Hetalia Axis Power © Hidekaz Himaruya-sensei
Just an Absurd Story ©AliceShotacon4Ever
Chapter 3 ― Berkunjung ke Rumah Bella
Warning(!): OOC, Typo(s), OCs, mengandung unsurhumu, humor failed(emang humor yak genrenya?), human name AU, mengandung kata-kata kasar+gahol tak jelas, ejaan yangdihancurkan, dan petualangan gak jelas, drabble, dan laennya.
Hints: Spamano | NetherNesia | Melayucest
Note: -Tulisan Italic (dalam hati)
-"..." (dialog)
Siang itu, Antonio berniat untuk mengunjungi Bella demi nilai 100 di kertas ulangan fisika-nya. Sekalian ngajak Lovino biar dia gak mikir yang macem-macem dan berakhir mengabaikannya selama―minimal―sebulan.
Siapa Lovino? Masa' gak tahu sih. Ituloh, saudara kembar Feliciano Vargas, cucunya kepsek HetaGakuen. Junior Antonio yang unyuk, imut, lucu, kawaeh, dan tsundere akut asal Italia. Intinya, Lovino Vargas itu pacarnya Antonio Carriedo.
"Kenapa sih harus belajar dengan Bella?" tanya Lovino lirih dengan muka kesalnya. Pasalnya, Bella itu lebih lama mengenal Antonio dan gadis yang cantik, baik hati, ramah, dan tisak sombong. Lovino cemburu? Jelaslah.
"Karena nilai fisika Bella yang paling tinggi di kelas, Lovi," jawab Antonio tertawa kecil, senang melihat wajah unyuk Lovino yang sedang kesal.
"'Kan bisa minta sama yang lain juga. Misalnya si…si kacamata itu."
"Hm? Maksudmu Roderich? Nah, dia sedang sibuk."
"Lalu, kenapa aku harus ikut? Aku 'kan belum belajar materi kalian."
"Aku gak mau diabaikan oleh Lovi selama setahun, jadi aku ajak aja sekalian."
"Alasan macam apa itu!? Dammit," omel Lovino lirih dan melanjutkan serangkaian kata-kata sarkastik lainnya.
Antonio hanya tertawa kecil melihat tingkah pacarnya yang lucu. Ekspresi dan tingkah laku Lovino selalu membuat Antonio gemas dan ingin mencubit kedua pipinya. Tapi, Antonio tahan karena tidak ingin di headbutt oleh Lovino. Dia masih sayang nyawa.
Dan, sampailah mereka di rumah Bella. Antonio menekan bel rumahnya. "Permisi, Bella, apa kau di rumah? Ini aku, Antonio, bersama Lovi. Kita punya janji belajar bareng siang ini!" seru Antonio.
Mereka menunggu selama lima menit sebelum pintu rumah terbuka, menunjukkan sosok gadis berambut coklat. "Oh, kau sudah datang! Hai Lovino, kau manis sekali hari ini," seru Bella.
"Siapa yang manis, bastard!?" seru Lovino blushing.
"Tentu saja Lovino~" Bella memeluk erat Lovino lalu mengajak kedua tamunya masuk, "ayo masuk, kita belajar di ruang tengah aja, ya."
Antonio dan Lovino melepas sepatu mereka dan memasuki rumah Bella. Di ruang tengah, mereka duduk di bawah dengan beberapa buku, alat tulis, dan cemilan di atas meja. Bella mulai mengajarkan Antonio berbagai hal yang memusingkan Lovino yang lebih memilih untuk main HP sambil ngemil.
"Bella, aku ingin ke toilet. Dimana toiletnya?" tanya Lovino.
"Hm? Ah, toilet dekat dengan dapur. Dari sini, kau belok ke sana, terus, belok ke kiri, pintu kedua dari kiri itu toiletnya," jelas Bella.
Lovino mengangguk dan menggumam 'makasih' lirih. Ia beranjak dan mengikuti arahan Bella. Lovino membuka pintu kamar mandi, dan membulatkan matanya.
"AAAAAA!" teriakan histeris terdengar hingga sudut-sudut rumah.
"Lovino!" Antonio langsung beranjak dan berlari menuju Lovino yang di ikuti oleh Bella.
"Lovino!" Antonio memanggil sang pacar yang mematung di depan sebuah kamar.
"Lovino, ada apa?" tanya Bella khawatir.
Lovino masih diam. Tetapi, dengan kamar gemetar, ia menunjuk ke arah kamar di depannya. Antonio dan Bella melihat ke dalam kamar dan shock seketika.
Di dalam kamar itu terdapat komputer, meja, beberapa buku, kardus, dan peti. Tetapi, yang menjadi masalahnya adalah gambar-gambar yang memenuhi kamar tersebut.
"Ke-kenapa banyak sekali gambar Rangga di dalam sini…!?" Antonio menatap tak percaya.
"A-aku tahu abangku memiliki obsesi terhadap Rangga, tapi, ini…" Bella masih shock, lalu menutupi mulutnya dan menggeleng-geleng, "ya ampun, aku harus membawanya ke psikiater."
"Si pedo itu mengerikan sekali, damn it," rutuk Lovino.
"Sebaiknya kita merahasiakan hal ini dari Nash agar kita tidak kena gorok olehnya," usul Antonio, "Lovi, mungkin kau harus mengabarkan hal ini kepada Razak, atau siapapun agar kesucian Rangga masih terlindungi dari pedo satu ini."
"Te-tentu saja, bastard, aku akan meng-SMS Razak," Lovino segera mengeluarkan HP-nya dan meng-SMS Razak.
Siang itu adalah siang dimana mereka di-shock-an oleh obsesi gila Nash terhadap Rangga.
TBC?
Holla manusia disana~! Masih hidupkah kalian?/digorok massa
Alice baru update sekarang dengan drabble yang begitu pendek, kenapa? Karena tangan ini terlalu males menulis apa yangs udah disediakan oleh otak/digorok massa lagi
Makasih buat semuanya yang udah baca, fav, follow, dan review, tentu saja~ I luv u all~
=Re:Review yg gak login=
-Makasih Femix, mudah2an makin kedepan ceritanya nggak garing dan semakin absurd~
-Makasih Nutttsss, yeah, kibarkan bendera yaoi~! Karena anda berbicara seperti itu, saia jadi ketularan bilang 'UKS' jadi 'UKEs' XD
Akhir kata, chapter selanjutnya mengandung bro!Germancest dan bro!USUK (mungkin slight romance), dan mungkin updatenya gak jauh2 dari awal2 Mei, karena chapter ini akan kudedikasikan kepada seseorang~ (aku panggil dia mom/ditabok dia)
RnR please~?
OMAKE
Semenjak saat itu, diam-diam, Antonio, Lovino, dan Bella mengawasi Rangga dari kejauhan, dan siaga lima ketika Nash dekat-dekat dengan Rangga.
Semenjak saat itu pula, Razak sangat menempel pada Rangga, terlebih ketika seorang berkepala tulip datang mendekat. Ia langsung menguarkan aura membunuhnya dan memeluk posesif abangnya.
"BERANI DEKETIN ABANG GUE, GUE GOROK LU, KEPALA TULIP!" teriak Razak.
"SIAPA YANG LO BILANG KEPALA TULIP, HAH, BONCEL!?" balas Nash.
Dan Rangga kebingungan, menatap orang-orang di sekelilingnya, meminta penjelasan.
