"Park Jungsoo imnida"
Kyuhyun masih melihat orang yang berada dihadapannya itu dengan tatapan polos. 'Park Jungsoo? Siapa?'
Seakan mengerti arti tatapan Kyuhyun, Leeteuk kembali berbicara "Kau memang tidak mengenalku. Ini pertemuan pertama kita"
Kedua mata Kyuhyun menyipit, ia bangkit dari duduknya "Lalu? Kau mengenalku?"
"Aku-"
"Kyuhyun!" Ucapan Leeteuk terhenti ketika mendengar seseorang memanggil Kyuhyun. Itu Minho. Kedua sahabat Kyuhyun itu berada disebrang jalan menunggu lampu pejalan kaki menjadi hijau setelah membeli minuman di mini market.
Tidak punya banyak waktu, kakak dari Park Kibum itu mengeluarkan gantungan kunci dan menyerahkannya kepada Kyuhyun.
"Ini untukmu. Kumohon simpanlah. Jangan beritahu siapapun. Kita akan bertemu lagi. Arraso?"
Tanpa menunggu jawaban, Leeteuk bergegas berjalan meninggalkan Kyuhyun. Sementara itu Changmin dan Minho sudah berada di depan Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah! Tadi itu siapa? Apa yang dia lakukan?" Tanya Changmin
"Ne, apa kau mengenalnya? Apa dia mengancammu? " timpal Minho, ia langsung mengingat pembicaraan kemarin malam dengan hyung -nya.
Kyuhyun tidak menjawab, pandangannya masih tertuju ke arah jalan yang tadi di lewati oleh namja asing itu.
"Yak! Lee Kyuhyun!" kali ini Changmin berteriak. Khawatir melihat sikap Kyuhyun yang tidak merespon mereka.
"Oh? Huh?" Kyuhyun beralih menatap keduanya.
"Yah Kyuhyun-ah waeyo? Apa yang ia katakan?" Minho memegang kedua pundak Kyuhun, berusaha membuat tatapan Kyuhyun fokus kepada dirinya.
"Oh ani, orang itu hanya salah orang . Ya salah orang hehe" Kyuhyun berusaha tersenyum, namun yang terlihat justru seperti sebuah ringisan.
"Jinjja?" tanya Changmin, tidak terlalu percaya dengan ucapan sahabatnya itu
TIN TIN
Suara klakson mobil mengalihkan atensi Changmin dan Minho kepada Kyuhun. Itu Shindong- ahjussi.
"Ah ahjussi sudah datang, aku duluan nde Minho-ah Changmin -ah. Bye!" Kyuhyun langsung melepaskan tangan Minho yang berada dikedua pundaknya dan segera masuk ke mobil. Ia tau Changmin dan Minho tidak puas dengan jawabannya, tapi ia juga enggan menjelaskannya lebih lanjut. Entah kenapa Kyuhyun mengingat perkataan pemuda tadi 'jangan beritahu siapapun' dan ia menurutinya.
Setelah Kyuhyun duduk dengan manis dimobil, ia membuka kepalan tangannya yang berusaha menyembunyikan gantungan kunci pemberian namja asing tadi dari pengelihatan Changmin dan Minho. Menatapnya dan menemukan dirinya menyukai gantungan kunci berbentuk kupu-kupu berwarna biru itu. Warna kesukannya.
Kyuhyun mengelus permukaannya, berharap pemuda yang sepertinya lebih tua darinya itu memenuhi ucapannya 'Kita akan bertemu lagi'.
ÐÐÐ
Leeteuk memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Ini gila! Ia tidak pernah menyangka berbicara langsung dengan Kyuhyun akan membuatnya jantungnya berdetak tidak normal. Melihat mata bulat polos Kyuhyun yang menatapnya bingung membuat Park Jungsoo sangat ingin memeluknya. Inikah yang Kibum rasakan setiap kali bertemu Kyuhyun?
Leeteuk tidak tau apakah keputusannya kali ini benar atau tidak. Berusaha mendekati Kyuhyun meski ia tidak tau apa hasil yang akan ia dapat nanti. Selama 16 tahun ini memang Leeteuk memutuskan untuk menutup mata dengan apa yang terjadi. Tentang mengapa Kyuhyun tidak bersama mereka, tentang penyesalan kedua orangtuanya, tentang keluarga Donghae, tentang Kibum, tentang masa lalu mereka... Park Jungsoo tau segalanya.
Namun keputusannya mulai goyah ketika ia melihat Kibum kemarin. Naluri kakak untuk melindungi adiknya semakin kuat. Bagaimana mungkin ia membiarkan Kibum menahan kerinduan kepada Kyuhyun hingga menyakiti dirinya sendiri? Lagipula sejujurnya Leeteuk juga merindukan Kyuhyun. Adik paling kecilnya. Adik yang hanya bisa ia jaga selama 5 bulan.
Jadi biarlah ia egois kali ini. Leeteuk juga tidak bisa terus menerus mengalah, ia bukan malaikat. Leeteuk juga punya hak atas Kyuhyun, begitupula Kibum. Dan saat ini Leeteuk hanya bisa berdoa semoga langkah ia ambil tidak melukai siapapun, dan ia siap dengan apapun konsekuensi yang akan terjadi. Termasuk berhadapan dengan Lee Donghae.
ÐÐÐ
Meja belajar Kyuhyun penuh dengan buku-buku yang terbuka dan laptop disebelah kanannya masih menyala menunjukkan layar excel dengan data-data dan rumus-rumus yang terlihat menjemukan. Namun pemilik meja belajar itu sama sekali tidak memberikan atensinya kepada buku ataupun laptop yang menghiasi meja belajarnya. Kedua tanggannya memegang gantungan kunci kupu-kupu yang tadi sore ia dapatkan.
'Siapa namja tadi? Darimana ia mengenalku? Kenapa ia memberikan ini padaku? Kenapa ia bilang kita akan bertemu lagi? Ia tau dimana rumahku? Apa dia punya niat jahat? Apa dia musuh Donghae-hyung? Andwae!'
Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya ketika pikiran-pikiran itu secara bertubi-tubi datang keotak cerdasnya.
Tidak mungkin kan orang tadi adalah orang jahat? Dilihat dari wajahnya saja ia seperti orang baik-baik. Huh? Wajah? orang itu saja memakai syal yang menutupi setengah wajahnya!
Tapi matanya tidak menunjukkan ia mempunyai niat jahat!
Mana mungkin bisa menilai orang hanya dari mata! Jangan bercanda!
Tapi kenapa dia memberikan ini padaku?
Entahlah, siapa tau ia hanya pura-pura baik lalu menusuk mu dari belakang?
Mwo? Haruskah aku memberitahukannya pada Hae-hyung?
Jangan! Masalahnya nanti akan lebih panjang!
"YAK! EOTTEOKE?!" Kyuhyun mengusap kasar rambutnya. Perang batin tadi membuatnya pusing. Benarkah tidak apa jika tidak memberitahu Donghae-hyung? Ini pertama kalinya Kyuhyun mencoba menyembunyikan sesuatu dari Donghae. Selama ini Kyuhyun memang menceritakan apapun kepada hyung satu-satunya itu. Hal ini membuat Kyuhyun sedikit merasa tidak nyaman.
CKLEK
Suara pintu terbuka membuat Kyuhyun buru-buru memasukan gantungan kunci itu kedalam laci mejanya. Ia sudah tau pasti siapa yang masuk kekamarnya. Siapa lagi yang berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?
"Oh hae-hyung" sapa Kyuhyun dengan senyum manis seperti biasanya
Donghae tersenyum melihat Kyuhyun, ia sudah mandi dan merasa segar apalagi melihat Kyuhyun tersenyum seperti itu kepadanya. Rasanya seperti beban yang ada dipundaknya hilang begitu saja. Donghae tidak mampu membayangkan bila senyum itu tidak bisa lagi ia dapatkan. Aish membayangkannya saja sudah membuat Donghae ketakutan.
"Sedang apa?" tanya Donghae begitu sampai di meja belajar Kyuhyun. Mengelus rambut Kyuhyun yang sedikit berantakan.
"Memasak!" jawab Kyuhyun ketus.
Donghae tertawa, sikap sarkas adiknya memang tidak bisa diubah "Ini sudah jam 10 Kyu, tidurlah. Apa tugasmu masih banyak?"
"Ani, sudah selesai. Ini tugas untuk bulan depan hyung" Donghae terdiam, bulan depan? Ah terkadang Donghae lupa bahwa adiknya itu sangat pintar.
Kyuhyun mulai membereskan laptop dan buku yang bertebaran dimejanya, Donghae juga membantu.
"Bagaimana kalau tidur bersama?" tanya Donghae tiba-tiba yang membuat Kyuhyun menatapnya horor
"Mwo?! Andwae!"
"Ah wae?! lagipula kita sudah jarang tidur bersama Kyuhyun-ah" ucap Donghae memelas
"Andwae! Aku sudah besar!" balas Kyuhyun sambil melipat kedua tangan didepan dadanya. Menatap Donghae dengan sengit
"Jinjja? Kau sudah besar?"
"Hu-um" Kyuhyun mengangguk imut, membuat rambut coklat tebalnya bergoyang pelan
"Mau hyung buatkan susu coklat?"
"MAU!"
"..."
Keduanya terdiam, terlebih Kyuhyun. Ia menunduk malu menyadari kesalahannya. Sementara Donghae menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tawa melihat tingkah menggemaskan Kyuhyun.
"Aigoo arraso arraso, tunggu sebentar nde. Hyung akan membuatkan susu coklat hangat untuk adik hyung yang sudah besar ini" sindir Donghae sambil mengacak rambut Kyuhyun yang masih menunduk malu.
Kyuhyun mengangkat wajahnya begitu menyadari Donghae telah berjalan melewati pintu kamarnya "Yak! Hyung tunggu!" teriaknya sambil berlari mengajar Donghae. Setelah melihat punggung Donghae, ia langsung memeluk lengan hyung-nya itu, mereka menuruni tangga bersama-sama.
"Hyung! Aku tidak mau susu! Buatkan aku kopi"
Donghae mengangkat kedua bahunya acuh "Kopi campur susu?"
"Aish! Kopi! Aku mau kopi. Seperti yang biasa hyung minum"
Donghae menoleh kesamping hingga membuatnya melihat wajah Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan puppy eyes andalan, berusaha membuat Donghae luluh. Lee Donghae hampir saja mengangguk ketika melihat mata bulat polos Kyuhyun, namun ia langsung segera sadar. Tidak! Kopi tidak baik untuk adik kecilnya itu.
"Tidak" jawab Donghae ringkas. Mereka sudah sampai dilantai 1 dan segera menuju dapur.
"Kenapa hyung?"
"Kopi tidak baik untuk lambung mu Kyunie" mereka sudah sampai didapur. Donghae segera membuat susu untuk Kyuhyun, dan adiknya itu langsung duduk manis di kursi makan.
"Tapi hyung meminumnya setiap hari!" protes Kyuhyun
"Karena hyung lebih tua" jawab Donghae asal
"Yak hyung! Apa hubungannya?!"
"Tidak ada"
"Huh!"
Donghae yang sedang mengaduk susu terkekeh melihat Kyuhyun jengkel. Senang bisa menggoda maknae-nya itu. Setelah selesai ia meletakan susu coklat buatannya dihadapan Kyuhyun yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Jaa minumlah" perintah Donghae dan duduk di kursi seberang Kyuhyun
Kyuhyun melirik susu dan Donghae dihadapannya bergantian, lalu membuang muka.
"Aku mau kopi!" kekeuh Kyuhyun
"Ini sudah malam Kyu, nanti kau tidak bisa tidur"
"Yasudah aku tidak mau minum itu!"
Donghae melebarkan matanya kaget, tapi tak lama ia menampilkan senyum sumringah "Kau tidak mau minum? Ah sayang sekali sepertinya ini sangat lezat, tapi aku juga tidak suka susu. Baiklah sepertinya kau harus dibuang susu coklat yang lezat" kata Donghae dan mengambil susu dihadapan Kyuhyun, namun belum sampai tangannya menyentuh gelas itu tangan Kyuhyun sudah lebih dulu memegangnya kuat.
"Mwo? Kenapa harus dibuang?! Itu namanya pemborosan. Baiklah baiklah akan aku minum kalau hyung memaksa"
Donghae tersenyum, adiknya itu benar-benar punya harga diri tinggi.
Ia memperhatikan Kyuhyun yang sedang meniup-niup susu yang masih panas, lalu meminumnya sedikit. Meniup-niupnya lagi lalu meminumnya sedikit. Donghae sangat menyukai cara Kyuhyun meminum susu yang seperti anak kecil, itulah alasannya mengapa ia selalu membuatkan susu untuk Kyuhyun tiap malam agar dapat menyaksikan pemandangan seperti ini.
Donghae belum rela jika Kyuhyun harus beranjak dewasa. Memikirkan Kyuhyun akan menemukan pasangannya dan hidup terpisah dengannya membuat Donghae sedih. Jadi ia akan menggunakan waktu ini sebaik mungkin untuk selalu bersama Kyuhyun.
"Kyu..." panggil Donghae
"Hum"
"Besok hyung ada makan malam dengan klien. Jadi sepertinya kau harus makan malam sendiri. Tidak apa?"
"Gwenchana hyung" jawab Kyuhyun
"Tapi kau harus tetap pulang, tidak boleh kemana-mana. Shindong -ahjussi akan menjemputmu. Kalau kau ingin bermain, ajak saja Minho dan Changmin kerumah. Tidak boleh ke game center. Ingat lusa kita akan check up rutin ke rumah sakit" ujar Donghae panjang lebar
Kyuhyun menatap Donghae datar "Ne ne hyung, aku mendengarmu" ia melanjutkan acara minum susunya. Tidak memperhatikan Donghae yang menatapnya sendu.
ÐÐÐ
Park Jungsoo memasuki kamar adiknya dengan hati-hati takut menggangu sang pemilik kamar. Ia mendapati Kibum duduk bersandar dikepala tempat tidur sambil membaca buku. Kacamata bacanya bertengger manis di hidung mancung adiknya. Kibum sudah jauh lebih baik dari kemarin. Leeteuk mendekati adiknya dan duduk di ujung tempat tidur.
Kibum yang sudah menyadari kedatangan Leeteuk sedari tadi tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca.
"Wae hyung?" tanya Kibum tanpa melihat Leeteuk
"Kibum-ah, tadi aku berbicara dengan Kyuhyun"
Kibum melebarkan kedua matanya, menegakan badannya, dan buku yang sedari tadi ia pegang jatuh ke pangkuannya.
"M-Mwo?"
"Kau benar... Kyuhyun adik kita. Kenapa kita harus bersembunyi?"
Leeteuk tersenyum. Tangannya menggenggam jemari Kibum yang masih mematung.
"Mianhae selama ini aku seakan menutup diri dari segalanya Kibum-ah. Berpura-pura bahwa kita baik-baik saja. Mianhae aku tidak memikirkan perasaanmu. Jadi, sekarang mari kita lakukan apa yang harus kita lakukan"
"H-hyung.." mata Kibum berkaca-kaca, tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Ia bahagia. Sangat bahagia.
Leeteuk merengkuh Kibum kedalam pelukannya, mengelus rambut dan punggung adiknya "Ayo kita lakukan Bum-ah, ayo bawa Kyuhyun kembali"
Tangis Kibum meledak sudah, ia mengeratkan pelukannya kepada Leeteuk. Akhirnya... ini yang selama ini ia tunggu. Mendapat dukungan dari Hyung-nya untuk membawa kembali Kyuhyun.
Malam itu keduanya kembali menangis. Tangisan bahagia.
ÐÐÐ
"Ingat Kyuhyun-ah kau harus langsung pulang. Jangan kemana –mana"
Kyuhyun menghembuskan nafas keras. Ini sudah ketiga kalinya Donghae berkata hal yang sama sejak pagi tadi, membuatnya risih. Saat ini mereka sedang berada dimobil menuju sekolah Kyuhyun, tentu saja diantar oleh Donghae.
"Cukup hyung, kau sudah mengulangnya 3 kali. Aku paham dan akan menurutimu. Berhentilah, oke?"
"Sudah 3 kali ya? Kau menghitungnya?"
"Tentu saja! Kau terus mengulangnya seakan-akan aku menderita gangguan pendengaran!"
Donghae tertawa "Mian mian, hyung tidak bermaksud" Kyuhyun mencebikan bibirnya
Keduanya terdiam, menikmati alunan musik Eternal Sunshine dari salah satu penyayi Korea Selatan yang diputar di mobil mereka.
"Hyung.." panggil Kyuhyun
"Ya?"
"Liburan nanti kita ke rumah harboeji dan halmeoni ne?"
"Baiklah, tapi tunggu setelah hyung menyelesaikan pekerjaan" jawab Donghae
"Yah pasti lama hyung. Aku duluan saja ya?"
"Ani! Kalau kau duluan, nanti hyung dengan siapa?"
"Yak! Jangan begitu hyung. Kau seperti anak kecil saja" sindir Kyuhyun
"Biar saja, hyung tidak mau sendiri"
"Ck kau bersikap seperti orang kesepian saja hyung"
Ucapan Kyuhyun membuat Donghae terdiam.
Flashback.
5 Maret. 16 Tahun yang lalu.
Donghae menatap televisi yang menyiarkan kartun dengan bosan. Sesekali melirik maid yang mondar-mandir membersihkan rumah. Ini hari libur tapi dia hanya diam dirumah. Orangtuanya belum pulang sejak minggu lalu, membuatnya hanya sendiri dirumah mewah itu.
"Hah! Bosan!" ia membaringkan seluruh badannya disofa, melihat langit-langit rumahnya yang terpasang lampu hias besar dan indah. Donghae berpikir apa yang harus ia lakukan. Bermain dengan maid pasti tidak seru, mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bermain PS? ck Donghae sudah menyelesaikan semua kaset game yang ia punya. Jalan-jalan keluar? untuk apa? dia malas keluar jika hanya sendiri, seperti orang hilang saja.
Ah! Siwon!
Donghae segera melompat dari posisi tidurnya, berlari menuju telepon rumah. Ia menekan tombol dengan kombinasi angka yang sudah ia hafal, nomor telepon rumah Siwon. Bocah berusia 7 tahun itu menunggu dengan sabar, hingga 10 detik kemudian seseorang menjawab panggilannya.
"Yeoboseyo"
"Siwon-ah!" sorak Donghae girang begitu indra pendengarannya menangkap suara Siwon yang sangat ia kenal.
"Donghae?"
"Ne ini aku"
"Ada apa Donghae-ah?" tanya Siwon
"Siwon, ayo kita main. Aku sendirian dirumah, kau yang kerumah ku atau aku yang kerumah mu?"
"Ahh mian Hae-ah Minho saat ini sedang sakit, dari kemarin ia demam"
"Mwo? Benarkah? Apa parah?" tanya Donghae khawatir. Minho adalah adik Siwon yang baru lahir bulan lalu, sama seperti Kyuhyun, hanya berbeda 1 minggu.
"Entahlah Donghae,saat ini aku, appa, dan eomma akan kerumah sakit untuk memeriksa Minho"
"Ohh baiklah, semoga Minho baik-baik saja"
"Ne gomawo Donghae, mian aku tidak bisa menemanimu" sesal Siwon
"Arraso, tidak apa Siwon. Aku tutup ne?"
"Ya, bye Donghae"
Donghae meletakkan gagang telepon dengan sedih. Sedih tidak dapat bermain dengan Siwon dan sedih mendengar Minho sakit. Adik Choi Siwon itu memang sudah 2 kali ia lihat saat berkunjung kerumah sahabatnya. Baby Minho memang menggemaskan, tapi menurut Donghae, Kyuhyun lebih lucu dan imut.
Ah! Kyuhyun! Kenapa ia baru ingat?!
Pewaris Aston Company itu langsung menekan kombinasi angka lainnya yang juga sudah ia hafal, nomor telepon rumah Kibum. Kali ini panggilannya dijawab lebih cepat.
"Yeoboseyo"
"Leeteuk-hyung?"
"Ya, nuguseyo?"
"Ini aku hyung! Donghae"
"Ah Donghae! Apa apa Hae-ah?"
"Hyung, bolehkan aku kesana? Aku hanya sendiri dirumah. Apa Kibum ada?"
"Tentu saja boleh Donghae. Kibum ada, sedang bermain dengan Kyunie dikamarnya"
"Yess baiklah hyung. Aku kesana sekarang, gomawo hyung"
"Ya sama-sama Donghae, hati-hati dijalan"
Lee Donghae dengan gesit berlari menuju kamarnya dan berganti baju lalu memanggil supir pribadinya untuk mengantarkanya kerumah keluarga Park.
20 menit perjalanan, akhirnya Donghae sampai. Leeteuk menyambutnya didepan pagar. Ssetelah menyapa Tuan dan Nyonya Park, Donghae bergegas ke kamar Kibum.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Kibum yang duduk dikasur dengan bayi Kyuhyun yang berbaring ditengah-tengah. Kibum menggoyang-goyangkan mainan bayi yang dapat berbunyi didepan Kyuhyun yang berusaha menggapai-gapai mainan itu dengan kedua tangan kecilnya. Terdengar tawa khas bayi dari mulut Kyuhyun, sesekali Kibum juga mencium pipi bulat Kyuhyun. Perasaan aneh seketika menjalar di hati Donghae.
"Kibum-ah, Donghae sudah sampai" ucap Leeteuk yang membuat pandangan Kibum teralih ke dirinya
"Oh Donghae, sudah sampai? Kyunie lihat! Donghae-hyung datang. Donghae, kemarilah" ajak Kibum
Donghae tersenyum, melangkahkan kaki menuju kasur dan menaikinya "Aigooo kyuniee, kau semakin gendut saja" kata Donghae setelah melihat Kyuhyun yang masih berusaha menggapai mainan yang ada ditangan Kibum.
"na..na..na..na" respon bayi mungil berisi itu, tangannya bergerak-gerak berusaha memegang Donghae. Kibum, Donghae, dan Leeteuk yang melihatnya tertawa. Donghae langsung mencium kedua pipi Kyuhyun.
"Kyunie –ku lucu sekali. Sini hyung cium" ujar Leeteuk dan naik ke tempat tidur. Merangkak dan berada diatas tubuh mungil Kyuhyun dengan kedua tangan menahan tubuhnya agar tidak menindih Kyuhyun.
"Coba bilang 'hyung' Kyunie, 'hyung' " harap Kibum
"na...na...na"
" 'Hyung' sayang" timpal Leeteuk yang sudah berada di sebelah Kibum
"na! na! na!" Bukannya mengikuti, bayi Kyuhyun berteriak seakan protes pada kedua kakaknya bahwa ia tidak dapat mengucapkannya. Matanya melebar dan kepalanya bergerak kekanan dan kekiri. Membuat Leeteuk dan Kibum tertawa keras.
Donghae yang hanya menyaksikannya tertegun. Siwon punya Minho. Kibum punya Kyuhyun, bahkan Leeteuk mempunyai Kibum dan Kyuhyun. Lalu kenapa ia sendiri? Kenapa ia berbeda dari kedua temannya itu? Donghae juga ingin mempunyai seseorang yang dapat diajak bermain kapan saja, ingin punya seseorang yang ia rawat seperti Siwon merawat Minho yang sakit, ingin punya seseorang yang juga dapat memanggilnya 'hyung', dan seseorang yang terus menemaninya.
Donghae bukannya tidak pernah mengatakan keinginannya kepada kedua orangtuanya. Sejak tau Siwon dan Kibum akan mempunyai adik, Donghae selalu meminta hal yang sama kepada Ibunya. Pada awalnya kedua orangtuanya menyetujui, namun entah kenapa berbulan-bulan kemudian ayahnya mengatakan bahwa Donghae tidak bisa punya adik dan tidak boleh meminta hal itu lagi kepada Ibunya. Donghae tidak mengerti, kenapa ia tidak boleh punya adik? Memangnya salah jika ia punya adik? Donghae kesepian. Bocah berusia 7 tahun itu ingin protes, namun melihat sikap tegas ayahnya, ia bisa apa?
Kibum yang melihat Donghae terdiam segera memanggilnya "Donghae-ah! Wae?"
Donghae tersadar "Oh, Ani"
"Sesuatu mengganggu mu Donghae?" tanya Leeteuk yang memang dikenal sangat peka terhadap perasaan orang lain.
Donghae berpikir "Hem Kibum, Leeteuk-hyung... bolehkah aku bermain kesini jika aku sedang sendiri atau bosan? Aku tidak tau harus kemana. Dirumah selalu tidak ada orang. Appa dan eomma selalu pergi"
Kibum tersenyum "Tentu saja Hae, kau boleh kesini kapanpun kau mau. Pintu rumah kami selalu terbuka untukmu"
Flashback End.
"Yak! Hyung! Lampu merah!" Donghae langsung menginjak remnya begitu teriakan Kyuhyun menyadarkannya. Keduanya terdorong kedepan karena rem mendadak Donghae, beruntung mereka berdua memakai sabuk pengaman.
"Hae-hyung! Kau ingin kita mati, eoh?!" Protes Kyuhyun, ia mengelus-elus dadanya, kaget.
Donghae segera menatap Kyuhyun khawatir, takut terjadi sesuatu dengan adiknya itu. "Kyunie, gwencahana? Apa ada yang terluka?"
"Huh! Tidak apa hyung. Aku hanya kaget saja. Apa yang kau pikirkan sebenarnya?"
"Mianhae Kyu, hyung hanya berpikir tentang rapat bersama klien nanti" jawab Donghae bohong
"Yak hyung kau tidak boleh seperti ini lagi. Kalau hyung banyak pikiran minta saja sopir untuk mengantarmu, oke? Itu sangat berbahaya" omel Kyuhyun.
Hati Donghae menghangat "Arraso, tidak akan terulang lagi. Terimakasih untuk nasihatmu Kyunie"
"Hum, sudah lampu hijau hyung. Jalanlah, aku bisa terlambat"
Donghae melajukan kembali mobilnya dengan lebih berhati-hati, memastikan bahwa Kyuhyun sampai di sekolah dengan selamat.
ÐÐÐ
Jung Hye-Mi menatap pantulan wajahnya didepan kaca. Ia sudah mandi dan saat ini wanita yang masih cantik walau umurnya sudah memasuki kepala empat itu hanya menggunakan jubah mandi. Sementara suaminya masih membersihkan badan.
Ia membuka tali bathrobe-nya, memperlihatkan lekuk tubuh yang masih terlihat indah. Wanita paruh baya itu mengelus perut bagian bawahnya. Sebuah garis melintang terlihat timbul, ia sudah melakukan berbagai cara untuk menghilangkan bekas itu tapi tidak berhasil. Bekas yang selalu dapat menghancurkan hatinya.
Flashback.
25 Agustus. 17 Tahun yang lalu.
Nyonya Lee meremas kedua tangannya gugup, menunggu hasil pemeriksaan dokter. Sementara Tuan Lee disebelahnya tampak tenang walau sorot kekhawatiran tidak dapat ditutupi dari kedua mata tajamnya.
"Jadi, bagaimana dok?" tanya Lee Suk Jun
"Seperti yang saya katakan sebelumnya Tuan. Endometriosis yang diderita istri Anda semakin membesar. Lihatlah" jawab Dokter sambil menunjukkan kearah layar yang menunjukan hasil CT Scan bagian perut Jung Hye-Mi "Ini sudah lebih dari 5 cm. Kita sudah melakukan observasi selama 3 bulan berturut-turut, namun kista ini tidak mengalami perubahan."
Hye-Mi menggigit bibir bawahnya kuat. Tangannya semakin kuat meremas.
"Kita... harus mengangkatnya dok?"tanya Tuan Lee lagi
"Iya Tuan, ini yang terbaik"
"Tidak... tidak bisakah memakai cara lain dok?" tanya Nyonya Lee sedih, matanya sudah berkaca-kaca
Dokter itu tersenyum, mengerti perasaan seorang Ibu seperti Hye-Mi "Nyonya, Kista coklat memang belum termasuk ke dalam kista ganas, namun jika dibiarkan tanpa penanganan bisa menimbulkan komplikasi yang lebih buruk"
"Ta-tapi..." Belum sempat Nyonya Lee menyelesaikan perkataanya, sang suami sudah terlebih dahulu menggenggam tangannya.
"Baiklah dokter, kami akan berdiskusi dulu untuk menentukan langkah selanjutnya. Terimakasih dok" kata Lee Suk Jun sambil sedikit menunduk kepada dokter itu "Kajja yeobo" lanjutnya.
Kini mereka berdua sudah berada didalam mobil. Keduanya terdiam, mencoba menenangkan pikiran masing-masing. Tuan Lee menatap istrinya sedih, hal ini pasti menghancurkan hati pendamping hidupnya itu.
"Sayang" panggil Tuan Lee pelan, sang istri tidak menyahut. Matanya masih melihat ke depan dengan tatapan kosong.
Tuan Lee meraih jemari istrinya lembut, mengelusnya "Kita lakukan saja apa yang dikatakan dokter ya?" bujuknya. Ia tau ini salah, namun ia juga tidak bisa melihat istrinya dalam bahaya.
"Tidak" jawab Hye-Mi singkat
Pemimpin Aston Company itu menghela nafas "Kita sudah punya Donghae sayang, dia sudah cukup. Jangan memaksakan diri"
"Tapi Dongahe ingin adik! Dan aku sudah berjanji padanya!" teriak wanita 30 tahun itu, kali ini ia sudah menangis.
"Donghae ingin adik yeobo, ia meminta padaku. Kumohon. Setelah aku melahirkan, kita akan mengangkatnya. Aku berjanji. Kumohon" ucap Hye-Mi memelas. Ia menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Berharap sang suami akan mengerti dan menerima keputusannya.
"Jika kau mengandung, maka anak didalam rahimmu juga akan terkena dampaknya sayang. Ia mungkin tidak akan tumbuh dengan baik. Kau menginginkan itu?" Suk Jun menurunkan kedua tangan Hye-Mi dan menggenggamnya "Donghae akan mengerti, ia anak yang pintar. Dengar, aku tidak ingin kehilanganmu. Ini sudah cukup sayang. Kau dan Donghae sudah cukup untuk ku. Jadi kita lakukan seperti saran dokter." ujar Tuan Lee mutlak. Ia harus tegas jika sudah berkaitan dengan keselamatan keluarganya.
Jung Hye-Mi yang sudah tau bahwa keputusan suaminya tidak dapat diubah menangis keras. Ia akan mematahkan impian anaknya untuk memiliki seorang adik. Harusnya ia tidak berjanji kepada Donghae. Harusnya ia tidak mengatakan hal-hal menyenangkan yang dapat Donghae lakukan bersama dengan adiknya. Kini harapan Donghae sudah tinggi dan ia menghancurkannya begitu saja.
Lee Suk Jun hanya dapat memeluk dan mengelus punggung istrinya itu. Lelaku itu tidak akan mengubah keputusannya. Jung Hye-Mi harus mengangkat rahimnya.
Flasback End.
"Sayang" suara berat suaminya menyadarkan Hye-Mi dari lamunannya
"Sedang apa?" tanya Lee Suk Jun. Aroma after-shave dari sang suami membuat Hye-Mi menjadi rileks.
"Tidak yeobo, aku hanya memperhatikan wajahku. Sepertinya wajahku semakin tua saja" jawabnya sambil terkekeh
"Tidak apa, kau tetap cantik di mataku" goda Tuan Lee sambil mengedipkan sebelah matanya. Nyonya Lee tertawa, mencubit pelan perut sang suami.
"Bersiaplah, 1 jam lagi kita akan memulai pertemuannya" ujar Lee Suk Jun dan mencium pipi istrinya.
"Arraso" jawab Hye-Mi, mengikuti sang suami keluar dari kamar mandi.
ÐÐÐ
Kyuhyun duduk dengan bosan sambil memandang teman-temannya yang sedang berolahraga. Anak laki-laki sedang bermain basket sedangkan anak perempuan bermain lempar bola. Ia mendesah frustasi. Sampai kapan hyung-nya memperlakukannya seperti ini? Kyuhyun merasa dirinya sedang mengidap penyakit langka yang tidak bisa disembuhkan dan umurnya hanya tinggal berberapa bulan saja. Sungguh berlebihan.
Ini memang sudah menjadi rutinitas Kyuhyun setiap pelajaran olahraga. Adik dari Donghae itu hanya akan mengikuti pemanasan saja, selebihnya ia hanya akan duduk sambil memperhatikan teman-temannya. Kenapa? Tentu saja karena Donghae yang memintanya langsung kepada guru olahraganya, anggap saja itu permintaan khusus dari anak pemilik sekolah. Jadi, guru olahraga itu bisa apa? Sedangkan untuk memenuhi nilai, Kyuhyun akan diberikan tugas tertulis mengenai olahraga yang sedang dilakukan pada hari itu.
Pernah Kyuhyun mengikuti seluruh kegiatan olahraga, namun hasilnya adalah ia pingsan ditengah lapangan dan membuatnya dikurung selama 1 minggu oleh Donghae untuk beristirahat. Kyuhyun kapok dan terkadang ia membenci tubuhnya yang terlalu lemah.
Kyuhyun bangkit, berjalan menuju gurunya yang sedang bercengkrama dengan guru lain. Meminta ijin untuk ketoilet.
Setelah menyelesaikan urusannya ditoilet, Kyuhyun akan segera kembali ke lapangan. Namun indera pengelihatannya melihat seseorang dikoridor, menggaruk-garuk kepalanya dan menenggok kekanan-kiri. Seperti mencari sesuatu. Kyuhyun menyipitkan matanya, sosok itu seperti tak asing baginya.
"Ah! Dia kan..."
ÐÐÐ
Jadi disinilah keduanya duduk, ditaman belakang sekolah. Kyuhyun benar, orang ini adalah yang memberinya gantungan kupu-kupu tempo hari.
"Kau kesini mencari ku?" tanya Kyuhyun
"Iya... Bagaimana dengan gantungan kuncinya?" jawab orang itu sambil melontarkan pertanyaan.
"Aku menyimpannya. Jadi, bisakah kau menjelaskannya?"
Leeteuk tersenyum, mengerti pertanyaan Kyuhyun "Aku mengenalmu sejak bayi" jawab Leeteuk. Sedangkan Kyuhyun menyerengitkan dahinya. 'Bayi?'
"Tapi hanya sampai 5 bulan. Lalu aku tidak melihatmu lagi"
Kyuhyun tetap diam. Menunggu orang ini menceritakan segalanya.
"Mungkin itu sebabnya kau tidak mengenalku" lanjut Leeteuk sedih
"Tapi kau mengenal hyung-ku kan?"
Leeteuk mengepalkan tangannya "Tentu saja"
"Kalau begitu aku tanya Donghae-hyung saja. Biar dia menceritakan semuanya" putus Kyuhyun. Ia tidak mau mendengar perkataan dari seseorang yang belum ia kenal. Lebih baik bertanya kepada kakaknya.
"Jangan!" larang Leeteuk, tidak sadar suaranya meninggi
Kyuhyun sedikit kaget "Kenapa?"
Leeteuk tersenyum miring "Entahlah. Memberikan Donghae sedikit kejutan, mungkin?"
TBC
Hai terimakasih sudah me-review, fav, dan follow cerita saya.
Sampai jumpa di chapter dan cerita lainnya :)
Feel free to review ^^
