Rated: T

Disclaimer: These chara is totally belongs to Theirself, but this fic is officially mine.

Inspired by Sunshine becomes you

Warning: bahasa gajelas, alur lompat-lompat, setting gajelas, OOC tingkat dewa, Crack pairing dsb

Soonhoon slight Jicheol

Read it with ur own risk(:

Couple words from author:

Sebenernya 4syth rada sedih juga soalnya views sama review bener2 ga singkron ;v but gpp ;v 4syth bakal terus apdet kok :) yang udah fav follow sama review neomu neomu gumapta yac 4syth sayang kamu mumumumu :* Happy Reading gaes..!

Chapter 3

Setelah memarkirkan mobil Mini Cooper Paceman S miliknya di sisi jalan. Jihoon segera keluar. Tepat seperti dugaannya, seorang laki-laki dengan mantel abu-abu dan berambut gelap tengah berjalan di trotoar disebrang Jihoon berdiri saat ini. Bisa Jihoon lihat, laki-laki itu tengah menggenggam cangkir karton berwarna hijau dengan tangan kirinya dan ya, perban coklat itu masih melekat di tangannya. Begitu pemuda itu melihat si rambut gelap menaiki tangga menuju salah satu gedung apartemen, Jihoon segera berlari kecil menyebrangi jalanan. Untung saja tangannya berhasil menyangga pintu apartemen sebelum benar-benar tertutup. Begitu Jihoon masuk, pintu lift berwarna keemasan didalam apartemen itu sudah tertutup. 'Pasti ia sudah naik kedalam.' Tanpa membuang waktu, Jihoon segera berlari kearah tangga dan berlari menaiki anak tangga demi anak tangga dengan kakinya. Tak dihiraukannya rasa sesak didada karena kelelahan berlari menaiki tangga. 'Apartemen didaerah Riverside, lantai dua nomor 231.' Batin Jihoon berusaha mengingat alamat lengkap yang ia dapat dari Seungcheol tadi malam.

Setelah insiden membentak kemarin, Jihoon tidak bisa berpikir dengan tenang. Dirinya selalu dibayangi perasaan bersalah, ditambah karena sudah memarahi Soonyoung. Jadi Jihoon membulatkan tekad untuk datang ke apartemen Soonyoung dan meminta maaf bahkan melakukan sesuatu kalau itu bisa membuat Soonyoung tidak membencinya atau setidaknya memaafkannya. Mrs Wu selalu mengajarkan Jihoon untuk selalu meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan apapun kondisinya. Dan Jihoon selalu menanamkan ajaran ibu pantinya itu sampai ia tumbuh dewasa dan pindah ke New York. Dan akhirnya tadi malam, Jihoon meminta alamat lengkap Soonyoung kepada Seungcheol. Laki-laki itu sebenarnya ingin mengantar Jihoon ke kediaman adiknya, karena ia sendiri tidak yakin kalau Soonyoung akan menerima atau mungkin mau berbicara dengan Jihoon, tapi karena ada suatu proyek yang harus ia kerjakan, ia pun tidak bisa menemani Jihoon. Jihoon maklum akan hal itu, ia malah bersyukur Seungcheol tidak datang bersamanya, karena ia tidak mau melihat Soonyoung berbicara pedas pada kakaknya dan membuat amarah Jihoon membuncah lagi.

Setelah lima menit berlari menaiki tangga, Jihoon pun sampai di lantai dua. Dan untungnya, letak anak tangga tidak jauh dari apartemen Soonyoung. Terbukti begitu Jihoon sampai, Soonyoung pun sudah berdiri dihadapan sebuah pintu. Dan sepertinya Soonyoung menyadari keberadaan malaikat mautnya, karena ia menolehkan kepala dan melangkah menjauh. Seolah tidak peduli dengan reaksi Soonyoung, Jihoon berjalan menghampiri laki-laki itu. Dia itu sudah menyiapkan mentalnya untuk kondisi terburuk. Misalnya, Soonyoung membentaknya, atau malah mengusirnya pergi. Meski Soonyoung melemparkan tatapan setajam elang yang seolah berkata 'Jangan mendekat atau kau akan mati' Jihoon tetap melangkahkan kakinya mendekat kearah Soonyoung, ia harus meminta maaf kepada Soonyoung kalau ia ingin bisa menikmati hidupnya lagi tanpa beban pikiran.

Jihoon berhenti ketika ia sudah berada didekat Soonyoung, pemuda kecil itu menundukan kepalanya, berusaha menormalkan ritme nafasnya yang tersengal-sengal Karena ngebut menaiki tangga tadi.

"Apa yang kau lakukan disini?" Jihoon hanya bisa terdiam ketika mendengar pertanyaan yang terdengar lebih tajam dibanding yang ia perkirakan. Setelah merasa nafasnya sudah kembali normal dan kepalanya tidak lagi berdenyut, Jihoon meregangkan tubuhnya. Mata kecilnya menatap wajah Soonyoung yang ternyata sangat… datar.

"Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas segalanya. Soal tanganmu, soal aku yang memarahimu kemarin dan… krim keju serta coklat panas yang mengotori baju serta err rambutmu."

"Kau sudah tahu kecerobohanmu itu berakibat buruk padaku?"

"Membuatmu tidak bisa bermain piano selama satu bulan?" Tanya Jihoon ragu, Soonyoung sedikit kaget namun laki-laki itu menyembunyikan ekspresinya dengan baik. "Bukan hanya itu, aku harus membatalkan beberapa recital yang sudah ku sepakati hingga akhir tahun." Ujar Soonyoung dengan nada yang sangat tajam. Ditambah lagi tatapan tajam yang tak henti-hentinya menatap Jihoon, tatapan itu seolah berbicara kepada Jihoon 'Kau tahu? Kau yang bersalah, kau salah.'

Jihoon tahu bahwa ia salah, dan ia sangat menyesal. Ditambah lagi dengan pernyataan yang barusan diberitahukan Soonyoung, bahwa laki-laki itu harus membatalkan resitalnya, tanpa diberitahu tentang pembatalan itu Jihoon pun sudah cukup merasa bersalah, apalagi dengan diberitahu?

"Aku minta maaf, aku akan membayar sebisaku dengan apapun.. aku benar-benar-"

"Pulang." Jihoon mengerjap tak percaya sementara Soonyoung hanya menatap Jihoon dengan tatapan merendahkan.

"Apa?"

"Kubilang, pulang."

"Tapi aku hanya ingin minta ma-"

"Sudah selesai, kau sudah meminta maaf padaku bukan? Dan permintaan maafmu itu tidak bisa mengganti kerugian atas pembatalan resitalku, permintaan maafmu tidak bisa menyembuhkan tanganku jadi lebih baik sekarang kau pulang sebelum kau melukai tanganku yang satunya."

Jihoon masih terpaku karena kata-kata setajam silet yang menyayat pendengarannya. Ternyata sosok Kwon Soonyoung lebih mengerikan dari yang ia bayangkan, lihat dia? Sikapnya dua kali lebih menyebalkan hari ini. Jihoon mengangkat kedua bahunya. "Baiklah.. kau benar, permintaan maafku memang tidak akan bisa mengubah segalanya, aku tahu aku sudah sangat merugikanmu. Dan ya, soal melukai tanganmu yan satunya itu bisa saja terjadi. Baiklah… aku permisi dulu, Kwon Soonyoung." Ujar Jihoon dengan penekanan di nama laki-laki tersebut. Setelah berkata seperti itu Jihoon melangkahkan kakinya kearah lift. Sudah selesai, yang terpenting ia sudah meminta maaf pada Soonyoung. Tak peduli laki-laki itu menerima permintaan maafnya atau tidak, yang penting Jihoon sudah meminta maaf, dan acara meminta maaf ini selesai lebih cepat dari yang ia duga, dan itu bagus. Dengan begitu Jihoon punya waktu luang untuk ber skating ria sebelum murid-muridnya datang.

Jihoon segera memencet tombol anak panah kebawah disebelah pintu lift ketika ia berdiri didepan lift. Setelah itu ia berdiri diam, menunggu pintu lift terbuka. Sementara Soonyoung masih sibuk dengan kuncinya. Ia bingung bagaimana ia bisa membuka pintu apartemennya.

Tangan kanannya tak bisa digerakan, tangan kirinya menggenggam kunci dan cangkir kopi yang tadi pagi ia beli di kedai kopi tak jauh dari apartemennya. Harus kalian tahu, membuka pintu apartemen itu tidaklah semudah membuka pintu biasa. Kau harus memutar kunci dan membukanya secara bersamaan, berbeda ketika kau berada didalam apartemen, kau hanya perlu memutar kunci lalu memutarnya. Dan hal itu terlupakan oleh Soonyoung, ia lupa bahwa tangan kanannya harus libur bertugas selama satu bulan kedepan. Dengan frustasi Soonyoung menghentakan kakinya kelantai kayu apartemen dan hal itu membuat Jihoon sedikit terlonjak kaget. Pemuda itu menolehkan kepalanya.

'Apa Soonyoung pingsan?' Namun dugaannya salah, yang bisa ia lihat hanya sosok laki-laki dengan mantel abu-abu yang berdiri membelakanginya.

'Ada apa dengannya? Kenapa dia masih berada disana? Apa ia ingin memastikan bahwa aku benar-benar pulang?'

Pertanyaan Jihoon terjawab ketika mendengar geraman kesal dari arah Soonyoung berdiri. 'Kenapa dia? Apa dia kesal karena… ah tentu saja! Tangan kanannya kan sedang sakit, pasti ia tidak bisa membuka pintu.'

Jihoon hampir saja tertawa ketika melihat Soonyoung kembali menghentakan kakinya. 'Sepertinya aku mulai menikmati pertunjukan ini.' Batin Jihoon sambil tersenyum geli. TING! Dentingan lift membuat Jihoon menoleh kearah lift. Jihoon tidak langsung masuk kedalam lift, dirinya menimbang-nimbang. Apakah ia akan meninggalkan Soonyoung begitu saja? Membiarkan Soonyoung terkurung diluar sampai tetangganya atau mungkin Seungcheol datang?

Jihoon akhirnya memutuskan untuk berbalik, meninggalkan pintu lift berwarna kekuningan yang sudah terbuka, menunggu orang yang memencet tombol untuk segera masuk. Jihoon berhenti ketika ia sudah berada didekat Soonyoung yang masih berusaha membuka pintu.

"Kau butuh bantuan?" Tubuh Soonyoung terlihat sedikit tersentak kaget. Terang saja ia kaget, karena ia mengira si imut sial itu sudah pulang, dan ia berharap bahwa tetangganya yang datang. Tetapi harapannya tak terkabul, malaikan mautnya kembali datang.

'Apa lagi yang ia inginkan dariku? Belum puaskah ia melihatku seperti ini?' Batin Soonyoung yang mulai terlihat melankolis. Melihat Soonyoung yang tidak menggubris tawarannya membuat Jihoon merasa jengkel, meski begitu si mungil itu berusaha menahan amarahnya untuk meledak.

"Aku bisa membantumu membuka pintu itu, atau memegang kopimu agar tidak tumpah." Setelah mendengar kata-kata Jihoon, Soonyoung terdiam sejenak, ia tidak lagi berusaha membuka pintu apartemennya. Ia pun berbalik dan menyerahkan kunci yang terbuat dari logam kepada Jihoon. Setelah menerima kunci apartemen Soonyoung, Jihoon pun melangkah melewati Soonyoung dan membuka pintu apartemen dengan mudah. Setelah itu, Jihoon menyingkir sedikit agar Soonyoung bisa masuk kedalam.

Laki-laki itu tidak menghiraukan Jihoon, ia tidak menyuruh Jihoon masuk ataupun pulang. Karena kunci apartemen Soonyoung masih ada ditangan Jihoon, Jihoon memutuskan untuk masuk kedalam apartemen Soonyoung dan mengembalikan kunci apartemen laki-laki itu lalu segera kembali ke ice rink, ia tidak ingin berlama-lama bersama Soonyoung, berada beberapa menit didekat laki-laki dingin itu membuat mood Jihoon hancur begitu saja.

"Kau lupa kuncimu, Soonyoung." Ujar Jihoon yang berjalan menghampiri Soonyoung yang sedang menikmati kopinya diatas sofa kulit bewarna hitam.

"Taruh saja dimeja." Jawab Soonyoung singkat padat dan jelas. Laki-laki itu mengernyit ketika merasakan cairian dingin dan hambar melewati tenggorokannya. "Kau baik-baik saja?" Tanya Jihoonn yang ternyata memperhatikan ekspresi aneh yang sempat terpeta diwajah Soonyoung.

"Kopi ini… sangat buruk." Ujar Soonyoung seraya meletakan kopi itu diatas meja dan mendorongnya menjauh. "Kenapa kau masih ada disini?" Tanya Soonyoung sambil menoleh kearah Jihoon. Lagi-lagi Jihoon harus menahan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun. Tapi amarah itu surut ketika matanya menjelajahi apartemen Soonyoung yang terlihat sangat berantakan. Apalagi ketika secara tak sengaja mata kecil Jihoon hijrah di dapur kecil apartemen itu. Di sebuah counter marmer disana, terlihat sebuah bungkus kopi yang tercabik dengan cangkir yang terbalik. Jihoon berasumsi bahwa laki-laki ini mencoba membuat kopi dengan satu tangan dan akhirnya gagal.

Sementara Soonyoung hanya menatap tajam kearah pemuda mungil yang berdiri tak jauh darinya. Ia masih heran kenapa pria yang sialannya imut itu masih berdiri disini.

'Apa dia mau mencelakaiku lagi?' Batin Soonyoung kesal. "Kau yakin tidak apa-apa tinggal sendiri disini?" Pertanyaan pemuda itu membuat Soonyoung sedikit kaget. "Sudah lima tahun aku tinggal di apartemen ini dan lihat? Aku masih hidup bukan." Jihoon memutar kedua bola matanya, berbicara dengan Soonyoung sangat memerlukan ketebalan kesabaran, Jihoon mengakui itu.

"Maksudku, apa kau baik-baik saja tinggal sendirian disini dengan kondisi tanganmu yang… seperti itu." Soonyoung hanya bisa terheran-heran. Kenapa? Kenapa bocah(?) ini terlalu perhatian padanya? Bukannya geer, tapi Soonyoung merasa bahwa pria disampingnya ini seperti mengkhawatirkannya? Padahal dari awal mereka bertemu Soonyoung sama sekali tidak menyodorkan senyuman manis, mereka pun tidak pernah mempunyai perbincangan yang menyenangkan.

Sementara Jihoon hanya bisa termenung diam. Pemuda mungil ini bingung, ia bingung karena ia begitu perhatian pada Soonyoung. Ia bingung kenapa dia bisa sebegitu peduli pada laki-laki yang jelas-jelas menginginkannya pergi menjauh?

"Sudahlah lebih baik kau pulang, aku lelah." Ujar Soonyoung sambil memijat batang hidungnya dengan kedua jarinya.

"Bagaimana kalau aku membuatkanmu makan siang dan segelas kopi sebelum aku pulang, aku tidak yakin meninggalkanmu sendirian tanpa makanan." Ujar Jihoon yang akhirnya menatap laki-laki yang tengah duduk tak jauh darinya. Itu benar, meskipun Jihoon tidak menyukai laki-laki ini tapi tetap saja Jihoon tidak tega jika melihat Soonyoung kelaparan. Ya hitung-hitung sebagai permintaan maaf. "Tidak perlu, aku bisa delivery, dan soal kopi… lupakan, aku sudah tidak ingin meminum kopi." Jihoon mendengus kesal.

"Sudahlah, tidak apa-apa, hitung-hitung sebagai permintaan maafku." Soonyoung kembali menghela nafas panjang, ia benar-benar bingung dengan orang ini. "Baiklah, kalau kau berkeras hati." Kenapa dia begitu keras ingin membantu? Kenapa dia begitu peduli pada Soonyoung. Setelah mendengar kata-kata Soonyoung, Jihoon segera melepaskan mantelnya dan menggantungnya di penyangga mantel, lalu ia segera melenggang menuju dapur yang terletak disamping ruang duduk. "Apa kau mau meracuniku?" Pertanyaan Soonyoung membuat Jihoon menolehkan kepalanya.

"Eh?"

"Kau berkeras hati ingin membuatkanku makan siang, apa kau berencana untuk meracuniku?" Jihoon hanya bisa membekap mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawanya yang akan meledak.

"Tentu tidak, bodoh. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu."

"Itu bisa saja terjadi bukan? Kau sudah mencelakaiku, membuat tanganku patah, ada kemungkinan kau mau membuatku mati karena keracunan."

"Perlu kau ketahui, Kwon Soonyoung. Kejadian kemarin sepenuhnya ketidak sengajaan, aku sama sekali tidak berniat menabrakmu dan juga, tanganmu terkilir, bukan patah."

"Terkilir, patah. Apa bedanya? Aku masih tetap tidak bisa menggerakan tanganku." Jihoon hanya bisa terdiam, ia memilih untuk tidak menggubris kata-kata Soonyoung, percuma saja, tidak akan memperbaiki keadaan. Sementara Jihoon tengah sibuk didapur, Soonyoung sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada apa dengan pria mungil itu sebenarnya? 'Kenapa dia begitu peduli padaku?'

TBC

GA DIEDIT SHAY:B kalo ada typo maklumin ajaaaaaaaaaaa...

LASTLY, Review juseyoooooo