Hai! :D
ok, maaf karena updatenya super lama yaa...
makasih buat yang nunggu...
makasih juga buat yang sudah baca, review, fave sama alert story ini! :D
thnks to...
ARIA NAMA SAMARAN
LI KARU
YAHIKO NAMIKAZE
RISUKI TAKA
SARUWATARI YUMI
HARUNOZUKA
RENTON NAMIKAZE MUALANK INSIDE
MUGIWARA 'YUKII' UZUMAKISAKURA
NAIKO-HIME ARIZUNO
HIKARU KIN
MIYA-HIME NAKASHINKI
BRIAN123
DEIDEI RINNEPERO13
NARA AIKO
MEG CHAN
AND ALL SILENT READERS! :D
DISCLAIMER: Masashi Kishimoto
WARNING! alur cepat! OOC, typos! dont like dont read!
enjoy! :D
CHAPTER 3
.
.
.
.
.
SAKURA'S POV
.
.
.
.
.
"Sa-Sasuke-kun?"
Lelaki berambut raven tersebut memalingkan matanya dari Naruto dan menatapku. Tangannya masih mencengkeram pistol, siap untuk melancarkan tembakan lagi.
"Sakura." Nada suaranya yang dingin membuat tubuhku bergidik.
"Kau kenal lelaki ini?" Naruto Uzumaki menunjuk ke arah Sasuke Uchiha. Mata biru Naruto yang tajam mendelik ke arah Sasuke. "Entah kenapa…" Lelaki yang kononnya berasal dari dimensi lain itu menatap Sasuke dari atas sampai bawah. "Rasanya aku mengenal lelaki ini dan entah mengapa aku merasa kesal hanya dengan melihat wajahnya."
"K-kenapa kau ada di sini?" Aku mengabaikan Naruto dan menatap Sasuke dengan perasaan bingung bercampur takut. Tanpa sadar, pandanganku sudah teralihkan dari wajahnya. Mataku mulai terpaku pada tangannya yang menggenggam pistol. "Tanganmu…" Suaraku hilang di balik kecemasan ketika melihat cairan berwarna merah gelap yang meluncur dari tangannya. Aku langsung berlari mendekati Sasuke dan dengan tangan yang bergetar, aku mencoba untuk merobek lengan kaus yang menutupi lukanya.
"Sakura-chan?" Naruto berseru dengan bingung ketika melihatku yang mulai menyeka darah dari lengan lelaki yang menembak tadi. "Kau menolongnya? Kukira dia itu mencoba untuk membunuhmu?"
"Membunuh Sakura?" Sorot mata Sasuke yang dingin seakan-akan mulai terbakar oleh kebencian. Mengabaikan luka terbuka di lengannya, dia kembali mengangkat pistol tersebut dan membidikkan pistol ini di depan Naruto. "Siapa kau? Sebutkan nama grup yakuza yang kau pimpin sebelum kau kutembak mati."
Naruto hanya bisa melongo mendengar ancaman tersebut. "Yakuza? Apaan tuh? Lagipula…" Tiba-tiba lengan Naruto bergerak dengan sangat cepat sehingga tangannya seakan-akan menghilang. "… kau tidak bisa membunuhku dengan mainan itu."
Mata Sasuke terbelalak ketika dia melihat pistolnya yang sudah terbelah menjadi dua.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu membawa-bawa mainan konyol seperti itu." Naruto mulai memasang tampang serius. "Tapi meski pun itu mainan, takkan kubiarkan benda itu melukai Sakura-chan."
Meski tidak lagi bersenjata, Sasuke masih menatap Naruto dengan sorot mata yang penuh akan kebencian dan amarah. "Benda itu kugunakan untuk melindungi Sakura." Dia mendesis dari sela-sela bibirnya. "Dan peluru yang kau belah tadi seharusnya menembus otakmu."
"Hah? Besi yang kubelah tadi bisa menembus otakku? Kau bercanda!" Naruto mendengus. "Kalau kau mau berduel denganku secara adil, akan kupinjamkan kunai ini!" Naruto menyodorkan pisau baja hitam.
"Duel?" Sasuke mengerutkan kening. "Kunai?"
"Duel sesama ninja." Naruto mengangguk. "Kalau mau kau boleh menggunakan kunai." Lelaki berambut pirang itu menyodorkan senjata yang ada di tangannya. "Atau kau mau menggunakan bom kertas dan shuriken? Aku tidak peduli."
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sasuke melongo. Aku menepuk keningku, tidak tahu harus tertawa atau segera menjelaskan situasi ini kepada mereka berdua.
"Sakura," Sasuke Uchiha yang sempat melongo itu menoleh ke arahku. "Dia ini… orang gila?"
"Sakura-chan," Naruto ikut menoleh ke arahku. "Siapa pembunuh konyol yang mencoba membunuh dengan mainan ini?"
"Aku bukan pembunuh konyol." Sasuke kembali mendesis.
"Dan aku bukan orang gila, dattebayo!" Naruto menggeram.
Diam-diam, aku kembali menepuk kening sambil menggelengkan kepala. Entah bagaimana cara untuk menjelaskan situasi rumit ini. Bahkan wanita yang mempunyai nilai terbaik di universitas Tokyo sepertiku tidak tahu caranya. Namun aku tahu satu hal. Kesalahpahaman ini membawa benih kebencian antara mereka berdua.
"Sasuke-kun, kau harus ke rumah sakit." Akhirnya aku berhasil menemukan suaraku. "Lenganmu robek karena pecahan kaca…"
"Tidak sampai kau menjelaskan siapa lelaki ini."
"Huh! Kau mau tahu siapa aku?" Naruto mendengus. "Naruto Uzumaki, 27 tahun! Menjabat sebagai hokage keenam di Konohagakure! Sekarang giliranmu untuk memperkenalkan diri, pembunuh konyol!"
Aku kembali menepuk kening ketika melihat mata Sasuke yang mulai kosong. Setelah terdiam sesaat, akhirnya Sasuke bisa menemukan suaranya.
"Aku tidak perlu mengenalkan diriku pada orang gila sepertimu." Dengan tangan yang satu lagi, dia meraih iphone yang tersembunyi di balik sakunya.
"Tunggu, Sasuke-kun! Jangan menghubungi rumah sakit gila dulu!" Dengan panik aku merampas iphone tersebut.
"Sakura-chan, sebenarnya siapa cowok ini?" Naruto mulai kehabisan kesabarannya.
"Anu… dia ini…" aku berdehem sekali. "Tunanganku."
Kali ini Naruto yang melongo.
"Tunanganmu mau membunuhmu?"
Aku kembali menggelengkan kepala sambil menepuk dahi. Entah bagaimana aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini…
.
.
.
.
.
"Masih sakit?" Aku bertanya pelan sambil melilitkan perban di sekeliling luka Sasuke. Lelaki itu menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari sosok Uzumaki Naruto yang duduk tidak jauh dari kami.
"Jadi…" Naruto mengerutkan kening sambil memejamkan matanya. "Menurut penjelasan si teme ini…"
"Diam, dobe."
Naruto membuka mata dan mendelik ke arah Sasuke, membuat tunanganku balas mendelik.
"Dia hanya ingin melindungiku, Naruto." Untuk kesekian kalinya, aku menghela napas. "Dia itu menembak ke arahmu ketika dia melihat kau terlalu dekat denganku. Ingat tidak? Ketika kita bercakap-cakap di sofa, sebenarnya Sasuke sudah ada di luar rumah dan hendak masuk ke dalam. Namun, kau tiba-tiba membekap mulutku dan meraih kunai-mu itu!" Aku menunjuk ke arah pisau baja yang tergeletak di lantai. "Lalu, Sasuke-kun meraih pistolnya dan menembak ke arahmu yang berdiri dekat padaku. Makanya aku mengira kalau sebenarnya tembakan itu diarahkan padaku, tapi sebenarnya diarahkan padamu!"
"Memangnya aku terlihat begitu mencurigakan sampai-sampai dia ingin melukaiku?" Naruto mendengus. Aku menatap Naruto dari atas sampai bawah. Di keningnya melekat ikat kepala berlambang aneh. Dia mengenakan rompi hijau dengan celana hitam. Dia membawa benda aneh seperti kunai, bom kertas dan semacamnya. Selain itu, dia mengenakan jubah putih yang bertuliskan 'Rokudaime'.
"Yah…" aku menggelengkan kepala. "Aku tidak menyalahkan Sasuke-kun yang mengiramu sebagai anggota yakuza. Aku sendiri beranggapan seperti itu ketika aku bertemu denganmu."
"Yakuza itu apa?"
"Sasuke-kun, percaya atau tidak, dia ini berasal dari dimensi yang lain." Aku mengabaikan Naruto. "Dia berasal dari dunia ninja, dan dia adalah pemimpin di sana dan dia juga bisa menggunakan jurus-jurus ajaib yang tidak bisa diciptakan oleh teknologi sekarang."
Sasuke menaikkan salah satu alisnya. "Sakura, dia ini penghipnotis kan? Dia menghipnotismu sampai seperti ini."
Naruto mendengus. Di detik kemudian, dia sudah memainkan jarinya. "Henge no jutsu!" Tiba-tiba, tubuh Naruto dipenuhi asap dan ketika asap itu menghilang aku tidak bisa menemukan sosok Naruto melainkan sosok seorang lelaki berambut raven dengan kaus berlengan panjang hitam.
"Mmm, percaya sekarang?" Suara Sasuke yang dingin melesat keluar dari mulut 'Naruto'.
Aku masih melongo. Padahal aku sudah pernah menyaksikan perubahan wujudnya, namun aku masih tetap terpana. Dengan ragu, aku menoleh ke arah Sasuke, penasaran akan reaksinya. Berbeda denganku, Sasuke tidak melongo atau menjerit. Dia hanya terduduk diam dan menatap Naruto yang bersosok dirinya.
"Hanya ilusi, kan? Percuma saja menipuku." Dia mendengus. "Sakura, jangan mau ditipu orang in…"
"Kage bunshin!"
Di detik kemudian, sepuluh orang Sasuke sudah mengelilingi kami dan masing-masing di antara mereka mengulurkan tangan dan menyentuh Sasuke yang asli. "Masih ilusi?" Mereka bersepuluh bertanya dengan waktu bersamaan. "Kalau kau mau, aku bisa membuat seribu orang teme sekarang juga."
"T-tidak perlu." Aku cepat-cepat menggeleng. "Sasuke-kun? Aku tidak berbohong kan?"
Sasuke tidak menjawab, namun wajahnya memucat ketika dia melihat 'dirinya' yang menghilang dengan bunyi 'poof'.
"Jadi… si teme ini tunanganmu?" tanya Naruto yang sudah kembali pada sosok asalnya.
"Orang tua kami yang memutuskan. Yah… kami tidak pernah bertingkah sebagai sepasang tunangan…" aku melirik ke arah Sasuke yang memejamkan matanya sambil menggelengkan kepala. Sepertinya Sasuke ingin memastikan bahwa hal ini bukan mimpi. "Lebih tepatnya, kami ini teman sejak kecil." Memang, aku dan Sasuke sudah berteman sejak umur kami lima tahun. Bagiku, Sasuke sudah menjadi saudaraku yang kedua. Aku tidak yakin kalau aku mencintainya atau tidak. Aku tahu kalau aku menyayanginya sebagai keluarga. Tapi… cinta? Sebagai seorang kekasih? Aku tidak tahu… Mata onyx Sasuke terbuka dan dia menatapku lekat-lekat.
"Cukup omong kosongnya." Sasuke beranjak dari kursi dan menarik tanganku. "Di sini berbahaya. Aku mendapat kabar kalau ada pembunuh yang sedang menuju ke sini."
Mataku terbelalak. Pantas saja Sasuke datang ke rumah sambil membawa pistol. Sepertinya dia mengira kalau Naruto itulah pembunuhnya dan langsung melancarkan tembakan. "Ja-jadi bagaimana?" Dadaku kembali berdetak kencang.
"Tinggalkan tempat ini."
"Tidak bisa! Siapa tahu pembunuh itu ada kaitannya dengan kematian keluargaku! Kita harus menangkap orang itu dan mencari informasi darinya!"
"Pembunuh itu handal, Sakura." Sasuke mendelik ke arahku. "Mata-mataku tidak pernah salah."
"Tapi…" aku ingin melawan, namun ucapan Sasuke membuatku tersentak. "Mata-mata?" Aku mengerutkan kening. "Jadi kau sudah mencari informasi sang pembunuh? Kalau tidak kau tahu dari mana dia itu handal?"
Sasuke terbungkam mendengar pertanyaanku. "Aku harus membawamu ke tempat yang aman dulu…"
"Jawab, Sasuke-kun!"
Sasuke terdiam sesaat. Dia terlihat ragu untuk memberikan informasi kepadaku. "Kalau analisaku tidak salah, namanya Orochimaru. Dia… tidak pernah gagal dalam membunuh."
"Apa pun itu, kita harus menangkapnya, Sasuke-kun!" Aku berbisik. "Tidak akan kubiarkan ddan aku sempat bingung apa penyebabnya. Aku sama sekali tidak sadar kalau air mata kemarahan sudah menggenang di pelapuk mataku. Wajah Papa, Mama dan Sato masuk ke dalam pikiranku satu per satu. Aku tahu bahwa penyebab kematian mereka sama sekali tidak masuk akal. Mobil terbaru yang tiba-tiba meledak itu membuat mayat keluargaku hangus dan tidak bisa dikenali. Hasil autopsi sama sekali tidak membantu. "Aku tidak peduli meski pun aku harus menghubungi dan meminta bantuan anggota kepolisian spesial di Jepang ini untuk menangkapnya!"
"Kau tahu kalau mereka tidak percaya pada ceritamu." Sasuke mendelik ke arahku. "Keluargamu dibunuh secara misterius. Orochimaru membunuh mereka dengan cara yang aneh dan tidak logis. Bagaimana kau mau menghadapi orang seperti itu?"
"Pasti ada cara! Pasti ada car…"
"Kalian ini membicarakan apa sih?" Naruto mengerutkan kening sambil memainkan kunainya. Dia memilin kunai tersebut dan tiba-tiba, kunai tersebut menghilang dari tangannya. "Aaa…" Naruto meringis pelan ketika melihat kunai itu menembus tembok rumahku. "M-maaf! Aku tidak sengaja, dattebayo!" Dia menatapku dengan panik.
Aku terdiam. Kalau aku yang biasa, pasti Naruto sudah kumarahi habis-habisan. "Hal tidak logis harus dibalas dengan yang tidak logis juga, bukan begitu, Sasuke-kun?" Aku memalingkan mataku dari kunai yang menembus tembok itu.
"Sakura, jangan-jangan kau bermaksud…" Sasuke mengerutkan kening dan menatap Naruto.
"Dia bisa berubah wujud, menggandakan dirinya, membelah pistol beserta peluru, lalu dia bisa bergerak secepat kilat ditambah dengan kekuatannya yang sangat besar!" Mataku berseri-seri ketika menatap Naruto yang mengerutkan kening.
"Kalian membicarakanku?" tanyanya, bingung.
"Tentu saja! Kau tidak mempan terhadap apa pun, kan? Peluru saja tidak bisa mendekatimu!" Aku berseru dengan wajah berseri-seri.
"Mmm… tentu saja ada sesuatu yang mempan terhadapku…" Naruto mengerutkan kening. "Misalnya… obat bius? Racun sih agak…"
Entah mengapa, suara Naruto seakan-akan menghilang. Kepalaku terasa berputar-putar dalam sekejap. "Lho…?" suaraku sendiri perlahan-lahan menghilang. Samar-samar, aku mendengar bunyi benturan di sisiku. Sasuke-kun?
"Hei! Hei! Sakura-chan?" Naruto hendak mendekatiku, namun pemandanganku menjadi samar-samar. Sosok Naruto mulai lenyap dari pandanganku. Sebelum kusadari, mataku sudah tertutup rapat dan di sekelilingku hanyalah ada kegelapan. Apa… yang akan terjadi pada diriku?
.
.
.
.
.
NORMAL POV
.
.
.
.
.
Burung-burung berkicau dengan lembut dan mendarat di atas patung wajah para Hokage di Konohagakure. Meski pun desa tersebut dilengkapi oleh ekonomi yang stabil dan ninja-ninja kuat yang bisa diandalkan, situasi di tempat tersebut menunjukkan kepanikan.
"Bagaimana ini bisa terjadi!" Seorang wanita berambut pirang panjang membenturkan kepalan tangannya di atas meja, membuat meja kayu tersebut hancur berantakan dalam sekejap.
"Tenangkan diri anda, Tsunade-sama!" Wanita lainnya yang berambut hitam pendek berusaha menenangkan wanita yang dulu bersandang gelar 'godaime' tersebut. "Saat ini Kakashi-san bersama anggota ANBU sedang mencari Naruto-kun. Kita pasti menemukannya tidak lama la…"
"Aku meragukan hal itu, Shizune-san."
"Shikamaru-kun!" Wanita berambut hitam yang dipanggil Shizune itu menatap Shikamaru Nara dengan panik. Shikamaru, lelaki yang diberi jabatan ketua para jonin sekaligus ahli strategis terhebat di Konoha itu mengerutkan kening, berusaha berpikir.
"Sudah nyaris sehari sejak Naruto menghilang. Bahkan tim pelacak inti Konoha tidak bisa menemukan cakra Naruto di Konoha ini." Lelaki tersebut menatap Shizune dengan serius. "Naruto menghilang secara misterius."
"Omong kosong! Tidak mungkin ada jurus yang bisa melenyapkan sesuatu secara tiba-tiba!" Tsunade Senju berseru, menahan amarahnya. Tidak ada warga luar yang tahu kalau rokudaime mereka, Uzumaki Naruto, lenyap secara misterius. Hanya tim ninja ini yang dibentuk Naruto saja yang tahu akan hal ini.
"M-maafkan aku…" sebuah isakkan pelan dari pojok ruangan kerja Hokage ini membuat amarah Tsunade lenyap. Tsunade menolehkan kepalanya dan menatap gadis kecil berkepang yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan. "S-semua ini salahku… A-aku yang salah sampai-sampai Hokage-sama…"
"Tenangkan dirimu, Sani…" Shizune mendekati gadis yang berusia delapan tahun tersebut. "Hokage kita tidak lemah. Dia pasti baik-baik saja di suatu tempat yang tidak kita ketahui. Kita akan segera menemukannya."
Terdengar sebuah ketukan di pintu ruangan ini. "Aku baru kembali dari misi." Neji Hyuuga masuk ke dalam ruangan. Mata kelabunya menatap Shikamaru dengan panik. "Aku langsung kembali ketika menerima pesan darimu. Apa yang terjadi? Ada apa dengan Naruto?"
"Semalam, ketika Naruto baru kembali dari rapat penting di Suna, dia melihat gadis ini…" Shikamaru menunjuk ke arah Sani yang masih menangis. "… berkeliaran di perbatasan Konoha. Naruto langsung meninggalkanku dan Sasuke untuk menyuruh gadis itu kembali ke desa. Namun, sepertinya gadis ini tidak keluar dari desa dengan niatnya sendiri. Tubuhnya dikendalikan sesuatu dan kami sama sekali tidak sadar akan hal itu. Naruto pergi sendirian dan menyuruh kami untuk kembali duluan ke desa." Shikamaru menggigit bibirnya.
"Lalu?"
"Hal berikutnya yang aku tahu, terlihat sinar terang dari arah hutan dan ketika aku pergi ke sana… Naruto tidak ada. Yang ada hanyalah Sani yang tergeletak pingsan dan mayat seorang lelaki."
"Mayat?" Neji mengerutkan kening.
"Kemungkinan lelaki itu menggunakan jurus terlarang yang sudah dikabarkan lenyap." Shikamaru menatap Neji dengan serius. "Jurus pemindah dimensi. Si pengguna jurus akan mati seketika dan tidak ada yang tahu di mana perginya orang yang terkena jurus itu."
"I-ini semua salahku! Salahku!" Sani kembali menangis tersedu-sedu.
"Sani, sayang, kau dirasuki. Kau dikendalikan untuk menjebak Naruto. Kau tidak bersalah." Shizune mengelus rambut sang gadis, berusaha menenangkannya.
"Sekarang ninja medis inti sedang melakukan autopsi, berusaha untuk mengungkap rahasia jurus tersebut dari mayat lelaki yang mati seketika itu." Shikamaru menggaruk kepalanya. "Sampai hasil autopsi keluar, kita tidak bisa berbuat apa-apa…"
"Aku akan ke ruang autopsi sekarang." Tsunade menggeram dan hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu Tsunade-sama! Saat ini Sakura yang sedang memeriksa kondisi mayat tersebut! Ruangan itu masih belum bisa dimasuki!"
"Tsunade-sama, aku tahu kau sedang merasa gelisah," Shikamaru berdiri di depan pintu. "Namun segelisah apa pun kita sekarang, dia pasti merasa sangat ketakutan dan gelisah sekarang."
"Tugas anda sekarang menggantikan Naruto sebagai hokage." Shizune berusaha menahan air matanya. "Pastikan kalau kabar tentang menghilangnya Naruto tidak menyebar di negara lain… Anda harus memimpin para ninja dan menjaga keamanan desa ini… Sakura… mengatakan hal tersebut sebelum dia masuk ke ruangan autopsi…"
Tsunade menggigit bibir. Memang, sebentar lagi para penasihat Konoha pasti sadar kalau Naruto menghilang. Sebagai orang yang pernah menduduki posisi Hokage, dia harus melindungi Konoha. Ninja misterius yang mengirim Naruto ke dimensi lain itu pasti berasal dari sebuah organisasi hitam. Menurut analisa Shikamaru, organisasi tersebut ingin menyerang Konoha dan satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah menyingkirkan Naruto karena dia adalah orang terkuat di Konoha ini. Sekarang, penyerangan itu bisa terjadi kapan saja. "Aku harus melindungi tempat ini." Wanita tersebut bergumam. "Kumpulkan semua jonin yang masih ada di dalam desa dan panggil yang sedang melakukan misi sekarang!" Tsunade berseru kencang. "Shizune! Kumpulkan beberapa anggota dari tim pelacak dan suruh mereka berjaga-jaga! Segera laporkan kalau mereka melacak cakra asing dari luar atau dalam desa!"
"Baik!" Shizune langsung keluar dari ruangan.
"Shikamaru! Selidiki asal-asal jurus terlarang itu! Temukan petunjuk meski pun hanya sedikit!" Tsunade mengibaskan lengannya. "Neji, bawa Hinata dan beberapa pengguna byakugan lainnya dan selidiki seluruh desa ini! Jika ada tanda-tanda penyerangan segera beritahu!"
Mendengar perintah tersebut, Shikamaru dan Neji langsung melesat keluar dalam sekejap.
"Kita tidak ada waktu lagi…" Tsunade mendesis pelan. "Mereka akan segera merasakan akibatnya karena meremehkan Konoha!"
Naruto… di mana kau?
TBC
makasih udah baca! :D
maaf kalau banyak salah, buru-buru ngetiknya... :p
oh ya... The Hentai Bodyguard sebentar lagi selesai yaa, nanti kuupdate secepatnya! :D
mind to review? :)
