Title : Mon Affaire chapter 3
Desclaimer : Hetalia (c) Hidekazu Himaruya
Rating : M
Pairing : China/France, France/Uk. China/Russia + Hongkong
Summary : Mon Affaire, sepertinya hubungan kita adalah karma. Perasaanku tidak dapat kuubah lagi padamu. Mon Affaire, apakah kita dapat bersatu untuk selamanya? Aku sudah mulai mencintaimu dan tergila-gila padamu!
Note:1 POV… karena ga sempet buat China's POV…
.
.
Chapter 3 France POV : My Heart Empty Without You
Mon Ami, tahukah kau bahwa hatiku sudah sepenuhnya milikmu. Tahukah kau bahwa hatiku sakit bila bersamamu. Aku telah mencintaimu! Aku telah jatuh hati padamu! Dan kaulah seumur hidupku.
Apakah perasaanku tidak bisa berubah menjadi suka pada orang lain? Kenapa aku tidak bisa menyukai orang lain selain dirimu? Mon Ami, kau segalanya bagiku. Aku akan selalu memberikan semuanya untukmu.
Begitulah pikirku selama ini. Entah sejak kapan, aku sudah tidak berpikir seperti itu lagi. Kini aku tengah menikmati permainanku bersama dengan Mon Affaire.
"Ah—, China—"
Aku kini tengah melakukan hubungan intim dengan Mon Affaire. Malam ini begitu hangat, kami berpelukan dan berciuman seperti layaknya sepasang kekasih. Begitu bahagia diriku berpasangan dengan pria Asia ini. Ia tidak seperti England yang selalu menghajar, menghantam dan meremukan tubuh indahku. Aku bahkan mendapat perlakuan lembut dari pria ini. Aku begitu bahagia.
Aku memeluknya erat. Nafasku membara, wajahku memerah padam. Aku rasa aku mulai mencintainya. Tapi, aku tidak boleh melakukan lebih dari ini, karena ini hanyalah permainan. Aku masih tidak ingin melepaskan England.
Ya, akhir-akhir ini aku sudah jarang memikirkan kekasihku. Setiap hari dan disetiap malamku hanya ada China yang ada dipikiranku. Bukan aku mulai tidak menyukai kekasihku, tapi perasaanku mulai mendingin. Aku masih mencintai kekasihku, tapi rasa cintaku tidak bisa seperti dulu lagi. Cintaku menjadi setengah hati. Aku dapat merasakan kebahagiaan terhadap pria asia ini dibanding kekasihku. Apakah aku boleh berbahagia seperti ini?
"F—France—" rintih pria berkuncir kuda itu. "Didalam! Keluarkan didalam, aru!"
Ia terengah-engah menahan rasa sakit di bagian bokongnya. Aku baru saja memasukan vital regionku kedaerah itu. Kami kembali melakukannya.
.
.
xxXXxxXXxx
.
.
"Setelah ini kau harus segera pulang, aru!" ucap pria Asia itu tegas.
"Ya, aku tahu" ucapku sambil mengemut sumpit bambuku dimulut. Kami tengah makan berdua dimeja makan dan entah mengapa Hongkong tidak terlihat sejak kemarin malam. "Hei, dimana adikmu?"
"Entahlah, mungkin dia sedang sibuk mengurus hal yang lain, aru"
"China" ucapku. "Apa hubungan kita hanya sebatas ini saja?" tanyaku sedih. Ia tampak tersentak mendengar pertanyaanku. "Akuu—"
"Aku tahu, France" ucapnya memotong kalimatku. "Aku juga merasakan hal yang sama didadaku, aru"
Kini gilaran diriku yang tersentak kaget. Kutatap wajahnya yang memerah padam itu dan menatapku dengan wajah menggoda.
"Aku jadi menyukaimu, aru" lanjutnya.
Satu kalimat itu membuat wajahku memerah padam. Aku tidak menyangka bahwa China juga mencintaiku. Aku mengkecup bibirnya dan memeluknya erat.
"J'taime, Mon Affaire" ucapku.
"Aku akan bicara pada Russia, aru" ucapnya tampak sedih. Ia tampak tidak ingin berpisah dengan kekasihnya.
"Jangan!" ucapku menggenggam tangan China. "Untuk sementara jangan kau katakan dulu!"
"Kenapa, aru?"
"Pikirkan saja dulu semuanya baru kau katakan!"
Sejak saat itu kami berdua kembali menjalankan kisah kehidupan kami. Cinta kami tulus dan murni. Terkadang kami kencan berdua, merayakan perayaan berdua, dan tentu saja aku dapat apapun yang kuinginkan dari pria Asia ini.
Berbeda saat bersama England, aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya. Walau terkadang aku mendapatkannya. Tapi untuk mendapatkan hal itu, sangat lama sekali dan tergantung dengan moodnya. Jujur aku merasa sangat bahagia dengan pria Asia ini dan aku tidak merasakan sakit hati seperti saat aku bersama dengan England. Aku merasa dicintai dan sebanding tanpa harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan seperti yang selama ini aku rasakan.
"Hari ini aku mau membuat kue, kau mau?" tanyaku sambil menggenggam tangan China dengan eratnya. Kami baru saja pulang belanja bersama di daerah Guangzhou.
"Kue? Ya bolehlah. Jarang-jarang aku makan kue, aru" ucapnya yang membalas genggamanku. Kami berdua tersenyum dan tertawa bersama sambil membawa belanjaan kami. Kami begitu asyik dengan kemesraan kami tanpa kami sadari bahwa seseorang telah memperhatikan kami.
Kami pulang kerumah China namun tidak melihat Hongkong dimana-mana. Kami mencarinya tapi ia tidak ada dimanapun.
"Yasudah, buat saja nanti kita sisakan untuknya, aru" ucap China semangat.
"Oui, Mon Cher" jawabku.
Aku membuat kue bersama dengan Mon Affaire. Kami melakukan kegiatan ini seperti layaknya pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Kami tertawa bersama, masak bersama, makan bersama dan lainnya. Saat sedang tertawa bersama, aku mengkecup leher China hingga membiru. Aku telah melakukan kiss mark padanya. Ia tampak bahagia.
Malampun tiba, kini waktunya aku harus pulang. Aku tidak menginap karena Russia akan datang malam ini. Saat aku ingin keluar dari rumah China, aku melihat Russia datang sebelum waktunya.
"Ru—Russia?" pekik China tersentak kaget.
Russia menatap kami dengan wajah tidak enak. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat disini. Disini hanya ada aku dan China berdua tanpa Hongkong. Ia menatapku dengan tajamnya.
"Ah, apa kabar?" ucapku enteng tanpa rasa bersalah.
"Russia, bukankah kau mau datang jam delapan, aru?"
"Tadinya aku memang ingin datang jam delapan, tapi tugasku sudah selesai semua dan aku ingin segera bertemu denganmu" jelas Russia dengan tawa dingin. "Lalu, mengapa ada France disini, da?"
"Aku? Aku Cuma mampir karena kebetulan lewat" jelasku berbohong.
"Oh begitu" Russia masih tersenyum tanpa ada rasa curiga.
"Aku pulang ya karena urusanku sudah selesai" ucapku. Sebelum aku pergi, Russia menghantamkan tangannya tepat ke tiang yang ada disebelah wajahku. Wajahnya tersenyum tapi auranya berbeda dengan senyumannya. Aku tersentak kaget, begitu juga dengan China.
"Kau tidak mengapa-apai kekasihku, kan?" tanyanya dengan senyuman maut miliknya yang bisa membuat anak orang menangis terbahak-bahak. Aku mulai keringat dingin.
"Tentu saja tidak, mau aku apakan pacarmu?" ucapku berbohong. "Aku kan sudah punya England"
Dia tetap menatapku seakan ingin membunuhku, namun dengan santainya, kusingkirkan tangannya dan segera berlalu.
Aku kembali kenegaraku, ke rumahku. Sesampainya dirumah, kudapatkan England sedang terduduk di sofá ruang tamuku tanpa cahaya lampu.
"Hei, hei! Kenapa kau gelap-gelapan begini?" tanyaku seraya meraih kontak lampuku untuk menyalakan lampuku.
"Jangan dinyalakan!" ujarnya. Terlambat, aku sudah terlanjur menyalakan lampu. Kutatap wajah manis kekasihku yang tampak kecewa.
"Kau kenapa?" tanyaku kaget. Aku mendekatinya tapi ia menyuruhku menghentikan langkahku.
"Jangan mendekat!" pintanya lantang. Wajahnya tampak sembab seperti habis menangis. "Aku ingin kau jujur padaku!"
Aku terdiam mendengarkan kalimat kekasihku.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanyanya parau. Aku tersentak. Pertanyaan yang diluar dugaanku dan tidak pernah kubayangkan pertanyaan itu dilontarkannya.
Aku tersenyum dan mendekatinya. Ia tidak menahanku dan menyingkirkanku saat aku menyentuh wajahnya dan menggenggam erat tangannya. Ia bahkan tertunduk tanpa melihatku. "Ayolah England! Hanya kamu yang ada dihatiku selama ini. Hanya kamu yang selalu kucintai"
England tetap tertunduk tanpa menatapku. Kurasakan tangannya gemetaran, tubuhnyapun juga.
"—Lalu kenapa kau lakukan itu?" tanyanya. Suaranya makin parau. "Aku tahu hubunganmu dengan China. Sejak kapan?"
Aku terdiam. Kulepas genggamanku pada tangannya dan ia tampak tersentak kaget dengan kelakuanku. Aku terdiam tidak bisa berkata-kata.
"F—France?" ucapnya. "Sejak kapan?"
Aku tetap terdiam. Aku tidak ingin berbicara. Aku tidak ingin melukainya, tapi aku sudah melukainya.
"—sudah satu tahun" ucapku. Tatapanku menerawang jauh, tatapanku mendingin. Aku tidak menatapnya, aku tidak tersenyum. Semua sudah terjadi dan aku tidak bisa mengulanginya kembali.
Menyesal? Aku tidak menyesal telah melakukan semua ini. Aku merasa bahagia dengan semua ini. Dan aku menginginkannya.
"Kenapa kau lakukan itu, France? Kenapa?" ucap England meringis. Ia menatapku dengan penuh kesedihan.
"—England—" panggilku. "—Aku mencintai China"
Ia tersentak kaget kembali dengan ucapanku. Ia menatapku. Matanya penuh dengan airmata. Ia menangis. Menangis pilu seperti hatiku. Aku tidak ingin melihat tangisannya, aku tidak sanggup melihat tangisannya. Aku telah menyakiti hatinya.
"Aku ingin kita segera mengakhiri hubungan ki—"
"France! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau!" pintanya sesunggukan. Ia segera menggenggam erat kerah bajuku. "Kenapa? Apa yang kurang dariku? Aku mohon jangan pergi! Jangan katakan kau ingin mengakhiri hubungan kita! Jangan pergi!"
"England—" aku menghela nafasku, perasaanku padanya telah membeku. Aku tidak sanggup melakukan ini.
"Kumohon tetap bersamaku! Aku janji akan lebih menyayangimu! Aku janji tidak akan berlaku kasar lagi padamu! Aku janji akan bersikap jujur padamu! Kumohon, jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dariku!"
England menangis terisak-isak dipakaianku. Aku terdiam, tidak memeluknya, tidak memanjakannya. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku telah mencintai China. Apakah perasaan cintaku hanya sampai disini saja? Apakah aku tidak boleh merasakan cinta yang membahagiakan itu? Apa aku memang harus hidup seperti ini selamanya?
"France, kumohon jangan putuskan aku! Kumohon jangan pergi! Tetaplah disisiku!" tangis kekasihku di bajuku. "Aku cinta kamu, France, aku sayang padamu"
Kalimat itu terdengar basi sekali dikupingku. Aku sudah terlanjur mencintai pria Asia itu. Selama aku mengharapkan kalimat itu, kau tidak pernah mengatakannya, sekarang saat diriku sudah terlanjur mencintai orang, kau bilang kau mencintaiku? Apakah ini nyata ataukah hanya permainanmu?
"Aku benar-benar berjanji akan selalu jujur padamu, karena itu—karena itu jangan katakan kalau kau ingin putus dariku" pintanya menatapku pilu.
"England, saat aku menginginkan kalimat cinta dari mulutmu, kau tidak pernah memberikannya padaku, tapi kini saat aku telah mencintai orang yang dapat membahagiakanku, kau memintaku untuk tidak meninggalkanmu—" airmataku tidak dapat kubendung. "—Apa aku tidak boleh hidup bahagia akan cinta?"
"Aku berjanji akan menyayangimu, aku berjanji akan mencintaimu! Tataplah aku, France! Aku minta maaf kalau aku selalu membuatmu sedih, aku minta maaf kalau aku membuatmu kecewa, aku betul-betul minta maaf sekali. Aku tidak bisa jujur padamu" ucapnya menangis deras di dadaku. "Aku akan berusaha berubah! Aku akan mencoba untuk menutupi kekuranganku, aku akan mencoba untuk tidak melukai hatimu lagi"
Aku tetap terdiam. Aku tidak bisa berpikir jernih. Ini semua membuatku pusing tidak bisa memilih. England menarikku ke kamarku. Kulihat dikasurku berserakan barang-barang yang aku sendiri tidak tahu darimana. Dari coklat, kue, syal, topi rajutan, dan lainnya.
"I—ini semua untukmu" ucapnya. "Selama bertahun-tahun aku ingin memberikannya padamu tapi kuurungkan niatku. Aku tidak pandai memasak seperti dirimu, aku selalu berusaha dan mencoba untuk bisa memberikan semua ini padamu"
Aku tersentak kaget mendengar hal itu. Selama ini ia merahasiakan hal terpenting itu? Sejak kapan? Kenapa?
"Ini hadiah pertama yang ingin kuberikan padamu" ucapnya mengambil bungkusan kue yang sudah berjamur itu. "Saat itu, aku begitu merasa gagal karena kue buatanmu lebih bagus dibanding punyaku. Aku merasa tidak percaya diri. Aku membuangnya, tapi aku begitu sayang. Aku berusaha belajar membuatnya hingga aku tidak tidur beberapa hari tapi hasilnya tetap tidak memuaskan"
Aku tetap terdiam. Airmataku tidak dapat ditahan. Kenapa selama ini tidak kau beritahu padaku tentang perasaanmu? Kenapa selama ini kau selalu malu-malu terhadapku? Kau menganggap aku apa? Aku kekasihmu, kau tidak perlu malu terhadapku. Bagaimanapun aku akan selalu menerimamu apa adanya.
Aku memeluk England dengan eratnya. Airmataku berjatuhan keatas rambutnya. Aku memeluknya tanpa kulepaskannya. Perasaan cintaku kepadanya mulai muncul kembali. Walau belum sepenuhnya aku dapat mencintainya.
"Je suis désolé, Mon Cher, je suis désolé" ucapku menangis dipelukannya. "J'Taime, Mon Cher, J'Taime"
England membalas pelukanku. Ia menangis deras dan berkali-kali berkata "I love you, France, I love you more than anything!"
Kami memulai hubungan baru. Walau ada yang mengganjal dihatiku, aku berusaha untuk dapat mencintai kekasihku kembali. Perasaanku hampa, aku begitu rindu dengan kehangatan tubuh China. Aku ingin bertemu, tapi England selalu lengket padaku. Ia kini berubah, ia selalu berusaha untuk memanjakan diriku dan makin menyayangiku. Aku merasa ini bukanlah England yang kukenal. Aku merasakan sesuatu yang kurang.
.
.
.
TBC…
.
.
NEXT: Chapter 4 China POV: Did I Love You?
.
.
.
.
Je suis désolé, Mon Cher, je suis désolé: Iam sorry, My Dear, Iam so sorry
J'Taime : I love you
