World of Chances

Chapter 2

.

.

Disclaimer:

Bleach

by Tite Kubo

.

World of Chances

is Demi Lovato's song

.

warning:pairing Hitsu x Hina, AU, OOC.

.


Masa-masa SMA-ku begitu cepat berlalu. Sebentar lagi akan ada pekan ujian di sekolahku. Sudah dua akhir minggu yang kuhabiskan dengan mengurung diri di kamar—mengerjakan soal-soal yang membuat pusing kepalaku.

Kau berpikir bahwa aku adalah seorang anak yang rajin? Tidak juga. Ini semua kulakukan karena ibu melarangku pergi keluar menjelang pekan ujian. Ia ingin aku—Momo Hinamori—putri bungsu keluarga Hinamori, mendapat peringkat yang baik dalam pekan ujian SMA terfavorit di Kota Karakura ini.

Ngomong-ngomong, semenjak kejadian di atap sekolah itu, aku tak pernah lagi berbicara dengan Hitsugaya-senpai. Menyapa pun tidak. Setelah kejadian dengan Nemu-senpai itu, aku sadar, bahwa ada perasaan suka yang tumbuh dalam hatiku terhadapnya, tapi aku tak bisa membiarkan perasaan itu tumbuh lebih tinggi lagi. Aku tak mau mengganggu hubungannya dengan gadis beriris violet itu. Aku juga malas menerima tatapan dingin nan sinis milik Nemu-senpai.

Meski kubilang mantan yang kupunya tak bisa dihitung dengan sepuluh jari tanganmu, tapi ini sudah cukup lama aku tidak berstatus pacaran sejak putus dari pacarku yang terakhir kali. Ya, sudah… Mm… 4 bulan. Itu waktu yang lama bagiku, mengingat bahwa di SMP, orang-orang selalu melihat sosokku yang dengan mesranya berjalan berdampingan dengan seorang lelaki.

Baiklah, cukup basa-basinya, aku jadi tidak fokus pada buku tebal yang berisi penuh angka dan simbol di hadapanku. Ya, aku sedang bergulat denga soal persamaan kuadrat ketika terdengar suara ketukan di pintu kamarku. Belum aku mempersilakan 'tamuku' masuk, pintu kamarku sudah terbuka lebar. Aku memutar kursi belajarku, menghadap ke arah pintu.

"Momo, Ibu membuatkanmu pudding," kata gadis bermata amber yang masuk ke dalam kamarku sambil membawa sepiring kecil pudding yang seakan memanggilku untuk segera menyantapnya. "Rasa coklat-vanila dengan fla, favoritmu. Nah, selamat belajar. Kalau masih kurang, masih tersedia beberapa piring di meja makan," kata gadis itu lagi sebelum menghilang di balik pintu.

Nah, yang tadi itu kakakku, Senna Hinamori. 2 tahun yang lalu, dia lulus dari sekolah yang sama dengan sekolahku saat ini. Saat ini, kakak perempuanku itu sedang menikmati masa-masanya dalam jurusan teknik.

Berbeda denganku yang cuek—dan yah, dingin—Senna adalah sosok yang periang. Dia mengecat rambutnya menjadi ungu setelah memutuskan bahwa ungu adalah warna favoritnya. Terkadang, aku sendiri tak mengerti jalan pikirannya.

Satu-satunya persamaan antara aku dan Senna ialah, kami sama-sama keras kepala.

.

.

"Pagi ini dingin sekali ya," ujar Inoue sambil mengusap-usapkan kedua tangannya yang sudah terselimuti sarung tangan meah mudanya. Kami baru saja bertemu di depan sekolah dan saat ini sedang berjalan bersama menuju ruang kelas. Walau dibilang 'tak sengaja bertemu', dari posisi dan gelagatnya, aku yakin sekali dia sengaja menungguku di gerbang itu—meski aku tak tahu alasannya.

"Ya, cuaca yang buruk untuk mengawali pekan ujian," balasku.

"Benar. Kuharap siapapun pengawas ujian kita nanti, memperbolehkanku mengenakan sweater. Dalam cuaca seperti ini, di dalam kelas pun pasti akan terasa dingin. Apalagi dengan kedua AC di dinding kelas."

"Kau bisa minta Tatsuki untuk tidak menyalakan AC-nya, tapi tentu saja kita harus meminta persetujuan teman-teman sekelas."

Inoue mengangguk, kemudian mulai mengoceh soal acara tahunan SMA Karakura yang dimajukan waktu penyelenggaraannya. Benar-benar deh, dia ini informan sejati. Informasi yang dibawanya pun selalu memiliki asal-usul yang jelas—alias terpercaya.

Rupanya yang dimaksud Inoue dengan acara tahunan itu hanya sebuah festival olahraga. Kukira apa, ternyata hanya acara umum yang memang dirayakan setiap tahunnya.

Hah, tidak ada yang spesial dari festival olahraga. Aku tidak akan mengajukan diri sebagai peserta—seperti tahun-tahun sebelumnya di SMP. Aku hanya akan menjadi seorang yang duduk di lapangan sambil memeluk kedua lututku, sembari terkadang menyorakkan dukungan penyemangat untuk tim kelasku. Kemudian usai festival olahraga, aku menghibur teman yang kalah seperlunya, atau ikut membicarakan kejadian selama festival.

Jika saat festival, pacarku menjadi salah satu pesertanya, aku memberinya dukungan, dan minuman usai bertanding. Lalu, kami akan berfoto bersama menggunakan seragam olahraga dan membawa bendera-bendera tim atau .

Tunggu. Kenapa aku jadi mengingat-ingat momen seperti itu?

Tapi… Yah, itulah yang kulakukan setiap tahunnya.

.

.

"Hari ini kita akan menentukan peserta yang mengikuti festival olahraga minggu depan," ujar Uryuu Ishida—ketua kelas 1-1—siang itu. Ya, akhirnya pekan ujian sekolah telah berakhir. Kami tinggal menunggu pengumuman nilai seluruh siswa ditempel di papan pengumuman di beberapa sudut sekolah yang paling sering dilalui para siswa, di ruang besar dekat tangga misalnya.

"Baiklah, dalam festival olahraga tahun ini ada 13 cabang perlombaan…" Uryuu mulai menulis sesuatu di papan tulis, sambil sesekali melirik ke arah kertas yang dipegangnya.

Lomba per-tim:

Lomba Halang Rintang

Lomba Lari Estafet

Lomba Benteng

Lomba Tarik Tambang

Lomba Basket Putra

Lomba Baseball Putri

Pertandingan Kendo

.

Lomba perorangan:

Lomba Lari Jarak Pendek (200m)

Lomba Lari Jarak Jauh (500m)

Lomba Lari Cosplay

Lomba Lari 3 kaki

Lomba Mencari Barang

Lomba Makan Roti

.

Itu yang tertulis di hadapanku. Aku memandangi daftar lomba itu, kemudian mencibir. Apa perlombaan-perlombaan itu tidak terlalu kekanakan untuk siswa-siswi SMA? Kenapa kendo masuk ke dalam daftar perlombaan dalam festival olahraga? Usul siapa itu? Tapi biarlah, toh aku tidak akan berpartisipasi dalam satu lomba pun—sepertinya.

"Nah, panitia Festival Olahraga Karakura memutuskan untuk membentuk 3 tim gabungan dari kelas 1, 2 dan 3. Ada tim merah, biru, dan kuning. Anggota tim ini bukan berdasarkan kelas, tapi berdasarkan undian panitia. Jadi, bisa saja kalian akan bertanding dengan teman dekat kalian," tambah Uryuu.

Eh? Jadi, ada kemungkinan aku tidak satu tim dengan Inoue?


Sore itu, di bawah payung dan rintik hujan, aku berjalan beriringan dengan seorang gadis yang bukan bernama Inoue.

.

Tadi, sesaat sebelum bel pulang berbunyi, Aizen-sensei—guru olahraga kelas 1 yang berkacamata dan dikagumi para siswi—datang ke kelasku dan membawa lembaran pembagian tim di kelasku. Aku masuk tim merah, dan Inoue di tim biru. Ya, kami berpisah untuk sementara waktu.

"Hari Sabtu, kalian wajib datang ke sekolah untuk rapat bersama tim kalian masing-masing. Dalam rapat itu, kalian akan berkenalan dengan para senpai, memahami aturan festival olahraga dan membagi peserta lomba," kata Aizen-sensei sebelum melangkahkan kakinya yang berbalut celana training itu keluar dari kelas 1-1.

Pada awalnya, aku malas menghadapi festival olahraga itu. Pertama, karena Inoue berada di tim yang berbeda denganku. Kedua, aku kurang dekat dengan anak-anak lain di kelasku. Meskipun aku cukup dikenal di wilayah sekolah, aku memang agak tertutup dalam pertemanan.

Mengetahui bahwa Yukio—supirku—tidak bisa menjemputku karena lebih memprioritaskan Senna, aku melenggang tanpa semangat ke barisan loker yang berjajar rapi di depan pintu masuk.

Tapi, saat mengambil payung di lokerku—melihat awan kelabu dari jendela kelas—seorang gadis dengan tatapan-yang-tak-bisa-kujelaskan menghampiriku. Rambutnya hitam dengan dua kepangan panjang yang berbalut kain putih di belakangnya, menyisakan rambut pendeknya yang berpotongan unik.

"Hinamori? Mau pulang bersama?"

Itu kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan kepadaku. Ya, kami memang tak pernah saling bicara. Hanya sekadar tersenyum saat berpapasan di area sekolah pun jarang. Di kelas, dia termasuk anak yang aktif dan percaya diri, meski terkadang tampak sombong.

Dengan satu anggukan, aku mendapat teman baru sore itu.

.

"Kau akan mencalonkan diri untuk ikut lomba apa?" tanya Soi Fon memecah keheningan sore itu.

"Eh—aku tidak tahu. Bahkan mungkin aku tidak akan ikut serta dalam satu lomba pun."

"Benarkah?" Nada suara Soi Fon tampak terkejut mendengar jawabanku, tapi ia tetap tenang dan melanjutkan langkahnya mengikutiku. "Kenapa? Apa kau tidak tertarik dengan festival semacam ini?"

"Yah.. begitulah," balasku singkat. Aku malas membuka diri pada orang yang baru berteman denganku 5 menit yang lalu. "Kau?"

"Mungkin aku akan mencalonkan diri untuk ikut perlombaan halang rintang. Aku suka lomba sejenis itu. Atau... mungkin aku akan ikut lomba estafet," jawabnya bersemangat.

Sepanjang jalan sore itu, aku meghabiskan waktuku bersama Soi Fon untuk membicarakan apa pun yang kami temukan di jalan, atau sekedar basa-basi membicarakan topik hangat akhir-akhir ini. Aku hanya tahu satu hal, Soi Fon adalah teman yang menyenangkan.

.

.

Sabtu pagi. Aku tiba di sekolah 15 menit sebelum waktu yang ditentukan. Karena kegiatan hari ini bukan kegiatan resmi sekolah—melainkan kegiatan dari panitia festival—para siswa diperbolehkan mengenakan pakaian bebas.

Aku mengenakan atasan putih bermotif polkadot oranye dan rok selutut—berwarna hijau lembut. Pakaian keluaran butik ibuku itu kupadukan dengan tas kulit coklat yang tersampir di bahuku dan flat shoes coklat sederhana. Seperti biasa, rambutku kugelung dan kututupi dengan kain berwarna biru.

Aku menemukan Soi Fon sedang asyik berbincang-bincang di dekat pintu kelas 1-3. Saat melihatnya, ia melambai padaku dan aku pun menghampirinya.

"Hinamori, kenalkan ini Kira. Kira, ini Hinamori yang tadi kuceritakan." Soi Fon mengenalkanku pada pria berambut kuning dengan tatapan tajam di hadapanku.

Aku membungkukkan badanku padanya, dan ia melakukan hal yang sama. Setelah itu, kami memasuki ruang kelas 1-3 yang dindingnya telah dibuka supaya bisa menyatu dengan kelas 1-4. Di sana terkumpul para anggota tim merah yang total seharusnya 75 orang—aku melihat jumlah yang cukup besar itu di daftar.

Saat bertanya pada Uryuu kemarin, seharusnya setiap tim terdiri dari 150 orang anggota. Tapi dengan jumlah yang terlalu banyak itu, tentu akan banyak siswa yang menganggur.

Total siswa di SMA Karakura adaah 450 siswa. Siswa-siswa kelas 3 tidak diwajibkan mengikuti festival ini, dan beberapa diantaranya memang mengundurkan diri. Ditambah lagi, beberapa puluh siswa menjadi petugas medis, panitia, dan sebagian menjadi anggota marching band, supporter dan pemandu sorak—dan tidak ikut bertanding. Akhirnya, tersisa 225 siswa yang benar-benar bisa mengikuti pertandingan.

Aku menandatangani daftar hadir di meja guru dan menempati kursi yang masih kosong bersama Soi Fon dan Kira. Aku memandangi para siswa yang akan satu tim dan bekerjasama denganku. Syukurlah aku tak menemukan Kuchiki-senpai maupun Nemu-senpai diantara mereka.

Tepat pukul 07.30, pemimpin rapat tim merah memasuki kelas. Dia adalah Ukitake-sensei. Dia adalah guru seni yang lembut dan baik hati, cara mengajarnya juga menyenangkan. Beliau juga merupakan pembina klub minum teh di SMA Karakura.

"Baiklah, selamat pagi semuanya. Saya ucapkan terimakasih untuk kalian yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir di sini." Ukitake-sensei melihat ke arah daftar dan menaikkan sebelah alisnya. "Hmm.. masih ada sekitar 15 siswa lagi yang belum datang ya? Tak apa, kita mulai saja sekarang ya..."

Pertama-tama, Ukitake-sensei meminta kami saling membaur untuk berkenalan satu sama lain. Ada senpai yang bernama Shuuhei Hisagi yang wajahnya menyeramkan, lalu Nanao Ise yang dewasa. Di angkatan kelas 1, aku berkenalan dengan Hanatarou Yamada yang tampak gugup. Banyak sekali orang baru yang kukenal hari ini. Aku tak yakin dapat mengingat semuanya dalam waktu singkat.

Setelah acara berkenalan itu, Ukitake-sensei mulai mengambil pserta untuk setiap lomba. Selama itu, aku hanya diam, memandangi siswa-siswa lainnya mengacungkan tangan berebut posisi sebagai peserta lomba.

"Berikutnya, untuk lomba estafet, kita membutuhkan 4 pelari.."

"Saya!" Aku langsung menoleh ke arah Soi Fon yang mengacungkan tangannya dengan cepat di sampingku. Selain dia, ada seorang senpai bermata seperti kucing yang juga mengacungkan tangannya. Ukitake-sensei pun menuliskan nama-nama peserta lomba estafet.

Aku menghela nafas dan berharap rapat ini cepat berakhir saat seseorang membuka pintu kelas.

"Maaf saya terlambat!" ujar suara itu. Sosok pemilik suara itu bergegas masuk dan menempati tempat yang kosong setelah membungkukan badannya pada Ukitake-sensei. Toushiro Hitsugaya. Dia ada di tim merah juga?!

"Kau sih, hampir tiap hari terlambat!" celetuk seorang pemuda berambut merah di depanku. Hitsugaya-senpai hanya menjulurkan lidahnya membalas celetukan pemuda itu.

"Sudah.. sudah.. mari kita lanjutkan pembagian pesertanya."

Ukitake-sensei terus menuliskan nama-nama yang kebanyakan tidak kukenal di papan tulis kelas, termasuk namaku di sana. Kenapa ada namaku tertera di sana? Itu karena saat beliau membahas lomba mencari barang, Soi Fon mengacungkan tanganku—bukan tangannya—dan tanpa persetujuanku, Ukitake-sensei telah menulis namaku di sana.

Aku sedikit kesal pada Soi Fon yang sudah seenaknya mengajukan diriku sebagai peserta. Namun, aku baru sadar, aku kan tidak sedang berstatus 'milik seseorang' saat ini. Itu berarti aku tidak akan menghabiskan waktuku dalam festival olahraga tahun ini dengan kegiatan-kegiatan yang biasa kulakukan bersama seorang pacar.

To be continue


Author's Note:

Yosh, akhirnya saya update lagi! Gimana ceritanya? Ini masih belum masuk inti ceritanya sama sekali loh;) tapi saya kasih teman baru buat Momo~ saya skip dulu Ruki-Momo-Hitsu-nya hohoho...

Lalu, terimakasih untuk review di chapter 2-nya: Reiji Mitsurugi dan Izumi Zai3 atas usul dan dukungannya, juga untuk Heirin yang nggak log in, makasih yaa:D

Ohya, saya lupa ngucapin terimakasih buat akun 'Voidy' yang nggak log in dan ngasih review di cerita saya yg The Feeling Between Us :p maaf ya ga dibales di author's note, soalnya ceritanya udah tamat :p Terimakasih atas kritik, saran dan waktunya untuk membaca ff saya~

Sampai jumpa di chapter berikutnya! XD