Jakarta, Here We Come
Review replies:
Makasih Rio Sawada, reviewnya bikin author semangat lagi nulisnya. Akibatnya chapter 3 jadi dalam 1 malem :D Yah, walaupun author gak tau apa itu artinya bojeng ._.
Desclaimer: I do not own Katekyo Hitman Reborn
Chapter 3
Malam itu, malam ulang tahunnya Jakarta yang ke 485. Lussuria mempersiapkan acara di taman apartemen mereka. Di meja berpayungnya sudah disiapkan 20 lidi kembang api, 10 petasan, dan sepasang ondel-ondel kecil. Memang sih, ondel-ondelnya gak kayak ondel-ondel biasa, karena yang bikin ondel-ondelnya adalah Lussuria. Kalau mau di deskripsiin, ondel-ondel itu lebih mirip kayak voodoo doll yang ditusuk-tusuk sama tusuk gigi yang udah dihias sama kertas warna-warni.
Disaat Lussuria mempersiapkan semuanya, yang lain malah asik-asikan di dalem apartemennya. Xanxus sedang bercengkrama dengan botol-botol winenya. Squalo lagi keramas pake Lifebuoy di kamar mandinya Fran karena keran di kamar mandinya patah. Levi lagi nungguin kalo-kalo bossnya ngundang dia buat minum bareng. Bel dan Fran lagi main uno di kamar Fran.
Tiba-tiba Levi dipanggil Xanxus. Levi udah kegirangan karena dia ngira kalo Xanxus ngajak dia minum bareng. Ternyata, Levi disuruh Xanxus buat manggil Squalo. Levi mengetuk kamar Fran, namun ia tidak melihat Squalo.
"Fran, Squalonya ada?" tanya Levi.
"Lagi...keramas," jawab Fran dengan nada datar. (Untuk lebih jelasnya, lihat iklan Lifebuoy *promosi*) Levi pun kembali ke ruang bossnya dengan tangan kosong. Kali ini Xanxus mau maafin dia.
Disaat Squalo lagi asik-asik ngebilas rambut, lampu tiba-tiba mati. Gak masuk akal kalo di apartemen bisa mati lampu, kan? Harusnya dia punya genset.
"VOOOOIII! BEL! FRAN! SIAPA PUN! NYALAKAN LAMPUNYA!" teriak Squalo dari dalam kamar mandi, suaranya yang keras itu menggema dengan sempurna.
"Ah.. Disini sangat gelap, terlalu gelap, aku tidak bisa mendengarmu Squalo-senpai," sahut Fran.
"Ushishi.. Bodoh. Yang benar tidak bisa melihat, Froggy,"
"KALIAN BERDUA! BAWAIN AKU SENTER, CEPETAN!"
Fran malas-malasan turun dari tempat tidurnya dan membawakan senter kepada senpainya yang sedang keramas itu, sementara Bel keluar kamar dan menuju taman.
"Bel-chan~ di dalam gelap ya? Aku sengaja mematikan listriknya agar kalian kesini dan melihat kembang api~"
"Ushishishishi.. Kapten hiu lagi keramas tuh, kukira kau sengaja karena mau bales dendam sama dia," Bel tertawa geli.
"Oh ya~? Ups~ maafkan aku, Squ-chan," Lussuria menyentuh pipinya sambil menyalakan listriknya kembali.
Akhirnya semuanya keluar menuju taman. Xanxus bersender di balkon yang ada di taman itu sambil melihat ke jalanan dibawah yang padat dengan mobil, motor, dan busway. Squalo masih aja ngeringin rambutnya pake anduk kecil yang bermotif hiu. Levi ngambil lilin dan korek api buat masang kembang api dan petasannya. Bel dan Fran udah siap megangin kembang apinya.
"Hei, kodok, liat sini,"
"Hm? Apa, Bel-senpai?"
Tuk! Bel menancapkan tiga lidi kembang api di atas topi kodoknya Fran.
"Senpai, apa kau yakin kau bisa hidup tanpaku?"
"Shishishi.. Kembang api tidak akan membunuhmu, froggy," Bel menyeringai.
"Pangeran gadungan, aku yakin sewaktu kau kecil kau tidak pernah main kembang api,"
"Tutup mulutmu, kodok. Tentu saja pangeran pernah. Dulu aku menancapkannya di sekeliling tempat tidur Rasiel dan menyalakannya sewaktu dia tidur, ushishishi.."
"Begitu ya? Kalau begitu pasti Rasiel-senpai membalasmu 10x lebih kejam,"
"Tidak. Pemenangnya adalah aku, Pangeran Belphegor. Sebaliknya, kau nggak pernah main kembang api sebelumnya, kan?"
"Aku pernah. Dulu nenekku yang beliin,"
"Hm.. Biar kuajarin kamu cara main kembang api yang bener," Bel pun menyalakan kembang api miliknya dan milik Fran. "Putar ke kanan, putar ke kiri. Tarik garis melengkung dari sini ke sana,..."
Kalau dilihat, kembang api milik Bel ngebentuk gambar kodok persis kayak di topinya Fran, tapi Fran gak nyadar, dia malah ngegambar Squidward.
Jam 00.00, semua mulai masuk ke kamarnya masing-masing untuk tidur. Tapi Bel enggak. Dia malah ngebuka laptop dan mraktekkin pelajaran TIK kemaren, How to send an e-mail to your friend. Dia agak sedikit mabuk karena meminum 1 botol wine milik Xanxus, tapi ia tetap bersikeras untuk ngirim emailnya.
"Jadi, pertama-tama Sign In, trus compose," Bel ngomong sendiri sambil mengeklik sana-sini.
"Di kolom To, isi alamat emailnya, hmm.. FQI_ftw/at/yahaa" (*remove slash, untuk review, baca ulang chapter 1)
"Kolom CC, gak usah diisi. Lalu, isi pesannya,"
Dan isi pesannya:
Dear FQI, sekitar seminggu yang lalu saya ngeliat di berita kalo Lady Gaga gak jadi konser di Jakarta gara-gara anda. Apakah anda yakin? Saya akan mengunjungi anda dan saya yakin anda akan berpikir dua kali setelah anda membaca ini. Saya adalah seorang mafia terkenal di Italy, bersiap-siaplah.
P.S.: dimana kantor anda?
Dari Belphegor, Prince the Ripper. Bloody hell, bloody heaven, bloody Bel~
Paginya
"Hoammmm," Fran mematikan alarmnya. Ia lalu keluar dan menuju ke dapur. Belom ada satu orang pun yang bangun, jadi belom ada sarapan. Fran akhirnya pergi ke ruang tv terus nyalain tv plasmanya itu.
"Tadi malam, FQI mendapatkan surat aneh yang sepertinya pengirimnya adalah salah satu dari fans Lady Gaga. Berikut adalah isi suratnya," kata si pembawa berita sambil membacakan isi suratnya itu. Begitu ngeliat bagian bawahnya, Fran langsung mematikan tvnya.
"Pangeran gadungan yang bodoh,"
"Siapa yang kau panggil bodoh, kodok?" Bel datang tiba-tiba.
"Pangeran gadungan,"
"Maksudmu aku? Aku bukan pangeran gadungan!"
"Yaudah, kalau kau nggak merasa berarti bukan kau,"
Bel menaikkan satu alisnya. Ia merebut remote tv dari tangan Fran dan nyalain tvnya lagi.
"Diketahui pengirimnya adalah Belphegor. Ia beralamatkan email princetheripper/at/yahaa (*remove slash). Lalu apakah tanggapan FQI? Tunggu setelah pariwara berikut ini." Kata pembawa berita itu lagi.
"Sial! Seseorang memalsukan namaku!" Bel terlihat agak kaget.
"Bukannya itu kau, senpai?"
Bel memegang kepalanya yang terasa sakit karena mabuk tadi malam.
"Sebenarnya aku inget aku ngirim email ke FQI, tapi aku nggak sebodoh itu buat nanyain alamat mereka secara terang-terangan," cengiran yang biasanya ada di wajah Bel sekarang pudar.
"Ada apa ini, pagi-pagi kok sudah ribut~? Pasti kalian lapar," kata Lussuria si ibu rumah tangga.
"Aku lapar, mama~" kata Fran dengan nada datarnya sambil mendekati Lussuria.
"Mama?" Bel bingung. "Fran, sepertinya konser itu akan tetap dibatalkan." Bel menjelaskan kepada Fran.
"Itu kan kabar gembira, senpai, harusnya kau senang."
Bel menghela nafas yang panjang.
"Nah, wala~ omelet ala chef Lussuria~ sudah matang~"
Bau omeletnya yang harum itu membuat musik keroncong dalam perut Fran dan Bel berputar dengan merdu.
"Pangeran mau sambel sama kerupuk."
"Aku juga," kata Fran.
"Coming~" sahut Lussuria.
Bersambung..
Terlalu pendek-kah? Author stuck ~_~
Ide, ide, datanglah..
