Copyright Mayonice08
2013
Someday in July
Haehyuk
Suatu hari di bulan Juli…
a/n: rewriting. ditulis ulang dengan tambahan beberapa scene.
cerita banyak deskripsinya dan alurnya lambat. Semoga enggak bosan yaa… hoho
.
Part 3
A little secret with God
.
.
Donghae berjalan pelan-pelan, mengendap sambil menyerukkan kepalanya. Memandang sosok Hyukjae yang masih berdiri diam di depan kulkas. Donghae mengernyit saat melihat wajah muram Hyukjae.
Ia yakini, Hyukjae sudah membaca memo yang ia tempelkan untuknya. Dugaan Donghae, Hyukjae akan tersenyum senang memandangnya. Senyum gusi Hyukjae yang biasanya muncul akan tampak saat ia mendapati memo itu.
Menapa tidak terjadi? Hyukjae tetap saja mematung. Ekspresi wajahnya tetap muram. Ada kilatan sedih di sorot matanya.
Donghae ingin sekali berjalan mendekatinya. Mengusap lengan lelaki itu, sebelum merengkuh tubuh kurusnya dalam sisinya. Memeluk lelaki itu, tapi… Donghae tahu ia belum mampu. Kakinya terasa berat untuk dilangkahkan.
Donghae masih takut. Takut, jika Hyukjae menolak ajakannya. Karena, baru kali ini Donghae mencoba berharap pada orang lain. Kali pertama, Donghae membuka hatinya untuk seseorang.
Tapi, saat ia melihat lelaki kurus itu. mengambil pulpen yang tergeletak diatas kulkas dan menyobek secarik kertas memo. Menulis sesuatu di atas kertas tersebut.
Donghae masih ingin berharap.
.
.
Hyukjae memandang pantulan dirinya di depan cermin setengah badan yang tergantung di kamarnya. Ia mengulas senyum melihat pantulan dirinya sendiri. Semalam, setelah pulang dari apartemen Donghae. Tanpa bertemu Donghae sekalipun. Karena sepertinya sampai saat Hyukjae selesai memasak, tak tampak Donghae keluar dari kamarnya.
Hyukjae sebenarnya ingin mengetuk pintu kamar Donghae, memberitahunya jika masakan sudah siap, serta mengajaknya makan malam seperti biasa. Hanya saja Hyukjae belum mampu untuk bertatap muka secara langsung dengan lelaki itu.
Jadi, Hyukjae memutuskan meninggalkan apartemen, setelah melirik memo yang ditulisnya untuk balasan memo dari Donghae.
Pukul delapan lewat sepuluh menit.
Hyukjae semalam mengirim pesan singkat kepada Heechul―sepupunya tentang ajakan Donghae pergi. Sepupunya itu sangat antusias, Heechul bahkan langsung datang kerumahnya membantu Hyukjae untuk memilih baju yang akan ia kenakan untuk hari ini.
Hyukjae menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Mematut tampilannya lagi di depan cermin. Bibir merahnya menggumam pada dirinya sendiri bahwa ia siap.
Jika nanti, ternyata acara ini bukanlah kencan. Setidaknya, ia sudah mencoba berharap pada Donghae.
Hyukjae keluar dari kamarnya, melangkah pelan melewati ruang tengah. Mendapati adiknya yang sedang berjalan, tapi menghentikan jalannya sesaat setelah melihat Hyukjae.
Ia menatap adiknya yang memandangnya seolah ingin tahu. Seketika Hyukjae gugup saat dipandangi oleh adiknya tersebut.
"Wookkie-yah, Hyung pamit pergi dulu," katanya mengalihkan pandangan dari adiknya.
Ryeowook diam saja tak memberi jawaban ataupun anggukan, hanya melengos. Setelah itu pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri mematung. Merasakan perasaan sakit tiba-tiba menyerang dadanya.
.
.
Donghae tampak was-was. Namun, ia berysaha menyembunyikannya di balik topeng diamnya. Donghae itu tipikal lelaki yang diam dan cuek. Meski sesungguhnya di dalam hatinya sudah tak karuan. Panik, takut, berharap, dan semuanya campur aduk.
Masih berdiri gelisah di dalam hati, menunggu Hyukjae yang tak juga muncul di halte X. Donghae mengacuhkan pandangan dari orang lain yang menatapnya ingin tahu. Donghae hanya memikirkan Hyukjae yang sampai saat ini belum muncul di tempat mereka janjian. Ah, bukan tempat janjian sih. Donghae sendiri yang menentukan tempat ini.
Donghae sudah sampai ke tempat ini satu jam sebelum jam sembilan. Terlalu pagi, bukan? Anggap sajalah, jika Donghae begitu bersemangat.
Belum ada pukul Sembilan pagi. Jika melihat jam saat ini, Hyukjae belum bisa di katakan terlambat. Masih ada sepuluh menit menuju jam Sembilan. Beberapa kali Donghae sudah mendengus tak sabar.
"Donghae-ssi," suara itu memanggilnya.
Untuk pertama kali dalam pagi ini, senyum simpul terulas dibibir Donghae. Hyukjae begitu ajaib, mengenalnya dalam beberapa minggu saja, sudah mampu membuat Donghae tersenyum, walau hanya sebuah senyum simpul.
Donghae segera membalikan badan. Mendapati Hyukjae yang tampak manis dengan setelan yang ia kenakan.
Ya Tuhan, betapa Donghae sangat suka dengan kaus biru laut yang Hyukjae kenakan. Kaus dengan leher yang longgar, dan sebuah cardigan tipis berwarna putih. Senada dengan celana putihnya yang membungkus kakinya erat.
"Maaf, membuatmu menunggu," ucap Hyukjae saat ia sudah berdiri di dekat Donghae.
Donghae menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa,"sahutnya.
Manik mereka bertemu pandang. Tak begitu lama, saat Hyukjae menghindari tatapannya. Menundukkan wajah, menyembunyikan semburat merah mudah di wajahnya.
Sampai senyuman manis muncul di wajah Hyukjae. "Kita pergi sekarang?" tanyanya malu-malu.
Donghae mengangguk pelan, "Ya."
"Aku tak melihat mobilmu?" tanya Hyukjae lagi setelah memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri tak mendapati Audi putih milik Donghae terparkir di dekat sini.
"Hari ini aku ingin naik bus saja, tak apa kan? Aku belum pernah naik bus,"tutur Donghae jujur.
Terkekeh pelan, Hyukjae tersenyum mendengar pengakuannya. Jadi, Lee Donghae tak pernah naik transportasi umum. Hyukjae mengangguk manut. Mereka berdua berdiri gugup sampai bus berwarna putih hijau itu datang menghampiri mereka.
Saat keduanya akan naik, Donghae menggamit tangan Hyukjae tiba-tiba. Membuat tubuh Hyukjae membeku seketika.
Sejujurnya, Hyukjae sangat tak suka dengan kejutan. Ia pasti dengan tampang bodoh memandang Donghae sambil melongo.
Namun, lelaki di depannya itu tak menoleh dan berbicara appaun. Ia tetap menggamit tangan Hyukjae. Membimbingnya melangkah naik.
Kehangatan genggaman ditangannya. Menarik Hyukjae kembali kepada kenyataan. Hati kecil Hyukjae sudah berharap. Kali ini, sepertinya harapan Hyukjae tak akan sia-sia.
Semoga saja.
.
.
Hyukjae mengamati jalanan sekitar lewat kaca bus. Ia duduk disamping jendela kaca. Sedang Donghae duduk diam di sampingnya. Sebenarnya, Hyukjae ingin sekali menoleh memandang Donghae.
Hanya saja, saat ini tangannya masih digenggam erat oleh Donghae. Hyukjae sepertinya belum mampu menatap Donghae. Ia yakin kini kedua pipinya pasti merona hebat. Wajahnya pasti sudah memerah sampai ke telinga.
Berbeda dengan Donghae, lelaki ini sudah mencoba berdeham berkali-kali. Berharap Hyukjae menoleh kepadanya. Tapi, nihil. Hyukjae masih diam saja memandang jendela kaca di sampingnya. Seolah-olah jendela kaca lebih indah dan menarik dibanding appaun di dunia.
Mulai tak sabar. Donghae pun bersuara, menyerukan nama Hyukjae. "Hyukjae… Hyukjae…" panggilnya.
Sekali lagi. Hyukjae terlalu terfokus dengan pemandangan sekitar. Ia tak menoleh. Donghae menunduk lemas. Ia merasa kehilangan kesabaran.
Donghae tak ingin waktu berlalu dalam diam. Meski, ia tahu. Menggenggam tangan Hyukjae sudah membuatnya senang. Tapi, Donghae ingin selama perjalanan mereka dihabiskan dengan obrolan ringan untuk saling mengenal lebih dekat. Ia tak akan melewatkan kesempatan itu lenyap begitu saja. Karenanya, Donghae menepuk bahu Hyukjae dengan tangannya yang bebas.
Seketika Hyukjae terkesiap dan membalikan badan menatapnya. "Ah, Do―donghae-ssi…" kata Hyukjae agak tergagap.
'Ah, Hyukjae selalu menggemaskan' batin Donghae tersenyum di dalam hati.
Ingatkan? Donghae bukan tipikal orang yang mudah tersenyum. Mana mungkin ia terkekeh ala anak kecil, sangat bukan dia sekali. Karena itu, ia lakukan saja di dalam hati (?).
"Kau sering melamun," ucap Donghae basa-basi.
Hyukjae mengangguk, "Nde, banyak orang yang mengatakan seperti itu," jawabnya.
"Apa yang kau lamunkan?" Donghae penasaran.
Manik Hyukjae membulat menatapnya, ia mengerutkan bibirnya sembari berpikir. "Banyak hal," katanya menerawang. Pertanyaan Donghae membuat pikirannya berkelana. Kepada banyak hal yang menghiasi daftar lamunan Hyukjae. Kisah duka, bahagia, maupun kisah yang bertokohkan Donghae.
Donghae mengamati bola mata Hyukjae yang mengerling sedih. Seolah kosong. Setiap Hyukjae melamun, ada banyak ekspresi yang terancar dari wajahnya. Terkadang Hyukjae tampak bahagia saat melamun, terlihat dari binar matanya yang ceria. Namun, beberapa kali Hyukjae menunjukkan raut sedih. Sorot kesedihan yang begitu tampak dari wajahnya. Donghae ingin tahu apa yang menghinggapi pikiran Hyukjae.
Hening sejenak.
"Donghae-ssi," seru Hyukjae.
Donghae mengernyit tak suka. "Donghae, panggil aku Donghae saja," ucapnya mengoreksi.
Lelaki manis itu mengangguk. "Donghae, boleh aku bertanya?" pinta Hyukjae.
Donghae menaikkan satu alisnya, "Ya?"
"Ki―ehm… kau mau mengajakku kemana?" Hyukjae nyaris menyebutkan kata kita untuk merujuk dirinya dengan Donghae, tapi ia sadar ia bukanlah siapa-siapanya Donghae. Belum sepantasnya menggunakan kata itu.
Lelaki itu mnegerling, tampak begitu tampan ketika manik teduhnya mengerling pada Hyukjae. "Kau akan tahu nanti," jawab Donghae singkat. Penuh rahasia.
Hyukjae mengerutkan hidngnya. Meniup poninya yang jatuh. Jujur saja, ia agak kecewa karena Donghae menyembunyikan tempat tujuan mereka. Diperjelas sekali lagi, Hyukjae tak suka dengan kejutan. Tapi, mungkin kejutan yang kali ini, akan menjadi pengecualian. Lagipula kejutannya datang dari Donghae, kan?
Mungkin Hyukjae akan menyukainya. Ia berharap.
.
.
Mereka sampai di depan gerbang sebuah bangunan. Hyukjae memandang nama yang tertera di atas gerbang bangunan tersebut. Ia tak menyangka Donghae akan mengajaknya ke tempat ini. Ia pikir, Donghae mungkin mengajaknya untuk ke gedung bioskop di salah satu Mall untuk menonton film berdua dalam remang-remang di dalam gedung.
Tenyata, tidak.
"Aku sudah lama tak kemari," aku Donghae.
Kedua tangan mereka masih saling menggenggam. Semenjak naik bus, hingga sampai ke tempat ini.
Hyukjae menoleh ke sekeliling, menerawang. "Sama. Terakhir kali aku kemari, mungkin saat masih belasan,"sahut Hyukjae. Tempat seperti ini membawa Hyukjae kembali ke kenangan masa kecilnya.
"Apa tempatnya sudah berubah ya?" terka Donghae.
"Entahlah. Bagaimana kalau kita segera masuk?" ajak Hyukjae.
Manik mereka saling berpandangan. Saat Donghae menarik jemari Hyukjae, untyuk melangkah beriringan. Berjalan menuju loket tiket.
.
.
Hyukjae memandang Donghae dengan gemas. Donghae memang tak banyak tersenyum. Tapi, melihat wajahnya yang berseri-seri menatap akuarium kaca besar di hadapan mereka. Ia yakin, Donghae senang berada di tempat ini.
Donghae menyeretnya kesana kemari, menjelaskan tentang ikan ini, ikan itu. Terlalu banyak nama ikan. Hingga Hyukjae pusing mengingatnya. Tapi, yang Hyukjae tahu Donghae sangat suka dengan species ikan.
Setelah satu jam berada di tempat tersebut. Donghae mengajaknya untuk melihat pertunjukan lumba-lumba. Lagi-lagi tentang ikan.
Keduanya membayar tiket masuk sebelum memasuki panggung indoor dengan sebuah kolam di tengahnya. Donghae menggiringnya untuk duduk di bagian atas deratan kursi penonton. Ia duduk di samping Donghae.
Setelah kursi penonton tampak ramai. Mereka melihat seorang pemandu acara muncul. Sorakan ceria riuh terdengar.
Pertunjukan pun dimulai. Bukan ikan lumba-lumba yang muncul, melainkan sepasang berang-berang yang melakukan atraksi bermain sepeda dan atraksi lain sebagai acara pembuka. Hyukjae tak menahan dirinya untuk tersenyum lebar sepanjang acara.
Apalagi ketika dua ekor lumba-lumba yang menjadi tokoh utama acara tersebut keluar menuju panggung. Penonton semakin ramai. Dua ekor lumba-lumba itu berenang ke permukaan kolam. Melompat indah bersilangan. Hal ini mendapat sorakan riuh dari penonton.
Acara pertunjukan selanjutnya, mengabur dimata Hyukjae. Yang ia ingat, ia tertawa lepas selama pertunjukan. Bertepuk tangan keras bersama penoton lain selama pertunjukan berlangsung.
Mereka pun, keluar dari gedung pertunjukan dengan senyuman lebar di wajah Hyukjae, dan senyum simpul yang terulas di wajah Donghae.
"Kau lapar?" Tanya Donghae.
Hyukjae mengangguk.
"Bagaimana kalau makan di kedai dekat pantai?" tawar Donghae.
Hyukjae mengangguk lagi. Keduanya berjalan beriringan. Bahu mereka saling bersentuhan, karena tangan mereka masih saling menggenggam. Sesekali keduanya saling mencuri pandang, teripu malu ketika tertangkap basah. Duh, seperti sepasang remaja yang baru di mabuk asmara.
Hyukjae merasakan pipinya merona saat ia sadar, sejak tadi ia belum sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hyukjae. Ia sebenarnya tidak ingin melepaskannya. Tapi, ia merasakan telapak tangannya berkeringat, basah. Salahkan pada matahari yang bersinar begitu terik di langit. Ini musim panas, tak salah jika suhu udara naik dan membuat tubuhnya mudah berkeringat, tak terkecuali telapak tangannya.
Hyukjae sebenarnya juga ingin melepas cardigan yang ia kenakan. Dirinya kepanasan, tapi malu untuk melepaskannya. Karna kaus biru laut yang ia kenakan merupakan kaus tanpa lengan.
"Kita makan disini ya?" tawar Donghae menunjuk dengan dagunya pada kedai yang ramai pengunjung tapi masih ada beberapa kursi yang kosong. Seperti biasanya, Hyukjae hanya manut saja, mengiyakan.
Keduanya duduk berhadapan di sebuah meja kecil di sudut kedai bagian depan. Donghae memesan segelas jus alpukat dan jus apel untuk Hyukjae, serta sepiring kimchi spaghetti dan ikan belut bakar untuk makanan mereka. Setelah, pelayan datang mengantarkan makanan. Keduanya bertukar pandang sebentar. Lalu, melahap makanannya.
Ini bukan kali pertama keduanya makan bersama. Mereka memang sering makan berdua, tapi mereka tak pernah makan diluar berdua. Hal, ini membuat Hyukjae maupun Donghae agak gugup.
"Bagaimana kalau setelah ini, kita jalan-jalan di dekat pantai?" Kali ini Hyukjae yang memulai pembicaraan.
Donghae mendongak, lalu tersenyum padanya. "Oke. Kita bisa menunggu matahari terbenam. Apa kau mau melihatnya bersamaku?" ajaknya.
Such a gentlemen. Pikir Hyukjae saat mendengar ajakan tersebut. Ia tak mungkin menolak kan. "Boleh," kata Hyukjae setuju. Ia menunduk sedikit malu, sambil memainkan makanan dengan sumpitnya.
Saat Hyukjae mendongak, sebuah sumpit dengan ikan belut yang harum terulur kearah mulutnya. Ia mengernyit memandang Donghae.
"Cobalah," katanya.
Hyukjae membuka mulutnya, melahap potongan ikan tersebut yang disuapkan untuknya. Ia mengunyah daging itu pelan-pelan. Irisnya tak meninggalkan iris Donghae yang menatapnya lekat.
"Enak," ucapnya singkat.
Senyuman Donghae tampak mempesona. Manik teduhnya terlihat begitu menakjubkan dan senyuman bibir tipisnya mampu membuat Hyukjae meleleh.
Lelaki tampan itu mengambil daging ikan belut dari panggangan lagi. Kemudian menyuapkannya pada Hyukjae lagi.
"Ini."
Hyukjae membuka mulutnya lagi. Melahapnya dengan semangat. Namun, ketika Donghae terus-terusan menyuapinya. Lelaki kurus itu menatapnya ganjil.
Hyukjae mengernyit, dengan tatapan penuh selidik. Meski ia menolak suapan Donghae. Si tampan akan bersikeras menyuapinya terus. Terkadang, Hyukjae berpikir Donghae ingin membuatnya gemuk.
.
.
Berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri pantai bukanlah suatu hal yang diimpikan Hyukjae. Ia tak pernah menghayal akan hal itu. Karena ia pikir, ia tak akan mempunyai kesempatan tersebut di hidupnya.
Tapi, sore ini. Ia bahagia.
Donghae tak mematahkan harapannya begitu saja. Donghae melambungkannya ke atas awan. Ia berharap banyak. Saat ini, harapan di hatinya sudah meniggi, terbang ke atas mencapai awan. Ia ingin bahagia.
Apabila bahagia yang ia inginkan kali ini adalah bahagia karena berada disisi Donghae. Jika nanti, ia terhempas jatuh ke bumi. Setidaknya, Hyukjae pernah merasakan dilambungkan ke atas awan. Hyukjae terlalu naïf, tapi ini dirinya.
.
.
Ketika sore menjelang. Keduanya duduk di bibir pantai. Bersebelahan, dengan bahu saling bersentuhan. Langit horizon membentang luas. Menghabiskan waktu memandangnya takkan membuat keduanya lelah. Matahari terbenam di ufuk baratlah yang mereka tunggu.
Suara ombak yang menabrak batu karang keras terdengar. Kepakan burung yang berterbangan di angkasa luas tampak begitu indah, melengkapi sore mereka yang mengantarkan langit lembayung menuju malam.
Donghae dan Hyukjae mendudukan pantatnya di atas pasir putih. Hyukjae menggerutu agak kesal, saat ia sadar jika celana putihnya pasti akan kotor dan susah dicuci setelah ini. Membuat Donghae tersenyum geli, saat bibir Hyukjae mengerucut imut selama menggerutu.
Donghae menoleh untuk menatap Hyukjae yang masih terpesona dengan anugerah Tuhan bernamakan 'senja'. Ia tersenyum bahagia saat wajah manis itu tampak begitu rileks.
"Kau suka?" pertanyaan Donghae terlontar.
Hyukjae yang memeluk lututnya tak memberi jawaban. Masih terpesona dengan lukisan Tuhan.
Donghae selalu dibuat gemas Hyukjae karena ini. Saat lelaki itu tak memandangnya. Hyukjae seolah mempunyai dunia sendiri. Donghae tak ingin Hyukjae mempunyainya. Ia ingin Hyukjae terus-terusan menatap ke arahnya.
Jemari Donghae terulur menuju dagu Hyukjae. Menyentuhnya untuk menoleh padanya. Ia tersenyum senang kala manik bulat indah itu menatapnya balik.
Mulut Donghae terkunci ketika mereka saling pandang. Karena, menatap wajah manis di hadapannya ini mampu menyita Donghae tanpa rasa kebosanan.
"Apa?" Hyukjae bertanya.
Donghae membalas dengan gelengan. Masih belum puas menatap wajah si manis. Sebuah ide muncul di otak Donghae. Ia melepaskan tangkupan tangannya dari dagu Hyukjae.
"Geser sedikit," ucap lelaki itu.
Hyukjae menurut. Menggeser tubuhnya sembari bertanya dalam diam. Ia terkesiap ketika Donghae membaringkan tubuhnya. Membuat pangkuannya menjadi bantal. Menyandarkan kepalanya di pangkuan Hyukjae.
Senyum pun kembali menghiasi wajah Hyukjae. Lelaki pendiam yang pertama kali Hyukjae kenal entah kenapa sekarang bertransformasi menjadi hopeless romance seperti ini.
Donghae begitu menyamankan diri di pangkuan Hyukjae. Sesekali ia bergerak untuk mendapatkan posisi yang nyaman.
Manik gelapnya yang teduh pun kini tengah memandang lurus ke atas. Pada wajah Hyukjae yang menatapnya balik. Senyum Donghae pun terkembang. Seperti layar kapal yang mulai dikembangkan ketika sudah berlabuh ke lautan. Karena, seperti kapal itu. Donghae sudah tahu kemana ia akan berlabuh. Semilir angin membuatnya terbuai. Kelopak mata Donghae terpejam perlanan.
Hyukjae menunduk menatap Donghae yang memejamkan kelopak matanya. Entah tertidur atau hanya memejamkan matanya. Hyukjae memberanikan diri untuk mendaratkan satu sentuhan kecil di wajah Donghae. Ia mulai dengan mengusap garis hidung Donghae yang mancung dengan ujung jarinya. Jari panjangnya mulai berpindah. Berganti mengusap pipi Donghae pelan.
Ini bukan kali pertama, Hyukjae melihat wajah Donghae yang tertidur. Terkadang, saat Donghae lembur sampai malam dan tertidur di sofa, paginya Hyukjae akan membangunkan Donghae, tapi sebelumnya Hyukjae memandangi wajah Donghae untuk beberapa menit.
"Ada apa dengan wajahku?" Tanya Donghae. Ia menangkap jemari Hyukjae yang mengusap pipinya. Menggenggamnya lalu membawa jemari Hyukjae ke bibirnya. Donghae mengecup jemari itu lama.
Mawar merah pasti akan iri ketika disandingkan dengan Hyukjae. Rona merah di pipinya sangat cantik, tak sebanding dengan merahnya bunga itu.
Jantung Hyukjae berdetak cepat di dalam dadanya. Rasanya meluap-luap. Membuat Hyukjae takut, kalau-kalau jantungnya tiba-tiba terhenti karena terlalu cepat berdetak.
"Lihat, mataharinya sudah mulai tenggelam," kata Hyukjae cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Hyukjae sendiri bingung harus bersikap apa saat melihat Donghae memandangnya begitu lekat dengan jemarinya yang masih menempel di bibir tipis Donghae.
Donghae tersenyum geli. Tindakan Hyukjae begitu menggemaskan baginya.
"Apa kau bahagia?" pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban. Karena sejujurnya Donghae mampu menyimpulkannya sendiri saat ekspresi Hyukjae yang seperti buku terbuka sangat mudah terbaca.
Kembali memandang lelaki yang menawan hatinya itu. Donghae termangu.
Di atasnya. Wajah Hyukjae yang bersemu terpiaskan oleh cahaya jingga yang hangat menerpa kulit. Hyukjae tampak bersinar. Dengan langit yang berwarnakan lembayung itu di belakangnya.
Bias-bias cahaya matahari yang mulai memudar dan akan digantikan malam. Menampilkan efek semu keemasan pada Hyukjae. Seolah-olah Hyukjae itu peri dengan serbuk keemasan yang mengelilingi tubuhnya.
Biarkan ini menjadi rahasia kecil antara Donghae dengan Tuhan, jika ia ingin memeliki lelaki itu. Membahagiakan dan menghargainya dengan semua yang Donghae miliki. Biar Tuhan yang tahu, kalau Hyukjae terlihat begitu mempesona. Mampu menawan hati Donghae untuknya.
Tuhan, Donghae sangat menginginkan lelaki itu.
Ketika itu, Donghae mengangkat sebelah tangannya. Ia menjulurkannya untuk melingkari leher Hyukjae. Rambut Hyukjae terasa lembut ketika disentuh.
Bola mata indah itu kini menatap Donghae bingung. Begitu besar dan berbinar. Senyum miring tertampil di wajah Donghae, saat ia menarik kepala Hyukjae untuk merunduk.
Hangat terpaan nafas Donghae menyapu wajah Hyukjae. Sedikit memiringkan kepalanya, kedua bibir mereka bertemu dalam kecupan. Saling bersentuhan, membagi hangat. Menempel dengan lembut. Kecupan yang begitu memabukkan.
Dengan kecupan ini, Donghae akan berjanji untuk memiliki Hyukjae. Apapun yang terjadi.
.
.
Hyukjae tak bisa menahan dirinya untuk terus-terusan tersenyum seperti orang bodoh. Selama perjalanan pulang, ekspresi bahagianya masih tertampil. Seolah-olah ia tengah memenangkan lotre sebuah mobil atau uang tabungan puluhan milyar.
Mereka berpisah di halte X. Donghae mengantarkannya sampai ke halte dan menemaninya menunggu bus jurusannya datang. Lelaki itu sekali lagi mengecupnya dalam ketika bus muncul tak jauh dari tempat tunggu.
Saat ia mengecek ponselnya, ada puluhan pesan singkat yang dikirimkan oleh Heechul. Ia tak sempat membukanya. Masih mengingat peristiwa yang ia alami dengan Donghae tadi. Semuanya begitu lengkap, saat Donghae dan dirinya …
Ah, mengingat hal itu, wajahnya kembali memerah. Pipinya terasa panas sekali tiap mengingatnya.
Langkah kaki Hyukjae yang cukup lebar terhenti ketika Hyukjae sampai di depan pagar rumahnya. Ia membuka pagar biru itu pelan-pelan. Lalu, melangkah memasuki halaman rumahnya. Sesampainya di depan pintu, Hyukjae menarik knopnya dan membuka pintu pelan-pelan.
Hyukjae baru saja menutup pintu. Ketika Ryeowook berjalan melewatinya. Hyukjae berpikir, adik lelakinya itu akan melengos seperti biasa. Namun, salah. Ryeowok bersidekap dan berdiri tak jauh darinya.
Tatapan tajamnya begitu menyakitkan. Hyukjae ingin menghindarinya. Tapi, tak bisa.
"Darimana saja kau?" tanyanya.
"Aku pergi dengan temanku, Wookkie-yah," jawabnya.
"Kekasihmu?" Ryewook menatapnya penuh selidik.
Hyukjae tak tahu harus menjawab apa. Ia sendiri bingung, Donghae sudah bisa dibilang kekasihnya apa tidak. Hyukjae pun memilih diam saja.
"Berhenti menemuinya," putus Ryeowook tiba-tiba.
Saat itu, Hyukjae membatu di tempat. Iris coklatnya melebar. "Tapi, Wook…" baru saja ia ingin protes, adiknya sudah menarik lengannya kuat.
"Kau tak pantas bahagia, Hyung," teriaknya keras di depan Hyukjae.
Hyukjae terhenyak. Ia membeku di tempat. Tapi, perasaan di dadanya tidak terkontrol. Bagai, ribuan jarum menghujamnya bersamaan. Karena sebaris kalimat tersebut, Hyukjae tak mampu menahan air matanya keluar.
"Apa kau tak pernah berkaca, hyung?" Ryeowook menancapkan telunjuknya di dada Hyukjae. Beberapa kali jari kecilnya itu menusuk-nusuk tepat di atas dadanya.
"Kau itu cacat. Dan kau masih bertingkah seolah-olah kau berhak menerima kebahagiaan?"
Ryeowook mendorong tubuh Hyukjae ke dinding. Menyudutkan kakaknya itu pada dinding. "Apa kau lupa semua ini salah siapa, huh? Kau mau berbahagia dengan kekasihmu, huh? Enak saja kau hyung. Setelah semua yang terjadi, kau seenaknya saja mau bahagia dengan orang lain.Apa perlu aku ingatkan, keluarga kita hancur karena siapa?" teriak Ryeowook. Ucapannya menghunus sampai ke jantung. Menyakiti hati Hyukjae.
"Kau. Tak. Pantas. Bahagia. Jangan berharap aku akan membiarkanmu bahagia setelah apa yang kau lakukan," ancamnya.
Hyukjae menahan nafas ketika satu persatu kata itu muncul dari mulut Ryeowook. Perasaan sakit seperti dihantam batu besar membuatnya terpojokkan. Hyukjae sadar, Ryeowook tak main-main dengan ucapannya. Sorot matanya yang menatap Hyukjae tajam itu. Pertanda jelas jika Ryeowook tak main-main.
Hyukjae merasakan lututnya lemas. Tak ada hal lain yang ia lakukan, selain menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika Ryeowook melepaskan cengkeramannya.
Adik kecilnya itu berjalan melewatinya seolah ia tak melakukan apapun. Pergi meninggalkan Hyukjae meringkuk sendirian.
Menyembunyikan buliran air mata yang terus-menerus jatuh di pipinya. Hyukjae terus menangis. Membiarkan air mata di pelupuk matanya jatuh tanpa henti.
Air mata ini seolah tak mampu mengaburkan perasaan sakit di dadanya. Dadanya terasa sesak. Sangat sesak, hingga rasanya sulit untuk menarik nafas. Rasanya sakit, sakit dan pilu.
Ia merasakan hatinya teriris saat adiknya bicara seperti itu. Perkataan Ryeowook seperti tamparan keras padanya. Tamparan yang meninggalkan bekas luka yang menyakitkan untuknya. Tapi, tamparan itu juga membuat ia tersadar.
Benar kata Ryeowook. Hyukjae tak pantas bahagia.
.
.
Hyukjae meringkuk sambil memeluk kedua kakinya erat. Tenggorokannya sakit karena terus-terusan menagis dan terisak. Bola matanya juga sembap dan sudah perih. Tapi, entah kenapa. Ia tak berhenti menangis.
Ia sudah berpindah tempat ke kamarnya. Dengan langkah terseok dan air mata yang masih jatuh bebas. Ia melangkah pelan untuk masuk ke kamarnya. Hyukjae melemparkan tas selempangnya begitu saja di atas ranjangnya. Membuat ponselnya yang berada di saku depan tas nya terjatuh di atas ranjang.
Dengan pandangan kabur karena linangan air mata, Hyukjae bisa melihat layar ponselnya hidup. Nama Donghae muncul di layarnya.
Tapi, ia tak peduli. Ia semakin memeluk erat kedua lututnya. Suara isakannya masih terdengar, teredam oleh bunyi nada dering panggilan yang terus masuk. Panggilan yang tak terangkat oleh Hyukjae.
Ia tak peduli.
Karena, mungkin saat Donghae tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Donghae akan meninggalkannya juga. Hyukjae pun tak pantas bahagia kan? Seperti yang ditekankan Ryeowook padanya.
Sebelum Donghae membalikkan punggungnya dari Hyukjae. Hyukjae akan pergi terlebih dahulu. Lagipula, tak ada orang yang bisa mencintai orang cacat sepertinya, kan?
Tak ada. Tak kan ada. Bahkan Ryeowook pun, tak lagi mencintainya.
.
.
Donghae meyentuh simbol panggilan di ponselnya berulang-ulang. Puluhan pesan singkat ia kirim ke nomor Hyukjae. Tapi tak satupun pesan singkatnya terbalas. Donghae juga sudah mencoba menelponnya puluhan kali. Tapi sama saja, tak satupun panggilannya diangkat oleh Hyukjae.
Donghae mengingat lagi tentang kencan mereka hari ini. Mencari tahu dimana salahnya hingga Hyukjae mengabaikannya.
Segalanya berjalan sempurna. Meski hanya kencan sederhana, tak ada makan malam di restoran mewah ataupun candle light dinner di pantai. Mereka menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan kesana kemari. Makan siang di kedai di dekat pantai. Menghabiskan sore sambil menunggu matahati terbenam. Lalu, berbagi kecupan sebelum mereka memutuskan mengakhiri kencannya.
Ia bahkan masih ingat, rona merah di wajah Hyukjae yang menatapnya malu-malu. Saat ia mencium Hyukjae dalam ketika mereka berpisah di halte X.
Hyukjae bahkan masih mengucapkan selamat tinggal dan berharap malam ini ia mimpi indah. Lalu … sekarang?
Hyukjae tak menjawab telponnya. Donghae kacau karena hal itu.
Donghae mulai berpikiran yang tidak-tidak. Mungkin saja, Hyukjae tak menyukai dirinya seperti perkiraan Donghae. Mungkin karena status Donghae yang menjadi majikan Hyukjae, Hyukjae merasa terpaksa pergi kencan dengannya, dan berpura-pura bahagia selama mereka kencan.
Argggggggggghhhhhhhhhhhh~ Donghae menjerit sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Berpikirlah positif, Donghae," gumamnya pada dirinya.
Mungkin saat ini Hyukjae tengah terlelap. Ia tertidur karena kelelahan. Jadi, ia tak sadar jika Donghae menelponnya. Donghae berharap, perkiraan terakhir adalah hal yang benar.
.
.
Tebece
.
.
Setelah bagian ini, jalan cerita sedikit berubah dibanding plot yang dulu hihi
Sori kalo donghae-nya nggak romantis, atau hyuknya terlalu malu-malu kucing begitu. Dan ryeowook yang jadi antagonis di cerita ini. Semoga saja kalian masih tertarik dengan ff abalku ini
Terimakasih untuk kalian:
Eunhyukuke, Jiae-haehyuk, Wonhaesung Love, LeeDHKyu, Cho loekyu07, Nanaxzz, Rezy. K, Haehyuk86, eunhyukJinyoung02, aiyu kiee, cho. w. lee. 794, Lee Haerieun, Isroie106
Maaf tak bisa bales satu-satu, saya lagi sok sibuk gitu deh. Ketemu lagi hari senin kalo ndak selasa ya ^^
Ditunggu review, favorit ataupun follow dari kalian.
