalu melipat tangannya ke dalam dada, menjauhkan mereka dari benda tajam itu dan melihat si setan penuh perhitungan. Mencoba mendorong jauh-jauh semua hal baru yang merasukinya beberapa saat lalu. "Ini tidak masuk akal."

"Apa yang tidak masuk akal."

"Aku tidak mengerti kenapa kau ingin membuat kerjasama denganku, dari sekian banyak kandidat yang tentunya lebih 'bersahabat'. Kau memilihku. Kenapa?"

Setan itu mengerang, seperti tidak ingin mengatakan apa yang akan ia katakan. "Karena...ya...ugh! Aku tahu kalian akan mencari cara untuk menyelamatkan bumi ini! Bah! Rasanya aneh mengatakan itu."

Fang melihat setan itu seolah dia baru melanturkan ayat suci untuk mengusir dirinya dengan suka rela.

"...kau...tidak ingin bumi ini hancur? Aku pikir kalian justru ingin itu terjadi."

"Dan membusuk selamanya di neraka? Oh, jangan sampai." Setan itu memegangi dadanya, terhina. "Apa yang seru di sauna itu? Jangan samakan aku dengan setan otak udang. Tidak seperti mereka, aku menyadari potensi manusia. Makhluk tamak dan bodoh; potensi bisnis yang menguntungkan. Aku bisa menggaet banyak jiwa untuk menandatangani kontrak perjanjian denganku!" Ucapnya berapi-api saat dia menjelaskan rencana jeniusnya.

"Setelah membuat banyak kontrak, statusku naik. Jika aku melakukan ini dengan benar, aku bisa menjadi raja Hell selanjutnya! Keren bukan?" Seru itu membuat Fang mengangguk tidak yakin. Setelah itu si setan tertunduk lesu, memanyunkan bibirnya. "Tapi semua itu tidak akan terwujud kalau bumi dan Hell hancur dalam perang. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kemenanganku sudah diujung tanduk. Tanpa Hell, tidak ada rakyat yang memujaku. Tanpa bumi, aku tidak punya tambang emas."

Fang terdiam. "Jadi, kau ingin membantuku karena ingin berkuasa di Hell."

Kakek itu menjentikkan jarinya. "Bingo! Kau pintar juga, malaikat kecil."

"Tidak." Jawab Fang tegas, mengagetkan si setan. "Aku tahu jenis kalian; selalu mencari celah dan waktu yang tepat untuk mendapat keuntungan terbesar. Berlaku tidak adil, berkhianat. Aku tidak akan mempercayaimu."

"Kau khawatirkan itu ketika aku berkhianat. Tapi untuk saat ini, kau butuh sekutu, aku butuh sekutu. Aku bisa memberi intel dari Hell; gerakkan mereka, rencana mereka, informasi berharga. Kau dan temanmu bisa mencari di Heaven dan dokumen-dokumen penting di sana. Kau tidak perlu mempercayaiku sepenuhnya. Tapi percayalah kalau aku juga tidak ingin ada perang."

Sangatlah mengkhawatirkan bagi Fang ketika setan itu mengetahui bahwa ia dan Ocho sedang menjalankan misi yang seharusnya sangat rahasia. Ketika kakek itu mendadak berdiri dan merapihkan kemejanya, tangan Fang sudah kembali menggenggam belati.

"Namaku Crowley. Lain kali kita bertemu, aku akan menagih jawabanmu dan datang dengan tubuh gadis manis yang akan jadi teman baik kalian. Jumpa lagi, Fang!"

Setan itu menjentikkan jarinya. Kursi di depan Fang seketika kosong, dan Si Malaikat kembali bisa menarik nafas dengan dada berdebar-debar—yang sebenarnya aneh karena Fang bukan manusia yang memiliki jantung. Fang melihat ke kiri kanan, bertanya-tanya apakah ia sudah kembali terlihat. Ada beberapa pelanggan yang mencuri pandang ke arahnya; ilusinya sudah diangkat.

Ini tidak baik. Jika setan itu—Crowley—saja tahu Tuhan menghilang, siapa lagi yang sadar? Fang tidak mendengar keributan antar malaikat di kepalanya, jadi Fang bisa menganggap kalau mereka belum sadar. Untuk sementara ini itu adalah berita bagus. Dan Fang sangat membutuhkan berita baik.

Fang harus berbicara dengan Ocho. Sekarang mungkin saja Ocho sedang dalam diskusi serius mencari solusi. Atau mungkin ia sedang panik tidak tahu harus berbuat apa. Fang tidak yakin se-percaya apapun Ocho dengan kenalannya itu, ia yakin mencari Sang Pencipta bukanlah misi yang mudah, dan Ocho pasti membutuhkan bantuan sebanyak mungkin.

Mereka butuh sekutu.

Wajah Crowley mengedip genit yang terbayang-bayang di benak Fang memberikan perasaan mual.

Setan itu benar, mereka tidak bisa melaksanakan misi dengan dua orang (atau tiga jika kenalan Ocho ingin membantu) saja. Mereka butuh orang dalam yang tahu pergerakan musuh, Crowley bisa dengan mudah mengisi kekurangan itu.

Apakah kemungkinan menemukan Tuhan bertambah besar? Ya. Apakah Fang menyukai solusi ini? Tentu saja tidak.

Fang membiarkan dirinya duduk lebih lama, sampai akhirnya matanya bergeser ke gelas dan piring kosong di meja.

'Setan hina itu—!' Fang cepet-cepat berdiri dan mengerang frustasi. Dia tidak membayar pesanannya!

.

.

.

To be continued


A/N:

Hey hooo long time no see hahahha. Kemaren-kemaren ngeliat notif review dari Guest yang minta untuk jadi jangan hiatus. Mendadak inspirasi menyerang dan berhasil menyelesaikan. Wohoo!

New characters introduced! Di sini ada Ying, penyihir dari hutan eropa yang kebetulan teman baik(?) Ocho. Muncul juga Crowley, setan mata merah yang rela bekerjasama dengan Fang biar bisa jadi raja Hell A.K.A neraka wkwk. Kalau ada yang nonton supernatural pasti tahu dia siapa. Tapi berhubung ini crossover, kira-kira Crowley itu siaspa ya? Hmmm.

Anyway, makasih banyak yang sudah menyempatkan waktu buat baca, fav, follow, and review. Much appreciated!

See you on the next chapter!

Sekian,
TsubasaKEi, out.